DILEMMA

CHAPTER 9

Disclaimer : JK. Rowling

Pair : Draco Malfoy / Harry Potter

Rating : M

Genre : Romance

Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon

.

#

.

Draco termenung di sofa besar di dalam kamarnya, dia memejamkan matanya mencoba mencari titik terang dari semua permasalahan yang dihadapi. Sudah seminggu ini hubungannya dengan Harry berakhir. Sejak sadar dari pingsannya selama dua hari mendadak Harry kehilangan semua ingatannya akan Draco. Bukan, dia mengingat Draco, tapi bukan sebagai kekasihnya. Yang Harry ingat adalah Draco Malfoy sebagai musuhnya.

Semua tak percaya akan kenyataan itu sampai Severus memutuskan untuk menggunakan Legillimens, dan hasilnya... tak ada ingatan akan Draco disana, yang tampak justru traumanya pada pemuda berambut pirang itu saat awal tahun ajaran baru di menara astronomi. Ingatan akan Draco berhenti disana. Severus tak melihat Harry mengingat kenangan indahnya bersama Draco.

Masih jelas tergambar di kepala Draco bagaimana marahnya Severus saat itu, pria berwatak dingin itu menyeret Draco ke kamar tamu dan menginterogasinya disana. Bagaimana Draco tega melakukan hal itu terhadap Harry. Hampir saja Severus membunuhnya kalau dia tak segera bilang kalau dia melakukan itu karena dia memang mencintai Harry sejak lama. Draco menjelaskan semua pada ayah wali Harry itu tentang bagaimana selama ini dia meminta maaf pada Harry sampai Harry bersedia memaafkannya dan menerimanya. Bahkan setelah mereka menjadi sepasang kekasih pun Draco berusaha keras menahan diri untuk tak menyentuh Harry dan membuatnya takut lagi.

Amarah Severus mereda, dia meminta pada Draco untuk tak memberi tahu siapapun tentang hal ini termasuk kepada orang tuanya, "Jangan permalukan anakku lagi," begitu ancamnya pada Draco. Cukup dia, Draco dan Pansy saja yang mengetahui hal itu.

Akhirnya Severus mengerti apa yang menjadi penyebab hilangnya ingatan Harry akan Draco. Harry merasa tertekan dengan permintaan orang tua Draco untuk meninggalkan putranya, bagaimanapun Harry tak mampu melupakan kekasihnya itu. emosinya berperang dengan batinnya dan melampiaskannya dengan alkohol. Racun dari banyaknya alkohol yang dia minum menyerang saraf otaknya dan membuatnya melupakan semua ingatan yang ingin dia lupakan, dalam hal ini dia ingin melupakan kenangannya bersama Draco.

Draco tersadar dari lamunannya saat pintu kamarnya terbuka, dia melihat ibunya masuk dan menghampirinya. Wanita yang masih terlihat cantik itu menggeser sebuah kursi kecil dan meletakkan di samping Draco agar dia bisa menyentuh putranya atau bahkan memeluknya yang tampak terluka dan rapuh.

"Draco, jangan menyiksa dirimu terus seperti ini," kata wanita itu pelan.

Draco tak bereaksi, bahkan dia tak menjawab ataupun melihat pada ibunya. Pandangannya lurus dilemparkan keluar jendela yang gelap.

"Kami menyesal hal ini terjadi pada Harry, percayalah," kataNarcissa lagi.

Draco mengepalkan tangannya, dia berusaha menahan emosinya yang selalu tinggi setiap kali berhadapan dengan kedua orang tuanya. "Ini yang kalian inginkan bukan? selamat, kalian berhasil mewujudkan keinginan kalian," desis Draco.

Narcissa menutup mulutnya dan menggeleng sedih, "Tidak, Son, kami ikut sedih dengan keadaan Harry," elaknya.

Draco mendengus dan tersenyum getir, mata abu-abu itu memandang ibunya dengan dingin, "Setidaknya sekarang dia tak perlu sakit dan terluka untuk dapat melupakan dan meninggalkanku," jawabnya ketus.

Air mata Narcissa mengalir dari mata birunya, "Maafkan kami," bisiknya pelan.

"Keluarlah, Mum, aku ingin sendiri saja," usir Draco halus.

.

.

Tempat yang sangat disukai Draco saat ini adalah kantornya, walaupun Harry tak mengingat semua hal tentang kenangan indah mereka setidaknya Draco bisa melihat pemuda itu dan memastikan kalau dia baik-baik saja.

