SUREDDO
スレッド
.
A SasuSaku Fanfiction
.
Masashi Kishimoto's
.
It's rated mature but the author is 15
.
Sureddo ; Benang
.
Chapter II
.
Romance & Hurts
.
"Tuhan membenci hubungan mereka, tetapi terus melilit mereka dengan benang takdir. Mereka tidak akan pernah berjauhan satu sama lain."
.
Reminder ; there will be a lot of tears, so
.
Happy reading, love. Xx
Pacaran diam-diam? Sasuke dan Sakura menjalani hubungan lebh dari itu.
"Sasuke-kun, aku membawakan bekal untukmu.." gadis berambut lavender itu berjalan mendekati meja Sasuke dengan gugup. Sasuke? Tampak tak acuh dan terus saja melanjutkan pekerjaannya. Sementara gadis yang duduk tidak jauh dari meja Sasuke, memperhatikan dengan seksama.
"Nona bisa letakkan kotak makan itu dimeja.." Sakura merasa sedikit iba pada gadis itu. Hal yang membingungkan memang, untuk apa Sakura mengasihani gadis yang telah memisahkan dia dan Sasuke. Ya, dialah Hyuuga Hinata.
"Terimakasih, Sakura-san.." Sakura tersenyum getir menatap gadis itu. "..Sasuke-kun, aku pulang dulu.." pamitnya kemudian berbalik badan dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Sakura menatap lekat-lekat pada Hinata. Caranya berbicara, berjalan, bahkan meletakkan kotak bekal itu di meja Sasuke, benar-benar menonjolkan identitasnya sebagai seorang darah biru. Pintu tertutup, Sakura tertunduk dan berpikir sejenak. Hinata benar-benar pantas disandingkan dengan Sasuke. Penerus Uchiha Corporation dan putri bangsawan, sungguh kombinasi sempurna seperti dongeng yang sering dibacakan Ibunya sewaktu Sakura berumur 9 tahun.
Tetapi jangan lupakan kisah Cinderella, Sakura.
Sakura menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran anehnya. Dia kembali membuka dokumen yang harus dia cek dan arsipkan, sebelum tiba waktu pulang kantor. Setelah memastikan semuanya telah direvisi, dia menunjukkan dokumen itu pada Sasuke untuk meminta pendapatnya. Sakura meletakkan dokumen itu di meja Sasuke tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Hn," Sasuke melirik Sakura yang bersikap berbeda dari biasanya. Sakura mengalihkan pandangan pada jendela. "..apa yang kau pikirkan?" tujuh tahun bukan waktu yang singkat, dia mengenal Sakura hingga setiap sudut pikiran dan hatinya. Seinchi saja perubahan di wajah Sakura, Sasuke langsung menangkap pikirannya. Begitupun sebaliknya.
"Hinata itu santun sekali." Ungkapnya. Sakura bukan tipe wanita yang akan menjawab pertanyaan seperti itu dengan jawaban 'tidak apa-apa'. Ada satu masalah didalam pikirannya dan dia tidak menuntut Sasuke untuk peka terhadap hal itu. Sasuke hanya terdiam, menanti Sakura untuk melanjutkan penuturannya. Namun nihil, Sakura tidak mengatakan apapun lagi.
Sasuke bukan pria romantis yang akan mengeluarkan seribu kata untuk menenangkan Sakura, tetapi dia beranjak menghampiri Sakura. Dia memeluk Sakura dari belakang, cukup lama untuk mengundang senyumnya. Akhirnya, Sakura menyerah dan menghela nafas. Dia tersenyum kecil merasakan nafas Sasuke yang seakan meniup pipinya. Sasuke mengecup pipi ranum itu, kemudian kembali menenggelamkan wajahnya pada perpotongan leher Sakura. Sasuke selalu membuat tanda disana, dia menghisap dan menjilati titik itu sampai menunjukkan ruam kemerahan. Sakura adalah miliknya, sampai selama-lamanya.
"Ngh, Sasuke.." Sakura menggeliat manja merasakan sentuhan Sasuke yang kini telah berpindah ke dadanya. Sakura boleh berbangga karena bentuk dan ukuran payudaranya begitu indah, pas sekali ditangan Sasuke. Membuat Sasuke tidak henti-hentinya memuja harta Sakura itu.
