DILEMMA
CHAPTER 4
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon
.
#
.
Seminggu sejak kejadian itu Draco benar-benar tak pernah berada di dekat Harry lagi, sebisa mungkin dia menjauh atau menghindar saat bertemu Harry. Dia tak mau melukai pemuda itu lagi, tidak... sebenarnya dia tak mau melukai dirinya sendiri, dia tak siap mendengar kata-kata penolakan lagi dari bibir Harry.
"Draco, berhentilah melamun," kata Pansy saat makan pagi di aula besar.
Draco meletakkan sendoknya dan berhenti memainkan makanannya, dia menghembuskan nafas panjang lalu berdiri meninggalkan aula besar.
Pansy melirik ke meja Gryffindor, dia melihat kalau Harry juga sedang memperhatikan Draco.
"Sebaiknya kau temani dulu Draco, aku pikir dia butuh teman bicara sekarang," kata Blaise yang duduk didepannya.
"Dan setelah ini aku juga harus bicara dengan Harry, ooh merepotkan sekali mereka itu. ingatkan aku untuk meminta imbalan kalau nanti mereka sudah berbaikan, ok?" guraunya sambil beranjak pergi mengikuti Draco, dia bisa mendengar tawa Blaise dan Theo di belakangnya.
.
"Tuan muda, Malfoy, kemana sifatmu yang dulu pantang menyerah?" goda Pansy setelah duduk disamping Draco disudut halaman samping kastil.
Draco tak menjawab.
"Ini terlihat aneh, kau tahu? Baru saja kau dan Harry menjadi teman dan sekarang kami harus melihat kalian lagi seperti dulu. Tidak... ini lebih parah," kata Pansy.
"Cukup, Pans, aku sudah cukup pusing dengan semua ini," jawab Draco malas.
Pansy menghela nafas pelan, "Harry belum bisa menerima keadaan yang sebenarnya, Draco, dia masih bingung."
Draco mengangguk, "Karena itulah aku tak mau memaksanya, aku tak mau menyakitinya, tidak lagi, Pans." Katanya sambil menangkupkan tangannya menutupi wajahnya yang pucat.
Sepasang mata hijau memperhatikan dari kejauhan, Harry menyesal telah membuat sorot mata abu-abu itu meredup dan melemah. Tak dipungkiri kalau dia tak suka melihat Draco seperti ini, seakan kehilangan semangatnya. Ingin rasanya dia menghampiri Draco dan meminta maaf atas kata-kata yang diucapkannya terakhir kali dulu. 'Draco tak bersalah, ini semua karena aku, bukan salahnya memiliki perasaan seperti itu terhadapku', batinnya.
Harry kehilangan sosok Draco yang selalu menggodanya setiap saat. Semua itu karena Harry telah terbiasa berada di dekat Draco. Bohong kalau dia membenci pemuda itu, kesal mungkin iya tapi Harry juga menikmati keusilan pemuda berambut pirang itu. Tak jarang Draco selalu bisa membuatnya tersenyum bahkan tertawa, sosok Draco yang tak pernah diperlihatkan didepan orang lain, sosok draco yang mulai memasuki mimpi-mimpinya. Dan sekarang semua itu menjauh, bahkan nyaris hilang.
Tapi Harry juga kesal, karena Draco akhirnya gossip seperti itu muncul. Dia sudah muak menjadi sorotan dan perbincangan.
Harry mendesah, matanya tak lepas dari sosok Draco yang lesu, yang sedang berbicara dengan Pansy di kejauhan.
"Harry," tegur suara di belakangnya.
Harry terkejut, dia melihat Ron dan Hermione berdiri disana.
"Jangan membohongi dirimu sendiri," kata Hermione.
Harry tak menjawab, lalu dia pergi dari situ meninggalkan kedua sahabatnya yang melihat tingkahnya sambil menggeleng prihatin.
.
.
"Apa yang membuatmu kesini, Son?" tanya Severus heran melihat pemuda yang telah dianggap sebagai putranya itu memasuki kantornya setelah makan malam.
