DILEMMA
CHAPTER 5
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon
.
#
.
"Aku senang kau sudah bisa menerima kehadiran Draco, Harry," kata Pansy saat mereka berdua bersantai di pinggir danau.
Harry berdecak, "Aku belum menerimanya, Pans," bantahnya, "Aku hanya akan mencoba untuk lebih bisa mempercayainya."
Pansy tertawa kecil, "Dasar keras kepala," gerutu gadis itu dan Harry hanya mendengus saja.
"Kau siap menghadapi liburan natal bersama Draco?" goda Pansy.
Harry menggeram, "Ini semua karena Dad, aku heran kenapa dia harus mengajak Draco?" gerutunya, "Padahal dia tahu bagaimana perasaan Draco padaku."
Pansy tertawa lagi, "Mungkin Profesor Snape hanya ingin menjaga Draco, kau jangan besar kepala dulu."
Wajah Harry memerah, "Sejak kapan kau mulai ikut usil dan terus menggodaku, Pans?" tanya Harry kesal.
Pansy memeluk lengan Harry dan masih tertawa, "Maaf, sebab kau ini terlalu keras kepala, mirip sekali seperti Draco," jawab gadis itu, "Kenapa aku dulu bisa begitu membencimu ya?"
Harry menepuk tangan Pansy, "Mungkin karena kau cemburu padaku, dulu kau mencintai Draco, kan?" balas Harry lalu mereka tertawa bersama.
"Mana aku tahu kalau Draco menyukaimu sejak dulu," bantah Pansy yang masih tergelak.
"Jangan mengambil tempatku, Pans," terdengar suara Draco di belakang mereka.
Harry menghentikan tawanya perlahan, dia sengaja tak menoleh, bukan karena benci tapi karena dia ingin menetralkan detak jantungnya yang tiba-tiba meloncat tinggi saat mendengar suara Draco.
Pansy melepaskan pelukannya pada lengan Harry, "Tapi tetap saja kau tak bisa merebut posisiku sebagai sahabatnya, Draco," balas Pansy sambil berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Harry panik sambil memandang gadis berambut hitam yang kini terlihat lebih cantik dan dewasa itu. Senyum yang sering menghiasi bibirnya membuat Pansy terlihat berbeda dibandingkan Pansy Parkinson tahun-tahun yang lalu.
"Aku ada janji dengan Hermione. Jangan kawatir, kau bisa mengandalkanku kalau Draco berani berbuat macam-macam lagi padamu," goda Pansy sambil berlalu.
'Sekarang, Harry, siapkan hatimu', gerutu Harry dalam hati saat Draco sudah duduk disampingnya.
"Kau tak menanyakan keadaanku?" tanya Draco.
Harry memandang Draco dengan perban masih melingkar di kepalanya, tanpa sadar tangannya menyentuh pelan kening Draco, "Masih sakit kah?" tanyanya pelan.
Draco tersenyum, matanya terus memandang Harry, "Tidak," jawab Draco singkat sambil menurunkan tangan Harry dan menggenggamnya.
Harry memalingkan wajahnya, dia tak sanggup terus bertatapan dengan Draco.
"Kau sudah membereskan kopermu untuk berangkat besok?" tanya Draco. Besok adalah awal liburan natal, Draco dan Harry tidak akan naik Hogwarts Express seperti biasanya, mereka akan ber-apparate bersama Severus ke Spinner End's.
"Belum, nanti saja," jawab Harry.
"Mau ku bantu?" goda Draco.
"Kau pikir aku anak kecil? Aku bisa sendiri, kau tak usah repot-repot," jawab Harry kesal.
Draco terkekeh, dia memaklumi sikap dan kata-kata Harry yang masih terkesan ketus itu, semua membutuhkan waktu. Dengan begini saja Draco sudah merasa sangat bahagia, dia tak berani mengharapkan sesuatu yang lebih karena dia tak ingin kehilangan Harry lagi.
"Orang tuamu sudah berangkat ke Perancis?" tanya Harry.
