DILEMMA
CHAPTER 8
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon
.
#
.
Sudah dua hari ini Harry berusaha untuk menjauhi Draco, kata-kata dua Malfoy senior itu masih terngiang di telinganya. Harry tahu kalau Draco begitu gusar dengan sikapnya tapi Harry sendiri tak ingin lagi mendengar tangis wanita yang telah dianggap sebagai ibunya itu.
Malam ini dia duduk sendiri di sudut bar, beberapa gelas firewhiskey tak terasa panas di tenggorokannya, kalah oleh panas yang dirasakannya di kepalanya. Dua hari dia habiskan malamnya dengan minum-minum berusaha melupakan semua yang terjadi.
Upaya menjauhkan diri dari Draco membuatnya harus menutup jaringan floo untuk semua orang kecuali untuk Severus. Flatpun sekarang dilapisi oleh mantra anti apparate. Dia tak ingin Draco terus menemuinya dan mendesaknya.
-"Kami tak membenci Harry, Sev, percayalah, hanya saja Draco itu putra tunggal kami dan kamiā¦"
"Kalian menginginkan keturunan dari Draco yang kelak akan meneruskan tahta Malfoy, begitu?"-
Kata-kata itu terus terngiang di telinganya, terus dan terus dan nyaris membuat Harry gila. Dengan geram dia meminum lagi satu gelas besar firewhiskey lalu berdiri dan meninggalkan bar setelah membayar semua yang telah dihabiskannya. Dengan gontai ditembusnya kepekatan malam.
.
Sesampainya di flat dia melihat Pansy dan George menunggunya di depan pintu, berusaha menutupi kegalauannya Harry pun tersenyum dan menyapa dua sahabatnya itu, "Hai, kalian belum tidur?" tanyanya.
"Kami menunggumu," jawab Pansy sambil mendekati pemuda berkacamata itu, langsung saja dia menutup hidungnya saat mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut Harry, "Kau mabuk?" tanya gadis itu.
Harry menggeleng, "Tidak, Pans, hanya minum sedikit, dingin sekali di luar," elak Harry.
"Kau bohong, tak biasanya kau..."
"Biarkan Harry istirahat dulu, Pans, dia kelihatan begitu lelah," potong George sambil merangkul pundak Pansy. Dia melihat Harry mulai salah tingkah dan sedikit gugup.
"Thanks, George, aku masuk dulu," pamit Harry yang langsung masuk ke dalam flatnya. Dia melempar jubahnya dan langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower, "Cukup untuk malam ini, besok aku harus bekerja," gumamnya pada diri sendiri.
.
Di depan flat Harry ternyata Hermione, Blaise dan Theo sudah keluar dari flat mereka. "Bagaimana? Apa katanya?" tanya Theo pada Pansy dan George.
"Aku mencium bau firewhiskey dari mulutnya," jawab Pansy sambil mendekap tangannya di dadanya.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Hermione bingung.
"Seharian tadi Draco terus menanyaiku, aku sendiri tak tahu apa yang terjadi pada mereka, Harry tak menceritakan apapun padaku," jawab Pansy gelisah.
George menghela nafas panjang, "Kita berikan waktu dulu pada Harry, mungkin ada sesuatu yang belum bisa diceritakannya pada kita," jawab George sambil mengusap lengan Pansy.
Blaise mengangguk, "Aku setuju padamu, George," katanya. Lalu mereka mengakhiri pertemuan itu dan kembali ke flat masing-masing dengan seribu pertanyaan bermain di kepala mereka.
.
.
"Harry, tunggu aku," panggil Draco yang setengah berlari di belakangnya. harry menarik nafas panjang mempersiapkan diri menghadapi kemarahan kekasihnya itu. kekasih? Entahlah.
"Hai," sapa Harry berusaha bersikap sewajar mungkin.
Draco memandang tajam mata hijau Harry, "Kau kenapa? Kenapa menghindariku?" tanya Draco tanpa basa-basi.
"Aku? Menghindarimu?" tanyanya pura-pura bingung, "Tak ada apa-apa, Draco," jawabnya kemudian.
Draco mencekal lengan Harry, "Jangan membohongiku, katakan," perintahnya.
