DILEMMA

CHAPTER 11

Disclaimer : JK. Rowling

Pair : Draco Malfoy / Harry Potter

Rating : M

Genre : Romance

Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon

.

#

.

Seharian ini Harry merasa gelisah di kantor, sejak dia menemukan Draco tergeletak tak sadarkan diri di pintu flatnya dengan luka di lengannya pagi tadi pikirannya tak pernah berhenti berpusat pada pemuda itu. entah kenapa rasa cemas di dadanya tak juga reda.

Severus meminta pada Harry dan semua temannya untuk tetap berangkat kerja dan menyerahkan urusan Draco padanya.

Berkali-kali Harry melirik jam tangannya, menunggu satu jam rasanya lama sekali, dia ingin segera pulang dan melihat keadaan Malfoy junior itu. Di sisi terdalam hatinya Harry bisa merasakan suatu kelegaan karena Draco berada di flatnya, entahlah.

.

.

Harry membuka perlahan pintu flatnya, dia memutuskan pulang terlebih dahulu tanpa menunggu teman-temannya. Ruang tengahnya tampak kosong, lalu pemuda itu melangkah ke kamar tidurnya.

Dia tercekat melihat Draco yang sudah bangun dan duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya. Pemuda berambut pirang itu menatap lurus mata hijau Harry dan tersenyum dengan begitu lembut.

"Hai," sapanya, "Kau sudah pulang? Maaf aku merepotkanmu," kata Draco.

Harry mendekati pemuda itu, entah sejak kapan rasa bencinya untuk Malfoy junior itu hampir tak dirasanya lagi. Mungkin sejak kemarin saat Severus menyarankan padanya untuk mulai memaafkan Draco, atau sejak tadi pagi saat rasa cemasnya mengalahkan logikanya ketika Draco tak sadarkan diri di kakinya.

"Tak masalah, bagaimana keadaanmu?" tanya Harry sambil melihat lengan Draco yang terbungkus perban putih. Sebuah bayangan kembali melintas di kepalanya, Harry seakan melihat kepala Draco yang terluka, tapi kali ini kepalanya tak terasa sakit, hanya sedikit pusing.

"Baik, Severus baru saja kembali ke Hogwarts, mungkin besok pagi dia kembali lagi kesini," jawab Draco.

"Kau sudah makan?" tanya Harry datar.

Draco menggeleng, "Aku tak lapar."

Harry melangkah keluar kamar, biar bagaimana pun Draco harus makan. Langkahnya terhenti saat Draco memanggil namanya. Dengan enggan dia melihat ke arah pemuda itu, "What?" tanyanya pelan.

Draco memandang mata hijau itu, dia nyaris bersorak saat Harry balas menatapnya tanpa ada kilat dingin dan benci disana, "Maafkan aku, Harry," katanya lirih.

Harry menatap mata abu-abu Draco, pemuda itu melihat ada kesungguhan disana, "Sudahlah," jawabnya sambil melangkah keluar.

Baru saja dia hendak membuat sesuatu di dapurnya pintu flatnya terbuka, "Harry, kau sudah pulang?" teriak Ron dari pintu depan.

Harry muncul dari dapurnya dan melihat seluruh temannya bersama George ada di ruang tamu. Pemuda itu nyengir melihat rombongan yang selalu bersama sejak mereka di Hogwarts dulu, "Masuklah, Malfoy ada di kamar, dia sudah bangun," jawabnya. Lalu membiarkan teman-temannya menemui Draco di kamar.

"Kau sedang apa?" tanya Pansy.

Harry masuk kembali ke dapur dan diikuti oleh gadis berambut hitam itu, "Malfoy belum makan," jawab Harry pelan.

Di belakangnya Pansy tersenyum bahagia, "Kita semua juga belum makan. Kau kesana saja bersama mereka, biar aku dan Hermione yang menyiapkan makan malam," usir Pansy. Lalu gadis itu berteriak memanggil sahabat perempuannya dan mereka mulai menyiapkan segala sesuatunya.

Harry tersenyum lalu pergi untuk bergabung bersama yang lain di kamarnya.

.

"Kenapa kau bisa tidur di depan pintu, Draco?" tanya Theo menggoda, "Apa tempat tidurmu di Manor hilang?" tanyanya lagi sambil nyengir.

