Maaf bahasanya kaku udah lama gak pernah nulis fic, apalagi banyak yg typo males ngecek yang penting kebaca atuh :3 -_- banyak tugas juga disekolah ngebuat hampir ketinggalan info. Untung rp masih aktif jadi masih dapat info anyar/? Tapi sedih juga sama masalahnya si Tao. Merasa sakit pas ngeliat EXO gak lengkap. Sudah terlanjur sayang semuanya, eh malah papa sama om keluar dari EXO, kan sakit ninggalin mama sama anaknya. TT^TT Kalau liat video pas ber12 itu rasanya..

Btw, makasih buat sambutan hangatnya dan review yang membuat saya bahagia ^^ Ini lanjutannya~ Met baca yap! Yifanar saya tunggu~

Warning R18+ udah dikasih tau ye .-. jan protes walaupun genrenya enteng/? Tetep ff lemon :3 beberapa scene terinspirasi dari doujinshi berbagai macam anime.

Trims buat mbak doujinsaka-nya sama SMS yg udah ngenalin EXO *bow*

Sekali-kali aku juga ingin mencoba menginap, berada di apatermen sendirian sehari-hari cukup untuk membuatku dalam zona kebosanan yang cukup luas. Yixing menyuapkan nasi goreng yang ia masak padaku, mungkin sudah menjadi kebiasaan, ya?

"Kyaa~!" Aku melirik para siswi yang memang sengaja mengikuti kami atau memang mereka tanpa sengaja bertemu kami di atap. Mereka seperti sedang fangirling, seperti sedang melihat idolanya. Apa memang wajahku setampan itu, ya?

"Yifan, kau mulai bersikap aneh, sebenarnya apa yang kau pikirkan?" aku diam dan tersenyum pada Yixing, "Xing nanti aku menginap di rumahmu, boleh?" tanyaku.

"Menginap? Apa kau boleh?" aku mengangguk, "Tentu! Aku hanya tinggal sendirian di apatermen. Aku bosan, setiap hari aku hanya ditemani televisi," jawabku. Yixing mengernyitkan dahinya, "Loh kau tinggal sendiri?"

"Ya, kedua orang tuaku dan kakakku tetap tinggal di China, aku mendapat hukuman karena tidak mau menemui calon tunanganku, dan membuat keluarga calon tunanganku itu marah. Dan aku disini untuk mencari yang baru *ngakak sendiri :"v Yifan cari jodoh? Pengen tawa..*. Dan kakakku mengatakan jika dia punya kenalan disini, dan ingin menjodohkanku dengan adik dari kenalannya," Yixing mengangguk sembari memakan bekalnya.

Aku melirik Yixing, "Xing lagi," pintaku padanya. Yixing tersenyum dan kembali menyuapiku. Aku menelan makanan yang kukunyah, kemudian aku memandang langit, udara di Korea bersih, tidak berpolusi seperti China. Mungkin karena Korea tidak sepadat di China. Seperti apapun China tetap menjadi yang terbaik bagiku.

Yixing bergantian menyuapi diriku dan dirinya sendiri hingga bekal kami, ah, miliknya habis, dan ada sedikit waktu sebelum bel istirahat berbunyi. Kulihat sekitarku, hanya ada aku dan Yixing. Kapan mereka semua pergi? Ah, apa peduliku pada mereka.

"Hoaam, Xing mau menemaniku membolos hingga jam terakhir, aku yakin jika Lee Songsaengnim hanya akan bercerita tentang dirinya di masa lalu," usulku, Yixing diam dan membereskan bekalnya. Kuharap Yixing mau menyetujui ajakan bolosku. Sekali-kali boleh, kan. Toh Lee Songsaengnim takkan begitu memperhatikan.

"Boleh, aku juga malas dengan pelajarannya," Sip! Jika begini aku bisa tidur selama 2 jam terakhir.

"Aku mengantuk enaknya tidur dimana, ya?" gumamku. Aku berdiri dan merenggangkan badanku.

"Tidurlah disini," Yixing menepuk-nepukkan pahanya menunjukkan jika aku bisa tidur di pahanya itu. Aku memalingkan wajahku karena aku merasakan jika wajahku memanas. Ah, ayolah. Yixing laki-laki, aku tau benar dia laki-laki dan bukan perempuan. Walaupun banyak anime-anime yang kutonton menunjukkan jika banyak yang dapat menyamar dengan sangat baik, hingga penyamaran mereka sendiri yang terbongkar karena tubuhnya terekspos.

