DILEMMA

CHAPTER 7

Disclaimer : JK. Rowling

Pair : Draco Malfoy / Harry Potter

Rating : M

Genre : Romance

Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon

.

#

.

"Sampai jumpa minggu depan, Harry, Draco," pamit teman-temannya pada dua pemuda itu.

"Ok, bye," jawab Harry dan Draco serempak lalu mereka melihat rombongan teman-temannya yang menjauh menuju stasiun Hogsmeade.

"Siap ber-apparate, Harry?" tanya Draco.

Harry mengangguk lalu mereka ber-apparate menuju Spinner End's. Tanpa diketahui Harry tadi malam Draco telah meminta ijin ayahnya untuk menemani Harry di Spinner End's dulu dan baru akan pulang saat sabtu malam bersama Harry dan Severus. Sifat Draco yang memaksa selalu membuat Harry tak bisa menolak.

Sesampainya di Spinner End's mereka membereskan barang mereka di kamar masing-masing. Kondisi rumah tak lagi parah dibandingkan saat liburan natal kemarin. Harry meminta Kreacher untuk sesekali waktu melihat dan membersihkan rumah itu dengan seijin Severus. Dan saat ini Kreacher juga ada disini untuk membantunya.

Merasa begitu lelah Harry pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan tak terasa langsung saja dia terlelap.

.

Draco membuka pintu kamar Harry, dia telah mengetuk tapi tak mendapatkan jawaban dari dalam. Dia tersenyum melihat Harry yang tidur dengan posisi yang tak masuk akal, 'bisa-bisanya dia tidur dengan kaki menjuntai ke lantai begitu', batinnya sambil menggeleng heran. Perlahan dia mendekati kekasihnya itu dan membelai rambut hitamnya. Dikecupnya bibir yang terkatup rapat itu.

Merasa sesuatu yang hangat menyentuh bibirnya mata Harry pun terbuka, "Draco," bisiknya, lalu dia duduk dan mengusap belakang lehernya yang terasa kaku.

"Sepertinya kau lelah sekali?" tanya Draco pelan.

"Tidak juga, hanya sedikit ngantuk," jawab Harry.

"Kreacher sudah ribut menyuruh kita makan malam," kata Draco lagi sambil memijat belakang leher Harry dengan lembut.

Harry tersenyum merasakan hangat tangan Draco, "Baiklah, aku juga sudah lapar," desahnya sambil memiringkan kepalanya mencoba melemaskan otot lehernya yang masih terasa kaku. Tapi ternyata gerakannya itu membawa dampak yang buruk buat jantungnya, dia tercekat saat Draco mencium lehernya yang terekspose jelas, "Draco," bisiknya tercekat.

Draco terus menciumi leher putih Harry dan memeluk pemuda itu dengan erat, dia bisa merasakan getar tubuh Harry. Perlahan didorongnya tubuh kekasihnya hingga terbaring di tempat tidur

"Kau selalu membuatku nyaris tak bisa mengendalikan diri, Harry," bisik Draco parau.

Harry memandang mata abu-abu yang menyorot hangat itu, memberanikan diri dia mengangkat kepalanya sedikit dan meniru tindakan Draco tadi.

Draco tercekat saat Harry mengecup lehernya dengan begitu lembut, sendi-sendi tubuhnya melemas membuatnya ambruk menimpa Harry, "Jangan membuatku semakin gila, love," desah Draco tersengal.

Harry terkekeh sambil memeluk tubuh kekasihnya yang bergetar dan terasa panas, "Itu salahmu, kau pikir tak pusing terus kau goda seperti tadi?"

Draco berguling dan berbaring di samping Harry dengan memiringkan tubuhnya, dengan gemas dia mengacak rambut hitam kekasihnya itu, "Kau ini..." geramnya.

Harry tertawa dan masuk ke dalam pelukan pemuda berambut pirang itu, dengan rakus dihirupnya aroma tubuh Draco yang selalu melekat dalam ingatannya dan selalu berhasil membuatnya tenang.

Draco mendekap erat tubuh kekasihnya, "Jangan masukkan siapapun selain aku ke dalam flatmu saat kau tinggal sendiri nanti," bisik Draco.