Blaise, Ron dan George terkekeh mendengar lelucon Theo. Sedangkan Draco diam saja sambil melempar tatapan membunuh ke arah sahabatnya itu. Tapi dia sedikit tenang saat dilihatnya Harry tersenyum menanggapi gurauan Theo.

"Apa yang terjadi?" tanya Blaise lebih serius, "Dan lukamu, siapa yang membuatmu seperti ini?"

Draco memandang teman-temannya, bersama mereka dia tak pernah bisa lagi menyimpan masalah-masalahnya. Draco tersenyum getir, "Ada sedikit masalah di rumah, dan aku memutuskan untuk mencari flat sendiri seperti kalian."

"Dan luka di lenganmu?" tanya Ron, "Kenapa bisa patah begitu?"

Draco terdiam sebentar, "Hanya jatuh dari tangga," jawabnya pelan sambil melirik ke arah Harry yang memandang tak percaya.

Semua tahu kalau Draco sedang berbohong, tapi tak ada yang memaksa, karena mereka juga tahu kalau Draco tak ingin membuat Harry bingung dengan apa yang terjadi padanya.

"Lalu, kapan kau akan mulai mencari flat?" tanya Blaise, "Kudengar ada satu flat yang akan disewakan di lantai atas, tapi baru kosong mulai minggu depan, bagaimana?"

Draco mengangguk, "Boleh juga, aku akan mencari tempat tinggal sementara untuk seminggu kedepan," katanya.

Jantung Harry berdetak kencang, entah kenapa dia ingin Draco tinggal disini, "K-kau bisa tinggal disini sampai flat itu kosong," jawab Harry cepat.

Semua yang mendengar itu langsung tercekat, mereka tak menyangka kalau Harry akan menerima Draco tinggal di flatnya, mengingat selama ini Harry begitu membenci Draco, tapi ada perasaan lega di hati mereka.

"Kau yakin?" tanya Draco tak percaya, dia masih sangat terkejut dengan tawaran Harry, walau dia sendiri nyaris saja melompat senang.

Harry mengangguk pelan, "Kau bisa tidur di kamar sebelah, kamar itu tak pernah ditempati, hanya sesekali saja kalau Dad terlalu lelah untuk pulang."

Draco tersenyum, "Thank you, Harry," jawabnya.

Tak lama Pansy dan Hermione memanggil semuanya untuk makan malam, dengan bantuan Theo Draco berjalan menuju ruang tengah.

Melihat semuanya berkumpul seperti ini tampak begitu berbeda di mata Harry, lain dengan apa yang dirasanya beberapa waktu lalu ketika mereka berkumpul saat George mengumumkan rencana pertunangannya dengan Pansy. Kali ini tampak begitu pas dan lengkap.

Harry mengernyit saat dirasanya ada sesuatu yang menyeruak masuk ke dalam hatinya, bukan rasa sakit atau pedih yang selama ini dia rasakan , tapi lebih pada perasaan rindu dan lega.

"Kau tidurlah dulu," kata Harry sambil membereskan sisa-sisa kekacauan yang ditimbulkan oleh teman-temannya tadi. Harry menoleh ke sofa saat tak didengarnya jawaban dari Draco. Perlahan dia mendekati pemuda itu dan duduk di sampingnya, dia melihat mata abu-abu Draco tertutup, "Cck... bisa-bisanya dia tidur sambil duduk," gerutu Harry.

"Malfoy, bangunlah," panggil Harry sambil mengguncang pelan bahu Draco. Dia terkejut ketika tubuh Draco terjatuh ke samping dan kepalanya mendarat mulus di pangkuan Harry. "Hei, Malfoy," panggil Harry lagi, tapi sia-sia sepertinya Draco tak terbangun.

Harry memandang wajah pucat di pangkuannya itu, ada getar hangat di dadanya. Sekelebat bayangan menyapa otaknya, Harry memejamkan matanya sebentar untuk menghilangkan rasa pusing yang kembali datang, "Ya, dulu pernah seperti ini," desisnya, "Tapi kapan? Kenapa?" tanyanya pelan pada dirinya sendiri.