Bagaimana jika Yixing perempuan dan ia memiliki payudara? Dan aku mencoba membuang rasa gugupku, karena biasanya perasaan yang ini muncul saat ada wanita cantik yang lewat didepanku. Tapi ini Yixing, dia lelaki.

Aku menelan ludah, dan perlahan menidurkan kepalaku pada pahanya. Hangat, aku memandang wajah Yixing, kulihat dia mengalihkan wajahnya tanpa menoleh ke bawah. Wajahnya memerah, s-sudahlah aku akan mengacuhkannya juga. Aku berusaha memejamkan mataku. Dan mataku memberat seketika.

Author p.o.v

Yifan akhirnya terpejam dan tertidur. Entah karena mengantuk atau terbawa suasana, lelaki bernama lengkap Zhang Yixing ikut terpejam dan tertidur. Selama sisa jam pelajaran mereka hanya tertidur di atap hingga bel tanda berakhirnya sekolah berbunyi;

Yifan terbangun karena ia merasa posisi tisurnya membuat lehernya sakit, ia mengedip-ngedipkan matanya. Ia membelalakkan matanya seketika saat melihat sesuatu yang tak asing berada di depan wajahnya. Yifan mencoba memejamkan matanya kembali, dan membukanya, "Uwaa!" Yifan segera mendudukkan dirinya saat ia mengetahui jika wajahnya berhadapan dengan sesuatu yang sangat lelaki rahasiakan.

Yifan menatap Yixing yang sedang memejamkan matanya, ia memperhatikan jam tangannya. "Dia tertidur juga? Sudah jam berapa ini? Ah, baru 5 menit setelah jam pulang berbunyi." Yifan menghela nafas, ia kemudian mengambil ponsel yang berada di sakunya.

"Heh? Luhan?" Yifan membaca pesan yang baru saja ia terima dari Luhan tersebut.

Jangan tidur sampai malam disana! Kasihan Yixing! Btw, kalian mesra, sekali! Aku memotret kalian. Enaknya foto ini diapakan? Aku berikan kepada para siswi atau kau harus mau membelikanku dan adikku banyak snack? Kalau kau mencariku, aku berada di ruang klub di lantai 2."

Yifan memijat-mijatkan keningnya. Dia berniat memerasku, ya?! Batin Yifan, ia kemudian menjawab pesan Luhan dengan cepat.

Akan kubelikan! Apa Yixing akan pulang bersamamu? Atau aku yang akan membawanya pulang? Aku akan menginap kerumah kalian nanti. Setelah mengirim pesan balasan itu Yifan memperhatikan diri Yixing dari atas ke bawah. Kemudian Yifan menyingkirkan poni Yixing yang jatuh menutupi kelopak matanya yang tengah terpejam itu. *bayangin ae Yixing pas pre-debut. Pas jaman dia nge-dance No Body di sekolahnya :v*

"Rambutnya sudah panjang begini. Apa ia tak ada niat untuk memotongnya?" gumam Yifan. Yifan sedikit terkejut saat Yixing bergerak, dia dengan cepat ia menjauhkan tangannya dari wajah Yixing. Dan Yifan makin terkejut setelah merasakan ponselnya bergetar di saku seragamnya.

Bagus.. bagus! Karena aku akan menginap ke rumah teman juga, mungkin Yixing akan berjalan pulang sendiri. Kalau kau mau membawanya silahkan, tanpa dia kau akan sulit untuk mencari rumah kami yang cukup jauh. Jika kau ingin menggendong adikku hati-hatilah, Yixing berat, kuharap kau bisa membawanya dengan hati-hati. Kalau dia sampai bercerita jika kau mencederainya, aku takkan segan menendang wajahmu!

Yifan tertegun membaca balasan Luhan. Yifan meneguk salivanya, dia membayangkan ancaman Luhan, walaupun ia berpikir itu hanya ancaman agar ia menjaga Yixing,. Tapi jika dipikirkan lebih jauh Luhan sangat menyayangi adiknya, dan pasti ancaman itu akan berlaku jika Yifan melukai Yixing, batin Yifan.

