DILEMMA
CHAPTER 3
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon
.
#
.
Harry belum mampu memejamkan matanya, pikirannya terus mengembara pada kejadian siang tadi. Tentang pengakuan Draco yang membuatnya benar-benar terkejut, tentang pernyataan Pansy yang membenarkan itu dan tentang emosinya yang tak dapat ditahan lagi sehingga menceritakan semua kejadian malam itu pada Pansy.
Harry bersyukur ada gadis itu bersamanya, setelah melepaskan semua emosinya Harry merasa sedikit lega, sekarang dia merasa mampu untuk berpikir jauh.
Dia tak ingin mengingkari hatinya, sejak Draco menolongnya di Malfoy Manor dulu kebencian Harry pada pemuda berambut pirang itu hilang tak berbekas. Dia melihat sisi baik Draco yang semua orang tak tahu, dia melihat bagaimana cemasnya sorot mata Draco saat itu ketika tahu kalau kelompok Death Eather berhasil menyekapnya. Harry juga bisa merasakan kecemasan yang sama saat Draco terperangkap di kamar kebutuhan yang terbakar, dia tak ingin pemuda itu terluka dan memutuskan untuk menolongnya walau Ron terus memakinya.
Tapi kejadian beberapa minggu yang lalu membuat perasaan benci itu kembali, dia tak menyangka Draco tega melakukan itu padanya. Harry masih bisa merasakan rasa takutnya saat itu tapi dia juga masih ingat bagaimana lembutnya Draco memperlakukannya dan bagaimana Harry sendiri akhirnya membalas pelukannya saat...
"Ini gila, sangat gila, kenapa aku mengingatnya?" gerutu Harry pelan pada dirinya sendiri.
"Harry, k-kau belum tidur?" tanya Neville, teman sekamarnya, yang ternyata juga belum tidur.
Harry melihat ke tempat tidur Neville lalu duduk bersila sambil mengacak rambutnya, "Belum, aku mau keluar dulu," jawab Harry.
"T-tapi ini sudah tengah malam," cegah pemuda yang selalu gugup itu.
Harry mengambil jubah gaibnya dari koper, "Tidak akan lama, lagi pula aku punya ini," jawab Harry lagi sambil menunjukkan jubah gaibnya.
"T-tapi, Harry..."
"G'nite, Neville," pamit Harry yang langsung menggunakan jubahnya dan keluar dari kamar.
.
Suasana di tengah malam ini terasa begitu sunyi, tak tampak siapapun di koridor. Harry hanya ingin mendinginkan kepalanya. Dia melangkahkan kakinya ke halaman belakang, tempat sabtu siang tadi dia terakhir bertemu Draco. Langkahnya terhenti saat dia melihat satu sosok yang duduk ditangga batu, perlahan dia mendekati sosok itu, "Apa Dad keberatan kalau aku juga duduk disini?" kata Harry pelan masih dengan memakai jubah gaibnya.
Severus sedikit terkejut, tapi seperti biasa dia dapat menyembunyikan emosinya dengan rapi, "Kenapa kau suka sekali melanggar aturan sekolah, Son?" tanyanya.
Harry terkekeh, "Maaf, aku hanya tak bisa tidur," jawabnya sambil duduk disamping Severus. Rasanya begitu nyaman, dia tak merasakan adanya perasaan terancam seperti yang sering dirasakannya akhir-akhir ini saat berhadapan seorang diri dengan Draco ataupun pemuda yang lain. Bahkan saat tidur dia sering terjaga karena takut teman-teman sekamarnya melakukan hal yang sama walau itu tak mungkin terjadi.
"Apa yang membuatmu tak bisa tidur?" tanya Severus pada pemuda itu.
Harry tak melepaskan jubahnya, dia sengaja terus memakai itu agar ayahnya tak bisa membaca raut wajahnya yang -dia tahu- sedang begitu kacau. "Hanya memikirkan beberapa kejadian akhir-akhir ini," jawab Harry.
"Seperti memukul Draco tadi siang?" tanya Severus.
