DILEMMA
CHAPTER 10
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon
.
#
.
"Tak baik kau terus melamun seperti itu, Draco," suara Ron mengejutkan Draco yang sedang melamun di belakang meja kerjanya.
Draco memandang sahabatnya itu, "Tak melamun, hanya sedikit berpikir," jawabnya datar.
Ron mendengus, "Sama saja," katanya, "Ada masalah apa lagi?"
Draco menyandarkan punggungnya pada kursi kerjanya, "Harry," desahnya sambil kembali menerawang. Sejak dia satu kantor dengan Ron sedikit banyak Draco mulai membuka dirinya pada kekasih Hermione itu, dia yang sering Draco temui dan yang mengetahui apa yang terjadi dengan hubungannya dan Harry.
Ron hanya mengangkat bahu, "Aku sendiri juga heran, dulu dia masih mau bicara padamu biarpun ketus, tapi sekarang dia hampir sama seperti kau dulu, begitu dingin dan keras kepala. Dia terus mengatakan kalau dia membencimu, ouh sorry, maksudku..." Ron agak tak enak hati melihat raut wajah Draco saat itu.
Draco menggeleng, "Tak apa, aku tahu, Ron, saat ini dia begitu membenciku. Bahkan sedikitpun aku tak bisa menyentuh hatinya," keluh Draco lesu.
Ron baru sadar kalau wajah Draco hari ini tampak sedikit pucat dari biasanya, "Kau sakit, mate?" tanyanya.
Sekali lagi Draco menggeleng, "Tidak, aku baik-baik saja," elaknya.
"Sebaiknya kau pulang," saran Ron.
"Dan melewatkan hari tanpa bertemu Harry? Tidak, Ron," jawab Draco cepat.
Ron mendengus kesal, "Kau sama saja keras kepalanya dengan Harry," gerutunya, dan Draco hanya terkekeh pelan.
Tak lama masuklah orang yang sedang mereka bicarakan, "Hei, Harry," sapa Ron, sedangkan Draco hanya diam saja, dia tak berani menyinggung Harry dengan menyapanya, dia hanya memperhatikan pemuda itu dan berusaha meredakan debar jantungnya.
"Hei, mate," jawab Harry singkat sambil duduk di kursi kerjanya dan mulai menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen. Selalu begitu caranya untuk menghindari kontak dengan Draco.
Draco berdiri dari kursinya dan melangkah menuju pintu, "Kau mau kemana?" tanya Ron.
Draco berhenti dan berbalik, "Ada tugas lapangan, Mr. Savage memintaku untuk ikut dengannya," jawab Draco.
"Kau sedang sakit, aku gantikan saja," tawar Ron.
Saat itu Harry mendongakkan kepalanya ketika mendengar kata-kata Ron dan memandang heran pada keduanya.
Tak ingin Harry mengetahui kondisinya Draco pun berbalik dan mengibaskan jubahnya, "Aku baik-baik saja," katanya sambil melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.
"Keras kepala," gerutu Ron pelan.
Harry memandang sahabatnya, "Dia sakit?" tanya Harry.
Ron memandang Harry dengan tatapan tak percaya, "Wow, mate, tak biasanya kau menanyakan Draco," goda Ron sambil nyengir.
Harry mendengus dan kembali menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Dia sendiri terkejut, kenapa dia begitu ingin tahu akan keadaan Draco. Kali ini yang terasa sakit bukan kepalanya, tetapi hatinya, dan Harry tak tahu kenapa akhir-akhir ini dia sering merasa begitu, terutama saat dia berada di dekat Draco.
.
.
Harry baru saja tiba di kementrian setelah setengah hari dihabiskannya berpatroli dengan Mr. Williamson, salah satu auror senior. Dengan malas dibukanya pintu ruangan yang ditempatinya bersama Ron, Draco dan Mr. Savage. Dia tercekat saat melihat siapa yang ada di dalam, Draco Malfoy yang sedang merebahkan kepalanya diatas meja. Matanya terpejam, dia tertidur dengan wajah yang memang lebih pucat dari biasanya. Perlahan dia mendekati meja pemuda berambut pirang itu.