Harry melepaskan tangan draco dari lengannya, "Jangan macam-macam, ini di kantor, aku tak mau menjadi pusat perhatian disini," tolak Harry sambil berjalan meninggalkan Draco. Hatinya perih, sakit sekali, dia ingin memeluk pemuda itu dan menumpahkan semua bebannya dalam dekapannya yang hangat.
Draco mengepalkan tangannya melihat punggung Harry yang menjauh.
.
.
Malam ini kembali Harry memanjakan dirinya dengan bergelas-gelas firewhiskey, rasa rindunya pada Draco semakin membuncah. Dia rindu pelukan dan kecupan kekasihnya yang mampu membuatnya melupakan semua rasa sedih dan sepinya. Dia rindu tawa pemuda berambut pirang itu yang selalu menghiasi hari-harinya dengan kebahagiaan, dia merindukan keusilan Draco yang membuat dadanya tak berhenti bergetar, "Draco..." bisik Harry lirih.
.
Dia tercekat saat melihat Draco duduk terpekur di lantai di depan flatnya, ini sudah tengah malam dan pemuda itu masih menunggunya disana.
Draco berlari menghampiri Harry yang berjalan terhuyung, "Harry, kau kenapa?" tanyanya panik, hidungnya mengernyit saat mencium bau alkohol dari bibir pemuda itu.
Pandangan Harry mengabur, dia minum terlalu banyak malam ini. Dia berusaha melepaskan rangkulan Draco di pinggangnya dan terus berjalan menuju flatnya. Tangannya yang gemetar berusaha memasukkan anak kunci di lubang pintu tapi gagal.
Draco menarik nafas berat dan menggantikan tugas Harry membuka pintu, dia tetap bertahan walau Harry berusaha mengusirnya.
"Pergilah, tinggalkan aku," usir Harry sambil mendorong tubuh Draco.
"Tidak, aku tak akan pernah meninggalkanmu, Harry, tidak selama aku masih hidup," tolak Draco.
Tubuh Harry membeku mendengar kata-kata itu, "Pergilah, Draco, kumohon," pinta Harry lemah, tubuhnya hilang keseimbangan dan dia tersungkur di lantai.
Draco melihat pundak Harry bergetar, perlahan dia mendekati pemuda itu dan memeluknya dengan lembut.
Emosi Harry meledak merasakan hangat pelukan kekasihnya, dia menangis tanpa suara, hanya getar tubuhnya yang menandakan kalau pemuda itu tengah berusaha bertahan diantara rasa takut dan sedihnya.
Draco membiarkan kekasihnya menangis dalam dekapannya, dengan bersandar di dinding Draco terus memeluk Harry di dadanya. Tangannya membelai rambut hitam berantakan itu dan menciuminya dengan hangat.
Draco tak tahu apa yang membuat pemuda itu menjadi seperti ini, Harry selalu menolak bertemu dengannya dan tak mau menjawab pertanyaannya. Di kantor pun Harry memilih jadwal yang berseberangan dengannya, kalau Draco ada jadwal lapangan saat itu Harry mengisi jadwal di dalam kantor, terus seperti itu sampai mereka jarang sekali bisa bertemu dan berbincang santai.
Tapi sekali lagi Draco mencoba menahan diri untuk tak terlalu memaksa Harry mengatakan sebabnya, biar dia sendiri yang mengatakan alasannya.
Tangis Harry mereda, dia tetap menyadarkan tubuhnya dalam dekapan Draco. Sekali lagi dia merasa hidup, disinilah tempatnya, dalam pelukan kekasihnya. 'Maafkan aku, ijinkan kali ini saja aku merasakan bagaimana hidup yang sebenarnya', bisik batinnya. Dia memejamkan matanya dan entah apa yang dilakukan Draco karena dalam hitungan detik dia sudah berbaring di tempat tidurnya dan berganti pakaian.
Draco menyelimuti tubuhnya sebatas pinggang dan mengecup bibir Harry sekilas, "Cobalah untuk tidur, aku akan membuatkanmu sesuatu," katanya lalu melangkah keluar kamar dan kembali tak lama kemudian dengan segelas cokelat panas ditangannya.