Tidak puas hanya dari luar saja, Sasuke membuka kancing kemeja Sakura. Menurunkannya sampai di pinggang Sakura. Sakura tidak melawan, dia membantu Sasuke dengan menurunkan tali bra miliknya. Kini dada Sakura terpampang tanpa cup yang menutupinya.
"Kau serius Sasuke? Sekarang?" Tanya Sakura sebelum jemari Sasuke mulai memainkan payudaranya. Bukannya menjawab, nafas Sasuke kian memburu. Dia memutar bangku Sakura kearahnya, kemudian memperintahkan Sakura untuk berdiri. Sasuke bergantian duduk di kursi itu, bersandar dan menatap ciptaan Tuhan favortinya. Wajah Sakura sudah merah padam dan bibirnya sedikit memerah bengkak, ditambah lagi payudara Sakura menggantung bebas tepat didepannya. Begitu putih, mulus dan menggemaskan. Sempurna bagi Sasuke, dia menarik Sakura ke pangkuannya dan meremas payudara Sakura gemas. Sakura hanya bias pasrah ketika Sasuke mulai mengulum payudaranya. Memainkan putting Sakura dengan lidahnya dan sesekali menghisapnya, sukses membuat bagian bawah Sakura basah kuyup karenanya.
Sambil terus melakukan kegiatannya, Sasuke menyibakkan rok Sakura hingga menampakkan kemaluan Sakura yang dibalut celana dalam putih. Dia meraba paha Sakura sebentar, kemudian menempatkan tangannya di bagian intim milik Sakura. Jemari Sasuke sudah tidak sabar memasuki lorong basah itu. Sakura seolah mengerti keingina Sasuke, dia melebarkan kedua kakinya dan mempersilakan Sasuke melakukan apa yang dia mau.
"Aaangh.." Lenguhan Sakura tak dapat tertahan ketika Sasuke langsung menelesapkan jarinya masuk kedalam vaginanya. Bukan satu atau dua, melainkan tiga jari yang langsung sukses masuk dengan licinnya kedalam lubang miliknya.
"Kau basah sekali.." Suara Sasuke yang berat ditambah dengan keringat yang mulai menghiasi wajahnya, membuat nafsu Sakura makin membara. Sakura memejamkan mata dan mengadah keatas. Dia dapat merasakkan gerakkan jari Sasuke keluar masuk lubangnya.
"Sasukehh..pelan-pelan, akh!" Gerakkan jemari Sasuke makin cepat, membuat Sakura lepas kendali. Dia mendesah keras-keras, mengundang erangan tertahan dari Sasuke. Paha Sakura dapat merasakan milik Sasuke yang sudah mengeras dan menonjol.
"Sebut namaku, Sakura. Hanya aku." Sasuke menambah lagi kecepatan jarinya membelai lorong kenikmatan Sakura.
"Sasukeehh…ahhh..mmhh..." Sakura meremas payudaranya sendiri, mengundang seringai di wajah tampan Sasuke.
"Keluarkan, Sakura. Beri aku cairan itu." Sakura semakin menggila, wajah dan payudaranya memerah. Vaginanya berkedut dan kian membasah. Sakura dapat merasakan sebentar lagi dia akan mencapai klimaksnya.
"Ahhh, Sasuke-kunhh..aku mau keluar.." Desahan Sakura mencapai finalnya ketika cairan mengalir keluar dan membasahi jemari Sasuke. Sakura terkulai lemas, menatap Sasuke dengan mata sayunya. Sasuke menikmati hasil kerjanya, menjilat seluruh cairan di jemarinya. Belum puas, dia kembali mengambil cairan yang tersisa di lubang milik Sakura, kemudian menikmatinya kembali.
"Kau sungguh…manis, Sakura." Sasuke menatap kedua mata Sakura dalam. Sakura dapat merasakan Sasuke yang begitu mencintai dan memilikinya, tanpa Sasuke mengungkapkan dari mulutnya sendiri. Bahasa tubuh Sasuke, serta tatapan matanya kepada Sakura sudah cukup meyakinkan Sakura bahwa Sasuke benar-benar mencintainya.
"Aku mencintaimu," bisik Sakura tanpa melepaskan tatapannya pada Sasuke.
"Hn." Sasuke mendekap Sakura dan membawanya kedalan ciuman yang lembut, menuntut, dan penuh cinta.