Saat itu entah kenapa hati Harry terasa begitu bergemuruh, ada bayangan melintas di kepalanya. Sebuah ruangan putih, dinding putih dan ada yang berbaring di salah satu tempat tidur dengan wajah pucat dan perban yang melingkar di kepala.
Harry mengibaskan kepalanya berharap bayangan itu hilang, karena saat itu dirasanya kepalanya kembali sakit. Tanpa sadar dia mengerang dan memegangi kepalanya.
Draco yang mendengar sebuah suara langsung terbangun dan terkejut melihat Harry berdiri di depannya dengan wajah yang tampak begitu kesakitan. Draco melompat dari kursinya dan langsung memeluk Harry, "Merlin, Harry... apa yang terjadi? Kau tak apa-apa?" tanya Draco panik.
Harry berusaha memberontak tapi tenaga Draco entah kenapa terasa begitu kuat, dia sedikit takut saat teringat kejadian di menara Astronomi itu lagi. Tubuhnya gemetar dan wajahnya berubah pucat, ditambah dengan kepalanya yang terasa begitu sakit.
Mengerti akan apa yang dirasakan Harry Draco pun semakin mengeratkan pelukannya, dia tak ingin melepaskan pamuda itu, "Tenanglah, Harry, aku berjanji tak akan pernah menyakitimu lagi, aku bersumpah," bisik Draco.
Saat itu Harry merasa ada yang berubah di hatinya, dia merasa lebih tenang dan sedikit nyaman. Tubuhnya tak lagi gemetar, hanya kepalanya saja yang masih sedikit sakit. Dia pernah mendengar kata-kata itu, tapi dimana? Kapan? Dia bisa merasakan aliran hangat mengalir dari sentuhan tubuh Draco.
"Lepaskan aku, Malfoy," desis Harry. Pemuda itu berusaha menolak kenyamanan dan kehangatan yang diberikan oleh Draco.
Draco terkejut, dengan enggan dia melepaskan pelukannya perlahan, disentuhnya satu sisi wajah Harry. Hatinya terasa pedih saat Harry memalingkan wajahnya lalu kembali ke meja kerjanya.
Draco menarik nafas panjang, memberanikan diri dia berkata, "Harry, maafkan aku, maafkan untuk semua sikapku terhadapmu selama ini."
"Cukup, Malfoy, aku tak ingin dengar apapun darimu," potong Harry.
Draco tak ingin menuruti Harry kali ini, dia ingin mengungkapkan penyesalannya yang begitu dalam, "No, Harry, aku akan terus bicara walau kau tak ingin mendengarku. Aku sungguh bodoh, maafkan aku. Aku mengerti akan kebencianmu dan rasa takutmu, tapi percayalah, aku melakukan itu semua dengan hatiku, bukan dengan tubuhku, Harry," jawab Draco.
Harry tercekat, dia tak bisa berkata apa-apa, dia bingung dengan apa yang dimaksud Draco. Pemuda berkacamata itu masih terpaku saat Draco meninggalkannya sendiri di ruangan itu. saat itu Harry bisa merasakan ada lubang di hatinya yang terbuka dan terasa begitu sakit. Dia tak ingin Draco meninggalkannya disana, sendirian.
.
.
"Harry, kenapa kau memanggilku?" tanya Pansy pada Harry yang sedang melamun di depannya. Tadi sore pemuda berambut hitam itu menemui Pansy di kantornya dan meminta gadis itu supaya datang ke flatnya setelah pulang kerja. Dan sekarang setelah Pansy duduk di sofa bersama Harry pemuda itu malah melamun.
Harry menekuk lututnya diatas sofa dan bersandar dengan nyaman di sofa hijau yang besar itu, sofa kesayangan Severus, ayahnya. Tangannya mendekap sebuah bantalan kursi yang tak seberapa besar dan empuk.
"Tadi Malfoy meminta maaf padaku," desisnya pelan nyaris menyerupai bisikan.
Pansy terkejut, "Draco?" tanyanya tak percaya, ada sedikit nada panik di suaranya, Pansy takut Draco memaksakan ingtannya pada Harry dan membuat pemuda di depannya ini sakit, "Apa katanya?"