Harry tersenyum lemah, "Apa harus ada alasan untuk menemuimu, Dad?"
Severus memandang pemuda itu dengan tatapan menyelidik, "Kau bisa membohongi semua orang, Son, bahkan dirimu sendiri, tapi kau tak bisa membohongi aku, tak akan bisa," tegas Severus.
Harry tersenyum getir, "Ini tentang Draco," jawab Harry, "Mungkin Dad sudah mendengar tentang kedekatan kami yang telah diberitakan secara negatif oleh murid-murid di sini."
Severus mengangguk pelan dan membiarkan Harry terus bicara.
"Aku ingin lepas dari keadaan ini, Dad, aku lelah dan merasa bersalah pada Draco," kata Harry lirih.
"Apa yang membuatmu merasa bersalah?" tanya Severus pelan.
Harry menunduk, "Aku telah mengatakan sesuatu yang kejam padanya, yang membuatnya menjauhiku dan membuatnya berubah menjadi Draco yang tak aku kenal."
Severus memandang tajam pada Harry yang tertunduk didepannya, "Lalu bagaimana perasaanmu setelah Draco menjauhimu?"
Harry terdiam cukup lama, "Kosong, Dad. Aku merasa seperti ada sesuatu yang berlubang disini," jawab Harry sambil menunjuk dadanya. "Dia pernah menyakitiku dengan begitu dalam dan membuatku begitu membencinya. Dia sudah menyesalinya dan aku pun tak ingin mengingat-ingat hal itu lagi tapi entah kenapa aku belum tahu apa yang sebenarnya aku inginkan. Entah aku sudah memaafkannya atau belum, aku sendiri tak yakin."
Severus mengangguk-angguk kecil, dia tak ingin tahu apa yang telah Draco lakukan pada putranya ini, yang dia lihat saat ini batin Harry sedang berperang, pemuda itu bingung harus bagaimana menentukan sikapnya, "Hanya kau sendiri yang bisa mengatasi itu, Harry," jawab Severus, "Aku hanya ingin melihat kau nyaman dan bahagia dengan keputusanmu. Pikirkan dulu semuanya dengan matang agar tak ada penyesalan di kemudian hari," saran Severus, dia tersenyum pada putranya yang menatapnya dengan mata yang lebih berkilau dibandingkan saat dia masuk tadi.
Severus berdiri dari duduknya dan menghembuskan nafas dengan keras, "Harry, dimana kau akan menghabiskan liburan natalmu kali ini?" tanya Severus mengalihkan pembicaraan.
Harry tersenyum, "Aku ingin bersama Dad saja, kalau Dad tak keberatan," jawab Harry.
"Aku mungkin akan ke Spinner End's, setelah natal aku kembali ke Hogwarts, bagaimana?" tanya Severus lagi.
Harry kembali mengangguk, "Asalkan aku tak sendirian," jawabnya lagi.
Severus mendekati pemuda bermata hijau cemerlang itu dan menepuk pundaknya pelan, "Kembalilah ke asramamu dan beristirahatlah, jangan bebani kepalamu dengan masalah yang seharusnya bisa dengan cepat kau selesaikan," kata Severus.
Harry memeluk ayahnya singkat, "Thanks, Dad, g'nite," pamitnya.
Severus memandang punggung pemuda itu, "Thanks, Lils, kau telah mengirimkan dia untukku," bisik Severus setelah Harry menghilang dibalik pintu.
.
.
Liburan natal hampir tiba, semua murid mulai ribut membicarakan tentang kado yang akan mereka siapkan untuk orang-orang terkasih dan rencana-rencana selama liburan nanti.
"kau akan menghabiskan natal di rumahku kan, Harry?" tanya Ron, "Atau kau punya rencana lain?"
Harry meneguk isi pialanya, "Aku akan ke Spinner End's bersama Dad, setelah natal kami sudah harus kembali ke Hogwarts, mungkin nanti aku bisa memintanya mengantarku ke The Burrow," jawab Harry.
