Seven Vessel Deadly Sin

Summary: salah satu series dari seven vessel deadly sin, menceritakan pemilik vessel dosa dari kecemburuan berbentuk air mancur-atau yang sekarang bentuknya berubah menjadi gunting-


Read and Review?

The Tailor shop at Enbizaka

Chapter 2

Warning:OOC, Alternate Universe,EYD dan Tanda baca hancur,garing,Gaje,Typo(s)dll

Rate: T/M (For Bloody)

Naruto © Masashi Kishimoto

Kagerou Days ©Jin [Shizen no Teki-P]

Seven Vessel Deadly Sins ©Mothy-sama [Akuno-P]

Translate © Suicune34

Don't like, Don't read

.

.

Happy Reading!

.

.

A/N:

Fufufu chap 2 :3 aku sangat-sangat-sangat bingung dengan tokoh [Ma] atau Kayo Sudou ini, karna kalau soal sekuelnya..um…agak membingungkan juga sih…kira-kira siapa yang cocok menggantikan posisi Luka disini? Kalau menurutku sih Hinata. Karna ya…selain bentuk tubuh mereka yang err…yah kalian tau deh.

Oh ya, apakah aku sudah pernah bilang kalau ini adalah update kilat? *smirk*

Hohoho ,siapa yang setuju kalau Hinata jadi Yandere? Ga ada yang setuju? *pundung* bagi Hinata FC please jangan tuntut aku karna ngubah sifat Hinata yang imut dan moe-moe(?) menjadi serem dan berdarah dingin.

Oh ya, di sini bahasanya agak kasar jadi harap dimaklumi aja ya!

Sekarang, mari kita mulai bekerja #plak maksudnya, mari kita mulai membaca

.

.

~*~ The Tailor shop at Enbizaka ~*~

.

.

* POV On*

Di sebuah ujung jalan yang bernama Enbizaka. Terdapat seorang wanita muda berambut indigo yang memiliki toko jahit. Karna sikapnya yang baik dan kemampuan menjahitnya yang hebat. Dia pun sering menjadi bahan pembicaraan tetangga. Apa yang selalu ada di pikirannya adalah sikap kekasihnya yang tak masuk akal.

"Walau pun dia memiliki kekasih sepertiku, dia tak pernah datang kerumah"

'Tapi aku harus berkonsentrasi pada pekerjaanku' aku memegang guntingku dengan satu tangan. Gunting untuk menjahit yang ibuku gunakan.

Ibuku pernah berkata: "Semakin kau menajamkannya maka akan semakin bagus untuk memotong…"

Wanita itu hari ini terlihat tengah berjalan bersama kekasihnya, rambut pirang sang kekasih terlihat kontras sekali dengan rambut indigo sang wanita. Mereka berjalan-jalan di tepi sungai Hinami dengan mesrahnya tampa memperdulikan tatapan dari para penduduk di sekitar.

.

.

.

Hari ini pun, wanita itu bekerja keras seperti biasanya. Ia memegang sebuah gunting yang biasa di pakai oleh ibunya dulu.

Tetangga sebelah sepertinya sama seperti biasanya, sungguh tenang dan sangat damai. Aku melihatnya hari ini di jalan utama. 'Siapakah wanita dengan rambut merah muda yang ada di sampingmu itu?'

Dengan kimono berwarna merah muda yang sangat cocok di pakai padanya. 'Kelihatannya kau sangat akrab dengan wanita cantik itu' aku yang tak tahan melihat pemandangan itu. Aku pun berbalik dan meninggalkan tempat itu.

'Tapi aku harus berkonsentrasi pada pekerjaanku' aku memegang guntingku dengan satu tangan. Aku pun membasahi pipiku dengan air mata dan menjahit kimono yang ada di depanku

*POV Off*

Wanita itu duduk di sebuah ruangan di rumahnya, ia terlihat sangat ahli dalam menggunakan gunting berwarna hitam yang sedang di pakainya. Di sekitar ruangan yang tampak bersih itu terlihat sedikit noda-noda cairan berwarna merah. Mungkin itu di karenakan cairan yang berada di dalam botol yang tumpah tampa sebab yang jelas. Bau anyir berganti menjadi bau harum yang terasa agak menjijikkan di karenakan bebauan yang bercampuran tersebut. Bunga-bunga indah berwarna merah berserakan di sekitar ruangan tersebut.

Wanita itu akhirnya memutuskan beristirahat, ia memandang ke halaman rumahnya yang di mana tertanami bunga lili merah. Sambil menjahit , jarinya tergores dan mengelurakan cairan yang sama dengan yang mengotori ruangannya tersebut.

