DILEMMA

CHAPTER 14

Disclaimer : JK. Rowling

Pair : Draco Malfoy / Harry Potter

Rating : M

Genre : Romance

Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon, GA SUKA GA USAH DI BACA YA.

.

#

.

Harry merasakan hangat menyelimuti tangannya, perlahan dia membuka mata hijaunya dan mengernyit saat cahaya matahari menerangi penglihatannya.

"Sudah bangun, tuan muda? Ini sudah siang sekali," bisik suara di sampingnya, dadanya bergetar mendengar suara yang begitu dirindukannya.

Sambil tersenyum Harry memandang mata abu-abu yang bersinar lembut itu, dia memejamkan matanya kembali saat Draco mengecup keningnya, "Lama sekali tidurmu? Katamu kau merindukanku?"

Harry bangkit dan duduk di atas kasur di samping Draco yang masih terbaring, "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya cemas.

Draco berusaha bangun tapi kepalanya masih terasa pusing dan lemas, tak heran karena hampir satu minggu tubuhnya kosong dan tak mendapatkan asupan makanan apapun. Hanya ramuan penguat raga saja yang diberikan Lucius selama dia tak sadar. Harry membantu menata tumpukan bantal di belakang punggung Draco agar pemuda itu bisa sedikit duduk.

"Bagaimana?" tanya Harry lagi.

Draco tersenyum dan mencium punggung tangan Harry, "Baik, hanya masih sedikit lemas," jawab Draco.

Harry terkekeh, "Kau sih, kenapa harus melakukan hal itu?" omelnya, "Bagaimana kalau aku tak bisa menemukanmu kemarin? Kita akan benar-benar… berpisah," bisik Harry lirih. Rasa takut kembali menjalari hatinya, rasa takut akan kehilangan Draco.

"Maafkan aku, aku tak tahu apa lagi yang harus aku lakukan untuk dapat selalu bersamamu," jawab Draco tak kalah lirihnya.

Harry sedikit merengut, "Tapi yang kau lakukan kemarin itu sungguh bodoh, Draco, kau tahu itu?"

Draco menyeringai lemah, "Maafkan aku, yang penting sekarang kan aku telah kembali dan ada bersamamu?"

"Tetap saja aku merasa kesal, kau mempertaruhkan semuanya, tahu? Hidupmu, hidupku, perasaan kita, semuanya," gerutu Harry.

Draco terkekeh, "Iya, maafkan aku, tak akan aku ulangi lagi, Harry, aku janji. Berhentilah mengomel, kau membuat kepalaku semakin pusing."

Harry pura-pura kesal, "Kalau kau lakukan itu lagi, Draco, aku tak akan pernah mencarimu lagi, aku tak peduli, kau tahu itu, AKU TAK PEDULI," ancam Harry dengan menekankan kata-katanya.

Draco kembali menyeringai, "Kau yakin?" tanyanya tak percaya, "Kalau begitu akan kulakukan lagi," katanya sambil memejamkan matanya.

Harry sedikit panik, dia tak tahu Draco serius atau bercanda, "Draco, hentikan, ini tak lucu. Awas kalau kau berani seperti itu lagi," ancamnya sambil mengguncang tubuh Draco.

Draco tertawa terbahak-bahak malihat wajah panik Harry, dia berusaha menghindar dari pukulan bantal yang bertubi-tubi. Sakit di kepalanya tak dirasa lagi, rasa bahagia yang sudah lama tak dirasakannya sudah cukup mengobati semua deritanya.

Draco menarik Harry dalam pelukannya, tawanya terhenti saat dia menatap mata hijau Harry yang begitu di pujanya, "Aku tak ingin lagi berpisah darimu, Harry, tidak sekarang ataupun nanti," bisiknya.

Harry tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada Draco, "Berjanjilah, kau tak tahu betapa takutnya aku kemarin. Draco."

"Maafkan aku," bisik Draco lagi, lalu bibir tipis itu mencium lembut bibir Harry, memerangkapnya dalam satu lumatan hangat yang mampu mengosongkan semua isi kepala. Mereka tak peduli dimana mereka sekarang, mereka juga tak peduli walau sepasang mata biru dan abu-abu melihat mereka dari celah pintu yang sedikit terbuka, yang mereka tahu saat ini mereka bersama dan akan seperti ini selamanya.

Draco memeluk Harry semakin erat, "Maafkan aku," bisiknya lagi, "Maafkan aku, Harry, maafkan aku."

Harry tersenyum di dada Draco, "Sudahlah, semua akan baik-baik saja," jawab Harry.

Draco melepaskan pelukannya hanya karena ingin menikmati mata hijau Harry, tapi genggaman tangannya tak juga lepas dari tautan jemari Harry, "Apa kau telah mengingat semua?" tanya Draco.

Harry mengangguk pelan, "Ya, Draco, aku telah mengingat semua."

