Waktu cepat berlalu, sekarang sudah musim ujian. Aku belajar dengan sungguh-sungguh. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang selama ini sudah terbuang. Akan kutunjukkan pada semua orang, bahwa mereka telah salah menilaiku! Akan kutunjukkan bahwa julukan "The Freaky Rukia" itu hanyalah julukan semata dan julukan itu tidak akan terucap lagi. Akan kubuktikan bahwa julukan "The Freaky Rukia" akan berganti menjadi "The Brainiac Rukia". Aku serius! Aku adalah orang yang tidak pernah plin-plan dalam menghadapi permasalahan sendiri.

Tapi, aku takut. Takut perubahan ini tidak membuahkan hasil. Orang bilang, "Merubah diri sendiri tidaklah semudah membalik telapak tangan." Maka dari itu, semua sifat burukku harus kuubah MULAI DARI SEKARANG! Aku tidak mau semua orang makin menjelek-jelekkan aku. Aku sudah bertekad, aku harus berubah! Aku pasti bisa! Nothing impossible if we can. When there is a will, there is a way. Maka, dimulailah perubahan pada diriku.

-ooOoo-

"...Kibou no kotoba wo takusan BAGGU ni tsumekonde tabi ni deta

Hikikaesu tabi ni kimi wa ukedomete kureta

Itsu no hi mo kotoba wo erabezu tohou ni kureru boku

Kotoba ni tayorazu dakishimeru kimi

Kimi no hou ga zutto sabishii omoi wo shite kita no ni..."

Pagi hari, aku sudah siap dengan semua perubahan yang ada di dalam diriku. Aku turun ke lantai bawah untuk sarapan. Begitu kagetnya ibu dan ayah saat melihat perubahan yang terjadi pada diriku.
"Pagi Bu, Yah. Hari ini sarapannya apa?" kataku lembut.
"P...pagi ini... s...s...a...sarapannya pake n...nasi goreng, sayang," kata Ayah gelagapan.
"Ya ampun, ini Rukia anak Ibu? Ya Tuhan, Ibu nggak percaya ini kamu, nak!" Ibu membelalak kaget.
"Masa sih? Ini Ruki anak Ibu dan Ayah. Ruki anak ke 2 dan Ruki punya abang yang tinggal di Australia. Iya kan? Ini Ruki, Bu, Yah." kataku sambil menyunggingkan senyum yang manis.
"Ayo nak, sini duduk! Hari ini kamu ujian ya? Ayo, sarapan dulu! Biar sedikit asal nggak bikin lemas badan kamu! Ibu ambilkan piringnya ya," Ibu menyiapkan piring dan mengambilkan nasi goreng sayurannya.
"Ini nih, susu cokelat kesukaan kamu. Ayah sudah buatkan buat anak Ayah yang paling cantik," Ayah memberikanku segelas susu favoritku.

-ooOoo-

Setelah sarapan pagi yang menyenangkan itu, aku segera berpamitan pada mereka. Lalu aku pergi menggunakan mobil kesayanganku, Mercedes Benz S-class, yang kubeli dengan susah payah dari hasil tabunganku.

Sebelum berangkat ke kampus, seperti biasa, aku selalu menjemput sahabat dekatku semenjak SD, Sayu. Sebenarnya dia bisa mengendarai mobil, tapi dia takut dan trauma pada pengalamannya dulu saat dia latihan mengendarai mobil, bagian depannya penyok karena menabrak pohon. Itulah alasannya mengapa ia selalu nebeng di mobilku.

"Say! Buruan dong, lo lupa ya hari ini ada ujian?" teriakku dari luar rumahnya.
"Iya gue lagi pake sepatu! Sabar dong, Ki!" balasnya.
Setelah dia keluar rumah dan mengunci pintu pagar rumahnya, dia masuk ke dalam mobilku. Seperti disambar petir di siang hari, dia terkaget-kaget setelah melihat perubahanpada diriku yang begitu drastis.

"Ki, ini beneran lo? Kok beda banget ya! Sumpah, lo cantik, modis, dan keren banget! Gak nyangka gue lo bakal ngelakuin ini," katanya takjub.
"Gue kan pernah bilang, gue gak pernah plin-plan dalam urusan permasalahan pribadi! Gue itu orangnya gak suka menunda-nunda sesuatu, seperti perubahan ini. Lo liat sendiri kan? Dari atas sampe bawah, gue udah berubah! Ini gue lakuin supaya orang-orang gak nganggep gue adalah "The Freaky Rukia" lagi!"
"Iya iya, gue percaya. Tapi sumpah, Ki. Lo tuh bener-bener kaya orang lain! Gue pangling sama lo!" ujarnya.
"Hehe, makasih ya friend. Sekarang kita berangkat aja, keburu telat! Lo gak mau kan kita dimarahin sama pak Ueno lagi?" tanyaku sambil menginjak gas. Akhirnya mobil pun berjalan. Tumben pagi ini nggak macet. Biasanya daerah sini biangnya macet, hehe.

Akhirnya kami sampai di kampus tercinta. Disini kami bingun mencari tempat parkir. Biasanya kami selalu parkir di dekat pintu masuk FIB, tapi kali ini tidak untuk kami. Tempat itu sudah ada yang menempati. Kalian tahu siapa? Ichigo Kurosaki, mahasiswa yang hatinya seperti batu dan sombong itu telah mengambil alih tempat parkir kami. Untung saja penjaga parkir memberitahu kami ada tempat untuk parkir yang masih kosong. Tempatnya di dekat pohon besar yang katanya agak angker. Tapi tak apalah, mobilku kan dilengkapi banyak tempelan ayat suci Al-Qur'an. Jadi tak masalah! Hehe..