"Xing..oi! Yixing! Ayo bangun, sudah waktunya kita pulang!" Yixing membuka matanya perlahan, dan memandang Yifan dengan lucu.

"Ah, maaf Yifan, malah aku yang tertidur," Yixing hendak berdiri dan membungkuk tetapi dibatalkan oleh Yifan yang menarik lengannya, agar ia tidak membungkuk.

"Tak perlu sampai membungkuk, ayo kita ambil tas. Kau ikut ke apartemenku dulu, ya? Aku mau mengambil beberapa baju," ucap Yifan. Yixing mengangguk mengerti, dan kemudian ia memungut kotak bekalnya.

"Yifan," Panggil Yixing, Yifan menoleh kebelakangan dan menatap Yixing.

"Ada apa?" jawab Yifan. Yixing menggeleng, kemudian berlari menyamakan dirinya dengan Yifan.

Yifan dan Yixing sama-sama kembali ke kelas, dan mereka melihat beberapa siswa masih melakukan piket kelas. Yifan mengambil tasnya, kemudian menghampiri Yixing yang masih membereskan buku-buku yang ia taruh di laci mejanya.

"Kalian dari mana saja?!"

"Kalian tidur bersama, ya?!"

"Mungkin mereka hanya ingin menghabiskan waktu berdua saja! Seharusnya kau tak perlu bertanya,"

"Sudah kuduga mereka berdua diliat dari sudut manapun mereka memang serasi!"

Yixing dan Yifan hanya bisa terdiam melihat teman-teman perempuannya mengelilinginya. Dan menyemburi mereka berdua dengan berbagai kata.

"K-kami permisi dulu." Yixing berusaha menerobos gerombolan itu, tetapi tidak berhasil. Akhirnya Yifan membubarkan gerombolan kecil itu, dan Yixing mengikuti langkah Yifan dari belakang.

"Tunggu! Yixing-ah kami ingin bertanya sesuatu padamu, boleh, ya?!" Yifan sedikit kesal saat melihat langkah Yixing terhenti. Yifan juga kesal mengapa Yixing tak mau mengabaikan saja ucapan mereka. Dengan kesal Yifan mencengkram tangan Yixing dan langsung menarik Yixing kedekapannya.

"Kami permisi dulu! Ada hal penting yang harus kami lakukan! Jadi di mohon tenang dan jangan menghambat kami!" ucap Yifan. Siswi-siswi itu diam dan kemudian berteriak kecil melihat aksi apa yang dilakukan Yifan pada Yixing.

Yifan dengan cepat langsung mengajak Yixing berjalan keluar dari kelas mereka. Yifan sama sekali tak berniat melepas genggaman tangannya pada Yixing. Yifan sendiri tak tau kenapa ia tetap mempertahankan genggaman tangannya, hingga mereka sampai ke tempah parkir.

"Mereka semua menyebalkan. Walaupun sudah dibubarkan, sudah diberitahu, mereka tetap saja masih mengoceh. Aku heran sebenarnya mulut mereka terbuat dari apa!" ujar Yifan seraya menatap Yixing. Yifan terkejut melihat wajah Yixing yang memerah.

"K-kau tak apa-apa, Xing? Wajahmu memerah! Apa kau merasa pusing?" Yifan dengan segera menghampiri Yixing dan menempelkan dahinya dengan dahi Yixing. Ia berniat mengecek suhu tubuhnya dengan suhu tubuh Yixing.

"Yi-Yifan,.." Wajah Yixing makin memerah, tanpa sadar ia menyundulkan/? kepalanya ke kepala Yifan dengan keras.

"Auch! Apa yang kau lakukan! Itu sakit.." rintih Yifan seraya mengusap-usap jidatnya yang sedikit memerah.

"A-ayo! Cepat! Aku tak apa-apa! Jangan mengkhawatirkanku!" Yixing membuang wajahnya saat Yifan berusaha mengeceknya kembali.

Yifan terkikik melihat reaksi Yixing dengan tangan yang masih mengusap jidatnya, "Mungkin kau harus mengkhawatirkan jidatku. Ah, sudahlah lupakan~"

Yifan kemudian mengambil kunci sepeda motornya, dan mengambil helmnya. "Pakailah helmku," Yifan melemparkan helm hitamnya pada Yixing. Yixing yang hendak protes pada Yifan namun dihentikan.