Rambut pirang Draco yang halus kini dibiarkan sedikit memanjang, kesan dewasa tampak di wajah pucat itu. Tanpa sadar Harry tersenyum sendiri, dan tangannya refleks mengusap rambut pirang itu dan membiarkannya menggelitik jemarinya yang panjang. Saat itu Harry merasa nafasnya menjadi sesak dan berat, ada rasa hangat mengalir di dadanya. Jemarinya berhenti membelai rambut halus Draco, dia terkejut saat air mata mengalir turun dari mata hijaunya dan jatuh di pipi pemuda berambut pirang itu.

Draco tersentak, dia langsung membuka matanya saat dirasanya ada sesuatu yang basah mengenai wajahnya. "Harry, kau kenapa?" katanya panik saat melihat air mata mengalir dari mata hijau itu. Draco duduk dan memegang bahu Harry, "Apa yang sakit?" tanyanya cemas.

Harry menggeleng, dia tak menangis, tapi dia juga tak mengerti kenapa air mata terus mengalir dari matanya. "Apa yang terjadi? Aku kenapa?" tanyanya. Mata hijaunya yang basah memandang Draco dengan bingung. Hatinya begitu kalut dan galau, dia ingin berteriak dan menumpahkan segala emosinya, tapi dia seperti tak merasakan apa-apa.

Draco memberanikan dirinya, perlahan dia memeluk tubuh Harry yang bergetar, diusapnya rambut hitam itu dengan lembut, "Sssh... tenanglah, tak ada apa-apa, Harry, semuanya baik-baik saja, tenanglah," bisiknya.

Harry tak mampu menolak hangatnya pelukan Draco, saat itu juga dia merasa begitu nyaman. Dia menikmati usapan jemari Draco di rambutnya. "Apa yang terjadi padaku? Kenapa kau selalu ada disetiap bayangan yang muncul dikepalaku?" tanya Harry lirih.

Draco memeluk Harry semakin erat, "Jangan paksakan dirimu, yakinlah kalau semua akan baik-baik saja, aku tak akan pernah meninggalkanmu," jawab Draco.

Harry tercekat, sebuah suara kembali muncul ditelinganya, -"Tidak, aku tak akan pernah meninggalkanmu, Harry, tidak selama aku masih hidup,"-

"Kau dulu pernah mengatakan itu kan?" tanyanya lirih, "Aku pernah mendengar kata-kata itu, dulu. Kapan? Dimana?" tanyanya lagi dengan bingung, tangannya mencengkeram kemeja Draco.

Daco tersentak, Harry mulai mengingat sedikit demi sedikit tentang kenangan mereka, sebuah senyum muncul di bibirnya, tapi Draco tetap tak mau memaksakan Harry untuk mengingat semua, "Jangan menyakiti dirimu lagi, tak ada apa-apa, tenanglah," hibur Draco.

Tanpa sadar Harry menyandarkan kepalanya di bahu Draco, aroma tubuh pemuda itu terasa tak asing di hidungnya. Rasa hangat dan nyaman membuatnya mengantuk, dan tak lama kemudian dia pun mulai memejamkan matanya dalam pelukan Draco.

Draco tersenyum merasakan hembusan nafas Harry yang hangat dan teratur di lehernya, "Tidurlah, aku akan menjagamu," bisik Draco. Kata-kata itu sayup-sayup terdengar oleh telinga Harry sebagai musik pengiring yang mengantarnya ke alam mimpi.

.

.

Pagi ini Harry terbangun dengan bingung, dia tidur di tempat tidurnya dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. 'Apakah Malfoy yang membawaku kesini? Tadi malam aku...', pikiran Harry kembali pada malam tadi saat dia berbincang dengan Draco di sofa. Pipinya memanas, jelas sekali dia ingat kalau semalam Draco memeluknya dan menenangkannya.

Dengan malas dia melangkah keluar kamar dan terkejut melihat Severus dan Draco sudah duduk di ruang tengah. "Morning Dad, Malfoy" sapa Harry dengan sedikit malu karena kedua orang itu sudah rapi.

"Morning," jawab keduanya, "Bagaimana keadaanmu" tanya severus.

