DILEMMA

CHAPTER 2

Disclaimer : JK. Rowling

Pair : Draco Malfoy / Harry Potter

Rating : M

Genre : Hurt / Comfort / Friendship

Warning : SLASH, OOC, Modified Canon

.

#

.

Harry mengaduk-aduk makan paginya dengan malas, sesuap pun belum masuk ke perutnya, dia sudah merasa kenyang hanya dengan mengingat apa yang terjadi tadi malam.

Saat membuka matanya dia begitu terkejut karena berada dalam pelukan Draco Malfoy yang juga sedang tertidur sambil duduk di koridor samping kastil yang sepi. Harry melihat jam tangannya, hanya 1 jam dia tertidur tapi rasanya sudah lama sekali mengingat saat itu tubuhnya terasa segar. Perlahan dia melepaskan tangan Draco yang memeluknya lalu dengan begitu pelan dia berdiri seakan tak ingin membangunkan pemuda berambut pirang itu. dia memandang wajah yang selalu terlihat pucat itu, dia membenci Draco tapi juga ingin selalu di dekatnya.

'Tidak, ini tak boleh terjadi. Ini adalah sesuatu yang gila', bantah hatinya, tapi entah kenapa saat itu jantungnya berdenyut dengan kuat sampai Harry harus meringis menahan sakitnya. Lalu dia meninggalkan Draco yang masih tertidur pulas.

"Hei, mate, kau melamun terus, ada apa?" tanya Ron yang membuyarkan lamunan Harry.

Harry menatap Ron dan menggeleng, "Tidak, aku..." kata-katanya terhenti saat matanya bertemu pandang dengan kilau abu-abu Draco. Jantungnya seperti melompat saat Draco mengirimkan satu senyum simpul padanya. Dengan jengah dia menundukkan kepalanya dan mulai memainkan makanannya.

"Harry... kau kenapa sih?" tanya Hermione gemas.

Sekali lagi Harry menggeleng, "Aku tak apa-apa, percayalah," jawabnya.

Hermione mendengus kesal karena sahabatnya itu mencoba menyembunyikan sesuatu darinya. "Mmh... Harry, kemarin Pansy menemui kami," kata gadis berambut coklat itu.

"Lalu?" tanya Harry penasaran.

"Dia meminta maaf atas sikapnya selama ini dan bermaksud untuk menjadi salah satu teman kita," jawab Hermione.

"Kalian tidak menolaknya kan?" tanya Harry menyelidik.

Hermione menggeleng, "Tentu saja tidak, kami melihat ketulusan di matanya."

Harry mendesah lega, "Baguslah, sebenarnya dia itu gadis yang baik."

"Jangan bilang kalau kau mulai menyukainya lebih dari seorang teman, Mate," tuduh Ron sambil nyengir.

Harry meninju lengan Ron dan tertawa, "Tidak, aku hanya merasa nyaman saja saat berbincang dengannya kemarin."

Ron menganggukkan kepalanya mengerti walau masih sedikit curiga, "Apa rencanamu hari ini? Katamu kau tak mau ikut kami ke Hogsmeade?" tanya Ron.

"Aku akan berbincang-bincang dengan Profesor Snape di kantornya," jawab Harry.

Hermione mengangguk, "Aku senang melihat hubungan kalian sekarang, sorot mata Profesor Snape saat menatapmu jauh sekali dibanding dulu, sekarang tampak lebih hangat."

Harry tersenyum, "Sepertinya aku pun mulai menyayanginya."

Ron terdiam sebentar, "Aku jadi malu dengan tingkah kita dulu yang selalu membencinya, aku tak tahu kalau dia begitu melindungimu, mate."

"... Yeah, semuanya tak seperti yang kita bayangkan," jawab Harry.

.

"Duduklah, Harry," perintah Severus saat Harry telah masuk ke dalam kantornya.

Harry duduk di kursi kayu di depan kepala sekolahnya.

Snape memandang wajah pemuda itu, tampak gurat kesedihan dan luka walau dia berusaha menyembunyikannya dengan senyum, "Bagaimana keadaanmu?" tanya Severus pelan.

Harry tersentak, "B-baik, Sir, terima kasih," jawabnya.

"Kenapa kau gugup? Ada yang kau sembunyikan dariku?" selidik mantan guru ramuan itu.