Tampak sorot cemas di mata abu-abu itu, "Dan tentang kedua orang tuaku?" tanyanya pelan dan hati-hati.

Harry menunduk mencoba menenangkan hatinya, "Ya, juga soal itu," jawabnya.

"Dan kau tidak akan menuruti apa kata mereka, kan?" tanya Draco memastikan.

Harry menatap mata abu-abu itu, mata yang membuatnya mampu melakukan apa saja untuk mendapatkan tatapan hangatnya, mata yang mampu membuatnya bangkit dan terus berdiri di tengah deritanya.

Harry menggeleng, "Aku sudah katakan tadi, aku tak ingin kehilanganmu, Draco," jawab Harry.

Draco tersenyum lega, "Aku pun tak sanggup kehilanganmu, Harry," bisik Draco pelan. Mereka tak menyadari dua pasang mata dari balik pintu berlalu pergi dengan sorot mata lega dan juga bingung.

.

#

.

"Bagaimana menurutmu, sayang?" tanya Narcissa pada suaminya saat mereka sedang berbincang berdua di kamar.

Lucius memandang keluar jendela, "Entahlah," desahnya.

Narcissa menyentuh lembut lengan pria berambut pirang itu, "Tapi kau lihat sendiri kan bagaimana pengorbanan mereka berdua untuk bisa bersama?"

Lucius tetap memandang lurus ke luar jendela putih itu, entah kemana pandangannya ditujukan, "Aku tahu, Cissy, sangat tahu," jawabnya pelan.

Narcissa tersenyum dan menyandarkan kepalanya pada lengan yang kuat itu, "lalu sekarang apa yang kau pikirkan? Kelangsungan dinasti keluarga Malfoy atau kebahagiaan putra kita?" tanyanya lagi.

Lucius menarik nafas panjang, "Kau tahu bagaimana rasanya saat kemarin Draco tak sadarkan diri selama hampir satu minggu, dan kini aku begitu bersyukur dia selamat dan hidup," jawab Lucius sambil memeluk istrinya.

"Lalu?" tanya Narcissa sambil tersenyum dan memeluk suaminya lebih erat.

Lucius mengecup lembut rambut pirang istrinya, "Entahlah, kita lihat saja nanti," jawabnya.

"Kau tak akan berusaha memisahkan mereka lagi, kan?" tanya wanita bermata biru itu cemas.

Lucius hanya diam, dia memeluk istrinya dengan lebih erat.

.

#

.

"Mum, Dad, ijinkan aku tinggal bersama Harry mulai hari ini," kata Draco pada kedua orang tuanya saat dengan langkah tertatih dia mendatangi keduanya di ruang keluarga dengan bantuan Harry.

Lucius meletakkan surat kabarnya dan memandang istrinya meminta pendapat, "Tapi kondisimu masih lemah, Son," jawab Narcissa.

Draco menggeleng, "Aku tak apa-apa," bantahnya cepat.

Lucius menatap mata hijau Harry yang tampak bingung, dia menyadari perasaan Harry, pemuda itu pasti merasa tak enak hati berada dalam situasi seperti ini, "Pergilah," jawabnya, "Tapi aku minta kau bisa membuka jaringan Floo mu untuk kami, Harry."

"Ya," sambung Narcissa, "Ijinkan kami mengunjungi kalian setiap saat," katanya lagi.

Harry memandang Draco dan mengangguk pelan, "Baiklah," jawabnya. Lalu mereka berdua keluar dari manor dan ber-apparate menuju flat Harry.

.

#

.

Draco dan Harry begitu terkejut saat melihat semua temannya berdiri di depan pintu flat mereka, "Kalian sedang apa?" tanya Harry.

Semua tercekat melihat kondisi Draco yang tampak lemah dan pucat, Blaise menghampiri mereka lebih dulu dan membantu Harry memapah Draco, "kau baik-baik saja, Draco?" tanyanya cemas.

Draco mengangguk, "Tak pernah lebih baik dari ini, Blaise," jawabnya pelan. Pemuda berambut pirang itu terkekeh saat pansy dan Hermione bergantian memeluknya, "Kami mengkhawatirkanmu," kata mereka dengan mata berkaca-kaca oleh air mata.

"Dasar cengeng, jangan menangis, aku baik-baik saja," jawab Draco lembut pada dua sahabat perempuannya itu.

Lalu Theo, Ron dan George bergantian menyapa Draco sebelum Harry membuka pintu flatnya dan menyuruh semuanya masuk ke dalam.

.

.

"Apa yang terjadi?" tanya George setelah mereka berkumpul di kamar Harry dan membiarkan Draco membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Harry tertawa pelan, dia duduk di samping Draco, "Tuan muda ini melakukan sesuatu yang teramat sangat bodoh," jawab Harry yang langsung meringis melihat tatapan tajam kekasihnya itu. Lalu dia menceritakan semua yang terjadi dengan detail.

