Our Dilemma Kiss

Park Jimin

Min Yoongi

Terinspirasi atau remake dari manga 17sai kiss to Dilemma.

.

,,,

.

"Lho? Yoongi? Kemana pangeran culun mu?"

Yoongi menggelengkan kepalanya. Ia melempar tas nya ke meja kelas dan langsung duduk tanpa banyak bicara.

"Kalian bertengkar? Baguslah. Sudah kubilang untuk mencari orang lain yang lebih tampan!" Hoseok masih gencar memberondong Yoongi.

"Diamlah."

Hoseok yang di berikan tatapan maut seperti itu langsung membungkam mulutnya sendiri. Meski masih sangat penasaran, ia lebih memilih diam daripada sepatu Yoongi mendarat di wajahnya lagi.

Namun seperti nya mood Yoongi sangat jelek hari ini. "Ugh!" Ia mendengus dan berlalu dari kelas itu.

"Apa apaan ini..." Yoongi memegangi dadanya yang terasa akan meledak. Ia duduk dan bersandar pada dinding pembatas di atap sekolahnya.

"Ugh bodoh! Kenapa aku mencium nya tadi? Bagaimana jika dia tau? Aaah dan kenapa jantungku seperti akan meledak?! Sial!"

Yoongi menutup matanya. Memutar kembali kejadian tadi pagi saat Yoongi dengan logika yang sudah menguap, mencium Jimin.

Astaga! Hanya dengan memikirkannya saja wajah Yoongi sudah memerah!

"Aaaah! Bodoh!" Yoongi berdiri dan berteriak untuk melepaskan kekesalannya pada dirinya sendiri.

"Siapa yang bodoh hyung?"

Yoongi menoleh ke pintu dan menemukan Jimin, dengan hoodie dan kacamatanya. Jimin si cupu. Si crying baby. Berbeda 180 derajat dengan yang tadi pagi di temuinya.

"Hyung? Kenapa? Apa hyung sakit?" Jimin mendekat dan mengecek suhu kening Yoongi. "Kenapa hyung tidak menjemputku tadi?"

Yoongi mendengus dan menjauhkan tangan Jimin dari keningnya. "Kau sedang tidur. Aku tidak tega membangunkanmu."

Jimin mengangguk paham dan menunduk. "Maafkan aku..."

"Tidak apa apa. Ayolah kita kembali ke kelas. Hari ini ada anak baru."

.

,,,

.

"Tae, kapan anak baru itu datang?" Jimin menyenggol lengan sahabat nya.

Taehyung sudah membuka mulutnya akan menjawab saat saem mereka masuk dengan di ikuti seseorang di belakangnya.

"Jimin..." Taehyung terpaku saat melihat orang yang masuk kelas mereka.

Tinggi badan itu...

Gesture itu...

"Kim Namjoon?!" Taehyung dan Jimin seakan tercekik saat menyebutkan nama itu.

"Kim Namjoon imnida. Bangapseumnida." Namjoon membungkuk kan badan tanda perkenalan. Semua orang di kelas itu berbisik bisik melihat ketampanan Namjoon.

"Kim Namjoon, duduklah di sebelah Park Kyungri." Guru mereka menunjuk bangku kosong di sebelah Kyungri yang berada tepat di depan kursi Min Yoongi.

"Sial..." Jimin mendesis kesal.

"Park... kau akan mati..." Taehyung bergidik ngeri.

Tapi Jimin menggelengkan kepala tegas. "Apapun kondisi nya, aku tidak akan kalah."

"Apa kau pikir dia tidak akan memancing kemarahan mu?" Taehyung menyadarkan Jimin pada sosok 'culun' nya.

"Sial..." dan sekali lagi Jimin hanya bisa mengumpat.

.

,,,

.

"Jadi namamu Min Yoongi?" Namjoon berbalik ke arah Yoongi saat guru itu keluar kelas.

Yoongi mengangguk sekilas tanpa benar benar memperhatikan Namjoon.

"Apa yang kau sukai?"

"Ketenangan." Yoongi berkata tegas dan berdiri dari kursinya.

"Mau kemana? Ingin kutemani?" Namjoon masih gencar mendekati Yoongi.

Saat itu bel tanda istirahat berbunyi nyaring. Semua orang berlomba keluar kelas. Tapi Namjoon tetap bergeming.

Yoongi mengacuhkannya dan berjalan menuju meja Jimin dan tersenyum padanya. "Ayo kita makan! Aku membuatkan makanan special untukmu!" Yoongi menata bekal nya di meja Jimin.

Namjoon memperhatikan mereka dari jauh. Ia yakin familiar dengan wajah di balik tudung dan kacamata itu. Ia masih memperhatikan dengan seksama.

Gotcha.

