Bloody Sun, Heavy Rain

Disclaimer: Hetalia milik Om Hidekaz. Saya nggak punya apa-apa, bahkan telor tomat yang menemani saya menulis chapter ini pun bikinan housemate saya *gapenting*

A/N: Satu kata: maaf lama (errr oke ini dua kata *headdesk*) Saya nggak akan bacot macem-macem, cuma bales anonymous reviews habis itu masuk ke cerita, oke?

To OviaGaLogin: Makasih… semoga aja chapter terakhir ini bisa lebih sedap yah (aminnn) :D

To Akachi: Ah, ini udah dipanjangin. SANGAT dipanjangin (kepanjangan malah kayaknya *pundung*) Hahaha ternyata ada juga yang tertipu~ *digampar* Iya, last chapter. Semoga cukup seru. Makasih sudah menyemangati :)

To siapa saya: Ini lanjutannya XD makasih sudah mereview :)

To Pepper: Yahuy juga :) Hoohh… makasih, makasih. Saya sudah lumayan sport jantung bikin USUK-nya. Saya takut entah bagaimana bikin America OOC *digampar fans US* Dan udah tahu gitu, masih juga nekat bikin USUK di chapter ini *headdesk* Ah, ini sudah diupdate. Makasih reviewnya ya :D

Baiklah. Untuk readers yang sudah menunggu lama, saya persembahkan chapter ekstra panjang (bilang aja udah fail bikin last chapternya -plak-). A-Anyway.. selamat membaca dan semoga menikmati last chapter ini :)

Warning: Explicit sho-ai. And kissing—lots of it. But I'm not telling who ;P


Chapter 5 – Azure Sky, Raging Wind

Romano mengutuk pelan sambil berjalan menyusuri koridor menuju kamar Spain, masih menyeret kapak perang yang tadinya dimaksudkan untuk memutilasi seorang Frenchman kelebihan hormon yang memergokinya sedang…lupakan saja. Cih, kalau saja wine-bastard itu tidak punya cukup otak untuk bersembunyi di ladang tomat, pastilah sekarang dia sudah jadi alternatif baru menu makan siang. Wajah pemuda Italia itu memerah begitu dia sampai di depan pintu kamar caretaker-nya, teringat kejadian yang hampir membuatnya lupa daratan. Dia menggeleng keras-keras, berusaha untuk mengontrol aliran darah di wajahnya selagi menempatkan tangannya di kenop pintu dan memutarnya perlahan. Ya benar, dia hanya menunggui Spain, tak lebih dari itu. ! Kalau nggak ditunggui kan nggak lucu kalau tahu-tahu si oyabun serampangan itu bangun lalu berkeliaran dengan luka seperti i…tu…

Mata hazelitu membelalak ngeri ketika melihat hanya sehelai selimut kusut tersisa di atas tempat tidur yang kosong ditinggalkan penghuninya. Personifikasi Southern Italy itu menyerbu masuk kamar, jantungnya berdetak kencang seperti mau terbang, sementara dia menyibakkan selimut sekaligus seprainya dalam kepanikan. Spain… menghilang? Bagaimana…

"OI ROMANO! SI ANTONIO GAK AWESOME NIH! CEPETAN SINI!"

Begitu mendengar suara sok awesome Prussia menyebut-nyebut nama Spain, Romano langsung berlari menuruni tangga, tidak peduli ketika lututnya teratuk railing besi yang pasti akan jadi memar besok pagi. Rasa panik dan takutnya perlahan melebur menjadi kelegaan ketika melihat Prussia berdiri di depan pintu dapur, memapah Spain yang tampak pucat dan terengah-engah. Negara albino itu menatapnya tajam, membetulkan posisi lengan Spain di bahunya agar lebih stabil, sebelum menegur koloni kecil di depannya.

"Kamu ngapain aja sih, Romano? Kenapa kamu biarkan Antonio keluyuran sampai dapur padahal kondisinya lagi nggak awesome gini, hah? Seandainya aku yang awesome ini nggak memergokinya, mungkin dia sudah kejedot meja terus mati kehabisan darah dengan sangat tidak awesome, tahu!"

Romano merasakan wajahnya memerah, tapi karena emosi yang sama sekali berbeda. "B-Berisik! Mana mungkin negara kayak kita bisa mati kejedot meja, idiot! Lagipula, aku cuma lengah sebentar gara-gara ngejar si wine-bastard itu! Ini semua salah siapapun yang menginspirasi si mesum sialan itu buat nge-raep Spain!"

Kali ini giliran Prussia menelan ludah. Feeling-nya yang awesome mengatakan bahwa kalau dia memberitahu Romano dirinyalah yang secara tidak langsung membuat France nyaris me-raep Spain, nyawanya akan berkurang paling tidak setengah abad. Daripada mengambil resiko harus mendengarkan Chopin dari dalam peti mati, akhirnya Prussia memilih mengalihkan pembicaraan.

"P-Pokoknya yang penting, kita harus kembalikan Antonio ke ranjang secepatnya. Si bego ini juga salah sih, ngapain juga nekat jalan-jalan sampai sini…"

"T-To…mat…"

Baik Prussia maupun Romano langsung menoleh menatap pihak ketiga yang nyaris mereka lupakan hak suaranya. Mata hijau Spain sudah hampir terbuka sepenuhnya, namun tampak masih agak lemas seperti nenek-nenek anemia.

"O-Oi, Antonio… jangan dipaksa…" Prussia berbisik khawatir, menatap sahabatnya yang tengah dipapahnya. Spain menggeleng pelan, menjulurkan tangannya yang berbalut perban seolah ingin meraih sesuatu dari kejauhan, bibirnya bergetar mengucapkan sesuatu yang terdengar seperti antara igauan atau curhatan. Atau keduanya.