Bukan tanggapan haru ataupun prihatin yang didapat mereka dari semuanya melainkan tawa terbahak yang membahana di dalam kamar itu.

"Ada yang lucu?" tanya Draco kesal.

"Ya, Draco, kau yang lucu," jawab Theo masih dengan tertawa, "Bisa-bisanya kau melakukan itu?"

Draco menatap tajam pada sahabatnya itu, "Kau mungkin akan melakukan hal yang sama kalau kau dan Blaise berada di posisi kami," gerutu Draco.

"Sudahlah, Theo, jangan menggoda mereka," tengah Blaise, "Dan kau, Draco, aku tak akan meninggalkan Theo apapun yang terjadi," tegas pemuda berkulit gelap itu sambil memandang lurus mata Theo yang otomatis membuat wajah pemuda itu memerah dan menjadi bahan tertawaan baru untuk teman-temannya, dan Draco puas karena Blaise telah membantunya membalas sahabatnya yang agak sedikit usil itu.

"Lalu bagaimana? Apakah semua tak ada masalah lagi? Maksudku… mmh orang tuamu, Draco?' tanya Hermione cemas.

Draco dan Harry saling berpandangan, "Mereka belum memberikan jawaban pasti, hanya saja mereka telah mengijinkan Draco tinggal disini bersamaku," jawab Harry pelan. Hatinya kembali galau, Lucius memang memberi ijin mereka bersama tetapi apakah itu sudah menjadi jawaban positif dari ayah kekasihnya itu? Sedangkan tadi sorot mata pria setengah baya itu juga masih terlihat bingung dan lelah. Dan jujur saja Harry begitu membenci kondisi seperti ini dimana semua masih mengambang dan tak pasti

Dia tersentak saat Draco menggenggam tangannya dan menatapnya tajam, Harry bisa membaca arti tatapan itu, Draco seakan menguatkannya dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja.

"Kuharap masalah kalian cepat selesai," kata George yang diikuti anggukan kepala semuanya.

"Ah… aku lupa memberitahu, malam natal nanti aku dan Pansy akan melangsungkan pertunangan kami di the Burrow, dan ini undangan wajib untuk kalian," kata George mencairkan suasana. Rencana pertunangan mereka musim panas kemarin memang diundur karena mereka juga ikut memikirkan perasaan Harry dan Draco yang sedang tak bahagia, tapi sepertinya kali ini mereka telah memutuskan dengan matang.

Harry tersenyum, "Selamat untuk kalian," serunya dan disambut seruan selamat yang sama dari teman-teman mereka.

Dalam hati terbersit rasa iri, tapi entah kenapa Draco merasa kalau mereka juga akan baik-baik saja, entahlah.

.

#

.

"Tidurlah, ini sudah larut malam," kata Harry pada Draco saat flat mereka telah sepi kembali.

Draco menatap mata hijau Harry yang bersinar cemas, "Aku tahu apa yang kau pikirkan, dan aku tak suka itu," tuding Draco.

Harry mendekati Draco dan berbaring di sisinya, kepalanya disandarkan dengan lembut di pundak kekasihnya, "Aku tak memikirkan apa-apa, percayalah," bisiknya, dia tak mau membuat Draco cemas.

Draco menggengam tangan Harry, "Asal kau tahu, aku tak peduli lagi pada apapun, saat ini dan seterusnya aku hanya ingin bersamamu," jawabnya sambil mencium rambut hitam Harry yang berantakan.

Harry tersenyum walau hatinya sedikit miris mendengar kata-kata itu, dari awal mereka selalu ingin bersama tapi tak ada yang tahu kemana arah garis nasib membawa mereka sampai mereka berdua menjadi begini menderita. Dan kini disaat Draco telah bersamanya Harry masih saja merasa takut, takut jika nasib belum puas mempermainkan mereka.

"Aku tahu, Draco, aku tahu. Sekarang tidurlah," bisik Harry sambil memeluk pinggang ramping pemuda berambut pirang itu. Dia hanya bisa berharap dalam hati semoga waktu berhenti sampai disini saja dan membuatnya terlepas dari pikiran pengecutnya akan apa yang harus dia hadapi esok hari, dimana semua bisa terjadi.

Draco menghela nafas panjang, walau saat ini dia memeluk Harry tapi entah kenapa dia tak juga bisa memejamkan mata, rasa cemas yang terpancar dari mata emerald kekasihnya membuatnya terjaga. Dia takut Harry kembali menghilang dari sisinya.

.

#

.

Draco membuka matanya, entah baru berapa jam dia tertidur, rasanya belum lama. Dia tersenyum pada Harry yang baru masuk ke kemar mereka sambil membawa sebuah gelas merah ditangannya.

"Itu milikmu," kata Draco sambil beranjak duduk dari tidurnya

Harry terkekeh, "Tidak, sudah sejak lama kau menggunakan gelas ini, sedangkan yang hijau itu sudah menjadi milikku," jawab Harry sambil mengulurkan gelas berisi cokelat panas itu pada Draco.

