Kris p.o.v
Tak kusangka kehidupan SMA yang kubayangkan "berwarna", kenyataannya sama sekali "tidak berwarna". Entah kenapa aku merasa lelah dengan semua ini. Setelah pindah ke Korea, aku membayangkan akan banyak kejadian menarik yang akan terjadi. Tetapi hal yang sebenarnya aku merasa tertekan.
"Kris! Tolong bacakan kalimat ini pada kami!" suara beberapa siswi berdengung di telingaku. Aku memejamkan mataku, jika aku menolak, mereka pasti akan mengoceh kesana kemari.
"Hah.. baiklah, yang mana?" jawabku. Meraka saling berpandangan kemudian tersenyum menatapku. Aku membalas tatapan mereka dengan bingung.
"Ada apa? Apa ada yang lucu?" mereka menggeleng mendengar pertanyaanku.
"Kami kira kau lelaki yang dingin. Rupanya kau baik juga," Apa meraka berpikir jika aku ini preman atau sejenisnya ya? Aku tau aku memiliki wajah yang lumayan, dan tinggi badan yang cukup propsional.
Aku memalingkan wajahku dari gerombolan siswi-siswi itu, kutopang wajahku sembari menyapu seluruh ruangan kelas baruku ini. Kelasnya cukup mewah untuk SMA. Kupikir kelas macam ini untuk universitas, tapi mereka malah menggunakannya untuk SMA.
"Apa kalian tau, masih ada satu orang yang belum masuk, ya?"
"Kudengar dia berasal dari China, juga." Heh? Ada yang sama sepertiku. Bersyukur aku dapat teman dari negara yang sama seperti itu.
"Apa dia lelaki?" tanyaku. Mereka menggeleng, "Maaf, kami tak tahu pasti, Kris." Jawab mereka. Kuharap yang datang lelaki, batinku.
Bel tanda masuk berbunyi, aku masih duduk dengan tenang di tempatku. Aku tak menemukan tanda-tanda lelaki yang berasal dari China sepertiku. Mungkin dia tidak berada di kelas ini. Ah, menjengkelkan.
"Ah, masih sempat!" aku terkejut mendengar orang yang memakai bahasa China tersebut. Ia masuk dengan kepala yang tertupi oleh jaket birunya, tunggu dia laki-laki atau perempuan? Aku mencoba melambaikan tangan padanya, dan ia meresponnya dengan berjalan ke arahku.
"Kau dari China juga?" tanyaku, ia terkejut, kemudian mengangguk tanpa memandangku.
"K-kau juga ya? Apa aku boleh duduk disini? Aku belum begitu lancar berbahasa Korea.." ucapnya. Aku tersenyum, dan menggeser diriku agar ia bisa duduk disebelahku.
"Namaku Wu Yifan." Aku mengulurkan tanganku padanya, ia melepas jaketnya, kemudian ia membalas uluran tanganku. Seorang laki-laki, kupikir tadi wanita berdada rata.
"Aku Zhang Yixing. Senang dapat berkenalan denganmu, Yifan." Balasnya.
Kupikir-pikir lelaki ini cukup cantik untuk ukuran pria. Dia tidak tampan sepertiku, dia memiliki dimple di salah satu pipinya, tepatnya di sebelah kanan. Rambut hitam di potong pendek, dan berponi. Pakaiannya, kaus berwarna putif bersih dengan skinny jeans berawarna coklat. Benar-benar membuatnya bersinar. Apalagi kulitnya putih seperti ini.
"Kau dulu berasal dari mana, Xing?" kulihat lelaki ini tengah mengeluarkan beberapa alat tulis dan bukunya yang hampir semuanya berwarna biru dan putih.
"Dari Changsa. Na, Yifan. Disekolah ini ada klub apa saja?. Saat aku datang di halaman sudah sepi," balasnya bertanya. Aku berpikir sebentar mengingat beberapa klub yang tadi sempat menawariku.
"Ada klub teater, klub film, dance, nyanyi, klub olahraga seperti, futsal, basket, bulu tangkis juga ada. Entahlah aku tak terlalu ingat." Seketika mata hazel miliknya berbinar-binar memandangku. Aku terdiam memandang mata coklatnya.
"Sudah kuputuskan aku akan masuk ke klub dance!" kata Yixing. Aku terkikik geli memandangnya, dan sampai jam istirahat berbunyi aku hanya berbicara pada Yixing tanpa memperhatikan apapun di sekitar kami.
"Uwaa, kau membawa bekal? Apa itu bikinanmu?" aku memandang kotak bekal berwarna nila yang di pegang Yixing.
"Iya, kau mau makan siang bersama? Aku membuat lebih tadi," tawar Yixing. Hebat dia lelaki yang bisa memasak. Kuharap masakannya enak! Aku mengangguk, dan Yixing tersenyum melihatku.
"Kau mau makan dimana?" aku berpikir mungkin di atap menarik juga. Seperti di anime yang beberapa kali kutonton. Bukannya mereka kebanyakan diatas bersama kelompoknya atau dengan pacarnya ya?