"Ka-kapal Inglaterra… empat bulan… scone… rasanya... mau mati… tomaaaaattt..."

Prussia dan Romano berpandang-pandangan sejenak, mata rubi dan hazel itu melebar ngeri ketika pemahaman memasuki otak mereka secara bersamaan.

"Oi Romano, dia sakaw nih! Ambilin dia tomat, cepetan!"

"Berisik! Udah tahu, albino-bastard!"


America menatap surat di tangannya, alisnya berkerut dalam kegetiran. Dengan ini sudah lima belas surat yang datang seminggu ini, semuanya berisikan pesan yang sama:

Spain sedang lemah. Kali ini kita yang akan menyerang, dan merebut vital regionnya langsung di wilayahnya. Pastikan armada kita siap.

Tertanda: Elizabeth I

Koloni muda itu menggigit bibirnya, jemarinya mengerat di sekitar perkamen mahal itu. Dia tidak punya sentimen apa-apa, tapi saat itu saja dia merasa ingin sekali melabrak superior England. Tidakkah dia lihat bahwa England sedang dilanda wabah? Tidakkah dia sadar bahwa England yang hampir-hampir tidak bisa bangun dari tempat tidur itu sedang tidak dalam kondisi untuk pergi berperang? Spain mungkin memang sedang lemah, tapi tetap saja, menyuruh England berperang lagi dengan kondisi sakit begini… sama saja dengan bunuh diri…

"Apa yang kau pegang itu, America?" Suara England yang masih sedikit serak itu menyentaknya kembali dari kontemplasi, membuatnya menjatuhkan perkamen itu ke lantai. America berbalik menatap motherland-nya yang masih terbaring di ranjang, secepat kilat memaksa dirinya yang tengah kalut dan bingung itu untuk tersenyum riang.

"Ah England, kau sudah bangun ya! Syukurlah! Umm aku ambilin sup ya, biar kamu cepet kuat…"

"Itu surat ya?" England memotong cuap-cuap gugup America, mata hijaunya terpancang pada stempel kerajaan yang terpatri di perkamen yang tergeletak di lantai itu. "Tolong ambilkan, America. Itu surat penting dari Ratuku."

America tertegun sejenak, menatap kakinya sambil memilin-milin lengan bajunya dengan gelisah. Berikan, atau biarkan? Yang manapun, England akan…

"Ambilkan, America." Walaupun tidak dalam kondisi prima, nada suara England terdengar tegas. Menahan rasa sesak di tenggorokannya, America membungkuk mengambil perkamen yang tergeletak itu lalu menyerahkannya pada motherland-nya. Dia melihat alis tebal England bertemu saat membaca perintah dari superiornya, mendengar desahan panjang keluar dari bibirnya ketika nation bermata hijau itu menyibakkan selimutnya, bersiap-siap turun dari ranjang.

"England, kamu mau kemana?" America langsung memegang lengan England, kekhawatiran mewarnai wajahnya.

England menghela napas, dengan lembut mengendurkan pegangan America pada lengannya. "Maaf ya America, sepertinya aku sudah harus pergi lagi…"

"Ta-Tapi, kamu kan belum sembuh benar!" America merasakan matanya memanas dan tenggorokannya tercekat. Kalau saja dia punya cukup kekuatan, dia tidak akan membiarkan England melalui ini semua...

England hanya menatapnya sambil tersenyum pahit, perlahan-lahan turun dari tempat tidur. "Ini perintah Ratuku, America. Aku tidak bisa membantahnya. Suatu saat nanti kaupun akan mengerti. Sekarang biarkan aku-"

Gerakan personifikasi kerajaan besar itu terhenti ketika koloninya memeluk erat dirinya, memaksanya tetap di ranjang. Warna merah mulai merayapi pipi pucat England saat dia merasakan jantung koloninya itu berdetak begitu dekat dengannya, keberadaan yang begitu hangat.

"A-A-America? A-Apa yang…"

"Stay," America berbisik, wajahnya terkubur di kemeja England, menutupi warna pink yang juga menyapu pipinya. "Satu dua hari saja sudah cukup. Just… for a while longer... please stay."

England tertegun sejenak, sebelum senyuman langka menghiasi wajahnya. Dia melingkarkan lengannya ke bahu America, membenamkan wajahnya ke rambut dirty blond koloni kesayangannya, lalu menjawab dalam bisikan pelan.

"...I will."


Matahari di langit Madrid sudah berwarna kemerahan ketika Prussia dan France berjalan keluar dari rumah Spain, siap berpamitan. Sang tuan rumah sendiri, yang sekarang sudah cukup kuat untuk berjalan-jalan setelah sakaw-empat-bulan-tanpa-tomat-nya itu teratasi, mengantar kedua sahabatnya itu sampai ke gerbang depan.

"Gilbert… Francis… Aku tidak tahu bagaimana harus berterimakasih," Spain menggaruk hidungnya, tertawa kecil sambil menatap kedua sahabatnya. "Kalau bukan karena kalian berdua, mungkin aku—tidak, mungkin aku dan Lovi sudah…"

"Hush mon cher, jangan membesar-besarkan. Tidak ada kamipun, Romano kecilmu itu sudah mengurusmu dengan cukup baik. Ternyata begitu-begitu dia cukup punya potensi jadi istri yang baik lho. Mestinya kamu coba deh sering-sering sakit, dear Toni." France mengedip menggoda seraya menepuk punggung sahabatnya, berhati-hati untuk tidak menyentuh bagian yang berbalut perban. Spain tertawa renyah, Prussia terkekeh sembari mengalungkan tangannya ke bahu France dan Spain, merengkuh keduanya dalam rangkulan yang hangat, sehangat persahabatan mereka bertiga.