Mata hijau Harry memandang mata hitam Severus, "Tidak, aku baik-baik saja, Sir," jawabnya lagi, "Hanya saja aku merasa sedikit tak nyaman dengan sebutan orang-orang untukku saat ini."

Severus menganggukkan kepalanya, "Kau memang berbakat untuk menjadi pusat perhatian, Harry, mirip sekali dengan James dan ayah baptismu, Sirius Black," jawab Severus.

Harry terdiam sebelum mengatakan sesuatu, "Maafkan mereka yang dulu selalu menyakiti anda, Sir, itu sungguh tak adil."

Severus memicingkan matanya, "Kalau saja mereka masih hidup akan kubalas semua kelakuan mereka dulu," ancamnya.

Harry tertawa, "Apa anda masih membenci mereka, Sir?" tanya Harry.

Severus menggeleng, "Tidak, aku sudah lupa sebesar apa rasa benciku dulu."

"Mmmh, Sir... terima kasih telah mencintai ibuku selama ini," kata Harry pelan.

Severus menghela nafas panjang, "Sekarang tak ada orang disini, apa kau belum terbiasa memanggilku dengan sebutan yang baru?" tanya Severus sambil berjalan mendekati Harry, dia tak menjawab perkataan pemuda itu yang terakhir.

Harry tersenyum dan berdiri di depan pria yang identik dengan warna hitam itu, "Dad," katanya sambil memeluk sosok ayah baru untuknya, "Maafkan aku," kata Harry pelan.

Severus menepuk punggung Harry pelan, "Kau sudah tak memiliki keluarga, akupun hanya seorang diri, biarkan aku menebus kesalahanku di masa lalu dan menepati janjiku pada ibumu untuk selalu menjagamu."

Harry menggeleng sambil melepaskan pelukannya, "Jangan jadikan hutang masa lalu sebagai pengikat hubungan kita, Dad. Aku memanggilmu 'Dad' karena aku memang menyayangimu," jawab Harry.

Severus tersenyum samar dan menepuk bahu pemuda bermata emerald itu, "Begitupun denganku, Son," jawabnya tegas.

Sekali lagi Harry memeluk pria yang menggantikan sosok ayahnya itu, "Thanks, Dad."

"Kau tak pergi ke Hogsmeade bersama dua sahabatmu itu?" tanya Severus setelah melepaskan pelukan Harry.

Harry menggeleng, "Tidak, aku sedang malas pergi keluar, Dad tahu maksudku kan?" tanya Harry.

Severus hanya mengangguk sambil tersenyum simpul.

.

Harry berjalan menyusuri koridor yang sepi, tujuannya sekarang adalah tepi danau, tempat kesukaannya, tempat yang sepi dan cocok untuk menyendiri.

"Hei, Potter," seru sebuah suara yang ditimpali oleh tawa beberapa anak lelaki.

Harry berhenti dan menoleh pada sumber suara, dilihatnya empat anak laki-laki dari asrama Slytherin berjalan d belakangnya, salah satunya adalah Goyle. "What?" tanya Harry.

Mereka semakin mendekat, bahkan salah satunya sudah mencekal lengan Harry dengan kuat. Anak berkulit coklat itu tertawa saat Harry tak bisa melepaskan cekalan tangannya yang besar dan kuat.

"Apa mau kalian?" tanya Harry dengan dingin.

Pemuda yang mencekal lengan Harry itu semakin mendekatkan wajahnya dan memandang Harry dengan tatapan sinis, "Kami ingin membalasmu, Potter. Gara-gara kau keluarga kami banyak yang tewas dan dipenjarakan di Azkaban."

Melihat wajah pemuda itu yang berada begitu dekat dengannya otomatis membuat Harry teringat lagi dengan kejadiannya bersama Draco di menara astronomi beberapa hari yang lalu. Sekuat tenaga dia menyembunyikan kegelisahannya dari para pemuda yang menyerangnya ini, "Itu bukan salahku," katanya mantap.

"Gara-gara kau juga sahabatku terbunuh, Potter," kata Goyle kali ini dengan mencengkeram bagian depan jubah Harry.

Trauma akan kejadian itu kembali menghantui Harry, nafasnya terasa sesak sampai dia tak mampu berpikir untuk membalas serangan pemuda didepannya itu.

"Stupefy..." teriak sebuah suara yang membuat empat pemuda yang menyerang Harry terjatuh ke lantai batu yang dingin. Mereka menoleh kesumber suara yang merapalkan mantra tersebut.

