SUREDDO
スレッド
.
A SasuSaku Fanfiction
.
Masashi Kishimoto's
.
It's rated mature but the author is 15
.
Sureddo ; Benang
.
Chapter IV
.
Romance & Hurts
.
"Tuhan membenci hubungan mereka, tetapi terus melilit mereka dengan benang takdir. Mereka tidak akan pernah berjauhan satu sama lain."
.
- bilik curahan author -
Karena banyak review dan saran dari para pembaca, Sureddo tiap chapternya akan diperpanjang..tapii mulai dari chapter V yaa ;p
Terus kasih review dan saran untuk author pemula ini ya.., and
Thanks for all the reviews, all the lovee xx
Demigodcabin6
.
Reminder ; there will be a lot of tears, so
.
Happy reading, love. Xx
Disinilah Sasuke, didalam mobil sedan hitam mewah bersama ayahnya dalam kebisuan. Setelah bersusah payah bersama Ino menyembunyikan Sakura dari pandangan ayahnya, dia bisa sedikit bernafas lega sekarang. Sasuke merapikan kemejanya, kemudian menatap keluar jendela. Kira-kira ada hal penting apa sampai-sampai ayahnya rela menjemputnya seperti ini.
Sedikit khawatir akan terjadi hal yang buruk, Sasuke tetap mempertahankan wajah datarnya. Semoga bukan pembicaraan serius tentang perjodohannya dengan Hinata. Ayah Sasuke sendiri belum mau membuka mulutnya, membuat Sasuke bertanya-tanya sendiri didalam batinnya. Ditambah lagi raut wajah ayahnya yang sedari tadi seperti menahan sesuatu. Firasat Sasuke, akan ada hal buruk yang terjadi.
Dia tidak bisa berhenti memikirkan Sakura, apalagi setelah 'kegiatan pagi'-nya terpaksa ditunda karena kedatangan lama Sasuke bergelut didalam pikirannya, dia mendengar pesan masuk ke handphonenya. Ternyata Sakura, dia jadi jauh lebih tenang ketika melihat nama kekasihnya muncul dilayar handphone miliknya. Sakura memang wanita yang spesial, kata-katanya selalu bisa menentramkan hati Sasuke. Sakura hampir tidak pernah menyusahkan orang lain, itulah salah satu alas an mengapa Sasuke begitu jatuh cinta pada kepribadiannya.
'Tidak perlu khawatir, aku selalu berdoa untukmu.'
Ternyata Sakura merasakan hal yang sama sepertinya. Bukan kejutan lagi bagi Sasuke, karena sedari dulu dia bisa merasakan perasaannya dengan Sakura terkait satu sama lain. Senyum kecil terpatri di wajah tampannya.
'Terimakasih, Sakura.'
Setelah membalas pesan Sakura, dia kembali menatap jendela mobil dan bergelut didalam pikirannya.
.
.
.
.
.
.
Sakura tidak bisa konsentrasi mengerjakan tugas-tugasnya. Setiap kali dia membalik lembar demi lembar dokumennya, dia menatap meja Sasuke dengan wajah sendu. Lagi-lagi, pikirannya kembali terusik dengan masalah perjodohan itu. Dia tahu persis, kecil kemungkinan dia dan Sasuke bisa bersama. Sudah tidak direstui, ditambah status Sasuke saat ini adalah tunangan orang lain. Sakura tidak nyaman menempatkan dirinya sebagai orang ketiga yang bisa disebut pengganggu hubungan orang.
Dia menutup dokumen terakhir kemudian mematikan laptopnya. Boleh dibilang pikirannya saat ini sedang kacau. Kalau dia disini terus-menerus, dia tidak akan bisa lepas dari Sasuke Perasaannya akan terus tumbuh dan berakar setiap harinya, menancap semakin dalam dihatinya.
Sampai kapan harus seperti ini?
"Sakura.."
Terlalu serius melamun, Sakura sampai tidak sadar Ino masuk kedalam ruangannya. Dia merapikan rambutnya, kemudian tersenyum pada Ino.
"Ino, ada apa?" Sakura merapikan mejanya sedikit lalu berjalan menghampiri Ino.
"Wajahmu murung, ada masalah?" Seharusnya Ino tidak perlu bertanya, dia tahu bahwa kedatangan ayah Sasuke-lah yang memenuhi pikiran Sakura saat ini.
"Perasaanku tidak enak, apalagi melihat raut wajah ayah Sasuke tadi.." Ungkap Sakura. Ino mengajaknya duduk berdua di sofa tamu dan meminta Sakura menceritakan kegundahan hatinya. Sakura bercerita kepada Ino dengan jujur dan sangat mudah, dia menjelaskan perasaannya tanpa menutupi apapun. Mengenai hubungannya, perjodohan Sasuke, sampai perasaan bersalah didalam hatinya.
Bagaimanapun juga, Sakura adalah anak yang berbakti pada orangtuanya. Bagaimana perasaan orangtua ketika anaknya sendiri membohongi mereka? Sakura tidak bisa membayangkan bagaimana jika hal tersebut terjadi pada orangtuanya sendiri, terlebih jika dia-lah yang melakukan kebohongan itu. Sakura merasa seperti dirinya adalah alasan Sasuke menjadi anak durhaka.