"Inilah gunanya sahabat, hm?" Negara albino itu menyeringai, mengacak-acak rambut kecoklatan Spain dan rambut pirang France ("Ahhhh Gil! Kenapa kau hancurkan rambut eike yang lembut, halus, dan silky bagaikan sutra impor dari China iniii!") lalu melepaskan rangkulannya, mata merahnya bertemu dengan mata hijau Spain.

"Kami cuma bisa membantu sampai sini, Antonio. Sisanya terserah padamu."

Spain mengangguk, senyum lebar tersungging di wajahnya. "Ini sudah lebih cukup, terimakasih. Kalau saja ada yang bisa kulakukan untuk membalas budi…"

"Aww vous etes mignon~ Kalau ingin membalas budi, kau bisa mulai dengan menikahi abang Francis, mon cheri~"

"Nggak usah dengerin si mesum nggak awesome ini. Yuk Francis, kita pulang biar Antonio bisa istirahat." Prussia mulai berjalan menuju pelabuhan yang berjarak lumayan jauh dari rumah Spain, menyeret France yang masih memonyongkan bibirnya minta ciuman. Di belakang mereka, Spain melambai-lambaikan tangannya sambil mengucapkan selamat jalan.

"…Hei Gil," France angkat suara begitu mereka sampai di pelabuhan La Coruna tempat mereka menambatkan kapal; rumah Spain sudah tak lebih dari sebuah titik di kejauhan. "Benarkah tidak apa-apa meninggalkan Espagne seperti ini? Aku sudah terlibat konflik dengan Angleterre cukup lama untuk mengenal perangainya. Dia tidak akan berhenti sampai di sini, dia pasti akan kembali dan menyerang Espagne lagi."

Prussia mendengus. "Lalu kalau kita tetap tinggal di sana, apa yang bisa kita lakukan? Kamu tahu sama baiknya dengan aku kalau soal armada, England dan Spain adalah yang terbaik di seluruh Eropa, setidaknya untuk saat ini. Tinggalpun, kita hanya akan jadi sama bergunanya seperti Romano. Pemborosan tenaga yang tidak awesome." Personifikasi Königreich Preußen itu beralasan, menguap lebar-lebar. Namun itu tidak cukup memuaskan lawan bicaranya.

"Kalau seandainya mereka berdua berhadapan sekali lagi, menurutmu siapa yang akan menang, Gil?" France mencoba pendekatan lain, mata birunya menatap teman albino-nya penuh arti. Yang ditanya hanya terdiam sejenak, sebelum mengangkat bahu.

"Tidak tahu. England mungkin sedikit di atas angin, tapi Spain juga pulih dengan cepat. Keduanya punya kesempatan sama besar." Mata rubi-nya menatap langit Mediteran yang disinari cahaya matahari, tampak tenang dan damai tak terusik. Langit yang sebentar lagi akan menjadi saksi salah satu pertempuran terbesar abad itu.

Kurasa ini yang disebut calm before the storm...

"Yah, pokoknya sebaiknya kita cepat pergi. Telat beberapa hari saja, mungkin kita bakal terperangkap badai dan nggak bisa pulang." Ya, terperangkap dalam badai yang bukan urusan kita…

"…Gil?"

"Hm?"

"Kadang-kadang kamu bisa juga awesome beneran ya?"


Juni 1589.

England meluruskan kerah bajunya, menyampirkan jubah birunya di atas kaus putih elegan yang membalut tubuhnya. Dia menarik keluar pedang dari sarungnya, memeriksa bilahnya yang berkilauan. Kondisinya masih cukup baik untuk menebas beberapa kepala. Pemuda pirang beralis tebal itu menyarungkan lagi pedangnya, seringai puas di wajahnya berganti jadi keterkejutan ketika dilihatnya koloninya berdiri di sampingnya, menyodorkan topi admiral berwarna biru yang dihiasi bulu-bulu.

"Jangan lupakan ini, Capt'n." America nyengir lebar, berusaha menirukan aksen bajak laut yang kadang-kadang didengarnya dari England.

England tersenyum, perasaan bangga dan terharu bercampur jadi satu. Dia menekuk lutut dan menunduk, membiarkan America menaruh topi itu di kepalanya. Setelah membetulkan posisinya yang sedikit miring, dia menengadah, mata hijau terangnya bertemu mata biru teduh koloni yang sangat disayanginya itu.

"Terimakasih. Aku pasti akan menang, lalu memasakkanmu scone yang banyak." Pemuda British yang penuh kebanggaan itu berikrar sembari mengelus kepala koloninya dengan penuh kasih sayang. America menengadah menatapnya, senyuman tersungging di bibirnya; senyuman yang dengan cepat menghilang begitu motherland-nya melambaikan tangan dan berjalan menuju kapal yang menunggu di pelabuhan. Koloni muda itu menggigit bibirnya, mengepalkan tangannya sampai urat-uratnya bermunculan saat memandang punggung motherland yang disayanginya yang semakin menjauh darinya.

Padahal aku sudah berjanji untuk melindungimu, England…


Sementara itu di semenanjung Iberia...

"Espana, mereka datang. Kurang lebih 100 kapal, sedang melintasi English Channel menuju Iberia. Kemungkinan besar mereka akan menyerang lewat Portugal. Perintah anda?"

Bahkan komandannya pun tampak tegang saat melaporkan situasi di lapangan.