"Draco..." kata Goyle tak mengerti, "Kenapa kau justru menyerang kami? Dasar kau dan keluargamu adalah pengkhianat," geram pemuda berbadan besar itu.

"Sekali lagi kau menghina keluargaku maka akan ku pastikan kau tak dapat melihat matahari esok pagi," ancam pangeran Slytherin itu. Tindakannya dan ibunya yang menolong Harry dari Voldemort membuatnya dan keluarganya disebut pengkhianat oleh murid Slytherin yang sebagian besar keluarga mereka adalah pengikut Voldemort.

Memilih menghindar dari kemarahan Draco yang selalu bertindak di luar batas membuat keempat pemuda itu berdiri dan pergi dari situ.

Draco melihat pada Harry, nafasnya tercekat saat melihat betapa pucatnya wajah pemuda berambut hitam itu, "Kau tak apa-apa, Harry?" tanya Draco cemas sambil memegang lengan pemuda itu.

"LEPAS!" teriak Harry sambil mengibaskan lengannya dengan kuat, tubuhnya masih gemetar akibat serangan empat pemuda tadi, sekarang ditambah lagi dia hanya berdua dengan Draco dengan kondisi yang membuatnya teringat pada kejadian malam itu.

"Harry, aku hanya mencemaskanmu," kata Draco cepat.

Harry tak ingin berlama-lama dengan keadaan dirinya yang kalut, dia pun pergi meninggalkan Draco yang masih memandangnya dengan cemas.

Draco memukul tembok batu didepannya dengan keras yang membuat buku-buku tangannya berdarah, "Brengsek, semua salahku," katanya marah, "Dia harus bisa mempercayaiku, harus," kata Draco lagi pada dirinya sendiri.

.

.

Harry duduk di tepi danau dengan menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya diantaranya, kejadian dengan Draco malam itu dan kejadian dengan beberapa anak Slytherin beberapa hari yang lalu terus mengganggu pikirannya.

'Aku tidak takut, aku tidak boleh takut! Aku harus kembali menjadi Harry yang dulu. Semua gara-gara kau, Malfoy, brengsek kau!', geramnya dalam hati.

Sebuah sentuhan lembut di bahunya membuatnya tersentak dan langsung menoleh, "Pansy," katanya dengan lega.

Gadis berambut hitam itu duduk di sebelah Harry, "Kau kenapa? Wajahmu pucat sekali?" tanya gadis itu cemas.

Harry menggeleng, "Tidak, aku baik-baik saja, Pans," jawabnya.

"Kau bisa menceritakan semua padaku kalau kau mau, Harry," kata Pansy.

Harry tersenyum, "Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini, tapi aku belum bisa menceritakannya padamu, maaf."

Pansy mengangguk mencoba mengerti.

Harry menunduk, "Mmmh, Pans... menurutmu apa aku akhir-akhir ini terlihat seperti..." Harry ragu melanjutkan kata-katanya.

Pansy memandangnya heran, "Seperti apa?" tanyanya penasaran.

"... Apa akhir-akhir ini aku terlihat lemah?" tanya Harry pelan.

Pansy menghela nafas panjang, "Kau tak terlihat lemah, hanya saja sejak kembali ke Hogwarts aku nyaris tak melihat senyummu. Kau bahkan lebih suka menyendiri seperti ini."

"Begitukah?" tanya Harry lagi.

Pansy mengangguk, "Kau terlihat sedih, Harry. Dulu aku selalu kesal melihat senyummu, tapi kini di saat aku mulai terbiasa, kau malah tak tersenyum, kenapa?" tanyanya kesal.

Harry tertawa pelan, "Entahlah," jawabnya.

"Jawab aku, aku tak suka kau seperti ini. Bahkan Ron dan Hermione saja kemarin mengeluh padaku tentang perubahan sikapmu," kejar Pansy penasaran.

Harry kembali tertawa dan menyentil pelan dahi Pansy dengan jarinya, "Jangan cerewet Pans, nanti juga aku ceritakan. Ayo masuk, perutku sudah lapar," ajak Harry sambil berdiri.

Pansy berjalan disamping Harry, "Hei, jangan buat aku penasaran, katakan padaku, Harry," paksa Pansy sambil terus bicara.