Harry mendekati ayahnya, "Baik, Dad, rasa sakitku tak terlalu sering datang lagi," jawab Harry dan mendapat anggukan lega dari Severus. "Bagaimana lukamu?" tanya Harry pada Draco. Entah kenapa saat mata abu-abu itu menatap matanya Harry merasa ada sesuatu yang hangat menyelimuti hatinya dan membuatnya berdebar.

Draco tersenyum, dia begitu senang Harry mulai memperhatikannya, "Tak apa, mulai besok aku sudah bisa bekerja," jawabnya.

Harry mengernyitkan keningnya, "Kau yakin?" tanyanya tak percaya tapi dia tak bertanya lagi disaat dia melihat Draco dan ayahnya mengangguk, siapa yang meragukan kemampuan mengobati dan kasiat ramuan dari sang potion master?

Severus berdiri dan menepuk bahu Harry, "Aku harus kembali ke Hogwarts, persiapan untuk liburan musim panas menyita pikiranku," katanya sambil menuju ke perapian dan menghilang ke dalamnya.

Enatah kenapa berdua dengan Draco seperti ini membuatnya gugup, "Aku mandi dulu," kata Harry sambil melangkah ke kamar mandi.

.

"Aku siapkan cokelat hangat untukmu, dan aku lihat ada roti di lemari pendingin, aku sudah panaskan untuk sarapan kita," kata Draco ketika Harry sudah rapi dengan pakaian kerjanya.

Harry memandang meja makannya yang telah siap, "Seharusnya kau tak perlu repot-repot, Malfoy,"kata Harry tak enank hati.

Draco tersenyum, "Tak masalah, ayo makan rotimu, nanti kau terlambat."

Harry tercekat melihat dua gelas kesayangannya telah terisi cokelat hangat, gelas merah berada di depannya sedangkan yang hijau ada di depan Draco, "Boleh aku tukar gelasnya? Yang hijau itu milikku," pinta Harry.

Dada Draco bergetar, Harry lebih menyayangi gelas miliknya yang dulu dipilih Draco untuk dirinya sendiri, "Tentu, ini milikmu," katanya sambil mengulurkan gelas hijaunya sambil tersenyum.

Tanpa disadari Harry pun tersenyum saat meraih gelas itu, digenggamnya gelas hijau itu dengan lembut. Dia tak tahu kalau tatapan Draco saat itu pun tak kalah lembutnya, "Sepertinya kau sangat menyayangi gelas itu, Harry?" tanya Draco.

Harry mengangguk, "Entahlah, sepertinya ini begitu berarti untukku," jawabnya.

Draco tersenyum, 'Seperti halnya kau, Harry, kau juga begitu berarti untukku', katanya dalam hati.

.

.

"Kau mau langsung pulang?" tanya Pansy sore itu saat bertemu Harry di lobby kementrian.

Harry mengangguk, "Aku akan membeli makan malam dulu, aku tak mungkin membuat Malfoy mengikuti kebiasaanku yang tak teratur.

Pansy tertawa, gadis itu memeluk lengan Harry dan menyeretnya keluar, "Ayo kutemani," katanya, Harry hanya menurut saja. "Kau mau beli apa?" tanya Pansy.

Harry mengangkat bahu, "Entahlah, aku tak tahu apa yang biasa dimakan oleh Malfoy selama ini," jawabnya bingung.

Sekali lagi Pansy tertawa, "Kenapa kau tak mencoba memanggilnya Draco, Harry? Kalau kau terus memanggil nama keluarganya bisa saja dia menjadi tak enak kan?" saran Pansy.

Harry terdiam sejenak, "Akan kucoba," jawabnya singkat, dia tak melihat sahabatnya yang tersenyum lebar di sampingnya.

.

.

"Hai, kau sudah pulang?" sapa Draco saat melihat Harry membuka pintu depan.

Harry mengangguk dan berjalan ke ruang makan, "Aku membeli makan malam untuk kita, Draco, ada apel hijau juga. kata Pansy kau suka itu," kata Harry.

Draco terpaku ditempatnya berdiri, mulutnya terasa kelu. "Kau kenapa?' tanya Harry heran.

Draco menggeleng, "Kau, tadi kau memanggilku apa?" tanyanya tak percaya, "Kau memanggilku 'Draco'?"

Harry serasa salah tingkah dipandangi Draco seperti itu, pura-pura mengatur semua di meja makan dia menjawab sambil membelakangi Draco, "Kenapa? Kau tak suka?"

