Disclaimer : Psycho-Pass milik Gen Urobuchi/Noitamina/IG Production


Tokyo, 2099.

Jalan Sensu dan Jalan Angu adalah dua jalan yang terisolir sejak 2076. Pihak berwenang hanya memasang pagar kawat tak terkunci yang mudah dilewati di sekeliling jalan sepanjang 1,6 km tersebut untuk membatasi daerah tersebut dengan wilayah lain Tokyo yang terus berkembang. Sebab, tidak ada yang mau pergi ke sana, tempat yang hanya mengingatkan pada duka mendalam warga Tokyo puluhan tahun silam. Jadi untuk apa memperketat pengamanan di daerah kosong melompong?

Hingga sekitar sepuluh tahun yang lalu, Jalan Sensu yang terlupakan mulai menarik perhatian lagi. Saat itu, sebagai detektif, Tomomi menyelidiki kasus penemuan jenazah seorang remaja pria di Jalan Sensu. Saat itu disimpulkan bahwa remaja itu bunuh diri. Meski demikian, kasus tersebut telah memulai wacana agar Jalan Sensu dan Jalan Angu ditangani dengan serius.

Kini, tampaknya kedua jalan terabaikan itu sudah menjadi sarang kriminal. Tempat yang berbahaya.

Orangtua Akane sudah melaporkan bahwa mereka kehilangan Akane. Anak itu belum kembali sejak pamit untuk bermain di sekitar apartemen neneknya. Sebagai seorang ayah, Tomomi memahami perasaan mereka. Ia pernah panik saat kehilangan Nobuchika di sebuah festival, padahal saat itu Nobuchika hanya terlalu asyik melihat-lihat di depan sebuah gerai tanaman. Hingga tiba waktu untuk pulang, Tomomi menggendong Nobuchika agar lebih mudah diawasi.

Jika saja Akane tidak memasuki Jalan Sensu, keberadaannya pasti bisa dilacak dengan mudah. Dan Nobuchika adalah salah seorang yang bertanggung jawab atas ulah Akane itu. Nobuchika, putra Tomomi sendiri.

Tomomi tidak tahu apa jawaban MWPSB atas laporan orangtua Akane. Namun Tomomi bisa memberikan jawaban itu. Sekaligus menemukan jawaban atas pertanyaannya sendiri. Di mana Nobuchika? Bagaimana keadaannya? Benarkah dugaan CID terhadap Nobuchika dan Shinya?

Saat Waku dan Tomomi tiba di perbatasan Jalan Sensu, drones telah memblokir beberapa titik jalan keluar. Dua orang Inspektur Divisi 2 masih menunggu kedatangan para Penegak yang dibawa dengan kendaraan berbeda. Penyisiran terhadap daerah ini akan dimulai segera. Waku dan Tomomi serta sejumlah drones akan memasuki Jalan Sensu lebih dulu.

"Kuharap kita bisa menemukan anakmu secepatnya, Masaoka-san," ujar Waku.

Tomomi hanya mengangguk. Ia menunggu proses initializing selesai. Setelah dinyatakan sebagai pengguna yang sah, ia berjalan di depan Waku. Dengan Dominator siap ditembakkan.


Kou bisa apa? Ya, ia memang bisa gulat dan kick boxing, juga bercita-cita menjadi seorang inspektur. Akan tetapi, tetap saja ia masih anak-anak. Bulan depan, usianya baru akan menginjak lima belas tahun. Apa yang harus ia lakukan dalam situasi ini?

Akane terus menangis dalam dekapannya. Menceritakan apa yang baru saja ia alami. Berulang-ulang.

"Kakak itu dipukul sampai jatuh... Aku disuruh lari... Dime juga tidak bisa jalan lagi..."

Ini salahku! Aku yang membawa mereka ke sini. Kupikir daerah ini hanya wilayah kosong biasa. Ternyata di sini berbahaya. Ternyata ada penjahat di sini, rutuk Kou dalam hati.

Kou melepaskan Akane. Ia beranjak menuju arah yang dituju Gino sebelumnya. Ia harus melihat keadaan sahabatnya. Jika dapat, ia akan menolongnya.

Tapi bagaimana dengan Akane?

Kou menatap Akane yang berjongkok sambil menangis. Akane juga bisa berada dalam bahaya lagi jika dibiarkan sendirian. Lagipula, Kou sendiri tidak yakin bahwa dirinya dalam keadaan aman. Apalagi matahari mulai terbenam. Sebentar lagi gelap. Kou tidak tahu seperti apa suasana di daerah ini pada malam hari. Terlalu berbahaya.