Ron mengangguk, dia tak bisa memaksa Harry yang ingin menghabiskan liburannya bersama keluarga barunya, mengingat selama ini Harry selalu sendiri atau bersama keluarga Weasley.
"Menurut kalian apa yang sebaiknya aku berikan sebagai kado natal untuk ayah baruku itu?" tanya Harry pada Ron dan Hermione.
Ron hanya mengangkat bahunya, dia tak bisa membayangkan kado apa yang cocok untuk kepala sekolahnya yang keras dan dingin itu.
Hermione tampak berpikir, "Bagaimana kalau kau berikan dia sepasang sarung tangan tebal atau syal?" saran gadis jenius itu.
Harry mengangguk, "Baiklah, akan kubelikan saat kita ke Hogsmeade besok." Tiba-tiba mata Harry melihat sosok Draco yang baru masuk ke aula besar, langkahnya terlihat lemas dan wajahnya begitu pucat. Yeah, Draco memang berkulit pucat tapi pucat yang ini tampak sangat pucat, 'apa yang terjadi dengannya?', tanyanya dalam hati.
Ron dan Hermione mengikuti arah pandangan Harry, "Kata Pansy akhir-akhir ini Draco tampak kurang sehat, tapi dia selalu menolak saat diajak ke hospital wing," jelas Hermione.
Merasa tertangkap basah sedang memperhatikan Draco Harry pun langsung menundukkan kepalanya dan menyuapkan makan malamnya ke mulutnya. Entah bagaimana bisa makanan yang tampak begini lezat terasa hambar di lidah Harry yang membuatnya malas mengunyah makanan tersebut dan menyelesaikan makannya sebelum habis.
Hermione dan Ron berpandangan melihat ulah sahabat mereka itu dan menarik nafas panjang berusaha menetralkan rasa kesal yang mereka rasakan. Harry begitu keras kepala.
BRAAAKKK…
Terdengar suara keras dari meja Slytherin dan teriakan beberapa murid, semua mata menoleh ke sumber suara dan betapa terkejutnya Harry melihat Draco telah tersungkur dilantai. Dia melihat Goyle berdiri dengan wajah pucat didekat Draco yang langsung ditarik oleh Blaise menjauh dari kerumunan.
Kaki Harry terasa kaku, dia ingin mendekat dan menolong Draco tapi kakinya seperti tak dapat digerakkan. Dia melihat kepala sekolah dan beberapa pengajar membawa Draco ke Hospital Wing, Pansy mengikuti dari belakang.
.
Suasana diruang tunggu begitu mencekam, semua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ron dan Hermione berhasil menarik Harry untuk ikut melihat keadaan Draco di rumah sakit sekolah.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Harry bingung, dia berusaha bicara sewajar mungkin walau hatinya diliputi rasa cemas dan khawatir akan keadaan Draco.
"Aku melihatnya sendiri, sebenarnya Goyle hanya main-main menyenggol Draco dengan tubuhnya yang besar itu, tapi karena keadaan Draco yang kurang begitu baik senggolan itu sudah cukup membuatnya jatuh, kepalanya menghantam ujung meja dan membuatnya pingsan," terang Blaise.
Wajah Harry memucat mendengar keterangan Blaise.
Pintu Hospital Wing terbuka dan muncullah Severus bersama Minerva McGonaggal dari dalam, "Bagaimana keadaannya?" tanya Harry yang langsung menyerbu ayahnya.
Severus melihat wajah Harry yang begitu pucat, "Dia belum sadar, lihatlah kedalam tapi jangan ribut," katanya tegas, "Tapi sebelum itu adakah yang bisa menjelaskan ini padaku?" tanyanya.
"Aku, Sir, akan ku jelaskan semuanya," jawab Blaise.
Severus mengangguk, "Ikut aku ke kantor, Mr. Zabini," perintahnya sambil berjalan, Blaise mengikuti dibelakangnya.
.
Harry termangu, belum pernah dia melihat Draco selemah ini. Wajahnya begitu pucat dan bibirnya sedikit membiru.
