DILEMMA
CHAPTER 15
Disclaimer : JK. Rowling
Pair : Draco Malfoy / Harry Potter
Rating : M
Genre : Romance
Warning : SLASH, OOC, Modifiate Canon, GA SUKA GA USAH DI BACA YA.
.
#
.
"Harry, kau sudah makan siang?" tanya Ron.
Harry terus fokus pada pekerjaannya, "Belum, aku tidak lapar, kau makan saja duluan," tolak Harry tanpa melihat ke arah sahabatnya itu.
"Ayolah, kita jarang sekali makan siang berdua, mate," rayu Ron.
Harry terkekeh, "Seharusnya kau katakan itu pada Hermione, Ron," jawabnya sambil terus menulis pada dokumennya.
Ron hanya menggeleng pasrah, sejak sebulan setelah kepergian Draco ke Perancis Harry memang berusaha keras untuk tak terlihat sedih dan terpukul. Ron tahu bagaimana usahanya untuk tampak baik-baik saja didepan para sahabatnya. Tapi sebagai gantinya Harry lebih memilih tertimbun diantara berkas-berkas pekerjaannya. Tak sedetikpun dia membiarkan dirinya menganggur, begitu jam pulang tiba pun dia memilih lembur di kantor sampai tengah malam, entah pulang atau tidak tapi Ron sering kali melihat Harry sudah berada di belakang mejanya saat dia datang.
"Ku bawakan kau makan siang ya?" tawar Ron lagi.
Kali ini Harry mengangkat kepalanya dan memandang sahabatnya itu, "Thanks, Ron," jawabnya sambil mengangguk.
Harry menghela nafas panjang saat Ron telah keluar dari ruangan mereka, dia menyisir rambut hitamnya dengan tangannya dan meremasnya pelan. Mata hijaunya memandang meja Draco yang kosong, tak ada satu pun berkas diatasnya, semua tugas Draco disini telah diambil alih oleh Harry, karena dia tak ingin saat Malfoy junior itu pulang harus dihadapkan pada pekerjaan yang menumpuk.
Harry menyandarkan punggungnya, sudah sebulan Draco pergi, tapi tak satu pun surat jatuh di tangannya. 'Apakah kami telah benar-benar berpisah? Apakah dia serius meninggalkanku? Tidak, ini semua salahku, aku terlalu pengecut', batinnya, "Maafkan aku, love," bisik Harry pada kesunyian.
.
#
.
"Bagaimana keadaan Harry?" tanya Hermione pada Ron saat mereka menghabiskan istirahat siang ini bersama Pansy dan George.
Ron menggeleng, "Dia terus menutupi kesedihannya, terus tersenyum walau itu tak tampak manis di mataku," jawab Ron kesal.
"Kita tak boleh memaksa Harry, dia sudah cukup sakit dengan perasaannya sendiri," sambung George yang terus menggengam tangan Pansy. Dia tahu kalau kekasihnya itu begitu khawatir dengan Harry dan Draco, karena memang dialah yang paling dekat dengan mereka.
Ron mendengus, "Tapi kita sahabatnya, harusnya dia tahu kalau kita mencemaskan keadaannya."
"Justru itulah, Ron, Harry berusaha keras tak mau membuat kita sedih, dia tak mau membuat siapapun ikut memikirkan masalahnya, karena dia sangat menyayangi kita," sergah Hermione.
"Aku mengerti perasaan Harry, dia berusaha kuat untuk kita, juga untuk dirinya sendiri. Kita hanya perlu mendukungnya saja," sambung Pansy, "Kalau tiba saatnya dia pasti akan mengatakan semua pada kita."
Memang tak ada yang tahu apa yang terjadi pada Harry dan Draco, mereka pikir semuanya telah selesai dan berakhir baik, tapi kepergian Draco hari itu meninggalkan tanda tanya yang besar di hati sahabat-sahabatnya.
.
#
.
Pansy termenung di teras flatnya, dia tak berhenti berpikir tentang apa yang terjadi pada dua pemuda yang sangat disayanginya itu.
Gadis merambut hitam itu terkejut saat satu burung hantu berhenti di lengan kursinya dengan membawa sebuah surat di paruhnya. Dengan pelan dia mengambil surat itu, membuka sampulnya yang putih dan menarik secarik kertas yang terlipat rapi,
Dear, Pans…
Bagaimana kabarmu? Kabar kalian semua? Maafkan aku yang pergi tanpa mengucapkan apapun pada kalian, keputusan pergi ke Perancis ini aku ambil saat itu juga, satu jam sebelum aku pergi.
