Lolly :Waaah! Maaf ya aku telat update! Dan terima kasih bagi yang sudah mau menreview.
Ichigo :Wah! Gapapa! Ga update-update juga gapapa, abisnya aku ga mau liat muka kamu!(OOC banget)
Hitsugaya:Sekarang ceritanya tentang apa nih?
Lolly :Kamu baca dong! Dijamin! Gaje abis!
Momo :Emang kenapa kamu telat update?
Lolly :Nanti deh aku ceritain! Reader! Please enjoy and Review.
Diclaimer :Tite Kubo
Yah dialah Hinamori Aizen kakakku yang agak super protctive sama aku…
"Kok segitu kagetnya sih? Kamu terlalu senang ya kalau aku pulang?" kata kakakku dengan ceria dan pdnya.
"Enggak, emang kenapa kakak pulang? Kakak bolos lagi ya?" sahutku dengan penuh antusias, habisnya kakak seringkali bolos hanya untuk melihat keadaanku, untung guru-guru disana memakluminya, padahal kakakku kuliah di Universitas yang kedisiplinannya ga nahan, dan kalau dia bilang 'Iya' aku akan sangat senang karena aku akan melaporkannya pada ibu, sepertinya aku cerminan adik yang jahat.
"Enggak lah! Kamu masa ga ingat? Sekarang kan kakak lagi liburan musim panas…" jawab kakakku dengan bingung, aduh bodohnya aku tidak berfikir sampai sejauh itu.
"Oh! Ya! aku lupa!" jawabku sambil senyum-senyum sendiri.
"Dasar! Pasti gara-gara keasyikan jalan-jalan ya? Hayo sama siapa? Laki-laki atau perempuan?" seru kakakku yang sudah seperti petir yang menggelegar di kupingku, masalahnya kalau dia tahu aku pergi sama Shiro, dan tahu bahwa Shiro itu laki-laki, aku pasti akan dikira pacaran, dan akan dilaporkan pada ibu, aduh! Kok jadi seperti bumerang ya?
"Kok jawabnya lama? Jangan-jangan…" kata kakakku dengan nada yang penasaran tetapi mengancam. Lalu langsung aku potong.
"Iya! Iya! Aku pergi sama laki-laki namanya Shiro, dia anak yang baik kok, tetapi kami ga pacaran, suer seribu suer deh kak!" sahutku yang sudah panik sendiri.
"Haha! Tenang saja, kalaupun kalian pacaran akan aku izinkan, tetapi pacarannya yang seumuran, hanya sebatas pegangan tangan, ga pelukan, apalagi ciuman…" kata kakakku terhenti sebentar.
"Iuh! Itu hal yang men-ji-ji-kan!" sahutku dan kakakku dengan bersamaan.
"Yah! pokoknya begitulah!" kata kakakku sambil menghela nafas.
"Nah! Masalahnya kakakku tersayang! Aku! Ga! Pacaran!" sahutku dengan sejelas-jelasnya.
"Sudahlah! Tetapi ada sesuatu yang harus kamu ketahui!" sahut kakakku yang mendapat hadiah tampang heran dariku, "Kau tidak boleh pacaran dengan orang bermarga Hitsugaya!" sahut kakaku, tetapi hei! Itu bukannya marganya Shiro?
"Kenapa kak?" heranku pura-pura tidak tahu.
"Kalau sudah waktunya akan kakak beri tahu, jadi bersabarlah…" jawab kakakku yang membuatku makin penasaran.
"Ya sudah!" sahutku cuek.
Di rumah…
Aku menuju kamarku untuk melepas lelahku setelah jalan-jalan tadi, di samping tempat tidurku yang berukurn besar tersebut, terdapat Shiro yang masih dalam wujud manusianya dan tampaknya sedang memandangi foto, lalu aku memutuskan untuk menghampirinya dan memulai oboral kamu.