Namjoon menyeringai. "Ini keberuntunganku"

"Halo." Namjoon mendekati mereka dan duduk di depan Jimin. Ia memutar kursinya hingga menghadap Jimin. "Bisakah aku berkenalan dengan kalian?"

Yoongi mendengus. "Aku min Yoongi. Ini park Jimin. "

Jimin menunduk. Menyembunyikan wajahnya di balik hoodie dan mengumpat dalam hati.

Namjoon mengulurkan tangannya mengajak Jimin bersalaman. Dengan enggan, Jimin pun menyambut uluran itu dengan canggung.

"Yoongi, ku dengar dari hoseok, kau suka musik rapp?" Namjoon memfokuskan perhatiannya pada Yoongi yang menyuapi Jimin.

"Ya. Apa kau juga?" Yoongi membulatkan matanya.

"Aku dancer. Aku suka musik hip hop dan rapp." Namjoon melirik Jimin. "Dancer yang lumayan hebat."

"Wah kau dancer? Bolehkan aku melihatmu melakukannya?" Yoongi sudah melepaskan fokusnya pada Jimin dan memandang antusias pada Namjoon.

"Oh ya tentu saja. Besok lusa datang lah ke tempatku pukul 8." Namjoon menulis sebuah alamat di kertas disana.

"Itu terlalu malam." Jimin memotong pembicaraan mereka.

Yoongi merengut dan Namjoon mencubit pipinya karena gemas. Semua orang memang selalu gemas jika melihat Yoongi merengut seperti itu kan? Tapi Membuat Jimin ingin sekali memotong tangan pemuda tinggi agar tidak seenaknya menyentuh sang pujaan hati.

"Ikutlah saja Jim. Kau bisa menjaga Yoongi kan?" Namjoon berkata dengan nada penuh sindiran.

Jimin menggertakkan giginya menahan kesal. Ia baru akan menyahut saat Yoongi berucap tegas.

"Aku akan mengajak Jimin. Tapi tolong jangan macam macam disana. Aku harus menjaga Jimin."

Namjoon tertawa sarkskatik. "Ooh jadi kau yang selalu menjaga Jimin? Aku terkejut."

Yoongi dan Namjoon tertawa. Sementara Jimin tidak bisa menahan diri untuk memukul rahang Namjoon, ia pun memilih pamit ke toilet.

.

,,,

.

"Sial!" Jimin meninju dinding toilet dengan keras hingga tangannya memerah. Taehyung di sebelahnya hanya menghela nafas prihatin.

"Sabarlah sedikit Jim." Hanya itu yang ia katakan dari tadi.

"Sabar?! Kau bilang sabar?! Aku menjadi cupu dengan hoodie dan kacamata sialan ini demi dirinya! Dengan santainya dulu dia bilang lebih suka aku yang memakai kacamata dan hoodie karena terlihat lebih tampan. Lebih suka aku menjadi cupu yang menurut daripada berandalan. Dan aku terjebak bertahun tahun dengan identitas cupu ini sial! Tapi Dengan begini aku bisa lebih leluasa memeluk mencium nya. Arrgh! Kenapa si tinggi itu harus datang?!" Jimin berteriak frustasi dan memukul kaca toilet itu hingga retak. Meninggalkan darah di tangannya.

Taehyung menepuk bahu Jimin berusaha menenangkan sahabat nya itu. "ayo kita ke tempat Jungkook saja. Jika kau melampiaskan kemarahanmu disini, kau hanya akan menghancurkan seluruh sekolah."

"Membolos?"

Taehyung menyeringai. Jimin mendengus kesal. Membolos adalah hal yang tidak pernah ia lakukan sejak dia masuk smp. Sejak Yoongi menangis dan mengatakan lebih suka Jimin yang menurut.

"Ayo meloncati pagar samping saja."

.

,,,

.

"Menurutku hyung harusnya mengungkapkan perasaan hyung padanya." Jungkook meletak kan secangkir kopi pada Jimin yang terduduk lemas di lantai. Ini sudah dua jam sejak Jimin dan Taehyung datang. Jimin langsung melampiaskan rasa frustasi nya dengan menari dan memukul sasak tinju yang ada disana.

"Apa dia menyukaiku juga?" Jimin menghela nafas frustasi.

Taehyung yang berbaring di sofa melemparkan bantalnya ke kepala Jimin. "Katakan saja apa salahnya?"

Jimin meminum kopinya. "Yah.. entahlah." Ia pun berdiri lagi dan memukul sasak tinju di depannya dengan emosi. "Kim Namjoon sialan!" Umpatnya.

Jungkook dan Taehyung hanya menggelengkan kepala mereka prihatin melihat Jimin seperti itu.

"Kalian akan pulang jam berapa? Ini sudah malam dan di luar hujan." Jungkook menyibak tirai jendelanya.

Jimin melirik keluar. "Ck benar. Aku harus pulang."