Draco tertawa pelan, tawa yang membuat hati Harry terasa hangat dan kembali dialiri getaran lembut, "Thanks, Harry," jawab Draco.

.

.

Setelah seminggu tinggal bersama membuat hubungan Harry dan Draco menjadi lebih akrab. Flat yang akan disewa Draco belum juga kosong, diperkirakan mundur sekitar seminggu lagi. Tapi Harry tetap tak keberatan Draco tinggal bersamanya, entah kenapa dia justru merasa senang. Draco pun sudah tak memikirkan masalah dengan keluarganya lagi, dia tak peduli, karena kebahagiaan yang dirasanya saat ini tak mau dia rusak dengan memikirkan orang tuanya.

Selesai makan malam Harry membuka pintu terasnya dan duduk di kursi kayu panjang disana. Dari lantai lima flatnya langit tampak begitu dekat, dan malam ini langit terlihat begitu ramai, banyak sekali bintang yang berkelap-kelip disekitar sang bulan.

"Indah ya?" tanya Draco memecah lamunannya. Harry menatap pemuda berambut pirang itu dan membiarkannya duduk di sebelahnya.

"Kau tahu, terkadang aku iri pada bulan," kata Harry.

Draco mengernyit bingung, "Kenapa?"

Harry tertawa renyah, "Dia tak pernah sendiri, banyak sekali bintang yang bersedia menemaninya."

Draco mendengus, "Siapa bilang? Saat langit mendung bulan akan tetap sendiri."

"Tidak, kau salah," jawab Harry, "Awan dan mendung hanya selubung yang menutupi mata manusia, tapi di balik selubung itu bintang tetap bersinar untuk bulan."

"Maksudmu, setebal apapun selubung yang menghalangi pandangan mata, cinta bintang terhadap bulan tak akan redup?" tanya Draco lagi.

"Ya, bintang itu tegar. Dia tak peduli walau orang tak melihat cintanya, dia tetap bertahan dengan cinta miliknya sendiri, dengan mendukung bulan dari balik selubung," jawab Harry. "Kalau aku jadi bulan mungkin aku tak akan sanggup kehilangan bintang."

Draco tersenyum lembut sambil memandang mata hijau Harry yang berpendar dengan indahnya, "Kalau aku tidak," katanya.

Harry membalas tatapan Draco yang begitu lembut dan hangat, dia menikmati getar-getar indah yang menari di dadanya, "Kenapa?"

Draco memberanikan diri menyentuh sisi wajah Harry, "Bagiku, aku tak peduli walau seluruh bintang akan tanggal dan sinarnya padam dari langit malam, karena aku tahu kalau aku memiliki sinar yang lebih indah dari cahaya bintang, yang darinya aku mendapatkan kedamaian dan kehangatan. Itu adalah binar orion di matamu, Harry," bisiknya.

Dada Harry berdebar dengan begitu kencang, dia terpukau oleh kata-kata Draco. tiba-tiba dari gelapnya langit meluncur puluhan bintang yang melesat dengan cepatnya meninggalkan cahaya indah di belakang ekornya, "Pejamkan matamu, saat kau lihat bintang jatuh maka sebutkan keinginanmu dalam hati," bisik Draco.

Harry menuruti kata-kata Draco, dia memejamkan matanya dan berbisik dalam hati. Tak lama dia tercekat saat sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya, "Draco," desah Harry masih dengan mata yang terpejam.

"Yes, Harry, rasakan dengan hatimu, karena kejujuran ada disana," bisiknya lagi. Lalu bibir Draco kembali mencium bibir Harry yang masih setengah terbuka, dia senang merasakan reaksi Harry yang menerima ciumannya.

Harry mencengkeran depan kemeja Draco, jantungnya berdebar dan tubuhnya bergetar, tapi dia tak mau ini berakhir. Dia merasa begitu hangat dan nyaman. Dia tak menolak saat Draco terus memperdalam ciumannya.