Harry terkekeh pelan, "Kalau kelima orang itu bagaimana?"

Draco terdiam sebentar, "Oke, kalau mereka akan aku ijinkan, selain itu tidak," jawabnya.

Harry masih terkekeh, "Kalau Dad?" tanyanya lagi menggoda Draco.

Draco mendengus, "Jangan pura-pura tak mengerti maksudku, Harry."

Merasa begitu nyaman dalam pelukan Draco Harry pun kembali merasa ngantuk, "Lupakan makan malam, aku ngantuk sekali," kata Harry dengan malas.

"Kau tak lapar?" tanya Draco, dia merasa Harry menggeleng di dadanya, "Baiklah, kurasa aku pun tak begitu lapar," kata Draco lagi, lalu perlahan dia beringsut akan bangkit dari tempat tidur tapi berhenti saat tangan Harry menahannya.

"Kau mau kemana?" tanya Harry.

"Tidur," jawab Draco singkat.

Harry mengernyitkan keningnya, "Siapa yang menyuruhmu meninggalkanku di sini sendiri?" tanyanya kesal.

Draco menyeringai mengerti apa yang dimaksud pemuda itu, dia kembali merebahkan diri dan menarik Harry ke dalam pelukannya, "Tidurlah tuan muda, aku akan menjagamu," bisik Draco sambil mengecup pelan bibir Harry.

Harry tertawa, dia melingkarkan lengannya di pinggang Draco lalu memejamkan matanya, "G'nite, Draco," desah Harry.

.

.

"Senang bertemu lagi denganmu, Harry," sambut Narcissa sabtu malam itu saat Harry dan Severus memenuhi undangan makan malam mereka.

"Begitu juga denganku, Ma'am," jawab Harry sopan.

Narcissa tersenyum, "Aku akan lebih bahagia kalau kau memanggilku Aunt Cissy, Son, begitu pun dengan Uncle Lucius," kata wanita berambut pirang itu hangat.

Dada Harry berdebar kencang, dia berusaha keras bersikap wajar di depan kedua orang tua Draco dan hanya mampu tersenyum.

Makan malam berlangsung dengan begitu formal, ciri khas keluarga Malfoy yang keturunan bangsawan.

"Mum, Dad, minggu depan keluarga Weasley mengundangku ke The Burrow untuk merayakan kelulusan kami, bolehkah aku hadir?" tanya Draco setelah makan malam berakhir.

Lucius memandang istrinya, "Siapa saja yang diundang?" tanya Narcissa.

"Hanya Harry, aku, Blaise, Theo dan Pansy. Tentu akan ada Hermione juga," jawab Draco

Narcissa meminta persetujuan suaminya, dia tersenyum saat Lucius mengangguk setuju, "Pergilah, tapi jangan lupa dengan apa yang harus kau persiapkan untuk mulai bekerja bulan depan."

Draco mengangguk mengerti.

"Bagaimana rencanamu, Harry?" tanya Lucius yang dari tadi hanya diam.

Harry memandang mata abu-abu yang kesan dinginnya tak pernah hilang itu walau kini sinar itu tak lagi terlihat kejam, "Seperti Draco, kami akan menjadi anggota muda di departemen Auror, begitu juga dengan salah satu teman kami, Ron Weasley," jawabnya.

"Kau akan menempati Grimmauld Place?" tanya Narcissa.

Harry menggeleng, "Sirius memang memberikannya padaku tapi aku tetap merasa tak berhak menerima itu, aku belum bisa tinggal sendiri disana, rasanya terlalu..." Harry tak meneruskan kata-katanya.

"Dia akan menyewa atau mungkin membeli sebuah flat, dan sesekali pulang ke Spinner End's," jawab Severus meneruskan kata-kata putranya.

Harry tersenyum pada ayahnya dan mengangguk menyetujui.

Malam semakin larut, Harry dan Severus pun berpamitan pada tuan rumah. "Berkunjunglah kapanpun kau mau, Son, jangan hanya menunggu undangan kami," pinta Narcissa setelah memeluk Harry dan mengusap pipi pemuda bermata hijau itu.