Harry terkejut, "Bagaimana Dad bisa tahu?" tanya Harry, "Dad melihat itu?"
"Apa yang membuat kalian bisa bertahan dengan terus ribut seperti itu?" tanya Severus tanpa mempedulikan pertanyaan Harry sebelumnya.
Harry terdiam sebentar, "Dia selalu punya seribu cara untuk membuatku kesal, Dad. Entah bagaimana caranya ide itu terus bermunculan di otaknya," gerutu Harry.
Severus mengangguk pelan, "Aku mengenal Draco sejak dia masih kecil, kehidupan kalian begitu bertolak belakang tapi sama-sama menyimpan derita."
Harry mengernyit, "Maksud, Dad?" tanyanya bingung.
Severus menghela nafas dan memandang ke langit malam, "Kau yatim piatu sejak kecil dan menderita tingggal bersama keluarga ibumu yang begitu kejam memperlakukanmu, sedangkan Draco tinggal dirumah mewah dengan orang tua utuh yang menyayanginya. Tapi didikan Lucius membuat anak itu tertekan, Lucius selalu meminta Draco untuk menjadi sempurna diusianya yang masih begitu muda."
"Tapi dia selalu terlihat bangga akan hal itu," jawab Harry.
"Ya, Draco memang bangga akan keluarganya, tapi dia tak bahagia. Mana yang kau pilih, Harry?" tanya Severus.
"Aku memilih bahagia," jawab Harry pelan, "Tapi kenapa dia selalu membenciku dan membuatku marah?"
"Karena dia iri padamu," jawab sang kepala sekolah.
"Iri?" tanya Harry tak percaya.
Severus kembali mengangguk, "Dia mengira hidupmu sempurna, semua orang memperhatikan dan menyayangimu, kau memiliki teman-teman yang tulus yang tak pernah dia miliki, dan yang terpenting dia melihat bagaimana kau bebas memilih hidupmu sendiri."
"Dia berpikir seperti itu?" tanya Harry masih tak percaya.
"Kenapa tak kau tanyakan saja padanya?" kata Severus.
Harry terkejut, "Aku? Apa Dad bercanda? Bisa-bisa sebelum aku bertanya kami sudah perang mantra lagi," jawab Harry.
Severus tersenyum samar, "Aku tak melihat lagi kilat kebencian dimatanya saat dia menatapmu, Son."
Harry menelan ludahnya dan memberanikan diri untuk bertanya, "Dad, mmmh... bagaimana pendapat Dad tentang hubungan... sesama jenis?" tanya Harry pelan.
Severus mengernyitkan keningnya dan menoleh pada Harry, "Buka jubahmu! Aku seperti merasa bodoh bicara sendiri."
Harry membuka jubahnya sebatas bahunya saja, Severus mengangkat satu alisnya saat melihat wajah pemuda itu sedikit memerah.
"Dad, jawab pertanyaanku," tuntut Harry.
Severus memalingkan wajahnya , "Aku tak bisa berpendapat tentang hal itu karena itu semua tergantung dari yang melakukannya, kalau mereka merasa senang dan nyaman, kenapa tidak?"
"Hanya seperti itu?" tanya Harry tak puas.
"Kau ingin aku menjawab apa? Kalau sudah menyangkut perasaan tak akan ada suatu apapun yang bisa mempengaruhi, kalau pun berusaha menolak itu hanya untuk membohongi dirinya sendiri," jawab pria yang terkenal dingin itu.
Harry terdiam, dia merenungkan kata-kata ayahnya itu.
"Tidurlah, sudah larut malam," perintah Severus.
Harry mengangguk, "Ok, Dad, g'nite," pamit Harry sambil berdiri.
"Son," panggil Severus yang menghentikan langkah Harry, "Semua jawaban ada dalam hatimu, carilah sendiri," kata pria itu sambil menatap mata hijau Harry.
"Thanks, Dad," jawab Harry pelan.
.
BUGH...
