DILEMMA
CHAPTER 13
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance / Angst / Drama
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon, GA SUKA GA USAH DI BACA YA.
.
#
.
-"Aku tak akan memaksamu, tak akan pernah lagi. Kau memiliki banyak waktu untuk memikirkan ini, karena aku akan selamanya bersamamu,"-
-"I love you, Harry,"-
-"Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Harry, tidak selama aku masih hidup,"-
-"Draco, ingatlah ini, aku akan selalu mencintaimu, terus mencintaimu. Walau aku harus pergi dari hidupmu aku bersumpah akan terus membawa cintaku untukmu,"-
-"Aku melakukan itu semua dengan hatiku, bukan dengan tubuhku."-
-"Awan dan mendung hanya selubung yang menutupi mata manusia, tapi di balik selubung itu bintang tetap bersinar untuk bulan."-
-"Bagiku, aku tak peduli walau seluruh bintang akan tanggal dan sinarnya padam dari langit malam, karena aku tahu kalau aku memiliki sinar yang lebih indah dari cahaya bintang, yang darinya aku mendapatkan kedamaian dan kehangatan. Itu adalah binar orion di matamu, Harry,"-
-"Saat itu akan tiba, saat dimana kita akan menjadi sempurna, Harry. Saat dimana kita akan selalu bersama, selamanya,"-
-"Kau berjanji, Draco? Tak akan pernah membiarkanku sendiri?"-
-"Aku berjanji, Harry, my love,"-
-"Tidurlah, Harry, aku akan menjagamu,"-
.
#
.
Harry mengerjapkan matanya, sinar dari lampu kamarnya tampak sangat menyilaukan.
"Harry," panggil sebuah suara.
Harry menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya, "Dad," bisiknya lemah. Dia memandang ke sekeliling kamar dan menemukan semua temannya ada dsitu, "Dimana Draco?" tanyanya lirih.
Tak ada yang menjawab, Pansy meminta ijin Severus melalui pandangan matanya untuk boleh mendekati Harry. Setelah Severus mengangguk gadis itu pun duduk di samping Harry, "Bagaimana kepalamu? Apakah masih sakit?" tanyanya pelan.
Harry menunduk, "Entahlah, rasanya aneh, Pans," jawabnya lirih. "Apa yang terjadi?" tanyanya lagi.
Pansy memandang semua yang ada di ruangan itu dan mendapat persetujuan dari semua untuk menceritakan pada Harry tentang apa yang telah terjadi tadi pagi. Dengan perlahan gadis itu pun menceritakan semua pada Harry.
Harry terdiam, "Ya, aku bisa mengingat semua, Pans," jawabnya yang membuat semua orang terkejut kecuali Severus.
"Memang seharusnya begitu, kedatangan Lucius dan Narcissa kesini pasti sedikit banyak akan membuatmu teringat kembali akan luka yang kau rasakan saat itu," jawab kepala sekolah Hogwarts itu dengan nada datar.
Harry mengangguk pelan, "Ya, Dad."
Severus menarik nafas panjang, "Kita biarkan Harry beristirahat dulu," katanya pada semua, satu persatu mulai keluar dari ruangan itu. Hermione menghampiri Harry lalu memeluk pemuda itu dengan erat sebelum meninggalkan kamar, air mata mengalir dari mata coklatnya. Pansy melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Hermione tapi Harry menahannya, "Tinggallah, Pans," pinta pemuda itu.
Melihat kalau Harry juga membutuhkan teman bicara Severus pun mengijinkan gadis itu menemani Harry.
.
.
"Apakah sudah ada kabar tentang Draco?" tanya Harry pelan.
Pansy menggeleng, "Belum, Draco belum memberi kabar sama sekali, Harry."
Harry menatap sahabat perempuannya itu yang tampak sedih, "Apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menuruti permintaan kedua orang tuanya?"
Pansy meraih tangan Harry dan menggenggamnya, "Apa kata hatimu?" tanya gadis itu hati-hati.
Harry menggeleng, "Entahlah, aku menyayangi mereka seperti orang tuaku sendiri. Tapi aku juga begitu mencintai Draco," jawabnya lirih.