"Mr. Malfoy, kau mendengarku?" tanya Mr. Savage, seorang auror senior yang menempati ruangan yang sama dengannya, Ron dan Harry.

Draco tergagap, "Sorry, Sir," jawabnya, "Bagaimana selanjutnya?" tanyanya tentang apa yang dibicarakan seniornya itu barusan.

Ron tertawa pelan sambil menggeleng melihat Draco yang sedari tadi melamun sambil memandang Harry.

"Diam kau," desis Draco kesal.

Mr. Savage berdiri sambil berdecak, "Kau tanyakan saja pada Mr. Weasley atau Mr. Potter, aku ada urusan diluar," katanya sambil meninggalkan ruangan.

"Apa katanya tadi?" tanya Draco pada Ron dan Harry.

Harry berdiri dan keluar dari belakang mejanya, "Cobalah untuk sedikit serius, Malfoy," katanya sebelum meninggalkan ruangan.

Draco menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, "Oh sialan, kapan dia akan mulai memanggilku 'Draco' lagi?" gerutunya sambil memijat keningnya.

Ron terkekeh lalu duduk di depan meja Draco, "Sabarlah, mate, anggap kau kembali ke masa lalu," katanya.

Draco mendengus, "Kalau saja kau tahu bagaimana sulitnya mendekati dia," gumamnya.

.

.

Harry berjalan kesal menyusuri Diagon Alley, "Dasar Malfoy, tak pernah sekalipun dia serius dalam menanggapi sesuatu, selalu seenaknya sendiri," gerutunya.

"Harry," sapa sesorang yang langsung menepuk pundaknya.

"Hai, George," jawabnya setelah tahu siapa yang memanggilnya barusan, "Tumben kau berada di luar tokomu?"

George tertawa, "Kadang kala bosan juga selalu di dalam toko," jawabnya, "Mau minum butterbeer sebentar denganku?" ajak pemuda berambut merah itu.

Harry mengangguk, "Kebetulan aku sedang senggang," katanya, lalu mereka berjalan menuju kedai makan di ujung jalan.

.

"Bagaimana kabarmu?" tanya George sambil menyesap Butterbeer-nya.

Harry tersenyum, "Baik, hanya agak sibuk dengan pekerjaan kantor saja," jawabnya.

George tertawa, "Ya, Pansy menceritakan padaku bagaimana sibuknya kau akihr-akhir ini sampai kau selalu lupa jam pulang."

Harry terkekeh, "Dia selalu membesar-besarkan. Ah bagaimana hubungan kalian?" tanya Harry.

"Baik, dua bulan lagi kami akan bertunangan, semoga semua lancar," jawab kakak Ron tersebut.

"Tak kusangka pesta kelulusan yang lalu justru menjadi pertemuan kalian," kata Harry. Tiba-tiba sekelebat bayangan melintas di kepalanya, pesta kelulusan lalu saat mereka di kediaman keluarga Weasley.

"Kau baik-baik saja?" tanya George cemas melihat Harry mengernyitkan keningnya.

Harry mengangguk, "Ya, hanya saja ada sesuatu yang aku lupakan saat pesta kelulusan yang lalu, apa ya?" tanyanya bingung.

George mengerti kalau Harry pasti merasa ada sesuatu yang hilang dari memori itu, karena dia tak bisa mengingat Draco, "Lupakan, nanti juga kau ingat lagi," jawabnya.

Harry hanya mengangguk.

.

.

Harry membuka pintu kantornya dan dia melihat Draco sedang bergelut dengan tumpukan dokumen. Dengan malas dia masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di belakang mejanya.

"Kau sudah kembali?" tanya Draco sambil mengangkat kepalanya.

Harry menulis laporan di agendanya, "Ya," jawabnya singkat. Dia begitu kesal setiap kali harus berhadapan dengan Draco, kenangan di menara astronomi itu masih terbayang jelas di kepalanya. Yang dia bingung sampai saat ini kenapa Draco bisa menjadi auror dan satu ruangan dengannya? Kepalanya sering terasa sakit kalau dia berusaha mengingat hal itu.

"Kau sudah makan siang?" tanya Draco lagi.