"Ouch... sakit Ron, kenapa sih kau ini?" gerutu Harry sambil mengusap belakang kepalanya yang dipukul oleh Ron.
Hermione meringis dan duduk disamping sahabatnya itu.
"Dari mana kau semalam? Tempat tidurmu kosong," tanya Ron kesal.
Harry nyengir, "Maaf, aku tadi malam keluar mendinginkan kepala. Niat sih cuma sebentar tapi aku bertemu Profesor Snape dan kami berbincang dulu," jawab Harry.
Ron mendelik, "Dia tak memberimu detensi?" tanyanya tak percaya.
Harry tertawa, "Tidak, bukannya aku sekarang pahlawan?" goda Harry, dia menjauh saat Ron berusaha memukulnya lagi dengan buku Hermione yang dibawanya.
Hermione tersenyum, "Akhirnya kau tertawa lagi, Harry. Aku merindukanmu yang ini," kata gadis itu sambil memeluk Harry.
"Maaf, aku sudah membuat kalian khawatir," kata pemuda berambut hitam itu.
Ron mendengus, "Katakan masalahmu."
Harry tertawa, "Tak ada apa-apa, hanya masa transisi saja setelah perang berakhir. Banyak yang berubah, kalian tahu kan? Dan sekarang aku benar-benar sendirian."
"Kau punya kami, Harry," kata Hermione.
Harry tersenyum, "Aku tahu, Mione, dan itu salah satu keberuntunganku. Dan lagi sekarang aku juga punya ayah."
Ron dan Hermione tecengang, "Maksudmu..." tanya Ron menggantung.
Harry tersenyum dan mengangguk, "Profesor Snape memintaku memanggilnya 'Dad', dan sekarang kami adalah keluarga walaupun tak resmi."
Hermione tertawa bahagia, "Selamat, Harry, aku ikut bahagia bersamamu," kata gadis berambut coklat itu sambil sekali lagi memeluk Harry, begitupun dengan Ron.
"Wah, ada perayaan apa ini?" tanya Pansy yang sudah berdiri dibelakang mereka bersama Blaise dan Theo.
Trio Gryffindor itu tak menyangka kalau Pansy akan datang bersama dua orang Slytherin lainnya, setelah mereka berkenalan Hermione menceritakan berita bahagia itu pada Pansy yang menyambutnya dengan suka cita.
"Aku senang mendengarnya, Harry," kata Pansy sambil memeluk dan mencium pipi Harry, empat orang lainnya bersorak melihat itu.
"Kenapa kalian tak jadian saja?" goda Theo yang disambut tawa teman-teman lainnya.
Harry hanya tertawa mendengar gurauan pemuda berkulit pucat itu.
"Bicara apa kau, aku menyayangi Harry seperti saudaraku sendiri," jawab Pansy kesal sambil meminta persetujuan Harry, dan Harry hanya menganggukkan kepalanya.
Keenam remaja itu berbincang dengan serunya, dengan cepat mereka menjadi akrab dengan Blaise dan Theo. Pansy menarik tangan Harry untuk menjauh dari teman-temannya dan mengajaknya duduk di sudut taman, "Ada apa?" tanya Harry.
Pansy tersenyum, "Aku senang kau tak bersedih lagi," jawab gadis itu.
"Semua karena kau, Pans, terima kasih telah mau mendengarku," kata Harry.
Pansy mengangguk, "Itulah gunanya teman."
"Mmmh... Pans, aku harap Ron dan Hermione tak tahu masalah kejadian itu, juga Blaise dan Theo," pinta Harry.
"Tentu, tak akan ada yang tahu, Harry, percayalah padaku," jawab gadis itu mantap, dan Harry hanya mengangguk.
"Kemarin aku menampar Draco," adu Pansy.
Harry membelalakkan matanya, "Kau apa?" tanyanya tak percaya.
Pansy tertawa, "Puas rasanya bisa memukul pangeran es itu."
Harry hanya diam saja.
"Harry, kemarin Draco menceritakan semua padaku, dia bilang dia sangat menyesal telah menyakitimu. Saat itu dia tak dapat menahan perasaannya lagi," kata Pansy pelan.