"Kita ke atap saja bagaimana? Aku ingin mendinginkan diriku," ajakku. Yixing mengangguk dan tetap memasang senyum di wajahnya, dimple manis itu sekalipun tidak menghilang dari wajahnya. Aku berjalan beriringan dengannya hingga ke atap.
Aku terpukau saat Yixing membuka bekalnya, isinya benar-benar tersusun dengan rapi. Sayuran, nasi, telur, dan daging pun terlihat lezat. Aku masih tak percaya jika ini buatan seorang lelaki, apa ini tak tertukar dengan milik saudara perempuannya?
"Silahkan dicicipi dulu," Yixing menyodorkan bekalnya padaku, kemudian ia memberikan sendoknya. Aku menyendok telur dadar itu dengan nasi putih yang masih hangat itu. Aku merasakan makanan miliknya di dalam mulutku.
"Uwaa! Enak sekali! Apa benar kau yang memasaknya?!" ucapku penuh kagum setelah menelan makannya. Ia mengangguk senang mendengar ucapanku.
"Te-terima kasih. Aku senang saat ada orang yang mengatakan jika makananku enak." Aku memandangnya yang tengah menunduk itu. Benar-benar seperti perempuan, apa benar dia laki-laki tulen?
"Loh, Yixing kau juga makan disini?" eh? Berbahasa China juga?
"Gege!" Yixing berdiri saat lelaki yang memiliki wajah tak kalah cantiknya dari Yixing. Sejauh ini lelaki cantik yang pernah ku temui hanyalah Yixing seorang.
"Apa dia gegemu Xing?" tanyaku. Yixing mengangguk, "Ya, dia gege kandungku. Dia kelas 2, kakak kelas kita." Aku mengangguk mendengar penjelasan Yixing, pantas wajah mereka sama-sama cantik. Apa memang keluarga mereka terdiri dari orang-orang yang berwajah cantik?
"Perkenalakan namaku Wu Yifan, uhm.."
"Luhan, panggil saja Luhan. Aku akan merasa aneh saat ada adik kelas yang lebih tinggi dariku memanggil gege. Hehe," Aku mengusap leherku, tentu saja akan tetap canggung jika aku tidak menghormatinya.
"Kalian seperti teman lama, bagaimana kalian bisa akrab pada hari pertama sekolah?" celetuk Luhan seraya mendudukkan dirinya di samping Yixing. Ah, benar juga, aku tak menyadari jika aku langsung akrab dengan Yixing. Bahkan kami makan siang bersama.
Kulihat Yixing sama sekali seperti tak berniat menjawab pertanyaan kakaknya, dan meneruskan memakan bekalnya. Berarti aku yang harus menjawab pertanyaan Luhan.
"Entahlah aku juga tak tau mengapa kami bisa langsung akrab. Mungkin karena aku dan Yixing berasal dari China. Lagipula aku tak begitu pintar bahasa Korea," jawabku.
"Hee? Kau pintar bahasa Korea begitu." Tuding Yixing padaku. Aku hanya mengendikkan bahuku.
"Berikan sosis itu padaku!" pintaku pada Yixing, Yixing dengan pasrah menyerahkan sosisnya padaku. Wah, aku disuapi! Terlihat Luhan cekikikan memandang kami yang saling berebut makanan itu. Lalu aku dan Yixing saling perpandangan dan ikut tertawa.
Selama hampir seminggu terakhir aku selalu bersama Yixing dan terkadang kakaknya ikut bersama kami berdua. Ya, dikelilingi laki-laki cantik membuatku di kelilingi oleh rumor yang lucu. Beberapa dari rumor yang kudengar, ada yang mengatakan jika Yixing dan Luhan adalah perempuan yang menyamar, walaupun Yixing telah mengatakan jika rumor itu benar-benar salah, rumor itu tetap bertahan. Mungkin jika Yixing mau mengganti rupanya yang cantik menjadi tampan, rumor itu akan menghilang.
Lalu ada lagi yang membuat banyak siswi perempuan bersorak setiap kali aku dan Yixing berjalan bersama, ada yang mengatakan kami pasangan paling fenomenal, paling serasi, suami-istri, aku ingin tertawa. Kami malas mau menyangkal semua rumor yang beredar, lagi pula aku dan Yixing hanya bersahabat.
"Kau mau datang ke rumah? Tadi pagi aku mencoba membuat cake coklat, aku ingin kau mencicipinya." Pinta Yixing padaku. Aku menatapnya, cake? Kenapa tidak, mumpung gratis dan aku yakin cake itu rasanya enak.
"Uwa, boleh? Kenapa kau tidak menyuruh Luhan untuk mencicipinya?" tanyaku. Yixing menggeleng, "Luhan-ge sudah sering mencipipi makananku, dan hari ini ia akan menginap ke rumah temannya." Jawabnya.
"Jadi kau hanya sendirian di rumah?"
"Um,"
Sekali-kali aku juga ingin mencoba menginap, berada di apatermen sendirian sehari-hari cukup untuk membuatku dalam zona kebosanan yang cukup luas. Yixing menyuapkan nasi goreng yang ia masak padaku, mungkin sudah menjadi kebiasaan, ya?
