Our Dilemma Kiss

Park Jimin

Min Yoongi

Terinspirasi atau remake dari manga 17sai kiss to Dilemma.

.

.

Jimin merapatkan hoodienya dan turun dari boncengan Yoongi. "Hyung, bisakah aku saja yang memboncengmu lain kali?"

"Tidak. Aku akan selalu menjagamu kau tau itu." Yoongi berkata tegas dan menarik tangan Jimin. "Ayo masuk kelas."

Yang di tarik hanya mengangguk singkat. Dan mengikuti Yoongi.

Kelas hari itu tidak ada yang menarik sama sekali bagi Jimin. Ia berulang kali melirik pintu menanti 'murid baru' seperti yang di katakan Taehyung. Tapi nyatanya tidak ada murid baru sama sekali.

"Heh alien. Mana murid baru itu?"

"Murid baru apa?"

Jimin menginjak sepatu Taehyung dengan keras. "Ku mohon hentikan aktingmu itu. Kau bilang akan ada murid baru sialan."

"Sial park! Apa masalahmu? Ini sakit!" Taehyung mendesis menahan sakit di jempol kakinya dan mendelik pada Jimin. "Lagipula kau yang selama ini berakting bukan aku. Dan eh, aku bilang apa memangnya?"

Jimin sudah akan berteriak dan membenturkan kepala Taehyung ke meja kalau saja di depan kelas tidak ada guru yang sedang menuliskan rumus rumus fisika. Selain itu Jimin ingat kok. Dia kan 'cupu' iya kan?

"Kim. Kau bilang murid baru yang di kenal Yoongi hyung akan masuk sini. "

Taehyung menepuk keningnya sendiri. "Astaga! Aku lupa hehehe. Maksudku besok lusa. 2 hari dari sekarang. Hehehehe." Taehyung terkekeh pelan dan memamerkan senyum kotaknya. Tapi kali ini Jimin ingin sekali merobek mulut dengan senyum itu yang sukses membuatnya ketakutan sejak pagi.

"Sudahlah park. Kau sensitif sekali. Malam ini ada battle lagi di jalanan biasa. Kau sudah lama tidak kesana. Ada yang merindukanmu."

Jimin memutar bola matanya malas. "Jika ibuku tau aku masih menjalankan pekerjaan itu, dia akan membunuhku Kim."

"Tidak bekerja namanya jika kau jarang sekali mau menerima bayaran atas kemenanganmu sial." Taehyung mendengus.

"Kim Taehyung! Park Jimin! Apa yang kalian bicarakan?!"

Suara menggelegar dari guru mereka langsung membungkam dua orang yang asyik berdebat itu. Jimin menunduk dan mengutuk Taehyung dalam hati. Sial. Image anak baik nya bisa hilang.

"Sebagai hukuman, kalian kerjakan soal fisika di buku kalian sebanyak 50 soal. Kumpulkan besok."

Putusan final itu membuat Taehyung mengerang protes. "Saya tidak bisa fisika. Ganti saja dengan hukuman lain."

Guru tua itu menggeram marah melihat keberanian Taehyung membantahnya. "Aku tau kalian adalah murid loncat kelas yang pintar. Tapi ternyata tidak sepintar dugaanku. Min Yoongi! Kau pintar dalam fisika. Kau akan menjadi tutor mereka." Ujarnya sambil menunjuk Yoongi.

Yang di tunjuk hanya bisa mengangguk pasrah di sebelah hoseok. Sial, rencana tidurnya terganggu.

.

,,,

.

"Jadi buka buku kalian dan cepat kerjakan. Aku sangat mengantuk astaga!" Yoongi menduduk kan dirinya di kursi depan Taehyung dan Jimin saat kelas usai.

Taehyung mengerang malas. Ia sangat malas mengerjakan fisika!

"H-hyung... tak apa.. uh.. pulanglah saja.." Jimin menatap Yoongi dengan pandangan memelasnya. "Aku tidak ingin hyung lelah..." ucapnya pelan. Dan Taehyung benar benar ingin muntah sekarang.

"Tidak. Aku akan membantumu." Yoongi mengusap rambut Jimin. "Tapi sekarang, aku ingin tidur sebentar..." Ia menguap dan menelungkupkan kepalanya di meja.

Jimin tersenyum pada Yoongi yang tertidur. "Kim, segera kerjakan soal soal mu dan pergilah."

Taehyung mendengus. Ia sudah menduga hal ini. Tanpa banyak bicara, mulai mengerjakan soal soal di bukunya sementara Jimin masih memandangi Yoongi dengan tatapan memuja.

"Aku selesai."

Tidak sampai 15 menit, Taehyung menyelesaikan 50 soal. Jimin tertawa pelan. "Kau bilang kau tidak suka fisika."