Bagaimana keadaan Harry? Apakah dia baik-baik saja? Apakah kau sudah tahu kalau kami sudah berpisah? Ini lucu menurutku, lucu melihat pengorbanan yang kami lakukan selama ini untuk bisa bersama, dan disaat kesempatan itu telah datang dia justru takut menyakiti kedua orang tuaku. Aku tak menyalahkan dia, aku mencoba mengerti bagaimana perasaannya dan menghargai keputusannya.
Aku tak bisa menjaganya, Pans, karena itu kumohon padamu untuk menggantikan aku selama aku pergi. Aku hanya ingin memastikan kalau dia baik-baik saja.
Jangan katakan kalau kau menerima surat dariku.
-Draco Malfoy –
Saat itu juga Pansy terisak, dia meremas surat dari Draco di dadanya, ternyata apa yang dia pikirkan selama ini benar, Harry dan Draco telah berpisah. 'Kenapa? Kenapa harus berakhir hanya dalam satu malam? Kenapa mereka sia-siakan perjuangan mereka selama ini?', batinnya.
"Bodoh, kalian sungguh bodoh," teriak tertahan Pansy disela isaknya.
.
#
.
Draco berjalan menyusuri gemerlapnya kota Paris, malam ini dia memutuskan untuk menghabiskan waktu di dunia muggle. Hiruk pikuk musik dan meriahnya nyala lampu sama sekali tak terdengar di sisi hatinya yang sepi. Suara bising itu seperti bisikan saja di telinganya, dan kilau warna-warni lampu terlihat begitu membosankan di mata hijaunya.
Tubuhnya yang kini menjadi kurus dengan drastis tetap saja tak mampu mengubah ketampanannya, tidak di dunia sihir ataupun di dunia muggle dia selalu menjadi pusat perhatian. Sebenarnya mudah sekali kalau dia ingin menghabiskan malam dengan satu perempuan atau lebih, begitu banyak mata indah yang terus memandangnya sepanjang jalan, tapi pesona mata sehijau emerald yang sangat dirindukannya itu membekas jelas dalam ingatannya.
Draco berusaha mengingat semua tentang Harry, dia ingat rambut hitamnya yang selalu berantakan, rambut hitamnya yang terasa halus saat dia memainkannya di sela-sela jarinya. Dia ingat mata hijau seindah emerald itu, mata yang selalu menatapnya dengan penuh kasih, dan kadang terlihat kesal kalau dia selalu menggodanya. Dan dia teringat bibir Harry, bibir yang tak pernah bosan dikecupnya, bibir yang selalu memanggil namanya dengan lembut. Draco tertawa kecil saat teringat tubuh Harry yang selalu bergetar akibat sentuhannya. Entah kenapa saat itu matanya terasa kabur, dia tersenyum miris, "I miss you, love," bisiknya pada hingar bingar kota Paris.
Dia terus berjalan dan berjalan, tak peduli pada hembusan angin malam yang telah menjadi begitu dingin menjelang Natal beberapa minggu lagi. dia tak peduli walau kulitnya telah berubah semakin pucat dan beku, karena ingatannya akan kekasihnya telah menghangatkan jiwanya.
.
#
.
"Harry," seru Pansy saat melihat pemuda berkacamata itu keluar dari kantornya.
"Hai, Pans," jawab Harry sambil memeluk erat sahabatnya itu, "Lama sekali tak bertemu denganmu."
Pansy tertawa, "Kau saja yang jadi super sibuk sekarang," bantah Pansy. "Temani aku makan malam ya?" pinta gadis itu.
Harry berpikir sejenak.
"Tak bisakah meluangkan waktu untukku yang akan segera bertunangan ini?" rayu gadis itu dengan wajah memelas.
Harry terbahak sambil mengacak rambut hitam Pansy, "Baiklah… aku akan menemanimu malam ini, dengan catatan George tak mengganggu kita, ok? Aku malas meladeni keusilannya."
"Malam ini aku milikmu," goda Pansy.
Sekali lagi Harry terbahak, "kata-katamu membuatku panas dingin, Pans," jawabnya sambil menarik tangan gadis itu.
Pansy tersenyum, tapi dalam hati dia menangis, siapa yang tega melihat sahabatnya yang dulu tampak gagah kini menjadi kurus dan pucat. Mata hijau yang dulu bersinar terang kini tampak redup dan lelah, bahkan tawa yang diciptakannya barusan tak mampu membuat emerald itu berkilau indah.
Pansy menguatkan hatinya, dia tak akan menanyakan apapun pada Harry, dia ingin menikmati waktu ini bersama sahabatnya itu, sahabat yang begitu disayanginya. Walau penuh kebohongan setidaknya mata hijau itu tak menangis, walau kilaunya memancarkan rasa sepi setidaknya malam ini Harry tak sendiri.