Harry hanya terkekeh saja di sampingnya, mereka tak menyadari sepasang mata abu-abu yang memperhatikan dari balik pepohonan.

.

"Ada hubungan apa kau dengan Harry?" tanya Draco ketus saat dia berhasil menarik Pansy untuk duduk berdua dengannya di ruang rekreasi Slytherin.

"Apa maksudmu, Draco?" tanya Pansy heran.

"Aku sering sekali melihatmu berdua dengannya, apa yang kalian bicarakan?" tanya Draco lagi.

Pansy tertawa, "Kau ini kenapa sih? Tak biasanya kau ingin tahu urusan orang lain," sergahnya.

"Sudahlah, jawab saja pertanyaanku," kata Draco tak sabar.

Pansy membelalakkan matanya, "Jangan bilang kalau kau cemburu, Draco. Jangan-jangan kau tak suka aku dekat dengan Harry karena kau menyukainya?" tebak gadis itu.

Draco terdiam dan hal itu justru membuat Pansy semakin curiga, "Apakah yang aku katakan itu benar, Draco?" tanya Pansy hati-hati.

Draco mengusap wajahnya dan menghembuskan nafas dengan keras, setelah itu dia berdiri dan meninggalkan Pansy yang masih menatapnya dengan pandangan tak percaya, "Ini gila, tidak... ini hebat, bagaimana mungkin dia..." kata gadis itu pada dirinya sendiri.

.

.

Draco terus memandang sosok Harry yang duduk jauh didepannya, dia memperhatikan bagaimana pemuda itu menulis dan mendengarkan apa yang disampaikan Profesor Slughron di kelas ramuan kali ini. Dadanya berdebar kencang dan tubuhnya memanas setiap dia ingat bagaimana hangat suhu tubuh Harry dalam dekapannya malam itu.

Dia merindukan pemuda itu, tapi sampai saat ini Harry masih terus menolak kehadirannya, itu yang membuat Draco gelisah.

Entah sejak kapan dia mulai suka memperhatikan pemuda berambut hitam itu, mungkin sudah lama sekali, tapi status mereka yang berada dipihak yang berlawanan membuat hubungan mereka terus memanas. Draco benci setiap kali dia harus menyakiti Harry didepan orang banyak, dia benci dengan kata-kata tajamnya yang harus dia lontarkan untuk pemuda bermata emerald itu. pertemuan mereka malam itu setelah tak bertemu selama empat bulan membuat Draco tak mampu mengendalikan perasaannya, dia sangat kehilangan Harry selama empat bulan liburan kemarin dan tanpa pikir panjang dia langsung menjadikan Harry sebagai miliknya... dengan paksa. Seharusnya dia tak boleh melakukan itu, apalagi Harry telah memberikan kesaksian yang membebaskan keluarganya dari hukum Wizengamot. Kedua orang tuanya juga telah meminta maaf secara pribadi kepada pemuda itu.

Draco begitu menyesal, sangat menyesal, tapi dia juga senang karena di saat terakhir malam itu Harry membalas pelukannya, bahkan menyebut namanya dengan keras, entah Harry sadar atau tidak, tapi Draco mendengar itu.

"Draco, berpijaklah ke bumi," kata Pansy yang duduk disebelahnya dan membuyarkan lamunan Draco.

"W-what?" tanya Draco terkejut.

"Pelajaran telah usai, tuan muda, dan orang yang terus kau pandangi sejak tadi juga sudah meninggalkan kelas," goda Pansy sambil tertawa.

Kalau saja yang menggodanya bukan Pansy, sahabatnya sendiri, mungkin Draco akan membuat si penggoda bungkam selamanya.

"Sepertinya kau menemukan keasikan baru dengan Draco, Pans?" tanya Blaise yang telah berdiri dibelakang Draco dengan Theo.

"Diamlah kalian," bentak Draco pada ketiga sahabatnya itu lalu dengan cepat meninggalkan kelas. tapi kemarahan Draco tak mempan untuk mereka, mereka justru tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Draco yang tak seperti biasanya.

"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Theo pada Pansy, mereka berjalan beriringan keluar kelas.

Pansy tertawa, "Aku hanya menggodanya," jawab gadis itu.

"Tentang Potter?" selidik Blaise.

Pansy terkejut, "Kalian tahu?" tanyanya.

Theo dan Blaise mengangguk, "Tentu, kami menyadari itu sudah cukup lama. Kami selalu melihat rasa menyesal dimatanya setiap kali dia menyerang Potter," jawab Theo.