Harry menunduk, "Sudahlah, aku ingin melupakan semuanya. Aku muak dihantui bayangan itu terus, aku ingin kembali menjadi Harry yang dulu."
"Apa kau begitu membencinya?" tanya Pansy hati-hati.
Harry terdiam sesaat, "Setelah kejadian itu aku kembali membencinya, Pans."
"Berarti sebelum itu kebencianmu sempat hilang, kan?" tanya gadis itu lagi dan mendapatkan Harry mengangguk.
"Dia ingin bicara denganmu, apa kau bersedia?" tanya Pansy lagi.
.
"Apa lagi yang mau kau bicarakan?" tanya Harry pada Draco saat mereka bertemu di tepi danau sore itu.
"Harry, aku ingin minta maaf padamu," kata Draco setengah memohon.
Harry hanya diam menatap lurus ke tengah danau.
"Aku tahu kau masih marah, aku tak akan meminta kau cepat memaafkan aku, tapi aku hanya ingin menegaskan satu hal, kata-kataku kemarin adalah yang sesungguhnya, aku..."
"Cukup Malfoy, kau hanya mengikuti emosimu saja. Apa kau tak merasa aneh dengan perasaanmu itu?" tanya Harry ketus, entah kenapa saat itu dia merasakan jantungnya berdenyut sangat kencang.
Draco mendekati Harry, matanya memandang tajam mata emerald Harry.
'Tidak, aku tak boleh takut, aku harus melawan rasa ini', batin Harry berusaha mengusir bayangan kejadian malam itu. Dia bertahan saat tangan Draco menyentuh lengannya, dadanya berdesir karena Draco menyentuhnya dengan begitu lembut.
"Kau boleh memakiku apa saja, Harry, karena aku memang bersalah. Tapi jangan sekalipun kau menghina apa yang aku rasakan, karena hanya aku yang tahu isi hatiku sendiri," desis pemuda itu ditelinga Harry.
Harry memalingkan wajahnya dan dia bisa merasakan kalau Draco telah meninggalkannya sendiri, saat itu dia merasa begitu menyesal dengan kata-katanya.
.
.
Perpustakaan tak begitu ramai siang ini, hanya beberapa murid saja yang berusaha menyelesaikan tugas essay mereka. Trio Gryffindor memasuki bangunan berbentuk segi empat yang luas itu dan mencari tempat duduk yang strategis.
"Hei..." panggil sebuah suara, ketiga Gryffindor itu menoleh ke sudut ruangan disamping jendela besar. Mereka melihat Pansy melambai kearah mereka, gadis itu duduk bersama Blaise, Theo dan ... Draco.
Hermione menarik tangan Ron dan Harry untuk mendekati kelompok Slytherin yang kini cukup akrab dengan mereka itu, termasuk Draco yang juga sudah menghentikan sifat menyebalkannya. Mereka telah sepakat untuk menghentikan pertengkaran mereka, tapi tetap saja mereka tak tahu apa yang terjadi antara Harry dan Draco, kecuali Pansy.
"Bergabunglah dengan kami," ajak Pansy.
"Kalian tak keberatan?" tanya Hermione.
Pansy tertawa pelan, "Tentu tidak, otak jeniusmu akan sangat membantu, Mione, iya kan?" tanya pansy pada teman-temannya meminta persetujuan, dan ketiganya mengangguk. Akhirnya trio Gryffindor itu bergabung dengan kelompok Pansy, Harry berusaha bersikap sewajar mungkin karena dia duduk tepat didepan Draco.
Draco memandang Harry dan memberikan satu senyum samar yang cukup membuat tubuh Harry memanas. Dengan cepat Harry mengalihkan perhatiannya pada perkamen didepannya dan mulai berdiskusi dengan yang lain. Pansy yang melihat itu tersenyum penuh arti.
"Hei, Draco, bisa beritahu aku ini ramuan apa?" tanya Ron sambil mengulurkan bukunya pada Draco yang memang pandai di pelajaran Ramuan.
