Kyahahaha, Stephen here. Jadi, selanjutnya di chap II aku akan menjelaskan apa yang belum dijelaskan. Dan kemungkinan aku akan lanjutkan cerita lamaku :'3 mungkin selesai GLGPGK ini. btw, aku sengaja masangnya pendek - pendek jadi bisa cepat update.
Guilty Love, Guilty Pleasure, Guilty Kill
A Naruto Fanfiction
Sakura Haruno X Sasuke Uchiha
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rated : T
Alert : Typo, abal - abal dan sejenisnya
DLDR, RnR
.
.
.
Summary : Pernahkah anda berpikir akan kehancuran oleh yang terkasih? Atau pernahkah kalian berpikir tidak bisa melupakan partner kalian? Jika iya, apa anda ingin membunuh mereka untuk menyelesaikannya? SasuSaku / Romance / T-Rated / Alert : Typo, Abal-Abal, AU, jelek, sejenisnya / DLDR
.
.
.
.
.
Ah ya, Naruto itu milik Kishimoto – san, tapi ceritanya milikku
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
Chapter II : Friendship
"Jadi, apa maumu menemuiku disini, Sasuke Uchiha?"
"Letak Sakura Haruno sudah diketahui, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?"
"Well, aku juga sudah mengetahuinya. Aku melihatnya sendiri di depan mataku,"
"Maksudmu?"
"Orang yang melaporkan soal itu, aku melihatnya ditusuk oleh Sakura langsung,"
"Kau tidak bohong bukan?"
"Tidak, tentu saja tidak. Aku bukan tipe orang yang suka berbohong,"
"Kalau begini kejadiannya, bagaimana kita bisa menyeret Naruto dalam masalah ini? Kau juga sudah melakukan ilusi kepada Sakura bukan?"
"Tentu sa-"
Perbincangan kedua orang itu mendadak berhenti dengan interupsi orang ketiga,
"Hey cepatlah, rapatnya akan dimulai, Sasuke Uchiha,"
Lelaki yang bernama Sasuke Uchiha hanya menghela nafas, sedangkan lelaki dibelakangnya tersenyum iblis tanpa sepengetahuan dia,
"Well, Sasuke tidak salah memilih mangsa. Mangsanya yang satu ini sangat nikmat,"
Ujarnya sembari pergi keluar.
.
.
.
.
Sakura sangat kaget dengan pemandangan yang ada di depannya, sebuah tubuh terbujur kaku dengan kacamata khasnya. Dilihatnya pisau berdarah yang ia pegang, padahal yang ia ingat bahwasanya ia sedang berjalan mendekat ke lelaki itu dan mendadak dia kehilangan kesadaran. Dan yang ia dapatkan selanjutnya bahwasanya ia memegang pisau berdarah dengan tubuh lelaki itu teas.
"Ti-tidak mungkin, aku tidak membunuh dia," Ujar Sakura Shock.
Tetapi, ia melihat lebih lekat lelaki yang sekarat itu, ia merasakan sensasi yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"sensasi apa ini, mengapa aku bahagia melihat dia tersiksa? Mengapa aku senang ada orang lain yang tersiksa sepertiku?"
Sakura tersenyum sangat lebar, dan sedikit gila, lalu menusukkan lagi pisau itu ke ubun-ubun sang lelaki, membuatnya tewas.
"Kau sudah harus istirahat sekarang, kau pasti lelah teriak kesakitan,"
Ujarnya sembari mencabut pisaunya, dan berjalan keluar dengan santai. Ia menemukan kamar mandi dan mandi, membersihkan darah yang ada di tubuhnya. Dan dia keluar setelah berpakaian gaunnya, lalu mencuri jaket, celana, dan masker dari meja dekat darisana.
"Aku harus menyiksa dia dahulu,"
Ucapnya terkekeh puas, dan menuju ke suatu tempat.
"First victim, Shikamaru Nara,"
.
.
.
.
Kizashi Haruno yang mendapat kabar bahwasanya anaknya, Sakura, menghilang, hanya santai sambil meminum tehnya.
"Jadi, dosamu sudah musnah sekarang,"
Sang wanita hanya menatap suaminya sedih, tidak percaya mengapa dia harus bersuami pria seperti dia, bukan pria yang ia cintai. Jikalau tidak karena keluarganya berhutang banyak pada Haruno Cooperation, pasti dia dikenal sebagai salah satu wanita paling beruntung di dunia.
"Kizashi-san, sa-saya rasa kita harus sedikit bersediih pada ana-"
"Itu anakmu, bukan anakku. Tentu saja, dalam perjanjian itu tidak disebutkan untuk merawatnya, bukan?"
"Ta-tapi Kiza-"
"BISAKAH KAU TUTUP MULUT MENJIJIKANMU ITU?! MASIH UNTUNG KAU KUSELAMATKAN DARI JURANG KEMISKINAN," Bentak Kizashi sembari meludahi 'istri'nya.
Sang wanita hanya menunduk menahan tangisannya, tak kuat ia melawan perkataan 'suami'nya tersebut. Setelah Kizashi pergi, dia menangis sejadi – jadinya orang menangis. Ia pegang dadanya, menahan sakit di dadanya. Ia merindukan cintanya, cinta yang harusnya dia peluk sekarang, cinta yang harusnya ia miliki sekaarang. Bukan seorang lelaki bejat yang hanya menyukai tubuhnya.
"A-aku merindukanmu, Mi-kun," suara getar sang wanita di tengah tangisnya.