Harry tak tahu apa yang dia rasakan saat ini, dia hanya merasa kepingan hatinya yang dulu hilang kini kembali perlahan. Harry tak mau menolak lagi apapun yang bisa membuatnya merasa hangat dan nyaman, bayangan demi bayangan semakin berkelebat di kepalanya, dan dia akan menerima apapun yang muncul dalam ingatannya, karena menolak bayangan itu sama saja dengan menyakiti kepala dan hatinya lagi.

.

#

.

"Pans, katakan padaku, apakah aku dulu mencintai Draco?" tanya Harry saat dia mengajak sahabatnya itu makan siang bersamanya.

Pansy terkejut mendengar kata-kata Harry, "Bagaimana kau bisa menyimpulkan begitu?"

Harry menghela nafas panjang, "Entahlah, hanya saja saat bersama dia aku merasa begitu utuh dan sempurna. Lubang yang dulu menganga disini seakan tertutup rapat," katanya sambil memegang dadanya.

Pansy tersenyum, tangannya menggenggam jemari Harry, "Draco pun sangat mencintaimu, Harry."

Entah kenapa saat itu Harry merasa hatinya menjadi begitu lega dan senang, dia menarik nafas dalam-dalam, "Lalu kenapa aku belum juga bisa mengingat semua hal tentang kami dulu? Apa yang membuatku kehilangan ingatanku? Dan kenapa aku jadi membenci Draco?" tanyanya gencar pada Pansy, "Apakah dia menyakitiku?"

Pansy menggeleng, "Draco begitu mencintaimu, Harry, bahkan dia rela menyerahkan segalanya untuk kebahagiaanmu."

Harry mengernyit bingung, "Lalu kenapa aku membencinya?" tanyanya pada diri sendiri.

"Tak usah memaksakan diri, semua akan kembali dengan sendirinya," hibur Pansy.

.

.

Harry masuk ke dalam kantor, hari ini begitu melelahkan dan dia ingin cepat pulang. Dia terkejut melihat Draco yang juga tengah bersiap untuk pulang.

"Kau sudah selesai?" tanya Harry.

Draco menoleh ke arah pintu, "Ya, tapi aku akan menunggumu kalau kau masih ada pekerjaan," jawabnya.

Harry menggeleng sambil melangkah ke mejanya, dia menyimpan dokumen yang berantakan diatas mejanya ke dalam laci, "Aku juga mau pulang, lelah sekali rasanya."

Draco terkekeh, "Kita beli makan malam saja kalau begitu."

Harry mengangguk setuju, "Kalau kau yang masak aku justru tak yakin apakah akan bisa kutelan nantinya," goda Harry. Dia terkejut saat Draco memeluknya dari belakang, "Hei, ini di kantor, lepaskan tanganmu," tolak Harry.

Draco tertawa pelan, "Salahmu sendiri menghinaku, berarti kalau di rumah boleh ya?" balasnya dan dia tersenyum saat wajah Harry memerah. "Ayo pulang," tariknya pada lengan Harry dan menyeretnya keluar kantor.

.

.

"Hei, Draco," panggil Harry pelan saat mereka duduk di sofa panjang di depan perapian.

"Hmm?" jawab Draco malas sambil membaca surat kabar.

Harry agak ragu pada apa yang ingin ditanyakannya, dia hanya memutar-mutar gelas hijaunya ditangannya.

Draco menurunkan surat kabarnya dan menatap wajah pemuda yang selalu dicintainya itu, "Ada apa?" tanyanya penasaran.

Harry menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering, "A-apakah dulu aku pernah mencintaimu?" tanyanya pelan.

Draco hampir saja tertawa kalau dia tak melihat betapa beratnya Harry menanyakan hal itu. Tangannya membelai rambut hitam Harry yang berantakan, "Apakah begitu pentingnya masa lalu untukmu, Harry?" tanyanya.

Harry menatap mata abu-abu Draco yang selalu bersinar lembut saat memandangnya, "Bukan begitu, aku hanya ingin tahu saja."

"Aku justru tak mempermasalahkan itu, yang penting saat ini kau ada bersamaku," jawab Draco.

Harry bisa merasakan panas di pipinya, "Kata Pansy kau dulu mencintaiku, benarkah?" tanyanya lagi.

Draco tersenyum, "Aku selalu mencintaimu, Harry, tidak pernah tidak. Sejak sebelum kejadian di menara itu."