"Kau mau minum ini?" tawar Draco sambil duduk di samping Harry.
Harry menggeleng, "Peluk aku, Draco," bisiknya lirih, ada nada kesedihan disana, ada luka dan sepi. Di mata Draco saat ini entah kenapa Harry tampak begitu rapuh, seakan tubuhnya menipis dan akan segera menghilang dari hadapannya.
Berusaha menghilangkan pikiran buruknya, perlahan Draco berbaring di sisi Harry dan memeluknya erat.
"Draco, ingatlah ini, aku akan selalu mencintaimu, terus mencintaimu. Walau aku harus pergi dari hidupmu aku bersumpah akan terus membawa cintaku untukmu," bisik Harry lagi, pengaruh alkohol membuatnya tak sadar telah mengatakan itu, tangannya erat mencengkeram kemeja Draco. Dia juga tak sadar kalau saat itu tubuh Draco menegang dan wajahnya memucat, dia tak merasakan sakit saat tubuh Draco semakin erat memeluk tubuhnya.
"Apakah Mum dan Dad mengatakan sesuatu padamu?" desis Draco.
Harry menggeleng, "Aku menyayangi mereka, sangat menyayangi mereka," jawab Harry pelan lalu dia tertidur dalam pelukan Draco.
Mata abu-abu Draco berkilat penuh amarah, "Tak akan kubiarkan kalian menyakiti Harry," desisnya lagi dengan nada dingin. Setelah dilihatnya Harry tertidur pulas dengan perlahan dia beringsut bangun, dikecupnya bibir Harry yang terkatup rapat, "I love you, Harry," bisiknya lalu dia melangkah dan meninggalkan flat Harry.
.
.
"Dari mana, Son? Malam sekali pulangmu?" tanya Narcissa mengejutkan Draco yang melangkahkan kaki menuju kamarnya. Perlahan dia berhenti dan menoleh ke ruang keluarga, dia melihat ibunya sedang duduk di sofa sedangkan ayahnya berdiri di belakang ibunya.
Draco menghampiri mereka dengan raut muka dingin, "Aku baru saja bersama Harry," jawabnya acuh.
Wajah Lucius tetap datar, tapi tidak dengan Narcissa, sekuat apapun dia berusaha menutupi ekspresi nya tetap saja kegelisahan tampak di mata birunya, "Bagaimana kabar Harry?" tanyanya pelan.
"Buruk," jawab Draco singkat.
Lucius menatap tajam mata putranya, "Apa maksudmu?" desisnya, dia memegang bahu Narcissa yang mendadak menjadi tegang.
Draco mendengus dan memalingkan wajahnya, "Entah siapa yang telah merusak hidupnya, membuatnya tenggelam dalam puluhan gelas firewhiskey setiap malam," jawabnya dingin.
"Dan kau menyalahkan kami atas kebodohannya?" tanya Lucius tak kalah dingin.
Dengan cepat Draco menoleh kepada ayahnya, "Satu-satunya kebodohannya adalah saat dia menerimaku, Dad. Sekian lama aku berusaha mendapatkannya dan begitu dia mempercayaiku kalian justru datang untuk menyakitinya," teriak Draco keras sambil berjalan cepat menuju ayahnya, entah apa yang ingin dia lakukan.
Lucius begitu marah melihat putranya bersikap di luar kendali, "Everte Statum," rapal Lucius sambil mengcungkan tongkat sihirnya kepada Draco yang membuat Draco terpental saat itu juga menabrak tembok di belakangnya.
Narcissa menjerit, dengan cepat dia berlari menghampiri Draco, nafasnya tercekat melihat darah keluar dari sudut bibir putranya.
Draco menepis tangan ibunya, dengan berpegangan pada dinding putih yang dingin dia berhasil berdiri sendiri sambil mengusap darah di bibirnya dengan punggung tangannya, "Aku lebih suka mati daripada melihat dia menderita, Dad. Lakukan itu maka kau akan membebaskanku selamanya," tantang Draco.
Wajah Lucius memerah menahan marah, ingin rasanya dia menghukum putranya lagi kalau tak dilihatnya Narcissa menangis sambil menggelengkan kepalanya di belakang Draco. Dengan kesal dia membalikkan badan dan meninggalkan ruangan itu.
