DILEMMA
CHAPTER 12
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance / angst / drama
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon. GA SUKA GA USAH DI BACA YA.
.
#
.
"Morning," sapa Draco yang baru melihat Harry keluar dari kamarnya.
Harry merentangkan tangannya, melemaskan otot-otot bahunya yang kaku, "Morning," balasnya, "Pagi sekali kau bangun?"
Draco tersenyum, "Aku nyaris tak bisa tidur semalam," jawabnya.
Harry mengernyitkan keningnya dan mendekati pemuda berambut pirang itu yang sedang sibuk di depan meja makan, "Kenapa?" tanya Harry penasaran sambil melihat apa yang sedang di lakukan Draco.
Draco membalikkan tubuhnya dan menangkup wajah Harry yang berdiri begitu dekat dengannya, "Karena ada kau disebelah kamarku, tuan muda," godanya.
Harry masih memandang heran pada Draco, "Sudah hampir dua minggu kita tinggal bersama dan baru tadi malam kau tak bisa tidur karena ada aku di sebelah kamarmu?"
Draco berdecak, "Kemarin-kemarin itu kan kau masih ketus padaku, tapi beberapa hari ini saat kau telah membuka diri padaku aku semakin tak bisa mengendalikan diriku, jelas?" jawabnya gemas.
Wajah Harry memerah saat Draco memberinya kecupan sekilas di bibirnya, "Mandilah, aku sudah membuatkan sarapan untuk kita," perintah Draco.
Harry tak menjawab, dia langsung melangkah ke kamar mandi. Hatinya terasa hangat melihat Draco pagi ini, kehadiran Draco di sisinya seperti sudah menjadi suatu yang wajar dalam hidupnya, dan dia nyaris tak peduli pada masa lalunya. Walau kadang dia juga penasaran dengan apa yang membuatnya menjadi begitu membenci Draco beberapa waktu yang lalu.
.
.
"Aah... Potter, Malfoy, kalian tidak ada sesuatu yang penting kan malam ini?" tanya Mr. Savage saat mereka baru tiba di kantor.
Draco menatap Harry dan dia melihat kebingungan yang sama di mata hijau itu, "No. Sir. Ada apa?" tanya Draco heran.
Mr. Savage bernafas lega, "Tidak, mulai sekarang Mr. Robarts meminta kita bergiliran untuk menjaga wilayah perbatasan, hanya sebulan sekali saja, dan nanti malam giliran kita berempat, tadi Weasley sudah ku beritahu dan dia tak keberatan."
Harry mengangguk mengerti, "Kalau memang sudah tugas aku tak keberatan apapun itu," jawabnya santai yang diikuti anggukan Draco.
Pria setengah baya yang masih terlihat segar itu tersenyum, "Aku percaya pada loyalitas kerja kalian, kita akan menginap dua malam di hutan utara."
"Dua malam?" tanya Draco, "Tapi kami belum membawa apapun."
"Pulanglah dulu dan siapkan bawaan kalian, Weasley juga baru saja ku suruh kembali pulang," jawabnya.
"Yes, Sir," jawab dua pemuda itu kompak.
.
.
Draco mengintip ke dalam kamar Harry, "Sudah siap?" tanyanya.
Harry berkacak pinggang dan melihat kopernya yang berantakan, "Entahlah," jawabnya sambil mengangkat bahu.
Draco terkekeh, "Kau ini dari dulu tak pernah rapi," godanya sambil membantu Harry membereskan semuanya.
"Jaketmu sudah kau bawa? Saat malam angin sering tak bersahabat," kata Draco mengingatkan, "Tapi kau tak usah khawatir aku siap menggantikan jaketmu," goda Draco lagi dan tertawa melihat rona wajah Harry.
"Berhenti menggodaku, Draco," gerutunya.
Draco tertawa, dia mendekati Harry dan memeluk pemuda berambut hitam itu, "Maaf kalau kau menjadi tak nyaman," bisiknya.
Harry menggeleng pelan, dia memang kesal kalau Draco terus menggodanya, tapi dia juga tak bohong kalau sebenarnya dia senang.