"Shiroo! Kau sedang lihat foto apa?" sahutku dengan ceria.
"Ini! Foto masa kecilku ini dengan seorang gadis yang sangat aku rindukan hingga saat ini…" kataToushiro sambil tersenyum prnuh arti, deg… kenapa kepalaku sakit setelah melihat foto itu, pria berambut putih, dan bukannya gadis berambut coklat itu aku pada saat kecil, apa yang terjadi sebenarnya?
"Kok kepalaku jadi mendadak sakit ya?" kataku sambil memegangi kepalaku.
"Kau tidak apa-apa?" heran Shiro yang sepertinya dengan nada yang khawatir.
"Nggak tau nih… kepalaku sakit banget!" kataku, tetapi memangg benar, mengapa kepalaku makin lama makin sakit?
"Cepat panggil kakakmu! Aku akan berubah wujud menjadi kucing dan mengeong-ngeong!" kata Shiro sambil berubah wujud menjadi kucing, terima kasih Shiro, kau telah banyak membantuku.
"Kakak! Kakak!" teriakku berusaha sekeras mungkin, tak sampai lima detik setelah aku berteriak, derapan kaki mulai menemaniku dan bukaan pintu secara paksa pun terlihat olehku.
"Kenapa? Kamu kenapa?" kata kakakku sambil mengangkatku ke atas tempat tidur dengan khawatir.
"Kepalaku sakit kak! Sakit!" lirihku, mungkin karena sangking sakitnya aku menitihkan air mata.
"Jangan menangis, Pak Yumichika! Atau siapapun! Panggilkan dokter! Cepatlah!" perintah kakakku, kepalaku pun makin sakit, dan semuanya pun gelap dengan perlahan.
….
Aku membuka mataku dengan perlahan, terlihat di tanganku jarum infus yang menempel. Terlihat Nemu yang berada di samping tempat tidurku sambi tersenyum datar. "Nona sudah siuman rupanya!" kata Nemu sambil menambah tarikan di pipinya agar senyumannya makin terlihat.
"Kakak mana?" kataku sambil mencoba duduk.
"Sedang berbicara dengan dokter, baru saja!" kataNemu dengan ekspresi yang sama.
Aku memaksakan diri untuk berdiri, tetapi Nemu, "Nona! Nona masih lemah! Jadi jangan berdiri dulu!" sahut Nemu dengan tegas, tatapan matanya bagai kilat yang menyambar, sangat amat menakutkan.
"Tetapi aku ingin bertemu kakakku! Cepat bantu akuuu!" sahutku dengan tegas sekaligus manja.
"Ga bisa! Sekali ga bisa tetep ga bisa!" sahut Nemu dengan wajah angkuhnya.
"Hiih! Kalau Nemu ga mau bantu Momo, Momo akan berusaha sendiri… dan kalau ada apa-apa dengan Momo! Nemu yang nanggung! Wee!" sahutku sambil menujulurkan lidahku.
"Baikalah nona!" kata Nemu akhirnya patuh.
Dengan perlahan Nemu membantuku untuk berjalan, berjalan sampai pintu, kenapa sampai pintu? Karena aku mendengar suara, dan aku ingin mengupingnya…
"Dia udah ga pernah kaya gitu lagi setelah kejadian itu, jadi mesti gimana?" tanya suara laki-laki yang sepertinya kakakku.
"Mungkin dia bertemu atau melihat sesuatu yang dulu menjadi ingatannya! Tetapi dia tidak apa-apa… hanya sedikit shock aja…" kata dokter yang jelas biasa memeriksaku, dokter Unohana! Mengapa aku begitu membanggakannya?
"Apa maksudnya?" heranku sambil menyenderkan diriku di pintu.
"Nemu… aku ingin kembali saja!" sahutku dengan nada yang masih tidak percaya.
"Baik nona!" jawabnya lalu membantuku seperti tadi.
…..
"Hai Momo! Kau sudah baikan?" kata kakakku dengan ceria.