Pansy tersenyum pada Harry berusaha menenangkan pemuda itu, "Draco juga sangat mencintaimu, Harry. Selama ini dia melawan kedua orang tuanya untukmu. Dia terus berjuang untuk mendapatkanmu kembali, walau hatinya begitu terluka karena kau melupakannya," terang gadis berambut hitam di depannya itu, "Dengan pengorbanan Draco yang seperti itu apakah kau tega meninggalkannya, Harry?"
Harry terdiam, kata-kata Pansy membuat dadanya sedikit menghangat, tak mungkin dia menyia-nyiakan pengorbanan Draco selama ini. Dia sadar apa yang telah dilakukan Draco demi dirinya.
"Saat ini Draco membutuhkan dukunganmu, Harry. Kau harus bisa menjadi kekuatan untuknya," kata gadis itu lagi, "Kalian harus bisa memperjuangkan cinta kalian, jangan menyerah. Ingatlah apa saja yang telah kalian jalani bersama selama ini, tebus semua penderitaan kalian dengan meraih kebahagiaan bersama."
Harry tersenyum, dia memeluk sahabatnya itu, "Thanks, Pans," bisiknya. 'Aku akan menunggumu, Draco, aku akan menagih janjimu untuk selalu bersamaku', sumpah harry dalam hati.
.
#
.
Karena prestasi kerjanya yang gemilang, kepala auror memberikan cuti khusus pada Draco. Kemarin Lucius Malfoy memintakan ijin ke departemen auror untuk putra tunggalnya itu tanpa menyebutkan alasannya. Harry mengerti, mungkin pria itu tak ingin orang lain ikut campur dalam masalah keluarganya.
Kemarin Harry berpapasan dengan ayah kekasihnya itu di koridor kementrian, pria itu menatapnya dengan sorot mata menyesal. Harry membeku ditempatnya sampai Lucius mendekatinya, pria itu tak bicara apapun, dia hanya memandang mata hijau Harry lalu menepuk lembut bahunya. Setelah itu pria itu berlalu dari hadapan Harry.
Sampai saat ini Harry tak tahu maksud dari pandangan Lucius yang tampak terluka dan menyesal itu. Dia tak berani menanyakan keadaan Draco, dia tak ingin lebih melukai pria yang telah danggap ayahnya sendiri itu. Harry terus gelisah karena sudah dua hari ini tak ada kabar dari Draco.
.
.
Pemuda bermata hijau itu duduk sambil menopang dagu, di tatapnya meja kerja Draco yang kosong. Masih jelas diingatannya bagaimana pemuda berambut pirang itu tersenyum padanya dari seberang meja. Telinganya masih mendengar gema tawa Draco yang renyah yang hanya mau diperdengarkannya untuk Harry.
Pemuda yang terkenal dingin itu entah kenapa justru suka sekali menggodanya disaat dia sedang kesal ataupun melamun. Harry masih ingat saat Draco melemparnya dengan kertas kecil yang berisi tulisan 'I love you' ataupun 'I miss you' disaat dia sedang begitu berkonsentrasi pada pekerjaannya yang mampu membuat rasa penatnya hilang seketika.
Harry tersenyum dengan penuh luka, kursi yang biasanya berderit halus itu kini tampak diam tak berpenghuni, rasanya sepi, sunyi, dan Harry merasa sendiri.
.
#
.
Dengan enggan Harry memasukkan anak kunci pada daun pintu flatnya, dalam hati dia berharap akan melihat Draco duduk di depan perapian dengan surat kabar melebar di kedua tangannya. Dia berharap pemuda berambut pirang itu menyambutnya dengan senyuman, atau seringaian khasnya.
Pintu kayu terbuka, kosong, tak ada siapapun di ruangan itu. Harry menunduk dan menghela nafas panjang, dia berusaha meredakan sakit di hatinya. Dengan langkah gontai dia melangkah masuk lalu meletakkan tasnya di dalam kamar. Di tatapnya sprei hijau tua yang membungkus tempat tidurnya, sprei itu sengaja tak diganti oleh Harry selama dua hari ini, karena aroma tubuh kekasihnya saat memeluknya malam terakhir itu masih tertinggal disana.