Harry berhenti menulis, "Urusi saja urusanmu sendiri, Malfoy," jawab Harry ketus. Dia heran padahal dia sudah bersikap begitu dingin pada Draco tapi entah kenapa Draco tak pernah membalasnya seperti dulu.

"Sorry," jawab Draco pelan, lalu dia mulai menyelesaikan dokumennya lagi. Sekuat apapun dia berusaha menerima perubahan sikap Harry padanya tapi tetap saja dia merasa begitu sakit saat Harry tak peduli padanya bahkan bersikap dingin, 'andai kau tahu kalau aku begitu merindukanmu, love', bisik hati Draco.

.

.

Dengan malas dibukanya pintu depan Malfoy Manor yang megah itu, dia terkejut ternyata ada beberapa tamu di ruang depan yang di kenalnya.

"Hei, Draco, apa kabar?" sapa seorang gadis cantik berambut cokelat terang yang langsung menghampirinya dan memeluknya.

Draco melepaskan pelukan gadis itu, "Baik, Daphne," jawabnya singkat, dia melihat seluruh keluarga Greengrass ada disana. Daphne adalah teman seangkatannya di Slytherin, dan dia memiliki seorang adik perempuan yang sangat cantik dan hanya selisih setahun di bawahnya.

"Selamat malam Sir, Ma'am, dan kau Astoria," sapa Draco sopan. Setelah berbincang sebentar Draco pamit untuk masuk ke kamarnya, dia begitu lelah hari ini, dan entah kenapa dia curiga dengan kunjungan keluarga Greengrass ke rumahnya.

.

.

Harry membuka lemari makannya dan mengambil beberapa roti untuk makan malam, dia terpaku pada dua buah gelas yang berwarna hijau dan merah yang diletakkan berdampingan, gelas itu tampak masih baru dan sangat terawat. Diambilnya dua gelas itu dan ditimbangnya di tangannya, "Kapan aku membeli gelas ini?" gumamnya.

"Kau mencari apa?" suara Pansy mengejutkannya.

"Hai, kapan kau masuk? Aku tak mendengar langkahmu," kata Harry.

"Baru saja," jawab gadis itu, "Apa yang kau pegang?" tanyanya heran.

Harry menunjukkan dua gelas yang di pegangnya, "Apa kau tahu kapan aku membeli gelas ini dan kenapa aku meletakkannya di dalam lemari, bukan di rak piring?"

Pansy terdiam, jelas-jelas dia tahu kalau warna hijau adalah warna kesayangan Draco. Gadis itu menggeleng, "Aku tak tahu, mungkin kau membelinya sudah lama dan kau lupa dimana membelinya," jawab gadis itu.

Semua temannya tak ada yang memaksa Harry untuk mengingat apa yang dilupakannya. Severus melarang mereka melakukan itu karena dia takut akan berpengaruh buruk terhadap Harry, "Biarkan ingatan itu kembali dengan sendirinya," begitu pesan kepala sekolah Hogwarts itu pada mereka.

Harry mengembalikan gelas berwarna merah di tempat semula, entah kenapa saat itu dia sangat ingin menggunakan gelas yang berwarna hijau. Ada sedikit getaran di dadanya dan dia tak tahu akan reaksinya yang seperti itu.

Pansy menggigit bibirnya saat melihat Harry yang menggengam gelas itu dengan begitu lembut dan hati-hati, 'Cepatlah ingat, Harry, kau harus tahu bagaimana menderitanya Draco saat ini', katanya dalam hati.

"Harry..." panggil suara dari ruang tamu, Harry dan Pansy mendatangi asal suara dan mereka melihat seluruh teman-temannya datang sambil membawa banyak minuman dan makanan.

Harry tertawa, "Apa yang akan kalian lakukan pada flatku?" tanyanya heran.

"Cari suasana baru, mate," jawab Ron sambil menarik Harry supaya duduk disampingnya.

Hermione dan Pansy mengambil semua makanan dan minuman ke dapur untuk ditata di atas piring. Sabtu malam ini mereka ingin menemani Harry. Tak lama kemudian George datang dengan membawa beberapa makanan yang di masak oleh Mrs. Weasley.

Obrolan demi obrolan mengalir seperti air, terus dan tak pernah berhenti. Canda tawa menghiasi ruangan itu. Harry begitu bahagia, sudah lama sekali mereka tak berkumpul seperti ini, dulu saat masih di Hogwarts mereka sering menghabiskan waktu di tepi danau, berbincang dan merencanakan masa depan bersama.