~*~ The Tailor shop at Enbizaka ~*~

Malam harinya wanita itu terlihat tengah mengenakan kimono "Baru" miliknya yang ia jahit tadi siang. Terlihat bayangan tipis seorang pria bersurai kuning tengah bercanda bersama seorang gadis berpita pinggang berwarna biru muda.

.

.

.

*POV On*

Suasana tetangga sebelah sepertinya sedang tidak nyaman hari ini, sepertinya ada kejadian kriminal terjadi. Aku melihatnya hari ini di dekat jembatan. 'Siapakah gadis berambut kuning pucat yang ada di sampingmu itu?'

Dia kelihatan sedang depresi hari ini dan di sebelahnya, terdapat seorang gadis cantik bermata biru pucat menenangkannya. Pita pinggang yang di pakainya sangat cocok padanya.

'Ah…Jadi itulah tipe wanita yang kau sukai'

'Tapi aku harus berkonsentrasi pada pekerjaanku' aku memegang guntingku dengan satu tangan. Dengan mataku yang berwarna kelabu. Aku pun mulai memperbaiki pita pinggang itu.

Kembali hari ini, dengan lihai wanita itu mengerjakan kain di hadapannya. Potong, jahit, potong, jahit. Benar-benar pekerjaan yang sebenarnya cukup merepotkan tetapi ia tetap saja menekuti pekerjaan itu dengan telaten.

~*~ The Tailor shop at Enbizaka ~*~

Wanita itu kembali terduduk di ruangannya, gunting di tangannya kini beralih pada bunga Moss pink di hadapannya. Mengguntingnya tampa ampun, mengabaikan pita pinggang di pangkuannya. Setelah selesai mengerjakan pekerjaanya dengan pita pinggang tersebut, wanita tersebut tampak tengah berdandan dengan kimono dan pita pinggang "Baru" miliknya.

.

.

.

Hari ini tetangga sebelah kelihatannya sedang gelisa, kelihatannya terdapat kejadian kriminal lagi. Aku melihatnya hari ini di depan toko penjepit. 'Siapakah gadis berambut coklat yang ada di sebelahmu itu?'

Kepada gadis itu yang kelihatannya terlalu muda baginya. Dia membelikan sebuah penjepit rambut berwarna kuning.

'Apa yang kau pikir, sedang kau lakukan? Kau sungguh tidak adil'

'Tapi aku harus berkonsentrasi pada pekerjaanku' aku memegang guntingku dengan satu tangan.

"Ini aneh. Apakah guntingku berwarna seperti ini sebelumnya?" aku bekerja dengan keras lagi hari ini.

Wanita itu terlihat tengah membawa gunting di tangannya, berniat ingin meminta pengrajin untuk menajamkan benda tajam berwarna merah tersebut. Wanita itu pulang tampa sedikit pun memiliki niat untuk menyelesaikan pekerjaannya, terduduk manis di ruangannya. Memeluk kedua lututnya dengan mata terpejam.

~*~ The Tailor shop at Enbizaka ~*~

Akhirnya aku pun menyelesaikan pekerjaanku…

"Jika kau tak akan datang padaku, maka akulah yang akan datang menemuimu"

Seketika aurah di ruangan itu terasa mencekam, suasana gelap gulita menambah kesan "Menyeramkan" di sana. Aura-aura yang terasa seolah-olah berkata "Aku akan membunuhmu!" atau "Aku harus membunuhmu"

~*~ The Tailor shop at Enbizaka ~*~

"Gunting di buat dari 2 buah benda yang tajam"

"Mereka melakukan pekerjaan mereka dengan mendekati korbannya dan mengguntingnya"

"Benarkah itu?"

"Iya, dari yang ku dengar sekali ya keluarga Uzumaki itu"

"Benar, kesihan sekali mereka. Aku dengar mereka di bantai satu-persatu, sekarang yang tersisa hanya kepala keluarganya saja kan?"

"Hmm…aku turut berduka cita dengan mereka, padahal mereka hanya keluarga kecil yang sederhana"

"Benar, lalu bagaimana dengan Hyuuga Hinata?"

"Hyuuga Hinata? Maksudmu gadis penjahit itu? Syukurlah dia baik-baik saja. Tapi sejak mendengar kasus itu, dia jadi jarang sekali keluar rumah. Kalau pun keluar itu hanya untuk berbelanja bahan atau sebagainya saja"

"Sepertinya dia sangat syok ya, padahal dia gadis yang baik tetapi kenapa harus mendengar berita menyeramkan seperti itu ya?"

"Entahlah, aku harap pelakunya cepat tertangkap"

~*~ The Tailor shop at Enbizaka ~*~

"Seperti sepasang kekasih yang berhubungan dengan baik" itulah yang ibuku katakan padaku.

