YEAAAAAAAAAAH! Chapter terakhir yang agak panjang dan menyedihkan! Kita lihat, apakah Rukia tetap bersama Takumi, atau dia berubah pikiran dan lebih memilih Ichigo? Baca dan temukan jawabannya disini!
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
"...Isogashiku kurasu hibi ni mayoi komi
Omoiyari ga muimi ni omoete mo
Nidoto nakushite kara kizuku koto no nai you ni
Konna boku wo aishite kureru kimi ni
"Arigatou" no uta wo tsukurimashita..."
Dua bulan telah berlalu. Aku merasakan adanya keanehan pada hubunganku dan Takumi. Dia sering tak memberi kabar, dia sering lupa mengantarku pulang, dia sering terburu-buru, dan yang paling parah lagi adalah dia sering berbohong padaku.
"...Me ni mienu kizuato wo sasutte kureru..." sudah kuduga, pasti Takumi yang menelpon.
"Halo sayang, maaf ya aku nggak bisa nganterin kamu pulang, soalnya mama sama papa udah ada di bandara. Gak apa-apa kan, sayang? Kamu pulang bareng Sayu aja ya, besok aku janji deh akan nganterin kamu pulang," katanya. "Udah dulu ya, aku udah nyampe nih, nanti aku telpon lagi. Bye!"
KLIK! Kumatikan telpon darinya. Aku tahu dia berbohong lagi padaku, dan aku pura-pura menurut saja apa yang dikatakannya.
Aku muak dengannya yang terus-terusan membohongiku seperti anak kecil. Aku muak dengannya yang selalu membuat alasan tak beguna. Aku muak dengannya! Ternyata benar apa kata Sayu, jangan menyerah demi orang yang dicintai yang ada di depan mata kita.
Ya, Icchi, dia memang cinta sejatiku. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin bicarakan semuanya. Aku ingin memeluknya.
"Ki, gimana? Takumi kok belom jemput kita juga, sih?" tanya Sayu penasaran.
"Dia ke bandara, jemput ortunya,"
"Yah, kita pulang naik apa dong? Masa kita naik angkot?" protesnya.
"Lebih baik naik angkot daripada nggak pulang sama sekali. Udah yuk, kita cari angkot aja!" akhirnya kami terpaksa naik angkot.
Di dalam angkot, sepi sekali. Hanya ada beberapa orang di dalamnya. Ada ibu-ibu membawa keranjang belanjaan, seorang pria berumur sekitar 30-an, dan dua orang pelajar SMP.
"Duh, kapan nyampenya nih?" tanya Sayu.
"Sebentar lagi juga udah nyampe, kok." kataku.
Setibanya di rumahku...
"Gue ke main rumah lo dulu ya? Rumah kita kan jaraknya gak jauh-jauh amat, males gue pulang ke rumah,"
"Oh, ya udah. Kebetulan nyokap bokap gue lagi pergi ke Australia selama 2 minggu, soalnya kakak gue lagi sakit. Makanya mereka kesana. Gue nggak keberatan lo nginep di rumah gue, gue juga lagi sendirian nih!" kataku.
"Ah, tau gitu sih gue pulang dulu aja sekalian ngambil baju. Bilang dong dari tadi!"
"Yah, gue baru inget sekarang. Gimana sih lo? Gue anterin ke rumah lo deh, yuk!" aku segera mengambil kunci mobil.
-ooOoo-
"Tunggu disini ya, gue ke dalem dulu ngambil baju-baju sekalian keperluan gue buat nginep nanti. Gak lama kok! Kalo lama, lo turun aja," katanya.
"Oh oke, gue tunggu aja deh, nggak lama ini," balasku.
Sekitar 15 menit, dia belum keluar juga. Karena penasaran, maka aku turun dan mengunci mobil lalu masuk ke dalam rumah Sayu.
"Saaaay? Di mana sih lo? Lama banget deh ngambil baju doang!" teriakku.
"Gue di kamar, Ki! Kesini aja!" katanya.
Akhirnya aku masuk ke kamarnya dan melihat ke arah tumpukan baju-baju.
"Yakin lo mau bawa ini semua?" tanyaku.
"Nggak lah, beberapa. Cuma 2 minggu doang kok bawaannya banyak banget?"
"Kirain gue mau lo bawa semuanya. Beresin dulu deh yang berantakan! Lagian lo sih pake dikeluarin semua, sini gue bantuin beresin," kataku.
-ooOoo-
Sesampainya di rumah, Sayu langsung mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Dia sengaja mengganti bajunya lebih awal agar nanti saat sudah malam dia tak lagi harus mengganti baju.
"Ki, gue pinjem komputer lo ya! Mau online sebentar. Abisnya gue gak ada pulsa sih, Hehe," tanyanya.
"Pake aja, gue lagi males buka facebook nih! Lo pake aja semau dan sepuas lo, gue mau sms nyokap dulu," kataku sambil menyentuh layar HP dan menaruhnya di meja komputer, tepat dimana Sayu sedang memainkan komputerku.