Sakura memejamkan matanya, menikmati setiap kuluman dan saliva Sasuke yang menetes di dagunya. Sakura merasa begitu memiliki Sasuke, begitu dicintai olehnya. Walaupun perasaan hina terus menghantuinya. Sakura menatap jemari Sasuke, tidak ada cincin yang melingkar menghela nafas, menjadi orang ketiga bagi hubungan pertunangan Sasuke dan Hinata, meninggalkan perasaan yang selalu menghantui pikirannya. Sampai kapan dia akan begini terus, menjalani hubungan yang begitu intim dengan seorang pria yang berstatus sebagai calon suami orang lain.
..
..
..
..
..
Sakura memeriksa mejanya untuk yang terakhir kali. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, dia harus cepat jika tidak ingin ketinggalan bus yang terakhir. Sasuke sudah pulang lebih dulu karena ada urusan keluarga, hanya tinggal Sakura sendirian di ruangan itu. Dia berjalan setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, membuka pintu ruangannya.
"Ah, Sakura-san. Baru selesai juga?"
Sakura bernafas lega melihat Ino yang ternyata juga belum pulang kerumahnya. Dia tidak akan pulang sendiri sekarang.
"Iya.." Jawab Sakura sambil memegangi tengkuknya yang nyeri. "..baru seminggu bekerja aku sudah dibebani seperti ini, yaampun.." keluhnya. Dia dan Ino memang sudah cukup sering mengobrol bersama. Menurutnya, Ino adalah pribadi yang cerewet dan blak-blakan. Ino tidak segan menanyakan beberapa hal yang sensitive pada Sakura, dan dengan cepat pula Sakura beradaptasi dengannya.
"Kalau begitu, kita pulang bersama." Ino mengambil tangan Sakura dan menariknya menuju lift. Butuh beberapa waktu untuk sampai di lobby, mengingat ruangan sang pemilik perusahaan berada di lantai paling atas.
"Sakura, aku boleh bertanya sesuatu padamu?" Nada bicara Ino terdengar serius.
"Tentu, apa?" Ino tampak sedikit segan, tapi ia tetap melanjutkannya.
"Berjanjilah kau jangan marah padaku." Sakura menatap Ino bingung. Tapi apa salahnya? Toh, Ino juga seorang perempuan dan sudah cukup dekat dengannya.
"Iya, aku janji." Sakura menatap Ino penasaran.
"Sebenarnya..um, kau dan tuan Sasuke punya hubungan spesial ya?" Ino mengucapkannya dengan begitu hati-hati. Sakura terdiam, memikirkan jawaban yang tepat. Ino terus menatap Sakura, menuntut jawaban.
"Kami.." entah mengapa, Sakura mau membuka mulutnya. Jujur, Sakura merasa begitu nyaman berbagi kisahnya dengan Ino. "..mantan kekasih." Lanjutnya lirih.
"Mantan? Benarkah? Berapa lama kalian pacaran?" Sakura menghela nafas mendengar pertanyaan Ino.
"Tujuh tahun.." Jawab Sakura. Ino melongo, waktu pacaran terlama yang pernah ia dengar dari temannya.
"Lama sekali!" Pekik Ino.
Ino hendak mengeluarkan banyak pertanyaan pada Sakura, tetapi lift sudah sampai di lobby. Mereka melangkahkan kaki keluar dari lift dan terhenti ketika melihat hujan deras turun membasahi Konoha. Sakura menghela nafas, sepertinya dia tidak bias pulang malam ini.
"Yah, Sakura..bagaimana kau bias pulang?" Sakura menatap Ino, cukup terkejut dengan perhatian gadis itu.
"Aku tidak tahu," Sakura menggigit bibir bawahnya.
"Sakura, rumahku tidak jauh dari sini. Aku bawa mobil, menginaplah semalam dirumahku.." Pinta Ino. Sakura sangat senang mendengar tawarannya, tetapi segan juga untuk menumpang dirumah orang lain.
"Ino..terimakasih, tapi apa tidak merepotkan? Keluargamu-" Ino dengan cepat memotong perkataan Sakura.
"Aku tinggal sendiri! Sekarang ayo, kita pulang." Sakura tersenyum menatap Ino yang berjalan didepannya. Ino sungguh wanita yang baik, ramah dan tak segan membantu orang lain. Sakura jadi semakin ingin dekat dengan Ino.
..
..
..
..
..
TO BE CONTINUED