"Draco sibuk dengan pikirannya sendiri akhir-akhir ini, dia nyaris tak pernah makan bahkan tidur pun tak pernah pulas," kata Theo. "Saat aku mau tidur dia masih terjaga, dan saat aku bangun dia sudah selesai mandi pagi, entah dia tidur atau tidak semalaman."
"Sering juga aku mengingatkan dia untuk menjaga kesehatannya, tapi sepertinya suaraku tak terdengar oleh telinganya," sambung Pansy.
Harry terdiam sebentar, "Apakah ini salahku?" tanyanya pelan.
Theo menepuk bahu Harry pelan, "Bukan, hanya dia saja yang bodoh, seharusnya dia tak menyiksa dirinya sendiri."
Harry mengusap rambutnya dan duduk di kursi di samping tempat tidur, matanya tak lepas dari wajah Draco yang pucat.
"Perasaannya padamu itu bukanlah suatu kebohongan, Harry, dia tidak sedang mempermainkanmu, percayalah," kata Theo lagi.
Harry masih terdiam.
Merasa kalau Harry membutuhkan waktu untuk sendiri semua temannya pun akhirnya meninggalkannya bersama Draco yang belum sadar.
Dengan memberanikan diri Harry menyentuh tangan Draco yang terkulai lemas disamping tubuhnya, dingin, tangan putih itu terasa dingin. Harry menggenggamnya, dan saat itu dia merasa hatinya dilingkupi oleh rasa hangat yang telah lama menghilang dari dirinya.
"Maafkan aku, aku terlalu keras kepala," bisiknya. Lama dia hanya menggenggam tangan Draco sampai tak sadar kalau Severus sudah berdiri di belakangnya.
"Kau ingin menemaninya?" tanya Severus pelan.
Harry terlonjak dan bangkit dari duduknya, "D-Dad, kau mengejutkanku," katanya gugup dengan wajah memerah.
Severus mengernyitkan keningnya, "Apa aku tadi berteriak?" tanyanya bingung walau dia tahu apa yang dimaksud Harry.
"T-tidak, aku…" jawab Harry bingung.
Severus mengacak rambut Harry, "Aku bertanya apa kau ingin menemaninya?" ulang Severus.
Harry memandang wajah Draco yang masih tertidur, "Kalau Dad mengijinkan," jawab Harry pelan.
Severus mengayunkan tongkatnya dan menciptakan sebuah sofa lembut yang nyaman untuk bisa ditempati Harry malam ini beserta sebuah selimut.
Harry tersenyum, "Thanks, Dad."
Severus mengangguk dan meninggalkan ruangan.
.
Draco mengerjapkan matanya, dia tak melihat siapapun disitu. Lalu dia berusaha bangun dan terkejut melihat Harry tertidur di sofa besar di samping tempat tidurnya. Kepalanya mendadak pusing dan tanpa sadar dia mengerang.
Harry terkejut dan membuka matanya, "Draco," katanya panik saat melihat Draco sudah dalam posisi duduk sambil memegang kepalanya, dia melompat dari duduknya dan memegangi bahu Draco, "Jangan bangun dulu, tidurlah lagi," katanya cemas sambil perlahan mendorong bahu draco agar berbaring kembali.
Draco terpaku dengan sikap Harry yang terang-terangan mengkhawatirkannya seperti ini, dadanya berdebar begitu kencang.
Wajah Harry memerah karena Draco terus memandangnya, "Tidurlah," katanya pelan.
Draco menyentuh lembut sisi wajah Harry dan ikut terkejut saat Harry tiba-tiba menghindar.
"Aku bilang tidurlah, Draco," kata Harry jengah.
Dada Draco terasa hangat melihat Harry yang tampak gugup di depannya, "Aku tak bisa tidur kalau kau terus memalingkan wajahmu seperti itu," jawab Draco lirih.
Dengan setengah kesal mata hijau Harry akhirnya memandang Draco, "Baiklah, sekarang pejamkan matamu," perintah Harry agak ketus.