Dengan hati-hati Narcissa menyentuh lengan putranya, "Draco, Son," bisiknya, sekali lagi dia tercekat merasakan otot lengan Draco yang mengeras dan tatapan matanya yang begitu dingin. Sudah lama sekali Narcissa tak pernah melihat putranya seperti itu, terakhir kali seperti itu saat Voldemort masih hidup.
.
Perlahan Narcissa mendekati suaminya yang duduk di sofa hijau di dalam kamar mereka. Wanita cantik berambut pirang itu duduk di lengan sofa dan merangkul bahu suaminya dengan lembut, "Jangan menyalahkan dirimu, aku tahu kau tak bermaksud membuatnya begitu," hibur wanita cantik itu.
Lucius menghela nafas panjang lalu menggenggam tangan istrinya, "Aku juga merasa bersalah pada Harry, tapi keadaan seperti ini tidak benar, Cissy," kata pria itu pelan.
Narcissa terdiam sebentar sebelum bicara, "Aku tahu, sayang. Kita harus bicara pada Harry. Mungkin ini akan menjadi sangat menyakitkan, tapi harus kita lakukan demi kelangsungan keluarga kita," jawab wanita bermata biru itu yang mendapat anggukan dari suaminya.
.
.
Harry terbangun dengan tubuh yang begitu sakit, kepalanya terasa sangat pusing dan pandangannya berkunang-kunang, "Apa yang terjadi?" tanyanya pada dirinya sendiri. Dia bangun dan duduk di tepi tempat tidur, dilihatnya segelas cokelat yang telah dingin, "Siapa yang membuat itu?" tanyanya lagi dengan bingung. Tak ingin berpikir jauh dia pun melangkah ke kamar mandi, beruntung ini hari libur jadi dia tak perlu pergi ke kantor dengan kondisi seperti ini.
Suara bel pintu mengejutkannya yang baru saja berganti pakaian, lalu dia melangkah ke ruang tamu dan membuka pintu. Tubuhnya membeku melihat siapa yang datang, "Aunt Cissy? Uncle Lucius?" sapanya heran lalu mempersilahkan mereka masuk.
Lucius meremas bahu istrinya begitu melihat kondisi Harry, wajahnya yang dulu selalu bersinar penuh semangat kini tampak lesu dan pucat, sinar matanya yang seterang emerald meredup dan tampak sayu, tubuhnya menjadi kurus dengan begitu cepat sejak saat terakhir kali mereka bertemu. Mereka duduk di sofa yang di tunjuk Harry.
"Flat ini tampak rapi, Son," kata Narcissa mengawali obrolan.
Harry berusaha menenangkan debaran jantungnya, "Pansy dan Hermione sering membantuku membereskan semua," jawabnya sambil tersenyum.
Hati Narcissa terasa perih, bagaimana mungkin pemuda ini masih bisa tersenyum pada mereka setelah apa yang didengarnya di Hogwarts beberapa hari yang lalu.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Harry.
Lucius mengangguk pada pemuda yang sudah dianggapnya sebagai putranya sendiri itu, "Lebih baik dibandingkan keadaanmu sekarang, Son," jawabnya.
Harry tercekat mendengar itu, dia terus berusaha bersikap sewajar mungkin, "Aku hanya terlalu sibuk di kantor, pekerjaan ini benar-benar menguras tenaga dan pikiranku," elak Harry masih tetap tersenyum.
Narcissa tak mampu lagi menahan emosinya, dia tak sanggup melihat senyum pemuda itu sampai akhirnya dia terisak dan menangis dalam dekapan Lucius. Lucius mengerti kalau istrinya tak akan sanggup membicarakan hal itu pada Harry, akhirnya dialah yang membuka suara, "Harry, kami tahu kalau saat itu kau mendengar pembicaraan kami bersama Severus."
Harry menautkan kedua tangannya dan mengepalkannya dengan kuat berusaha mencari kekuatan untuk menyembunyikan emosinya, dia mengangguk dan memberanikan diri menatap mata abu-abu Lucius.