Draco mengangguk, "Baru saja surat Dad datang untuk berpamitan, mereka menyampaikan salam untukmu dan Severus."
"Ooh.." jawab Harry singkat. Setelah itu mereka terdiam lama, ada sedikit kekakuan dari hubungan yang baru ini tapi Draco tetap bersabar, dia tak mau memaksa Harry lagi, biarkan semua mengalir seperti air.
.
.
Pagi ini semua murid sudah sibuk dengan persiapannya untuk menghabiskan liburan natal bersama keluarga tercinta. Draco dan Harry melepas teman-temannya di depan gerbang Hogwarts.
"Sampai jumpa setelah liburan, Harry," kata Hermione sebelum mereka pergi, gadis cantik berambut coklat itu memeluk Harry erat lalu mencium pipinya, setelah itu dia melakukan hal yang sama pada Draco dan diikuti Pansy.
"Jaga sikapmu, Draco," ancam Pansy.
Draco melotot pada sahabatnya itu, "Apa maksudmu?" tanyanya ketus yang disambut tawa yang lain, kecuali Harry tentunya, dia sibuk memalingkan wajahnya yang memerah.
Suasana langsung berubah sepi saat rombongan teman-teman mereka yang merupakan rombongan terakhir telah pergi meninggalkan gerbang sekolah.
"Aku akan sangat merindukan mereka," kata Harry pelan.
Draco memeluk pinggang Harry dari belakang dan mengecup belakang telinganya, "Tapi setidaknya kau tak akan merindukanku, Harry," goda Draco.
Jantung Harry berdetak kencang, dia melepaskan tangan Draco yang melingkar di pinggangnya lalu berjalan meninggalkan pemuda yang menyeringai itu dengan wajah memerah.
Draco tertawa dan menggeleng, "Dasar keras kepala, belum mau menyerah juga rupanya."
.
"Dad, sebenarnya sudah berapa tahun rumah ini tak kau bersihkan? Parah sekali," gerutu Harry begitu mereka tiba di Spinner End's.
"Tak usah mengeluh atau aku akan menempatkan kasurmu di halaman belakang," ancam Severus.
Draco hanya bisa melongo melihat kondisi rumah ini, "Boleh ku panggil Dobby ke sini?" tanyanya pelan.
"Juga Kreacher?" sambung Harry.
Severus berdecak mendengar nama dua peri rumah itu disebutkan didepannya, "Pemalas," sungutnya, "Terserah kalian asal rumah ini tak tampak semakin parah dari keadaan semula," jawab Severus.
Tanpa diperintah Harry dan Draco memanggil peri rumah mereka. Dobby adalah peri rumah keluarga Malfoy yang berjasa dalam menyelamatkan hidup Harry saat disekap di Manor dulu, hampir saja Dobby terbunuh karena tindakannya. Sedangkan Kreacher adalah peri rumah keluarga Black, Sirius memberikan peri rumah itu pada Harry beserta rumah peninggalan keluarga Black, Grimmauld Place. Harry tak pernah menempati rumah itu, banyak kenangan buruk terjadi disana.
.
Memasuki sore hari akhirnya pekerjaan itu selesai juga, Dobby dan Kreacher sudah menyiapkan air mandi untuk semuanya. Kamar pun sudah di bagi, Harry dan Draco menempati kamar yang bersebelahan di lantai atas.
Karena kepalanya belum sembuh benar Draco kembali merasa pusing, dan dia memutuskan untuk merebahkan tubuhnya sebentar setelah mandi.
Suara ketukan di pintu mengejutkannya, malas mencari tongkat sihirnya dia pun berteriak, "Masuklah."
Pintu kayu itu terbuka pelan, Harry masuk dan mendekati Draco yang terbaring, "Makan malam sudah siap, Dad menunggu di bawah," katanya.
Draco berusaha bangun dari tidurnya tapi pusing itu kembali dirasanya.
Harry cemas melihat Draco yang mengernyitkan keningnya, dia langsung duduk di samping Draco, "Apakah sakitnya terasa lagi?" tanya Harry sambil memegang bahu Draco, "Sebaiknya kau berbaring saja, akan aku mintakan ramuan pada Dad." Setelah itu pemuda berkaca mata itu melangkah keluar.