Yang ditanya hanya mengencangkan ikat pinggangnya, mata hijau itu berkilat dalam ekspresi tak terbaca.

"Bukankah sudah jelas?" Personifikasi Imperio Españolitu bergumam, menyambar jubah merah yang tergeletak di punggung kursi dan menyampirkannya di sekitar bahunya. Bau rum dari kapal England bahkan masih tertinggal di jubahnya, tak peduli berapa kalipun dia mencucinya. Dia meringis sedikit ketika rasa perih menusuk bahu kanannya tempat sayatan lebar yang belum pulih sepenuhnya itu masih bersarang. Bahkan benda mengerikan itu—scone, kalau tidak salah—masih sering menghantuinya dalam tidurnya.

"Jangan sia-siakan pengorbanan mereka yang gugur dalam pertempuran armada. Bangsat beralis itu harus musnah sebelum bisa menginjakkan kaki ke tanah kita."

Ya. England telah meninggalkan terlalu banyak kenangan baginya selama masa penawanan empat bulan, dan kali ini dia akan membalasnya.

Dengan jubah merah berkibar ditiup angin laut, Spain berjalan menuju kapalnya yang menunggu di pelabuhan. Dengan armada-nya yang entah bagaimana dia pulihkan dalam setahun, dia siap keluar menghadapi musuh bebuyutannya di lautan.

Dia tidak menyadari sepasang mata hazel menatap punggungnya yang semakin menjauh, tidak melihat butir-butir air mata mengaliri pipi bundar itu diiringi isakan pelan.

"B-Bodoh… Spain bodoh…! A-Awas kalau sampai bikin aku panen tomat sendirian lagi bulan ini, bodoh…"


September 1589.

Persis seperti setahun yang lalu, hari itupun laut kembali menjadi saksi tubuh-tubuh termutilasi dan kapal-kapal dilalap api. Di atas salah satu galleon yang sudah hampir karam, dua sosok itu berdiri saling bertatapan. Salah satunya mengenakan jubah biru bersenjatakan pedang, sementara satunya berjubah merah sambil membawa kapak besar. Keduanya sudah berlumuran darah dan terengah-engah, tapi masih mencengkeram senjata mereka dengan waspada.

"Saatnya untuk balas dendam, Espana. Kali ini aku tidak akan segan. Perintah ratuku jelas; vital region-mu harus jadi milikku." Si pirang beralis tebal itu mengultimatum, mengangkat pedangnya sampai selevel dengan leher lawannya. Yang ditatap hanya mengangkat alis.

"Balas dendam? Seharusnya aku yang bilang begitu, Inglaterra..." Jemari kecoklatan itu mengerat di pegangan kapaknya ketika dia mengingat pengalaman pahitnya menjadi tawanan berbulan-bulan.

Bola mata hijau yang identik itu saling mendelik, sebelum keduanya kembali beradu, saling menebas dan menyambar, berusaha menjatuhkan lawannya. Suara baja berdentang terdengar ketika pedang England bertemu gagang kapak Spain, sesaat mengunci keduanya dalam satu posisi. England berusaha mempertahankan posisi ofensifnya sementara Spain berjuang mencegah bilah yang tinggal beberapa senti dari tubuhnya itu menambah jumlah lukanya. Keduanya tetap seperti itu selama beberapa saat, tangan dengan mantap mencengkeram senjata masing-masing sampai urat-uratnya keluar, mata saling bertatapan penuh intimidasi dan ancaman, sampai tiba-tiba England maju ke depan dan mengklaim bibir lawannya.

Spain membeku, matanya melebar dalam keterkejutan, pegangannya pada kapaknya mengendur sejenak. Namun itu sudah lebih dari cukup bagi England untuk menerobos pertahanannya dan menghadiahinya goresan cukup dalam di bahu kanan, nyaris bersilangan dengan luka lama Spain yang belum kering. Spain berteriak sambil mundur, tangan kirinya menekan bahunya yang terluka, berusaha menghentikan cucuran darah yang menodai jubah merahnya. Mata hijaunya menyipit menahan sakit, lengan kanannya sudah mulai gemetar dan mati rasa. Kalau tidak cepat dihentikan, dia bisa kehilangan darah dengan cepat. Tapi yang sekarang mengusiknya…

"Apa maksudnya yang barusan?" Pemuda Latin itu menggeram, mengelap bibirnya dengan lengan bajunya, ekspresinya diliputi kejijikan.

Pemuda pirang itu hanya tertawa kecil, menjilat darah yang menodai bilah pedangnya dengan aura intimidasi. "Terlalu naif. Begitu mudahnya terdistraksi oleh kontak kecil seperti itu. Jangan bilang itu ciuman pertamamu?"

Spain tidak menjawab, hanya meludah dengan getir di lantai kayu kapal. Sekali ini saja dia bersyukur ciuman pertamanya sudah 'diamankan' entah oleh France atau Prussia—kemungkinan besar sih France—berabad-abad sebelumnya. Tapi tetap saja, melakukan kontak sedemikian intim dengan orang yang dibencinya—walaupun atas dasar yang amat sangat berbeda—sudah cukup untuk membuat isi perutnya bergolak.

"¡Hijo de puta!" Dia meraung, menerjang sambil mati-matian mengayunkan halberd dengan tangan kirinya. England hanya butuh dua langkah ringan untuk menghindari serangannya dan balas menerjang, sukses membuat kapaknya terlempar ke ujung lain anjungan. Spain mendesis kesakitan ketika punggungnya bertemu lantai kayu yang keras, merasakan pedang England menembus bagian bahu jubahnya, hanya meleset beberapa mili dari kulitnya. Dia mengerjap, menatap langsung wajah England yang menyeringai penuh kemenangan di atasnya.