"Kau akan berangkat kerja?" tanya Draco pada Harry setelah dia menerima gelas merah itu dan meneguk isinya perlahan.

Harry duduk di samping Draco, "Ya, aku tak mungkin membolos kerja. Untung saja dua hari kemarin adalah akhir pekan," jawabnya.

Draco meletakkan gelasnya di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, "Aku juga bosan di rumah terus, apa sebaiknya aku juga berangkat saja?"

Harry menggeleng, "Jangan dulu, masa cuti yang diajukan uncle Lucius masih tersisa dua hari, kau bisa gunakan itu untuk memulihkan tubuhmu," larang Harry.

Draco mendesah, walau merasa begitu bosan karena tak ada yang dikerjakan tapi kata-kata Harry benar, dia masih merasa sedikit lemas.

"Sebentar lagi Dad akan datang untuk memeriksamu," kata Harry.

Draco menggangguk, "Tapi kau akan langsung pulang kan?" tanyanya.

Harry tertawa pelan sambil mengecup bibir Draco dan menyandarkan kepalanya di dada yang hangat itu, "Kata-katamu membuatku merinding, Draco," katanya disela-sela tawanya.

Draco ikut terkekeh, dibelainya lembut rambut hitam Harry yang masih setengah basah itu, "Pergilah, bisa-bisa aku akan membuatmu terlambat kalau kau terus begini," goda Draco.

Harry berdiri dan membenahi jubahnya yang sedikit kusut, mata hijaunya memandang Draco dengan lekat seakan dia tak mau pergi dari ruangan itu.

Draco mengerti, rasa cemas kembali membayang di mata hijau itu, "Aku akan menunggumu," katanya sambil tersenyum.

Harry membalas senyum itu dengan anggukan, "Sampai nanti," pamitnya sambil berlalu dari kamar mereka.

.

#

.

Di kantor pun pikiran Harry tak lepas dari Draco, ada rasa cemas di hatinya yang dirasakannya begitu kuat, dia takut kalau saat dia pulang nanti Draco sudah tak ada lagi di flatnya. Dia takut dia tak bisa lagi menemukan dimana kekasihnya berada. Dia takut kenyataan yang lebih buruk menantinya saat sore tiba.

"Kau kenapa?" tanya Ron yang sudah duduk di depannya.

Harry terkejut, "Tidak, aku tak apa-apa," elaknya.

Ron berdecak kesal, "Apa lagi yang kau khawatirkan? Kau sudah bersama dengan Draco kan?"

Harry berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu, "Sudah kukatakan aku tak memikirkan apa-apa, mate," jawab Harry sambil melangkah keluar.

"Dasar keras kepala," gerutu Ron setelah pintu kantor tertutup.

.

.

Dengan malas Harry melangkah menuju ke suatu tempat yang sepi, pilihannya jatuh pada bar tempat dulu dia terjerumus dalam firewhiskey yang membuatnya celaka. Saat malam tempat itu begitu ramai, tapi di siang hari tempat itu hanya seperti sebuah kedai biasa yang sering disinggahi orang untuk makan siang.

Harry memesan satu gelas butterbeer dan satu makanan ringan yang tidak terlalu mengenyangkannya. Meja kayu dengan dua kursi di sudut ruangan menjadi pilihannya untuk duduk. Pikirannya kembali mengembara jauh.

Dia mencintai Draco, begitu mencintai pemuda itu jauh melebihi dirinya sendiri, hanya saja dia juga tak ingin menyakiti Lucius dan Narcissa yang sudah begitu baik padanya. Seumur hidup dia tak memiliki orang tua, bahkan ayah baptis pun hanya dimilikinya selama setahun dan itu tak utuh, tapi pelukan hangat Narcissa telah membuatnya merasakan kasih sayang seorang ibu yang tak pernah didapatnya. Tepukan lembut di punggung dan di bahunya yang sering dilakukan Lucius pun selalu menguatkannya, seakan ayahnya lah yang melakukan itu. Dan kini haruskah dia bersikap egois dengan tak membalas kasih sayang mereka? Haruskah dia memutus garis keturunan dari keluarga orang-orang yang disayanginya? Apakah bersama Draco adalah keputusan yang benar dan akan membuat semua orang berbahagia?

Harry meneguk butterbeer-nya dengan gelisah, "Aku tak boleh membuat Draco cemas. Apa sebenarnya yang kupikirkan?" gumamnya.

Dengan kesal dia berdiri dan meninggalkan kedai itu, dia kesal pada dirinya sendiri yang selalu bingung dan sulit mengambil keputusan, "Apakah aku begitu lemah?" gerutunya.

.

#

.

Dengan berdebar dibukanya pelan pintu flatnya, dan dadanya merasa begitu lega melihat Draco duduk di depan perapian dengan surat kabar melebar di tangannya.