Tak seberapa lama Harry kembali dengan membawa sepiring makan malam dan segelas cokelat hangat. Dia melihat Draco tengah memejamkan matanya. Dengan perlahan dia meletakkan piring dan gelas di meja kecil di samping tempat tidur lalu kembali duduk di samping Draco dan mengusap rambut pirang halus itu dengan lembut.
"Harry," bisik Draco dengan masih memejamkan matanya.
"Maaf aku membangunkanmu," jawab Harry pelan.
Draco membuka matanya, "Aku belum tidur, hanya memejamkan mata sebentar."
Harry tersenyum, "Makanlah dulu, aku membawakannya untukmu," kata Harry.
Draco berusaha bangun dengan bantuan Harry lalu bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya yang telah ditata Harry sedemikian rupa.
Harry meletakkan piring di pangkuan Draco, dia melihat Draco agak lemas menggerakkan tangannya untuk memasukkan suapan ke mulutnya. Dengan lembut dia mengambil sendok dari tangan Draco, "Biar aku bantu," kata Harry.
Draco tersenyum, "Aku bersedia terus sakit kalau kau bisa begini lembut padaku," goda Draco pelan.
Wajah Harry memerah, "Diamlah," jawabnya agak ketus, lalu dia mulai membantu Draco menghabiskan makanannya.
Pintu kamar terbuka pelan, "Kau sudah selesai makan, Draco?" tanya Severus yang membawa satu gelas di tangannya.
"Sudah," jawab Draco sambil memandang Harry yang sibuk membereskan bekas makannya.
"Kalau begitu setelah meminum ini kau bisa segera tidur," kata Severus sambil mengulurkan gelas yang dipegangnya. Draco menerima itu dan menghabiskannya sekali teguk.
"Thanks, Sev," katanya sambil mengulurkan gelas kosong itu pada Harry yang berdiri di sampingnya.
.
Sampai tengah malam Harry tak juga bisa memejamkan mata, dia gelisah memikirkan Draco yang kini berada di sebelah kamarnya. 'Apakah dia sudah tidur? Apakah dia baik-baik saja? Apa kepalanya masih sakit?', pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepalanya.
Tak mau terus penasaran Harry pun keluar dari kamarnya menuju kamar Draco. dibukanya pintu kayu itu dengan pelan tanpa menimbulkan suara. Dia tercekat saat Draco ternyata belum tidur dan sedang memandangnya. Bibir pemuda berambut pirang itu tersenyum dan dia mengulurkan tangannya pada Harry.
Harry mendekat pada Draco menyambut uluran tangan itu dan duduk di sampingnya, "Kenapa belum tidur?" tanya Harry pelan.
"Kau juga belum tidur," jawab Draco sambil meremas tangan Harry yang terasa hangat.
Harry terdiam sebentar, "Aku mengkhawatirkan keadaanmu," jawabnya kemudian.
Draco mencium tangan Harry yang bergetar, "Thanks, aku baik-baik saja, hanya…" katanya menggantung.
"Hanya apa?" tanya Harry penasaran.
Draco kembali membawa tangan Harry ke bibirnya, "Hanya merindukanmu," katanya menggoda.
Wajah Harry kembali memerah, "Sampai kapan kau mau terus menggodaku, Draco?' tanya Harry masam.
Draco terkekeh, "Siapa yang menggodamu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya," jawab Draco santai.
Harry menarik tangannya dari genggaman Draco, "Tidurlah, sudah larut malam," perintah Harry sambil berdiri.
Draco memandangnya tajam, "Kau tak mau tidur disini menemaniku?" tanyanya.
Kali ini Harry tak melihat nada menggoda pada suara dan sorot mata Draco, "Tidak," jawabnya singkat tapi lembut.
"Apakah ciuman selamat malam juga tak ada?" tanya Draco lagi.