.
Setelah membersihkan diri Harry berusaha untuk tidur, tapi mata hijaunya seakan tak merasakan ngantuk sedikitpun. Pikirannya terus melayang mencari sosok pemuda yang selalu memeluknya dengan hangat itu.
Dia bangkit dari tempat tidurnya, dibukanya pintu teras flatnya. Dia duduk sendiri di kursi kayu yang pernah didudukinya bersama Draco. Tak dirasanya angin malam yang membelai lembut kulitnya, tak terasa dingin karena yng dia ingat hanyalah kehangatan kekasihnya.
Wajahnya mendongak memandang langit, dadanya terasa pedih karena saat itu langit tampak begitu sepi, hanya ada bulan yang enggan bersinar sendiri.
-"Bagiku, aku tak peduli walau seluruh bintang akan tanggal dan sinarnya padam dari langit malam, karena aku tahu kalau aku memiliki sinar yang lebih indah dari cahaya bintang, yang darinya aku mendapatkan kedamaian dan kehangatan. Itu adalah binar orion di matamu, Harry,"-
Setetes air mata mengalir dari mata hijaunya saat dia mendengar bisikan Draco malam itu, malam dimana Draco memberinya sebuah ciuman yang meluluhlantakkan dunianya.
"Kau salah, Draco. Bahkan bintangmu pun enggan bersinar saat kau tak ada di sisinya dan meninggalkannya sendiri," bisik Harry pedih pada kesunyian malam.
.
#
.
Hari ketiga tanpa kehadiran Draco benar-benar nyaris membuat Harry gila, tak satupun pekerjaannya selesai tanpa bantuan Ron. Ingin sekali dia menerobos masuk ke dalam manor dan melihat kondisi kekasihnya, tapi Severus melarangnya, mungkin ada satu alasan yang membuat Draco tak memberinya kabar, 'Bersabarlah, Harry, kita tunggu beberapa hari lagi', kata ayahnya saat itu dan Harry hanya bisa mengangguk pasrah.
"Harry," panggil Ron yang begitu mengejutkannya.
Harry mendongak dan menatap sahabatnya itu, "What?" tanyanya malas.
"Pansy mencarimu di luar," jawab Ron. Pemuda berambut merah itu beserta teman-temannya yang lain sangat prihatin melihat keadaan Harry yang nyaris tanpa semangat hidup. Sering kali mereka mengajak Harry berkumpul bersama untuk sekedar melupakan kesedihannya, tapi pemuda berambut hitam itu selalu menolak.
Harry berdiri dari duduknya dan melangkah keluar kantor untuk menemui Pansy, sahabat perempuannya yang saat ini begitu dipercaya oleh Harry, sahabat perempuannya selain Hermione yang selalu sabar mendengar keluh kesahnya.
"Ya, Pans?" sapa Harry begitu menemui gadis itu di ruang tunggu.
Pansy berdiri dan menyambut Harry dengan satu pelukan lembut, "Aku rindu padamu, sudah dua hari ini aku tak melihatmu," katanya riang. Dia tak ingin tampak sedih di depan Harry karena itu akan memabuat pemuda bermata hijau itu semakin sedih.
Harry memaksakan diri untuk tersenyum, "Aku juga merindukanmu," jawabnya datar.
Pansy nyaris menangis melihat kondisi Harry, keadaannya begitu parah. Tubuhnya menjadi kurus dalam waktu yang begitu singkat, wajahnya tampak begitu pucat, pipinya yang biasa segar kini tampak tirus, matanya cekung, dan dia bisa melihat bayangan hitam di bawah matanya. 'Apakah dia tak tidur sejak malam itu?', tanya Pansy prihatin pada hatinya sendiri.
"Nanti kau pulang jam berapa?" tanya gadis itu berusaha membuat nada suaranya menjadi sewajar mungkin, walau dia merasa tenggorokannya begitu kering melihat keadaan Harry.