Draco menengadahkan wajah Harry lalu mencium bibirnya dengan begitu lembut, rasanya begitu hangat, dan dia tersenyum merasakan getar tubuh Harry yang sangat dia suka. Digigitnya bibir bawah pemuda itu sebelum melepaskan ciumannya, "Kita berangkat sekarang?" tanya Draco pelan dan Harry hanya mampu mengangguk mengingat otaknya baru saja dibuat kosong oleh Draco.
.
.
"Ada apa sebenarnya sampai kita harus menjaga perbatasan ini?" tanya Ron saat mereka tiba di hutan utara sore hari ini.
"Tak ada apa-apa sebenarnya, hanya saja walaupun hutan ini telah diselubungi mantra agar tak tampak dari dunia muggle tetap saja kita harus memeriksa keadaan sekitar," jawab Mr. Savage sambil sibuk mendirikan tenda. "Nanti malam kita bagi dua kelompok, aku dan Weasley akan ke barat dan kalian berdua ke selatan," perintahnya pada Harry dan Draco.
"Yes, Sir," jawab mereka, "Lalu kenapa kita mendirikan tenda kalau memang tak kita tempati nanti malam?" tanya Harry.
Mr. Savage terkekeh, "Kita juga butuh tidur, besok pagi kita berkumpul disini."
Ketiga pemuda itu pun mengangguk mengerti.
.
.
"Kau tak lelah?" tanya Draco pada Harry setelah berjam-jam mereka memantau daerah selatan hutan dengan sapu terbang mereka.
Harry mengangguk, "Sepertinya iya," jawabnya lesu.
Draco melihat sekeliling mereka, "Di situ, di tepi tebing yang menghadap laut itu kita turun dan beristirahat sebentar," ajak Draco yang disambut anggukan Harry.
Mereka turun dan duduk di atas rumput di bawah rindangnya pepohonan yang bergoyang tertiup angin. Draco mengeluarkan satu termos kecil yang berisi cokelat hangat yang dibawanya di ranselnya, "Ini minumlah agar tubuhmu hangat," katanya sambil mengulurkan satu gelas kecil pada Harry.
"Thanks," jawab Harry sambil menerima gelas itu dari tangan Draco.
Draco tersenyum dan mengecup sekilas pelipis Harry, "Senang rasanya bisa berdua denganmu di tempat yang berbeda," kata Draco.
Harry memandang curiga pada pemuda itu, "Jangan melakukan hal-hal aneh, Draco, kita sedang bertugas," gerutunya.
Draco terkekeh, "Hal aneh bagaimana? Kau ingin aku melakukan apa?" goda Malfoy junior itu.
Harry tak menjawab, dengan jengah dia memandang langit. Masih sama dengan yang dilihatnya bersama Draco beberapa hari yang lalu, langit nampak begitu ramai. Tapi suara deburan ombak dari laut dibawah mereka menambah kesempurnaan malam ini.
"Masih suka memandang bintang?" tanya Draco.
Harry mendesah, "Ya," jawabnya singkat, Harry menoleh pada Draco dan tercekat saat menyadari kilau abu-abu itu menatapnya hangat, "Daripada melihatku, kau lihat saja ke atas, banyak yang indah di sana," katanya jengah.
Draco menggeleng, "Kan sudah ku katakan padamu kalau bintangku ada dalam matamu, Harry," bisiknya.
Harry memalingkan wajahnya, dia berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya, "Sudahlah, kau terdengar aneh kalau bicara seperti itu," gerutunya.
Sekali lagi Draco terkekeh, lalu pemuda itu menautkan jari-jarinya pada jemari Harry dan menggenggamnya erat. Setelah itu mereka terdiam untuk beberapa saat, menikmati waktu yang berjalan dengan begitu lambat. Tak ada yang bicara, hanya suara hati yang berbisik mesra pada kesunyian malam.
Harry menatap pemuda di sampingnya, selama di dekatnya Draco selalu tersenyum dan menggodanya, tapi ada satu sisi yang kadang Harry tak mengerti, pandangan pemuda berambut pirang itu kadang-kadang seperti kosong, 'Apa yang dipikirkannya?', tanyanya dalam hati.
"Draco," panggil Harry pelan.
Draco memandang mata hijau Harry sebagai jawaban darinya.
Harry mengeratkan genggaman tangan mereka dan itu membuat Draco sedikit heran, "Apa yang terjadi padamu sampai kau meninggalkan Manor?" tanya Harry hati-hati karena tak ingin menyinggung Draco.