Harry berdecak, "Banyak sekali permintaanmu, Draco?" sergah Harry. Tapi Draco tak tertawa, dia terus memandang Harry dengan hangat. Dada Harry bergemuruh kencang, dia ingin menolak tapi dia juga merindukan sentuhan Draco, dia ragu harus bagaimana menanggapi permintaan pemuda yang selalu mengganggu malam-malamnya itu.
Akhirnya dia menyerah pada hatinya, dia kembali mendekat pada Draco, menundukkan tubuhnya dan menempelkan bibirnya pada bibir tipis pemuda bermata abu-abu itu. Niat untuk hanya memberinya kecupan kalah oleh debar jantungnya dan menari kencang, Harry pun menuntut lebih.
Draco tersenyum, dia membalas ciuman Harry dengan dalam dan panas, melumat bibir merah itu dengan bibirnya. Otaknya hilang akal saat mendengar erangan Harry ketika lidahnya menerobos masuk ke dalam mulutnya dan membelai apa saja yang ditemuinya di sana.
Draco bisa merasakan tubuh Harry yang bergetar hebat, tak mau pemuda itu merasa takut lagi dia pun melepaskan ciumannya dan memeluk Harry erat, "Tidurlah, aku tak mau lepas kendali lagi, love," bisik Draco.
Harry menunduk sambil mengangguk pelan, dia melangkah keluar kamar Draco. sampai didepan pintu dia bersandar di dinding. Andai ada teman-temannya pasti mereka akan tertawa sampai pingsan melihat wajah Harry yang benar-benar merah saat itu, untung saja tadi lampu di kamar Draco sedikit redup.
Harry tersenyum sendiri, ada sedikit rasa kecewa saat Draco mengakhiri ciumannya tadi.
.
Dua burung hantu masuk dari jendela ruang depan yang terbuka lebar dan masing-masing hinggap di lengan Harry dan Draco yang saat itu tengah duduk di meja makan bersama Severus.
Dengan heran kedua pemuda itu mengambil surat yang dibawa oleh burung yang tak mereka kenal itu yang langsung kembali terbang tanda kalau mereka tak menunggu balasan, lalu Harry dan Draco membacanya secara bersamaan. Selesai membaca mereka saling berpandangan dengan sorot mata yang masih tampak bingung.
"Adakah yang ingin menjelaskannya padaku?" tanya Severus.
Harry mengulurkan surat tersebut pada ayahnya agar Severus membacanya sendiri.
Dengan ekspresi datarnya Severus membaca surat yang diulurkan Harry,
Kepada Yth,
Mr. Harry Potter
Bersama dengan ini saya selaku kepala departemen Auror yang mewakili kepala kementrian sihir, meminta dengan hormat kepada Mr. Harry Potter untuk bersedia bergabung bersama kami di departemen Auror dan menjalankan tugas-tugas kementrian sebagai anggota junior setelah lulus dari Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry.
Gawain Robards
Severus melipat surat itu dan menyerahkannya kembali pada Harry, "Kau juga mendapat tawaran sebagai Auror, Draco?" Tanya Severus.
Draco memandang Harry yang juga sedang memandangnya, lalu pemuda berambut pirang itu mengangguk.
"Lalu, bagaimana keputusan kalian?" Tanya Severus lagi.
Harry tersenyum, "Aku akan menerima ini, Dad, aku ingin mengikuti jejak ayahku sebagai Auror," jawab Harry mantap.
Severus mengangguk pelan, "Aku mengerti, Harry," katanya lalu memandang Draco.
Draco terdiam sebentar, "Aku harus membicarakan ini dengan Dad dulu," jawabnya pelan.
.
"Sejak surat tadi datang aku melihat kau berubah jadi diam, Draco, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Harry saat mereka sedang duduk berdua di kamar Draco. Severus telah mengurung diri diruang kerjanya.
Draco bersandar pada kepela tempat tidur, padahal tadi pagi kondisinya sudah membaik tapi kedatangan surat itu membuatnya kembali pusing.
"Draco," panggil Harry pelan sambil duduk di tepi tempat tidur menghadap pemuda berambut pirang itu, "Kau baik-baik saja?" tanya Harry cemas.