"Dasar tuan muda yang bodoh, bisa-bisanya dia menahan selama ini?" dengus Pansy.

"Kalau kau tahu hal itu sejak dulu kau pasti akan sangat marah, bukannya kau dulu begitu mengidolakan Draco?" goda Theo sambil tertawa.

Wajah Pansy langsung berubah merah, "jangan menggodaku, itu kan dulu," katanya sambil cemberut.

Blaise dan Theo tertawa melihat gadis yang dulu begitu ketus dan jahat itu kini telah berubah sedemikian drastisnya.

"Hei, Pans, apa kau juga mulai menyukai Potter?" tanya Blaise, kali ini nadanya serius.

Pansy tertawa dan menggeleng, "Tidak, aku tak memiliki perasaan khusus padanya, kami hanya akrab sebagai teman saja. Dia pemuda yang baik, tak heran kalau Draco menyukainya. Aku juga sudah akrab dengan Hermione dan Ron, mereka baik sekali, aku yakin kalau kalian mengenal mereka kalian juga akan suka," jelas Pansy panjang lebar.

"Benarkah?" tanya Theo, "Lain kali kenalkan kami pada mereka ya?"

Pansy mengangguk, "Tentu."

.

Draco melihat sosok Harry yang melangkah ke halaman belakang kastil, 'aku harus bicara dengannya', batin Draco, lalu pemuda berambut pirang itu mengikuti langkah Harry. Dia melihat Harry duduk diundakan tangga batu sendirian, "Harry," panggilnya pelan, dia tak ingin mengejutkan pamuda itu, tapi tetap saja reaksi Harry membuat hatinya menciut.

"Apa maumu, Malfoy?" tanya Harry ketus setelah dia berdiri dan berhadapan dengan Malfoy junior itu.

"Harry, please, dengarkan aku dulu," kata Draco. Sejak malam itu Draco memutuskan untuk memanggil Harry dengan nama depannya.

Sekali lagi tubuh Harry memanas dan bergetar, dia berpegangan pada tembok batu dibelakangnya, "Saat itu pun kau tak mau mendengarkanku," desisnya.

"Kumohon jangan bersikap seperti itu," kata Draco pelan.

Harry menatap pemuda itu dengan tajam, "Setelah apa yang kau lakukan padaku?" desisnya marah.

Jantung Draco berdegup kencang, "Maafkan aku, aku menyesal," bisiknya.

"Sesalmu terlambat, Malfoy," jawab Harry dingin.

Draco mendekat tapi tak lebih dekat saat dia melihat wajah Harry yang memucat, "Aku tahu, maafkan aku, aku mempunyai alasan untuk itu,"

"Aku tak peduli apapun alasanmu, brengsek," geram Harry, dengan cepat dia berjalan meninggalkan Draco, tapi langkahnya terhenti saat Draco menahan lengannya.

"Harry, dengarkan aku, biar kukatakan alasannya," paksa Draco.

Harry menepis tangan Draco, "What?" tanyanya ketus.

"Karena aku menyukaimu, Harry, aku mencintaimu," jawab Draco tegas.

BUKKK...

Draco terkapar ditanah saat satu pukulan keras menghantam wajahnya, matanya terbelalak melihat apa yang dilakukan Harry.

"CUKUP, MALFOY! JANGAN MEMPERMAINKAN AKU LAGI," teriak Harry marah.

"Hentikan, apa-apaan kalian ini?" kata Blaise yang memegang bahu Harry bersama pansy, sedangkan Theo membantu Draco berdiri. Blaise bisa merasakan tubuh Harry yang bergetar, entah karena marah atau apa.

Dengan kesal Harry membalikkan badannya dan meninggalkan halaman belakang, Pansy mengikutinya dengan setengah berlari. Sepasang mata hitam mengawasi dari kejauhan.

.

"Harry, apa yang terjadi? Kenapa kau memukul Draco?" tanya Pansy cemas sambil memegang lengan Harry yang bersandar dibawah rindangnya pohon ditepi danau.

Harry mengacak rambutnya yang sudah berantakan, "Dia gila, dia mengatakan sesuatu yang gila, Pans," jawabnya.

"Apa maksudmu?" tanya Pansy bingung.

Harry memandang lurus ke danau, "Dia bilang kalau dia..."