Harry menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, "Kau ingat kejadian yang aku ceritakan di tepi danau dulu?" tanya Harry, "Kalau tak salah ingat aku pernah menceritakan suatu kejadian padamu, Pans."
Pansy mengangguk pelan, "Tentang kau dan Draco di menara astronomi?" kata Pansy pelan.
Harry mengangguk, matanya menerawang jauh, "Apa yang terjadi setelah itu, Pans? Ceritakan padaku," pinta Harry. Dadanya terasa begitu sesak, dia tak tahu apa yang mengganjal disitu.
Pansy tercekat, "A-apa maksudmu?" tanyanya gugup.
Harry menghela nafas panjang, "Apa yang terjadi padaku? Seringkali aku melihat sekelebat bayangan di kepalaku yang aku sendiri merasa pernah melihat bayangan itu," katanya.
Pansy semakin panik, "Kau bicara apa?"
Harry memandang tajam mata coklat sahabatnya itu, "Apa yang terjadi padaku? Aku merasa ada lubang tak tertutup di hatiku. Aku merasa ada sebagian ingatanku yang hilang dan aku tak pernah merasa utuh, Pans," desaknya, dia sungguh tak sabar melihat Pansy yang begitu ragu mengatakan semua.
Pansy menunduk, dia ingin menceritakan semua pada Harry, tapi kata-kata Severus yang melarang mereka membicarakan semua membuatnya tetap tutup mulut.
"Malfoy bilang kalau dia melakukan semua itu dengan hatinya, bukan dengan tubuhnya. Apa maksudnya?" tanya Harry lagi dengan suara bergetar, dia teringat kata-kata Draco tadi siang yang membuat jantungnya nyaris berhenti.
Pansy menggeleng lemah, "A-aku tak tahu, Harry," jawabnya lirih.
Harry menghela nafasnya lagi, dia merasa Pansy sedang tak jujur padanya. Saat tadi Draco memeluknya Harry merasa itu begitu pas, begitu nyaman. Sebenarnya dia bingung kenapa dia tak merasa marah ataupun jijik mengingat Draco pernah menginjak harga dirinya dengan melakukan hal di menara astronomi itu. dan saat melihat wajah pucat Draco tadi, Harry merasa kalau dulu dia juga pernah melihat Draco seperti itu, dan jujur ada rasa sedikit cemas di hatinya. Tapi yang membuatnya heran, kenapa dia harus mencemaskan musuh bebuyutannya itu?
Saat Draco menutup pintu ruangan mereka tadi Harry bisa merasakan kalau dirinya terhempas ke dalam jurang yang begitu gelap. Dia begitu marah, sangat marah karena Draco meninggalkannya, dan itu semua membuatnya bingung, ada apa dengannya? Ada sesuatu yang salah yang tak bisa dia ingat, dan Pansy lah yang dia inginkan saat ini. Harry berharap sahabatnya itu bisa memberikan penjelasan padanya.
"Harry, sesuatu memang terjadi padamu, tapi aku tak berhak mengatakan semuanya," jawab Pansy dengan suara lirih, "Sebaiknya kau tanyakan pada ayahmu."
Harry memejamkan matanya, dia merasa rindu akan sesuatu, begitu rindu sampai rasanya dia ingin menangis. Tapi dia tak tahu untuk siapa rindu itu tercipta. Rindu itu begitu kuat sampai rasanya hatinya hancur dalam cengkeramannya.
.
#
.
"Jadi kau merasa ada sesuatu yang berbeda dengan dirimu?" tanya Severus saat Harry mengunjunginya di Hogwarts.
Harry mengangguk, "Yes, Dad," jawabnya lirih, "Apa yang terjadi padaku?" tanya Harry dengan suara bergetar.
Severus berdiri di belakang Harry sambil memegang bahu pemuda itu, penyihir yang disegani karena pengorbanannya dalam membela Dumbledore itu menghela nafas panjang, dia berkata dengan begitu hati-hati, "Ada suatu kejadian yang membuatmu kehilangan sebagian ingatanmu," jawab pria itu datar, dia bisa merasakan bahu Harry yang tiba-tiba menegang, "Tenanglah, semua baik-baik saja," katanya berusaha membuat putranya itu tidak terlalu emosi.