"Kita cari bantuan," kata Kou pada Akane. Ia menggendong gadis kecil itu, kemudian bergegas menuju perbatasan Jalan Sensu. Tapi ejekan seseorang dari belakangnya membuatnya berhenti melangkah.

"Dan meninggalkan temanmu sendirian? Saat kau tiba dengan bantuanmu itu, temanmu mungkin sudah mati dimangsa predator-predator itu."

Kou tercengang. Ia tidak mengenal orang yang memperingatkannya itu. Kelihatannya bukan orang Jepang karena kulitnya berwarna gelap. Ia menyeringai pada Kou. Tubuhnya yang tinggi dan kekar membuat Akane merasa takut. Gadis itu menyembunyikan wajahnya di bahu Kou.

"Paman itu yang memukul Kakak," bisik Akane. Ia mengeratkan pegangannya di lengan Kou.

Kou terhenyak. Dipukul oleh orang sebesar itu, wajar saja jika Gino jatuh. Kou pun tidak yakin bahwa ia bisa lebih baik daripada Gino. Namun satu hal yang Kou yakini, bukan hanya Gino yang berada dalam bahaya. Dirinya dan Akane kini juga menghadapi masalah yang sama.


"Bangun, anak bodoh! Kau tidak boleh pingsan lama-lama. Pelangganku menunggu."

Gino mengerang. Matanya masih terpejam, sulit untuk dibuka. Lagipula kepalanya sakit. Rasanya berat untuk menuruti perintah itu.

"Pemalas!"

Wow, pria itu sudah dua kali memaki padahal Gino belum sekalipun melihat wajahnya. Hebat sekali.

Namun itu belum seberapa. Tunggu hingga pria itu bertindak lebih jauh. Menyiram wajah Gino agar anak itu cepat sadar.

Tubuh Gino berguncang. Terkejut karena siraman air di wajahnya. Sebentar... bukan air. Bau dan rasanya berbeda. Gino juga merasakan perih di pelipisnya akibat terkena siraman cairan itu. Matanya membuka. Akhirnya.

"Kenapa? Belum pernah minum vodka ya? Kau pikir minuman yang enak itu hanya bir murahan yang kau bagi dengan temanmu?" ejek pria itu lagi sambil terkekeh puas.

Karena penglihatannya kurang jelas, Gino mengerjap-ngerjapkan mata. Ia hendak mengusap matanya agar bisa menyingkirkan wiski yang menempel. Tapi tidak bisa.

"Eh?" Gino tersentak. Kedua tangannya tidak bisa digerakkan, tersembunyi di balik punggungnya. Terasa sakit di pergelangan saat Gino mencoba menariknya. Rupanya tangannya diikat. Gino meronta karena panik, tapi malah dihadiahi pukulan di wajahnya hingga ia tersungkur mencium lantai. Sepasang tangan segera membalik tubuh Gino dan memaksanya duduk. Gino terhuyung karena pukulan itu hanya menambah parah penderitaannya.

"Choe Gu-sung, jangan memukul di wajah. Harganya bisa turun nanti," sergah seorang pria lagi menegur pria pertama. Suaranya pun terasa asing bagi Gino. Lagipula, memangnya Gino bisa mengenal siapa di daerah ini?

Pandangan Gino semakin jelas dan terang. Ia terkejut saat menyadari bahwa seraut wajah kini tengah berada sangat dekat dengan wajahnya. Gino tidak mengenal pria itu, tapi tampaknya pria itu—Choe—sangat berminat padanya.

"Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat memasuki daerah ini? Anak bodoh, lain kali keluargamu akan melihatmu di dalam peti jenazah. Sebagian pemangsa itu lebih suka membunuhmu daripada membawamu keluar dari sini hidup-hidup," ujar Choe tanpa nada mengancam. Ia tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Tangannya mengusap-usap pipi Gino.

Gino tidak mengerti apa yang Choe katakan. Ia mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya walau kepalanya masih sakit. Bola mata hijaunya mengitari sekelilingnya. Ia berada di dalam sebuah ruangan yang mengingatkannya pada toko hewan peliharaan yang biasa dikunjunginya. Ada banyak kerangkeng untuk hewan di sana, tapi semuanya kosong dan terabaikan. Rekan Choe duduk di atas sebuah kandang pintunya sudah lenyap. Kandang yang cukup besar untuk ditempati oleh seekor anjing. Anjing sebesar Dime...