"Cepat pakailah! Berbahaya jika aku tak melindungimu! Aku tak mau Luhan marah. Selain itu korban kecelakaan sepeda motor biasanya dialami oleh orang yang dibonceng!" mata Yixing berbinar menjelaskan penjelasan Yifan. Ia merasa terlindungi sekaligus kagum pada Yifan.

"Jangan terpukau! Aku tau aku ini lelaki yang tampan dan jenius! Jadi naiklah!" Yifan menarik tangan Yixing agar mendekat dan duduk di motornya. Yixing menurut dan mendudukkan dirinya.

"Pegangan yang erat! Aku takkan segan untuk mengebut," kata Yifan. Yixing terkejut, "A-aku harus memegang apa?!"

"Dasar.." Yifan melingkarkan tangan Yixing ke tubuhnya. Yixing hanya menurut dan diam seperti membeku.

"F-fan,"

"Jangan dilepas!" Yifan langsung menggas sepeda motornya, Yixing mengeratkan tangannya, ia memejamkan mata karena merasakan hembusan angin yang begitu kencang menerpa dirinya. Yifan terkekeh merasakan jika tubuhnya makin didekap dengan erat oleh Yixing. Benar-benar seperti wanita, pikir Yifan.

"Apartemenmu dilantai berapa, fan?" tanya Yixing setelah melihat gedung apatermen Yifan.

"Lantai 15. Ayo, jika kau ingin pulang dengan cepat, atau kau ingin menunggu disini?" tawar Yifan. Yixing menggeleng, ia tak mau disuruh menunggu di tempat parkir. Mereka berdua pun berjalan bersama masuk ke dalam gedung.

"Di lantai 15 enak, ya.. Tak akan ada nyamuk dan lalat yang akan sampai ke sana." Celoteh Yixing, saat mereka berdua memasuki lift. Yifan tertawa mendengar hal itu.

"Kau polos sekali, Xing! Pantas Luhan begitu menyayangimu!" Yixing tersenyum mendengarnya. Ia senang mendengar Yifan mengatakan jika Luhan menyayangi dirinya.

"Menurutku rumah yang menempel di tanah lebih enak. Kalau di apatermen tidak punya halaman, mungkin ada, tapi di lantai 1. Dan itupun harus memakainya dengan orang banyak. Tidak boleh merawat hewan periharaan." Lanjut Yifan. Yixing mengangguk mengerti dengan apa yang Yifan ucapkan.

"Kalau dirumah, Luhan-ge dan aku membuat kebun kecil di halaman belakang. Terkadang Taoer membantuku juga. Bahkan Taoer, Aku lebih suka jika rumahku ramai, bukannya aku bosan hidup berdua dengan Luhan-ge.. aku hanya mencoba mencari suasana baru," balas Yixing.

"Taoer siapa? Dia lelaki?" selidik Yifan. Yixing hanya diam tersenyum-senyum. Yifan makin penasaran setelah melihat reaksi Yixing yang terlihat menyembunyikan sesuatu darinya. Yifan menghela nafas, kemudian hanya diam, ia berusaha untuk tidak memikirkan siapa Taoer itu.

Ting!

Yifan dan Yixing berjalan beriringan keluar dari lift. Yifan kemudian berjalan mendahului Yixing dan menarik tangan Yixing, dan membawa dirinya ke depan pintu berwarna coklat itu.

"Disini?" tanyanya. Yifan mengangguk, lalu ia mengambil kunci di kantong celana sekolahnya. Dikeluarkan dan dimasukkannya kunci tersebut ke lubang pintu tersebut.

"Uwaa~! Sederhana sekali," kata Yixing. Yifan terkejut kemudian menjitak kepala Yixing, "Apa maksudmu 'Uwa' lalu 'Sederhana'? kukira kau akan mengatakan mewah atau apalah," ujar Yifan. Yixing meringis.

"Tapi ini termasuk apartemen mewah, kan? Apa kau yang membeli semua furniture-nya? Kau yang mendesain sendiri, kan?" Yixing menghujani Yifan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apartemennya. Yifan tersenyum kemudian ia membungkam mulut Yixing dan menggeretnya masuk ke dalam apatermennya.