Harry mengangguk dan tersenyum, entah kenapa malam ini bibirnya terasa kelu untuk bicara, dia terlalu tegang berhadapan dengan orang tua kekasihnya. Ketiga orang dewasa itu berbincang sejenak sebelum Severus masuk ke dalam perapian bersama Harry.

Harry tercekat saat dia merasa tangannya digenggam oleh Draco yang berdiri di belakangnya dan menyembunyikan tautan tangan mereka di balik tubuh Harry.

Harry menunduk menyembunyikan rona merah di wajahnya, dia hanya bisa kesal saja saat mendengar tawa pelan Draco di belakangnya.

.

.

Seminggu berlalu, saat ini semua telah berkumpul di The Burrow. Sambutan tuan rumah yang begitu ramah membuat keenam anak muda itu merasa nyaman. Ginny menyambut Harry dengan sebuah pelukan dan kecupan singkat di pipi yang otomatis membuat Draco mendelik kesal karena dijadikan bahan tertawaan oleh teman-temannya.

"Tenang saja, Draco, sekarang aku sudah punya Neville," jelas Ginny sambil menepuk lengan Draco, Draco hanya berdecak saja berusaha bersikap tak peduli walau kelihatan sekali kalau dia sedang kesal.

"Neville tak datang?" tanya Harry.

Ginny menggeleng, "Tidak, dia sedang ada urusan," jawab Ginny.

"Halo semua," seru suara yang baru turun dari lantai dua.

"Hai, George," sambut Harry yang langsung berlari memeluk kakak sahabatnya itu sambil tertawa lebar, "Bagaimana kabarmu?" tanya Harry setelah melepaskan pelukannya.

"Baik, Harry, thanks. Kulihat kau pun tak banyak berubah," jawab pemuda tampan bertubuh tinggi dan berambut merah khas keluarga Weasley itu.

Harry tertawa renyah, "Kemarilah, akan ku kenalkan pada teman-teman baruku yang mungkin ada yang sudah kau kenal," ajak Harry mendekati teman-temannya.

George tertegun melihat Draco di sana, pemuda yang dulu dikenal begitu kejam kini berdiri di hadapannya, sebagai teman Harry dan teman adiknya. Tapi kali ini George tak merasa benci melihat pemuda itu, dia melihat sorot mata Draco yang dulu begitu dingin kini telah berubah, terlihat begitu hidup dan... hangat, "Apa kabar, Draco?" tanyanya tanpa menyebutkan nama keluarganya dan membuat Draco terkejut sekaligus merasa lebih tenang.

Draco menyambut uluran tangan pemuda itu, dia tercekat saat George menariknya dan memeluk tubuhnya, "Senang melihatmu, Draco," kata George sambil menepuk punggung Draco.

"Thanks, dan maafkan aku untuk sikapku yang dulu," kata Draco sambil melepaskan pelukan pemuda itu.

George tersenyum dan mengangguk. Lalu dia menyalami Blaise dan Theo bergantian dan kembali tercekat saat melihat Pansy di sana. Dia mengusap mulutnya sambil tertawa pelan, "Voldemort membawa perubahan yang sangat luar biasa," katanya sambil mengingat betapa menyebalkannya gadis itu dulu yang selalu berada di dekat Draco. Tapi sekarang tak ada lagi senyum sinis dan tatapan dingin di matanya, yang George lihat gadis itu sekarang tampak begitu cantik dengan rambut hitamnya yang lurus melewati bahu dengan kulitnya yang putih dan mata coklatnya yang bersinar hangat. Bibirnya yang merah memamerkan senyumnya yang tampak menawan.

"Halo, Parkinson, senang bertemu denganmu sekarang," sapa George sambil mengulurkan tangannya pada Pansy.

Gadis itu tersenyum, entah kenapa dadanya berdebar halus melihat pemuda tampan itu di depannya, "Kau memanggil semua dengan nama depan mereka, kenapa itu tak berlaku padaku?" tanya Pansy sambil menyambut uluan tangan George.

George tertawa renyah, "Maafkan aku, Pansy, hanya tercengang saja melihat perubahanmu," katanya.