Draco memajukan tubuhnya pada Ron yang duduk disamping Harry, otomatis rambut pirangnya yang halus berada dekat di depan Harry. Malfoy junior itu menjelaskan dengan rinci tentang apa yang diketahuinya tentang ramuan itu.
Harry menelan ludahnya, rambut pirang itu sungguh menggoda untuk disentuh, dan aroma tubuh Draco mengingatkan dia akan kejadian malam itu, tapi bukan rasa takut lagi yang diingatnya, yang dia ingat adalah aroma tubuh Draco saat mendekapnya.
BRAAAK...
Harry mendadak berdiri dari duduknya, semua mata memandangnya heran, "M-maaf, aku baru ingat kalau aku harus menghadap kepala sekolah," katanya lalu berjalan keluar dengan cepat dari perpustakaan meninggalkan teman-temannya yang kebingungan. Dia tak tahu kalau saat itu Draco menyeringai kearahnya.
.
Harry menghembuskan nafasnya dengan keras berusaha menetralkan degup jantungnya yang berdetak dengan kecepatan tak normal. Dia menyandarkan tubuhnya pada dinding batu di halaman belakang, 'apa ini? Kenapa denganku? Apa aku sudah hanyut dalam permainannya?', tanyanya dalam hati.
"Kenapa harus menghindariku, Harry?" suara Draco mengejutkan Harry, "Apakah Severus ada disini?" godanya.
Merasa tertangkap basah Harry pun bersiap untuk melarikan diri dari situ, tapi tangan Draco menahan lengannya, "Jangan pergi," pintanya.
Harry mematung mendengar suara halus Draco, dia tercekat saat Draco memeluk pinggangnya dari belakang, tubuhnya kembali bergetar dan dia mencoba untuk berontak.
"Sebentar saja, Harry, aku tak akan menyakitimu, aku janji," bisiknya.
Harry terhanyut, ada satu sisi terdalam hatinya yang merindukan ini. Tubuh Draco terasa hangat menempel di punggungnya. Dia terkesiap saat merasakan nafas hangat Draco di belakang telinganya, bayangan kejadian di menara itu semakin kuat dan kembali membuatnya kalut, dengan sekuat tenaga dia berontak dan melepaskan diri dari pemuda itu lalu berlari meninggalkan Draco sendirian disitu.
Draco tersenyum, "Sebentar lagi, Harry, aku akan memilikimu seutuhnya," bisik Draco pada dirinya sendiri.
.
"Brengsek kau, Malfoy, selalu saja begitu," gerutunya di sepanjang jalan, melewati koridor samping dia melihat Pansy yang sedang duduk bersama Blaise dan Theo.
"Kau kenapa, Harry?" tanya Pansy heran saat Harry menghampirinya di taman samping dan menghempaskan tubuhnya di sebelah gadis itu.
"Tidak," jawab Harry ketus.
Theo tertawa, "Jangan-jangan Draco menggodamu lagi ya?"
Blaise merangkul pundak Theo, "Jangan menggodanya, Theo, Harry sedang kesal," tengah pemuda berkulit gelap itu.
Harry memicingkan mata melihat dua sahabat barunya itu, "Kalian akrab sekali?" tanya Harry penasaran dengan sikap Theo dan Blaise yang sering kali terlihat intim.
Blaise mengacak rambut Theo, "Bagaimana tak akrab, kami memiliki hubungan khusus," jawabnya, "Apa kau keberatan atau risih melihat kami?" tanya Blaise.
Harry menggeleng dengan cepat, "Tidak, hanya tak menyangka saja," jawabnya, "Kau juga tahu, Pans?"
Pansy mengangguk sambil tersenyum.
"Kami hanya ingin jujur pada diri kami sendiri," jawab Theo pelan sambil menyandarkan kepalanya di bahu Blaise.
Harry tercekat, dia merasa tertampar, 'Jujur? Apa aku tak jujur pada diriku sendiri?', tanyanya dalam hati.
.
.
