Hi (lagi) minna~

Senangnya…. Review fic Misa banyak~ #tabur kembangtujuhrupa (?)

Terakhir Misa cek ada 12~ Itu sudah (sangat) banyak menurut Misa… ^^

Dan juga, Misa mendapatkan penemuan baru! Misa nemu flamer di review fic Misa.

Oalah.., sekarang benar deh, kalo nggak suka, nggak usah baca aja yah….

Nggak enak juga ternyata kalo dapat flame.. T^T

Hmm…, balasan review-nya ntar di koment bawah abis fic-nya yah…

Ok, RnR fic Misa (lagi) yah… ^^

Disclamer: Naruto © Masashi Kishimoto

Genre: Romance

Pairing: SasuSaku

WARNING: AU, OOC, Gaje-ness (?)

Don't like, don't read! (Kalo nggak suka, nggak usah baca!)

.

.:Feeling:.

.

.


Sasuke, hari ini dia ingkar janji lagi! Dia bilang akan jalan bareng hari ini. Tapi apa? Lagi-lagi pergi dengan Naruto? Sebegitukah spesialnya Naruto di matanya? Sampai-sampai dia ingkar janji padaku. Padahal dia sendiri yang mengajakku pergi tempo hari. Dia bilang akan menebus semuanya. Tapi apa? Naruto lagi, Naruto lagi…. Sudah dua tahun kami jadian, pada akhirnya jadi seperti ini? Jadi, apa gunanya? Ya, aku tau kalau Sasuke sudah berteman dengan Naruto sejak dulu, tapi seharusnya dia bisa memposisikan dirinya dengan baik dong? Jagan berat sebelah begini? Katanya orang pintar, katanya orang jenius, katanya keturunan elit Uchiha, tapi mana buktinya? Atau…, apa Sasuke mulai menjadi seorang gay?

...


Chap 2: Sakura – Jangan Sampai!

"Sakura…"

Akh, jangan sampai! Aku tidak mau hal itu terjadi!

"Sakura…"

Hhh… jadi kepikiran mulu 'kan. Tapi ngomong-ngomong, mereka mau pergi kemana sih? Perasaan tiap mereka pergi berdua (yang sudah banyak kali), aku tidak pernah tau kemana. Apa kucari tau saja yah? Hmm… ide bagus!

"Sakura!"

"Ah, iya!" ucapku terkejut yang membuat suaraku jadi meninggi. Akh, aku melamun di jalan. Eh, tunggu dulu. Perasaan sebentar ini ada orang yang memanggilku 'kan? Sekarang mana orang itu?

"Ah, anu… Sakura, aku di belakangmu. Maaf mengagetkan…" ucap seseorang itu lagi dengan nada rendah. Seperti nada orang yang bersalah. Aku kenal suara ini.

"Eh, Hinata? Kenapa kamu ada disini?" tanyaku pada gadis yang memanggilku tadi. Gadis itu berparas cantik dengan mata lavender dan rambut panjang sepinggang (author: bener nggak panjang rambut Hinata tu sepinggang? Kalo nggak, ntar protes aja yah di ripiu. ^^v).

"Sakura… I, itu… Sebenarnya aku sudah dari tadi berada di belakangmu… Bahkan sudah dari sekolah tadi… Kamu mengajakku pulang bersama 'kan? Katanya ada yang mau kamu bicarakan denganku…" jawab gadis itu masih dengan suara yang kecil. Ya, itu adalah ke-khas-an Hinata (menurutku). Dia itu gadis yang pemalu.

Ah, benar juga… aku sampai lupa! Tadi sepulang sekolah aku 'kan mengajak Hinata! Akh, aku sudah benar-benar eror sekarang.

"Hwa~ Maaf sekali Hinata…. Aku lupa. Akh, bodohnya aku. Padahal aku yang mengajakmu pulang bersama, tapi aku sendiri malah asyik dengan lamunanku sendiri. Sekali lagi, gomen…" ucapku padanya. Ah, semoga saja dia tidak marah padaku…. Semoga saja.