"Kami sudah tahu tentang hubunganmu dan Draco," kata Lucius lagi, kali ini lebih pelan dan hati-hati, sungguh dia tak ingin menyakiti Harry.
Harry tersenyum getir, "Maafkan aku Uncle, Aunt Cissy," jawabnya lirih.
Narcissa bangkit lalu menghampiri dan memeluk Harry dengan erat, "Bukan salahmu, Son, bukan salah Draco juga, keadaan ini tak pernah kita prediksi," katanya sambil terisak.
Harry mengusap lengan wanita yang telah dianggap sebagai ibunya itu, "Tak apa, Aunt Cissy, aku mengerti," bisik Harry. Hatinya sakit, jantungnya seakan diremas dengan kuat, air mata hampir menjebol pertahanannya, tapi dia bertahan.
"Draco bersikeras tak mau meninggalkanmu, aku paham hal itu, tapi..." kata-kata Narcissa kembali hilang dikalahkan oleh tangisnya.
"Dia putra tunggal kami, kau pun sudah kami anggap sebagai anak sendiri, Harry, aku harap kau bisa mengerti," jelas Lucius dengan nada berat.
Harry membalas pelukan Narcissa dengan lembut, dia menguatkan hatinya sebelum mengatakan kata kuncinya, "Kalau dia tak mau meninggalkanku, maka akulah yang akan meninggalkannya," jawab Harry mantap. Saat itu dia merasa sebagian jiwanya melayang dan hilang, ada ruang kosong yang tak tertutup di dadanya.
Tangis Narcissa semakin menjadi, "Maafkan kami, Harry, kami hanya..."
"Aku tak pernah memiliki ayah dan ibu, dan kalau saat ini mereka masih mendampingiku maka aku bersumpah tak akan pernah kubiarkan setetespun air mata keluar membasahi pipi mereka, tidak, Aunt Cissy," kata Harry berusaha menghibur wanita yang tengah menangis itu walau hatinya sendiri seperti tersayat dan hangus terbakar.
Lucius tak bisa berkata apa-apa lagi, "Maafkan kami, Harry," katanya.
Harry terpaku, seorang Malfoy yang disegani seluruh penyihir meminta maaf padanya. Harry tahu, mereka semua berada pada pihak yang tak bersalah.
Lucius berdiri diikuti Harry dan Narcissa, pria berambut pirang itu memeluk Harry dengan erat sebelum meninggalkan flatnya bersama sang istri.
.
Entah sudah berapa lama Harry terdiam di sofa, dia tak bisa menangis atupun marah, apa yang harus ditangisi? Dan kepada siapa dia harus marah. Dadanya seakan segera meledak menahan jutaan emosi yang berkecamuk disana.
Dengan kepala kosong dia membuka lemari kamarnya dan mengambil beberapa botol besar fiewhiskey, "Aku harus melupakan ini, aku harus melupakan semua, aku harus membebaskan diriku. Bertahanlah, Harry, bertahanlah," gumamnya pada diri sendiri sambil membuka tutup botol minuman keras itu dan menenggaknya banyak-banyak.
Rasanya biasa saja, tak ada yang berubah walau hampir seluruh botol diminumnya. Dia terus minum dan minum, tetap saja hanya rasa sakit dan perih yang dia rasakan. Dengan marah dibantingnya botol itu ke tembok, "BOTOL SIALAN, BANTU AKU MELUPAKANNYA, BANTU AKU, BRENGSEEEEEKā¦!" teriaknya marah. Dia mengusap pipinya, basah, "Tidak, aku tidak menangis, aku tak akan pernah menangis lagi, TIDAK AKAN PERNAH."
Dia mendengar pintu flatnya di dobrak dengan keras, dia tak sempat melihat siapa yag masuk karena saat itu pandangannya telah menjadi gelap, kepalanya terasa berat dan dia tak ingat apa-apa lagi.
.
Harry tak sadarkan diri, Blaise segera membawa sahabatnya ke dalam kamar. Dia dan Theo mendengar teriakan Harry, mereka tak menyangka kalau mereka harus menemukan Harry separah ini. Tak lama kemudian Pansy dan Hermione masuk ke dalam flat Harry, mereka tercekat melihat keadaan Harry yang tak sadarkan diri. Berbagai upaya mereka coba tapi Harry tak juga bangun.