Draco tersenyum samar, dia meraih tangan Harry dan meletakkannya di dadanya, "Aku iri padamu, Harry," jawab Draco pelan, dia melihat kening Harry yang berkerut tanda pemuda itu bingung dengan apa yang diucapkan Draco. "Aku iri karena kau bisa memutuskan sendiri semua yang ingin kau lakukan untuk hidupmu, dan aku iri kau mendapatkan sosok ayah seperti Severus," terang Draco.
Harry menatap mata abu-abu Draco, "Kau juga bisa melakukan itu, Draco, bukankah hanya kita yang tahu apa yang terbaik untuk hidup kita?" hibur Harry, "Severus selalu mengatakan itu padaku."
Draco mengelus tangan Harry yang digenggamnya di dadanya, "Kau tahu bagaimana orang tuaku, banyak aturan yang harus aku lakukan demi nama 'bangsawan' keluarga kami," jawab Draco sinis.
Harry bisa melihat bagaimana ekspresi Draco yang muak begitu menyebutkan kata 'bangsawan', entah kenapa saat itu hatinya menjadi berdebar tak tenang. Tentang hal yang positif seperti pekerjan saja Draco masih harus meminta pertimbangan orang tuanya apalagi hal yang menyangkut hubungan mereka nanti.
Seakan mengerti apa yang dipikirkan Harry Draco pun mengecup tangan Harry, "Kalau masalah hatiku tak ada seorangpun yang berhak mengaturnya, Harry," kata Draco menenangkan, "Aku tak akan melepasmu apapun yang terjadi, aku bersumpah."
Harry menggeleng cepat, "Jangan pikirkan hal itu, pikirkan saja dirimu sendiri dulu," jawabnya pelan sambil menarik tangannya dari genggaman Draco.
Draco mengeluh, dia yakin kalau saat ini Harry kembali ragu memutuskan tentang hubungan mereka, "Harry, dengar aku..."
"Sudahlah Draco, ada banyak hal yang harus kita pikirkan terlebih dahulu," potong Harry, "Lupakan dulu masalah perasaan yang tidak jelas ini."
"Apa katamu?" tanya Draco dingin, "Tidak jelas? Tidak jelas untuk siapa?" tanyanya lagi, "Aku selalu yakin pada perasaanku sejak dulu, Harry, dan sekarang kau bilang itu tidak jelas?"
"Draco, bukan maksudku..."
"Kau bilang kau akan mulai lebih mempercayaiku lagi, Harry," potong Draco dengan dingin.
Harry terdiam, memang dia telah memutuskan untuk kembali mempercayai Draco dan memikirkan lagi hubungan mereka untuk kedepannya. Tapi masalah orang tua Draco yang terlalu kaku dengan peraturan 'kebangsawanannya' membuat Harry kembali bimbang.
"Keluarlah, aku ingin sendiri saja," kata Draco sambil memegang kepalanya.
Harry tak menjawab, dia tetap di tempatnya sampai akhirnya dia memutuskan pergi setelah tak tahu harus berbuat apa lagi.
.
"Kemana Draco? Dia tak kelihatan sejak tadi siang?" tanya Severus saat makan malam.
Harry menunduk, "Dia ada di kamarnya," jawabnya pelan.
Severus memandang putranya yang tertunduk lesu, "Ini malam natal, Harry."
Harry memandang ayahnya dan tersenyum samar, "Ya, setelah ini aku akan berbicara dengannya. Banyak yang harus kami selesaikan."
Severus mengangguk pelan.
.
"Aku bawakan kau makan malam, Draco," kata Harry pelan sambil menutup pintu di belakangnya. Dia meletakkan piringnya di meja kecil di sebelah tempat tidur Draco.
Draco tak menjawab, dia tetap duduk di sofa tunggal yang menghadap jendela.
Harry bingung harus bersikap bagaimana, dia melihat sorot abu-abu itu begitu terluka dan tampak gurat kesedihan di sana. 'Draco sudah cukup tertekan oleh keluarganya, tak seharusnya aku menambah beban yang telah dia pikul selama ini', batin Harry.