Lagi-lagi bayangan itu datang, Harry melihat ada sesuatu yang kurang disini. Dia memperhatikan teman-temannya satu persatu, semua ada tujuh orang termasuk dirinya, tapi George adalah seniornya dan dia sudah lulus saat itu, 'lalu siapa yang hilang?', tanyanya dalam hati. Mendadak kepalanya menjadi sakit, dan lagi dadanya, ada tekanan kuat disana yang juga menyakitinya.

"Mate, kau tak apa-apa?" tanya Ron cemas karena dilihatnya Harry memegang kepalanya sambil mengernyit.

Harry menggeleng, "Tidak, entahlah, kepalaku sering sakit saat aku berusaha mengingat sesuatu."

"Apa yang sedang berusaha kau ingat?" tanya Blaise hati-hati. Semua tegang menunggu jawaban Harry.

Sekali lagi Harry menggeleng, "Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang hilang," jawabnya pelan.

"Biar saja, jangan memaksakan dirimu, Harry," tengah George. "Ah, aku ingin memberitahu kalian, dua bulan lagi saat liburan musim panas, aku dan Pansy akan bertunangan, doakan kami ya?" katanya.

Semua bersorak, "Wow... ini berita hebat, Brother, kenapa baru kau katakan sekarang?" tanya Ron sambil menepuk punggung kakaknya.

Acara kumpul-kumpul itu berubah menjadi pesta untuk George dan Pansy, suasana semakin meriah, dan Harry pun berusaha melupakan semua pikirannya dan larut dalam pesta bersama teman-temannya.

.

#

.

Sebulan berjalan, dan Draco belum berhasil mendapatkan perhatian Harry. Dia berbaring di kamarnya yang luas dengan pikiran mengembara ke masa lalu dimana dia dan Harry masih bersama dan berbagi segalanya.

Dia ingat malam natal tahun lalu, saat dia menghabiskan malam bersama Harry di Spinner End's, saat itu hidupnya terasa sempurna saat Harry mengucapkan 'I love you too, Draco', dia rela menunggu seumur hidupnya untuk mendengar kata-kata itu. dan kini hanya dengan satu kalimat dari orang tuanya hidupnya sukses menjadi berantakan, bahkan lebh parah dibandingkan saat dia masih bermusuhan dengan Harry.

Dia ingat kata-kata yang pernah diucapkannya pada pemuda itu saat Harry bertanya bagaimana kalau dia yang meninggalkan Draco?

- "Lebih baik aku kehilangan seluruh ingatanku akan kau, Harry, karena aku tak ingin hidup dengan mengingatmu tapi tak bisa memilikimu, aku bersumpah." -

Draco mengusap wajahnya, "Dia mengikuti kata-kataku, dasar bodoh," rintihnya, "Aku merindukanmu, Harry, sangat merindukanmu," bisiknya lirih.

Dia duduk di tepi tempat tidurnya saat dilihatnya ibunya masuk ke dalam kamar, "Ada apa?" tanya Draco singkat. Dia masih enggan bicara dengan kedua orang tuanya, hatinya masih teramat sakit dengan perlakuan mereka terhadap Harry.

"Astoria menunggumu dibawah," jawab Narcissa pelan.

Draco mendengus, "Aku sudah tak peduli akan hidupku, kalau kalian ingin menjodohkanku dengannya maka lakukan saja," jawabnya sambil melangkah keluar dan meninggalkan ibunya yang tertunduk sedih.

.

"Hai, Draco," sapa Astoria yang duduk di ruang keluarga bersama Lucius.

Draco duduk di depan gadis itu, dia tak menjawab sapanya tapi hanya melihatnya dengan pandangan dingin.

Astoria terpaku di sofa yang didudukinya.

"Son, ajaklah Astoria ke halaman belakang, mungkin kalian bisa berbincang santai disana," saran Narcissa yang telah berdiri di belakang Draco.

Draco berdiri dan berbisik di telinga ibunya, "Apakah Mum sudah meminta seorang penerus tahta Malfoy padanya? Kalau belum akan aku buatkan sekarang," tanya Draco dengan nada merendahkan.

PLAAAAK...!

Suara tamparan menggema diruangan itu, Narcissa menggenggam tangannya yang masih terasa panas karena baru saja menampar putranya. Lucius berdir dan menghampiri istrinya, "Aa apa?" tanyanya dingin. Sedangkan Astoria hanya ternganga melihat itu.