"Ya, yang medesainnya adalah aku! Memang sederhana, aku tak terlalu suka melihat rumahku penuh dengan barang-barang. Yang membelinya aku semua termasuk yang mendesainnya. Alasannya sama aku ingin rumahku luas dan lapang. Aku tidak suka tempat yang sempit, apa ada pertanyaan lain?" ucap Yifan, dan Yixing mengangguk. Yifan menghela nafas, dengan sengaja ia mendorong Yixing ke sofa.

Yixing merintih, tetapi ia berdiri kembali, dan mengelilingi ruangan yang cukup luas itu. "Yang memasak disini siapa Yifan? Apa kau sendiri yang memasak?" lontar Yixing, Yifan mengangguk.

"Aku mau mengambil pakaianku dulu, ya? Sekalian juga aku akan mengganti bajuku. Silahkan melihat-lihat" Yifan berjalan memasuki kamarnya, Yixing hanya diam tak menjawab, ia asyik membuka-buka kulkas milik Yifan.

"Telut, susu, minuman bertenaga, air putih, selada, roti, selai, dan freezer berisi ice cream, dan bacon. Dia hanya memakan ini sehari-hari?" gumam Yixing.

"Benar-benar sederhana. Atau, memang karena Yifan yang malas.." Yixing meneruskan petualangannya berkeliling. Ia lalu masuk ke kamar mandi Yifan.

"Dugaanku benar dia memakai shampoo ini," Yixing kemudian berjalan keluar dari kamar mandi, dan berpindah ke kamar Yifan. Ia membuka pelan pintu Yifan, mengecek apa yang sedang dilakukan lelaki bertubuh tinggi itu.

"Aku masuk, ya?" tanya Yixing.

"Masuklah," setelah mendapatkan jawaban, Yixing melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan melihat-lihat isi kamar Yifan.

"Kenapa di dalam kamarmu ada banyak mainan seperti di game center?" tanya Yixing lagi. Yifan tertawa, "Sudah kubilang aku mudah bosan. Ayo, kita berangkat!" ajak Yifan. Yifan melihat Yixing yang tengah memandang sebuah foto keluarga yang terpampang di dinding itu.

"Ini foto keluargamu, ya? Kakakmu cantik juga Yifan. Mengingatkanku pada seseorang, sepertinya wajah kakakmu tak asing," ucap Yixing.

"Benarkah? Aku tak yakin aku pernah diajak ke Changsa." Balas Yifan seraya mengambil ranselnya.

"Mungkin hanya mirip, ayo Xing, kita ke rumahmu," Yifan menggandeng tangan Yixing lagi.

"Kau menggandengku seperti Luhan-ge, saja. Saat kecil, aku sering sekali di bully dan di anggap laki-laki lemah. Tapi Luhan-ge membelaku, ia tetap membelaku walaupun dirinya tetap di panggil cantik. Luhan-ge memelukku kemudian menggandeng tanganku," cerita Yixing, Yifan tersenyum, ia mengacak-acak rambut Yixing dengan lembut.

"Kau memang lemah sebagai seorang lelaki. Kakakmu dan dirimu juga cantik. Aku jadi selalu ingin menggoda kalian, tetapi aku juga ingin melindungi dirimu. Karena setelah mendengar tentang penyakitmu, aku tak ingin kau terluka." Balas Yifan. Wajah Yixing serasa terbakar, ia melepaskan genggaman tangan Yifan. Dan berjalan lebih dulu.

"Kau ngambek? Maaf.. maaf~!"

"Tidak kuterima! Dan kenapa Luhan-ge memberitahukan penyakitku padamu?!"

"Sudahlah selama seminggu ini aku, kan teman baikmu~ jadi wajar, kan?" Yifan bisa menebak ekspresi Yixing, karena Yixing hanya diam.

"Baiklah-baiklah akan kuberi tiga permintaan, dan akan kuturti permintaanmu itu. Bagaimana?" tawar Yifan. Yixing menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

"Ok! Baiklah aku ingin kau tidak mengebut lagi saat bersepeda motor! Walaupun ada atau tidaknya aku kau tidak boleh mengebut!" perintah Yixing.