Perlahan Harry mendekati pemuda berambut pirang itu dan duduk di lengan sofanya, tangannya melingkar di bahu Draco, dia mengecup rambut pirangnya, "Maafkan aku," bisik Harry.
Draco mengusap lengan Harry yang melingkar di lehernya, "Aku tak pernah menyalahkanmu, Harry," jawab Draco pelan, "Aku tak menyalahkan keraguanmu tentang hal ini, aku hanya bersikap sesuai dengan apa yang aku rasakan terhadapmu."
"Aku tahu, Draco, tak seharusnya aku selalu menyiksamu seperti ini, maafkan aku," kata Harry lagi.
Draco mendongakkan kepalanya dan menatap mata emerald Harry, "Aku menyayangimu, Harry, lebih dari diriku sendiri."
"Aku tahu," bisik Harry, "Tapi aku..."
"Aku tak akan memaksamu, tak akan pernah lagi. Kau memiliki banyak waktu untuk memikirkan ini, karena aku akan selamanya bersamamu," jawab Draco.
Harry tersenyum, "Thanks, Draco," bisiknya. Dia membiarkan saja saat tangan Draco menarik lehernya dan mencium bibirnya. Dadanya berdebar kencang, dia menikmati semua kemesraan yang diberikan Draco, mencecap semua rasa yang mampu membuatnya melambung.
"Bolehkah malam ini aku menemanimu disini?" tanya Harry pelan saat Draco melepaskan ciumannya untuk mengambil nafas.
Draco melebarkan matanya, "Kau yakin?" tanya Draco ragu.
Harry mengangguk pelan.
Draco kembali menenggelamkan bibir Harry dalam satu ciuman yang kuat, erangan Harry membuatnya semakin bersemangat. Dengan nekat dia mencium leher Harry yang terbuka, membelai rahang atasnya dengan bibirnya yang hangat.
"Draco," desah Harry yang langsung mencengkeram erat lengan Draco.
Draco bisa merasakan tubuh Harry yang mulai gemetar. Perlahan dia berdiri dan memeluk lembut tubuh Harry, "Kau tak takut aku menyerangmu lagi?"
Harry menyandarkan kepalanya di bahu Draco, "Aku percaya padamu," jawabnya.
Dada Draco terasa hangat, begitu hangat, "Kalau begitu biarkan aku menghabiskan makan malamku dulu, ok?" tanya Draco.
Harry tertawa pelan, "Makanlah, aku harus menemui Dad dulu, tadi dia menanyakan keadaanmu," jawab Harry lalu melangkah pergi meninggalkan Draco yang tersenyum padanya.
.
'Ini gila, sungguh gila, bagaimana mungkin aku menawarkan diri menemaninya malam ini? Bagaimana kalau dia mengingkari janjinya dan menyerangku lagi? Bagaimana bisa aku mempercayainya secepat ini?', perang batin Harry.
"Kau tahu, Son, lama-lama aku melihatmu seperti korban kecupan Dementor," suara Severus mengejutkannya yang sedang melamun di sofa besar di depan perapian.
"D-Dad, apa maksudmu?" tanya Harry gugup sambil berdiri.
Severus menatapnya tajam, "Wajahmu saat melamun benar-benar mengerikan," jawabnya datar.
Harry tersenyum kecut, "Tidak, aku hanya..."
"Tidurlah, malam sudah semakin larut dan bertambah dingin," perintah Severus.
Harry mengangguk, "Ok, Dad, g'nite," pamit Harry yang langsung melangkah ke lantai atas. Setelah mengganti bajunya dengan piyama dia menuju ke kamar Draco. Harry menarik nafas panjang sebelum membuka pintu kamar Draco, 'Tidak apa-apa, tak akan terjadi apa-apa', yakin Harry dalam hati dan mulai membuka pintu kayu itu perlahan.