(hape Rukia adalah iPhone 16 GB loh, keren yak! XD)
"Ki! Lo liat deh statusnya Icchi! Dia bilang "haruskah kumati karenamu?" haha! Lucu banget ya?"
"Komenin gini aja 'mati demi siapa?' pasti nanti dibales deh! Haha," kataku.
"Okeh, haha. Gue tulis ah,"
"Tulis aja, biar tau rasa tuh dia. Siapa suruh dulu pernah ngeremehin gue? Sekarang giliran gue udah berubah, dia baru ngerespon." jawabku sambil mencari-cari buku di rak.
"Eh eh, dia bales tuh, Ki! Katanya 'mati demi dia, yang selama ini udah gue tolak dan gue abaikan. Gue rela banget mati demi dia, gue sadar sekarang kalo gue sebenernya juga suka sama dia' dia bilang gitu, Ki! Balesnya apaan dong? tanya Sayu.
"Lo bales aja gini, 'kenapa baru sekarang lo sadar setelah dia udah ada yang punya? Lo udah nyia-nyiain waktu yang ada, dan sekarang waktu itu gak bisa diputar lagi.' Pasti dia bales deh,"
"Oke oke, gue ketik juga,"
"Oreta awai tsubasa kimi wa sukoshi..." suara HP-ku berbunyi di meja tempat Sayu sedang mengetik.
"Oy, ada sms nih! Baca dulu!" teriaknya sambil melemparkan HP-ku ke arah kasur.
"Iya iya, tapi gak usah pake dilempar kali. Ntar juga gue kesana!" kataku. Aku mengambilnya dan membacanya dengan perlahan. Ternyata itu dari Icchi, dia bilang kalau besok dia ingin aku menemuinya di loker kampus setelah pelajaran bahasa Jepang usai. Katanya ada hal penting yang ingin dia bicarakan.
-ooOoo-
Esoknya setelah pelajaran bahasa Jepang usai, aku segera keluar dan pergi ke arah loker penyimpanan. Aku bertemu dengan Icchi. Dia sudah berada disana lebih awal. Aku menatap wajahnya. Wajahnya terlihat aneh, kosong tanpa ekspresi.
"Ada apa? Gue masih ada jam matematika habis ini!" kataku.
"Gue cuma mau bilang kalo..."
"Apa? Cepetan,"
"Gue..."
"Ayo buruan, bel sebentar lagi berbunyi," kataku memaksa. Lalu tiba-tiba Takumi datang. Dia melihatku yang sedang berbicara dengan Icchi.
"Ada perlu apa sama cewek gue? Mendingan lo pergi aja deh. Urusin tuh diri lo sendiri. Bukannya lo gak suka sama cewek yang banyak minusnya? Gak usah ganggu cewek gue lagi!" katanya marah.
"Oh, ya udah deh. Maaf kalo gue udah ganggu waktu kalian. Sori ya," katanya lalu pergi, pergi jauh sampai aku tak bisa melihat bayangannya lagi.
"Ayo, kita ada kelas matematika hari ini." Kata Takumi menarik tanganku
-ooOoo-
Di kelas, aku memikirkan keberadaanya. "Sedang apa ya dia sekarang?" pikirku dalam hati.
"Rukia, Rukia Kuchiki!" teriak Pak Yoshiki.
"Eh, i...iya Pak?" kataku gugup.
"Coba kamu ulangi apa yang tadi saya terangkan! Maju kedepan!" teriaknya.
Aku maju ke depan dan memperhatikan papan tulis. Aduh, ini kan pelajaran tentang matriks? Aku sudah lupa tentang pelajaran ini saat di SMU dulu. Pasti aku akan dimarahi jika tak bisa menjawab.
"Aduh, em... Maaf, Pak. Saya belum mengerti tentang matriks yang ini, hehe," kataku nyengir.
"Makanya kalau saya sedang menerangkan, kamu sebaiknya memperhatikan! Duduklah!" katanya marah.
"Hahahaha, bengong mulu, sih!" celetuk seseorang di belakang.
-ooOoo-
Saat istirahat, aku dan Sayu bertemu dengan kedua temannya, Asano dan Kojima. Lalu aku menanyakan keberadaan Icchi pada mereka.
"Hmm, aku tak melihat dia tadi saat pelajaran Sejarah modern. Iya kan, Kojima?" kata Asano.
"Tapi saat aku ingin ke toilet, aku melihatnya berada di ruang kepala sekolah. Dia membawa tas dan jaketnya. Setelah itu aku tak tahu lagi. Mungkin saja dia pulang ke rumahnya! Kalian ke rumahnya saja saat jam telah usai," kata Kojima memberitahu.
"Oh, begitu ya. Boleh tahu dimana alamat rumahnya?" tanyaku.
"Nanti kuberi tahu lewat sms, tenang saja," jawabnya.
"Baiklah, trima kasih ya! Kami berhutang budi pada kalian!" kata Sayu.
"Tak apa, Rukia! Kami senang membantu gadis cantik sepertimu!" teriak Asano.