Harry mengecup lembut pipi Pansy saat mereka telah tiba di gedung flat mereka, "G'nite, Pans, terima kasih telah menemaniku malam ini," kata Harry.
Pansy tersenyum, "Kau bisa memanggilku kapan saja kau mau, Harry, aku yakin George akan mengerti," jawabnya.
Harry tertawa pelan, lalu pemuda itu berbalik dan menuju pintu flatnya, "Pans," panggil Harry masih dengan membelakangi gadis itu.
"Yes?" jawab Pansy parau.
Harry terdiam sejenak, tubuhnya kaku menghadap pintu, "Jangan menangis, aku baik-baik saja," katanya lalu masuk ke dalam flatnya dan menutup pelan pintu di belakangnya.
Pansy menutup mulutnya untuk menahan isakan yang keluar, pipinya telah basah oleh air mata. Dia tak sanggup menatap punggung Harry yang terlihat lemah itu, dia tak sanggup melihat kilau mata Harry yang penuh luka dan kesedihan itu, dia tak sanggup melihat Harry yang seakan kosong tanpa Draco disisinya.
Mereka tak menyadari sepasang mata abu-abu milik Lucius Malfoy mengintip dari ujung lorong.
.
#
.
Harry memandang bintang yang tampak meriah di langit malam, "Kenapa kalian bersinar? Padahal kilau bintang di mataku yang sangat dipujanya telah padam. Apa kalian berusaha membuatku iri dengan cinta kalian yang kuat? Percuma, tak ada lagi rasa apapun di dalam hatiku, semua terasa kosong," katanya dengan nada dingin. Tubuhnya bergetar, mata hijaunya menatap tajam pada langit malam tetapi air mata mengalir deras membasahi pipinya. Lengannya memeluk tubuhnya sendiri mencoba bertahan dari serangan angin dingin yang menusuk tulang. "Draco, aku merindukanmu," rintihnya pedih dalam isakan yang berusaha ditahannya.
.
#
.
Beberapa hari menjelang Natal udara di siang hari pun terasa dingin, begitu juga yang dirasakan Draco. Dia memandang riuhnya pemandangan kota Paris yang terpampang dari jendela kantornya yang berada di tingkat teratas gedung kementrian sihir Perancis. Pemandangan ini tampak begitu indah, semua tampak begitu terang. Berbeda dengan dunia sihir di London yang terkesan gelap dan suram, ingin rasanya membagi ini dengan Harry.
Draco menghela nafas panjang, 'Love, apa yang sedang kau lakukan saat ini? Apakah kau baik-baik saja?', tanyanya dalam hati.
"Malfoy, ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Mr. Savage mengejutkannya.
Draco menggeleng, "Tidak, Sir, mengapa anda bertanya seperti itu?" tanya Draco.
Mr. Savage tertawa pelan, "Tidak biasanya ku lihat kau melamun dengan serius seperti itu," jawabnya, "Merindukan seseorang?"
Draco tersenyum miris, "Entahlah, mungkin aku sudah kehilangan dia," jawab Draco pelan nyaris menyerupai bisikan, matanya kembali menerawang keluar jendela.
Mr. Savage mengangguk mencoba mengerti, dia agak terkejut juga mendengar Malfoy junior ini mengungkapkan isi hatinya, biasanya dia selalu diam dan dingin.
Pintu ruangan terketuk, dengan ayunan tongkatnya Mr. Savage membuka pintu itu perlahan, masuklah seorang penyihir muda yang langsung menghampiri Draco, "Mr. Malfoy, ada yang mencarimu di ruang tunggu," kata pemuda berambut coklat itu dengan logat inggris yang kaku.
Draco memandangnya heran, "Aku? siapa?" tanyanya.
Pemuda itu menggeleng, "Entahlah, dia hanya ingin supaya aku memanggil anda," jawabnya lagi.
Draco mengangguk, "Baiklah, terima kasih," katanya sambil berdiri. Dengan malas dia menuju ruang tunggu dan membuka pintunya yang besar. Matanya terbelalak saat melihat siapa yang berdiri disitu, seorang separuh baya yang memiliki warna rambut dan mata yang sama dengannya, seseorang yang menatapnya dengan pandangan tajam, "Dad?" sapa Draco tercekat, "Kenapa kau bisa kesini?" tanyanya dengan curiga.
Lucius memandang lurus mata putranya yang terlihat tegang dan bingung, "Aku harus bicara padamu," katanya dengan nada dingin.
.
#
.
"Harry, apa kau akan datang pada pesta pertunangan Pansy?" tanya Hermione saat dia mampir ke flat Harry.