"Dime! Akane!" sergah Gino tiba-tiba. Secara naluriah ia mencoba bangkit untuk mencari Dime dan Akane. Namun pria di depannya menahan kedua bahunya. Lalu menamparnya. Gino terkejut sekali lagi. Ia menatap Choe dengan nanar.

"Sudah kubilang, jangan memukul di wajah," sergah pria kedua. Ia terdengar kesal. Choe terkekeh.

"Baiklah," kata pria pertama pada Gino, "aku tidak akan memukulmu di wajah lagi, tapi di ulu hati. Sama dengan yang Rutaganda lakukan untuk melumpuhkanmu."

Rutaganda? Siapa lagi itu? Apakah dia yang menangkap Gino?

Saat itu Gino sudah menemukan Akane dan Dime. Ia mengajak mereka pulang, tapi dua orang pria menghalangi jalan mereka. Yang satu bertubuh tinggi besar dan berkulit gelap, sedangkan yang lainnya lebih kecil. Mereka berusaha menangkap Gino dan Akane.

Gino dan Akane jelas saja memilih kabur. Tapi Gino dibekap oleh pria yang ternyata bernama Rutaganda itu. Gino berusaha melepaskan diri, tapi Rutaganda jauh lebih kuat. Akane juga dengan dengan mudah ditangkap oleh rekan Rutaganda. Dime berusaha menolong tuannya, ia menggigit kaki Rutaganda. Namun Rutaganda tidak merasakan apa-apa sama sekali. Entah apa yang membuatnya kebal terhadap gigitan seekor anjing. Ia malah tertawa dan mengatakan bahwa anjing Gino itu sudah menggelitikinya.

Pria yang menangkap Akane memukul Dime dengan sebatang kayu. Berulang-ulang hingga Dime lumpuh. Gino tidak terima. Ia berusaha melepaskan diri lebih keras lagi. Walaupun caranya agak memalukan, tapi hanya itu yang dapat Gino lakukan. Menggigit lengan Rutaganda, sambil berharap bahwa lengan orang itu tidak sekebal kakinya. Harapan Gino terkabul.

Rutaganda berteriak marah. Tapi ia mengendurkan lengannya. Gino meloloskan diri lalu menghampiri pria yang menangkap Akane. Tanpa berpikir, ia meninju wajah orang jahat itu. Cukup keras juga hingga lawannya yang tidak siap menjadi terhuyung. Akane terlepas dari pegangan pria itu dan terjatuh. Gino menyuruhnya lari. Akane menurut, meski tampak berat meninggalkan Gino sendiri.

Gino mengambil tubuh Dime tanpa memeriksanya lagi. Ia juga harus cepat-cepat lari. Rasa cemasnya pada kondisi Dime membuatnya lupa bahwa orang-orang jahat di belakangnya masih dapat menyakitinya.

Rutaganda memukul kepala Gino hingga Gino terjerembab. Dime terlepas dari gendongan, menimpa aspal jalanan. Rutaganda kemudian membalik tubuh Gino yang masih terkapar memegang kepalanya. Pria besar itu sangat marah sehingga dengan satu pukulan telak di ulu hati, Gino dilumpuhkan. Hal terakhir yang Gino lihat adalah tubuh Dime yang tergolek, tidak bergerak lagi. Kacamata Gino tergeletak di dekat tubuh anjing kesayangannya itu. Ada Akane menjerit ketakutan. Kemudian berbalik dan berlari menjauh.

"Choe, Rutaganda belum selesai juga mengurus anak yang satunya?" tanya pria kedua, mengusir jauh ingatan Gino.

"Lama sekali dia. Pelelangan dimulai sebentar lagi," balas Choe.

"Kita mulai saja. Anak yang satunya kita siapkan belakangan."

Pelelangan. Gino berpikir keras di antara kebingungan dan kecemasannya. Choe rupanya menyadarinya. Ia mengangkat dagu Gino agar wajah mereka berdekatan lagi.

"Tidak perlu serius begitu. Kau akan menjadi salah satu yang dilelang malam ini. Pada awalnya kami hanya menyediakan wanita. Tapi ternyata ada juga yang menginginkan anak laki-laki. Kau dan temanmu yang nakal itu akan menjadi yang pertama," ujar Choe.