Harry mengangguk, dia semakin mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya, "Bagian apa yang menghilang dari ingatanku?" tanyanya pelan.
Severus menepuk bahu Harry lalu berjalan dan kembali duduk di kursi kerjanya, mata hitamnya memandang tajam pada kilau emerald Harry, mata wanita yang dicintainya selama ini, "Bagian yang sangat ingin kau lupakan, Son," jawab Severus datar.
Harry menelan ludah kecewa, "Apakah Dad tak ingin mengatakannya padaku?" tanya Harry lirih.
Severus menggeleng, "No, Harry, biarkan semuanya berjalan perlahan. Jangan kau paksakan dirimu untuk mengingat semua, kau mengerti?" jelas Severus.
Harry melihat ada kilat cemas dimata pria yang sangat disayanginya itu, dia tak mau Severus terlalu mengkhawatirkannya, akhirnya dia hanya bisa mengangguk.
Severus menghela nafas lega, "Semua akan jelas jika waktunya telah tiba. Kalau boleh kusarankan, singkirkan rasa bencimu terhadap Draco sedikit demi sedikit, cobalah untuk mulai bicara dengannya, dan mulai memaafkannya."
Harry menunduk, "Aku membencinya, Dad," desis Harry. Mulutnya berkata benci, tapi setiap kata itu terucap dia merasakan satu persatu jarum menusuk hatinya, terasa sakit dan perih.
Severus terdiam sebentar, "Itu hanya saran."
.
#
.
Setelah dari Hogwarts Harry memutuskan untuk pulang sebentar ke Spinner End's, sudah lama sekali dia tak mengunjungi rumah itu. dengan pelan dibukanya pintu dengan mantra alohomora, dan pintu kayu itu terbuka perlahan.
Harry mengibaskan tangannya di depan hidungnya untuk mengusir debu yang berterbangan di wajahnya, "Aku harus lebih sering meminta Kreacher membersihkan tempat ini," katanya pada diri sendiri.
Ditelusurinya seisi ruangan dengan mata hijaunya, rasa rindu yang sering dirasanya akhir-akhir ini mulai menyapanya. Berkelebat bayangan muncul saat dia berdiri diruang makan, ada dia, Severus dan seorang lagi, Draco...! Kepalanya mulai terasa sedikit sakit saat dia berusaha mengingat lebih jelas kenapa ada Draco dalam bayangannya.
Dengan menggeleng bingung Harry keluar dari ruangan itu dan naik ke lantai dua. Bayangan yang lebih kuat menghampiri ingatannya. Kamar pertama setelah tangga adalah kamar yang sering ditempatinya, dia membuka pintu itu dan melihat semua tertata rapi seperti semula. Lalu dia berbalik dan menuju kamar kedua, perlahan dia membuka pintunya dan bayangan yang begitu jelas menyerang ingatannya.
"AAARRGH..." Harry mengerang sambil memegang kepalanya, di kamar itu dia melihat bayangannya yang sedang tidur sambil memeluk seseorang, Draco...
Rasa sakit di kepalanya dan di hatinya begitu tak tertahankan, Harry tersungkur di lantai. Dengan menguatkan tenaganya Harry berusaha menerima semua ingatan yang menghampirinya.
Sofa itu, ada dia dan Draco disana, 'Kenapa? Untuk apa?', jeritnya dalam hati.
-"I love you, Harry"-, suara lembut itu terdengar oleh gendang telinganya, terus, berulang dan berulang sampai Harry merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Tubuh Harry tersentak hebat saat satu suara kembali mengusik pendengarannya, -"I love you too, Draco"- , "DIAAAAM, HENTIKAAAAAN..." teriak Harry dengan peluh mengalir di wajahnya.
-"Merry Christmas, love,"- tubuh Harry semakin gemetar saat satu suara kembali menggoda gendang telinganya.
"HARRY..." Severus sudah berdiri di depan pintu kamar itu, dia berlari untuk menenangkan tubuh Harry yang masih meringkuk di lantai, tubuh pemuda itu masih bergetar, wajahnya tampak begitu pucat dan tangannya memegangi kepalanya, meremas rambut hitamnya.