Harry memandang sahabatnya itu dengan bingung, "Tentu, Mione, aku pasti datang. Pertanyaanmu aneh sekali?"
Hermione tampak sedikit gugup, "Tidak, bukan begitu maksudku, aku…"
"Mione, Pansy sudah kuanggap sebagai adikku sendiri, jadi apapun yang terjadi aku pasti mendampinginya pada saat-saat penting seperti itu.," jawab Harry, "Kalau kau mengkhawatirkan perasaanku, percayalah… aku baik-baik saja."
Hermione tersenyum, "Maaf, aku tak bermaksud menyinggungmu."
Harry menggenggam tangan gadis itu, "Lusa sore kita bertemu di the Burrow ya?"
Hermione mengangguk cepat.
.
#
.
Harry memandang Pansy dan George bergantian, mereka tampak begitu bahagia, senyum tak lepas dari bibir mereka. Harry ikut tersenyum untuk kebahagiaan Pansy walau ada sedikit rasa iri menyelip dalam sudut hatinya. 'Kapan kebahagiaan seperti itu akan menghampiriku? Apakah aku masih pantas mendapatkan kebahagiaan? Bintangku tak akan bersinar lagi, dia telah mencuri sinarnya', rintih batin Harry.
Dia berusaha kuat menahan perasaan perihnya saat George mencium lembut bibir Pansy, tubuhnya bergetar mengingat hal serupa yang pernah dilakukan Draco. dia masih mengingat jelas bagaimana lembut bibir itu saat menyentuhnya, dia juga masih ingat perasaan hangat saat lengan itu memeluknya, dia masih ingat semua yang pernah dilakukan Draco padanya.
Harry merasa matanya mengabur, perlahan dia melangkah mundur dan meninggalkan pesta yang meriah itu tanpa seorangpun menyadarinya. Dengan gontai dia melangkah ke halaman belakang the Burrow, menuju bukit kecil disana. Dia duduk diatas batu besar yang tak tertutup salju dan memeluk lututnya. Saat itu yang dia bisa hanyalah menangis, menyesali semua yang terjadi antara dirinya dan Draco. Tubuhnya berguncang hebat menahan isak dan jeritannya. Ingin rasanya dia marah, tapi semua ini adalah salahnya.
Harry tercekat saat sebuah lengan memeluknya dari belakang, "Pans?" katanya.
"Kenapa menangis sendiri? Kenapa tak memanggilku? Kenapa kau simpan semua sedihmu? Tak inginkah kau berbagi semua itu denganku? Dengan kami?" tanya Pansy kesal dalam isaknya.
"Pans, jangan menangis, ini hari bahagiamu," jawab Harry tanpa menoleh pada gadis itu.
"Dan haruskah aku membiarkanmu menangis sendiri seperti ini? Haruskah aku berpesta disana sementara kau sakit dan terluka?" bantah gadis itu.
Harry berdiri dengan cepat dan memegang bahu gadis itu, "CUKUP, PANS, TAHU BEGINI TADI LEBIH BAIK AKU TAK DATANG SAJA," teriak Harry, dia semakin ingin marah mendengar kata-kata gadis itu, marah pada dirinya sendiri.
Pansy semakin terisak, bahunya berguncang saat Harry memeluknya dengan lembut, "Maafkan aku," bisiknya.
Harry menggeleng, "Ini salahku, maafkan aku, seharusnya aku tak membuatmu bersedih hari ini," jawabnya.
Mereka terdiam cukup lama, hanya mencoba untuk menenangkan emosi masing-masing, "Kau tak akan pulang, kan?" pinta Pansy.
Harry mengecup lembut rambut hitam sahabatnya itu, "Tidak, tidak sekarang, pesta baru saja dimulai dan aku telah membuatmu kacau."
Pansy mencoba tersenyum, "Mereka semua mencemaskanmu, maukah kembali kesana bersamaku?" pinta gadis itu.
Harry mengangguk, "Kita kembali kesana," jawabnya sambil merangkul pundak mungil Pansy dan mengajaknya berjalan menuju pusat pesta.
Pesta tetap berlangsung meriah, semua sahabatnya berusaha keras mengalihkan perhatian tuan rumah dan para orang dewasa dengan hilangnya Harry dari meriahnya pesta malam ini.
Hermione memeluk Harry erat, "Kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Harry mengangguk, dia berusaha tersenyum walau hatinya terasa begitu perih, perih oleh rasa sepi dan rindu.
"Hei, siapa itu yang datang?" seru Molly Weasley.
Semua mata memandang ke arah yang ditunjuk oleh ibu Ron itu, empat bayangan hitam berjalan pelan dari kegelapan malam.