Gino terbelalak. Ia masih bingung, tapi ia tahu apa artinya dilelang. Untuk apa dia dilelang?

"Kau akan tahu maksudnya nanti," kata Choe sambil mengacak rambut Gino.

Tapi mungkin Gino tidak memerlukan penjelasan apapun. Sebab, apa yang paling ia butuhkan saat ini adalah kemerdekaan.


"Kau bisa memilih, anak nakal. Ikut kami dengan tenang atau kami gunakan kekerasan seperti kami menangani temanmu yang kutu buku itu," ujar Rutaganda. Ia tersenyum pada Kou. Senyuman yang lebih mirip seringai anjing pemburu.

Sulit untuk kabur menjauhi Rutaganda karena kawannya mengambil posisi tepat di belakang dirinya dan Akane. Mengepung dari dua arah.

Kou memandang ke sekelilingnya. Hanya ada deretan bangunan terabaikan di sana. Jika ia membawa Akane lari ke arah sana, berapa besar kesempatan mereka? Orang-orang jahat yang mengepung mereka ini tentulah akan mengejar. Mereka lebih mengenal daerah ini daripada Kou dan Akane yang baru pertama kali menjejakkan kaki di Jalan Sensu. Tapi, jika menyerah dengan cepat, tentu bukan pilihan bijaksana pula, bukan?

Kou berpikir keras. Lawannya adalah orang yang tidak akan segan menyakiti anak-anak seperti mereka. Gino sudah menjadi korbannya. Apa perlu ditambah lagi? Kou memaksa dirinya berpikir lagi. Ia menyadari satu hal. Orang-orang ini dapat dengan mudah menyakiti atau bahkan membunuh mereka. Jika mau, sejak tadi Kou dan Akane sudah mereka habisi karena memasuki daerah kekuasaan mereka. Apa yang menahan mereka? Apa yang mereka inginkan?

"Jadi, mau ikut agar kita tidak perlu berkeringat?" tanya Rutaganda sambil mengulurkan tangan. Mengajak Kou agar ikut dengannya secara sukarela.

Malam sudah merayap memasuki Tokyo. Jalan Sensu menjadi temaram oleh cahaya lampu yang berkedip dan pudar. Penglihatan Kou sedikit terganggu karena ia tidak terbiasa dengan pencahayaan minim. Namun pikirannya terang benderang.

Rutaganda mengerutkan kening curiga saat Kou membisikkan sesuatu pada Akane. Ia memberi isyarat pada temannya agar mewaspadai Kou.

Ternyata, Kou hanya menurunkan Akane. Teman Rutaganda menggandeng tangan gadis kecil itu, tapi Akane diam saja.

Kou menurunkan pula ranselnya, membiarkannya tergantung di tangannya. Dengan lunglai, Kou mendekati Rutaganda. Tanda menyerah.

"Ternyata kau lebih pintar daripada temanmu itu," komentar Rutaganda. Jelas-jelas itu bukan pujian. Tapi, siapa yang peduli.

Kou diam saja. Tapi bukan berarti sudah benar-benar menyerah.

Sadar bahwa ia kalah tinggi dan lebih lemah, Kou melakukan teknik sederhana untuk melawan. Mendadak ia melempar ranselnya ke arah wajah Rutaganda. Isi ranselnya bertebaran di udara, tapi itu bukan serangan sesungguhnya. Itu hanya pengalih perhatian untuk menyentakkan Rutaganda. Dan...

Uppercut Kou sukses mendorong dagu Rutaganda! Rutaganda terhuyung karena serangan mendadak itu. Tapi Kou tak membuang waktu. Ia melompat dan menendang ke arah tenggorokan Rutaganda, menyerang salah satu titik lemah manusia.

Di sisi lain, teman Rutaganda terkejut menyaksikan serangan Kou. Ia menjadi lengah, membiarkan Akane menggigit kuat tangannya. Pria itu berteriak marah sambil menarik tangannya. Akane segera kabur menuju ujung Jalan Sensu, tapi pria tersebut tidak mungkin membiarkannya. Ia mengejar anak itu. Di belakangnya, Kou menyusul setelah Rutaganda terjungkal.

"Beraninya sama anak kecil!" teriak Kou kesal sambil menarik kerah baju teman Rutaganda. Tarikan yang kuat dan cepat itu menyebabkannya ikut terjungkal seperti rekannya. Memberi waktu pada Kou dan Akane untuk kabur lebih jauh sebelum pria tersebut bangun dan mengejar lagi.