"Kau tidak bisa menang, Espana." Personifikasi British Empire itu mencemooh, menatap lawannya yang berbaring terlentang ditahan oleh tusukan pedang. Dia dengan santai menduduki dada Spain, mencegahnya bangkit dan melakukan serangan balasan, sebelum menjilat bibirnya sambil memegang dagu lawannya di antara jemarinya. "Kalau kau serahkan vital region-mu tanpa perlawanan…"

"¡Sobre mi cadáver!" Spain menggeram, menarik napas dalam-dalam sebelum menjedukkan kepalanya sekeras yang dia bisa ke arah pemuda pirang yang mendudukinya. Matanya sedikit berkunang-kunang ketika merasakan tengkoraknya beradu dengan entah dagu atau rusuk England, tapi masih menyeringai saat merasakan beban yang menghimpitnya hilang ketika pemuda British itu terpental. Pengalamannya di-headbutt Romano selama bertahun-tahun ternyata berguna juga. Setidaknya dia sudah belajar tekniknya langsung dari expert-nya.

Dengan satu sentakan, dia mencabut pedang England dengan tangan kanannya yang berlumur darah lalu berdiri, berjalan pelan menuju England yang terkapar dan mencengkeram abdomen-nya. Oh, jadi headbutt-nya tadi kena perut ternyata…

Sambil menyipitkan mata, dia menempatkan kakinya di perut England lalu menginjaknya, membuat personifikasi negara kepulauan itu mengaduh kesakitan. Dia melihat warna merah mulai menodai kemeja putih lawannya dan seringai mengembang di wajahnya. Dia sudah memegang kelemahan England…

"Situasi berbalik, Inglaterra," desisnya, mengacungkan pedangnya sampai ujungnya menyentuh leher England, mengoyak dasi sutra berikut bros emas berlambang stempel kerajaannya. Ditekannya bilah itu sampai melihat tetes-tetes darah menuruni leher lawannya. "Bagaimana rasanya dilukai dengan pedangmu sendiri?" dia mencemooh, memandang puas wajah England yang balas memelototinya, mata hijaunya dipenuhi kebencian.

"Son of a...AGHH!" England tersedak ketika Spain menendang perutnya, membuat rasa sakit dari luka bekas pertempuran armada, wabah yang belum sepenuhnya hilang, ditambah headbutt yang barusan berlipat ganda. Dia tidak punya waktu untuk menyumpah ketika Spain menjambak rambutnya, berbisik di telinganya.

"Ini belum apa-apa, Inglaterra. Dibandingkan dengan apa yang kualami di kubangan yang kau sebut kapal itu, ini bukan apa-apa." Dengan satu ayunan pedang, Spain melucuti England dari jubah biru kebesarannya, topi admiralnya entah sudah ada di mana. Personifikasi Imperio Español itu berbisik, dendam dan amarah mewarnai nada suaranya. "Nah, sekarang bagaimana caranya kubuat kau merasakan hal yang sama, Inglaterra? Perlukah aku mengurungmu berbulan-bulan? Atau mungkin..." Spain menjilat bibirnya, "...kau langsung kuhabisi saja untuk mengakhiri konflik ini selamanya?"

Dengan seringai gila yang tidak cocok dengan wajahnya yang biasanya dihiasi senyuman ceria, Spain mengangkat pedang ke atas kepalanya, siap menghujamkannya ke tubuh musuh bebuyutannya. England sudah memejamkan matanya, siap menerima hidupnya yang sebentar lagi akan diakhiri oleh pedangnya sendiri.

"HENTIKAAAAAAN!"

Bilah itu berhenti di tengah udara. Baik Spain maupun England menoleh menatap sosok anak kecil dengan sehelai rambut mencuat yang berdiri gemetar di sisi lain anjungan, tangan mungilnya yang menggenggam sebilah belati entah dari mana. Mata birunya penuh tekad namun tetap dibayangi ketakutan.

"A-America?" England berkata tak percaya, rasa takut mulai merayapi mata hijaunya.

"M-men-menjauh dari England, b-b-bajak laut jahat!" America berteriak, mengacung-acungkan belatinya dengan garang walaupun suaranya bergetar.

Spain mengangkat alis. Dirinya, bajak laut jahat? Nggak salah? Anak itu…koloninya England? Pasti deh diajarin yang bertolak belakang…

"America you git! Kenapa bisa ada di sini? Jangan mendekat!" England berteriak, nada suaranya campuran antara kemarahan dan kekhawatiran.

America berjengit sedikit dibentak oleh motherland-nya, bibirnya bergetar menahan tangis. "Ta-Tapi…aku kan sudah berjanji akan melindungi England! D-Dan seorang hero…tidak akan melanggar janji!" Jemari mungil yang memegang belati itu gemetar hebat, namun mata biru sang empunya tetap dipenuhi tekad baja. Keinginan yang sangat kuat untuk melindungi orang yang berharga baginya.

Spain tertegun. Melihat England dan America, mau tidak mau dia teringat hubungannya sendiri dengan Romano. Bila dia menghabisi England sekarang di depan America… dia akan menghancurkan hati bocah belia itu. Bagaimana kiranya perasaan Romano seandainya dirinya dibunuh di depan matanya? Dia tidak ingin…dan tidak sanggup untuk membayangkan.

"P-Pokoknya, jangan dekati England lagi, bajak laut! Ayo sini lawan aku!" koloni cilik itu berteriak, masih mengacung-acungkan belatinya.