"Sudah! Bahkan sampai aku bisa menguping pembicaraanmu dengan dokter Unohana…" sahutku dengan nada yang sebal.
"Ha? Waw! Sepertinya aku harus memberitahumu sekarang!" kata kakakku yang nadanya yang berubah menjadi agak sendu.
"Apa? Kakak tidak memberitahuku kalau aku mempunyai penyakit ingatan? Aku sudah tahu sekarang!" sahutku dengan nada yang sebal.
"Iya, Ini juga ada hubungannya dengan kau tidak boleh berhubungan dengan orang yang bermarga Hitsugaya…" kata kakakku.
"Kalau ini memang terpaksa, tidak usah diberitahu, aku tidak memaksa!" sahutku sambil membuang muka, itu tandanya aku berbohong.
"Bukan! Ini memang waktunya untuk kau mengetahuinya… jadi itu karena, keluarga Hinamori dan Hitsugaya itu bermusuhan, jadi seperti ini…" kata Kakakku itu dengan sedih.
"Kenapa bisa bermusuhan kak?" heranku sambil menatap kakakku erat.
"Kejadian itu… sepuluh tahun yang lalu… di kerajaan Viola kami sedang pesta, kau dan pewaris tunggal kerajaan Viola sedang bermain bersama, tiba-tiba, salah satu bagian dari istana itu rubuh, dan letaknya tepat di saat kamu dan anak pewaris tunggal itu bermain… anak itu dan kamu kritis, aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya pada anak itu, tetapi kamu… mengalami amnesia…" jelas kakakku dengan panjang lebar.
"Lalu hanya karena itu?" kagetku sambil membelalakan mataku.
"Entah mereka yang dewasa terlalu kekanak-kanakan, tapi itu hanya karena kesalah pahaman, keluarga kita menganggap kejadian itu disengaja, dan… ya begitulah! Aku bukannya melarangmu, tapi kamu juuga ga mau mengecewakan keluarga kita kan?" kata kakakku yang lalu tersenyum lembut.
"Bukannya ada hukum? Apa mereka tidak minta maaf?" seruku masih penasaran dengan yang selanjunya.
"Hukum? Haha! Aku saja bingung! Jujur deh! Ini hanya karena masalah sepele! Se-pe-le!" sahut kakakku yang sepertinya sedang mengeluarkan unek-uneknya.
"Mungkin ada masalah lain yang kita tidak ketahui!" kataku mencoba menghibur.
"Entahlah! Itu yang diceritakan mama dan papa! Entah mereka yang berbohong atau tidak!" kata kakakku dengan lemas.
"Ya sudah! Kakak senyum dong! Nanti kita main kaya Phineas and Ferb, ok?" sahutku karena itu memang kesukaannya pada musim panas. Niatnya sih menghibur.
"Yap lah!" kata kakakku dengan nada seperti orang yang patah semangat.
…
Normal POV:
Pada siang itu ada pelayan yang sedang membersihkan kamar Momo…
"Lalalala!" senandung pelayan itu sambil membersihkan tas Momo.
'Pluk' secarik kertas pun jatuh dari tas itu.
"Apa ini?" kata pelayan itu yang lalu membelalakan matanya setelah melihatnya.
"Nona pa-ca-ran?" kata pelayan itu dengan wajah yang cengo.
To be continued…
Lolly :Ya ampun! Makin gaje aja sih cerita aku!
Ichigo :Bukannya cerita kamu memang selalu gaje ya?
Momo :Berarti kamu bakal telat update terus ya?
Hitsugaya :Lho kenapa? Tadi aku ga denger lho!
Lolly :Ya udah yuk, aku ceritain*sambil jalan* Ichigo! Ayo ikut! Ajak yang lain juga!
Ichigo :Kacang goreng! Kacang goreng! Yang mau, review ya!
Lolly :Reader, please always enjoy and Review