Sejak siang itu Draco terus mengadakan pendekatan pada Harry, dia tahu pelan-pelan pemuda bermata hijau itu mulai bisa membuka hatinya untuk Draco. hal itu bisa dilihat dari perubahan Harry yang sedikit banyak sudah mulai terbiasa memanggilnya 'Draco', lalu sudah mulai menjawab panjang saat Draco bertanya sesuatu dan mulai tak menolak saat Draco duduk di sampingnya. Perubahan sekecil itu sudah cukup membuat Draco puas dan Draco berusaha keras mengendalikan dirinya untuk tak terlalu memaksa Harry bersentuhan dengannya.
Saat memasuki kelas sejarah sihir yang membosankan Draco melihat Harry duduk sendiri di bangku tengah, dengan tersenyum dia menghampiri pemuda itu, "Aku duduk disini ya?" tanya Draco sambil menhempaskan tubuhnya disamping Harry.
Harry mendengus, "Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan," gerutunya.
Draco terkekeh, "Aku lihat bangku ini masih kosong, jadi tak ada salahnya kan aku disini?" goda Draco.
Harry tak menjawab, dia membuka bukunya dan membaca baris demi baris kalimat tapi tak satu pun yang dapat diingatnya dengan kehadiran Draco sedekat ini. 'Ini gara-gara Ron dan Hermione yang menghilang entah kemana', gerutunya dalam hati.
Pemandangan seperti itu sudah tak asing lagi di mata murid Hogwarts. Sejak beberapa bulan yang lalu kelompok Harry Potter dan kelompok Draco Malfoy memang telah memutuskan untuk berdamai, dan berita itu disambut antusias oleh seluruh penghuni Hogwarts termasuk staff pengajar yang merasa lega karena tak akan ada lagi perang mantra di koridor sekolah.
Mereka tak menyadari dari barisan belakang lima pasang mata memperhatikan mereka sambil tersenyum.
Hermione dan Ron telah menduga tentang perasaan Draco pada Harry, mereka bingung melihat Draco yang seakan-akan ingin terus berada di dekat sahabat mereka itu, dan akhirnya mereka nekad mendiskusikan hal itu dengan Pansy. Jawaban tak terduga muncul dari bibir gadis cantik itu.
Pansy memang berjanji untuk tak menceritakan kejadian di menara astronomi itu pada yang lain, tapi tentang perasaan Draco itu sudah bisa ditebak dan bukan menjadi rahasia lagi, apalagi Blaise dan Theo juga sudah menyadari itu sejak lama.
Pertama kali menyadari hal itu Ron sempat tak setuju, tapi keempat lainnya terus berusaha melunakkan hatinya, kalau pemuda berambut merah itu bisa menerima hubungan Blaise dan Theo kenapa tak bisa menerima perasaan Draco? Akhirnya dia pun mengalah dan bersumpah jika Draco menyakiti Harry maka dia sendiri yang akan menghajar Malfoy junior itu.
Pelajaran Profesor Binns memang selalu dijadikan kesempatan oleh murid-murid –kecuali Blaise dan Hermione yang tipe pelajar sejati- untuk melamun atau tidur siang. Hal ini juga tak lepas dari Harry yang memilih menopang dagunya dengan satu tangan dan menyibukkan diri dengan mencoret-coret bukunya.
Draco tertawa melihat hal itu, dia gemas ingin mengacak rambut pamuda disampingnya yang memang sudah berantakan itu dengan jari-jarinya, tapi sekali lagi dia berusaha untuk menahan diri. Sebersit ide jahil muncul di kepalanya. Dengan merapalkan mantra non verbal dia membuat pena bulunya berjalan diatas buku Harry.
Harry terkejut, dia menegakkan badannya dan mengernyitkan keningnya saat pena bulu itu mulai menulis sesuatu di bukunya, -I L O V E Y O U-, "I love you," eja Harry pelan.
"Yes, Harry, I love you too," bisik Draco tak kalah pelannya.