Rutaganda bangkit sambil memegang tenggorokannya yang sakit. Dengan terhuyung, ia menyusul rekannya. Ia mendesis marah, bertekad untuk menghajar Kou, tidak peduli jika perbuatannya akan membuat uangnya melayang. Anak-anak itu harus diberi pelajaran!

Kou berhasil menyusul Akane, lalu menggendongnya. Kecepatan larinya menjadi lebih lambat, tapi setidaknya Kou bisa memastikan bahwa Akane tidak akan disentuh oleh orang-orang jahat itu lagi.

Tapi mungkin itu bukan keputusan yang tepat bagi Kou. Sebab, teman Rutaganda menjadi lebih mudah menyusulnya. Pria yang tubuhnya jauh lebih kecil daripada Rutaganda itu menarik baju Kou, mencoba mengulangi perbuatan Kou sebelumnya. Berhasil. Kou terjungkal. Akane terlepas dari gendongannya, berguling menuju pinggir jalan. Anak itu tak bergerak setelah tubuhya menabrak pembatas pedestrian.

Kou yang terkejut tidak sempat melawan saat pria tersebut menginjak perut dan dadanya. Kemudian menendang Kou berkali-kali dengan wajah garang hendak membunuh. Lagipula Kou sudah kehabisan tenaga setelah merubuhkan Rutaganda sebelumnya. Bagaimanapun, ia memang masih anak-anak.

"Kurang ajar! Kurang ajar!"

Kou melindungi wajahnya dari tendangan pria tersebut. Ia berusaha menangkap kaki pria jahat itu, tapi sia-sia. Pria yang sedang marah itu berlutut mengangkangi Kou, menarik kerah bajunya dan bersiap menghajar wajah anak itu.

Kou berpikir bahwa perlawanannya sudah berakhir. Ia tidak mungkin menang melawan dua orang dewasa berpengalaman.

Mendadak wajah Kou diterangi cahaya maha terang berwarna kehijauan, memancar dari sebuah sisi yang tak dapat Kou lihat. Silau sekali, hingga Kou merasa bahwa dia akan buta saat itu juga.

Tapi ada hal yang lebih mencengangkan sekaligus mengerikan. Tangan yang hendak memukul Kou tiba-tiba menggelembung, membengkak luar biasa dan menjalar menuju bagian tubuh lainnya. Dalam waktu sangat singkat, tubuh pria itu meledak dari pinggang ke atas, menyisakan bagian bawah tubuhnya yang masih mengangkangi Kou. Darah dan potongan kecil daging manusia terburai membasahi tubuh Kou yang terguncang menyaksikan pemandangan mengerikan itu.

"Kau Shinya-kun, bukan? Di mana Nobuchika dan Akane?!"

Kou menoleh dengan gemetar, mencari pemilik suara tersebut. Ia mendorong sisa tubuh penyerangnya dengan sedikit jijik. Tapi yang jelas, ia merasa takut. Ia belum pernah melihat orang dihancurkan semudah itu. Membayangkannya pun tidak. Tidak pernah.

NYAMBUNG MINGGU DEPAN KALAU INTERNET LAGI BERSAHABAT.


A/n :

Rutaganda dan Choe berteman di sini. Soalnya ngga mungkin saya memilih Makishima, Nicholas, Kamui apalagi Rikako untuk jadi penjahatnya kan? Dari segi ideologi memang hampir tidak mungkin Rutaganda dan Choe jadi tukang culik dan tukang jual anak orang. Tapi setidaknya dari segi usia, bisalah diatur :D

Dan kenapa Gino dan Akane di sini jadi suka menggigit seperti Dime ya? Dan apakah aman menembakkan Dominator di dekat orang yang bukan sasaran seperti Kou? *mikir setelah ficnya jadi.

BTW, nama Jalan Sensu dan Angu itu hanya karangan saya. Saya belum pernah ke Tokyo untuk membuktikannya sih. Dan saya ngga suka hewan peliharaan! Jangankan anjing, kucing lewat saja bisa saya galakin heuheu. Kalo sama anjing saya sih biasanya malah takut duluan. Najis tuh. Heuheuheu. FYI, NatGeo Wild dan Animal Planet adalah channel yang tidak saya pahami mengapa harus ada. Begitulah. Rambling lagi...