Draco mengusap pipinya yang merah sambil tersenyum sinis, "Aku hanya menawarkan sesuatu yang sangat kalian inginkan dariku," jawabnya sambil melangkah ke halaman belakang, dia tak peduli pada ibunya yang mulai terisak.

Dengan memberanikan diri Astoria mangikuti Draco.

.

"Kau tak apa-apa?" tanya gadis itu pelan pada Draco saat mereka duduk berdua di gazebo belakang.

Draco memunggunginya, "Apakah mereka berencana menjodohkan kita?" tanyanya dingin tanpa basa-basi.

Astoria terdiam sejenak, "Kurasa begitu," jawabnya lirih.

"Dan dengan bodohnya kau menerima rencana busuk mereka?" tanya Draco lagi dengan nada sinis.

Astoria terkejut, "Draco, jangan berkata seperti itu, mereka hanya merencanakan apa yang terbaik untuk kita," jawab gadis itu lagi.

Draco membalikkan badannya dan menatap tajam mata Astoria, "Darimana kau tahu kalau itu yang terbaik untukku?" desis Draco.

"A-aku... aku hanya..." jawab Astoria gugup.

Dia tak mengenal Draco yang ada di hadapannya saat ini, Draco yang ini begitu berbeda dengan Draco Malfoy yang dicintainya saat di Hogwarts dulu. Dulu dia hanya bisa memandang sosok Draco dari jauh, dia tak memiliki keberanian untuk mendekati pemuda itu. sikapnya yang dingin tak mengijinkan seorang wanita pun mendekatinya, kecuali Pansy Parkinson dan kakaknya, Dhapne.

Apalagi sejak semua orang mengetahui kalau ada hubungan khusus antara Draco dan Harry Potter, tak ada satupun yang berhasil masuk diantara mereka. Dan begitu orang tuanya merencanakan perjodohan ini Astoria serasa mendapatkan sinar terang untuk menjadikan Draco sebagai miliknya, tapi apa yang dihadapinya kini begitu jauh dari apa yang dia bayangkan.

"Kalau kau memang menginginkan ini terjadi, itu semua terserah kalian, tapi aku ingatkan padamu bahwa orang yang ada di depanmu sekarang adalah sesosok mayat hidup yang sudah tak memiliki hati," jawab Draco dingin.

Astoria hanya terduduk lemas.

.

.

.

Pintu ruangan bernuansa putih itu terketuk, Pansy mengangkat kepalanya dari tumpukan dokumen di mejanya dan melihat Hermione berdiri di depan pintu.

Gadis berambut cokelat bergelombang itu menghampiri sahabatnya yang sama-sama bekerja untuk departemen hukum, "Pans, ada yang mencarimu di depan," kata Hermione.

Pansy mengernyitkan keningnya, "Siapa?" tanyanya heran, karena tak pernah ada yang mencarinya di kantor.

"Astoria Greengrass," jawab Hermione singkat.

Pansy terkejut mendengar nama keluarga sahabatnya saat di Slytherin dulu,. Tapi yang aneh kenapa bukan Daphne yang datang, kenapa justru adiknya yang Pansy sendiri tak begitu mengenalnya? "Untuk apa dia kesini? Apa ada urusan penting?" tanyanya lebih pada dirinya sendiri.

"Entahlah, kau temui saja dulu," jawab Hermione lagi.

Dengan setengah hati Pansy berdiri dan melangkah keluar, dia malas berurusan dengan masa lalunya yang selalu berbuat jahat bersama Daphne.

.

"Hai, Astoria," sapa Pansy pada gadis cantik yang menunggunya di Lobby.

Astoria menyalami Pansy, "Hai, apa kabar?" tanyanya.

Pansy mengangguk, "Baik, terima kasih. Ada keperluan apa kau mencariku?" tanya Pansy tanpa basa-basi.

Astoria tersenyum kaku, "Kalau kau tak sibuk aku ingin mengajakmu makan siang, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu," jelas Astoria

.

"Kau bersahabat dekat dengan Draco kan?" tanya Astoria setelah mereka duduk di sudut restoran di seberang kantor kementrian.

Pansy menatap curiga gadis di depannya, "Ya, begitulah, kenapa?"

Astoria menceritakan semua tentang perjodohan mereka, dia bisa melihat keterkejutan Pansy dan raut muka sedihnya.