Harry tercekat melihat mereka, "Dad?" bisiknya, kakinya terasa lemas saat melihat tiga orang lainnya, Narcissa, Lucius dan… Draco. Tubuhnya terhuyung dan nyaris jatuh kalau saja Blaise tak segera menahan lengannya. Mata abu-abu yang begitu dirindukannya itu memandangnya dengan begitu hangat dengan kerinduan yang sama besarnya terpancar disana.
"Senang melihat kalian bisa ikut hadir disini," sapa Arthur Weasley sang tuan rumah pada tamunya yang baru datang.
Lucius menepuk bahu teman sejawatnya di kementrian itu, "Maaf kami mengganggu, Arthur, tapi ada sesuatu yang harus kami berikan pada seseorang," jawabnya.
Lalu pria itu melangkah mendekati Harry yang tampak begitu pucat, matanya menatap tajam mata hijau yang tampak mati itu, "Tak kusangka kau begitu bodoh, Harry," kata pria itu.
Harry tak menjawab, dia sudah pasrah akan apa yang terjadi padanya malam ini.
Lucius merogoh saku jubahnya dan mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari perak, "Ini untukmu, dan yakinkan hatimu."
Harry menerima kotak itu dengan tangan gemetar, matanya menatap Severus dengan bingung.
"Bukalah, Son," pinta Narcissa lembut.
Harry ingin menghilang dan pergi dari sana, dia tak ingin tahu apa yang ada di dalam kotak yang dipegangnya itu, tapi dia tak boleh kembali menjadi pengecut. Perlahan dibukanya kotak itu, matanya terbelalak menatap isinya, sepasang cincin emas berukir lambang keluarga Malfoy. Dengan tak percaya dan bingung dia kembali menatap Lucius.
"Itu cincin keluarga kami yang diberikan turun temurun. Entah apa yang kau pikirkan saat kau memutuskan untuk tak menyakiti kami. Kau tak pernah menyakiti kami, Harry, justru kami lah yang selalu membuatmu menderita," jelas Lucius.
Harry menggeleng tak mengerti, "Lalu cincin ini?"
Lucius menepuk lembut bahu Harry, "Kami menyadari kalau garis keturunan bisa terhenti kapan saja walaupun kami memiliki banyak anak, tapi kami tahu kalau kebahagiaan Draco tak akan pernah terhenti selama kau bersamanya."
Harry tercekat saat Lucius memeluknya dengan erat, dan tangisnya tak dapat ditahan saat pria itu mengatakan sesuatu dengan lantang didepan semua orang, "Berbahagialah, Son, dan selamat datang di keluarga kami."
Semua sahabatnya memberikan tepukan tangan yang begitu meriah, dan dia tak dapat berkata apa-apa saat Draco menarik tangannya dan memasangkan satu cincin di jari manisnya, "Aku tak akan pernah melepasmu lagi, Harry, tidak selama aku hidup. Karena itu jangan pernah lagi meragukanku," bisiknya.
Dada Harry berdebar keras, kepalanya begitu penuh dengan pertanyaan bahkan membuatnya pusing dan tak mampu berpikir, dia seakan tak percaya ini terjadi. Dia tak mampu berkata apa-apa, mulutnya terkatup rapat seakan takut teriakan bahagia membangunkannya dari mimpi.
Draco menggenggam tangan Harry yang dingin membeku, lalu dikecupnya jemari itu dengan lembut, "Ini bukan mimpi, Harry, aku pulang untukmu," bisiknya.
Perlahan senyum merekah di bibir Harry, dia meraih tangan Draco dan memasangkan cincin pasangannya ke jari manis yang pucat itu dengan pandangan yang mengabur oleh air mata, "Aku tak akan pernah lagi meragukanmu, Draco, aku berjanji," jawabnya lirih. Saat ini dia yakin kalau semuanya akan baik-baik saja, senyum Lucius, Narcissa dan Severus merupakan bukti kalau mereka pun ikut berbahagia.
Semua berseru gembira saat Draco memeluk Harry dengan erat.
.
#
.
"Bagaimana kau bisa melakukan itu, Draco?" tanya Harry saat mereka berbaring berdua di tempat tidur mereka di flat Harry. Dia menyadarkan kepalanya di bahu pemuda berambut pirang itu.
Draco menggenggam tangan Harry dan memainkan jari manisnya yang dilingkari cincin yang menyatukan mereka, "Apa maksudmu? Aku tak melakukan apa-apa."
Harry mendengus, "Kau seenaknya saja menghilang lalu tiba-tiba datang dan melamarku, kau pikir kau siapa?" kata Harry kesal.