"America, jangan macam-macam!"England berteriak, kepanikan mulai merayapi nada suaranya. Dia menatap Spain, dan bilah pedang yang tinggal beberapa senti dari kepalanya, mata hijaunya yang biasanya angkuh kali ini tampak agak memohon.

"Jangan pedulikan dia! Lanjutkan saja pertempuran kita!"

"Kau sedang tidak dalam posisi untuk membuat penawaran, Inglaterra." Spain mengingatkan, menurunkan pedangnya sampai sejajar dengan leher England. Jarang-jarang dia berada di atas angin melawan musuh bebuyutannya. England ada di wilayahnya, tak berdaya, siap dihabisi kapan saja. Hanya dengan satu gerakan sederhana… kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi…

Tapi nuraninya…

Sambil berdoa Boss-nya tidak akan memukulinya, Spain melemparkan pedang England sejauh-jauhnya, mendengarnya berdentang di ujung anjungan seiring mata England yang melebar dalam ketertegunan.

"Espana… kau…'

Spain membuang muka, berbalik dan berjalan menjauhi England yang masih terkapar di lantai kapal, sepatu botnya berdentum di lantai kayu yang menguarkan aroma mesiu.

"Pulanglah, Inglaterra. Bawa kolonimu ke tempat yang aman. Sebelum aku berubah pikiran." Dia berbisik pelan sembari memberi isyarat pada kru-nya di kapal lain untuk menjemputnya. Mengabaikan pandangan heran dari anak buahnya, dia melirik dari sudut matanya. Dia bisa melihat England memeluk America, air mata menghiasi wajah yang biasanya angkuh dan penuh intimidasi itu. Senyum kecil menghiasi wajah Spain sementara dia menyeberangi tali menuju kapalnya, bersiap-siap kembali ke tanahnya.

Dengan ini kita impas, Inglaterra…


Romano memeluk lututnya, jemari kecilnya menggenggam kalung salib yang dihadiahkan Spain kepadanya bertahun-tahun yang lalu. Sekali itu saja, dia tidak mengharapkan apa-apa. Tidak usah ada uang, harta, atau gadis-gadis cantik mengelilinginya—selama dia tidak harus melihat Spain pulang berlumuran darah seperti dulu, semua hal duniawi itu rela ia buang jauh-jauh.

Pulanglah, bastard…

Bibirnya komat-kamit mengucapkan doa, jemarinya mulai memutih di bandul kayu kalungnya.

Aku akan jadi anak baik… aku tidak akan headbutt dia lagi… Tolong… pulangkan Antonio dengan selamat…

Sesak mulai merayapi dadanya, setiap detik yang berlalu terasa bagaikan berbulan-bulan ketika dia meringkuk di sofa ruang tamu, menggenggam salibnya sambil tak henti-hentinya berdoa. Dia tidak melihat sosok berjubah merah muncul perlahan dan mendekatinya dari belakang, sampai tangan besar mengelus kepalanya, membuatnya tersentak karena sentuhan yang sangat dikenalnya. Mata hazelnya melebar ketika dilihatnya sosok Spain tersenyum kepadanya, jubah merahnya robek di beberapa tempat dan tangan kanannya berlumur darah tapi selebihnya dia tampak baik-baik saja. Mata hazel itu mulai berkaca-kaca ketika Spain mengusap rambut auburn-nya dengan penuh kasih sayang, mengucapkan kata-kata yang sangat ingin didengarnya.

"Lovi… aku pulang."

Detik berikutnya, dia tidak ingat apa-apa lagi selain sebuah pelukan hangat.


Epilogue – One Last Piece

England bersender di depan pintu ruang meeting, menghela napas panjang sambil melirik arloji yang jarumnya berhenti di angka delapan dan dua belas. Gara-gara benda rusak sialan itu, dia jadi kepagian dua jam datang ke meeting tahunan; benar-benar kepagian sampai pegawai yang biasanya membukakan pintu ruangan saja belum datang. Jadilah dia terpaksa menunggu di luar, bersedekap sambil merutuki 'keberuntungannya'. Dia sudah berusaha mengirim sms ke America—selaku tuan rumah meeting—tapi masih saja pending sampai sekarang.

"Sial… jangan-jangan si bego itu lupa nge-charge batere hapenya lagi. Bodoh!" England mengutuk sambil melemparkan handphone-nya, didorong rasa frustrasi yang amat sangat. Kenapa hari ini rasanya sial sekali…

"ADUH!"

England langsung menoleh ke arah suara gedubrakan keras yang datang dari arah di mana dia melemparkan handphone-nya beberapa detik yang lalu. Pemuda British terkesiap, lalu langsung setengah berlari mendekati 'korbannya' yang tepar ditindih kardus-kardus besar dengan mawar-mawar kertas berceceran di sekitarnya.

"Ma-maaf, saya tidak sengaja! Err…anda tidak terluka kan?" England terbata-bata minta maaf sambil menyingkirkan kardus yang menindih kepala 'korbannya', dan langsung bertatapan dengan mata hijau yang sangat mirip matanya sendiri.

"Espana?"

Personifikasi negara Mediteran itu mengerjap, masih mengelus dahinya yang sudah mulai memerah bekas hantaman handphone England.

"Adududuh…Inglaterra? Kamu ya yang tadi main lempar barang?" Pemilik mata hijau itu masih mengernyit kesakitan ketika dia berusaha berdiri, menyingkirkan kardus-kardus yang menindihnya sambil berhati-hati untuk tidak menginjak mawar-mawar kertas yang susah payah dibuatnya semalaman. England hanya membuang muka, sikap gentleman-nya yang tadi lenyap entah kemana.

"Be-Berisik! Hapeku sendiri, suka-suka aku dong mau dilempar atau diapain!"

