"...Shagamikomu senaka wo sasutte kureru

Itsumo soba ni aru chiisana tenohira

Donna ni kirei ni kazarareta kotoba yori mo

Sono nukumori ni tasukerarete kita..."

Aku keluar dari mobil bersama Sayu. Kami berjalan ke arah pintu masuk. Pandangan semua orang tertuju padaku. Aku seperti orang terkenal saat itu. Mereka menatapku, seolah-olah aku adalah malaikat yang turun dari langit dengan membawa kebahagiaan pada manusia. Mereka saling berbisik dan menanyakan "...Apakah itu Rukia, mahasiswi jurusan sastra Jepang semester 5? Aku tidak percaya itu dia..."

Sebenarnya aku bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi aku diam saja, dan tersenyum lembut pada mereka. Dengan malu-malu, mereka membalas senyumanku. Aku tidak mau berlama-lama lagi di luar kelas, aku ingin sgera masuk ke kelas dan belajar.
Di dalam kelas, terlihatlah semua orang bergerombol. Sepertinya mereka sedang belajar untuk ujian kali ini. Pandangan mereka tertuju padaku dan Sayu saat aku menyapa mereka semua dengan kata "Selamat pagi..."

Dan si sombong itu? Tentu saja dia lebih-lebih memandangku. Mungkin saja saat itu dia berpikir kalau dulu dia telah melakukan suatu kesalahan besar dan sekaranglah saat yang tepat untuk meminta maaf. Tapi tak bisa, perbuatanmu sudah melampaui batas! Hatiku sudah terlanjur tersakiti. Susah untuk memaafkan orang yang telah menyakiti hatiku, walaupun itu orang yang baru kukenal.
"Say, duduk di samping gue ya! BFF harus selalu bersama, hehe." Kataku manja.
"Oke Ki, BFF harus selalu bersama!" jawabnya. Tak berapa lama kemudian bel masuk berbunyi dan Pak Ueno, dosen bahasa Jepang masuk kelas.
"Ohayou minna! (Pagi semuanya!)" katanya dengan lantang.
"Ohayou, daisensei, (Pagi, Pak)"para mahasiswa serempak menjawabnya.
"Kyou wa yakusoku-douri, wareware wa Nihongo no shiken da! (Hari ini seperti janji kita, ujian bahasa Jepang!)"
"Huaaaaa... Wareware wa junbi ga dekiteimasen! (Huaaaaa... Kami belum siap!)" beberapa mahasiswa terlihat kecewa dan belum siap menghadapi ujian.
"Kono shiken wa sukejuuru-douri ni, daisensei (Ujian ini hanya dibolehkan pada peserta yang siap saja, Pak)" kataku pede.
"Dare junbi kyoushitsu no sugu soto ni sa rete imasen hitsuyou ga arimasu, (Yang tidak siap lebih baik keluar dari ruang kelas,) " Sayu menanggapi.
"Ookeei! Hito kara kono kurasu no shutoku suru junbi ga dekite imasen! (Oke! Yang tidak siap, keluar dari ruang kelas ini!)" Pak Ueno menunjukkan muka sangar.
"Anata wa raishuu shiken o ukeru koto ga dekimasu! (Kalian bisa ikut ujian pada minggu depan!)" katanya menambahkan.

Hahaha! Memangnya enak kalian tidak belajar untuk ujian? Siapa suruh kalian menganggap remeh ujian bahasa Jepang? Ini lebih sulit daripada bahasa Inggris, tahu! Aku sudah berusaha belajar dengan baik! Jangan sampai nilaiku jelek, aku tidak mauuuuuuu. Ibu dan Ayah pasti akan memarahiku begitu mereka tahu kalau nilaiku jelek. Tidaaaaaaaakkkk!
Ujian berlangsung dengan tertib. Murid-murid tampak serius mengerjakannya. Ada yang senyum-senyum, ada yang berkeringat, ada juga yang sampai menggigit pulpennya. Semua begitu lucu. Aku sendiri mengerjakannya dengan baik. Yang bisa kujawab, kuisi dengan benar. Yang tidak bisa kujawab, kuisi saja tanpa asal-asalan. Nilai untuk satu soal ini adalah 2 poin, jika menjawab seluruh pertanyaan dengan benar (soal ada 50 butir) maka ia mendapatkan 100 poin (setara dengan nilai A+). Jika tidak dijawab atau dikosongkan, mendapat poin 0. Sementara kalau jawabannya salah, mendapatkan poin -1.

Waktu mengerjakan adalah 2 jam. Selesai tidak selesai, kertas akan diambil. Maka dari itu, mengerjakannya harus cepat asal teliti. Jangan lupa diperiksa lagi sebelum kertas akan diambil. Siapa tahu ada soal yang terlewatkan atau ada sol yang salah jawabannya. Dalam ujian kali ini aku memakan waktu untuk mengerjakan soal selama satu setengah jam. Aku masih punya sisa waktu 30 menit untuk mengoreksi pekerjaanku.
Jarum menit menunjukkan angka 2, menunjukkan waktu yang dibarikan telah selesai bahkan sudah lewat batas yang ditentukan. Maka semua kertas diambil oleh pengawas. Aku, Sayu dan yang lain segera keluar kelas karena waktu itu sudah istirahat. Kami pun pergi ke kantin untuk mengisi perut.

"Gila ya, Ki, soalnya lumayan banget! Gue pusing ngerjainnya," kata Sayu.
"Yah, gue akuin sih emang agak sedikit susah. Tapi kan gue udah belajar sebisa gue. Gue gak mau bikin orang tua gue sedih. Makanya gue bertekad akan menjadi individu yang lebih baik dari sebelumnya!" jawabku penuh kebanggaan.
"Bahasa lo, dalem banget! Iya deh yang udah berubah, haha. Tapi lo jangan sampe sombong ya kalo udah berubah! Gue gak suka sama oang yang angkuh karena dia merasa udah tinggi kedudukannya,"
"Kedudukan? Lo kira gue pejabat gitu? Ya nggak lah, Say. Gue akan berusaha menjadi orang yang ramah dan baik buat semua orang."
"Ya udah lah kalo gitu. Eh, kita belom pesen makanan ya? Pantes perut gue bunyi terus!" ujarnya.
"Lo pikirannya ke makanan melulu sih! Sini deh gue pesenin! Lo mau apa, ntar gue ambilin! Lo beli minumnya aja dulu!" kataku sembari berdiri dari kursi.
'Gue pesen nasi goreng aja deh! Minum lo apaan?" tanyanya.
"Buavita leci aja,"