Harry mengangkat bahu, "Entahlah, pekerjaanku banyak sekali," jawabnya.
Pansy mengangguk mengerti, "Aku siapkan makan malam di flat mu ya?" tawarnya.
Harry bisa melihat kalau gadis itu berusaha menghiburnya, dia tersenyum karena tak ingin membuat sahabatnya itu bersedih dan kecewa, "Kalau begitu aku pulang jam biasa saja agar bisa makan malam bersamamu," jawab Harry.
Pansy tampak begitu senang, "Berikan kunci flat mu, setelah ini aku akan langsung kesana."
Harry merogoh kantong bajunya dan menyerahkan sebuah kunci pada Pansy lalu membiarkan gadis itu berlalu dari hadapannya setelah memberikan satu ciuman ringan di pipinya.
.
#
.
Harry membuka pintu flatnya, dia langsung mencium aroma masakan menyebar dari dapurnya. "Pans," panggil Harry.
Pansy muncul dari balik dinding dapur, "Hei, kau sudah pulang? Sebentar lagi siap," jawab gadis itu.
Harry tersenyum, "Kalau begitu sebaiknya aku mandi dulu," katanya lagi.
.
.
"Bagaimana?" tanya Pansy setelah mereka menghabiskan makan malamnya.
"Entah sudah berapa lama aku tak makan makanan selezat ini," jawab harry sambil mengusap mulutnya dengan serbet makan. Harry membantu Pansy membarsihkan meja makan, setelah itu mereka duduk santai di depan perapian. Suara gemeratak kayu bakar mengisi kesunyian yang terasa panjang itu.
"Pans," panggil Harry pelan.
Pansy memandang mata hijau yang tampak lelah itu, "Yes, Harry," jawabnya.
"Keberatan kalau aku tidur di kakimu?" tanya Harry dengan suara bergetar.
Pansy tersenyum "Kemarilah," kata gadis itu lembut.
Harry merebahkan kepalanya di paha Pansy, dia berbaring miring agar wajahnya tak terlihat oleh sahabat perempuannya itu. Rasanya begitu hangat dan nyaman. Saat itu seluruh emosinya membuncah keluar. Pemuda itu menangis tertahan, bahunya berguncang pelan menahan isaknya.
Walau Pansy tak melihat tangis pemuda itu, tapi remasan tangan Harry pada kakinya sudah cukup membuatnya ikut menangis. Bukan karena sakit pada kakinya, tapi lebih pada sakit yang ikut dia rasakan bersama mengalirnya air mata Harry. Dengan lembut dia membelai rambut hitam Harry, dia sama sekali tak bicara, dibiarkannya pemuda itu menumpahkan seluruh emosinya.
"Pans," bisik Harry akhirnya dengan suara parau.
Pansy masih membelai rambut hitam yang berantakan itu, "Yes?" gadis itu menyahut pelan.
Harry terdiam sebentar, "Aku begitu merindukannya," jawab Harry lirih.
Air mata Pansy kembali mengalir, "Aku tahu, Harry, aku tahu," bisiknya, "Bersabarlah, dia pasti akan kembali padamu."
Dan malam itu berlalu begitu cepat untuk Harry, tak seperti malam-malam sebelumnya dimana dia melewatkan malam tanpa memejamkan mata sedikitpun. Kini setelah seluruh kepedihannya terkuras keluar dia merasa begitu lelah dan tertidur dalam buaian lembut sahabatnya.
.
#
.
Jum'at siang ini genap lima hari tak ada kabar berita dari Draco, tapi Harry tetap mencoba bersabar. Dia menyibukkan dirinya dalam tumpukan pekerjaan yang tak ada habisnya, tak dibiarkannya otaknya larut dalam kesedihan, dia harus bertahan demi Draco, demi kekasihnya. Dia tak peduli walau pekerjaan itu menguras tenaganya dan otaknya.
Malam ini dia pulang ke flatnya dengan tekad tak akan terpuruk dalam kesedihannya, dia percaya pada Draco, pemuda itu tak akan pernah meninggalkannya, karena itulah janjinya.
