The Last Revolver
Summary: cerita tambahan dari chapter Muzzle of Nemesis, fic ini menceritakan tentang sudut pandang Konan- EIGHT- yang bekerja sebagai Pembunuh Bayaran dalam organisasi yang di pinpim oleh Kakuzu selama ini.awal dari dendam yang akan menjadi hukuman bagi sang Hakim tamak.
Read and Review?
The Last Revolver
Chapter 7.5
Warning:OOC, Alternate Universe,EYD dan Tanda baca hancur,garing,Gaje,Typo(s)dll
Rate: T
Naruto © Masashi Kishimoto
Kagerou Days ©Jin [Shizen no Teki-P]
Seven Vessel Deadly Sins (The Last Revolver) ©Akasuna Yuri Chan
The Last Revolver ©Mothy-sama [Akuno-P]
Translate © Suicune34
Don't like, Don't read
.
.
Happy Reading!
.
.
Jika kau pergi ke sebuah kota kecil di eropa, maka kau akan menemukan sebuah hutan yang dekat dengan lautan. Dan jika kau menyusuri hutan tersebut maka kau akan menemukan sebuah rumah kecil yang mungkin lebih tepatnya di sebut sebuah gubuk. Tidak ada hal yang istimewa di rumah kecil tersebut, hanya terdapat seorang gadis remaja yang terdiam mematung di depan sebuah kotak kecil yang sudah terbuka dan memperlihatkan isinya.
Pakaian seadanya dan keadaan yang juga jauh dari kata normal masih biasa baginya tapi yang dilihatnya sekarang jauh dari apa yang dibayangkannya. Hadia, dia baru saja mendapatkan hadia dari santa di musim dingin tahun ini. Bukankah seharusnya dia bahagia? Mendapat hadia bukanlah hal yang buruk, bukan? Tidak, ini tidak semudah itu. Dia sudah biasa apabila melihat santa mengirimnya sebuah senapan sebagai hadia natal tapi yang membuatnya tidak nyaman sekarang adalah perintah yang tertulis di surat yang di kirimkan bersama hadia tersebut.
"Bunuh dia!"
.
.
~*~ The_Last_Revolver ~*~
.
.
*Konan pov*
Santa memberiku sebuah senapan, dengan peluru asli di dalamnya. Terbiasa, ya aku sudah biasa dengan hal ini. Aku melihat sebuah surat dengan amplop hitam dan mmbacanya, syok. Aku terdiam saat membaca isi surat tersebut yang berisikan perintah bagiku untuk membunuh seseorang, aku terdiam. Cairan hangat mengalir di pipiku, pikiranku buyar seketika.
Perintah adalah mutlak
.
.
.
.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku ingin bertemu denganmu. Pertemuan kita ini akan menentukan segalanya, percuma! Pikiranku kosong, apa yang harus aku lakukan Bu? Apakah aku harus menuruti perintahnya seperti biasa? Ataukah aku...
Aku pun mengarahnya padamu. Mengarahkan senapan yang baru di berikan oleh santa, di tempat ini aku akan mengakhiri semuanya...
"Selamat Tinggal..."
...Kekasihku.
Jika saja kita dapat kembali dan mengulang lagi semuanya, maka aku ingin kita pergi ke fertival musim panas bersama dan melihat kembang api bersama lagi.
Maafkan aku karna hal itu, aku tahu hal itu sudah tak mungkin dapat terjadi lagi. Sejak awal semua di antara kita sudahlah berbeda. Aku kembali teringat akan kenangan saat kita pertama kali bertemu.
.
.
.
.
Saat itu sedang musim semi, sama seperti sekarang. Aku mendapat perintah untuk membunuh seseorang, aku menjalankan perintah tersebut dengan baik pada malam harinya. Banyak penegak hukum datang tak lama setelah mendengar suara tembakan.
Aku melihat mereka tengah sibuk mengevakuasi mayat seseorang yang baru saja kubunuh, aku pergi menjauh dan aku merasa seseorang melihatku pergi. Di bawah pohon sakura, kau bertemu dengan 'Diriku yang jahat' dan kau berada pada sisi 'Keadilan'.
Aku berdiri terdiam di bawah pohon sakura, merenungi apa yang telah kuperbuat hari ini. Tiba-tiba saja seorang pemuda berambut jingga muncul.
'Pedang itu...seorang penegak ya?' pikirku. Saat itu tatapan mata dan ekpresi wajahku sangat dingin, tak menunjukkan secuil pun emosi disana. Kau disana, tersenyum padaku lalu menghampiriku.
"Siapa namamu?" tanyamu padaku sambil mengulurkan tanganmu padaku. Aku hanya melihatmu sekilas sebelum kembali terdiam, kau tersenyum canggung. "Ah ya, namaku Yahiko dan kau?"
'Kau ini tipe yang tidak pantang menyerah ya? terserahlah'
"Konan"
"Maaf?"
"Namaku Konan" ulangku datar.
"Konan ya? Nama yang manis seperti pemiliknya" ucapmu sambil tersenyum dan mengusap pelan puncak kepalaku.
Akan tetapi, aku malah berakhir menyukaimu. Ini bukanlah pertama kalinya aku menembak manusia, tapi ini akan menjadi pertama kalinya, aku menembak dan menangis. Semua ini adalah salahku sejak awal, jadi tolong jangan berikan tatapan penuh kebaikan itu padaku...
.
.
.
.
Di musim semi, kita bertemu dan saling jatuh cinta.
Di musim panas, kita membuat kenangan terbaik.
Di musim gugur malam, kita menjadi satu.
Di musim dingin ini, aku akan mengakhiri semuanya.
Itu adalah satu tahun terbaik yang pernah kualami selama hidupku, aku tak akan pernah melupakannya karna itulah...
.
.
.
.
Tanganku pun akhirnya mengarahkannya padamu, jariku tak dapat bergerak sebelum aku melakukannya.
Aku mengatakan. "Maaf" untuk terakhir kalinya, dan kau pun berkata...
"DOR!"
.
.
.
.
Jika saja kita dapat kembali dan mengulang lagi semuanya, maka aku ingin kita pergi ke fertival musim panas bersama dan melihat kembang api bersama lagi.
Tolong jangan mengkhawatirkanku, sebentar lagi kita akan dapat bertemu kembali. Berjanjilah kita akan terus bersama apapun yang terjadi.
"DOR!"
.
.
.
.
.
~Omake~
Ada apa ini? Aku tidak dapat merasakan apapun, apakah aku sudah mati? Tubuhku terasa hangat, tunggu! Bukankah aku sudah tertembak? Lalu kenapa aku masih hidup? Tak ada darah yang keluar dari kepalaku padahal aku sudah menembak diriku sendiri, bagaimana ini bisa terjadi? Mengapa? Bagaiman bisa? Tak ada rasa sakit apapun...
Tunggu! Yahiko? Dimana yahiko? Apa dia masih hidup?
"Kau ingin tahu? kenapa kau masih hidup, padahal kau sudah bunuh diri?"
Ibu? Kenapa ibu disini? Bagaimana bisa? Bukankah ibu sudah...
"Putriku Konan, apakah kau masih memiliki kunci yang ibu berikan padamu dulu?"
Kunci? Kunci apa bu? Kunci apa yang ibu maksud?
"Begitu...pasti kunci itu telah menyatu dengan tubuhmu karna itu tubuhmu menjadi abadi, yasudahlah. Sudah tidak ada yang menarik lagi bagiku, untukmu Konan, putriku. Dengarkanlah aku baik-baik, tubuhmu sekarang abadi itu artinya kau tak akan bisa mati. Pikirkanlah baik-baik apa yang akan kau lakukan untuk menghabiskan waktumu yang tak terbatas"
Abadi? Tak terbatas? Apa maksud ibu?
"Maafkanlah ibu, ibu harus pergi. Ayahmu membuat kekacauan lagi"
Ayah? Benar, ayah harus bertanggung jawab! Yahiko, beristirahatlah dengan tenang karna aku akan membalaskan dendammu...
.
.
.
.
.
.
END