Dada Draco tersentak, rasa sakit itu datang lagi, "Tidak ada apa-apa, hanya sedikit masalah kecil dengan kedua orang tuaku," jawabnya lirih.
Harry memejamkan matanya, rasa sakit di kepalanya sepertinya akan muncul kembali, satu bayangan samar muncul di kepalanya, 'Orang tua Draco? Masalah? Dimana? Kapan? Kenapa?', banyak pertanyaan muncul di hatinya.
"Harry? Kenapa?" tanya Draco cemas melihat Harry yang mengernyitkan keningnya menahan sakit.
Harry menggeleng, "Entahlah, rasa sakit yang dulu datang lagi di kepalaku. Kenapa bisa begini?" katanya bingung.
Draco tercekat, dengan cepat dia memeluk erat tubuh Harry, 'Dia berusaha mengingat tentang kedua orang tuaku, dan itu membuatnya kembali sakit. Tidak, ini tak boleh terjadi, Harry terlalu terluka dengan perbuatan mereka', batin Draco. "Harry, tak ada yang terjadi, tenanglah," bisiknya lembut.
Perasaan Harry berangsur tenang, dan sakit di kepalanya pun mulai hilang. Dengan lemas dia menyandarkan kepalanya di bahu Draco, entah dia sadar atau tidak tangannya mencengkeram erat jubah Draco sambil merapatkan tubuhnya pada pemuda itu. Ada sedikit rasa takut muncul di dadanya, rasa takut kehilangan Draco.
Draco memeluk erat tubuh Harry, berusaha melindunginya dari rasa sakit dan terluka. Dia masih merasakan sedikit getaran dari tubuh Harry, bukan getaran seperti yang biasa diberikan Harry terhadap setiap sentuhannya, getaran ini seperti rasa takut dan cemas. 'Jangan mengingat apapun lagi, Harry, aku tak ingin kau terluka', bisik hatinya.
"Sudah lebih baik?" tanya Draco pelan sambil mengusap rambut hitam Harry yang terbenam di dadanya.
Harry mengangguk, dia mendongakkan wajahnya dan memandang lekat mata abu-abu Draco. Tangannya menarik leher Draco supaya mendekat dan menyapa bibir tipis itu dengan bibirnya.
Draco tercekat, baru kali ini Harry berinisiatif menciumnya dulu. Tapi dia senang dan mulai membalas ciuman pemuda yang selalu mengisi mimpi-mimpinya itu. tangannya mengusap pipi Harry yang terasa dingin akibat tiupan angin malam, bibirnya terus menuntut bibir Harry dalam ciuman yang hangat.
Harry mengerang saat lidah Draco menerobos masuk dari celah-celah bibirnya, rasanya yang basah dan hangat memberikan sensasi tersendiri untuk Harry. "Draco," desahnya saat Draco melepaskan bibirnya untuk menarik nafas.
Draco tersenyum melihat hasil perbuatannya, wajah Harry tampak begitu merah oleh gairah, dan bibirnya menjadi agak bengkak yang membuatnya semakin merasa gemas. "Jangan pikirkan apa-apa lagi, Harry, pikirkan aku saja," bisiknya sambil kembali menunduk dan mengecup lembut bibir Harry.
Tubuh Harry tersentak saat ciuman Draco merambah ke lehernya, getaran itu kembali di rasa Draco, tapi bukan getar ketakutan lagi dan itu membuatnya puas. Dihisapnya satu titik di leher Harry dan itu sukses membuat Harry kembali mengerang keras.
Draco tertawa pelan, tak ingin berbuat lebih jauh lagi dan melukai pemuda itu Draco pun memeluk erat tubuh Harry dan mencium pelipisnya, "Bagaimana? Sakitmu sudah hilang?" godanya pada Harry.
Harry terkekeh, "Aku baru tahu ada cara pengobatan seperti ini, Draco," jawabnya parau. Kepalanya benar-benar terasa ringan dan kosong, dan dengan nyaman dia menyandarkan kepala dan tubuhnya di dada pemuda berambut pirang itu.
"Kalau kau suka maka dengan senang hati aku akan melakukannya untukmu saat kau merasa sakit, love," bisik Draco di bibir Harry dan sekali lagi memberikan satu kecupan di sana.