Menurut Ino itu tidak berlebihan, Sakura memang wanita yang perasa. Nampak jelas sekali Sakura bukanlah orang jahat. Ino semakin menaruh rasa simpati pada Sakura. Diluar perasaannya sendiri, Sakura bisa memikirka perasaan orang lain yang bahkan berlaku jahat kepadanya. Ino tidak percaya apakah Sakura ini benar-benar manusia alih-alih malaikat.
"Sakura, aku ikut sedih.." Tidak ada kata-kata lain yang mampu Ino ucapkan untuk menghibur Sakura.
Sakura tersenyum, tidak benar-benar dari hatinya. Dia membuka ponselnya dan membaca pesan dari Sasuke.
'Terimakasih, Sakura.'
Sungguh tidak ada lagi yang bisa menghangatkan hatinya selain Sasuke. Tanpa kalimat romantis, panggilan saying, apalagi kata-kata cinta, Sasuke mampu mengobati luka di hati kecil Sakura. Mengetahui Sasuke akan selalu mencintai dan peduli padanya, sudah cukup meyakinkan dirinya untuk tidak mundur dalam memperjuangkan cintanya.
Ino senang melihat Sakura kembali tersenyum. Dia menepuk pundak Sakura kemudian mengajaknya makan siang bersama. Tanpa berpikir panjang, Sakura mengiyakan ajakan Ino. Dia butuh refreshing dari pekerjaan dan masalahnya saat ini.
.
.
.
.
.
.
Sasuke melangkah keluar dari mobil, dan berjalan menyusul ayahnya yang sudah terlebih dahulu masuk kerumah. Itachi sudah menantinya didepan pintu dengan raut wajah yang sulit diartikan. Setelah memastikan ayahnya masuk kerumah, Sasuke mendekati kakaknya dan bertanya apa yang terjadi.
"Kak, ada apa?" Sasuke melirik kearah pintu, isyarat bahwa yang dia maksud adalah ayah mereka. Itachi menggeleng, kemudian menatap Sasuke.
"Hal buruk, Sasuke."
Dia kemudian mengajak adik kesayangannya masuk, menyusul ayah mereka.
Firasat Sasuke mengatakan dia akan dimarahi oleh ayahnya karna suatu hal. Jelas sekali karena ayahnya tidak lagi mengajaknya berbicara di ruang tamu bersama anggota keluarga lainnya, melainkan bicara hanya berdua diruang kerja ayahnya. Untuk keluarga Uchiha, ini sudah level tinggi permasalahan dengan sang kepala keluarga. Bicara empat mata didalam ruangan Uchiha Fugaku, mimpi buruk.
Sasuke menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kaki masuk kedalam ruang pribadi ayahnya. Sang ayah sudah menanti di kursinya, sembari menatap Sasuke yang berjalan perlahan kemudian duduk tepat didepannya. Tanpa basa-basi dan kebisuan yang cukup lama seperti didalam mobil tadi, kini ayahnya segera membuka pembicaraan.
"Ayah harap kau sudah terlebih dahulu mengetahui apa alasan sampai kau dipanggil kesini, Sasuke."
Sasuke menelan ludahnya, tetapi masih mempertahankan sikapnya. Dia terlihat tenang dalam keadaan panik. Terdiam, menatap lurus ke ayahnya. Mengisyaratkan bahwa dia tidak mampu menjawab, dan menantikan sang ayah untuk melanjutkan kata-katanya.
"Gadis itulah masalahnya."
Otak jenius Sasuke tidak pernah lamban mencerna, dia langsung tahu bahwa gadis yang dimaksud ayahnya adalah Sakura. Tapi, apa mungkin ayahnya mengetahui dia merekrut Sakura secara diam-diam? Darimana ayahnya mengetahui hal itu?
"Pecat dia, singkirkan dia jauh-jauh dari kehidupanmu."
Buruk, bagaimana dia mengatakan ini pada Sakura? Ditambah lagi, dia dan Sakura akan semakin sulit bertemu. Sasuke hendak menentang keputusan ayahnya, tetapi bagaimana bisa? Sama saja Sasuke membunuh dirinya sendiri jika ia berusaha membela Sakura. Alih-alih memenangkan posisinya, malah akan memicu penyakit jantung yang diderita ayahnya. Bagaimanapun, akan sulit baginya untuk menghindari perjodohan ini. Disamping perasaan cintanya yang besar pada Sakura, dia juga tidak mau mengecewakan ayahnya.
Ayah Sasuke tidak bertahan lama dalam kebisuannya. Setelah dirasa anak bungsu itu
telah mencerna perintahnya, dia segera berdiri dan pergi
melangkahkan kaki keluar ruangannya. Meninggalkan Sasuke yang kini sedang memutar otaknya, mencari solusi dari masalah ini.
Sasuke bergerak mengambil ponselnya dan segera menelpon Sakura. Setenang mungkin dia berusaha mengeluarkan suaranya.
'Halo, Sasuke-kun?'
'Sakura, kita harus bertemu.'
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED
