DILEMMA
CHAPTER 6
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon
.
#
.
Liburan natal dan tahun baru telah usai, seluruh murid telah kembali ke sekolah dan malam ini mereka tengah berkumpul di aula besar untuk makan malam.
"Bagaimana, mate? Ada kemajuan tidak?" tanya Ron pada Harry.
"Apa maksudmu?" tanya Harry pura-pura tak mengerti.
Ron tertawa sedangkan Hermione hanya menyeringai saja sambil menggelengkan kepalanya, "Kau tahu apa yang aku maksud, mate," kata Ron.
Harry meletakkan sendoknya dan meminum jus labunya, "Maksudmu aku dan Draco?" tanya Harry meyakinkan dirinya sendiri.
Ron dan Hermione mengangguk cepat.
Harry melihat sosok yang sedang mereka bicarakan menuju kearahnya, "Hai," sapa Draco yang langsung duduk di sebelah Harry dan mulai mengambil makan malamnya. Saat ini tak ada yang peduli di meja asrama mana mereka duduk, semua berbaur menjadi satu setelah perang besar berakhir.
"Tanyakan sendiri pada yang bersangkutan," jawab Harry sambil mengarahkan dagunya pada Draco yang memandangnya heran.
"What?" tanya Draco pada Harry.
"Aku tanya bagaimana kelanjutan hubungan kalian?" tanya Ron penasaran.
Draco menyeringai kearah Harry, "Dia milikku," jawabnya mantap.
Ron dan Hermione langsung tersedak oleh jus labu yang mereka minum, "Kau serius?" tanya gadis berambut coklat itu tak percaya.
Draco menganggukkan kepalanya dan melirik pada Harry yang memalingkan wajahnya ke arah lain, bisa dilihat dengan jelas wajahnya yang memerah, dan Draco terkekeh menyadari itu.
"Apa yang kau lakukan sampai Harry mau menerimamu, Draco?" tanya Ron lagi.
Draco mendengus, "Jangan ragukan kemampuan seorang Malfoy, Ron!" jawab Draco penuh percaya diri.
Tak lama kemudian Blaise, Theo dan Pansy bergabung bersama mereka. "Hei, kalian sudah mendengar gosip baru?" tanya Ron.
Trio Slytherin itu tertawa, "Kalau yang kau maksud adalah Harry dan Draco kami sudah dengar," jawab Pansy yang duduk di depan Harry.
Harry mendengus, "Bagus, sebarkan saja ke seluruh murid supaya lebih panas lagi gosipnya," gerutu Harry.
"Akan kulakukan, Harry," goda Theo yang disambut tawa teman-temannya, sedangkan Harry hanya diam saja karena dia tahu kalau dia tak akan menang melawan mereka.
Tiba-tiba seorang gadis asia dari asrama Ravenclaw menghampirinya, "Mmmh, Harry, boleh aku bicara sebentar denganmu?" tanyanya gugup.
Harry memandang gadis yang dulu sempat menarik perhatiannya itu, sebelum dia menjalin hubungan dengan Ginny , adik Ron, dan putus hampir dua tahun yang lalu, "Ada perlu apa, Cho?" tanya Harry pada gadis yang bernama Cho Chang tersebut.
Gadis asia itu tampak semakin gugup, "Hanya sebentar, aku ingin bicara denganmu."
Harry memandang teman-temannya yang terlihat bingung, lalu dia menatap Draco yang tersenyum sinis. Dia menghela nafas panjang, "Baiklah," jawabnya akhirnya lalu mengikuti gadis itu yang sudah berjalan mendahuluinya.
"Draco, sebaiknya kau ikuti saja mereka, jangan sampai Harry tertarik lagi pada gadis itu," goda Theo yang mendapatkan pelototan sadis dari teman-temannya, dia hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Biarkan saja, mungkin Chang ingin membicarakan sesuatu yang pribadi pada Harry," jawab Pansy, "Tapi Harry itu tipe orang yang tak bisa menolak, aku jadi khawatir," kata Pansy lagi sambil melirik kearah Hermione yang mengangguk sambil terkikik.
Draco membanting serbet makannya lalu berdiri dan berjalan cepat mengikuti Harry, dia tak peduli mendengar tawa teman-temannya yang menggodanya.
.
"Maaf, aku hanya ingin memberikan ini padamu, Harry," kata Cho sambil menyerahkan sesuatu yang terbungkuskertas merah berpita hijau. Mereka berdua berdiri berhadapan di koridor samping yang sepi.
Harry menerimanya dengan heran, "Apa ini?" tanyanya.
Gadis berambut hitam lurus itu menunduk, "Itu hadiah natal untukmu, maaf terlambat," jawabnya lirih.
Harry menimbang bungkusan itu dengan ragu, "Thanks," jawabnya.
"Harry, k-kalau boleh aku bertanya apa... apa kau... masih berhubungan dengan Ginny Weasley?" tanyanya cepat sambil melihat ke arah lain untuk menyembunyikan rona merah di pipinya yang putih.
Harry menggeleng, "Tidak, aku dan Ginny sudah lama putus, semua orang tahu kalau sekarang dia menjalin hubungan dengan Neville," jawab Harry.
Cho Chang mengangguk mengerti, "Lalu... a-apa kau sudah mendapatkan penggantinya? M-maksudku aku... aku masih menyukaimu, Harry," kata gadis itu semakin gugup.
Harry terperangah, dia tak menyangka kalau gadis itu akan mengatakan hal itu padanya,
"Maaf kalau kau jadi bingung karena ini lebih baik tak usah kau jawab," kata gadis itu sambil bersipa-siap pergi meninggalkan Harry.
"Cho..." panggil Harry yang menghentikan langkah Cho Chang dan membuat gadis itu berbalik lagi menghadapnya.
"Maafkan aku, ada seseorang yang sangat aku cintai saat ini," jawab Harry cepat, "Dan… aku tak ingin kehilangan dia, maafkan aku, Cho," kata Harry mantap, entah kenapa saat itu dia seperti telah mengatakan apa yang seharusnya dia katakan, dan itu membuat hatinya menjadi sangat lega.
Gadis itu tertegun, dia melihat mata hijau Harry berbinar begitu terang, belum pernah dia melihat mata emerald Harry bersinar sehangat itu, bahkan tidak begitu pada saat pemuda itu mengajaknya ke pesta dansa di tahun keempat mereka. Cho Chang lalu tersenyum kecil, "Thanks, Harry," katanya sambil berlalu dari hadapan Harry.
Harry memandang punggung Cho Chang yang menjauh, dia tercekat saat sebuah lengan memeluk pinggangnya, "Aku senang mendengar itu," bisik Draco di telinga Harry.
Harry membalikkan badannya dengan cepat, "Kau... kenapa kau menguping?" tuduh Harry kesal, "Sejak kapan kau..."
Kata-katanya menghilang saat Draco menariknya mendekat dan mencium bibirnya dengan kuat, kakinya melemas, dia hanya bisa mencengkeram bagian depan jubah Draco agar tak terjatuh. Kepalanya terasa pusing dan berputar setiap kali Draco menyentuhnya dengan begitu intim, tubuhnya memanas meminta lebih. Harry mengerang saat dia merasa gairah mulai membayanginya.
Draco melepaskan bibirnya, "Kau tak akan pernah aku berikan pada siapapun, Harry, ingat itu," ancam Draco dengan lembut.
Harry tersenyum, "Kau yakin?" tanyanya pelan, "Bagaimana kalau ternyata aku lah yang melarikan diri darimu?"
Draco menarik kerah baju Harry supaya mendekat, bibirnya hanya berjarak beberapa senti dari bibir pemuda bermata hijau itu, "Lebih baik aku kehilangan seluruh ingatanku akan kau, Harry, karena aku tak ingin hidup dengan mengingatmu tapi tak bisa memilikimu, aku bersumpah," desis Draco.
Harry kembali tersenyum dan langsung mencium bibir tipis Draco, lengannya di kalungkan di leher kekasihnya yang di balas Draco dengan pelukan di pinggangnya. Pagutan demi pagutan mendominasi ciuman mereka. Harry kembali merasakan tubuhnya memanas dan bergetar menahan gejolak gairahnya yang melonjak tinggi, "Draco," bisiknya.
Draco tak menjawab, dia menatap tajam mata hijau Harry.
Harry menelan ludahnya saat jemari panjang Draco membelai belakang leher dan punggungnya, "Draco, aku... aku..."
Draco kembali menyekap bibir Harry dengan satu ciuman yang dalam, tangannya menahan dua sisi wajah Harry agar pemuda itu tak bergerak dan menerima semua yang dia berikan pada bibirnya.
Harry kembali mengerang saat bibir Draco terus menyerang dan mendominasi bibirnya dengan kecupan-kecupan panas. Tangannya mencengkeram lengan Draco saat pemuda itu mulai membelai lekuk lehernya dengan ciumannya, "Draco, I want you," erangnya dengan suara parau.
Draco tersenyum di leher Harry, perlahan dia mengangkat wajahnya dan kembali mengecup bibir Harry yang sedikit membengkak dan terasa panas, "Aku pun menginginkanmu, Harry, tapi tidak sekarang," bisiknya di telinga pemuda berkacamata itu yang membuat tubuh Harry meremang merasakan sensasinya.
"Kenapa?" tanya Harry tak sadar karena kepalanya masih diselimuti oleh gelombang gairah akibat ciuman Draco tadi.
Draco terkekeh, "Tidak sekarang, karena aku tak ingin membuatmu takut lagi," jawabnya.
Mendadak wajah Harry memerah mengingat permintaannya yang diluar batas logikanya itu, "A-aku... tidak, maksudku..." kata Harry tergagap, dia berusaha menghilangkan rasa malunya karena ternyata Draco menolaknya.
Draco memeluk Harry sambil tertawa pelan, "Aku tahu, Harry, percayalah aku pun menginginkanmu, sangat menginginkanmu. Hanya saja saat ini aku tak ingin melukaimu lagi," terangnya menghibur Harry.
Harry mengangguk dan menyembunyikan wajahnya di bahu Draco.
"Sekarang kuantar kau kembali ke asrama dan beristirahatlah," kata Draco.
Harry menggeleng, "Aku kembali sendiri saja, kau juga beristirahatlah," jawabnya pelan sambil mencium sekilas pipi Draco, "G'nite," pamitnya.
"G'nite," jawabnya sambil menatap punggung Harry yang menjauh, "I love you," bisiknya pada kesunyian malam.
.
Harry mengguyur tubuhnya di bawah siraman air shower yang dingin, dia berusaha meredakan panas tubuhnya akibat gairah yang menggulungnya karena Draco tadi. Tapi setiap kali dia mengingat ciuman dan sentuhan Draco panas tubuhnya kembali naik, Harry nyaris gila merasakan reaksi tubuhnya terhadap pemuda berambut pirang itu. 'Brengsek, kenapa aku harus selalu mengingatnya?' batin Harry.
"Kau baik-baik saja, mate?" tanya Ron saat Harry baru saja keluar dari kamar mandi.
Harry mengusap rambutnya yang basah dengan handuk dan memandang Ron dengan heran, "Baik, kenapa?"
Ron melihat jam kecil diatas mejanya, "Ini sudah begitu larut dan kau mengguyur kepalamu dengan air, yakin kau ok?" tanyanya lagi.
Harry menjemur handuknya di depan perapian lalu menghempaskan tubuhnya di tempat tidur, "Tak apa, hanya merasa sedikit panas," jawabnya.
Ron melongo sambil memandang keluar jendela dimana salju masih turun walau tak selebat natal kemarin. Pemuda berambut merah itu menggaruk kepalanya yang tak gatal, "Dasar aneh," gerutunya.
Harry tak mempedulikan omelan Ron, dia membalik tubuhnya menghadap dinding dan berusaha keras memejamkan matanya. Dan sekali lagi dia menyesal karena di dalam mimpinya kali ini pun Draco tetap menggodanya.
.
.
Bulan demi bulan berlalu, dimana murid tingkat akhir mulai mempersiapkan diri untuk ujian kelulusan mereka.
"Setelah lulus nanti apa rencanamu, Harry?" tanya Pansy disaat kelompok mereka sedang bersantai di tepi danau.
Harry menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, "Aku akan tetap masuk sebagai anggota junior departemen Auror seperti yang pernah ditawarkan padaku," jawab Harry.
"Aku juga," sahut Ron yang saat natal lalu menerima surat yang sama dari kementrian seperti yang diterima Harry dan Draco.
"Kalau kau, Draco?" tanya Pansy lagi.
Draco merebahkan tubuhnya disamping Harry, "Aku juga akan bergabung bersama Harry dan Ron," jawabnya.
Harry memandang kekasihnya yang memejamkan mata itu, beberapa waktu yang lalu Draco sudah mendiskusikan hal itu pada orang tuanya dan ternyata Mr. Malfoy menyetujui pilihan putra mereka.
Harry tersenyum mendengar pilihan teman-temannya setelah lulus nanti. Hermione dan Pansy dipastikan akan magang di departemen hukum, sedangkan Theo dan Blaise akan bergabung di departemen olah raga sihir.
"Setelah kau lulus dimana kau akan tinggal, mate? Apakah di Grimmauld Place?" tanya Ron.
Harry menggeleng, "Aku akan menyewa sebuah Flat yang letaknya tak berjauhan dengan kantor kementrian, dan mungkin sesekali pulang ke Spinner End's untuk sedikit merawat rumah yang ... err... agak sedikit kacau itu," jawabnya sambil mengernyit.
Draco terkekeh disebelahnya dengan masih memejamkan matanya. Pemuda berambut pirang itu teringat akan kondisi rumah Severus saat pertama kali dia datang kesana bersama Harry.
"Aku juga akan menyewa sebuah Flat, kau juga begitu kan, Mione?" tanya Pansy pada sahabat perempuannya itu.
Hermione mengangguk, "Lebih baik kita menyewa Flat di gedung yang sama saja, Bagaimana, Harry? Pans? Pasti lebih seru kalau kita masih bisa bersama," kata gadis itu dengan antusias yang disambut anggukan setuju Pansy.
"Lebih baik lagi kalau di lantai yang sama," sambung Pansy gembira.
Harry akhirnya mengangguk, "Tak masalah, kalau begitu aku titip kalian saja ya, biasanya perempuan lebih jeli dalam memilih sesuatu," jawab Harry.
"Kami juga," kata Theo tiba-tiba, "Kami juga bermaksud menyewa satu Flat bersama."
"Bagus, pasti akan lebih seru," teriak Pansy, "Aku yakin, Draco pasti iri," goda Pansy.
Draco membuka matanya dan duduk sambil menyeringai, "Iri? Tidak juga," jawab pemuda itu, "Aku bisa kapan saja menginap di tempat Harry, bukan begitu, Harry?" tanya Draco menggoda.
Wajah Harry yang memerah dan salah tingkah membuatnya kembali menjadi objek olok-olokan teman-temannya.
"Kau jangan ikut menggoda Harry, Ron, aku yakin pikiranmu pun sama denganku," bela Draco sambil melirik Hermione yang wajahnya langsung memerah.
"A-aku... aku tak begitu, Draco, a-aku..." kata Ron gugup dan sekali lagi tawa meledak ditempat itu.
Suasana siang itu menjadi begitu damai, dada Harry menghangat saat dirasanya tangan Draco menggenggam tangannya diantara jubah besar mereka yang menutupi rumput, dia ingin terus seperti ini, selamanya.
.
.
.
Tak ada yang heran saat ketujuh murid yang menjadi pusat perhatian di Hogwarts itu mendapatkan nilai yang cukup memuaskan pada hasil akhir ujian mereka. Ujian yang melelahkan itu telah berakhir, semua murid merayakannya dengan cara masing-masing.
Setelah makan malam Draco menarik tangan Harry supaya mengikutinya, dia tersenyum saat kekasihnya itu tak protes dan menurut.
"Kenapa kau membawaku kesini?" tanya Harry saat mereka berhenti di depan pintu menara astronomi. Hatinya kembali gelisah mengingat kejadian yang dulu.
Draco tersenyum, "Percayalah padaku, aku telah berjanji tak akan memaksamu dan tak akan melukaimu lagi, Harry."
Harry terdiam sebentar, lalu dia mengangguk dan dengan langkah ragu mengikuti Draco yang masuk terlebih dahulu ke dalam menara itu. Tubuhnya menegang dan wajahnya memucat, saat ini dia memang sangat mencintai pemuda berkulit pucat itu, tapi tetap saja bayangan masa lalu belum hilang dari kepalanya.
Draco duduk di lantai teras menara dan menyandarkan punggungnya pada pagar besi pembatas yang kokoh. Sosoknya tampak indah dengan siraman sinar perak dari sang bulan. Perlahan dia menoleh pada Harry yang masih berdiri mematung di tengah ruangan. Senyum hangat tampak terukir di bibir tipisnya yang merah, "Mendekatlah," bisiknya sambil mengulurkan tangan pada pemuda berkacamata itu.
Melihat senyuman dan mendengar bisikan mesra Draco membuat hati Harry lebih mantap memutuskan untuk menghampiri kekasihnya itu. Dengan pelan dia duduk dan bersandar pada dada Draco yang hangat. Debaran jantung pemuda berambut pirang itu langsung menyapa punggung Harry dan membuatnya tersenyum.
Tak ada kata-kata untuk melukiskan betapa nyamannya mereka saat itu, hela nafas yang lembut menjadi irama untuk mengiringi perasaan mereka yang melayang bersama dan saling bertautan di bawah langit malam.
Draco mengeratkan pelukannya saat hembusan angin malam mulai terasa kencang dan membuat tubuh Harry sedikit menggigil.
Merasa lebih hangat Harry pun memejamkan matanya.
"Tidurlah, aku akan menjagamu," bisik Draco pelan.
Harry tersenyum, "Aku tak ingin melewatkan saat-saat seperti ini dengan tidur, Draco," jawabnya.
"Kau takut aku menyerangmu lagi?" goda Malfoy junior itu.
Harry tertawa pelan, benar-benar tertawa, saat ini rasanya dia sudah biasa tertawa di sisi Draco, "Dasar bodoh," guraunya.
Draco terkekeh sambil mengecup rambut hitam pemuda dalam pelukannya itu, "Aku ingin membicarakan hal ini dengan Mum dan Dad, bagaimana menurutmu?" tanya Draco lagi.
Harry terdiam, "Tak bisakah itu ditunda?" tawarnya, "Aku ingin menikmati masa-masa ini dulu."
"Apa maksudmu? Aku tak ingin ini berakhir," jawab Draco cepat.
Harry menggeleng, "Bukan, bukan itu maksudku. Aku hanya belum siap untuk mendengar jawaban orang tuamu."
"Mereka akan mengerti, Harry," yakin Draco.
Harry mendesah pelan, "Biarkan kita seperti ini dulu, Draco, kumohon," pinta pemuda bermata hijau itu.
Tak ingin membuat kekasihnya lebih gelisah Draco pun menyetujui permintaannya, "I love you," bisiknya.
Harry mendongakkan wajahnya dan tersenyum, matanya terpejam saat bibir Draco mengecup bibirnya dengan lembut, "I love you too, Draco," jawab Harry.
Draco tersenyum, tak ada lagi yang bisa membuatnya bahagia selain keberadaan Harry dalam pelukannya, begitu pun dengan Harry, semua rasa takutnya dan rasa sepinya hilang saat lengan kokoh Draco melingkari tubuhnya.
.
.
Malam ini adalah makan malam terakhir di Hogwarts, para staff pengajar dan kepala sekolah telah mengucapkan selamat untuk kelulusan para murid tingkat terakhir, banyak murid yang bersedih karena akan berpisah dengan teman-temannya, tapi tidak dengan tujuh orang yang selalu bersama sejak perang berakhir setahun yang lalu, mereka telah menetapkan langkah ke depan, dan dipastikan mereka akan selalu bersama. Diujung meja Gryffindor lah mereka duduk dan merayakan kelulusan mereka.
"Kapan kita akan mulai mencari flat?" tanya Hermione pada Pansy.
Gadis berambut hitam itu mengangkat bahunya, "Aku rasa semakin cepat semakin baik," jawabnya.
"Bagaimana dengan kalian?" tanya Hermione pada Harry, Blaise dan Theo.
"Kalau aku sempat aku akan ikut mencarinya bersama kalian, masalahnya mulai awal bulan depan kami harus langsung melapor ke kementrian," jawab Harry.
"Ooh, departemen Auror tak ingin terlalu lama membuang waktu rupanya," jawab Theo, "Padahal kami semua baru mulai magang dua bulan lagi," sambungnya yang diikuti anggukan semuanya.
"Kalau aku tak bisa ikut akan aku serahkan semua urusan pada kalian," kata Harry memandang kea rah Pansy yang langsung menganggukkan kepalanya.
"Lalu kalau flat belum kita temukan kau akan tinggal dimana, Harry?" tanya Blaise.
"Tentu saja bersamaku," jawab Draco sekenanya, dia hanya menyeringai saat melihat Harry menatapnya dengan pandangan kesal dan malu.
Semua tertawa melihat Harry yang selalu menjadi objek olok-olokan mereka, siapa yang menyangka pahlawan dunia sihir itu justru tak berkutik di tangan Draco dan pasrah menerima segala sesuatu yang bisa membuatnya memerah, 'benar-benar polos', batin kelima sahabatnya itu.
"Aku akan di Spinner End's," jawab Harry.
"Kenapa kau tak ingin pulang ke Grimmauld Place? Sirius telah memberikan rumah itu kepadamu sebagai anak baptisnya, kan?" tanya Ron, "Apa Profesor Snape melarangmu?"
Harry menggeleng, "Aku yang tak mau, rumah itu mengingatkanku akan ayah baptisku dan kenangan-kenangannya," jawab Harry lirih, "Sejak Profesor Snape memintaku memanggilnya 'Dad' maka Spinner End's telah menjadi rumahku juga."
"Apa tak masalah kalau kami mengunjungimu disana?" tanya Pansy.
Harry tertawa, "Tentu saja tak masalah," jawabnya.
"Oh aku lupa menyampaikan sesuatu," seru Ron yang langsung menjadi pusat perhatian teman-temannya.
"What?" tanya Draco.
"Minggu depan ibuku mengundang kalian semua ke The Burrow, termasuk kau juga Pans, Draco, Blaise dan Theo," kata Ron.
"Benarkah?" tanya Pansy tak percaya.
Ron mengangguk mantap, "Kalian semua wajib datang atau ibuku akan terus mengomeliku selama seminggu, berjanjilah," katanya memelas.
Harry tertawa pelan. "Rugi kalau kalian tak datang, karena masakan Mrs. Weasley adalah yang terhebat yang pernah dirasakan lidahku selama ini, percayalah," promosinya, "Bahkan Hermione bisa menghabiskan banyak makanan, bukan begitu, Mione?"
Hermione ikut tertawa dan mengangguk menyetujui kata-kata Harry.
"Sepertinya seru," jawab Pansy, "Aku akan datang, boleh aku berangkat bersamamu, Harry?" tanyanya.
Harry mengangguk, "Tentu, yang tak tahu The Burrow sebaiknya berkumpul dulu saja di Spinner End's."
"Apakah seluruh saudaramu akan hadir?" tanya Hermione.
Ron menggeleng, "Mungkin hanya akan ada George dan Ginny saja, Percy dan Bill tak bisa pulang," jawabnya.
Disaat semua tengah berbincang seru tentang rencana ke The Burrow, mata hijau Harry melihat satu tulisan muncul di meja tepat di depan matanya, 'temui aku di kantor, sekarang'. Tahu siapa yang mengirim tulisan itu mata Harry pun melihat ke meja kepala sekolah, ternyata Severus juga tengah menatapnya lalu berdiri dan meninggalkan aula besar.
"Aku harus menemui kepala sekolah," pamitnya pada teman-temannya, "Sampai nanti."
Draco menahan lengan Harry, "Tak ada ciuman untukku?" godanya yang langsung mendapatkan lemparan serbet makan ke wajah tampannya.
Harry meninggalkan Draco dengan wajahnya yang kembali memerah, dia sudah cukup kebal dengan teman-temannya yang suka menertawakannya.
.
"Anda memanggilku, Sir?" tanya Harry sopan, bagaimanapun yang dihadapannya ini adalah kepala sekolah Hogwarts yang sangat disegani.
Severus mengangguk, "Duduklah, Son," perintah Severus.
Harry tersenyum, kalau Severus sudah memanggilnya 'Son' berarti ini adalah obrolan yang menyangkut masalah pribadi, dan dia bisa memanggilnya 'Dad'.
"Besok kalian sudah harus meninggalkan Hogwarts, lalu dimana kau akan tinggal?" tanya pria yang terkesan dingin itu.
"Seperti yang pernah kukatakan pada Dad, aku tetap akan pulang ke Spinner End's," jawab Harry.
Severus menatap pemuda itu tajam, dia tahu bagaimana perasaan Harry kalau harus pulang ke Grimmauld Place dan sendirian, "Terserah kau, tapi mungkin aku tak bisa menemanimu dulu, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, kau tak keberatan?" tanya Severus.
Harry tersenyum dan mengangguk, "Tak apa, Dad, asal Dad mengijinkan Kreacher ikut bersamaku," tawar Harry.
Severus mengangguk setuju. "Ah, sabtu nanti keluarga Malfoy mengundang kita untuk makan malam di Manor."
Harry terkejut, "Benarkah? Aku tak harus ikut kan?" tanyanya panik.
Severus mengerutkan keningnya, "Aku bilang 'kita', Harry. Aku akan menjemputmu dan kita berangkat bersama," kata Severus yang tak mungkin ditolak oleh Harry.
"Baiklah," jawab Harry lesu, entah kenapa dia merasa begitu gugup bertemu dua Malfoy senior itu. "Oh ya, Dad, minggu depan Mrs. Weasley mengundang kami ke The Burrow, bisakah aku kesana?" tanya Harry.
Severus tahu siapa saja yang dimaksud 'kami' oleh putranya itu, "Tentu, pergilah dengan ber-apparate saja. Apa kalian akan menginap?" tanyanya.
Harry mengangkat bahunya, "Entahlah, mungkin aku akan beberapa hari disana tapi tak tahu juga bagaimana nanti karena aku harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk bulan depan."
Severus berdiri dan melangkah mendekati pemuda itu, "Katakan padaku apa saja yang kau butuhkan dan pergilah untuk membelinya di Diagon Alley," kata sosok ayah bagi Harry itu.
Harry menggeleng, "No, Dad, thanks, biarkan aku mengambil uangku di Gringgots saja. Lagi pula aku juga membutuhkan itu untuk menyewa sebuah Flat," tolak Harry halus.
Severus menepuk pundak Harry, "Jangan kau usik tabunganmu, untuk semua persiapan itu biar aku saja yang membiayai sampai kau mendapatkan gaji dari pekerjaanmu."
"Tapi, Dad…" bantah Harry sambil berdiri menghadap ayahnya.
Severus mengacak rambut hitam berantakan Harry, "Biarkan aku membantumu, Son," pintanya, "Catat semua kebutuhanmu dan Carilah flat yang sesuai, akan aku usahakan kau memiliki jaringan floo disana."
Harry tersenyum, dia begitu terharu dengan seluruh perhatian yang dicurahkan Severus padanya, "Thanks, Dad," kata pemuda itu sambil memeluk ayahnya erat.
Severus menepuk punggung Harry, memeluk pemuda itu membuat hidupnya menjadi begitu hangat, tanpa Harry ketahui Severus tersenyum lembut di belakangnya.
Bersambung
A/N.
Hanya seperti ini yang bisa aku persembahkan untuk chap 6, maaf kalau masih kurang memuaskan. Ini hanya pengantar menuju konflik berikutnya
Makasih buat Aicchan dan Ness, kalian punya andil besar dalam fic ini, jangan kapok2 ingetin aku ya XD
Buat aku ga punya nama yang akhirnya punya nama #plak, hehe, buat Ao, Ran-chan, Icci chan, dan Ayu, makasih banyak buat ripiunya, Hyuu dan Arisa… replyku keterima kan?
Buat Chellesmere, makasih banyak, kau penulis straight Dramione tapi tak memandang sebelah mata pada fic Yaoi. Semoga fandom Harpot tercinta tetap damai tanpa perang pair ya *hug*
Makasih buat semua ^^