"Apakah aku tampak aneh?" tanya Pansy jengah karena George tak juga melepaskan tangannya.

"Tidak... tidak, kau tampak begitu... berbeda," jawabnya cepat. Dia terkejut saat Hermione menarik tangan Pansy lepas darinya.

"George, kau tak pernah menyalamiku selama itu," kata Hermione dengan senyum menggoda.

George berdecak, "Kalau aku begitu terhadapmu bisa-bisa aku dibunuh Ron," jawabnya sambil mengecup singkat pipi Hermione, "Apa kabar, Mione?" tanyanya.

Hermione tersenyum, "Baik, George," jawabnya. Lalu mereka berkumpul di lantai dua, kamar Ron yang sempit tak cukup menampung mereka akhirnya George menawarkan kamarnya yang lebih luas karena dulu ditempatinya bersama Fred, saudara kembarnya yang meninggal saat perang besar.

Mereka melihat begitu banyak foto Fred dan George yang tergantung di dinding kamar, kebanyakan foto-foto dengan mengguanakan seragam Quidditch.

"Aku ikut menyesal untuk Fred," kata Draco pelan.

George tersenyum, "Thanks, Draco, tapi bagiku dia tak pernah mati, dia ada disini bersamaku," katanya sambil menepuk dada kirinya.

Pansy memandang pemuda itu dengan tatapan sendu, dia bisa melihat kesedihan di mata George yang tak bisa disembunyikan oleh senyum di bibirnya.

"Memandang sesuatu yang menarik, Pans?" bisik Harry yang duduk di samping gadis berambut hitam itu.

"Ap-apa maksudmu?" tanya Pansy gugup setengah berbisik.

"George itu pemuda yang sangat baik, percayalah," goda Harry lagi, dia tertawa saat sahabat perempuannya itu melemparnya dengan bantal sofa yang ada di dekatnya.

"Kenapa?" tanya Draco yang juga diikuti tatapan heran teman-temannya, tapi melihat pipi Pansy yang telah berubah menjadi merah membuat Draco, Blaise, juga Hermione bisa menyimpulkan sesuatu.

"Wajahmu merah sekali, apa kau sakit?" goda Draco kali ini sambil menyeringai. Blaise dan Hermione hanya tertawa kecil.

Pansy semakin gugup saat George menatapnya tajam, "Ginny, bisa antarkan aku ke kamar kecil, please?" pintanya memelas.

Ginny mengangguk sambil memandang gadis itu dengan heran, "Baiklah, ikuti aku," kata Ginny sambil berdiri.

"Tak kusangka perubahannya secepat itu," kata George saat Pansy sudah menghilang dari kamarnya.

"Semua telah berubah, George," jawab Harry.

George mengangguk, "Apa kau masih menjalin hubungan dengannya, Draco?" tanyanya tiba-tiba. George semakin bingung saat semua menertawakannya.

"Kapan aku pernah jadian dengan dengannya? Kami hanya teman," jawab Draco masih sambil tertawa.

George menatap pemuda itu tak percaya.

"Draco sudah memiliki seseorang saat ini," jawab Ron sambil nyengir.

Kali ini wajah Harry yang memerah, dia sudah pasrah akan apa yang terjadi setelah ini.

"Oh ya? Siapa?" tanya George penasaran.

Draco merangkul pundak Harry, "Dia," jawabnya penuh percaya diri.

George melongo sebentar sebelum akhirnya tertawa dengan begitu kencang, "Wow… ini hebat, Harry. Bukannya kau dulu begitu membenci Draco?" tanya George yang langsung ditangggapi oleh bermacam-macam celotehan dari teman-temannya.

Harry hanya diam sambil menyandarkan punggungnya di dinding dan memandang ke luar jendela. Dia pura-pura tak mendengar godaan dari semuanya karena dengan tambahan George disini maka kesempatannya untuk menang dalam olok-olokan ini hilang sama sekali.

.