Tak lama kemudian, ia tergeletak di sofanya, lelah akan dunia ini.
.
.
.
.
Naruto Namikaze sedang berbaring di kamarnya, yang merupakan kamar bekas ayahnya saat muda dulu. Yap, meskipun keluarga mereka sudah sangat kaya, mereka tetap tinggal di tempat yang sederhana di tengah hiruk – pikuk kota Tokyo. Rumah turunan ini menjadi saksi perjuangan seorang Minato Namikaze membangun dinasti yang akan diteruskan olehnya nanti.
"Hah, pasti Otou – san punya banyak cerita di ruangan ini, mungkin juga cerita ia dengan pacarnya juga ada,"
Kekeh bocah mesum ini, mencoba menghibur dirinya yang masih berduka karena harus berpisah dengan Sakura, wanita yang ia cintai. Naruto yang bosan pun bangun dan mencari – cari hal – hal yang berhubungan dengan ayahnya, untuk dia pelajari agar bisa jadi penerus yang baik. Tapi, satu – satunya yang bisa ia temukan hanyalah diary masa muda ayahnya. Iapun membaca setiap isi dari catatan tersebut
Sabtu, 16 November 1985
Hah, masa SMA yang menyebalkan. Lagi – lagi aku dimarahi sensei karena telat. Oh god, padahal aku sudah menjelaskan bahwasanya aku sedang menjalankan bisnis. Tentu saja, siapa yang percaya bocah 16 tahun sepertiku adalah orang yang menjalankan bisnis Uzumaki, padahal jelas – jelas aku hanyalah bocah miskin bermarga Namikaze. Aku memakai nama Uzumaki, karena itu adalah nama marga wanita yang kucintai pertama kali. Aku benar – benar berharap menemuinya suatu saat nanti, dan aku bisa menunjukkan bagaimana perkembangan bisnis kecil – kecilan yang kubuat ini.
Naruto hanya tertawa membaca bagian ini, ternyata nama Namikaze Cooperation itu cuman diambil dari nama cinta pertama ayahnya, alaasan yang benar – benar konyol. Jika dilihat, tanggal 16 November 2003 itu adalah bulan pertama dari berdirinya perusahaan itu. Lalu diapun kembali membaca diary ayahnya, hingga berhenti di salah satu halaman
Kamis, 16 Desember 1999
Impianku hampir terwujud, lihatlah aku sekarang sedang mengurus pakaian pernikahanku dengannya. Oh god, itu benar – benar cocok dengan stylenya. Kesan elegan dan sexy yang ditampilkannya, kurasa aku benar – benar cocok dengannya. Rambut merah-
Eh wait, what? Rambut merah? Setahunya, ibunya tidak berambut merah. Naruto yang kebingunganpun langsung membalik ke halaman selanjutnya. Yang ia temukan hanyalah robekan kertas dan air mata yang mengering. Okay, Naruto kebingungan sekarang, siapa wanita yang dimaksud ayahnya di diary ini? Apa jangan – jangan...
"Tidak mungkin, bukan dia bukan?"
.
.
.
.
Sasuke kembali bingung dan memikirkan langkah selanjutnya dari pekerjaannya,
"Jadi, kita sudha menemukan Sakura. Tapi dia hilang lagi, dan bahkan pelapornya sudah menjadi mayat,"
"Saya rasa, Sakura ingin keberadaannya tidak diketahui, Uchiha-san. Sepertinya, dia sedang merencanakan sesuatu yang besar,"
"Artinya dia sekarang tersangka kita?"
"Ya begitulah, Uchiha-san,"
"Kalau begitu, masukkan dia ke daf-"
"Jangan gegabah, Uchiha-san,"
Suara seseorang dari luar menginterupsi dan membuat kekagetan antara Juugo dan Sasuke,
"Apa maumu, Shion-san?"
"Aku ini atasanmu, jadi hormati aku sedikit, Sasuke-kun. Kurasa, kita biarkan Sakura bebas dahulu,"
"Tapi bukankah sebuah bukti jelas bahwa dia ada-"
"Bukankah kau juga terbawa emosimu karena Sakura yang membuat Tokyo Bandits Han-"
"HENTIKAN! Jangan bahas itu sekarang. Baiklah, akan kutangguhkan perubahan statusnya. Tapi jika ada korban lagi, aku tidak segan – segan un-"
"Untuk apa? Membunuhnya? Apa kau yakin bisa membunuh wanita yang kau cin-"
"Shion – sama, mohon maaf, jangan ganggu urusan kami," Suara Juugo yang tenang menginterupsi mereka berdua.
Shion hanya tersenyum, "Baiklah, kutunggu realisasi perkataanmu, anata,"
Sasuke hanya meembuang muka.
Setelah pergi, Juugo yang kebingungan pun melirik Sasuke, Sasuke yang menangkap reaksi yang diberikan bawahannya hanya tersenyum miris.
"It's because it's the best of business. That's why i'm with her,"
.
.
.
.
To Be Continued
Yo yo, apakah chap 2 ini nambah konfli atau justru memperjelas konflik? pokoknya di chapter ketiga nanti mungkin aku bakalan buka alasan Naruto tak bisa dengan Sakura, dan percayalah bahwa aku tidak akan membuat ceritanya tetap karena aku tidak pernah tetap dalam 1 alur, suka ada ide mendadak dan muncul tiba - tiba. Itu juga alasan aku ada sindrom penulis musiman.
yosh, RnR?