"Kau sudah pulang?" sapa Draco setelah melihat siapa yang datang.

Berusaha menyembunyikan kecemasannya Harry pun tersenyum dan menghampiri pemuda itu. Dilemparnya jubahnya ke lantai yang beralas karpet lalu dengan pelan dia duduk merapat pada Draco, "kau sudah makan?" tanyanya.

Draco mencium lembut bibir merah Harry dan tersenyum merasakan getaran tubuh kekasihnya itu, "Tentu saja belum, aku menunggumu," jawab Draco.

Harry merapatkan pelukannya, dia ingin merasakan lebih banyak lagi kehangatan dari pemuda yang sangat dicintainya itu, dia ingin membuang semua rasa takut dan cemas saat berada bersama Draco..

Draco melepaskan dasi dan dua kancing teratas kemeja Harry lalu mengusap kulit tubuhnya yang terekspose jelas, dia tersenyum saat Harry mendesah dan memejamkan matanya, "Kau lelah?" tanyanya.

Harry menggeleng, "Tidak," jawabnya singkat.

Draco mendongakkan wajah Harry dan meingecup bibirnya dengan lembut, "Aku merindukanmu," bisiknya.

Harry terkekeh, "Sudah mulai bisa merayu lagi, Mr. Malfoy?" jawab Harry sambil menatap mata abu-abu Draco.

Draco tertawa, "Jangan protes, selalu seperti ini saat aku bersamamu," bisiknya lagi di telinga Harry, lalu perlahan dia mencium leher samping pemuda berambut hitam itu. Dan dia terkejut saat Harry melingkarkan lengannya di lehernya lalu mencium bibirnya dengan begitu kuat, tak biasanya Harry berbuat begini, dia selalu lembut dan hangat. Tapi Draco membiarkan saja, dia membalas ciuman Harry dengan tak kalah posesifnya.

Dengan tak sabar dia merebahkan tubuh Harry di sofa dan menindihnya, Draco terus menyerang pemuda itu dengan ciuman-ciuman panasnya.

Harry mengerang saat bibir Draco membelai lehernya dan meninggalkan rasa panas pada tempat yang disinggahinya. Dia bisa merasakan ciuman Draco terus turun menuju dadanya dan tubuhnya tersentak saat Draco menemukan satu titik sensitif disana. Tangannya mencengkeram pundak Draco dengan keras, tubuhnya nyaris tak tahan membendung gairah yang terus menerpanya.

Tiba-tiba kejadian di menara astronomi dulu kembali menyeruak ke dalam otaknya, kejadian yang menjadi awal mula hubungan buruknya dengan Draco, lalu menjadi dekat dan bersama, lalu terpisah dan tersakiti. Tubuhnya kembali gemetar, tapi kali ini bukan karena gairah, kali ini rasa takutlah yang mendominasi pikirannya. Rasa cemas kembali menggulungnya dan siap menjatuhkannya ke jurang terdalam.

"Draco…" seru Harry.

Draco menyangka kalau Harry memanggil namanya karena bergairah, maka itu dia terus saja menyerang tubuh Harry dengan ciuman-ciumannya.

"Draco… Stop it, please," seru Harry lagi, kali ini tangannya ikut mendorong bahu Draco dengan kuat.

Draco tersentak, dia menegakkan tubuhnya dan tercekat melihat mata hijau Harry yang terbelalak, ada rasa takut yang besar disana, dan ujung matanya yang basah oleh aliran air mata.

Perlahan dia menarik tubuh Harry agar duduk dan memeluknya dengan erat, "Maafkan aku," bisik Draco.

Harry menggeleng, "Tidak, Draco, ini salahku, maafkan aku," jawab Harry parau.

"Apa aku kembali membuatmu takut?" tanya Draco.

Harry menggeleng, "Tidak, tidak begitu, aku hanya teringat semua kejadian tentang kita dan aku takut," jawab Harry.

Draco mendesah, ada sedikit rasa sakit di dadanya karena ternyata Harry belum sepenuhnya percaya padanya. Dia mencoba bersabar dan menyadari kalau semua ini awalnya juga karena kesalahannya, kesalahan yang membuat Harry begitu terluka dan terus membekas.

Mereka terkejut saat perapian menyala hijau, Harry langsung membenahi pakaiannya yang kusut dengan tongkatnya. Lucius dan Narcissa muncul dari dalam perapian.

"Selamat malam, uncle, aunt Cissy," sapa Harry formal sambil berdiri menyambut mereka. Di tercekat saat Narcissa memeluknya dengan hangat, "Bagaimana kabarmu, Son?" tanyanya.

Harry mengangguk dan tersenyum samar, "Baik, terima kasih," jawab Harry. Rasa bersalah kembali muncul di hatinya, bagaimana mungkin dia tega mengkhianati kasih sayang sebesar ini? Dan semakin merasa bersalah saat Lucius menepuk lembut bahunya, "Kau baru pulang?" tanyanya melihat Harry yang masih memakai kemeja kerjanya.