Tak terasa matahari telah tenggelam di ujung barat, enggan rasanya meninggalkan hari yang begitu damai ini. Mrs. Weasley memaksa mereka untuk menginap tapi semua menolak dengan halus mengingat tak ada persiapan yang mereka bawa untuk bermalam disini, hanya Hermione saja yang menerima ajakan Mrs. Weasley, dan semua tak heran mengingat gadis itu sudah cukup lama menjalin hubungan dengan Ron.

Blaise dan Theo ber-apparate lebih dulu meninggalkan teman-temannya, lalu disusul oelh George yang menawarkan diri mengantar Pansy pulang, setelah itu giliran Harry dan Draco yang menuju Spinner End's. mereka terkejut melihat Severus ada di sana sedang membaca sebuah surat kabar.

"Dad, kapan datang?" tanya Harry yang duduk di sofa di depan ayahnya bersama Draco.

"Baru saja. Bagaimana acara kalian?" tanya pria berambut hitam berminyak itu tanpa berhenti membaca.

"Ramai, Dad, aku juga bertemu George, rindu sekali rasanya," jawab Harry.

Mendengar nama George Weasley disebut Severus pun menurunkan surat kabarnya, "Bagaimana kabar pemuda itu? Apakah dia baik-baik saja setelah saudara kembarnya meninggal?" tanya Severus pelan.

Harry mengangguk, "Dia pemuda yang kuat, Dad. Dia baik-baik saja dan masih menjalankan bisnis leluconnya di Diagon Alley."

"Apa nama tokonya tadi?" tanya Draco.

"Weasley's Wizard Wheezes," jawab Harry lagi.

Severus mengangguk, "Aku curiga kalau sebenarnya dia adalah putra Sirius atau James, mengingat tingkat keusilan mereka sama parahnya dengan ayah dan ayah baptismu itu, Harry."

Harry dan Draco hanya tertawa menanggapi itu.

"Tadi ibumu menanyakan apakah kau sudah pulang, Draco," kata Severus.

Draco berdiri dan bersiap ke perapian, tapi langkahnya terhenti saat suara Severus terdengar olehnya, "Mereka akan keluar kota selama dua hari dan menitipkanmu disini sampai mereka pulang."

Draco menyeringai senang, "Thanks, Sev," katanya.

.

Setelah makan malam kedua pemuda itu pun berbaring di kamar Draco. "Lelah sekali," kata Harry.

Draco terkekeh, "Kau seperti orang tua saja," gerutunya.

"Hei, bagaimana pendapatmu tentang George?" Tanya Harry tiba-tiba.

Draco mengusap rambut pirangnya, "Aku melihat George sedikit berubah sekarang, terlihat lebih dewasa dan lebih tenang. Dan kurasa dia juga tertarik dengan Pansy, bisa aku lihat itu saat pertama mereka bertemu tadi," jawab Draco.

Harry terkekeh, "Aku menyayangi Pansy, kuharap dia segera menemukan pasangan yang terbaik untuknya."

"Seperti kau menemukan aku?" goda Draco berharap dia bisa melihat lagi rona wajah Harry dan membuatnya menjadi gugup.

Harry tersenyum, "Ya, seperti aku menemukanmu sebagai yang terbaik," jawabnya tanpa disangka-sangka dan justru membuat jantung Draco berdebar kencang. Harry tertawa melihat ekspresi Draco yang tercengang, "Kenapa? Apa aku salah bicara?"

Draco menghela nafasnya yang berat, "Kau ini, tumben kau bicara manis begitu?"

Harry menggeser tubuhnya untuk mengecup bibir Draco sekilas, "G'nite, Draco," katanya sambil berdiri dari tempat tidur.

"Kau mau kemana?" Tanya Draco heran.

Harry memandang Draco, "Ada Severus di bawah, tak mungkin aku tidur disini," jawabnya.

"Kurasa dia tak akan tahu, malam natal lalu juga dia tak tahu kalau kau tidur bersamaku, kan?" paksa Draco.

Harry tersenyum, "Bukan begitu, bisa-bisa kali ini aku yang tak bisa menahan diri," jawab Harry sambil membuka pintu, "G,nite," pamitnya lagi meninggalkan Draco yang masih melongo tak percaya dengan kata-katanya barusan.

.

.

.