Draco tertawa, "Aku? Aku adalah Draco Malfoy, pemuda yang selalu kau ingat di dalam pikiranmu setiap saat," jawabnya dengan narsisme tinggi.
Harry tertawa terbahak, "Aku serius, jawab pertanyaanku, kenapa uncle Lucius bisa melakukan itu?"
Draco tersenyum, "Dua hari yang lalu Dad menemuiku di Paris, dia begitu marah dengan kebodohan kita. Malam itu saat kau baru pulang entah dari mana dengan Pansy dia melihatmu begitu menderita, lalu saat mengunjungiku pun dia melihat perubahan tubuhku yang menurun drastis. Dia marah karena kita berhenti berjuang dan menyerah kalah disaat mereka sudah bisa menerima hubungan kita, Dad bilang pengorbanan kita selama ini hanyalah sebuah lelucon konyol kalau harus berakhir seperti itu," jelas Draco.
"Uncle Lucius melihatku dan Pansy? Pasti saat Pansy mengajakku makan malam seminggu yang lalu," jawab Harry. "Lalu?"
"Lalu aku meminta bantuan Dad untuk meyakinkanmu, sudah begitu saja," jawab Draco.
Harry memeluk pinggang Draco dengan erat, wajahnya disusupkan pada leher putih Draco, "Maafkan aku," bisiknya.
Draco melepas kacamata Harry dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidur, "Akan aku maafkan kalau saat ini kau tak lagi ragu padaku," jawab Draco lagi.
Wajah Harry memerah, "Apa maksudmu?"
Draco tak menjawab, dia mencium lembut bibir Harry dengan dalam, membelainya dengan lidahnya hingga bibir Harry terbuka dan membiarkannya masuk untuk membelai seluruh rongga mulutnya. Draco bergerak dan memposisikan tubuhnya diatas Harry, mata abu-abunya menatap hangat mata emerald Harry, "Aku mencintaimu," bisiknya.
Harry tersenyum dan menarik leher Draco untuk kembali menciumnya. Dia mendesah saat bibir Draco membelai lehernya dan memberikan gigitan kecil disana. Aroma tubuh Draco yang tercium hidung Harry seakan menawarkan sejuta ekstasi, begitu memabukkan. Dia membiarkan saja saat ciuman Draco terus turun kebawah dan meninggalkan jejak memanas ditempat yang disinggahinya. Entah bagaimana caranya yang pasti saat ini piyama atasnya telah terbuka penuh. Tubuhnya tersentak saat Draco memainkan satu titik sensitive di dadanya dengan lidahnya, "Draco…" erang Harry.
Draco mendongakkan kepalanya, dia cemas kalau Harry kembali takut, tapi bibirnya langsung tersenyum saat melihat wajah memerah Harry yang begitu menggoda, "Kau takut?" Tanya Draco lembut.
Harry mencoba tersenyum dan menggeleng, "Tidak, hanya sedikit gugup," jawabnya.
Draco terkekeh, "Kau manis sekali kalau begini," godanya.
"Stop it, Draco, kalau kau tak ada niat sebaiknya hentikan," gerutu Harry.
Draco tertawa, "Kau ini lucu, kau pikir berapa lama aku harus menahan ini?" jawabnya, lalu dia menundukkan kepalanya dan kembali memerangkap bibir Harry dalam satu lumatan yang lembut dan membuat pemuda itu hilang akal. Dia terus membuai Harry dengan sentuhan-sentuhannya, bahkan Harry pun tak sadar kalau tubuhnya telah terbebas dari piyamanya.
Draco menatap lembut mata emerald Harry dan tersenyum, lalu sekali lagi dia mencium bibir Harry, kali ini lebih kuat dan dalam, dia menelan erangan Harry dan sentakan tubuh pemuda dibawahnya itu saat tangannya meaih pusat panas tubuh Harry. Dia bisa merasakan tubuh Harry bergetar keras, dia menegakkan tubuhnya saat tangan Harry mencengkeram erat bahunya yang basah.
"Draco..." erang Harry saat tangan pemuda itu terus membuainya dan membawanya melayang meninggalkan logikanya.
Draco menyeringai, "Yes, love," lalu pemuda itu menundukkan kepalanya dan meraup bagian tubuh Harry yang berada dalam genggamannya dengan mulut dan lidahnya. Dia tak berhenti walau Harry terus berteriak memanggil namanya.