"Aku tidak suka. Bukan tidak bisa. Ku pastikan guru itu menyesal sudah menghukumku seperti ini. Lagi pula kau bicara seolah olah kau tidak lebih pintar dariku. Aku taruhan kau bisa menyelesaikan itu dalam 5 menit." Taehyung merapikan bukunya.

Jimin hanya tersenyum kalem pada sahabatnya. "Kau sudah tau itu. Sekarang pergilah. Aku akan datang nanti malam jika sempat. Tapi aku tidak bekerja. Hanya menonton."

"Aku masih tidak mengerti apa modusmu dengan semua ini. Tapi aku benar benar mengharapkanmu datang nanti malam. Aku pergi dulu." Taehyung menepuk pundak Jimin dan berlalu dari sana.

Setelah sahabat aliennya pergi, Jimin kembali menatap Yoongi. Rambut coklat lembutnya. Bulu mata lentiknya. Bibir tipis nya. Astaga hanya melihat saja Jimin sudah merasa ingin memakannya.

"Biar ku makan sedikit saja. Kau juga tidak akan tau kan sayang?" Jimin melepaskan kacamata dan menurunkan hoodie tanpa melepas jaketnya. Menampilkan rambut hitam legam, mata setajam elang, dan rahang terbentuk sempurna yang ia sembunyikan selama ini.

Jimin kembali memperhatikan bibir Yoongi. "Biar kumakan sedikit saja..."

Ia menunduk kan kepalanya dan mencium bibir Yoongi. Melumatnya pelan. Merasakan bagaimana lembutnya bibir pemuda manis yang masih terlelap meski Jimin sedang 'melahap' bibir nya.

Jimin melepaskan lumatannya pada bibir Yoongi. Memperhatikan bagaimana bibir itu mengkilap dan sedikit membengkak karenanya. Dan Jimin harus benar benar menahan hasratnya untuk segera membawa pemuda manis ini kebawahnya. Melihatnya seperti ini saja membuat jimin sangat 'keras'

Jimin mencium kening Yoongi dan kembali menatap soal di bukunya. Hmm.. ia rasa ia fisika akan mendekatkan mereka.

Dan kurang dari sepuluh menit, jimin menyelesaikan semua soal pilihan ganda di hadapannya.

.

,,,

.

"Aku kesal padamu!" Yoongi masih merengut.

Jimin tetap mengayuh sepeda mereka dengan santai. "Aku tidak ingin membangunkan Yoongi hyung.."

"Tapi kau membiarkanku tertidur begitu! Aku tidak jadi mengajarimu fisika. Dan kau jadi harus memboncengku "

Jimin terkekeh. "Tidak apa. Aku senang membonceng Yoongi hyung."

"Dan aku masih mengantuk." Yoongi menguap pelan. Jimin memelankan sepedanya.

"Tidurlah. Hyung bisa memeluk pinggangku dan tidur."

Yoongi mengangguk tanpa banyak membantah. Ia melingkarkan lengan kecilnya di pinggang Jimin. "Hei, perutmu..."

Yoongi tanpa sadar mengusap perut Jimin yang di hiasi abs sempurna dari luar kemeja sekolahnya. Jimin hanya tersenyum samar.

"Ada apa?"

Yoongi yang sangat mengantuk itu menggelengkan kepalanya. "Mungkin efek dari mengantuk. Aku merasa perutmu memiliki abs dan itu mengagumkan... Tapi kau kan crying baby. Tidak mungkin memiliki badan sebagus itu.."

Jimin ingin menyahut tapi ia mendengar nafas teratur Yoongi di punggungnya. Ia terkekeh. "Andai kau tau hyung.. Itu berkat latihanku setiap malam bersama Tae dan yang lain."

Dengan bisakannya itu, Jimin kembali mengayuh sepedanya pelan untuk pulang.

.

,,,

.

TBC

.

HAI :D Aku tiba tiba ingin menaik kan rating ff ini (kalau ada yang minat) tapi aku blm pernah bikin nc :'D jadi sebatas grepe grepe dan kiss aja ya (?) Duh makin lama makin melenceng dari manga asli nya ini meski intinya tetep aja sama -_- maafkan saya /bow deeply/ tapi masih ada yang suka ndak? :') ahya kemarin banyak yg ngira itu namjun kan cwo barunya? Aku blm masukin cwo itu tapi. Kimtae sedang php :)) trus ada yg nyinggung chanbaek. Ku pikir bagus ndak ya masukin mereka disini tp sebatas slight aja ngga banyak (?) Halah aku kebanyakan omong ya? Hehehehe. Keep love yoonmin! #YOONMINFORLIFE ! Wkwkwk.

Last but not least, review please ^^