"Jadi yang tadi kamu lempar itu hape? Syukurlah, kupikir scone atau apa tadi." Spain berkomentar ringan, tampak sudah melupakan rasa sakitnya ketika dia berjongkok memunguti mawar-mawarnya yang tercecer. Didorong rasa tanggung jawab sebagai seorang gentleman, England ikut berjongkok dan membantu memasukkan kembali bunga-bunga kertas itu ke dalam kardus. Dia melihat sebagian bunga itu tampak berkilat dan bundar sempurna, sebagian lagi berkerut dan agak lusuh. Mungkin Spain membuatnya sambil setengah tidur, atau bahkan tidak sengaja meniduri mawar-mawar yang sudah dibuatnya di atas meja. Diliriknya Spain yang tengah memunguti mawar di depannya. Ada lingkaran-lingkaran hitam di bawah matanya. Sepertinya dia memang bergadang.

"Espana…"

"Hm?"

"Ah, bukan apa-apa." England kembali menunduk dan menekuni pekerjaannya memunguti mawar. Sudah bukan kabar baru bahwa setelah kehilangan seluruh koloninya disusul keruntuhan kekaisarannya, Spain tidak lagi sekuat dulu. Dia sudah terlalu miskin untuk terlibat dalam kedua perang dunia, dan bahkan sampai sekarang pun termasuk empat besar negara termiskin di EU. Dia bahkan pernah mendengar rumor Spain hampir saja tewas kalau saja rakyatnya tidak mengadopsi Euro sebagai mata uang mereka dan mengembalikan keseimbangan ekonominya. Rasanya sukar dipercaya, negara yang dulu dianggapnya sebagai musuh bebuyutan, rivalnya dalam menguasai tujuh samudra, sekarang sudah terpuruk sampai seperti ini…

"Inglaterra? Apa ada sesuatu di mukaku?"

England terkesiap, baru menyadari dari tadi dia memandangi wajah pemuda Latin di hadapannya. Dengan intensitas yang kemungkinan besar di luar kewajaran. "Bu-Bukan apa-apa. Errr… nih, kardusmu." Dia menyodorkan kardus yang penuh berisi mawar, menghindari menatap mata hijau yang identik dengannya itu. Spain menerima kardus yang disodorkan, bergumam pelan.

"Mmn. Gracias."

Keduanya berdiri dalam diam, Spain masih memeluk kardus-kardus berisi mawar. England merasa sedikit kikuk, berdiri berdua saja dengan mantan rivalnya. Sesungguhnya, di antara mereka sudah tidak ada apa-apa. Konflik yang dulu menghantui masa lalu mereka tenggelam bersama dengan meninggalnya Phillip II dan Elizabeth I. Mereka sudah hampir-hampir tidak pernah bertemu lagi di medan perang, kecuali sekelebat di tengah War of Spanish Succession, War of Austrian Succession, dan The Third Anglo-Dutch War. Terkadang England bertanya-tanya sendiri; apakah Spain merindukan masa lalu mereka? Masa-masa di mana mereka saling mengejar di tengah lautan, terombang-ambing berbulan-bulan di atas kapal, memperebutkan gelar sebagai penguasa samudra…

"Inglaterra?"

Untuk kesekian kalinya, England tersentak. Mengusap rambutnya sambil mengutuki dirinya yang begitu sering tenggelam dalam nostalgia, dia memaksakan dirinya untuk tertawa.

"Ahaha. Maaf. Aku hanya… well, terkenang…"

"Pada masa lalu kita?"

England terdiam. Mata hijaunya bertemu dengan mata hijau Spain, sejenak hampir bisa melihat sisa-sisa Imperio Español masih membayangi mata negara yang kini sudah hampir tidak pernah terlibat perang itu. Dia merasakan getar aneh di dadanya. Apakah dia baru saja berharap…?

Spain hanya tersenyum misterius, perlahan mengambil satu langkah mendekati pemuda pirang itu, jemarinya menyentuh dasi yang membalut leher sang British gentleman. "Hmm… apakah kau merindukanku, Inglaterra?" Dia berbisik, nada suaranya yang biasanya ringan dan ceria kini berisi emosi tak terbaca.

England tidak menjawab, terlalu terpukau dengan mata emerald yang kini hanya berjarak sekian senti dari matanya sendiri. Dia bahkan tidak bergerak ketika jarak antara mereka semakin menyempit sampai bibir Spain menyentuh lembut bibirnya, lidahnya tanpa susah payah memasuki mulut pemuda British yang tanpa perlawanan itu. Kontak itu hanya berlangsung beberapa detik, tapi sudah cukup untuk membuat wajah England memanas di tengah udara musim dingin. Spain menarik kepalanya, menjilat bibirnya masih dengan senyum misteriusnya.

"Dengan ini utangku lunas sepenuhnya, Inglaterra."

Sebelum England sempat bereaksi, Spain sudah berbalik memunggunginya, dengan cepat menghilang di balik tikungan. Meninggalkan pemuda British itu berdiri sendirian di tengah gang, warna merah masih menghiasi wajah pucatnya.

Y-Yang tadi itu… apa maksudnya…

"Oi, England! Menunggu lama ya? Maaf, maaf, aku baru baca sms-mu barusan…" England tersentak ketika sebuah tangan mendadak hinggap di bahunya. Dia menoleh sambil gelagapan, menatap langsung mata biru di balik kacamata mantan koloninya yang kini sudah lebih tinggi darinya.

"A-America? Ke-Kenapa baru dateng sekarang, you git! Telat banget, tauk!" Pemuda British itu langsung marah-marah, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih memerah. Yang dimarahi hanya mengangkat alis.