"Bagaimana tanggapan Draco?" tanya Pansy.

Astoria mendesah, "Dia menyerahkan semua pada kami, Pans, karena dia sudah tak peduli lagi pada hidupnya. Dia juga bilang kalau sekarang dia hanyalah sesosok mayat hidup tanpa hati. Aku tak mengerti apa maksudnya."

Pansy tersenyum getir, "Dia sudah tak memiliki sisa cinta lagi yang bisa dibaginya untuk orang lain."

"M-maksudmu?" tanya Astoria masih tak mengerti.

Pansy memandang sosok gadis cantik di hadapannya, "Kau pasti tahu kan dengan siapa dia berhubungan saat di Hogwarts?"

Astoria mencoba mengingat, "Potter?" jawabnya ragu. Dia terkejut saat Pansy mengangguk, "A-aku pikir mereka sudah putus saat kedua orang kami merencanakan perjodohan ini."

Pansy menceritakan semua yang terjadi antara Draco dan Harry, dan bagaimana kondisi Harry saat ini. Dia tercekat saat melihat sebutir air mata jatuh membasahi pipi mulus Astoria saat dia selesai menceritakan semua. "Maafkan aku, bukan maksudku memojokkanmu, tapi saat ini mereka berdua sama-sama menderita," kata Pansy kemudian.

Astoria menggelang, "Aku tak tahu kalau keadaannya seperti ini, aku benar-benar tak menyangka."

Pansy menggengam tangan gadis itu, "Coba kau tanyakan pada hatimu, Draco yang seperti apa yang pernah kau cintai?"

.

.

Harry melihat wajah Draco yang sedikit pucat dari biasanya, pemuda berambut pirang itu sedang serius mengerjakan laporannya. Seiring berjalannya waktu perasaan benci Harry padanya sedikit terkikis, hal ini disebabkan oleh sifat Draco yang tak pernah melawan atau membalas semua sikap dinginnya. Bahkan dia merasa kalau Malfoy junior itu selalu memberinya perhatian lebih.

"Hei, Draco, wajahmu pucat sekali, yakin kau baik-baik saja?" tanya Ron dari meja kerjanya yang terletak di samping meja Harry.

Draco mengangkat kepalanya dan mendengus, "Jangan cerewet, Ron, aku baik-baik saja," jawabnya.

Dengan kesal Ron melempar sebuah buku kecil dari mejanya kepada Draco yang berhasil ditangkap dengan baik oleh pemuda berambut pirang itu sambil tertawa, "Aku hanya mengkhawatirkanmu, bodoh," gerutu Ron.

Harry menatap kedua rekannya , kadang dia heran sejak kapan Ron menjadi akrab dengan Draco? Padahal dulu justru dia lah yang paling membenci pangeran Slytherin itu. dan tawa itu, 'dimana aku pernah melihat tawa seperti itu?' tanya Harry dalam hati.

Merasa diperhatikan, Draco menolehkan wajahnya dan menatap lurus mata hijau Harry yang sedang memandangnya. Hatinya terasa hangat, ingin rasanya saat itu juga dia berlari dan memeluk kekasihnya erat, tapi Draco tak berani melakukan itu, dia tak ingin menyakiti Harry lagi. Dengan lembut dia tersenyum pada Harry yang langsung berdiri dan meninggalkan ruangan.

Draco mengusap wajahnya dan mengeluh putus asa melihat sikap Harry yanng selalu menjauhinya.

Ron menghampiri sahabatnya itu dan menepuk bahunya, "Apa kau akan selalu menunggunya kembali menjadi Harry-mu yang dulu, Draco?" tanya Ron.

Draco memandang Ron dan mengangguk mantap, "Akan kutunggu, Ron."

.

.

Malam ini Draco menyendiri di gazebo di belakang rumahnya, tubuhnya memang sedang tidak sehat tapi dia tak ingin tinggal di rumah, dia harus selalu bertemu Harry. Draco tak ingin membuang satu-satunya kesempatan untuk bertemu pemuda itu.

"Maaf, apa aku mengganggumu?" tanya sebuah suara yang mengejutkannya.

Draco melihat Astoria sudah berdiri didekatnya, "Ada apa?" tanyanya datar.

"Tidak, aku hanya ingin mengunjungimu," jawab Gadis itu dan duduk di kursi kayu.