"Ah, tidak apa-apa kok… Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, Sakura? Dan lagi, dari tadi kamu melamun… Apa kamu sedang ada masalah? Kalau tidak keberatan, mau bicarakannya padaku?" tanyanya. Hinata memang gadis yang baik, lembut dan ramah. Tidak salah aku memilih dia untuk berbagi perasaan ini.

"Iya, itu yang ingin aku bicarakan padamu Hinata. Tapi sepertinya, kita harus mencari tempat dimana kita bisa bicara dengan tenang. Bicara sambil jalan begini kurang enak rasanya," saranku.

"I, iya…"

Lalu kami pun mencari suatu tempat yang nyaman untuk berbicara. Membicarakan masalah ini. Ha, ada! Sebuah bangku. Bagus, lokasi yang tepat. Bangku itu berada di sebuah taman yang berada hampir di tengah kota. Tepat dibawah sebuah pohon rindang. Sangat tepat dengan cuaca yang sebenarnya bisa dibilang terik ini. Matahari terlalu bersemangat untuk membagi cahayanya. Dengan duduk di bawah pohon yang rindang, setidaknya saat kami bicara nanti, oksigen dari pohon itu bisa langsung kami hirup dan juga setidaknya dengan berada disana, rasa panas ini akan terasa sedikit lebih tidak panas (?).

Setelah menemukan posisi yang nyaman dan santai di bangku itu, aku memulai pembicaraan.

"Hinata, kamu pasti tau Sasuke, 'kan?" tanyaku padanya.

"Sasuke? Ah, ya, tentu. Siapa yang tidak kenal dia, Sakura."

"Kamu juga pasti kenal Naruto, 'kan?" tanyaku lagi. Tapi kali ini ada yang berbeda dari reaksi Hinata. Kali ini mukanya terlihat memerah. Sudah kuduga. Hinata memang menyukai Naruto.

"Hmm… Hinata? Kamu juga pasti kenal Naruto 'kan? Cowok rambut duren yang berisik dan menyebalkan itu," ucapku dengan 'agak' sedikit 'mengejek' Naruto. Ingin lihat apa seperti apa reaksi Hinata.

"Ah, iya. A, aku tau. Ta, tapi dia itu tidak seperti yang kamu pikirkan Sakura. Dia memang berisik… tapi dia tidak menyebalkan. Kamu hanya belum mengenal dia saja…" ucapnya. Ah, aku juga sudah menduga dia akan bicara seperti itu. Dia setidaknya pasti 'marah' karena aku mengejek Naruto. Seperti halnya jika ada yang mengejek Sasuke. Aku pasti akan sangat marah pada orang itu. Dan menurut Ino -juga sebagian temanku lainnya-, kalau aku marah itu akan sangat menakutkan. Menyeramkan malah. (Takut dan seram beda, 'kan?)

"Iya, maaf. Dan apa menurutmu akhir-akhir ini Naruto bersikap aneh? Ya, berbeda dari biasanya mungkin?" tanyaku lagi. Aku yakin dengan pasti (?) Hinata pasti mengetahuinya. Dia 'sepertinya' selalu memperhatikan Naruto.

"Ah, kenapa kamu menanyakan itu? Apa kamu menyukai Naruto?" Hinata… bukan kata-kata itu yang ingin aku dengar… Mana mungkin aku menyukai orang yang sudah mengambil perhatian Sasuke dariku…

"Tidak, bukan. Kamu tau 'kan, kalau aku ini sudah punya pacar. Mana mungkin aku menyukai Naruto," ucapku sehalus mungkin supaya tidak menyinggung Hinata. Ah, aku melihanya. Ekspresi yang menandakan 'kelegaan'. Sepertinya Hinata merasa lega karena aku tidak menyukai Naruto. Mungkin karena saingannya berkurang? Ya, setidaknya, tidak bertambah...