Harry tersenyum, hatinya terasa begitu hangat, dan satu suara kembali hadir dalam pendengarannya. "Kau juga dulu pernah memanggilku begitu," katanya pelan.
Draco mengusap pipi Harry, "Itu memang panggilan kesayanganku untukmu," jawabnya sambil menyeringai.
Harry tertawa, dia berdiri "Panggilan kesayangan yang aneh," katanya dan dengan kesal diacak-acaknya rambut pirang Draco yang selalu rapi itu sehingga membuat si empunya protes.
"Hei, aneh apanya? Bukannya itu romantis?" sanggah Draco tak terima sambil merapikan rambut kebanggannya. Dia mengejar Harry yang melangkah mendahuluinya.
Harry masih tertawa, rasanya jika bersama Draco tak sulit untuk tertawa, "Tugas memanggil, jangan terus merayuku, Mr. Malfoy," candanya.
Draco ikut tertawa dan mereka terbang bersama dengan sapu masing-masing.
.
#
.
Sementara itu di Manor yang megah Narcissa dan Lucius duduk berdua di perpustakaan dengan wajah lesu.
"Aku merindukan Draco, sayang," desah Narcissa yang duduk di samping suaminya, "Apakah lukanya sudah sembuh? Apakah dia baik-baik saja?"
Lucius menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil menekan pangkal hidungnya. Lucius sendiri lumayan dibuat pusing oleh tingkah putranya yang diluar kendali itu, dia sadar dia telah bersikap terlalu keras terhadap Draco. Walau hati terdalamnya ingin merestui pilihan Draco tapi di sisi lain dia juga bimbang akan masa depan keluarganya.
Dia tak ingin melukai Harry lagi, pemuda itu sudah cukup menderita seumur hidupnya. Sifat tegar yang ditunjukkan Harry pada masyarakat luas membuat Lucius juga jatuh sayang pada pemuda itu. Tapi sekali lagi dia terbentur pada keadaan dan posisi Draco sebagai pewaris tunggal.
"Sayang?" panggil Narcissa karena suaminya tak kunjung bicara, "Benarkah saat ini dia tinggal bersama Harry?"
Lucius mengangguk, "Aku mendapatkan informasi itu dari pegawai di departemen auror, dan setidaknya itu membuat kita sedikit tenang, Cissy."
Narcissa mengangguk setuju, setidaknya Draco tinggal bersama orang yang tepat, yang mampu membuatnya bahagia. Tapi dalam hal lain keadaan itu bisa membuat Draco semakin menentang suaminya, "Apakah ingatan Harry telah pulih?" tanyanya lagi.
Lucius menggeleng, "Belum, hanya sebagian kecil tentang Draco. Dan menurut Severus itu kemajuan yang bagus. Hanya saja..." katanya menggantung.
"Kenapa?" tanya Narcissa penasaran.
Lucius mendesah, "Mungkin Harry akan terluka lagi saat mengingat tentang kita, karena sebenarnya kita lah yang ingin dilupakannya."
Narcissa menutup mulutnya yang terbuka dengan tangannya, matanya terbelalak terkejut, sebutir air mata menetes dari mata birunya, "Kasihan dia, kita telah melukainya begitu dalam," bisiknya lirih. "Sayang, tak bisakah kau menerimanya sebagai bagian dari keluarga kita? Aku menyayanginya," rayu wanita yang masih terlihat cantik itu. sejak Harry sakit Narcissa selalu menyesali perbuatannya, dan dalam hati terdalamnya dia tak ingin menentang keinginan putranya lagi, hanya saja dia juga harus menghormati suaminya.
Lucius berdiri dari duduknya, "Aku tahu, Cissy, aku pun sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri. Jangan membuatku semakin bingung," erang Lucius kesal.
Narcissa menghampiri suaminya dan memeluknya dari belakang, "Kita bisa melihat betapa bahagianya Draco bersama Harry, sayang. Putraku tak pernah tampak begitu hidup dan bersemangat seperti itu."
"AKU TAHU, CISSY, CUKUP," teriak Lucius, pria berwajah dingin itu mengusap wajahnya dengan kesal.
"Maafkan aku, sayang, maafkan aku," bisik Narcissa sambil mengeratkan pelukannya di punggung Lucius.