"Yes, uncle, baru saja sampai," jawab Harry. Lalu dia pamit untuk mandi dan berganti pakaian, dia merasa tak nyaman berada bersama kedua orang yang sudah dianggap sebagai orang tuanya sendiri itu, rasa bersalah terus menghantuinya.

Sebelum dia menutup pintu kamar mansi dia melihat betapa Lucius dan Narcissa mencemaskan keadaan Draco, putra tunggal mereka, pewaris nama besar keluarga Malfoy.

Harry merasakan suatu lubang gelap di hatinya bersamaan dengan tertutupnya pintu kayu di belakangnya.

.

.

"Kenapa kau jadi lebih diam?" tanya Draco saat mereka menyantap makan malam yang tadi dibawakan oleh Narcissa.

Harry mencoba tersenyum walaupun terlihat aneh, "Tidak," jawabnya singkat tanpa melihat kepada Draco.

"Kau lelah?" tanya Draco lagi.

Harry tetap tak mau memandang mata Draco, "Mungkin, sedikit," jawabnya lagi.

Draco berusaha menahan kekesalannya, dia tahu kalau Harry sedang memikirkan sesuatu yang menyangkut masa lalu, atau tentang hubungan mereka, bisa juga tentang kedua orang tuanya. Dia tak suka melihat sinar cemas terus membayangi mata emerald itu.

"Mau berbincang di teras?" tawar Draco setelah selesai makan malam, dia berharap bisa mengembalikan mood Harry yang mendadak berubah itu.

Harry mengeleng, "Aku mau tidur saja, besok harus berangkat pagi," jawabnya. Dia terkejut saat Draco mencekal lengannya.

"Lihat aku, Harry," desis Draco dingin.

Harry tercekat, sudah lama dia tak mendengar nada seperti itu dari bibir Draco, "Draco? kenapa?" tanyanya tak mengerti.

"Apa yang kau pikirkan?" tanya Draco tajam.

Harry menggeleng cepat, matanya berusaha melihat ke arah lain, "Aku tak memikirkan apa-apa, Draco," jawabnya.

Draco mendengus, "Matamu tak bisa berbohong, Harry."

Harry menepis tangan Draco yang mencekalnya, "Sudah kukatakan kalau aku tak memikirkan apa-apa. Apa lagi yang harus aku pikirkan? Kau sudah ada disini bersamaku," jawabnya sambil meninggalkan Draco masuk menuju kamar mereka.

Tak ingin terus bertengkar Draco pun mencoba mengalah, dia mengikuti Harry dan memeluk pemuda itu dari belakang, "Maafkan aku," bisik Draco.

Dada Harry berdebar kencang, dia bisa merasakan cinta Draco yang meluap untuknya dan kini dia justru ragu akan keputusan yang diambilnya. Harry merasa tak seharusnya dia membuat Draco bersedih. "Maafkan aku," bisik Harry juga dengan suara bergetar.

.

#

.

Harry melangkah gontai menyusuri koridor kementrian, kata maaf yang terucap tadi malam belum mampu membuatnya merasa lega. Beribu pikiran terus berkecamuk di dalam otaknya.

"Harry," panggil seseorang dari belakangnya.

Harry menoleh dan tercekat melihat Lucius malfoy menghampirinya, "Yes, uncle?" jawab Harry sopan.

Lucius memandang mata emerald Harry, dia mengernyit melihat mata yang tak bersinar seperti biasanya itu, "Ada sesuatu?" tanyanya datar.

Harry mengerjap bingung, "Tidak, uncle," jawabnya.

Lucius mengernyit tak percaya, lalu dia mendesah dan mencoba tak mempedulikan sorot mata yang biasanya bersinar hangat itu, "Bagaimana keadaan Draco hari ini?" tanyanya.

Harry mencoba mengingat kata-kata Severus tadi pagi saat memeriksa kondisi Draco, "Dia baik-baik saja, bahkan Dad bilang kondisinya sudah kembali kuat. Hanya saja ini hari terakhir cutinya jadi Dad minta dia untuk tetap dirumah saja agar kondisinya lebih maksimal," jawabnya.

Lucius mengangguk mengerti, "Baguslah, Cissy akan lega mendengar ini," kata Lucius sambil berlalu, dan seperti biasa dia selalu meninggalkan tepukan lembut di bahu Harry.

Harry terpaku ditempatnya berdiri, sekali lagi rasa bimbang muncul di benaknya.

Dia meneruskan langkahnya menuju suatu taman kecil di ujung jalan, dia duduk diatas rumput sambil memperhatikan sekelilingnya. Tak banyak tugas auror akhir-akhir ini yang membuatnya lebih sering menghabiskan waktu untuk sekedar patroli biasa saja. Matanya tertumbuk pada satu keluarga kecil yang duduk tak jauh darinya.