Betapa terkejutnya Harry saat membuka pintu dia melihat ayahnya sedang berdiri di depan perapian, "Dad?" sapanya tak percaya. Tak biasanya ayahnya datang di hari kerja bahkan malam hari, "Ada apa?" tanya Harry karena melihat sinar cemas di mata hitam ayahnya.
Severus menghela nafas lega, "Sukurlah kau sudah datang," jawabnya sambil menghampiri Harry.
"Ada apa Dad?" tanya Harry lagi, entah kenapa saat ini dia merasakan suatu perasaan tak enak di hatinya.
Severus mencekal lengan Harry, "Kita harus ke Manor sekarang," jawabnya cepat.
Dada Harry tercekat, "Ada sesuatu yang terjadi dengan Draco?" tanya Harry lagi.
Severus mengambil meraih tongkatnya lalu mengajak Harry ber-apparate tanpa mengucapkan satu kata pun.
.
#
.
Harry memandang kesekeliling manor yang megah itu, rasa rindunya nyaris tak tertahankan lagi. Severus membuka pintu besar itu dengan kuat lalu melangkah ke dalam tanpa mengucapkan permisi. Harry tahu berarti ayahnya sedang di tunggu oleh tuan rumah.
Harry mengikuti langkah ayahnya yang tergesa, jantungnya semakin berdetak tak menentu karena dia tak melihat seorangpun di manor yang sebesar ini.
Severus membuka pintu perpustakaan, dada Harry semakin berdenyut keras saat dilihatnya Lucius Malfoy duduk membungkukkan punggungnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia mendongak saat didengarnya ada yang membuka pintu, "Sev," sapanya lemah.
Harry tercekat melihat mata abu-abu yang mirip mata kekasihnya itu bersinar redup, tak ada sorot keras dan dingin disana seakan telah kehilangan kekuatannya. Harry mengepalkan kedua tangannya, 'Apa yang terjadi?', tanyanya dalam hati.
"Bagaimana?" tanya Severus datar.
Lucius berdiri dan menatap Harry, tak ada kemarahan dan kebencian disana. Harry melihat mata abu-abu itu menyorotkan sesal yang dalam, lebih dalam dibanding terakhir mereka bertemu. "Aku tak sanggup, Sev, aku menyerah. Segala cara ku coba tapi tetap tak bisa," desah Lucius pada Severus.
"Dimana Draco?" tanya Harry memberanikan diri.
Lucius kembali menatapnya, "Di kamarnya."
Tanpa meminta persetujuan Harry langsung berlari ke kamar Draco yang begitu dia hapal letaknya. Dadanya berdegup kencang, entah senang entah khawatir, yang dia tahu kalau sebentar lagi dia akan bertemu Draco, bertemu kekasihnya.
Dengan keras dia membuka pintu kayu itu, "Draco," panggilnya. Tubuhnya terpaku saat melihat Narcissa duduk di samping tempat tidur Draco. Wanita itu menangis, tampak sinar terkejut di mata birunya.
"Harry," sapanya sambil terisak, lalu wanita itu berdiri dan berlari untuk memeluk Harry. Tubuhnya berguncang hebat. Harry semakin bingung, "Apa yang terjadi aunt Cissy?" tanya Harry karena dia melihat Draco berbaring kaku di tempat tidurnya.
Harry melepaskan tubuh wanita cantik itu dan perlahan mendekati tempat tidur Draco, "Draco," panggilnya pelan. Harry tercekat, mata abu-abu itu terbuka tapi tak ada sinar kehidupan disana, matanya menyorot kosong, "Draco," panggilnya lagi. Dengan pelan dia duduk di samping pemuda itu dan menggengam tangannya, dingin, tangan pucat itu terasa dingin, begitu dingin. "Draco, ini aku," bisik Harry lagi. Dadanya berdebar kencang karena pemuda itu sama sekali tak bereaksi.
"Apa yang terjadi?" tanya Harry pada Narcissa yang masih menangis di sampingnya.
"Jiwanya hilang, Harry," jawab Severus yang telah berdiri di depan pintu bersama Lucius.