"Mencintaimu?" tebak Pansy.

Harry terkejut, dia menatap Pansy tajam, "Bagaimana kau tahu?" tanya Harry menuduh, dia merasa Pansy mengkhianatinya.

Pansy memeluk lengan Harry, "Jangan salah sangka, aku juga baru tahu kemarin saat dia menyeretku di ruang rekreasi."

Harry terdiam, dia tak tahu harus bicara apa, "Dia selalu mempermainkanku, Pans. Entah apa lagi rencananya kali ini untuk membuatku malu dan marah."

"Harry, Draco memang mencintaimu, itu sudah sejak lama," kata gadis bermata coklat itu.

Harry mendengus, "Omong kosong apa lagi ini?" jawab Harry, tapi dia tak memungkiri jantungnya yang berdebar kencang.

"Blaise dan Theo tadi mengatakan itu padaku," kata gadis itu lagi, "Sejak lama Draco telah memperhatikanmu, dan kemarin dia begitu marah melihatku sering berdua denganmu. Dia bertanya tentang hubungan kita yang akhir-akhir ni menjadi dekat. Draco menyukaimu, Harry."

"TAPI ITU BUKAN ALASAN UNTUK DIA BISA MENGINJAK HARGA DIRIKU, PANS. AKU TERLUKA OLEH PERBUATANNYA," teriak Harry marah, tubuhnya bergetar hebat mengingat kejadian malam itu. Kakinya lemas dan tubuhnya merosot ketanah. Harry memeluk lututnya dan menggoyangkan punggungnya untuk meredakan emosinya yang memuncak. Setetes air mata jatuh dari mata hijaunya.

Pansy terkesiap, dia memeluk tubuh Harry yang terus gemetar, "Apa yang dilakukannya padamu, Harry? Katakan padaku," desak Pansy.

Tak bisa ditahan lagi, Harry menangis dalam pelukan Pansy, dia menumpahkan semua yang selama ini dipendamnya. Dengan terisak Harry menceritakan semua yang terjadi malam itu.

Pansy tercekat, tanpa sadar dia pun menangis bersama Harry, dia memeluk tubuh Harry dengan erat membiarkan pemuda itu melepaskan semua emosinya.

.

Draco duduk di tangga batu yang tadi diduduki Harry, dia menyuruh Blaise dan Theo meninggalkannya sendiri. Betapa terkejutnya pemuda berambut pirang itu saat Pansy berdiri didepannya, "Bagaimana dia, Pans?" tanya Draco sambil berdiri.

PLAKKK...

Sebuah tamparan menyapa wajahnya, hampir saja Draco membalasnya kalau saja tak dilihatnya gadis itu menangis.

"Keterlaluan kau, Draco, KENAPA KAU LAKUKAN ITU PADANYA?" teriak pansy histeris. Air mata terus mengalir dari matanya.

Draco mematung, "Dia menceritakannya padamu?" tanya Draco tak percaya.

"YA, DIA MENCERITAKAN SEMUA PADAKU. SEMUA, DRACO," teriak Pansy lagi ditengah isaknya.

Tubuh Draco lemas, dia terduduk dan mengusap wajahnya dengan kalut, "Aku menyesal, Pans. Entah apa yang merasukiku saat itu, aku hanya ingin bersamanya," jawab Draco lirih.

"Dia hancur, Draco, dia memendam semuanya sendiri dan terluka sendiri," isak Pansy, "Kau tak tahu betapa rapuhnya dia tadi, kau kejam, Draco," maki Pansy pelan, tubuhnya bersimpuh didepan Draco. "Kejadian itu begitu membekas untuknya dan menjadikan itu sebagai trauma, dia tersiksa dengan keadaan ini dimana dia merasa takut berhadapan dengan laki-laki, dan semua itu karena kau."

Draco memeluk erat tubuh Pansy, "Apa yang harus aku lakukan untuk menebus semuanya, Pans? Bantu aku," bisik Draco.

TBC lagi ya...

A/N.

Chap 2 publish juga, maap ya kalau masih ada yang kurang. Mmmh...makasih buat Vii, Ran-Chan, Nami dan Quinn, makasih banget kalian dah bersedia kasih masukan disini. Makasih buat yang selalu ngedukung aku, aku begitu terharu, hik... *gampar*

Mudah2an chap2 berikutnya masih layak ditunggu dan dibaca XD