Sejurus kemudian handphone di saku Jimin berbunyi. Dengan kesal ia mengangkat panggilan itu. "Ya eomma? Apa?! Sial! Baiklah."

"Ada apa hyung?" Jungkook menghampiri Jimin yang memakai hoodie nya lagi.

"Yoongi hyung terjebak hujan. Sepedanya rusak di tengah jalan dan sedang berteduh. Aku tau dia sebenarnya takut petir dan oh sial! Petirnya kencang di luar!" Jimin segera melesat keluar apartment menembus hujan untuk menemui Yoongi nya.

Jungkook dan Taehyung berpandangan. "Apa Jimin akan lari ke tempat Yoongi? Tadi kami kemari menggunakan motorku.." Taehyung menggumam sambil mengangkat kunci motor di tangannya. Jungkook menghela nafas berat. "Kita lihat saja."

.

,,,

.

"Ugh dingin..." Yoongi memeluk lututnya sendiri. Di sampingnya ada tas Jimin dan tas nya sendiri. Karena Jimin tiba tiba menghilang, Yoongi memutuskan menunggu pemuda itu hingga hampir malam. Saat ia memutuskan untuk pulang, di tengah jalan turun hujan dan sepedanya malah rusak. Ia pun terpaksa berteduh di gubuk kecil ini. Saat hujan semakin deras dan petir memyambar keras keras, Yoongi semakin menunduk memahan takut nya.

"Jimin..." tanpa sadar Yoongi menangis. Ia sangat merindukan Jimin. Biasanya Jimin akan selalu memeluk nya dan sebenarnya ia merasa sangat nyaman. Jimin berkata ia takut petir. Tapi Yoongi merasa Jimin hanya modus karena Jimin sepertinya tidak terlihat ketakutan. Tapi Yoongi pun tidak banyak protes karena ia juga menyukai pelukan Jimin yang hangat dan benar benar mendekapnya erat.

"Jimin..."

"Min Yoongi!"

Yoongi menoleh ke arah pintu. Dan menemukan Jimin, dengan badan basah kuyup, tanpa kacamata dan rambut berantakannya.

Jimin berlari ke pojok dimana Yoongi meringkuk sendirian. Dengan refleks, Yoongi mengulurkan tangannya meminta Jimin untuk memeluknya.

Jantung Jimin serasa di remas dengan kuat melihat Yoongi nya yang suka membentak dan keras kepala itu terlihat begitu rapuh hingga meminta Jimin untuk memeluknya. Tapi tanpa Yoongi minta pun Jimin memang akan selalu memeluknya.

"Jimin... hiks..." Yoongi membenamkan wajahnya pada dada bidang Jimin dan menangis pelan.

"Aku disini... Tenanglah sayang..." Jimin mengusap punggung Yoongi pelan.

Pemuda manis itu masih menggenggam erat bagian dada seragam basah milik Jimin. Seolah tidak rela jika ia di tinggalkan sendiri.

Jimin melepaskan sejenak pelukannya pada Yoongi yang sempat merengut kecewa. Tapi jimin mengusap rambut Yoongi "Kau akan sakit jika memeluk ku yang basah kuyup begini."

Dan tanpa aba aba, jimin melepaskan pakaiannya sendiri. Yoongi mendadak merona melihat jimin yang topless itu.

"A-apa yang kau lakukan?"

Jimin terkekeh. "Kau akan sakit jika memeluk seragamku yang basah. Seragam mu masih kering kan?"

Yoongi mengangguk dan melihat Jimin duduk di sebelahnya. Jimin yang sama seperti yang tadi pagi ia lihat di tempat tidur. Dengan tubuh kekar itu. Wajah itu...

"Kemarilah. Aku tau kau lelah." Jimin menepuk pahanya. Mengisyaratkan agar Yoongi duduk di pangkuannya.

Tanpa banyak bicara, Yoongi berpidah ke pangkuan Jimin dengan posisi menyamping. Menyandarkan kepalanya di dada bidang Jimin yang langsung memeluknya protektif.

"Tidurlah... aku akan menjagamu.." Jimin mencium kening Yoongi.

Yang dicium hanya mengangguk. Kehangatan tubuh Jimin menyebar dengan cepat ke dalam dirinya. Dan dengan lullaby yang di nyanyikan Jimin serta usapan di lengannya, Yoongi tertidur.

.

,,,

.

TBC

.

Aku apdet kilat kaaaaan /cium Yoongi/

Ini kependekan kah? Mianhae T.T semoga ini bisa memuaskan kalian ya :'D amin~ nah udah tau kan kenapa Jimin jadi cupu? Waktu kecil sempet berandalan. Tapi Yoongi ngga suka. Makanya dia jadi cupu aja gitu~ btw aku mau juga di pangku Jimin T.T (?)