"Blaise, coba hubungi kepala sekolah, jaringan floo ini hanya terhubung ke kantornya di Hogwarts," usul Hermione.
Blaise mengangguk mengerti, dia segera masuk ke dalam dan tak lama kemudian dia datang bersama Severus.
Mantan kepala sekolah mereka itu langsung menuju kamar Harry, dia terhenyak melihat kondisi Harry yang lemah, pucat dan tak sadarkan diri.
"Apa yang terjadi?" tanyanya datar, tapi semua bisa melihat sinar cemas di mata hitamnya.
"Tadi kami mendengar teriakan dan suara botol pecah, begitu pintu kami buka dia langsung tak sadarkan diri," jawab Blaise cepat.
Severus memeriksa nadi putranya lalu memeriksa seluruh tubuh pemuda itu dengan tongkat sihirnya.
"Miss Granger, bantu aku menyiapkan ramuan, kita kembali ke Hogwarts sebentar. Dan kalian tolong jaga dia," perintah Severus yang tak menginginkan bantahan ataupun pertanyaan.
.
Sekitar setengah jam Severus dan Hermione kembali ke flat Harry. Severus menyiapkan ramuannya. Belum selesai dia meracik datanglah Draco dengan wajah bingung melihat banyak orang di tempat Harry, "Ada apa?" tanyanya. Hermione dan Theo yang ada di ruang tengah tak menjawab, mereka hanya menoleh ke kamar Harry.
Wajah Draco berubah pucat, dia langsung berlari menuju kamar kekasihnya dan melihat Harry terbaring dengan wajah yang begitu pucat.
Dengan cepat dia meraih tangan Harry, "Ada apa? Apa yang terjadi padanya?" tanyanya panik pada Blaise dan Pansy.
Kedua sahabatnya itu hanya menggeleng, "Waktu aku datang dia sudah tak sadarkan diri, Draco," jawab Blaise.
Severus masuk dengan membawa segelas ramuan, "Bantu aku meminumkan ini," katanya pada Draco.
Perlahan Draco membantu Harry yang masih belum sadarkan diri untuk duduk.
Severus memaksa Harry untuk meminum ramuan itu, agak susah karena kondisi Harry yang sangat lemah, tapi dia cukup puas dengan jumlah ramuan yang masuk ke tubuh putranya.
Tak lama mata Harry membuka lebar, sepertinya dia kesakitan dan tak lama kemudian dia memuntahkan seluruh isi perutnya.
Pansy dan Hermione menangis melihat penderitaan sahabat mereka, kedua gadis itu berpelukan saling memberi kekuatan.
Setelah itu kembali Harry tak sadarkan diri.
"Biarkan dia beristirahat dulu," kata Severus sambil melangkah ke ruang tengah dan duduk di sofa tunggal yang selalu disiapkan Harry untuknya. Semua mengikuti Severus dan duduk didepannya.
"Apa yang terjadi, Sev?" tanya Draco.
Severus memandang Draco dengan tajam, "Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang terjadi?"
Draco menunduk, dia tak menjawab karena dia benar-benar tak tahu apa yang terjadi.
"Dia keracunan alcohol yang diminumnya, dan kulihat itu wajar mengingat jumlah botol firewhiskey yang tadi kosong," jelas Severus.
"Akhir-akhir ini dia sering terlihat pulang larut malam dan pulang dalam keadaan setengah mabuk," terang Hermione yang mendapat anggukan dari semua.
Severus menyandarkan punggungnya, dia sudah menduga kalau pembicaraannya dengan Lucius dan Narcissa di Hogwarts beberapa hari yang lalu akan membawa dampak buruk pada kehidupan Harry.
"Maaf," kata Pansy memecah kesunyian, "Tadi pagi aku melihat orang tua Draco mengunjungi Harry."
Wajah Draco dan Severus memucat, tanpa menunggu lama Draco langsung berdiri dan berlari keluar.
.
.