Lucius berbalik dan memeluk tubuh istrinya, "Aku harus berbuat sesuatu pada Draco, Cissy," desisnya.
Narcissa terkejut, dia memandang takut pada suaminya, "Apa yang akan kau lakukan? Jangan sakiti mereka lagi, sayang," mohon wanita itu.
"Aku hanya ingin meyakinkan hatiku," jawabnya lirih.
.
#
.
"Aaaah... ngantuk sekali," keluh Ron pagi ini setelah mereka berkumpul di tenda, pemuda berambut merah itu langsung merebahkan dirinya.
Harry tertawa melihat ulah sahabatnya itu, "Kau tak mau mandi dulu, mate?" tanyanya.
"Disebelah barat, tak jauh dari sini ada air terjun dan sungai, kalian bisa membersihkan diri disana," kata Mr. Savage.
"Ayo kita kesana," ajak Draco pada Ron dan Harry.
Dengan cepat Ron menggeleng, "Tidak... tidak, aku tak mau melihat kalian berbuat yang aneh-aneh," jawabnya pelan agar tak terdengar oleh Mr. Savage yang sedikit menjauh dari mereka.
BUGHH...
Satu pukulan menghantam kepala Ron dari tangan Harry, "Apa maksudmu?" desisnya kesal, dan semakin kesal karena Draco ikut menyeringai bersama Ron. Berusaha tak menuruti emosinya Harry pun meninggalkan mereka, dia tak menghiraukan Draco yang berusaha mengikutinya.
.
#
.
"Dua hari di hutan lumayan menyegarkan juga ya?" kata Draco sambil menghempaskan diri di sofa saat mereka telah kembali ke flat Harry.
Harry meletakkan Ranselnya di dalam kamar, "Kalau kau suka seharusnya kau tinggal saja disana," jawab Harry sambil duduk di samping Draco.
Draco memandang wajah pemuda disampingnya itu dengan tersenyum, "Kau yakin bisa jauh dariku, Harry?" godanya.
Harry mendengus, "Sifat besar kepalamu itu membuatku kesal, tuan muda," jawabnya.
Draco tertawa, dia merangkul pundak Harry, "Kalau begitu aku yang tak sanggup jauh darimu."
Harry terkekeh, "Apakah selama ini aku juga melupakan sisi gombalmu ini, Mr. Malfoy?"
Draco tampak berpikir sebentar, "Entahlah, saat berada di dekatmu entah mengapa mulutku selalu lancar berbicara seperti ini."
Harry tersenyum sambil menyandarkan kepalanya di bahu Draco, "Baguslah, aku akan selalu dekat denganmu agar Rita Skeeter bisa menulis gosip yang sangat panas tentangmu."
Draco membelai rambut hitam Harry, "Aku tak peduli selama aku digosipkan denganmu," jawabnya enteng.
Harry terkekeh, "Dan membuat orang terkena serangan jantung karena satu-satunya pewaris keluarga Malfoy ternyata adalah..." ucapannya terhenti.
'Pewaris keluarga Malfoy, putra tunggal', kata-kata itu seakan mengingatkan Harry akan sesuatu.
"Aaarrrrgh..." teriak Harry tiba-tiba sambil memegang kepalanya. Berjuta bayangan hadir dalam ingatannya.
-"Kami sudah tahu tentang hubunganmu dan Draco."-
-"Dia putra tunggal kami."-
-"Draco tak ingin meninggalkanmu, Harry."-
-"Maafkan aku Uncle, Aunt Cissy."-
"HARRY, HARRY TENANGLAH," teriak Draco panik, dengan erat dia memeluk tubuh Harry yang bergetar ketakutan, "Love, tenanglah, aku disini," kata Draco lembut sambil mengayun tubuh Harry dalam pelukannya.
Harry masih mengerang menahan sakit, pelukan Draco membuatnya sedikit lebih tenang. Tangannya mencengkeram erat baju Draco dan Draco bisa merasakan jemari Harry yang gemetar.
"Tak ada apa-apa, Harry, tak ada yang akan menyakitimu lagi, aku bersamamu," bisiknya di telinga Harry. Dada Draco berdebar kencang, 'Dia mulai mengingat sesuatu, Merlin, jangan membuatnya sakit lagi, kumohon', rintihnya dalam hati, dia ikut merasa sakit melihat penderitaan Harry.