Begitu cepat waktu berjalan, sudah lima bulan ini Harry menempati flat yang dia sewa, disebelah flatnya ada Blaise dan Theo, sedangkan flat milik pansy dan Hermione berhadapan dengan flat mereka. Severus berhasil mengusahakan jaringan floo untuk flat Harry, pengaruh nama besar mereka membuat hal itu tak sulit diwujudkan oleh pihak kementrian.

Tujuh bulan sudah dia bekerja sebagai anggota elite junior jajaran Auror bersama Draco dan Ron, dan mereka telah mendapatkan kepercayaan dari Mr. Robarts, kepala departemen auror, untuk menangkap beberapa buronan atau penjahat yang masih menganggu ketentraman dunia sihir, walau masih harus didampingi oleh para senior.

Suara ketukan mengganggu keasikannya yang sedang membaca surat kabar di ruang tengah, dengan malas dia berjalan untuk membuka pintu, "Pans?" sapanya heran saat melihat Pansy berdiri di depan pintunya dengan membawa kotak besar, "Apa itu?" tanyanya sambil membiarkan sahabat perempuannya itu masuk.

Pansy berjalan menuju meja makan dan membuka kotak yang dibawanya, "Tadi George membawakanku banyak sekali makanan dari Mrs. Weasley, mana bisa aku menghabiskan makanan sebanyak ini," jawabnya sambil menata makanan itu di meja, dan sebagian besar disimpan di lemari pendingin. Suatu keberuntungan seorang muggle bernama Hermione Granger menjadi sahabat mereka sehingga mereka tahu cara menggunakan barang-barang apa saja yang sekiranya mereka butuhkan, seperti kulkas dan televisi.

Harry tersenyum dan menghampiri Pansy sambil merangkul pundaknya, "Bagaimana hubunganmu dengan George?" tanyanya pelan.

Pansy memandang mata hijau Harry dan tersenyum, "Dia baik sekali, kadang aku jadi tak enak karena sering merepotkannya," jawan Pansy sambil mengikuti Harry yang menariknya untuk duduk di sofa.

"Baguslah, aku senang melihatmu bahagia" kata Harry lagi.

Pansy menyandarkan kepalanya di bahu Harry, "Aku kadang malu kalau ingat tingkahku dulu yang begitu jahat," katanya, "Rasanya tak pantas aku mendapatkan kebahagiaan sebesar ini. Aku punya kau, sahabat-sahabat yang baik, dan kini ada George."

Harry mengacak rambut hitam Pansy, "Semua orang berhak bahagia, Pans," jawabnya.

Pansy memandang Harry dengan sedikit ragu, "Mmmh… apa kau dan Draco sudah mengatakan tentang hubungan kalian pada Mr. dan Mrs. Malfoy?" tanyanya hati-hati.

Harry menarik nafas panjang, "Belum, aku belum siap, Pans," desahnya.

Pansy menegakkan punggungnya dan menggenggam tangan Harry, "Sampai kapan? Kau harus siap menghadapi semua resikonya, Harry. Draco begitu mencintaimu," kata gadis itu memberi semangat.

Harry tersenyum kacut, "Entahlah, aku seperti menemukan firasat tak enak, belum pernah aku seragu ini sebelumnya."

Pansy mencium pipi Harry, "Yakinlah pada hatimu, kasihan Draco kalau kau terus meragukan hal ini."

Harry tersenyum dan menepuk pipi putih Pansy, "Thanks, akan aku pikirkan secepatnya."

Pansy tersenyum senang dan berdiri, "Aku ngantuk, g'nite, Harry," pamitnya sambil melangkah keluar.

"G'nite, Pans," jawabnya sebelum mendengar pintu flatnya ditutup. Harry termenung sendiri di sofanya, matanya menatap perapian yang berderik, lagi-lagi hatinya kalut dengan masalah hubungannya dengan Draco. Dia yakin kalau Draco begitu mencintainya, tapi dia ragu apakah kedua Malfoy senior itu mau menerima hubungannya dengan pewaris tunggal keluarga mereka itu?

Harry terkejut saat perapiannya menyala hijau, dia tenang setelah melihat Draco lah yang keluar dari dalamnya, "Hai," sapa Harry.