Tubuh Harry terasa semakin panas, semua rasa berkumpul di perut bawahnya, pandangannya mengabur dan tampak begitu terang. Dia merasa tubuhnya hampir meledak saat Draco terus membuainya dan memanjanya dibawah sana. Dia semakin tak dapat menahan gejolaknya saat gerakan mulut Draco semakin cepat dan keras, dalam satu jeritan Harry merasakan kalau dunianya benar-benar meledak, gairah yang tertahan membuncah keluar dan melepaskan tubuhnya dari jerat nafsu yang menggila.
Draco menatap mata hijau yang bersinar begitu terang, bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat Harry berusaha memalingkan wajahnya yang memerah karena gairah. Dia mengusap pipi Harry yang basah oleh keringat, "You're so sweet, love," bisiknya sambil mengecup bibir Harry yang setengah membengkak.
Mata Harry terbelalak saat dia merasakan bagian tubuh Draco yang mengeras berada tepat di depan bagian tubuhnya yang tersembunyi, lalu dia memejamkan matanya dengan begitu rapat. Harry begitu tegang mengingat apa yang pernah dirasakannya dulu di menara astronomi, ada sedikit rasa takut walau dia telah mencoba untuk menghilangkan rasa itu.
Draco mengerti apa yang dirasakan Harry, "Lihat aku, Harry," bisiknya, "Ini akan terasa bebeda."
Harry membuka matanya, tak ada kilat bengis dan dingin di mata abu-abu itu seperti yang dilihatnya di menara astronomi dulu. Kali ini mata itu bersinar begitu lembut dan hangat, senyum merekah di bibirnya yang tipis berusaha menenangkannya. Harry menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering,
Draco mencium bibir Harry dengan pelan dan pasti, membuainya dan membawanya kembali perlahan meninggalkan akal sehatnya. Tangannya kembali memanja tubuh Harry yang baru saja terlepas dari gairahnya dan membuatnya kembali haus akan sentuhannya.
Harry mencakar punggung Draco saat dia merasakan kalau kekasihnya mulai menyatukan tubuh mereka, terasa begitu sakit dan panas, tapi juga terasa begitu lembut. Perlahan Draco mulai memenuhi dirinya dan Harry hanya bisa menjerit tertahan saat tubuh mereka telah menyatu dengan sempurna. Air mata mengalir dari mata hijaunya, dengan kuat dia menggigit bibirnya hingga sedikit berdarah.
Draco menatap wajah kekasihnya yang menahan sakit, dengan lembut diusapnya air mata Harry, "Maafkan aku, kau ingin ini berhenti?" tanyanya lembut. Dia berusaha keras menahan gairah yang mulai menggulungnya dan nyaris membutakan logikanya.
Harry membalas tatapan mata abu-abu itu, ada rasa cemas disana, tapi dia juga melihat api gairah berkobar kuat di bayang sinarnya. Harry memejamkan matanya sebentar, dia menarik nafas panjang berusaha menenangkan dirinya dan membiasakan tubuhnya dengan keberadaan Draco di dalamnya. Setelah merasa lebih baik, Harry pun membuka matanya dan tersenyum, "Aku mencintaimu, Draco, aku milikmu," bisiknya parau.
Draco tersenyum, dengan begitu perlahan dia mulai bergerak dan mengajak Harry menuju suatu tempat yang indah, satu tempat yang dihiasi aneka warna, satu tempat dimana hanya ada mereka berdua. Erangan dan desah nafas yang memburu menjadi musik pengiring perjalanan mereka. Gairah yang menyerang mereka begitu kuat hingga gerakan itu tak perlahan lagi, dua tubuh berpadu saling mendesak dan berlomba mencari apa yang mereka butuhkan. Kedua mata saling menatap meyakinkan pasangannya kalau mereka nyata dan bersama.
Warna dunia Harry semakin terpecah menjadi bulir-bulir putih cemerlang yang menyamarkan dunia nyata. Cakaran tangannya semakin kencang saat dirasanya tubuhnya tak mampu lagi membendung gemuruh gairah yang mendesak dan terus menekan tubuhnya. Dan dalam satu hentakan kuat tubuhnya kembali meledak, kali ini lebih keras dibandingkan saat pertama tadi. Kedua bibir yang terpaut menjerit melagukan nama kekasihnya masing-masing.
Draco memeluk tubuh Harry yang bergetar hebat dengan erat, dia menciumi wajah Harry yang memerah dan basah oleh peluh. Sentakan demi sentakan kecil mengiringi penyelesaian mereka hingga akhirnya mereda.
.
.
"Love?" panggil Draco pelan yang masih memeluk tubuh Harry dari belakang.
"Mmh..." jawab Harry malas.
"Merry Christmas," bisik Draco lembut.
Harry membalikkan badannya dan menatap mata abu-abu Draco, bibirnya menyunggingkan senyuman yang begitu manis, "Merry Christmas," jawabnya. Dia tertawa pelan saat Draco mencium mata dan bibirnya.