"Harry, it's ok, tenanglah... semua baik-baik saja," kata Severus berusaha menenangkan putranya. Dia memeluk pemuda itu lalu ber-apparate menuju flat Harry. Sejak Harry terkena amnesia Severus membongkar mantra anti apparate yang melindungi flat Harry, karena dia ingin teman-temannya bisa mengetahui kondisinya kapan saja.
Dengan cepat dibaringkannya tubuh pemuda itu di tempat tidurnya, "Dad..." bisik Harry, "Kepalaku sakit sekali," erangnya.
Severus melangkah cepat ke dapur, dia membuka lemari yang khusus menyimpan beberapa ramuan yang memang disediakannya untuk Harry. Pria itu mengambil satu racikan dan menyeduhnya dengan air.
"Minum ini, Son," perintah Severus setelah dia kembali ke kamar Harry, dia bernafas lega saat melihat Harry menghabiskan isi gelasnya. Sejak Harry meninggalkannya di Hogwarts siang tadi ada rasa cemas di hati sang kepala sekolah itu, dia melihat raut wajah Harry yang gamang, akhirnya pria tersebut memutuskan untuk memeriksa ke Spinner End's, dan benar saja pemuda keras kepala itu tak puas dengan jawabannya, khas Gryffindor kalau sudah penasaran.
"Thanks, Dad," kata Harry lemah sambil merebahkan kepalanya di atas bantal. Rasa sakitnya mereda dan kini dia merasa begitu ngantuk dan lelah.
"Tidurlah," kata Severus datar. Dia mengamati mata hijau Harry yang mulai terpejam dan langsung tertidur pulas.
Suara ketukan di pintu memaksa Severus melangkahkan kakinya untuk melihat siapa yang datang. Dia terkejut saat melihat kelima sahabat Harry berdiri di depan pintu, bersama Draco...
"Kalian, masuklah," kata Severus sambil menyingkir dari tengah pintu dan membiarkan keenam mantan muridnya itu masuk.
"Maaf, Sev, tadi kami berkumpul di Flat Blaise dan mendengar ada suara apparate dari sini, apa semua baik-baik saja?" tanya Draco cemas.
Severus duduk di sofa tunggal, dia menatap satu persatu mantan muridnya itu, "Harry mulai menyadari ada yang salah dalam dirinya," jelas pria itu, lalu Severus menveritakan tentang kejadian yang baru saja dialaminya.
Semua terpukau melihat mantan kepala sekolah mereka, pria yang terkenal dingin dan keras itu tampak begitu mencemaskan Harry. Dan mereka juga tak menyangka kalau Severus mau bercerita panjang lebar pada mereka.
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Draco lagi.
Severus menggeleng, "aku belum tahu, jangan memaksanya, biarkan saja dia mengingat semuanya sendiri."
.
Draco perlahan mendekati Harry yang tertidur dan duduk di sampingnya, Severus mengijinkannya untuk melihat Harry sebentar. Dengan lembut diusapnya rambut hitam Harry, dadanya berdebar begitu keras, betapa rindunya Draco pada Harry selama ini dan dia tak bisa menyentuh kekaihnya itu. memberanikan diri Draco pun mendekatkan wajahnya pada Harry, dengan begitu pelan dan lembut diciumnya bibir Harry yang terkatup. Saat itu perasaan Draco membuncah keluar, pemuda berambut pirang itu meneteskan air matanya sambil terus mengecupi bibir Harry, "I miss u, love," bisiknya sambil mengusap sisi wajah pemuda yang sangat dicintainya itu.
Tak ingin Harry terbangun Draco segera meninggalkan kamar itu dan menutup pintu, "Draco..." bisik Harry dalam tidurnya, tapi sayang Draco tak sempat mendengar itu.
.
.
Draco masuk ke Malfoy Manor dengan langkah yang gontai, dia terkejut melihat Astoria ada di ruang tamu bersama Dhapne dan kedua orang tuanya.
"Draco, kau baru pulang?" tanya Narcissa, wanita itu menghampiri putranya yang terpaku didepan pintu.
