"...Nani mo kamo umaku iku toki dewa naku

Nani mo kamo umaku ikanu toki ni koso

Hito wa taisetsu na sonzai ni kizuku no deshou donna boku mo aishitekureru kimi e

Arigatou itsu mo soba ni itekurete..."

Setelah aku menjalani diriku yang "baru", aku mulai merasakan adanya perubahan. Semua orang bersikap ramah dan sopan padaku. Mereka selalu menyapaku di kampus. Tak jarang juga banyak mahasiswa cowok yang nembak aku dengan cara mengirim bunga, surat berisi puisi, dan cokelat. Tapi semua kutolak dengan cara halus. Aku lebih senang menganggap mereka teman saja, tak lebih dari itu.

Hingga suatu saat ada seseorang yang berhasil membuat hatiku luluh. Dia tidak tampan, juga tidak jelek. Biasa saja. Pertemuan kami berlangsung secara singkat. Di toko buku, saat aku ingin membeli kamus kanji yang direkomendasikan oleh dosen sastra Jepang kampusku, Pak Ueno.
Saat aku ingin mengambilnya, tiba-tiba saja ada tangan seseorang yang juga mengambil kamus itu. Kebetulan kamus tersebut sudah tinggal satu, jadi siapa cepat dia dapat.
"Oh, maaf. Mau beli kamus ini juga ya? Silakan, ambil aja. Aku bisa beli di toko buku lain," kataku dengan malu.
"Kamu duluan aja. Beneran kok, nggak apa-apa. Aku sebenernya udah punya, cuma kurang lengkap. Ayo, ambil aja," jawabnya lembut.
"Oh, nggak kok! Kamu aja yang beli! Yang lebih membutuhkannya kan kamu, bukan aku. Aku bisa tanya sama dosenku kok, kamus mana yang lebih lengkap,"
"Kamu kuliah? Ini buat kamu aja, lebih penting buat pelajaran. Aku bisa beli di tempat lain. Lagipula ada pepatah ladies first kan? Buat kamu aja." katanya sambil tersenyum.
"Makasih ya. Kamu baik banget. Kalo gitu aku duluan ke kasir ya,"

-ooOoo-

Pagi hari saat aku ingin berangkat ke kampus, mobilku mogok di tengah jalan. Sayu sudah berangkat terlebih dahulu bersama temannya yang lain. Saat kubuka kap mobilnya, asap menyembul kemana-mana. Tak lama, ada seorang pemuda baik hati yang menawarkanku menumpangi mobilnya.
"Mobilnya kenapa, mbak?" tanya pemuda itu.
"Nggak tau, nih. Tiba-tiba mogok aja. Bisa tolongin saya ng.."

Betapa terkejutnya aku. Pemuda itu ternyata adalah orang yang memberikan kamus satu-satunya di toko buku!
"Kamisama, dia kan yang di toko buku waktu itu. Yang merelakan kamus satu-satunya dibeli oleh orang lain!" jeritku dalam hati.
"Kamu kan yang di toko buku tempo hari kan? Yang mau beli kamus juga?" tanyanya.
"Em.. iya! Memangnya kenapa?" balasku.
"Mobil kamu sebaiknya dibawa ke bengkel. Saya tahu bengkel yang dekat di sini. Saya panggilkan orang untuk membawanya ya!" katanya sambil berlari.
"Oh iya. Makasih!" teriakku padanya. Huft, Tuhan memang baik. Mengirimkan seseorang yang benar-benar membuatku jatuh hati padanya..