Pintu perpustakaan di Malfoy Manor terbuka dengan kencang, Lucius dan Narcissa yang berada didalamnya langsung berdiri dan terkejut melihat tatapan marah putra mereka.
"Draco, ada apa?" tanya Narcissa bingung.
Draco mendekati orang tuanya, "Apa yang kalian lakukan pada Harry?" tanyanya dingin.
"Apa maksudmu?" tanya Lucius.
"Aku bertanya, APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA HARRY?" teriaknya marah.
Lucius terdiam, dia berusaha keras mengontrol emosinya. "Kami hanya bicara padanya, Draco. kami tak melakukan apa-apa," jawab Narcissa kali ini.
Draco memandang tajam pada ibunya, "Apa yang kalian katakan padanya?" tanya pemuda itu lagi, "APA YANG KALIAN KATAKAN SAMPAI DIA TAK SADARKAN DIRI, KATAKAN PADAKU," teriaknya lagi.
Lucius terkejut dan mulut Narcissa terbuka lebar, dia tak percaya dengan apa yang dikatakan Draco, "Apa? Harry kenapa, Draco?" tanyanya panik.
Draco mendengus, "Kukatakan ini untuk pertama dan terakhir kalinya, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Harry, maka aku pastikan kalian tak akan pernah melihatku lagi," kata Draco sambil meninggalkan ruangan itu.
.
.
Dua hari sudah Harry tak sadarkan diri, dengan permohonan Severus sebagai walinya maka dengan mudah pihak kementrian memberikan ijin sampai Harry sembuh. Tak ada yang mengatakan apa alasan yang membuat Harry sakit seperti ini.
Draco dan sahabat-sahabatnya terus menemani Harry, begitu juga dengan Severus yang berkunjung beberapa jam sekali.
Malam ini semua berkumpul di kamar Harry, tak ada yang bersuara. Bahkan Narcissa dan Lucius yang menjenguk Harry pun tak mampu berkata apa-apa. Narcissa terus menangis dalam pelukan suaminya, dia menyesali apa yang terjadi pada Harry.
Severus menghampiri Harry dengan cepat saat dilihatnya putranya itu mulai menggerakkan tangannya, "Harry, buka matamu, Son," bisiknya pelan.
Semua tampak tegang, tak lama ekspresi mereka menjadi sedikit lega saat mendengar erangan Harry.
Perlahan mata hijau itu terbuka, dia melihat sekeliling dengan bingung. Berpegangan pada tangan Severus pemuda itu berusaha bangun, "Dad, ada apa? Kenapa kalian semua ada disini?" tanyanya lemah. Dia heran melihat Hermione dan Pansy yang menangis, "Kenapa kalian menangis? Pans? Mione?" tanyanya lagi.
Severus memeluk putranya dengan erat, "Syukurlah, Harry, lama kau tak sadarkan diri," katanya lalu melepaskan pelukannya.
Draco mengusap wajahnya, kali ini rasa lega membuat tubuhnya melemas dan dia terduduk disamping Harry, dengan lembut dipeluknya tubuh kekasihnya itu, "Kau membuatku cemas setengah mati, Harry," bisiknya.
Harry menoleh untuk melihat siapa yang memeluknya, matanya terbelalak lebar dan dia mendorong keras tubuh Draco, "Malfoy, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya marah, ada nada panik dalam nada suaranya.
Semua tercengang, bagaimana mungkin Harry bersikap kasar pada Draco, orang yang sangat dia sayangi. Dan pandangannya itu... itu sorot mata yang dipancarkan Harry saat dia tak menyukai Draco, dulu, sudah lama sekali.
TBC
A/N.
Hooo... kenapa Harry jadi aneh gitu ya #plak
Aicchan sist, thanks bocoran Gaara nya. Ness juga, betapa sabarnya dirimu menghadapi seranganku, nak *hug*
Buat Ritsu ku sayang, makasih ripiunya, I love you, muah...! buat Ao_suka langit, Chelly (Thanks dah ngikutin fic ku, sist), Icci Chan, Naka-Hyuu Miko, dan semua silent Reader *GR bener, emang ada?*
Mmmh... banyak yang minta MPREG nih *garuk2*, kita liat aja ntar ya, makasih semuanya...!