Dia melihat bagaimana kedua orang tua itu memeluk dua anak mereka dengan begitu hangat. Ada canda dan tawa meluncur dari bibir mereka yang merekah oleh senyuman, tampak begitu bahagia. Dia melihat sinar harapan begitu kuat memancar dari mata kedua orang tua anak-anak itu, mereka berharap yang terbaik dari kedua anaknya.

'Uncle Lucius dan Aunt Cissy pun pasti berharap banyak pada Draco, apalagi dia adalah anak tunggal. Haruskah aku memutus harapan yang telah mereka tanam sejak Draco lahir? Haruskah aku menjadi benalu dalam keluarga mereka? Andai Mum dan Dad masih hidup pun mereka pasti berharap banyak padaku, sanggupkah aku mengecewakan mereka? Haruskah aku meninggalakn Draco? Apa yang harus aku lakukan? Mungkin aku jauh lebih beruntung dari Draco karena aku hidup dengan caraku sendiri, tak ada yang mengatur hidupku, semua bergantung dari tanganku sendiri. Sedangkan Draco? dia masih memiliki keluarga, dia memiliki kewajiban untuk kelangsungan hidup keluarganya', perang batin Harry.

"Sial… sial… apa yang harus kulakukan?" rutuknya pelan sambil meremas rambutnya dengan kencang. 'Aunt Cissy dan Uncle Lucius begitu menyayangiku, tak mungkin mereka akan menyakitiku. Permintaan yang mereka ajukan saat itu agar aku berpisah dengan Draco pasti mereka lakukan dengan berat hati. Tak mungkin mereka melakukan itu kalau tak terpaksa, mereka pasti juga merasakan sakit yang kurasakan', batinnya.

"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku, aku begitu menyayangi kalian, maafkan aku," rintih Harry pelan, dia menenggelamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Hatinya terasa sakit mendengar tawa bahagia dari keluarga kecil didekatnya itu.

.

#

.

"Hai, kau sudah pulang?" sapa Draco yang muncul dari dapur saat mendengar pintu flat terbuka.

Harry tersenyum samar, "Kau sedang apa?" tanyanya.

Draco mengelap tangannya dengan serbet putih, "Makan malam, kau harus mencicipi masakanku kali ini," jawab Draco bangga.

Hati Harry serasa teriris melihat senyum Draco yang begitu hangat itu, "Thanks," jawabnya.

Draco menghampiri Harry yang tampak lesu itu, "Kau kenapa? Sakit?" tanyanya cemas sambil mengulurkan tangan hendak memeluk Harry.

Tanpa sadar Harry menghindari uluran tangan Draco dengan spontan dan itu membuat keduanya terkejut, "Maaf," kata Harry menyesal.

Draco mengusap wajahnya dengan kesal, "Lalu? Apa lagi sekarang, Harry? Masalah apa lagi yang muncul ditengah-tengah kita?" tanyanya sambil berkacak pinggang.

"Masalah? Masalah apa, Draco?" tanya Harry tak mengerti.

"Cukup, kita harus membicarakan ini. Aku bosan melihat wajahmu yang terus seperti itu sejak kita pergi dari Manor. Ada apa?" paksa Draco.

Harry melepaskan jubahnya dan menghempaskan tubuhnya di sofa, "Tak ada apa-apa," jawabnya bersikeras.

"Kau masih meragukanku, Harry?" tanya Draco.

Harry menatap mata abu-abu Draco seakan tak percaya, "Kau gila? Aku tak pernah merasa begitu," jawabnya.

"Lalu?" kejar Draco.

Harry mendesah, dia harus mengatakan yang sejujurnya pada pemuda itu tentang kegalauan hatinya. "Tadi aku bertemu uncle Lucius," katanya.

"Dia menyakitimu lagi?" tanya Draco sedikit panik.

Harry berdiri menghadap Draco, "Kenapa kau tuduh ayahmu seperti itu?" tanya Harry tajam.

Draco mengernyit bingung, "Karena dia memang selalu seperti itu."

"Berhenti menyebutnya 'dia', Draco," desis Harry.

"Kau ini kenapa sih, bukannya selama ini dia selalu berusaha memisahkan kita? Bahkan dia juga telah menyakitimu, menyakitiku," bantah Draco, "Dia bukan seorang ayah, Harry."

"CUKUP…! Jangan menekannya lagi, Draco, uncle Lucius hanya bertindak sebagai seorang ayah," jawab Harry marah.

"Oh… sekarang kau membelanya? Padahal aku sudah tak peduli lagi dengan apapun agar selalu bisa bersamamu, bahkan kedua orang tuaku sekalipun," kata Draco tajam.

"Tapi aku peduli, Draco, aku peduli pada mereka. Kau tak akan pernah bisa mengerti perasaanku, perasaan seseorang yang tak pernah memiliki orang tua seumur hidupnya. Aku menyayangi mereka, Draco, dan aku tak ingin membuat mereka kecewa," jawab Harry tak kalah tajam.