Draco tersenyum dan memejamkan matanya, dia tercekat saat tak lama kemudian dia merasakan satu sentuhan lembut disudut bibirnya. Dia merasa Harry menciumnya pelan dan singkat. Dibukanya kembali mata abu-abunya untuk membuktikan kalau ini bukan mimpi, dia tersenyum geli melihat Harry yang kembali memalingkan wajahnya. Dengan lembut diraihnya tangan Harry dan dibawanya ke bibirnya untuk dikecup, "Thanks, Harry," bisiknya pelan. Draco yakin kali ini dia akan tidur dengan pulas menggantikan malam-malamnya yang terlewati dengan sia-sia.
.
"Ooh sungguh memalukan, seorang Malfoy tersungkur dilantai dengan kondisi yang parah, sungguh menggelikan," goda Theo saat dia dan yang lainnya menjenguk Draco pagi ini. Semua tertawa saat Draco dengan cepat melemparkan pandangan membunuh pada Theo yang sengaja bersembunyi di belakang Blaise.
"Maaf, aku harus mandi dan berganti pakaian dulu," pamit Harry pada teman-temannya, lalu dia keluar dari ruangan dengan wajah sedikit memerah dan menutup pintu kayu yang besar itu.
"Bagaimana?"
"Apa dia menyerah?"
"Kalian sudah jadian?"
"Apa jawabannya?"
"Apa yang kalian lakukan tadi malam?"
"Kenapa wajahnya memerah?"
Semua menyerbu Draco dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Harry. Draco terkekeh, "Tujuh puluh persen mendekati ok," jawabnya.
"Lambat sekali sih kau ini?" gerutu Theo yang mendapat anggukan dari yang lain. Bahkan Ron yang awalnya menolak pun ikut penasaran.
"Ini sudah bagus, bodoh. Kau pikir tak sulit menaklukkan dia?" sungut Draco.
Pansy tertawa, "Ini harus dihargai, Theo, karena Draco sampai harus menyakiti tubuhnya sendiri hingga akhirnya Harry bersedia memberikan simpati padanya."
"Jadi, siapa sebenarnya yang bodoh?" sambung Hermione yang disambut tawa semua, sedangkan Draco hanya diam saja menatap kesal teman-temannya.
.
Harry kembali ke Hospital Wing siang hari saat teman-temannya telah pergi ke Hogsmeade, dia sengaja memilih sendirian karena dia tak ingin menjadi objek olok-olokan temannya yang selalu punya seribu cara untuk membuatnya malu.
Dengan pelan dia membuka pintu rumah sakit sekolah itu dan terkejut melihat orang tua Draco berada disitu bersama ayahnya. "Selamat siang Mr. Malfoy, Mrs. Malfoy," sapa Harry, "Maaf aku mengganggu."
"Masuklah, Son," kata Narcissa Malfoy.
Harry melangkah masuk dan terkejut ketika wanita cantik itu memeluknya dengan lembut, juga Lucius Malfoy yang menepuk lembut punggungnya, "Terima kasih kau telah menjaga Draco tadi malam," kata Wanita itu.
Harry hanya mengangguk pelan dan berdiri disamping ayahnya.
"Kau sudah makan siang?" tanya Severus pada Harry.
Harry mengangguk lagi, "Sudah, Dad," jawabnya yang mendapat pandangan heran dari Narcissa dan Lucius.
Mengerti akan kebingungan mereka Severus pun menjelaskan semua, "Sejak perang berakhir Harry berada dibawah perwalianku, sekarang kami adalah keluarga."
Narcissa ternganga, "Ini berita bagus, kenapa tak kalian kabarkan pada kami?" serunya.
Sejak Harry memberikan kesaksian yang membebaskan keluarga Malfoy dari hukuman tak ada lagi permusuhan diantara mereka, bahkan Narcissa dan Lucius telah meminta maaf secara pribadi pada Harry.
"Kenapa Mum dan dad sampai repot-repot kesini?" tanya Draco.