Draco tak menjawab, dia hanya menatap tajam pada Astoria, "Ada apa?" tanyanya dingin.
Dhapne menghampiri Draco, "aku mewakili kedua orang tuaku untuk menemuimu," jawab teman seasrama Draco itu dulu, "Astoria bilang dia ingin membatalkan perjodohan kalian," katanya ketus.
Draco mendengus, "Bagus," jawabnya singkat, dia bisa melihat raut murka di wajah Dhapne dan ayahnya.
"Apa maksudmu?" sentak Lucius.
Draco menantang tatapan ayahnya, "Astoria yang memutuskan hal itu, tanyakan dia."
Astoria berdiri di samping Draco lalu memegang lengan pemuda itu, "Yes, uncle, akulah yang memutuskan hal itu, karena aku tak mau memaksakan perasaan Draco," jawabnya tenang.
"Kenapa kau lakukan itu?" bentak Dhapne pada adiknya, "Kau mencintai Draco selama ini dan kau melepaskannya begitu saja."
"Dhapne, hentikan!" teriak Astoria, "Aku tak mencintai Draco yang ini, aku mencintai Draco yang dulu ku kenal saat di Hogwarts. Aku mencintai Draco yang memiliki tatapan mata lembut dan senyum yang hangat, aku mencintai Draco yang bersemangat dan terlihat hidup. Tapi itu semua tak aku dapatkan saat dia bersamaku, Dhapne, uncle, mengertilah," mohon gadis itu.
Lucius terpaku di tempatnya mendengar penjelasan gadis cantik itu.
Dhapne terlihat semakin marah, "Apa maksudmu? Apa kau mau bilang kalau Draco masih mencintai pahlawan sok terkenal yang gay itu?" kata gadis itu sinis pada Astoria.
PLAAKKK... sebuah tamparan manyapa pipi putih gadis itu, "KAU BOLEH MEMAKIKU ATAU SIAPA SAJA YANG KAU MAU, TAPI JANGAN SEKALI-SEKALI KAU SEBUT HARRY SEPERTI ITU DENGAN MULUT BUSUKMU," teriak Draco murka.
"DRACO..." bentak Lucius, pria itu tak menyangka kalau putranya sanggup bersikap kasar pada perempuan. Sedangkan Astoria dan Narcissa hanya bisa menutup mulut mereka yang terbuka karena terkejut.
"TAK AKAN AKU BIARKAN SEORANGPUN MENGHINA HARRY, DAD, TIDAK JUGA DENGAN KALIAN," teriak Draco kalap.
Lucius mengacungkan tongkatnya kearah Draco dan membuat putranya itu terpental keras ke dinding di belakangnya, "Jangan membentakku, Draco," desis Lucius.
Astoria dan Narcissa berlari menghampiri tubuh Draco yang tersungkurdi lantai, kedua perempuan itu menangis melihat darah mengucur dari mulut dan hidung Draco. Tapi dengan menguatkan diri Draco berdiri tanpa bantuan siapapun. Langkahnya tertatih saat dia mendekati ayahnya, tangannya memegang lengan kirinya yang terluka, mungkin juga patah.
"Sudah kukatakan padamu, Dad, aku akan sangat berterima kasih kalau kau mau membunuhku sekarang juga. Percayalah, aku akan sangat berhutang budi kalau kau lakukan itu padaku," desis Draco, "Tapi setelah itu berjanjilah, jangan pernah kalian sakiti Harry lagi." Katanya dengan nada yang mampu membekukan api sekalipun.
Lucius tak bisa menjawab, dia terpaku melihat ekspresi Draco yang sangat membencinya, bukan, putranya itu membenci hidupnya. Hidup yang telah dihancurkan oleh orang tuanya sendiri.
Draco melangkah ke luar pintu Manor masih dengan memegangi lengan kirinya, tapi sebelumnya dia berhenti di depan Dhapne, "Dan kau, jaga mulutmu, karena aku tak akan pernah mengijinkan kau menyebut nama kekasihku dengan mulut busukmu itu," ancam Draco.