Harry menggeleng tak percaya pada pendengarannya, "Apa maksudmu dengan jiwanya hilang, Dad?" tanya Harry masih sambil menggengam tangan dingin Draco.
Lucius duduk di sofa di depan Harry, matanya memandang lurus pada mata hijau Harry, "Ini salahku," desisnya. Pandangan Lucius menerawang, lalu dia mulai menceritakan kejadiannya.
"Sejak aku membawanya dari flatmu dan melepaskan mantraku yang mengikatnya dia terus tak sadarkan diri," jelas pria itu. "Pandangannya kosong dan tak ada reaksi sama sekali dari tubuhnya. Berbagai cara telah ku coba, tapi tetap saja dia seperti itu. saat ini kondisinya semakin melemah, aku bisa tahu itu dari denyut nadi dan jantungnya."
Dada Harry terasa sakit, dia semakin mengeratkan genggamannya pada tangan Draco, "Lalu?" tanya Harry lagi.
"Seharian ini aku mencoba melakukan Legilimency padanya, aku terus berusaha memasuki pikirannya, tapi tak bisa. Dia Occlumency yang sangat handal, dia menolak pikiranku dengan keras keluar dari tubuhnya," jawab pria berambut pirang itu lagi, "Dia menyembunyikan jiwa dan pikirannya begitu dalam, dia tak ingin ditemukan oleh siapapun."
Severus memegang bahu Harry, "Minggirlah, Son, biar aku yang mencoba kali ini," kata mantan guru ramuan itu.
Dengan enggan Harry melepaskan tangan kekasihnya, dadanya berdebar semakin kencang. Dengan penuh harap dia bergantung pada kemampuan ayahnya yang hebat dalam hal Legillimens dan Occlumens. Harry berdiri tak jauh dari Narcissa yang masih terisak.
Severus mengacungkan tongkatnya pada kening Draco, "Legillimens," desisnya merapalkan sebuah mantra.
Harry bisa melihat tubuh ayahnya menegang, tapi tak lama kemudian mereka di kejutkan oleh tubuh Severus yang terlontar ke belakang dan menabrak tembok putih yang keras.
"DAD..." seru Harry sambil menghampiri ayahnya, "Apa yang terjadi?" tanya Harry sambil membantu pria berambut hitam itu berdiri.
Severus menggeleng sambil mengibaskan jubahnya, dia kembali mendekat dan mencoba lagi apa yang telah dicobanya barusan. Tapi lagi-lagi gagal, tubuhnya kembali terlontar ke dinding, terus seperti itu sampai tiga kali mencoba. Harry melihat wajah ayahnya berubah pucat dan terlihat kelelahan.
"Dia menolak kehadiranku, Harry. Aku tak melihat jiwanya, semua terlihat gelap dan kosong," jawab Severus.
Harry mengangguk mengerti, dia mendekati tubuh Draco, "Kali ini biarkan aku yang mencoba, Dad," kata Harry.
Severus terkejut, "Tapi kemampuan legilimency mu tak sebanding dengan kemampuan Occlumency Draco, Son."
Harry mengepalkan tangnnya, "Akan ku coba," jawabnya mantap. Dengan membulatkan tekadnya Harry mengacungkan tongkatnya di kening Draco, "Legilimens," bisiknya, saat itu juga dia merasa jiwanya terlontar masuk ke dalam pikiran Draco. Gelap, dia tak mungkin mengucapkan 'Lumos' karena dia berada dalam pikiran orang lain. Mencoba membiasakan diri dalam gelap dia bergerak maju, langkahnya tertatih, sama sekali tak ada cahaya, gelap dan lembab.
Sebuah cahaya kecil muncul dari sudut penglihatannya, Harry menoleh dan dia tercekat melihat sosok kekasihnya berdiri disana. Tiba-tiba jiwanya seperti ditarik keluar lalu dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Barulah Harry sadar kalau dia mengalami hal yang sama seperti ayahnya, tubuhnya terlontar membentur tembok.
"Harry..." kata Severus cemas sambil mendekati putranya dan membantunya berdiri.