"Begitu ya," ucapnya sambil terseyum. Walaupun senyumnya itu tidak terlalu diperlihakan. Tapi aku bisa melihat dengan jelas senyum di wajahnya itu.

"Jadi bagaimana? Apa kamu merasa ada yang aneh pada Naruto?"

"Ya, sepertinya ada yang berbeda dari sikap Naruto. Dia rasanya jadi tidak seriang yang biasanya lagi."

'Tidak seriang yang biasanya?' Rasanya dia selalu riang deh. Malah menurutku dia jadi tambah riang dan tambah berisik. Soalnya dia 'kan sudah berhasil mengambil perhatian Sasuke-ku.

"Tidak seperti biasanya, ya?"

"I, iya.. Itu menurutku.." Sepertinya aku harus percaya dengan pendapat Hinata. Dia memang selalu memperhatikan Naruto. Jadi rasanya wajar saja kalau dia tau itu. Lagi pula, bukankah karena itu juga aku ingin membagi perasaan ini dengannya?

"Kira-kira... sejak kapan sikap Naruto itu jadi tidak seperti biasanya?"

"Hmm… sejak satu bulan yang lalu."

Binggo! Sudah kuduga! Sikap Sasuke juga mulai berubah sejak satu bulan yang lalu. Ah, apa jangan-jangan firasatku ini benar? Mereka yaoi-an? Akh, jangan sampai! Tidak boleh! Pokoknya jangan sampai itu terjadi! Tunggu dulu. Bukankah itu sudah terjadi? Sikap mereka sudah berubah, 'kan? Akh, tidak…!

"Hinata…"

"I, iya. Ada apa, Sakura?"

"Kamu suka Naruto 'kan?" tanyaku tu de poin.

"Eh, ah… I, itu…"

"Bagaimana rasanya kalau tiba-tiba saja Naruto itu berubah haluan? Maksudnya, jadi menyukai sesama jenis gitu."

"Eh? Ra, rasanya tidak mungkin… Menurutku itu tidak mungkin," jawabnya.

"Tapi, Hinata! Coba kamu lihat. Tidakkah kamu merasa Naruto itu jadi berubah gara-gara Sasuke? Akhir-akhir ini mereka jadi sering bersama! Apa kamu tidak merasa ada yang janggal dengan itu?" ucapku yang tidak sengaja jadi terbawa emosi. Aku jadi bicara dengan nada tinggi. Akh, tidak…. Hinata pasti marah padaku. Apa-apaan aku ini, seenaknya saja bicara keras padanya. Ah, aku akan kehilangan seorang teman setelah ini.

"Tidak mungkin, Sakura. Tidak mungkin seperti itu…. Naruto tidak seperti itu…" ucapnya. Tapi kali ini suaranya jadi terdengar agak berat. Tidak. Apa Hinata menangis?

"Hi, Hinata? Apa kamu baik-baik saja? Kamu menangis?"

"Tidak, tidak apa-apa Sakura. A, aku… hanya tidak percaya saja," ucapnya masih dengan suara berat.

"Ah, Hinata. Itu baru dugaanku saja… Belum tentu benar. Hehe… Aku terlalu berpikiran jauh ya? Dasar aku ini. Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku ini memang bodoh."

Hei, kenapa aku jadi begini? Aku jadi menghibur Hinata. Dengan… dengan menyangkal apa yang sudah jauh-jauh hari aku anggap sebagai penyebab Sasuke jadi berubah. Aku jadi menyangkalnya… untuk… menghibur Hinata? Ah, ada apa sebenarnya ini? Aku bicara dengan Hinata dengan tujuan supaya aku merasa jadi lebih lega, bukan? Tapi kenapa jadinya seperti ini? Aku malah jadi menambah masalah. Akh, aku memang bodoh. Bagaimana ini?