"Kau sudah tidur?" tanya Harry pelan, lampu kamar Draco tak dinyalakan, sinar hanya datang dari jendela yang tirainya terbuka. Dia melihat Draco sudah berbaring di tempat tidurnya dengan selimut yang menutupi batas pinggangnya, tiga kancing teratas piyamanya dibiarkan terbuka. Harry menelan ludahnya melihat pemandangan yang begitu indah itu, tubuh pucat Draco yang bermandikan sinar bulan, dan mata abu-abunya yang memandang tajam kearahnya.
"Kemarilah," panggil Draco, dia menyingkap selimutnya dan merentangkan satu lengannya kesamping.
Saat itu Harry merasa begitu yakin kalau bersama Draco saat ini adalah sesuatu yang benar. Perlahan dia naik ke atas tempat tidur dan merebahkan kepalanya di lengan Draco, memiringkan tubuhnya dan memeluk pinggang ramping pemuda berambut pirang itu.
Mereka memandang salju yang turun perlahan dari jendela kaca yang terbuka, rasanya begitu tenang, begitu damai.
"Merry Christmas, love," bisik Draco sambil mendongakkan wajah Harry supaya memandangnya.
Harry tersenyum sambil menegakkan bahunya sedikit, "Merry Christmas, Draco," jawabnya lalu memberanikan diri untuk mencium bibir tipis itu. ciuman kali ini terasa begitu lembut dan terasa hangat, dada Harry membuncah oleh satu rasa yang mengikat jiwanya.
Draco memeluk pinggang Harry dengan erat dan mengusap punggung Harry yang bergetar halus. Bibirnya terus mencecap rasa bibir Harry yang selalu membuatnya serasa gila, "I love you, Harry," bisik Draco saat dia mengakhiri ciumannya.
Harry mengusap bibir Draco yang memerah, "I love you too, Draco," jawabnya pelan.
Usapan Draco di punggung Harry terhenti, tangannya yang memeluk pinggang Harry pun menegang, "Apa katamu?" tanyanya tak percaya.
Harry tersenyum, "I love you too, Draco," ulangnya lebih keras, dia tertawa pelan melihat ekspresi Draco yang menurutnya sangat aneh itu, "Kau tak percaya padaku?" tanya Harry kali ini.
Draco menggeleng pelan, "Oh, Harry, ini natal terindah untukku," jawab Draco sambil kembali mencium bibir Harry. Mereka kembali hanyut dalam satu rasa yang memabukkan.
Harry mendesah pelan saat Draco memisahkan bibirnya, pemuda berambut hitam itu kembali merebahkan kepalanya di lengan Draco dan kembali memeluk pinggangnya, "Maaf, aku tak menyiapkan hadiah natal untukmu," kata Harry pelan sebelum memejamkan matanya.
Draco mengecup rambut Harry, "Kau adalah hadiah yang aku inginkan, love, g'nite," bisik Draco yang memejamkan matanya bersama kekasihnya yang berada di pelukannya.
Bersambung lagiiiiiiii...
A/N.
Akhirnyaaaaaaa, maafkan aku kalau chap 5 ini belum sempurna. Andai kalian tahu sekuat apa aku menahan diri untuk tak membuat lemon #plak.
Thanks 4 Aicchan n Putry yang berhasil menaklukkan naluri M ku, hehehe berhasil juga kan tanpa lemon XD RITSU...I MISS YOU...*hug*
Ness... seperti katamu, aku tak mati ide hanya terperangkap dalam ruang tak berpeta *hhh... bahasamu...*
Makasih buat aku ga punya nama (kapan dong punya nama? Ayo kenalan), Chiho, Naka-Hyuu (knp akunnya ga bisa di reply?), Ayu, Mell and Vii. Makasih juga yang udah nge-fave, pokoknya makasih makasih makasih bangeeeeet *hug semua*
Untuk chap 6 aku ga bisa janji apdet cepet ato lama, kita liat aja ya.
O iya, kemaren belum ngucapin met puasa,Shanty mohon maaf kalau ada sesuatu yang pernah bikin para readers kecewa n sakit ati, maap yaaaa, byebye...