Harry memandang wajah Draco, pandangan matanya masih kosong. Tapi tadi dia melihat Draco di dalam sana, mata abu-abunya menyorot penuh luka dan sedih. Perlahan dia menghampiri tubuh kekasihnya, digenggamnya tangan yang dingin itu, "Ini aku, Draco. Biarkan aku menemuimu, aku begitu merindukanmu," bisik Harry di telinga Draco. dengan lembut di kecupnya tangan Draco yang semakin terasa dingin.
Setelah itu Harry mengacungkan tongkatnya sekali lagi pada kening Draco.
"Harry, jangan memaksakan dirimu," desis Lucius.
Harry menoleh pada pria yang tampak lelah itu, "Aku telah bertemu dengannya, Uncle," kata Harry sambil tersenyum.
Lucius tak menjawab, begitu pun dengan Severus dan Narcissa. Ketiga orang dewasa itu tercekat melihat sorot tajam di mata hijau Harry, mereka melihat keyakinan di mata itu, keyakinan kalau dia akan dapat membawa kekasihnya kembali padanya lagi. sorot mata yang penuh dengan rasa cinta yang begitu kuat.
"Aku akan membantumu," kata Severus sambil meletakkan tongkat sihirnya di bahu Harry.
Harry tersenyum, dia merasakan aliran hangat di bahunya, "Thanks, Dad," katanya, lalu dia menatap mata kosong kekasihnya, "legilimens," bisiknya lagi. sekali lagi jiwanya terlontar masuk ke dalam pikiran Draco. Sama seperti tadi, tampak begitu gelap dan kosong, dia sama sekali tak melihat satu pun pikiran Draco. 'Kenapa kau sembunyikan semua pikiran dan jiwamu, Draco?', tanya Harry dalam hati.
Perlahan dia bergerak maju, dia hanya mengikuti instingnya saja berjalan dalam gelap yang begitu pekat. Naik, turun, berbelok, semuanya di lakukan Harry, dia nyaris putus asa karena dia merasa lorong gelap ini tak berujung.
Langkahnya tertatih-tatih, dan akhirnya dia melihat ada samar cahaya di ujung sana. Dia melangkahkan kakinya dengan lebihh cepat, cahaya itu semakin terang dan terang sampai akhirnya terasa begitu menyilaukan. Diujung cahaya itu dia melihat sosok yang begitu dirindukannya, berdiri membelakanginya. Sekuat tenaga dia mengumpulkan kekuatannya untuk berbicara, "Draco," panggilnya.
Sosok itu berbalik dan memandangnya, "Harry," katanya lemah, sorot mata itu masih tampak sedih dan terluka, ada sedikit rasa takut disana.
Harry tersenyum, "Kenapa kau bersembunyi begini dalam, Draco?" tanya Harry.
Draco menunduk, "Karena aku tak mau bertemu mereka," jawabnya pelan, "Aku muak dengan keadaan ini, aku ingin menghilang."
"Dan meninggalkanku sendiri?" tanya Harry lirih.
Draco mengangkat wajahnya, dia menggeleng, "Aku tak akan membiarkanmu sendiri, Harry, walau aku harus mati pun aku tak akan pernah meninggalkanmu," jawabnya.
"Apa kau pikir aku senang tak bisa memelukmu lagi?" tanya Harry lagi.
Mata abu-abu Draco menatapnya dengan tajam, "Kita kembali, Draco?" ajak Harry sambil mengulurkan tangannya.
Draco tampak ragu, "Aku lelah, Harry," bisiknya.
"Aku bersamamu, Draco, akan selalu bersamamu. Tepati janjimu padaku," jawab Harry, "Aku mencintaimu, love."
Sorot abu-abu itu menghangat, senyum samar terukir di bibirnya, perlahan dia pun menyambut uluran tangan Harry. Setelah itu seperti ada yang menarik jiwa mereka, tidak terasa kasar, justru terasa lembut.