Harry tercekat, "Itukah yang kau maksud kalau kau melakukan itu dengan hatimu, bukan dengan tubuhmu?"

Draco mengangguk, "Aku melakukan itu karena aku sudah tak sanggup lagi menahan perasaanku padamu, maafkan aku," bisiknya.

Harry menggeleng pelan, "Aku sudah tak mempermasalahkan itu lagi," jawabnya, "Hanya saja kalau kau tak pernah berhenti mencintaiku berarti selama aku kehilangan ingatan ini aku telah sangat menyakitimu?"

Draco menggeleng, "Sudah kukatakan aku tak peduli, aku sudah cukup bahagia dengan kau disisiku saat ini."

"Lalu… apa yang membuatku kehilangan sebagian ingatanku tentang kau, Draco?" tanya Harry masih penasaran, "Apakah terjadi sesuatu yang buruk dengan hubungan kita?"

Draco meraih tubuh Harry dan memeluknya lembut, "Tak ada yang terjadi, lupakan. Yang harus kau tahu hanyalah bahwa aku tak pernah berhenti mencintaimu, itu saja."

Harry mengangguk di bahu Draco.

"Lalu bagaimana denganmu sendiri saat ini?" tanya Draco akan kepastian perasaan Harry padanya.

Harry terdiam sejenak, "Aku belum tahu, Draco. Hanya saja aku merasa begitu nyaman saat bersamamu."

Draco mencium rambut hitam Harry, "Itu sudah bagus, aku akan bersabar, Harry. Aku akan membuatmu jatuh cinta untuk kedua kalinya padaku."

Harry tertawa, dia mengangkat kepalanya dan memandang mata indah Draco, "Dasar kau selalu penuh percaya diri, Mr. Malfoy."

Draco menyeringai, suatu hal yang tak pernah Harry lupakan selama ini, "Aku selalu membuktikan ucapanku, Mr. Potter," katanya sambil meraih wajah Harry dan mencium bibirnya dengan lembut.

Harry mulai terbiasa dengan ciuman-ciuman Draco yang membuatnya selalu melupakan akal sehatnya. Dia membuka bibirnya sedikit dan membiarkan lidah Draco membelai rongga mulutnya. Menikmati kelembutan dan kehangatan bibir juga lidah Draco membuat tubuh Harry bergetar, erangan keluar dari sela bibirnya yang terperangkap dalam ciuman pemuda berambut pirang itu.

"I love you, Harry," bisik Draco.

Dada Harry berdebar keras, beribu bayangan melintas di kepalanya, berjuta suara menyapa gendang telinganya, "Kau dulu pernah mengatakan itu kan?" tanya Harry sambil menangkupkan wajah Draco dengan tangannya.

Draco tersenyum dan mengecup bagian dalam telapak tangan Harry, "Ya, aku selalu mengucapkan itu walaupun kau tak mendengarku."

Harry membalas senyuman Draco, "Thanks, Draco, dan maafkan aku yang melupakanmu," bisik Harry yang langsung menenggelamkan diri dalam pelukan Draco. seperti kata pemuda yang memeluknya erat itu, Harry mulai tak peduli dengan masa lalunya. Saat ini keberadaan Draco disisinya sudah cukup membuatnya tenang. Dan yang terpenting lubang di hatinya telah tertutup oleh kehangatan dan kelembutan Draco.

"Aku tak ingin ini berakhir," bisik Harry pelan, dan Draco menjawabnya dengan satu pelukan erat yang membuat Harry merasa terlindungi.

Bersambung…

A/N.

Yak, kita cooling down dulu ya, pada capek kan liat dua cwo ganteng itu menderita? *padahal authornya yang ga tega nyiksa orang terus*

Aicchan sist, fluff sampe akhir nih. Buat Ness, hahahah thanks buat jurus gombalnya #plak, gimana kalo semua kisahmu kau kirimkan padaku, ntar aku jadiin fic XD

Buat Chelly, semoga nafasmu tak sesak lagi XP, buat Icci,Vii, Ayu, Kai dan Aoi, makasih udah bersabar menunggu chap 10. Nih bonusnya chap 11 yang jadi dalam 1 hari, hehehe jangan ngambek lagi ya, Ritsu juga !

Oke chap 12 aku ga janji, kita liat aja ntar, see ya…