Yaampun, cepet banget ya udah di chapter 8? Haha, nggak sih, masih ada 2 chapter lagi kok yang harus kalian baca! *ngarep dibaca sih* haha. Okedeh.. silakan!

/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\

"...Hibiwareta risou wo tebanasenu mama

Ikite kita hibi wo omoikaesu kedo

Ushiro bakari mitetara ashita ga kanashimu kara

Hito wa mae ni susumu shikanain da yo

Me no mae ni iru ai subeki hito no tame ni mo..."

Saat di kantin, aku menepati janjiku pada Sayu, akan mentraktirnya. Dia sepertinya senang kalau aku sudah mendapatkan seseorang yang nantinya akan membahagiakanku dan orang yang jauh lebih baik dari Icchi.

"Slrrrppp... eh iya, ngwomong-ngeomong cowok lwo adwa dwimwana? Kwok gwue gak ngweliat dya sih?" tanya Sayu sambil mengunyah makanan.
"Aduh Say, makanannya ditelen dulu dong! Nanti lo keselek, gue yang disalahin," kataku.

GLEK. Tertelanlah makanan tadi dan masuk ke perutnya. Lalu dia terus bertanya-tanya bagaimana hubunganku dengannya.
"Gimana lo sama dia? Baik aja kan, nggak ada apa-apa? Awas aja kalo dia beneran nyakitin lo, nih! Bogem mentah nempel di mukanya!" katanya.
"Lebay ah lo, nggak lah. Gue baik-baik aja sama dia. Malah hari ini gue mau dikenalin ke orang tuanya,"
"Gila lo! Udah kayak mau nikah aja pake dikenalin segala!"
"Penting juga kali. Kalo ortunya ngira dia pacaran sama cewek yang nggak bener, mereka pasti marah-marah dan minta dia mutusin gue. Gue nggak mau, Say! Baru jalan juga udah putus aja," kataku sambil meminum buavita leci kesukaanku.

"Haha, iya juga sih. Eh, gue boleh nambah lagi gak? Lapeeeeerrr," katanya memelas.
"Tambah aja, kan gue yang bayar," jawabku.

-ooOoo-

Sepulangnya dari kampus, aku dan Sayu menumpang pada mobil Takumi. Hehe, aku sekarang sudah ada yang antar-jemput. Yang kusenangi, Sayu boleh ikut menumpang! Asyiknya bercanda dengan sahabat, karena kebersamaannya takkan terlupakan.

"Takumi, gue boleh ke rumah lo gak? Pengen main aja, hehe." tanya Sayu.
"Hem? Boleh, kan sekarang kita lagi jalan menuju ke rumah gue,"
"Wah, enak dong Sayu. Belom pernah kan? Nah, nanti deh kalo udah nyampe lo pasti bakal kaget!"
"Oya, sebesar apa rumahnya? Pastinya lo seneng kan punya rumah besar dan mewah?" tanyanya.
"Ah, nggak lah. Gak enak punya rumah besar tapi orangnya sedikit. Bokap nyokap gue pada suka pergi keluar kota. Kadang pernah ke luar negeri sampe beberapa bulan. Gue sendirian disini, dan kakak gue yang cewek lagi ngambil S3 di Inggris. Disini juga paling adanya pembantu, tukang kebun, dan gue. Tapi untungnya ada dia, jadi gue gak sendirian lagi deh," kata Takumi sambil memegang tanganku.

"Ehem, panas juga ya disini? Lo gak nyalain AC ya, Ki? Kok panas amat sih?" Sayu menggoda kami.
"Lepasin ah, malu tau. Ada Sayu sih, hehe." kataku sedikit berbisik.
"Iya iya, aku lepas,"
"Cie, Ruki kok mukanya merah gitu ya? Kenapa?"
"Apaan sih, Say? Gak lucu tau ah, udah deh gue kan jadi malu!"
"Haha, udahlah Say. Pacar gue malu nih digodain lo!"
"Asik asik, PJ PJ. Mas, mbak, mana PJ buat saya, hah? Traktir doang sih nggak cukup!" kata Sayu.
"Ntar di rumah gue ya, gak sabaran banget sih lo. Haha," jawab Takumi.

-ooOoo-

"Gila, ini rumah lo? Besar banget ya. Gue aja keliatannya kecil begini," kata Sayu terkagum-kagum.
"Haha, tapi sepi kan? Gue yang jadi kena sialnya kalo lagi sendirian disini, haha. Udah masuk aja, pokoknya seneng-seneng aja dulu disini sampe puas!"
"Ya udah deh, kalo dipaksa. Eh, gue haus nih. Minta minum dong, hehe. Sorry ya ngerepotin!" teriaknya.
"It's Ok, kan ada pembantu gue ini kok yang nyiapin. Gue ke dapur dulu ya, nyuruh nyiapin minum dan cemilan buat kalian!" jawabnya.

"Ki, lo beruntung banget punya cowok seperti dia! Udah kaya, nggak sombong, baik, cakep lagi! Gue jadi iri nih sama lo, haha." Sayu
"Ya, nanti ada kok buat lo! Cuma belom waktunya aja kali, percaya sama gue, ada kok cowok yang nantinya bakal jadi sama lo," kataku.
"Serius lo? Haha, jangan sok ngeramal deh," katanya meremehkan.
"Menurut pandangan mata gue, cowok lo itu nantinya dateng secara tiba-tiba, dan dia suka sama lo sejak pertama ngeliat. Yah, bisa dibilang dia love at first sight gitu lah sama lo."

"Wah, nggak boong lo, Ki? Gila, sejak kapan lo bisa ngeramal gitu?" tanya Sayu heran.
"Aduh, gini nih kalo sistem otaknya udah mulai down, jadi kayak nenek-nenek pikun. Waktu SMP lo kan pernah ngebuka mata batin gue! Gimana sih? Lupa ya?" kataku.
"Oh, yang waktu itu di rumah gue kan? Iya iya, inget kok.
Setelah kita berbincang-bincang, tedengarlah suara Takumi dari arah dapur.

"Nih minumannya. Buat sayangku, ini buavita leci kesukaan kamu. Kalo Sayu, ini jus jeruk. Oh iya, ini cemilannya, dimakan ya," katanya.
"Ah, kok repot-repot segala sih? Pake cemilan pula," aku protes.
"Ih kamu, kok nggak suka sih pacarnya bawain minum dan cemilan? Ya udah kalo nggak mau buat aku aja," katanya sambil duduk dan mencubit pipiku.
"Aduuh, mesra-mesraannya jangan didepan gue! Kan jadi kepengen juga gue digituin!" teriak Sayu.
"Hahaha, cemburu nih yeee..." kata kami berbarengan.

/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\

Apa yang terjadi selanjutnya? Tunggu di chapter 9 yah! Hahahha *dasar gila*