SUREDDO

スレッド

.

A SasuSaku Fanfiction

.

Masashi Kishimoto's

.

It's rated mature but the author is 15

.

Sureddo ; Benang

.

Chapter III

.

Romance & Hurts

.

"Tuhan membenci hubungan mereka, tetapi terus melilit mereka dengan benang takdir. Mereka tidak akan pernah berjauhan satu sama lain."

.

Reminder ; there will be a lot of tears, so

.

Happy reading, love. Xx

Ino tinggal disebuah rumah berukuran kecil, cukup untuk tinggal sendirian. Tetapi rumah itu terlihat begitu modern dan bergaya. Ino pandai memilih warna untuk interior rumahnya, pikir Sakura. Dia menatap sekeliling dan terpesona, Ino benar-benar feminim. Dia menyukai bunga, warna-warna pastel dan perabotan lucu.

Sakura sudah mengganti bajunya dengan piyama milik Ino. Sambil menunggu Ino selesai membersihkan diri, dia duduk diruang tamu sambil memperhatikan barang-barang milik Ino.

"Sakura, bagaimana? Kau suka disini?" Tanya Ino yang tiba-tiba muncul dan mengagetkan Sakura.

"Aku suka sekali, kau punya selera yang bagus.." Puji Sakura sembari tersenyum.

"Kau sudah mengantuk? Bagaimana kalau kita bergosip di kamar, pasti seru sekali!" Ino begitu bersemangat. Sakura tertawa kecil, sudah lama dia tidak berbagi cerita dengan seorang teman. Tanpa menjawab, Sakura berjalan mengikuti Ino menuju kamarnya.

Ketika sampai dikamar Ino, Sakura kagum. Ino begitu rapih dalam merawat kamarnya. Kamar bernuansa ungu muda dan beraroma bunga sungguh membuat Sakura jadi nyaman. Ino menyiapkan tempat untuk Sakura disampingnya, tak lupa juga selimut warna pink khusus untuk Sakura. Mereka duduk berdua diatas tempat tidur dan bercerita.

"Hm, soal tadi kita belum selesai.." Ino membuka pembicaraan dan Sakura langsung menangkap arahnya. Sakura termenung sejenak, kemudian menatap Ino lagi.

"Jujur Sakura, aku sedikit mendengar pembicaraanmu dan tuan Sasuke di dalam.." Mendengar penuturan Ino, Sakura seolah-olah masuk mode siaga. Dia terkejut sekali, apa jangan-jangan Ino juga mendengar 'kegiatan' nya dengan Sasuke tadi siang? Sungguh gawat bagi Sakura.

"Apa saja yang kau dengar?"

"Yaampun Sakura, desahanmu terdengar sampai keluar.." Ino menjawabnya dengan berbisik. Sakura sontak merona, telinganya terasa panas.

"J-jadi, kau mendengarnya?" Sakura benar-benar gugup, takut Ino menganggapnya yang tidak-tidak.

"Maafkan aku, Sakura. Aku menanyakan banyak hal padamu. Tapi kalau kau butuh teman berbagi cerita, berceritalah..aku siap jadi tempat curhatmu." Sakura tidak dapat memastikan Ino adalah orang yang bisa dipercaya, tetapi beban dihatinya begitu banyak. Sakura butuh tempat untuk menuangkan semuanya.

Sakura mulai bercerita kepada Ino, mengenai segalanya. Bagaimana hubungannya dengan Sasuke selama 7 tahun lamanya, begitu harmonis. Sakura tak lupa sedikit menceritakan pengalaman membahagiakannya bersama Sasuke. Ino tampak tidak percaya Sasuke memiliki sisi seperti itu dalam dirinya, hangat dan posesif. Ino tak jarang mengungkapkan rasa iri-nya pada Sakura.

Namun, cerita-cerita manis itu cepat berganti dengan permasalahan Sakura saat ini. Sakura menceritakan bagaimana perlakuan ayah Sasuke padanya, dan rencana perjodohan Sasuke dan Hinata yang akhirnya memisahkan mereka berdua. Sakura tak kuasa membendung air matanya. Ino mengelus pundaknya sesekali, merasa iba pada Sakura.

"Lalu, tiba-tiba kau diminta untuk bekerja sebagai asisten pribadinya?" Tanya Ino.

"Iya, beberapa hari sejak kejadian itu Sasuke datang kerumahku. Dia menjelaskan jawabannya pada saat itu semata-mata hanya untuk membahagiakan ayahnya. Ayah Sasuke mengidap penyakit jantung yang cukup serius, Sasuke tentu takut menganggu kesehatannya.." Cerita Sakura. Ino mengangguk paham dan meminta Sakura melanjutkan ceritanya.

"Lalu?"

"Dia memintaku bekerja di perusahaanya. Dia akan memimpin perusahaan itu setelah acara pertunangannya dan Hinata telah selesai." Sakura menangis, mengingat posisinya saat ini benar-benar memukul hatinya.

"Sakura.." Ino ikut sedih merasakan kepiluan Sakura. Berpacaran 7 tahun dan kini harus menerima kenyataan bahwa pria yang dicintainya telah bertunangan.

"Sasuke bersumpah, dia tidak mencintai Hinata. Maka dari itu, dia memintaku. Supaya kami punya alasan untuk selalu dekat, meskipun itu artinya aku memposisikan diriku sebagai orang ketiga dalam hubungan pertunangannya.." Sakura termenung, tampak belum menemukan kata-kata untuk melanjutkan. Ino menaruh simpati yang besar pada Sakura, sebagai sesame perempuan Ino tidak menyalahkan Sakura. Sakura tidak salah, menurutnya keadaan-lah yang memojokkan Sakura.