Draco menghampiri pemuda berkacamata itu lalu mencium bibirnya dengan kuat. Harry terkejut dengan sikap Draco yang seperti ini, dia memejamkan matanya berusaha menikmati sentuhan kekasihnya. Ciuman Draco kali ini terkesan kalut dan cemas.

Harry memeluk pemuda berambut pirang itu dan mengusap punggungnya lembut untuk menenangkannya. Draco melepaskan bibirnya dan menghempaskan tubuhnya di sofa panjang yang diduduki Harry. Kepalanya direbahkan dipaha pemuda berambut hitam itu lalu dia memejamkan matanya dan memijat keningnya.

Harry membelai rambut pirang Draco yang halus, "Ada masalah?" tanyanya pelan.

Draco diam tak menjawab.

Tak mau mengusik kekasihnya yang sedang tak enak hati akhirnya Harry memutuskan untuk diam sambil terus memainkan rambut pirang Draco. Dia berusaha menyembunyikan rasa cemas dan khawatirnya, seribu pertanyaan berloncatan di kepalanya.

"Mereka sudah tahu," kata Draco.

Jantung Harry seakan melompat dari tempatnya, "Maksudmu?" tanyanya bingung.

Draco membuka matanya, pemuda itu bangkit dari rebahannya dan menatap mata hijau yang begitu dipujanya, "Mum dan Dad sudah tahu tentang hubungan kita," jawab Draco yang terdengar bagaikan suara ledakan petir di telinga Harry.

"Lalu?" Tanya Harry dengan wajahnya yang berubah pucat.

Draco menyentuh wajah Harry dengan lembut, "Mereka belum memberikan jawaban saat aku tinggalkan mereka untuk menemuimu barusan."

Harry menunduk, "Bagaimana bisa mereka tahu?" tanyanya lirih.

"Aku yang mengatakannya," jawab Draco cepat.

Seakan tak percaya dengn pendengarannya Harry mengangkat wajahnya dan melihat mata abu-abu Draco untuk mencari kepastian, "Kenapa?" tanyanya lagi, "Bukankah kita telah sepakat untuk menyimpan hal ini dulu?"

Draco menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa sambil mengusap wajahnya, "Mereka mendesakku, Harry. Mereka bertanya tentang hubungan kita yang sangat akrab. Mereka curiga karena aku sering sekali menghabiskan waktu bersamamu, entah di Spinner End's atau disini."

Harry mengangguk, dia mengerti kalau Draco sangat benci menyembunyikan hubungan mereka dari orang lain, Harry sangat tahu hal itu karena Draco memang sungguh-sungguh mencintainya. Tapi kalau sudah begini dia jadi bingung sendiri.

Draco melihat kekhawatiran di mata hijau Harry, dengan lembut dia memeluk pemuda itu, berusaha menenangkannya walau hatinya sendiri begitu kalut, "Kita akan hadapi ini bersama, love," bisik Draco.

Harry mengangguk pelan di bahu Draco, anggukan yang nampak begitu ragu dan tak yakin akan apa yang akan dia hadapi kemudian.

.

.

"Aku terkejut melihat kedatanganmu, Son," kata Severus.

Harry tersenyum getir, dia memutuskan minggu pagi ini untuk menemui ayahnya setelah apa yang disampaikan Draco tadi malam, dan disinilah dia, di kantor kepala sekolah Hogwarts. "Ada sesuatu yang harus aku katakan pada, Dad," jawabnya.

Severus mengernyitkan keningnya, "Ada apa?" tanyanya singkat.

Harry menarik nafas panjang, "Mr. dan Mrs. Malfoy sudah tahu tentang hubungan kami," jawabnya pelan.

Severus terdiam, dia memandang mata hijau putranya yang tampak galau, "Lalu?"

Harry menahan nafas, "Apa yang harus aku lakukan, Dad?" tanyanya bingung.

Severus berdiri dan memandang keluar jendela, "Kau telah memutuskan sendiri tentang hubungan kalian jadi kuharap kau juga bisa mempertanggungjawabkan semua keputusanmu, Harry."