Narcissa menatap putranya, "Kami mendengar kau terluka, Son. Dan lagi kami ingin mengabarkan sesuatu, tapi sebisa mungkin akan kami batalkan."
Draco mengernyit, "Apa itu?"
Narcissa menghela nafas panjang, "Awal liburan natal nanti Ayahmu dan Mum harus ke Perancis untuk menyelesaikan beberapa urusan, mungkin sampai dua minggu. Kami berniat mengajakmu ikut dan merayakan natal disana, tapi melihat kondisimu sepertinya akan kami batalkan saja," jelas wanita berambut pirang itu.
"Tidak… tidak, aku baik-baik saja, Dad dan Mum bisa meninggalkanku disini," jawab Draco.
"Tapi kau masih sakit, Son," kata Narcissa.
"Aku bukan anak kecil lagi, Mum, pergilah," gerutu Draco.
Narcissa tampak bingung.
Severus berdehem, "Saat liburan nanti aku dan Harry akan ke Spinner End's, setelah itu kami kembali ke Hogwarts sebelum tahun baru, jadi kalau tak keberatan Draco bisa bersamaku," saran Severus.
Mata Harry agak terbelalak, dia menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering, 'apa Dad tak salah bicara?', tanyanya dalam hati, dia tercekat saat melihat Draco yang menyeringai ke arahnya.
"Aku setuju dengan usul Severus," jawab Draco cepat. Hubungan keluarganya dengan Severus yang cukup akrab membuat Draco tak segan memanggil kepala sekolahnya itu dengan nama depannya, itu pun hanya secara pribadi saja, tidak didepan murid-murid yang lain.
Lucius menghela nafasnya, "Kalau denganmu tentu kami akan tenang, Sev," jawab Lucius akhirnya.
Harry benar-benar pucat kali ini.
.
"Kenapa kau jadi begitu diam? Mogok bicara lagi?" goda Draco saat hanya tinggal berdua saja dengan Harry, kedua orang tuanya sudah pulang dan Severus sudah kembali ke kantornya.
Harry memandang Draco dengan tajam, "Diam kau," sergahnya.
Draco terkekeh, "Natal yang begitu menyenangkan, aku tak sabar menunggu liburan datang," godanya lagi.
Harry tak menjawab, dia tersentak saat Draco menggenggam tangannya, tapi dia tak memaksa untuk menariknya dan itu sudah cukup membuat Draco tersenyum, "Terima kasih kau mau memaafkanku," kata pemuda berambut pirang itu.
Harry menatap mata abu-abu Draco, dia merasakan satu aliran hangat mengalir di dadanya, "Maafkan aku, kata-kataku begitu kasar saat itu."
Draco menggeleng, dia berusaha untuk duduk dengan bantuan Harry dan bersandar di kepala tempat tidur, "Lalu, bagaimana jawabanmu?" tanya Draco pelan.
Harry menunduk, "Aku belum tahu, Draco."
"Kau masih membenciku?" tanyanya lagi.
Harry kembali menatap mata Draco, "Tidak," jawabnya, "Hanya saja aku sudah tak merasa takut lagi padamu."
Draco mengeratkan genggamannya, "Maafkan aku, untuk semua ketakutanmu," bisik Draco, "Aku berjanji tak akan melukaimu lagi."
Dada Harry bergetar, kata-kata Draco entah kenapa membuatnya begitu tenang dan dia percaya itu.
"Mendekatlah," pinta Draco.
Dengan setengah ragu Harry mengikuti keinginan Draco.
Draco menariknya pelan ke dalam pelukannya, dia bisa merasakan tubuh Harry menegang, "Percayalah, Harry," bisik Draco, dia tersenyum saat tubuh Harry kembali relax dan perlahan rebah di pelukannya.
Harry merasa begitu nyaman dalam dekapan tangan Draco, belum pernah dia merasa setenang ini.
"Aku tak akan memaksamu, aku ingin kau yakinkan dulu hatimu," bisik Draco lagi sambil mengecup rambut Harry.