"Draco..." panggil Narcissa saat melihat putranya itu meninggalkan pintu Manor, dia berlari menyusul pemuda itu, "Kau mau kemana?" tanyanya sambil memegang lengan Draco.
Draco mengerang, karena ibunya memegang lengannya yang terluka, "Lepaskan, Mum, ini bukan rumahku lagi," sentaknya.
Narcissa terkejut, "A-apa maksudmu, Son?"
Draco tersenyum getir, "Kalau kau masih ingin melihatku hidup maka biarkan aku menghilang dari hadapan kalian," jawabnya lirih.
Narcissa menangis, "Tapi kau terluka, Draco," isaknya.
"Luka fisik tak ada apa-apanya dibandingkan luka di hatiku, Mum," jawabnya sambil berlalu dari hadapan ibunya dan menghilang di gelapnya malam.
.
#
.
Harry terbangun dengan tubuh yang begitu segar dan ringan, dia melihat sekelilingnya, terlihat sepi, "Ah, Dad sudah pulang rupanya." Harry termangu di pinggir tempat tidur, dia mencoba mengingat apa yang dialaminya kemarin. "Aku harus mencari tahu apa yang terjadi padaku, kenapa ada Malfoy disetiap bayanganku?" desahnya.
Lalu pemuda bermata hijau itu masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dibawah siraman shower yang dingin.
Dia tahu ini masih sangat pagi, tapi tak ingin menunggu lama Harry pun bersiap untuk berangkat kerja. Seperti saran Severus, mulai hari ini dia ingin menyingkirkan sedikit demi sedikit rasa bencinya terhadap Draco, mungkin dengan itu dia bisa kembali mendapatkan ingatannya.
Perlahan dibukanya pintu flatnya.
BRUUKK...
Harry begitu terkejut ketika ada satu tubuh tersungkur di kakinya, "Malfoy," katanya tercekat saat melihat wajah pucat yang tak sadarkan diri itu. hati Harry merasakan kecemasan yang amat sangat, entahlah, rasanya seperti separuh jiwanya ikut merasakan apa yang di rasakan pemuda yang tak sadarkan diri di depannya itu.
Dia membungkuk dan mengguncang pelan tubuh Draco, "Malfoy, bangunlah, apa yang terjadi?" tanyanya panik karena Draco tak juga membuka matanya. Harry melihat darah merembes dari lengan kirinya yang tertutup kemeja putih.
Pintu flat di depannya terbuka, "Merlin, apa yang terjadi, Harry?" teriak Hermione tertahan. Pintu flat pansy ikut terbuka di sebelahnya. Kedua gadis itu menghampiri Harry dan terkejut melihat Draco tak sadarkan diri didepan pintu flat Harry. Theo dan Blaise ikut keluar mendengar suara berisik disamping flat mereka.
.
Harry dan Blaise membaringkan tubuh Draco di kamar Harry dan membersihakn tubuh pemuda itu dengan tongkat mereka. Severus yang berniat melihat keadaan Harry ikut terkejut malihat kondisi Draco, pria itu mengobati lengan kiri Draco yang ternyata mengalami patah tulang.
"Tak apa kan kalau dia beristirahat disini dulu, Harry?" tanya Severus.
Harry menatap tubuh Draco yang terbaring di tempat tidurnya. Rasanya itu adalah hal yang wajar, sepertinya memang disanalah tempat Draco. Harry memegang keningnya yang mulai berdenyut, dia menarik nafas untuk menenangkan diri, "Tentu, Dad," jawabnya akhirnya.
Bersambung lagi XD
A/N.
Iya aku tahu, ini sudah sangat ngaret sekali, maafkan aku, meja kerjaku penuh dengan tumpukan kertas yang belum tersentuh
Sekali lagi makasih buat Aicchan-ku tersayang, Ness ku tercinta dan semua yang telah mendukungku menulis fic ini.
Makasih juga buat Ana97, Choco, Vii, Elga, Kira, Chelly sist, Yufa-nya Ness, Icci, Ayu JW, Mizuki Hanamura and yang baru aja ngelunasin utang ripiunya, AWAN_ANGEL...XD
Yup, kita lanjut lagi ke chap 11, semoga ga ngaret XP