Draco terdiam, "Jadi ini keputusanmu? Kau telah memutuskan untuk tak membuat mereka kecewa? Berarti kau akan memilih mereka dibandingkan aku, setelah apa yang kita alami selama ini?."

Harry tercekat, dia melihat luka di mata abu-abu itu, "Draco, aku…"

"Baiklah, aku pun tak mau terus melihatmu bersedih dan terluka, Harry. Aku menghargai keputusanmu, karena aku telah berjanji untuk tak pernah lagi memaksamu. Kalau kau sendiri yang memutuskan aku tak bisa berkata apa-apa lagi," jawab Draco. pemuda itu berjalan ke kamar Harry dan mengambil jubahnya lalu melangkah ke pintu keluar.

"Draco…" seru Harry.

Draco berhenti dan berbalik, "Aku hanya mengikuti keputusanmu, hanya itu." Lalu pemuda itu menghilang di balik pintu, meninggalkan bunyi berdebam keras di dada Harry saat dia menutup pelan pintu di belakangnya.

Harry terpaku, hatinya terasa begitu sakit. Dan flat yang sudah terbiasa ramai oleh gelak tawa mereka itu kini terasa begitu sepi, dan dingin.

.

#

.

Harry melangkah cepat menuju kantornya, dia ingin segera bertemu Draco dan menjelaskan semuanya. Semalaman sendirian tanpa sentuhan Draco membuatnya nyaris gila. Baru satu malam dan dia sudah merasa begitu rindu pada pemuda itu. 'Aku harus membicarakan ini lagi pada Draco, aku tak mau berpisah', teriak batinnya.

Dengan keras dibukanya pintu kantor itu, dia melihat Ron sendirian di dalam kantor, "Mate, kau melihat Draco?" tanya Harry cepat.

Ron memandangnya dengan heran, "Draco? Kau ini bicara apa?" tanya Ron heran.

"Draco, Ron, aku mencari Draco," jawab Harry tak sabar.

Ron berdiri dan mengernyit pada sahabatnya itu, "Kau tak tahu? Tadi pagi-pagi sekali dia berangkat ke perancis. Dia mengajukan diri untuk membantu Mr. Savage disana selama dua bulan," jawab Ron.

Harry membeku, memang ada tawaran untuk membantu Mr. Savage yang ditugaskan oleh kementrian untuk berangkat ke perancis, tapi tawaran itu sebenarnya hanya untuk anggota baru yang masuk tahun ini, dia benar-benar tak menyangka kalau Draco yang mengajukan diri.

"Mate? Kau baik-baik saja? Apa Draco tak memberitahumu?" tanya Ron cemas.

Harry mengangguk lemah, "Ya, Ron, dia mengatakan itu padaku , aku hanya lupa," jawabnya tak masuk akal. Dia tak ingin teman-temannya kembali cemas akan keadaan mereka. Dan kini dia benar-benar menyesali kejadian tadi malam.

Bersambung…

A/N.

*ngintip* halooo, maaf ya aku telat banget apdetnya, maaf maaf maaf… pekerjaanku yang menumpuk dan kesehatan yang sedikit memburuk gara2 kecapean membuatku tepar dan malas berpikir.

Kenapa chap ini belum tamat? Karena aku melihat satu konflik lagi yang harus diangkat disini, mudah2an chap depan bisa kelar.

Belum ada lemon, author membutuhkan asupan menyegarkan untuk otak yang membeku *lirik Yufa n Ness* #digampar.

Buat Ai-ku sayang, ga usah ikutan ribut, nih dah ku apdet. Buat Ness, akhirnya otakku bekerja kembali, PR darimu masih kupikirkan kok, tenang aja XD

Buat Chelly sist, Icci, Cissy, Vii, My (maaf ya sayank *hug*), Len, Kai (nih dah disebutin), IkariShinji, Nayolhee (thanks ya ^^), Aki, Ariellovegopal, Animegirl, pokoknya semuanya makasih banyak ya.

Buat Pearl Sky, Moony's Moon, Cissy Malfoy yang terus membela dan memberi dukungan padaku, makasih tak terhingga.

Buat 'X', siapapun kamu, aku menghormati Faria, sangat. Aku tak melihat sedikitpun kritikan dia sebagai ejekan, justru aku sangat berterima kasih pada Faria yang mau membagi ilmunya padaku. Diluar ffn pun kami adalah teman, jadi kau salah besar kalau melihat review Faria sebagai ejekan. Dewasalah…!

Yup, aku sungguh berharap chap 15 nanti tak separah ini telatnya *harusnya kan itu kata2 reader?*

Untuk menghibur hatiku yang sedang mood2an ini tolong tinggalkan review ya, flame juga ga papa lah, biasanya flamer kan suka ngotot walau dibilang 'NO FLAME' atau 'GA SUKA GA USAH BACA' XD