Harry mendongakkan wajahnya dan menatap Draco, "Kiss me, Draco," pintanya dengan mantap. Harry ingin menghilangkan bayangan yang selalu menghantuinya itu.
Draco tercekat, "Harry, kau tak harus…" kata-katanya terhenti saat dia melihat Harry telah memejamkan matanya. Draco tersenyum, dadanya kembali bergetar hebat, 'aku akan mengganti ketakutanmu dulu, Harry', katanya dalam hati.
Perlahan dia menundukkan wajahnya, disentuhnya pelan bibir Harry, "Sssh… tenanglah," bisik Draco menenangkan Harry yang kembali menegang. Kali ini dibelainya bibir Harry dengan lidahnya.
Harry terkesiap, dan kesempatan itu digunakan Draco untuk mengapit bibir atas Harry dengan bibirnya.
Tubuh Harry bergetar, ciuman Draco begitu lembut, begitu memujanya. Kepalanya terasa pusing dan ringan. Dia merasakan tangan Draco mengusap punggungnya, membuatnya semakin tenang. Dia membuka matanya saat bibir Draco memisahkan diri, dan saat itu Harry merasa ada yang hilang dari hatinya.
Dengan memberanikan diri Harry mendekatkan wajahnya kembali pada Draco dan kali ini dia yang mencium bibir tipis pemuda berambut pirang itu. Draco tersenyum dalam ciuman Harry, kali ini dilumatnya lebih dalam bibir Harry, dan dia nyaris bersorak saat Harry membalas ciumannya. Tubuh Harry semakin gemetar, bukan karena takut tetapi karena buncahan perasaannya yang nyaris meledak.
Tanpa sadar setitik air mata mengalir dari mata hijaunya. Draco terkejut merasakan rasa asin dibibirnya, saat itu juga di melepaskan ciumannya dan memeluk Harry dengan erat, "Maafkan aku, Harry, aku memaksamu lagi," katanya cemas begitu dilihatnya pipi Harry basah oleh air mata.
Harry menggeleng, dia tersenyum pada Draco, "Aku akan mencoba mempercayaimu, Draco," bisiknya, dan kata-kata itu membuat Draco terperangah.
Tanpa mempedulikan kepalanya yang masih terasa sakit Draco tertawa dengan keras, dia begitu bahagia dan tak peduli walau ayahnya akan mengutuknya karena tertawa dengan tidak Malfoyis seperti itu. Tubuhnya memeluk Harry dengan begitu erat.
"Draco, hentikan tawamu, itu mengerikan," bentak Harry.
"Aku tak peduli," jawab Draco keras.
"Tapi aku belum menerimamu," bentak Harry lagi.
Draco masih tertawa, "Aku tak peduli, Harry."
"Terserah kau," gerutu Harry yang pasrah dalam pelukan Draco.
BRAAAKK…
Pintu rumah sakit terbuka dengan keras, tampaklah lima orang yang tumpang tindih didepan pintu sambil mengirimkan sebuah cengiran di bibir masing-masing.
Wajah Harry memerah, dia melepaskan pelukan Draco dan melotot kearah teman-temannya yang entah sejak kapan sudah mengintip mereka dari balik pintu.
Bersambung lagi atau ga nih?
A/N.
Yeeeeeeeeey selesai… selesai… selesai… *dibekep*
Ehem, sampai saat ini ternyata aku berhasil untuk ga bikin lemon, hehehe ntar aja yah kalau bulan sucinya dah lewat *plak*
Ucapan makasih tak terhingga untuk Aicchan yang dengan sabar selalu mengedit dan mempublish fic2 aku *hug Sist*, buat Ness juga yang berperan penting hingga fic ini tercipta *I love you, Ness #plak*
Buat ripiunya yang ga bisa direply, ada Aku ga punya nama, Ran-Chan, Lucky, Awan_Angel, makasih dukungannya :3
Sekalian pengumuman kalau chap 5 mungkin lebih lama *siap2 penutup kuping sebelum diteriakin*