-ooOoo-
"Kojima bilang, rumahnya masuk ke komplek ini." kata Sayu.
"Masa? Ini kan komplek tempat tinggal kita!" jawabku.
"Oh iya! Gue gak liat gapuranya, haha. Abis itu kemana lagi?"
"Kalo di sms sih katanya abis dari gapura jalan terus aja sampe ada pertigaan, dari pertigaan pilih ke kanan. Nah, katanya kalo ke kanan itu jalan rumahnya! Cari aja yang nomer 16, gitu,"
"Loh? Ini bukannya jalan ke rumah lo, ya?" tanya Sayu heran.
"He? Iya yah? Tapi fokus ke rumahnya Icchi dulu, deh! Lo cari rumah yang nomer 16 aja! Gue jalannya pelan kok!"
"13, 14, 15 16! Nah itu dia, Ki! Ternyata rumahnya cuma dua kali dari rumah lo!" kata Sayu.
"Iya iya, gue liat! Eh, kayaknya di rumahnya Icchi ada orang yang baru masuk deh! Dia naik motor matic gitu. Kayaknya gue kenal sama orang itu!"
"Bukannya itu Icchi, ya? Mirip banget sama dia! Dari tasnya, motornya, sepatunya! Lo keluar aja deh nemuin dia, gue disini jagain mobil lo!" kata Sayu menunjuk orang yang dimaksudnya.
"Oh, oke, gue turun deh! Kalo nanti gue ada apa-apa lo turun juga!"
"Ya udah, buruan lo kejar dia! Gue tungguin disini! Jangan lupa bawa HP di kantong, nanti bakal gue telpon kalo ada apa-apa!"
"Sip deh, gue keluar dulu ya!" kataku.
-ooOoo-
"...Kotoba ja tarinai, kitto oitsukenai yo
Kotoba ja tarinai kedo, kedo, arigatou..."
"Icchi, tunggu!" teriakku. Dia menoleh, lalu berbalik badan mengahapku.
"Mau apa kamu kesini? Kamu nggak takut dimarahin pacarmu? Dia kan nggak suka kalo aku ngomong sama kamu!" katanya.
Aku tak menghiraukan apa yanng dia katakan. Aku memeluknya dengan erat. Tanpa terasa air mata telah membasahi kedua pelupuk mataku.
"Aku nggak peduli sama dia, aku hanya ingin bersamamu. Aku sayang padamu. Aku tahu sejak perubahanku ini kamu selalu memperhatikanku. Aku tahu itu dan aku senang kamu mau melihatku. Aku senang sekali," kataku. Lalu Takumi datang. Dia melihatku sedang memeluk Icchi dan dia marah.
"Rukia! Sedang apa kamu disini? Kenapa kamu memeluknya? Ayo pulang!" teriaknya.
"Nggak mau! Aku maunya sama Icchi! Aku nggak mau sama kamu!" kataku sambil memegang tangan Icchi.
"Pokoknya kamu harus pulang! Ayo, lepaskan tanganmu itu! Ayo!" teriaknya memaksa.
"Nggak mau! Tolong aku, Sayu! Sayu, tolong aku!" aku berteriak meminta bantuan.
"Hah? Ruki diapain tuh sama Takumi? Gue harus keluar nolong dia! Nanti dia kenapa-kenapa!" kata Sayu.
"Sayu! Tolong aku! Sayuuuuuuu!" teriakku makin keras.
BUKK! Terdengar seperti suara pukulan. Lalu Takumi pingsan entah kenapa. Tiba-tiba Sayu sudah ada di belakang Takumi.
"Hehe, sori ya lama. Gue nyari kayu dulu buat mukul dia!" kata Sayu.
"Ya ampun, Sayu! Gue kira lo gak akan nyelamatin gue! Gue takut banget.." kataku sambil memeluknya.
"Ehm, bukan gue yang harusnya dipelu. Tapi dia! Dia tuh, hehe," jawabnya nyengir.
"Oh iya!" aku lalu membalikkan badan. Menatap wajahnya.
"Aku nggak mau kehilangan kamu, please, kali ini kamu jangan tolak aku lagi ya?" kataku.
"Iya, aku juga. Maafin aku yah, selama ini aku udah ngeraguin perasaan kamu. Ternyata kamu orangnya baik, jujur dan tulus. Maafin aku ya, Rukia!" katanya, lalu memelukku juga.
/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\/\
Akhirnya, selesai sudah cerita panjangku ini! Inspirasi menulisnya adalah pengalaman pribadi saya ketika ada tetangga (yang ternyata temennya sodara) suka sama saya *ge-er banget deh*
Aku gak tau kalian suka apa nggak, tapi yang penting, aku seneng kalian semua udah suka sama tulisan aku! Semua komentar kalian akan jadi motivasiku, jadi akan kutunggu terus masukan dari kalian! Rencananya setelah 2 fic yang saya buat ini, masih ada lagi fic yang mau saya buat! Hehe.
Salam pecinta musik J-pop!
WW Rka (nama beken, di band saya :P)
