Chapter 7, silakan dinikmati semua.. *emangnya makanan?*
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
"...Utsukushii omoi dake ja ikirarezu
Yakusoku no sora mo yogoshite shimaeta
Anna ni kirei ni suki tooru sora no shita de
Sono ao ni kanarazu to chikatta no ni..."
Takumi memegang tanganku. Lalu dia bilang kalau dia tak mau berpisah dariku.
"Aku mau kita selalu bersama-sama selamanya. Ini permohonanku, tolong dijawab," katanya pelan.
"Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti deh. Kamu jangan bercanda ya, udah malem nih." tanyaku.
"Kalo aku boleh jujur, aku suka sama kamu. Sejak pertemuan pertama kita di toko buku, aku bener-bener suka sama kamu! Kamu begitu baik, cantik.. Kamu beda dari yang lain, kamu istimewa! Aku hanya ingin bilang kalau... Aku cinta sama kamu. Mau kan kamu jadi pacarku?"
DUAAARRR. Seperti bom atom yang meledak di hatiku. Aku kaget dan tak percaya. Dia menyukaiku? Oh Tuhan, terima kasih! Kau telah mengirimkan seseorang yang akan membahagiakan aku dan jauh lebih baik daripada Icchi. Aku senang sekali mendengarnya. Aku tak sabar ingin menceritakan hal ini pada sahabatku, Sayu.
-ooOoo-
Seminggu setelah aku berpacaran dengan Takumi, aku semakin bersemangat menjalani , sudah tak ada lagi yang namanya kesepian dan kesedihan.
Aku bahagia sekali, sampai menyisir pun sambil menyanyi-nyanyi. Ibu yang melihat anak bungsunya yang seperti kerasukan setan senang jadi khawatir, takut-takut anaknya dicuci otak sepulang dari makan malam.
"Kamu kok kelihatanya senang sekali ya, sayang?" tanya Ibu.
"Banget, Bu. Semalam Takumi nyatain perasaannya ke Ruki," jawabku sambil menyisir.
"Oh. Bagus dong kalau begitu? Kamu jawab apa?"
"Sudah pasti aku jawab iya. Orang secakep dan sebaik itu kok ditolak sih,"
"Aduh, anak Ibu sudah punya pacar. Tapi kamu harus hati-hati ya. Jangan sampai terjerumus ke hal yang nggak-nggak," pesan Ibu.
"Iya kok, Bu. Aku kan sudah besar, aku bisa jaga diri sendiri. Ibu jangan khawatir ya," kataku.
"Ya sudah. Kamu cepat ke bawah, sarapan dulu habis itu berangkat kuliah. Nggak mau terlambat kan?"
"Beres deh, Bu. Nanti Ruki nyusul ke bawah." kataku.
-ooOoo-
Setelah selesai sarapan, aku berangkat ke kampus. Eits, jemput Sayu dulu. Kasihan dia, masa sahabatku sendiri nggak dibolehin nebeng sih? Hehehe.
"TIN, TIIIIN!" klakson mobilku berbunyi sangat kencang.
"Sayuuuu! Ayo cepetan keluar! Gue ada kabar bagus nih!" teriakku dari luar.
"Iya iya, gue ambil sepatu dulu!" balasnya dari dalam rumah. Setelah dia masuk, mobil pun berjalan menuju kampus tercinta. Lalu kuceritakan semua yang kualami sejak pertama bertemu dengan my lovely Takumi.
"Say. Lo kenal Takumi gak? Nama lengkapnya Takumi Fujiwara." tanyaku.
"Eh? Anak sasjep juga ya? Kayaknya pernah denger deh." jawabnya.
"Iya! Tau dari mana lo dia anak sasjep juga? Wah, ada mata-mata nih,"
"Oh iya! Gue kenal dia, kok! Dia anak sasjep juga sama kayak kita, cuma waktu kelasn dan dosennya beda sama kita," kata Sayu.
"Lo tau gak, waktu itu gue ketemu dia di toko buku! Lucunya nih, dia ngambil kamus yang kebetulan sama-sama kita butuhin. Tapi dia ngerelain kamusnya gue yang beli, udah tinggal satu sih jadi siapa cepat dia dapat,"
"Wah, gila tuh! Terus terus apa lagi?" tanyanya.
"Pas mobil gue mogok di pinggir jalan, gue ketemu lagi sama dia! Dia sampe repot-repot manggilin montir segala. Abis itu gue nebeng deh di mobilnya!" kataku senang.
"Jodoh kali lo sama dia! Sukur deh temen gue udah dapet penggantinya, hahaha,"
"Iya, makasih ya sob. Oya satu lagi! Dia nembak gue loh! Bayangin deh, paginya dia masih sempet numpangin mobilnya buat gue, pas malemnya dia ngajak gue dinner! Wah, gila gak tuh? Udah gitu dia ngasih gue kalung pula. So sweet banget deh," kataku menjelaskan.
"Asik asik, PJ PJ PJ..." katanya kegirangan.
"Ntar pas di kantin gue traktir lo deh! Tenang aja,"
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Ayo, ayo.. saya tunggu review-nya