"Itu lebih mengarah ke perintah. Tapi sudahlah, aku berjanji takkan mengebut lagi." Yixing menunjukkan smirknya melihat Yifan menurut.

Yifan berjalan menyusul Yixing dan menggandengnya, hingga ke tempat parkir. Yifan memenuhi janjinya dengan tidak mengebut saat berkendara. Yixing hanya bisa tersenyum senyum, yixing dengan asyik memainkan ponselnya.

"Kau tak takut jatuh?" tanya Yifan.

"Memang kenapa?"

"Kau tak berpegangan?" Yixing terkejut, kemudian ia menggeleng.

"Kurasa tak perlu, kau kan sudah mengebut. Luhan-ge mengirimi aku 10 pesan," pamer Yixing. Yifan sedikir kecewa ia tak tau mengapa ia merasa kecewa. Ia mengalihkan pikirannya pada ucapan Yixing yang mengatakan bahwa Luhan telah mengiriminya 10 pesan.

"Apa isi pesan Luhan?" tanyanya. Yixing diam beberapa saat.

"Ia bertanya aku sedang dimana? Sedang apa? Apa sudah pulang? Sudah mandi? Yifan tak memukulmu kan? Oh, ya Yifan rumahku jika dari rumahmu, setelah ini belok kanan, kemudian lurus hingga ada toko berwarna ungu di sebelah kiri jalan," jawab Yixing.

"Dia benar-benar begitu menyayangimu. Baiklah, kau benar-benar tak ingin berpegangan?" tanya Yifan memastikan lagi.

"Sebentar, setelah aku selesai membalas," Yifan menghela nafas, lalu ia menggas motornya, dan menyetir searah dengan apa yang Yixing tadi katakan. Beberapa menit kemudian Yixing memeluk tubuh Yifan. Yifan tersenyum merasakan kulit lembut itu menyentuh tubuhnya.

Yifan berhenti di depan toko berwarna ungu yang Yixing maksud. "Setelah ini kemana? Belok kanan atau kiri?" tanya Yifan.

"Sebelah kiri. Kemudian ada perempatan kecil belok ke kanan, setelah itu tinggal belok ke kanan lagi, sampai kau melihat rumahku." Balas Yixing. Yifan mengangguk meneruskan perjalan mereka.

"Rumahku yang bercat biru, Yifan." Tunjuk Yixing, Yifan mengerti dan memberhentikan motornya ke depan rumah berlantai dua yang cukup mewah itu.

"Ini ditinggali berapa orang?" tanya Yifan setelah memasukkan sepeda motornya ke dalam rumah Yixing.

"Dua, hanya aku dan Lu-ge. Kedua orang tuaku juga berada di China. Ada 2 kamar kosong, kau bebas memilihnya nanti," jawab Yixing sembari menutup pagar rumahnya. Setelah selesai mengunci pagar rumahnya, ia dengan segera membuka pintu rumahnya.

"Kurasa nanti malam akan hujan," kata Yifan yang sedang menatap langit.

"Padahal tadi terang," lanjut Yifan.

"Yifan masuklah!" Yixing melambaikan tangannya dari pintu rumahnya. Yifan mengangguk kemudian berjalan memasuki rumah Yixing. Yifan dan Yixing sama-sama duduk dan melepas sepatu mereka.

"Permisi," ucap Yifan. Yixing kemudian mendorong Yifan agar duduk di ruang tamu di rumahnya.

"Kau mau mandi?" tawar Yixing. Yifan mengangguk, "Ya, kau mau mandi bersama? Aku akan menggosokkan punggungmu,"

Tbc-

Berpikiran Yifan orang yang gak peka ya? Atau Yifan memang php :"v Well aku suka hubungan Lay sama Luhan yang eret ke celana jeans, dipandeng-pandeng si Lay yg sekarang kek lebih kurusan, jadi sedih lihatnya T^T maaf ff ini penuh kekurangn u,u udah lawas gak nulis jadinya gini.

"Serasa seperti pasangan baru, ya?"/"Dengar-dengan Jaejoong songsaengnim itu gay, menurutmu orang yang homo bagaimana, Yifan?"/"Aku tak bisa tidur,"/"Kenapa terburu-buru?"/"Luhan?!"

Yey! updatan ^