"Dulu, untuk pertama kalinya kau katakan padaku kalau kau mencintaiku juga saat malam Natal, di Spinner Ends, Kau ingat?" tanya Draco.
Harry mengangguk, "Ya, aku ingat, Draco, dan aku sungguh bodoh pernah melupakan itu," jawabnya.
Draco mengecup bibir Harry, "Tidak, Harry, kau tak bodoh, kau hanya sedikit tak pintar dengan keputusanmu yang terakhir kemarin," jawab Draco sambil menyeringai.
Harry membelalakkan matanya, "Apa kau bilang? Itu sama saja artinya kalau aku bodoh, kau cuma memperhalus kata-katamu," kata Harry kesal sambil mendorong tubuh Draco yang terus memeluknya.
Draco tertawa terbahak, "Jangan berwajah begitu, kau terlihat semakin manis, tahu," goda Draco sambil menarik lengan Harry dan kembali memposisikan tubuhnya diatas Harry.
"Jangan sekali-sekali kau sebut aku manis, atau aku akan..."
"Atau kau akan apa, Harry? Aku lah yang akan menghukummu," jawab Draco sambil menyeringai.
Harry membalas kata-kata Draco dengan senyuman, "Kali ini aku lah yang akan menghukummu untuk semua yang telah kau lakukan padaku selama ini, Draco," jawab Harry sambil menggulingkan tubuh Draco.
Mereka tertawa saat tubuh mereka kembali berpelukan seakan tak mampu terlepas, dinginnya udara diluar yang tertutup salju tak mereka rasakan, karena gejolak cinta dan gairah yang membakar sudah cukup menghangatkan jiwa-jiwa mereka yang sempat membeku.
.
"I love you, Harry," bisik Draco.
Harry tersenyum saat menatap mata abu-abu yang bersinar itu, "I love you too, Draco," jawabnya sambil merebahkan kepalanya di dada kekasihnya. Mata mereka memandang langit malam yang sepi dari balik jendela yang tak tertutup kelambu, tak tampak satupun bintang dan bulan disana, tapi mereka tak merasa sepi karena mereka memiliki bintang yang bersinar dalam hati mereka.
-"Bagiku, aku tak peduli walau seluruh bintang akan tanggal dan sinarnya padam dari langit malam, karena aku tahu kalau aku memiliki sinar yang lebih indah dari cahaya bintang, yang darinya aku mendapatkan kedamaian dan kehangatan. Itu adalah binar orion di matamu, Harry,"-
Harry tersenyum mengingat kata-kata Draco malam itu, perlahan dia memejamkan matanya menikmati belaian lembut jemari Draco di rambutnya.
"Tidurlah, aku akan menjagamu," bisik Draco halus.
Dan kata-kata itu kembali mengiringi tidur Harry menuju mimpi yang begitu indah, 'Selamat malam bintang, aku tak peduli walau sinarmu akan terlihat atau tidak, karena selama dia ada disisiku maka bintangku akan tetap bersinar terang', bisik Harry dalam hati sebelum dia terlelap.
THE END
A/N.
Akhirnyaaaaa... apakah akhirnya mengecewakan? Apakah aku sudah menyuguhkan satu cerita yang memuaskan untuk kalian? Maafkan aku jika ini tak sesuai dengan apa yang diharapkan.
Ucapan terima kasih ku untuk Aicchan yang selalu sabar mendengarkan omelan-omelan tak jelasku kalau aku sedang stuck, yang selalu dengan setia mem-publish fic ini setiap chapternya dan selalu menjadi peripiu pertama XD
Ucapan terima kasih tak terhingga juga untuk NessVida, untuk ide-ide cemerlangnya dan kisah pribadinya yang so sweet sekali. Ah... yang terakhir itu adalah penyegaran otak yang sangat mantap Ness, dan kata-katamu lewat sms aku culik sedikit :p. Aku tak pernah menganggap ini karyaku sendiri, ini adalah karya kita *hug*
Ucapan terima kasih yang besar juga kupersembahkan untuk kalian yang telah membaca dan meripiu fic ini, tanpa kalian mungkin fic ini akan putus di tengah jalan. Dan untuk dukungannya yang hebat aku tak bisa mengucapkan apa-apa selain "I love you, all..." *nangis terharu* maaf tak aku sebutkan satu persatu karena akan panjang sekali author notes ini nantinya XD
Buat para Flamer juga makasih, kalian telah menambah angka ripiuku #plak
Semoga kita bisa berjumpa lagi di multi chap yang lain *peluk semuanya*