Draco berdiri memunggungi Astoria, "Apakah tanggal pernikahannya telah ditetapkan?" sindirnya.

"Tidak, Draco," jawab Astoria, "Aku kesini bermaksud untuk membatalkan perjodohan kita."

Draco terkejut, dia membalikkan badannya dan memandang Astoria, "Aneh sekali, kalau aku justru senang kau berniat membatalkan itu, tapi apa kau tak takut nanti mereka berang dan mengamuk?" tanya Draco sinis.

Astoria menggeleng, "Tidak," jawabnya singkat. "Mmmh... Draco, bagaimana keadaan Harry?" tanya gadis itu.

Draco mengernyitkan keningnya, "Kenapa kau bertanya tentang dia?"

Astoria berdiri dan menghampiri pemuda itu, "Aku sudah mendengar semuanya dari Pansy, dia menceritakannya tadi siang," jawab nona muda itu

Draco mengangguk mengerti.

"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Astoria lagi.

Draco bersendekap, dia tersenyum dan pandangannya menerawang jauh, "Harry baik-baik saja, dia hanya kehilangan sebagian ingatannya tentangku, yang dia ingat aku adalah musuhnya," jawab Draco pelan.

Astoria tersenyum, dia melihat raut wajah Draco yang sangat dirindukannya. Mata yang biasanya berkilat dingin itu tampak begitu hangat saat membicarakan Harry. "Apakah kau telah mencoba untuk membantunya mengingat segala sesuatu tentang kalian?" tanya Astoria lagi.

Draco menggeleng, "Severus tak mengijinkan kami memaksakan ingatannya, karena kemungkinan besar itu justru akan membuatnya menjadi lebih buruk, dan aku tak mau itu terjadi padanya."

"Kau pasti tersiksa, bisa melihatnya tapi tak bisa menyentuhnya," kata Astoria pelan, dia bisa merasakan kesedihan Draco saat ini walau hatinya sendiri terasa perih.

Draco menggeleng, "Aku tak tersiksa, aku hanya merindukannya, dan aku akan bertahan selama dia baik-baik saja."

Spontan Astoria memeluk tubuh Draco, dia terisak kecil, "Maafkan aku, Draco. Sungguh aku merasa malu karena tak memikirkan perasaan kalian."

Draco menepuk bahu gadis itu, "Sudahlah," jawabnya.

Suara Narcissa mengejutkan mereka, "Draco, Harry mencarimu di ruang tengah."

Draco melepaskan pelukan Astoria, "Harry? Harry mencariku?" tanyanya tak percaya,lalu pemuda itu berlari dengan cepat menuju ruang tengah.

Narcissa terpaku, sejak Harry mengalami amnesia baru kali ini dia melihat senyum Draco lagi, putranya itu tampak begitu hidup dan bersemangat.

Astoria menghampiri wanita itu dan merangkul bahunya, "Kita semua tahu siapa yang dipilih Draco."

.

.

"Bagaimana pekerjaanmu, Harry?" tanya Lucius yang menemani Harry di ruang tengah.

Harry mengangguk, "Baik, Sir, saat ini sedang tidak begitu sibuk," jawab Harry sopan. Harry ingat kalau hubungannya dengan Malfoy senior itu sekarang telah membaik seiring berakhirnya perang besar.

Harry memandang sosok pria di depannya itu dan entah kenapa dia merasa ada sedikit perasaan rindu di hatinya, apalagi saat dia bertemu dengan Narcissa Malfoy tadi.

"Bagaimana kabar Severus?" tanya Lucius lagi.

Harry tersenyum, "Dad baik-baik saja, dia sudah tak pernah menggerutu lagi dengan sikap murid-muridnya."

Lucius tersenyum samar, dia memandang Harry dan perasaan bersalah muncul di hatinya. Ingin rasanya dia memeluk pemuda itu, pemuda yang telah dianggapnya sebagai putranya sendiri dan dengan kejam dia telah menghancurkan hidupnya.

"Harry, ada apa?" tanya Draco yang datang masih dengan setengah berlari, wajahnya tampak memerah pertanda kalau pemuda itu sedang sangat bersemangat. Senyum mengembang di wajahnya yang tampan.

Hal itu cukup membuat Lucius tercekat, hanya dengan kehadiran Harry di dekatnya wajah putranya kembali hidup.

Harry berdiri dan mengulurkan sebuah map berwarna merah, "Mr. Savage memintaku mengantarkan ini padamu," jawab Harry datar.