Erangan Harry mereda, sakit di kepalanya perlahan menghilang berganti rasa lega karena Draco memeluknya, ada di sisinya. Rasa lelah menyelimutinya dan perlahan dia memejamkan matanya dan tertidur dalam dekapan kekasihnya, dan sekali lagi kata-kata Draco mengantarnya ke alam mimpi.
"Tidurlah, Harry, aku akan menjagamu," bisik Draco lagi, begitu lembut begitu hangat.
.
#
.
Harry mengerjapkan matanya, dia merasa begitu hangat dan terlindungi. Ada seseorang yang memeluknya.
"Kenapa kau bangun?" tanya Draco pelan.
Harry menoleh ke asal suara dan mendapati Draco berbaring di sisinya sambil memeluk pinggangnya dengan erat. "Maaf, aku tertidur ya?" tanya Harry, "Apa yang terjadi? Tadi rasanya sakit sekali," tanyanya sambil memegang kepalanya yang kini sudah tak terasa sakit lagi.
Draco tersenyum dan mencium satu mata hijau Harry dan membuat pemuda itu kembali terpejam, "Tak ada yang terjadi, Harry, mungkin kau hanya terlalu lelah," jawab Draco berusaha membuat Harry melupakan semua yang membuatnya sakit.
Harry mengangguk, dia mencoba percaya karena dia memang tak bisa mengingat apapun yang menjadi penyebab sakitnya tadi, "Jam berapa sekarang?"
"Masih tengah malam, dan kau bebas bangun jam berapa saja karena besok hari libur," jawab Draco sambil beranjak bangun. Dia tercekat saat Harry menahan lengannya.
"Kau mau kemana?" tanya Harry.
Draco tersenyum, "Kau sudah tenang dan aku ingin membiarkanmu tidur lagi," jawabnya pelan.
Harry menggeleng lemah, "Temani aku, Draco, kumohon," pintanya. Entah kenapa rasa takut kembali menyusup dalam dadanya ketika menyadari Draco akan meninggalkannya, walau hanya ke kamar sebelah.
Draco kembali berbaring di samping Harry dan membiarkan pemuda itu bergelung dalam pelukannya. "Kau tak ingin tidur lagi?" tanya Draco melihat Harry tak juga memejamkan matanya.
Harry tersenyum, "Tidak," jawabnya, "Aku ingin menikmati banyak waktu bersamamu."
Dada Draco menghangat, rasa cintanya pada pemuda itu begitu membuncah dan nyaris membuatnya menangis merasakan rasa yang begitu indah. "Aku mencintaimu, Harry, sangat," bisiknya.
"Aku juga, Draco, " jawab Harry yang semakin merapatkan tubuhnya pada Draco.
Draco tersentak, "Kau yakin?" tanyanya tak percaya.
Harry mengangguk pelan, "Seperti katamu, kau berhasil membuatku jatuh cinta padamu, lagi."
Draco tertawa pelan, "Apa kubilang? Malfoy selalu membuktikan kata-katanya."
Harry ikut tertawa, mata hijaunya memandang mata abu-abu Draco yang bersinar hangat. Perlahan mata itu terpejam saat Draco mendekatkan wajahnya, dan benar saja satu sentuhan hangat menyentuh bibirnya, menggodanya dalam pusaran gelombang yang selalu mampu mematahkan akal sehatnya dan membuat otaknya kosong. Sentuhan yang selalu membuatnya mabuk lebih dari curahan satu galon firewhiskey sekalipun, begitu panas seakan udara membara disekitar mereka.
Tubuhnya gemetar saat Draco mencumbu lehernya dan membuatnya nyaris menjadi gila. Harry tak ingin menolak, dia ingin merasakan seluruh sentuhan kekasihnya di tubuhnya. "Draco," erangnya saat dia merasakan logikanya telah terseret oleh gelombang gairah yang terus menggulungnya.
Draco menghentikan cumbuannya, dia mencium lembut pipi Harry, "Tidak sekarang, love. Banyak sekali waktu yang akan kita lewati bersama," bisiknya.
Harry memandang Draco dengan setengah kecewa, "Tapi aku menginginkanmu, Draco."