Wajah Harry memerah, dia kesal karena sekali lagi dia terjebak dalam keusilan Draco. Dengan kasar dia menutup bukunya dan membiarkan Draco terkekeh pelan disampingnya, lalu dia memutuskan untuk melemparkan pandangannya keluar jendela saja dan melihat pantulan matahari di danau yang biru.
.
"Hei, Potter," panggil suara yang dikenalnya.
Harry mengepalkan tangannya dan melihat pada sumber suara, "Ada perlu apa, Goyle?" tanya Harry dingin pada pemuda bertubuh besar tapi berotak kosong itu yang berjalan bersama dua pemuda lain yang dulu pernah menyerang Harry di koridor sekolah.
"Sepertinya kau akan semakin terkenal ya?" kata pemuda kurus yang berdiri disamping Goyle.
"Apa maksudmu?" tanya Harry heran.
Ketiga pemuda itu tertawa terbahak-bahak, "Mana mungkin kau tak tahu," jawab Goyle.
Merasa sia-sia berurusan dengan para pemuda biang onar itu Harry memutuskan untuk pergi saja dari situ dan tak menghiraukan mereka.
Tawa mereka semakin keras, "Jangan begitu, Potter. Calon Mrs. Malfoy tak boleh terbawa emosi," sindir Goyle.
Harry menghentikan langkahnya, dengan marah dia menoleh kearah para pemuda itu, "Apa katamu?" tanya Harry sambil berjalan mendekat. Tongkat sihirnya teracung kearah gerombolan itu siap mengeluarkan serangan.
Mereka masih tertawa, "Jangan malu-malu, terima saja cinta Draco tersayangmu itu, Potter," ejek Goyle lagi.
"STUPEFY…" teriak suara di belakang Harry yang membuat ketiga pemuda itu kembali terbanting ketanah seperti kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Jaga mulut kalian dan jangan pernah mencampuri urusanku lagi, mengerti?" kata draco dingin, "Sekali lagi aku dengar itu maka aku tak akan menjamin apa yang akan aku lakukan pada kalian.
Wajah Goyle dan kedua temannya memucat, dengan cepat mereka berdiri dan pergi dari situ.
"Harry, jangan dengarkan mereka," kata Draco mendekati Harry yang berdiri mematung.
"Pergi," katanya pelan.
"Apa katamu?" tanya Draco bingung.
"Aku bilang 'PERGI', Malfoy, menjauhlah dariku," desis Harry marah.
"Harry, dengarkan aku..."
"AKU BILANG MENJAUHLAH DARIKU, KEHADIRANMU BENAR-BENAR MEMBUATKU TAK NYAMAN, KAU MENGERTI? AKU MEMBENCIMU, MALFOY," kata Harry dingin.
Draco tercekat, hatinya begitu sakit mendengar itu, tapi dia juga tak mau memaksa Harry dan melukainya lagi, "Baiklah, kalau itu memang yang kau inginkan, Harry, aku akan menjauh dan menghilang dari hadapanmu," katanya pelan, lalu pemuda berambut pirang itu berbalik dan pergi.
Harry marah, dia begitu marah pada Draco, terlebih pada dirinya sendiri. Dan kini dia merasa ringan karena hatinya benar-benar kosong dan hampa.
Bersambung
A/N.
*melongo* apa ini? Kok jadi aneh gini? Maafkan aku kalo ceritanya menjadi semakin aneh, aku sudah berusaha keras untuk ga ngebut dan hati2, hik...
Makasih buat Verritas dan Apple yang mau ngeripiu fic ini dari kejauhan yang begitu jauh *halah...*, thanks banget ya *hug*.
Buat Quinn, Ran-chan, Vii, aku ga punya nama *jiaaah knp ga punya nama? Kenalan dong?**plak*, makasih tetap setia ngeripiu dan kasih masukan, ailopyu pul deh *hug*. Buat awan angel, hutangmu banyak sekali nak *diinjek dinie*.
Yak, persiapan buat chap 4, SEMANGAT… Ness, aku membutuhkan idemu lagi nih *plak*