Harry mengangguk pelan, "Kami akan menghadapinya, Dad," jawab pemuda itu.

Severus menatap putranya, "Itu yang harus kalian lakukan."

Harry berdiri dari duduknya, "Boleh aku menemui Hagrid? Aku rindu sekali padanya."

Severus mengangguk dan melihat pemuda itu keluar dari kantornya. Keningnya berkerut saat melihat perapiannya menyala hijau dan terpaku melihat siapa yang keluar dari dalamnya.

.

.

Setelah berkeliling untuk mencari sahabat setengah raksasanya itu dan tak bertemu maka Harry memutuskan untuk kembali saja ke kantor ayahnya. Langkahnya terhenti saat pintu baru setengah terbuka dan dia mendengar sebuah suara yang sedang berbincang dengan sang kepala sekolah, kakinya lemas begitu tahu siapa tamu ayahnya tersebut.

"Aku terkejut mendengar apa yang disampaikan Draco tadi malam, Sev," kata Lucius Malfoy yang bediri di depan jendela besar di kantor Severus.

"Kami sangat menyayangi Harry, kau tahu itu, tapi aku sungguh tak menyangka kalau hubungan mereka ternyata lebih dari…" kata-kata Narcissa tak selesai diucapkan karena wanita itu menutup mulutnya dengan saputangan putihnya.

Harry bersandar pada dinding batu di belakangnya, ingin rasanya dia menghilang dan tak mendengar ini.

Severus terdiam, dia tetap duduk di kursi besarnya sambil menautkan jari-jarinya di depan dadanya.

Narcissa kembali bicara, "Kami tak membenci Harry, Sev, percayalah, hanya saja Draco itu putra tunggal kami dan kami…"

"Kalian menginginkan keturunan dari Draco yang kelak akan meneruskan tahta Malfoy, begitu?" potong Severus.

Lucius dan Narcissa terdiam, sedangkan di depan pintu Harry merasa hidupnya telah berakhir. Dengan tongkatnya dia menciptakan secarik kertas kecil dan menulis sesuatu diatasnya lalu menerbangkan surat itu ke meja kerja ayahnya. Tak menunggu lama pemuda itu berlari menuju gerbang sekolah untuk ber-apparate kembali ke flatnya.

Severus menerima surat itu dengan wajah pucat, dia berlari dan membuka pintu kantornya tapi tak mendapati siapa-siapa disitu. Dengan diam dia menutup pintu itu dan kembali ke kursinya.

"Ada apa?" Tanya Lucius heran.

Severus kembali membaca suratnya, 'Dad, aku pulang dulu. Aku sudah tahu jawaban akan keraguanku'. Pria berambut hitam berminyak itu menyerahkan secarik kertas itu pada Narcissa yang menerimanya dengan bingung.

Mata biru wanita itu terbelalak saat membaca tulisan didepannya, mulutnya terbuka tak percaya. Dia kembali terisak dan akhirnya menangis.

Lucius menghampiri istrinya dan mengambil surat itu dari tangannya, lalu meremasnya dan menggenggamnya dalam kepalannya.

"Harry mendengar kita, sayang, dia tadi ada di depan pintu dan mendengar semua pembicaraan kita," isak Narcissa di pelukan suaminya.

"Keputusan ada di tangan kalian," kata Severus.

Bersambung ya…

A/N.

Hik… iya aku tahu aku jahat, tapi katanya pada minta konflik kan? Ya ini konfliknya. Dasar Lucius ma Narcissa egois, harusnya kan kalian pikirin dong perasaan anak kalian itu, egois egois egois… #author geblek, kan loe sendiri yang bikin jadi begini?

Aicchan, Ness, Lin, inikah permintaan kalian? Cinta yang tak direstui #plak… ayo tanggung jawab, kalian harus bantu aku nyelesaiin ini ya!

Buat Icci chan, Naka-Hyuu Miko, Ao_yang udah punya nama, dan semua silent readers aku ucapin makasih banyak, maafkan kalo masih ada yang kurang di fic ini.

Untuk lemon… ummh… lemonnya ntar aja ya pas ending *kabuuuuur*