Hati Narcissa terasa sakit, ekspresi Harry jauh bertolak belakang dengan ekspresi Draco yang tampak begitu bahagia. Mata hijau itu menyorot dingin saat menatap Draco, dan wanita itu melihat Draco tak peduli akan hal itu.

"Oh, thanks," jawabnya, "Seharusnya kau tak perlu repot-repot mengantarnya kesini."

Harry mendengus, "Ini semua hanya untuk kepentingan pekerjaan, Malfoy," jawabnya dingin. Sekali lagi Harry heran karena Draco tetap tersenyum.

"Mmmh… Harry, maukah kau makan malam disini bersama kami?" tawar Narcissa dengan nada suara dibuat sewajar mungkin, Lucius mengangguk menyetujui permintaan istrinya.

Harry tersenyum pada wanita yang masih terlihat cantik itu, hatinya selalu merasa tenang jika melihat ibu Draco tersebut, "Tidak, Ma'am, Sir, terima kasih. Dad akan berkunjung malam ini, dan aku sudah sangat merindukannya."

Narcissa mendesah kecewa, "Baiklah, kami mengerti," kata wanita itu, "Tapi aku akan lebih bahagia kalau kau memanggilku Aunt Cissy, Son, begitu pun dengan Uncle Lucius," kata wanita berambut pirang itu hangat.

Bayangan masa lalu kembali berkelebat di kepala Harry, 'Aunt Cissy? Uncle Lucius? Dimana aku pernah mendengar itu?', tanyanya bingung dalam hati, kepalanya kembali terasa sakit, dan tanpa sadar dia memegangi kepalanya dan sedikit mengerang.

"Harry kau tak apa-apa? Apakah terasa sakit?" tanya Draco cemas sambil memegang bahu pemuda itu.

Harry terkejut, dengan kasar dia menepis tangan Draco, "Lepaskan aku, Malfoy," desisnya, sekarang dadanya yang terasa sakit.

Draco langsung mundur selangkah, dia tak mau sesuatu yang buruk menimpa Harry, "Okay, sorry," jawab Draco, tapi matanya masih memandang Harry dengan cemas.

Harry bingung, 'ada apa dengan Draco, kenapa dia peduli sekali denganku?', batinnya. "Maaf, aku harus pulang sekarang. Dan sepertinya aku telah mengganggu seorang tamu disini," katanya sambil memandang ke arah Astoria yang sejak tadi hanya diam.

Draco mendadak menjadi tak enak hati, "Harry, biar ku jelaskan, dia adalah…"

"Itu bukan urusanku kan, Malfoy?" potong Harry masih dengan nada dingin, "Selamat malam semua," pamitnya sebelum melangkah keluar Manor.

Draco masih terpaku ditempatnya, sorot matanya kembali tampak terluka dan sepi. Senyum yang tadi tampak lebar langsung menghilang dari bibirnya. Setelah menerbangkan dokumen yang tadi diantarkan Harry ke meja di kamarnya pemuda itu melangkah keluar.

"Kau mau kemana, Draco?" tanya Narcissa bingung.

"Aku harus memastikan keadaannya baik-baik saja sampai dia tiba di flatnya," jawab Draco sambil berlalu.

Tak ada yang bisa membantah maupun melarang, mereka tahu apa yang dirasakan pemuda itu.

TBC LAGI YA…

Buat Ness, HAPPY B'DAY…, maaf ga ada fic untuk tanggal ini karena emang bener2 ga sempat. Tapi chap 9 ini aku kebut dan khusus aku publish hari ini untukmu, dan inilah usaha maksimalku, maafkan aku *hug*

Buat Chelly, Aoi, Yufa, Vii, Icci chan, Kai, Len, Elga, Miiko, dan Ana97, makasih buat ripiunya, juga buat para silent reader yang telah meluangkan waktu membaca fic ini.

Soal MPREG, jujur aku sangat ingin bisa membuat itu, tapi aku juga harus punya data yang akurat dengan alasan yang logis. Aku tak mau itu hanya sekedar MPREG yang dipaksakan aja, ini masukan dari para senior yang sangat membantuku. Jadi mohon maaf buat semuanya karena aku belum mampu membuat itu *sujud2*.

Semoga hal itu ga membuat kalian kecewa dan berhenti membaca fic ku *wajah melaz*, makasih ^^