.

.

.

"Kimono berwarna merah, pita pinggang berwarna biru muda, penjepit rambut berwarna kuning. Aku memakainya di kepalaku, aku sudah menjadi tipe wanita yang kau sukai. Bagaimana? Bukankah aku cantik?"

.

.

.

Hari ini keadaan tetangga sebelah sepertinya sedang kacau, sekarang seorang pria telah terbunuh. Satu keluarga beranggotakan 4 orang, telah di bunuh oleh seseorang. Lagi pula kemarin dia bersikap sangat aneh.

"Senang bertemu denganmu" dia berkata. Dia seperti berbicara dengan orang yang tak di kenal.

'Tapi aku harus berkonsentrasi pada pekerjaanku' aku memegang guntingku dengan satu tangan. Gunting yang sekarang berwarna merah.

"Semakin kau menajamkannya maka akan semakin bagus untuk memotong…"

.

.

.

~Omake~

Seorang wanita cantik terlihat tengah berbicara dengan seorang pria berambut kuning.

"Senang bertemu denganmu" pria itu membuka pembicaraan terlebih dahulu.

"Se-senang bertemu denganmu juga, Naruto-kun"

"Lama tidak berjumpa, bagaimana keadaanmu Hyuuga-san"

"Aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? Aku dengar keluargamu…telah di bunuh oleh seseorang"

"Ya…prajurit dari istana masih menyelidiki pelakunya"

"Kuharap pelakunya tertangkap, aku turut berduka cita untukmu. Naruto-kun"

"Terima kasih, Hyuuga-san"

Mereka terdiam cukup lama, sampai…

"Naruto-kun…"

"Ya, Hyuuga-san?"

"Apa kau ingin tahu siapa pelaku dari pembunuhan terhadap keluargamu itu? Sepertinya aku mengetahui pelakunya"

"Be-benarkah? Kau tahu? Katakan siapa pelakunya Hyuuga-san!" pria bernama lengkap Uzumaki Naruto itu terlihat tengah menguncang-guncangkan tubuh wanita cantik di hadapannya. Tiba-tiba saja sebuah seringaian terukir di wajah cantik itu tak kala sebuah gunting menusuk perut sang pria. Darah segar menguncur dari bekas tusukan gunting tajam tersebut.

"Ya, aku lah yang telah membunuh wanita-wanita penggoda itu untukmu..."

Terbelalak, iris shappire itu melotot tak kala wanita cantik itu kembali mengarahkan gunting berlumuran darah tersebut padanya. Terdiam dengan seringaian yang masih terukir jelas di wajah cantiknya, menusukkan gunting itu berulang kali lalu memotong-motong tubuh tak bernyawa yang ada di hadapannya.

Sambil memegangin tangan sang "Kekasih" wanita itu tersenyum manis dan berkata. "Jika aku tak dapat memilikimu maka tak ada yang boleh memilikimu, Naruto-kun"

Memotong pergelangan tangan tersebut dengan gunting tajam, darah segar terus menyiprat kemana-mana. Bahkan ada yang menyiprat ke wajah cantik nan polos tampa dosa tersebut.

Keesokan paginya, mayat seorang pria di temukan dalam keadaan yang mengenaskan, satu desa ricuh dengan kejadian tersebut. Sekarang satu keluarga beranggotakan 4 orang telah tewas terbunuh oleh orang yang sama.

Pelaku tak dapat di temukan, bahkan hingga sekarang. Ada yang berkata bahwa pelaku sebenarnya dari pembunuhan tersebut adalah selingkuhan dari kepala keluarga Uzumaki tersebut, tetapi ada yang bilang bahwa pelaku sebenarnya adalah penyihir waktu [Ma].

Sedangkan wanita pemilik toko jahit yang bertempat tinggal di samping rumah korban, hilang entah kemana. Ada kemungkinan bahwa wanita cantik yang baik hati dan berbakat itu di culik oleh perampok atau sebagainya. Entahlah, semua orang tak ingin ambil pusing dengan masalah itu karna ada yang bilang. "Semakin kau mendalami suatu masalah maka kau akan terlibat masalah tersebut"

.

.

.

~Owari~

Chapter ini end dengan anehnya TvT adakah yang ingin berbaik hati untuk mengoreksi kesalahanku dalam pembuatan chapter ini? :'3

Review? Saran? Kritik? Flame? Not flame! Tapi boleh juga kok :'v

Yang lain boleh, asalkan selain flame.

Aku kerjain fic ini tengah malam lho! *kedip-kedipin mata* #kelilipan kucing lewat(?)