"Yah, adanya juga kamu yang kepagian, England." America berkomentar ringan, mengeluarkan sebungkus burger dari saku jaketnya dan mulai membuka bungkusnya. Tangannya terhenti ketika dilihatnya warna merah yang masih mendominasi wajah pemuda beralis tebal di sebelahnya. "England, mukamu itu… merah banget…"

Kalimat yang tidak jelas pertanyaan atau pernyataan itu hanya membuat wajah England semakin merah ketika mantan empire itu gelagapan, berusaha dan gagal total melenyapkan warna scarlet yang kini memenuhi seluruh wajahnya. "B-B-Bukan! Me-Merah apa? A-Aku cuma sedikit kedinginan kok! Gara-gara kelamaan nunggu kamu nih! Makanya jangan-"

Kalimat itu terputus di tengah jalan ketika bibir America menyegel bibirnya, jemarinya yang tidak memegang burger mengelus lembut sisi kepalanya. England terbelalak sejenak, sebelum mata hijaunya menutup dan membiarkan dirinya dibuai oleh sensasi yang hanya bisa diberikan oleh America. Begitu ciuman berakhir, America menarik kepalanya sambil nyengir lebar.

"Sekarang sudah hangat kan?"

England memalingkan wajahnya yang malah jadi semakin merah, berbisik pelan. "M-Makasih…"

America hanya tertawa riang sambil menepuk punggung mantan motherland-nya—yang kini sudah resmi jadi kekasihnya. "Baiklah! Walaupun kecepetan satu jam, kita buka pintu ruangannya sekarang ya?" Dia berkata riang.

England mengangguk dan menunggu America menggerayangi saku-saku jaketnya, mencari-cari kunci ruangan. Pemuda British itu memasukkan tangan ke sakunya, membeku sejenak ketika dia merasakan sesuatu yang dingin dan keras di dalam saku jasnya. Dikeluarkannya benda itu lalu diamatinya. Sebuah bros emas bertuliskan British Empire. Mata hijaunya terbelalak. Kapan Spain memasukkan itu ke dalam saku jasnya? Jangan-jangan waktu… England menggelengkan kepalanya, memaksa perhatiannya untuk kembali terfokus ke bros di tangannya. Bros yang direnggut Spain darinya dalam pertempuran terakhir mereka. Hanya dengan melihat bros itu dia bisa mencium aroma bubuk mesiu, darah, dan angin laut yang dahulu mendominasi hari-harinya. Seulas senyum mulai muncul di wajah England. Kini dirinya memang milik America, dan South Italy memiliki Spain. Tapi tetap saja, kenangan akan British Empire dan Imperio Españolakan menjadi memori mereka berdua selamanya…

"Ketemu juga kuncinya! Oh ya, England?"

"Hm? Apa?" England dengan cepat memasukkan kembali bros itu ke saku jasnya.

"Entah kenapa ciuman hari ini rasanya sedikit beda. Hmm…tadi kamu habis makan tomat kah?"

Saat itu, wajah England sudah cukup merah untuk menarik banteng lewat.

-End


A/N: …diakhiri dengan sangat SANGAT elit *note the sarcasm* Selesai… Dios mio, fic gaje ini selesai! *dances random flamenco* Walaupun agak rush, timeline berantakan, kemungkinan banyak typo, dan sejarahnya mungkin rada meleset… *pundung berjam-jam* Sesungguhnya saya merasa ada yang kurang dengan last chapter ini, tapi masih bingung apa. (Gaje? Yup. Maksa? Bener banget. Kepanjangan? HELL YEAH.) –saking banyaknya kali ya- *double headdesk* A-anyway…omake terakhir dari saya…

Omake:

Spain: Akhirnya setelah sekian lama… hak seme-ku dibalikin juga! *air mata bahagia*

Romano: Kenapa porsi gue dikit banget di chapter ini? Dasar author bego, nggak niat bikin SpaMano! Gue panggilin mafia nih!

England: I-Itu maksudnya apa? Kenapa gue blushing di depannya si Spain? Harusnya ni cerita fokusnya SpaMano sama USUK kan? Kok bisa nyelip gue ama Spain sih? Dasar Author nggak konsisten!

America: Hahaha. Mbak Author, ini gue bawa truk yah. Lumayan berat loh. Kalo dilempar ke anda kayaknya mantab tuh…

Francis: O-Oi America, tenang, sabar… lebaran baru lewat tiga hari juga… (apasih)

Gilbert: Gue juga mau protes! Kenapa gue di sini jadi sok dewasa? Terus porsinya dikit pula! OOC alert nih, OOC! Terus apa nih, satu chapter nembus 5000 kata? Gak awesome ni fic! Gantung Authornya, gantung!

Austria: Saya juga cuma jadi cameo… dalam bentuk surat pula. Sungguh tidak elegan…

Author: *pundung* Maaf semuanya… *terjun ke laut Jawa*

In the end… terimakasih sudah mengikuti fic ini dari awal sampai akhir (walaupun akhirnya gaje gini *headdesk lagi*) Terimakasih selalu bikin saya senyum-senyum gaje setiap baca dan balesin review. Terimakasih telah menemani saya fangirling (be it SpaMano, USUK, or uke!Spain ;P) Thank you… for simply being here :) Setelah kembali ke kampus dua minggu lagi mungkin saya tidak bisa aktif nulis lagi (kayaksekarangaktifnulisaja -plak-) jadi mungkin setelah ini hanya akan merilis oneshot (jiah bahasanya -plak-)

Thanks for sticking up with me and my half-assed fic till the very end :)

Regards,

Ryokiku