Draco tersenyum sambil mengecup rambut hitam Harry lalu membawa pemuda itu lebih dalam lagi dalam pelukannya, "Aku pun menginginkanmu, Harry, percayalah," jawabnya pelan, "Aku telah lama begitu menginginkanmu, dan kau tahu apa yang telah kuperbuat untuk mendapatkanmu, aku telah melukaimu."
Harry tak menjawab, dia hanya menikmati aroma tubuh kekasihnya yang selalu membuatnya tenang dan nyaman.
"Saat itu akan tiba, saat dimana kita akan menjadi sempurna, Harry. Saat dimana kita akan selalu bersama, selamanya," hibur Draco lagi.
Harry tersenyum, "Kau berjanji, Draco? Tak akan pernah membiarkanku sendiri?"
Draco tertawa pelan, dengan gemas dia mengacak rambut hitam Harry, "Aku berjanji, Harry, my love," bisiknya. Lalu mereka tertawa bersama, dan kedamaian malam itu menyelimuti mereka dalam tidur yang begitu lelap dengan buaian mimpi yang begitu indah.
.
#
.
Pagi ini matahari tertutup mendung yang begitu tebal, Harry dan Draco memutuskan untuk tetap tinggal di dalam flat dan menikmati kebersamaan mereka. Surat kabar menjadi satu-satunya hiburan untuk melewatkan waktu senggang mereka di depan perapian. Tak ada yang bicara, sentuhan tangan Draco yang tak henti membelai rambut Harry sudah menjadi komunikasi tersendiri untuk mereka.
Ketukan di pintu mengusik ketenangan mereka, dengan malas Harry beranjak dari duduknya dan membuka pintu flatnya, tubuhnya membeku saat tahu siapa yang datang, "Mr. Malfoy, Mrs. Malfoy," sapanya lirih.
Draco yang mendengar itu langsung melompat dan menarik Harry menjauh dari pintu, dia berdiri di depan kekasihnya, menutupinya dengan tubuhnya. Dia memandang kedua orang tuanya yang masih berdiri di depan pintu. "Apa mau kalian?" tanyanya dingin.
"Draco, kami merindukanmu, Son," jawab Narcissa pelan.
Draco menggeleng, "Pergilah, jangan mengganggu kami," katanya dengan ketus.
Harry yang berdiri di belakang Draco mulai merasakan sakit itu kembali menyapa kepalanya, 'dulu mereka pernah kesini, untuk apa? kenapa', tanyanya dalam hati dengan kepala yang semakin terasa sakit.
-"Kami tak membenci Harry, Sev, percayalah, hanya saja Draco itu putra tunggal kami dan kamiā¦"-
-"Kalian menginginkan keturunan dari Draco yang kelak akan meneruskan tahta Malfoy, begitu?"-
-"Harry, kami tahu kalau saat itu kau mendengar pembicaraan kami bersama Severus."-
-"Kami sudah tahu tentang hubunganmu dan Draco."-
-"Maafkan aku Uncle, Aunt Cissy."-
-"Draco bersikeras tak mau meninggalkanmu."-
-"Kalau dia tak mau meninggalkanku, maka akulah yang akan meninggalkannya."-
Suara-suara itu terus berdengung dalam kepalanya, terus dan terus. Harry merasa kepalanya semakin sakit, dia menggigit bibirnya agar tak berteriak.
Draco membalikkan badannya saat dia merasakan tangan Harry yang memegang punggungnya bergetar hebat, dia terkejut melihat betapa pucatnya wajah Harry saat itu. tangannya begitu erat memegang kepalanya, "HARRY, TENANGLAH, TAK ADA YANG TERJADI. HARRY..." teriak Draco.
Harry semakin erat mencengkeam kepalanya.
-"Kalau dia tak mau meninggalkanku, maka akulah yang akan meninggalkannya."-
-"Kalau dia tak mau meninggalkanku, maka akulah yang akan meninggalkannya."-
-"Kalau dia tak mau meninggalkanku, maka akulah yang akan meninggalkannya."-
"AAAARRGGHHH..." teriaknya keras saat kata-kata itu kembali terdengar dan terus terdengar bahkan semakin keras dalam kepalanya. Tubuhnya tersungkur ke lantai.