Lama Ino terdiam, hanya memeluk Sakura yang kini menangis tersendu.

"Tuan Sasuke mencintaimu, aku yakin." Hiburnya.

"Entahlah Ino," Sakura sudah berhenti terisak, tetapi air masih membasahi matanya. "..berhubungan intim dengan tunangan orang lain, aku sungguh jalang." Sakura tertawa getir dan melepaskan dirinya dari pelukan Ino.

"Kau tahu, Sakura? Aku ini jauh lebih jalang darimu.." Ino tertawa sungguhan. Sakura bingung, apa maksud Ino? Daripada bertanya, Sakura lebih memilih diam mempersilakan Ino untuk bergantian bercerita padanya.

"Jangan kaget ya, aku ini mantan PSK." Tutur Ino terang-terangan. Sakura jelas tidak percaya, reaksinya lebih parah dari Ino yang mendengar dia berpacaran dengan Sasuke selama 7 tahun. Perempuan seperti Ino pernah menjajakan tubuhnya, sungguh tidak bias dipercaya.

"Tapi..kenapa, Ino?"

"Barangkali kau akan jijik padaku, Sakura." Ino mengambil cemilan didekat tempat tidurnya. Dia mengambil satu, dan membaginya dengan Sakura.

"Aku memang berasal dari keluarga yang berkecukupan, tapi aku tidak pernah puas dengan semua itu. Kau tahu, Ibuku itu orang yang sangat egois! Selama 19 tahun aku hidup, dia terus berfoya-foya dan menghabiskan uangnya untuk dirinya sendiri. Sementara aku? Dia membelikan aku barang-barang murah! Dia itu memang wanita sinting, pantas saja ayahku meninggalkannya!" Ino tertawa, Sakura tidak paham bagaimana bias Ino tertawa ketika menceritakan pengalaman pahit dalam hidupnya. Ino sungguh wanita yang tangguh.

"Jadi kau bekerja agar bisa membeli barang mahal yang kau sukai?" Ino mengangguk enteng sambil mengunyah cemilannya.

"Mudah sekali, Sakura. Aku hanya tidur dengan pria hidung belang, dan voila! Aku dapat uang, aku belanja, aku bisa hura-hura untuk diriku sendiri!" Celoteh Ino sambil cengar-cengir tanpa rasa malu.

"Tapi, semua itu tidak bertahan lama. Sekarang, aku sudah tobat. Jadi kau tenang-tenang saja bergaul denganku.." Ucapnya. Sakura bukan jijik padanya, melainkan merasa kagum pada Ino. Ino memiliki semangat yang besar dalam menjalani hidupnya. Sakura sendiri harusnya bersyukur memiliki keluarga sempurna, tidak seperti Ino.

"Ino, kau luar biasa." Ungkap Sakura jujur.

"Ah, sudahlah. Tidak perlu seperti itu, Sakura. Apa kau sudah mengantuk? Kita tidur saja yuk," Ajak Ino sambil menarik selimutnya. Sakura tersenyum dan mengangguk.

..

..

..

..

..

"Pergi kemana kau semalam?" Sakura terkejut ketika baru masuk keruangannya, Sasuke sudah menariknya dan merapatkan tubuhnya ke tembok. Sasuke begitu tampan, Sakura terpesona. Dia belum mengenakan jasnya, hanya kemeja putih panjang yang membuatnya terlihat begitu memesona.

"A-aku.. menginap dirumah Ino, Sasuke.." Dia dapat merasakan nafas Sasuke yang menerpa wajahnya.

"Kenapa?"

"Karena hujan, aku tidak mungkin naik bus, dan sudah larut malam juga.." Jelas Sakura yang mulai menggeliat tidak nyaman. Sasuke mengunci posisinya. "..sekarang lepaskan aku?" mohon Sakura.

"Hn, kau harus sedikit berusaha." Sasuke menatap Sakura tepat pada matanya. Rasanya Sakura akan meleleh ditempat. Dia memutar otak, apa yang Sasuke inginkan?

Tanpa menghabiskan banyak waktu, Sakura mendapatkan cahaya dipikirannya. Tangannya mulai bergerak menyusuri dada Sasuke dan melingkarkan kedua tangannya dipundak Sasuke.

"Aku mencintaimu, Sasuke." Lagi-lagi kalimat itulah yang diucapkan Sakura. Dia seperti tak akan berhenti mengingatkan Sasuke betapa dia menyayanginya dengan tulus.

"Hn, aku tahu."

Tangan Sasuke beralih melingkar di pinggangnya, memeluk Sakura erat-erat. Sakura sangat merindukan saat-saat seperti ini, Sasuke begitu manja dan menginginkannya. Satu inchi lagi untuk menyatukan bibir mereka, tiba tiba..

"Tuan Sasuke!" Ino seenaknya membuka pintu dan menginterupsi kegiatan pagi mereka. Wajahnya terlihat panik, dia masuk dan menutup pintu rapat-rapat.

"Ino, ada apa?" Sakura heran.

"Gawat, Sakura, Tuan Sasuke, sepertinya Tuan Fugaku akan menuju kemari.." Sakura melotot.

"Sasuke, Ayahmu!"

..

..

..

..

..

TO BE CONTINUED