Harry membuka matanya, kepalanya terasa pusing dan dia pun terhuyung, "Harry," seru Severus sambil menopang tubuh putranya itu. Dia membawa Harry menjauh dari tempat tidur dan mendudukkannya di sofa di dekat jendela kamar itu.
"Draco…" seru Narcissa saat dilihatnya mata yang tadinya kosong itu menatapnya lemah. Wanita itu mendekati putranya dan memeluknya erat, dia menumpahkan tangisnya di dada Draco, rasa lega terpancar dar mata birunya. Begitu juga dengan Lucius, pria itu tak berkata apa-apa, tapi matanya menyorot hangat melihat kehadiran putranya yang telah kembali.
Harry berdiri dan perlahan mendekati pemuda yang telah mengikat hatinya tersebut, dia tersenyum pada Draco yang memandangnya denngan hangat.
Narcissa memberi tempat agar Harry bisa duduk di dekat putranya, wanita itu sangat terharu melihat bagaimana lembutnya cara Harry menggenggam tangan Draco. Dia juga tercekat melihat cara Draco menatap Harry, tak pernah dia melihat pandangan yang penuh cinta itu dari mata putranya selama ini. Pandangan yang hangat dan lembut, sinar kehidupan begitu kuat terlihat dari mata abu-abu itu.
Harry mencium tangan Draco yang mulai menghangat, dia merasa begitu lega melihat kekasihnya telah kembali, "Jangan pernah meninggalkanku lagi, Draco, berjanjilah," bisik Harry.
Draco tersenyum, dia mengangguk pelan sambil mengeratkan genggaman tangan Harry.
Merasa begitu lelah Harry pun jatuh tersungkur di dada kekasihnya. Legilimens yang begitu dalam membuat tenaganya terkuras.
Severus mengangkat tubuh Harry tapi tangannya ditahan oleh Draco, "Biarkan dia tidur disini, Sev," pinta pemuda itu lemah.
Severus memandang Lucius dan membaringkan Harry disamping Draco setelah sahabatnya itu menganggukkan kepalanya.
Ketiga orang dewasa itu meninggalkan dua pemuda yang tampak lemah itu, tapi mereka tahu kalau keduanya baru saja menemukan hidup mereka kembali. Tangan Draco yang terus menggenggam tangan Harry adalah tanda kalau mereka tak ingin dipisahkan lagi, tidak oleh Lucius ataupun oleh maut.
Masih bersambung dikit nih…
A/N.
Wah kurang dikit lagi tamat nih, chap depan kayanya last chapter deh, sedihnya
Sampe chap 13 ini apakah aku sudah menyuguhkan cerita yang memuaskan untuk kalian? Maaf kalau masih mengecewakan, aku selalu berusaha dan berusaha agar bisa lebih baik lagi.
Aicchan sist, makasih ya lu sabar banget dengerin cerewetnya gw XD. Buat Ness, makasih karena kau selalu jujur dalam mengomentari fic ku, walau terkadang perih tapi aku tahu itu benar, hik… aku tak bisa berbohong padamu *hug*
Buat Ritsu-ku, tumben ripiumu ngomel2 gitu?, Cissy (dibilangin jangan marah2 juga, ntar Lucius ku ambil lho), Chelly, White Phoenix, Mizuki, Ayu, Len (salam buat teman2 ya), Vii, Animegirl, makasih banya ripiunya.
Buat Pearl Sky, bang Adam n Tooney Loons, terima kasih tak terhingga atas pembelaan dan dukungannya. Aku tak akan jatuh hanya karena seperti ini. Buat Sou juga yang dah ikutan marah2, hehe jangan ah.
Buat 'SOMEONE', maaf kalau fic ini tak sesuai dengan selera anda, aku menyadari fic ini maupun fic ku yang lainnya tak sempurna, jauh dari kata sempurna, tapi ini adalah usaha maksimalku. Mohon maaf kalau aku tak bisa memuaskan anda, dan terima kasih untuk kritiknya.
Buat Ambudaff, makasih ambu udah ijinin saya pake ide legilimens ambu di 'Love, The Power He Knows Not until Now'. Ambu is the best deh, I love you, mbu *hug*
So, Ripiu…?