"HARRYYYY..." teriak Draco.
Narcissa dan Lucius tampak begitu cemas, kedua orang dewasa itu bergerak mendekati Harry, tapi bentakan Draco menghentikan langkah mereka, "BERHENTI, JANGAN MENDEKAT, JANGAN SAKITI HARRY LAGI!" teriaknya marah.
"Merlin, Harry..." seru Pansy dan teman-temannya yang keluar dari flat karena mendengar keributan di flat Harry, "Apa yang terjadi?" tanya Blaise yang membantu Draco memegang tubuh Harry yang terus memberontak menahan sakit di kepalanya. Blaise segera merapalkan satu mantra yang dapat meredam suara mereka dari penghuni flat di lantai lain..
Erangan Harry bagai pisau yang menyayat jantung Draco, "PERGI KALIAN, TINGGALKAN KAMI," teriaknya histeris pada kedua orang tuanya. Dia terus memeluk tubuh Harry yang tak henti meronta kesakitan.
"Petrificus Totalus," seru lucius yang mengacungkan tongkatnya pada Draco dan membuat Draco membeku saat itu juga. Pemuda berambut pirang itu berada dalam kendali mantra ayahnya, dia diam tak bergerak, hanya bisa melihat dan mendengar.
Narcissa memekik ngeri, "Sayang, jangan lakukan itu, kumohon," jeritnya berusaha melunakkan hati suaminya.
Tak ada yang bisa berpikir bagaimana melawan pria itu, semua sibuk menangani Harry yang masih merasakan sakit di kepalanya.
Lucius menarik Draco yang sudah tak dapat melawan lagi, "Aku mohon pada kalian semua, kami tak ingin menyakiti Harry, percayalah. Tolong lakukan sesuatu padanya, panggil Severus sekarang juga. Aku akan membawa Draco pulang, ada yang harus kami selesaikan," katanya sambil ber-apparate dan meninggalkan mereka.
Mata Harry yang masih menahan sakit terbelalak lebar saat melihat kekasihnya hilang dari hadapannya, mata abu-abu itu memandangnya dengan penuh luka sebelum dia menghilang, "DRACOOOO..." teriaknya, dan saat itu juga kepalanya menjadi berat dan pandangannya menjadi gelap. Tak ada lagi yang diingatnya, tubuhnya terlempar jauh kedalam jurang yang begitu dalam.
BERSAMBUUUUUUUUUUUNG...
A/N.
Akhirnya... entah bagaimana chap 12 ini jadinya, jelekkah? Maafkan aku *sujud2*
Ai sist, bagaimana menurutmu? Ness, maafkan aku, aku tak mau mengganggu waktu ospekmu, semoga kau bertahan sampai akhir, SEMANGAT...!
Buat Vii, Chelly, Kai, Icci, Ayu (jangan emosi ya, hehe), Animegirl, Puput, Cissy (jangan marah2, ntar om Lucy ga cinta lagi lho, hehe), Bella makasih banyak ya.
Buat Moony's Moon, I LOVE YOU *hug*. Makasih buat pembelaannya. buat teman2 yang sudah mendukungku pun aku ucapkan terima kasih tak terhingga.
Buat Ficfan91 n Snow Leopard10, makasih dah dukung aku juga via PM ya, aku tunggu yang itu tuh XD.
Aku terharu karena ada satu teman baru yang sangat menantikan apdetanku, DL makasih ya, maaf menunggu lama, semoga chap kali ini ga mengecewakanmu.
Buat HarMione's, maaf, aku tak tahu bagaimana caranya berhenti, karena aku begitu suka menulis, maaf mengecewakanmu.
Trus buat Phoenix-White, kalau kau ingin tahu kenapa aku cinta slash maka jawabanku entahlah, aku melihat sesuatu yang jujur dari hubungan itu. dan bagaimana cara menyukainya aku juga tidak tahu, karena rasa suka itu datang dari hati dan tak bisa dipaksakan. Mungkin ada dari teman2 semua yang bisa membantu menjawab? Terima kasih karena kau tak memandang sebelah mata pada kami para fujoshi.
Oke, note-nya kepanjangan nih, makasih buat semuanya dan mohon maaf kalau kurang memuaskan, ini usaha maksimalku, I LOVE YOU PULL... *tepar lagi*