"Hinata? Tidak usah terlalu dipikirkan, ya?" ucapku lagi.

"…."

~~TBC~~

…..


Fiuh~ Chap 2 selesai juga… Gimana? Ancur yah? Ceritanya jadi jelek yah? Gaje kah? Nggak nyambung mungkin?

Akh…, maap kalo itu memang benar… #bungkuk-bungkuk minta maaf

Misa memang nggak jago dalam hal ini…. Tapi Misa udah berusaha sebisa yang Misa bisa (?).

Jadi, kalo misalnya ada yang tidak berkenan, tolong bilang di ripiu ya?

Tapi ingat! Kali ini Misa TIDAK menerima flame! Kalo sedikit kritik dan banyak saran sih, boleh. ^^v

Soalnya nggak enak banget nerima flame ternyata. Apalagi kata-katanya kasar dan menyayat-nyayat hati. -halah- Lain halnya kalo dia nge-flame fic Misa dengan pilihan kata yang tepat dan tidak menyaki hati, pasti Misa akan menerimanya dengan senang hati… Tapi masalahnya, apakah ada para flamer(s) yang seperti itu?

.

Ok, balasan ripiu chap 1~

Nakamura Kumiko-chan = He2.. Thx, senpai.. ^^ Oya, apa di chap 2 ini Misa udah mendeskripsikan tentang latarnya dengan baik? Kalo belum, di chap depan Misa perbaiki deh.. ^^v

Kazuma Big Tomat = Ni udah Misa apdet, senpai. Gimana hasilnya? Sesuai yang diinginkan kah? Atau malah jauh dari yang diinginkan?

viori 'fyo' nogi = thx.. ^^ Apa apdet Misa sekarang ni udah bisa dibilang kilat? Selang waktu 3 hari lho... Karena Misa dah apdet kilat, Fyo musti ripiu fic Misa lagi yah? *maksa* #digampar

Arisu yama-chan = Ya, lam kenal, senpai.. ^^ Semoga chap 2 ini jadi lebih panjang… Semoga.. Semoga… -halah-

Akarima Tsukichi = Hai Rima… Thx.. ^^ Yosh! Mari kita berjuang!

Pitophoy = He2… makasih… Kepala Misa udah bertambah gede ni gara2 ripiu-nya.. Iya! Kenapa Sasu lebih mentingin dia ya? Misa juga penasaran.. #dihajar massa

Kuroneko Hime-un = Hai, hai, senpai… Makasih atas sarannya.. ^^

Micon = Hai juga~ Hohoho… kita sama.. Tos dulu! #plakk He2.. Misa juga nggak ada masalah dalam hal pair… Dan kali ini Misa nyoba pair SasuSaku dulu.. ^^ Semoga hasilnya bagus… Ya, setidaknya, hasilnya itu nggak jelek.. -sama aja-

Konanlover chan = Santai buk… Misa nggak bakat jadi author? Ok, Misa nyadar kok. Yang penting, Misa udah berusaha. Tapi jangan cuma bisa bicara, buk.. Fic buatanmu mana?

Megumi Kisai = Ayo, senpai.. Kita berdo'a bersama-sama supaya hal itu tidak terjadi… #dilempar ke teluk Tokyo

Yunacha' Zaitte = he2... ripiu-mu belom telat kok... ya, moga ja di chap 2 ni bebas dari typo(s) -walau super mustahil rasanya-

.

Siip..! Balasan ripiu, ok.

Oya, ripiu bagi Misa sangat berpengaruh lho... Jadi, kalo ripiunya cuma dikit, Misa nggak bakalan lanjutin fic ni...

Ha, iya! Misa juga mau ngucapin Met Lebaran minna~ Moga dapat THR yang buanyaak... -halah- ^^v

Ok, akhir kata...

R.E.V.I.E.W

.

\^o^/

.

.:Misaki UchiRuno:.

...