Yak, chapter hampir terakhir *emang ada ya hampir terakhir?* ini nih suah selesai.. ayo dibaca ^^

/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\

"...Me ni mienu kizuato wo sasute kureru

Yasashii tenohira ga aru to iu koto

Sekaijuu ni hakuju wo morau koto yori zutto

Taisetsu na mono ga soba ni atta ..."

Saat kami bertiga memasuki pintu masuk, semua mata tertuju padaku dan Takumi. Juga Icchi yang sedang di loker, dia melihatku. Melihatku dari kejauhan penuh dengan rasa amarah.

Terlihat jelas, dia sangat cemburu padaku. Saat kami bertiga berjalan melewatinya, kedua temannya, Asano dan Kojima, menyapaku.
"Pagi, Rukia. Hehe, kamu masih tetap cantik seperti biasanya ya," kata Asano. Kojima tak mau kalah. Maka dia juga menyapaku.
"Iya, sampai-sampai wajahmu mengalihkan duniaku," Icchi yang tak sengaja mendengarnya, lalu berbalik badan dan berteriak marah.

"Apa-apaan sih kalian? Dia udah punya cowok! Lihat itu, mereka bergandengan tangan! Kalian tidak bisa memilikinya, karena dia sudah punya pacar!" teriak Icchi marah, membanting pintu loker, lalu dia berjalan, pergi entah kemana.

Aku tahu, sebenarnya dia marah begitu bukan untuk Asano maupun Kojima, tapi dia marah untuk dirinya sendiri. Tapi kenapa dia cemburu padaku? Bukannya waktu itu dia sudah menolakku habis-habisan? Apakah ini hukum karma untuknya karena sudah membuatku down mental dan patah hati? Biar waktu yang menjawabnya.

"Ki, kok si Icchi jadi sensi gitu sih?" tanya Sayu agak berbisik.
"Mana gue tau, haha. Udah ah jangan ngurusin orang lain," kataku.
"Nanti gue tanya ke Asano atau Kojima deh, mungkin mereka tau kenapa dia jadi marah-marah gitu tadi,"
"Kamu mau duluan kan? Aku masih ada urusan sama Sayu."
"Oh, oke. Jam istirahat aku tunggu kalian di kantin ya?" kata Takumi dari kejauhan.
"Iya, nanti jam istirahat aku sama Sayu ke kantin," kataku.

-ooOoo-

Di kelas, aku berbicara panjang lebar pada Sayu.

"Udah deh, Say. Lo masih mau kalo gue jadi ceweknya? Sori ya, tapi gue udah nggak ngarepin dia lagi! Emang sih dulu gue pengen banget dan berharap banget kalau dia bakalan jadi cowok gue, tapi sekarang lo liat kan? Gue udah nemuin cowok pengganti buat dia dari hati gue! Dan Takumi jelas berbeda dari Icchi! Dia baik, nggak kayak Icchi yang bisanya nyakitin hati gue doang! Lo kan juga pernah bilang ke gue kalo Icchi itu cowok bejat, ngeliat gue dari fisik bukan dari hati! Sori ya gue jadi marah sama lo, tapi ini gue lakuin buat kebahagiaan dia juga kan? Gue harap dia bisa nemuin tambatan hatinya yang sesuai kriterianya. Yang nggak freak, yang nggak aneh, dan yang gak banyak minusnya seperti gue." lalu aku pergi menghambur keluar dari kelas.

"Tunggu, Ki! Mau ke mana lo?" teriak Sayu dari pintu kelas.
"Ke toilet, kebelet!" jawabku.
Kakiku terus berlari dan berlari, sampai akhirnya aku telah sampai di toilet.

-ooOoo-

Aku menangis, menangis karena sedih. Kamisama, aku harus berbuat apa? Haruskah kuputuskan Takumi untuk mendapatkan Icchi? Nggak, itu ide yang buruk, sangat-sangat buruk! Tidak mungkin aku memutuskan hubunganku dengan Takumi yang baru sebentar ini, hanya demi orang seperti Icchi?

Tidak, Tuhan pasti marah padaku kalau aku melakukan ini. Tuhan pasti akan menghukumku kalau tahu aku telah mengakhiri hubungan itu dengan pria yang telah dipilihnya.
"Kamisama, apa yang harus kulakukan? Aku dilema! Aku memang masih mencintai Icchi, tapi aku tak bisa memutuskan Takumi. Aku harus apa?" kataku. Sayu menemukanku sedang menangis di depan wastafel, lalu dia bejalan perlahan dan menepuk pundakku.

"Rukia maafin gue ya? Gue gak maksud ngomong gitu ke lo. Dan maaf juga ya, tadi gue denger apa yang lo omongin. Gue tau lo masih cinta sama Icchi, tapi lo gak bisa mutusin Takumi! Gue akan bantu lo keluar dari masalah ini, gue janji," kata Sayu.

Aku yang kaget karena Sayu mendengar semua omonganku tadi, perlahan-lahan mulai tenang dan memeluk sahabatku.
"Makasih ya, Say. Gue gak tau lagi harus ngomong apa ke lo, gue seneng bisa punya sahabat seperti lo."
"Iya, nggak apa-apa kok. Udah lo jangan nangis lagi, nanti Takumi curiga ngeliat lo! Udah, hapus air matanya, mata lo basah tuh. Nih tissue," Sayu memberikanku sebungkus kecil tissue.

Aku mengusap semua air mataku, dan berhenti menangis. Aku tahu, aku bukan orang yang lemah dan cengeng. Aku harus kuat! Aku tak boleh menyerah! Kalau dia memang jodohku, dia pasti akan menungguku. Lalu aku kembali ke kelas dan duduk dengan tenang.

Tak lama, dosen matematika datang. Kami belajar dua jam penuh. Kepalaku sangat pusing, aku tak sanggup berpikir. Tapi Sayu tetap menyemangatiku.

"Jangan nyerah, Ki. Demi orang yang dicintai yang ada di depan mata, kita harus rela berkorban apapun demi dia! Lo jangan nyerah gitu aja!" kata Sayu dari belakang.
"Iya, makasih. Gue udah nggak pusing lagi kok, hehe." jawabku.

/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\

Haha, kasian juga Rukia, mengalami tekanan batin yang amat sangat menyedihkan *dalem amat bahasa lo fit XD*

Yak, karena ini chapter hampir terakhir *gaje* maka tolong di review yah kawan ^^