.
.
"Hey alien! Ada apa dengan mu?" Jimin menepuk pundak Taehyung saat ia duduk di kursi kelasnya.
"Arrgh! Singkirkan tanganmu Park! " Taehyung berteriak kesakitan dan beringsut menjauh dari Jimin.
"Ada apa denganmu?"
Taehyung meringis. "Hanya melakukan sesuatu untuk orang yang ku sayang."
Jimin begidik ngeri. "Oh sial. Kata katamu mematikan Kim."
Taehyung menceritakan kejadian saat dia dan Jungkook di toko buku kemarin. Termasuk saat dia merelakan bahu hingga punggungnya lebam lebam.
"Yah... aku turut berduka cita..."
Taehyung mendengus. "Aku tidak mati Park."
Jimin mengangkat bahu cuek. "Aku hanya berduka cita atas lebam mu dan cintamu saja"
Taehyung memutar bola matanya malas dan termenung. Apa ia akan benar benar terus mengejar Jungkook?
.
,,,
.
"Yoongi noona!" Jungkook melambai pada pemuda manis yang sedang berjalan ke parkiran bersama si bantet alias Park Jimin.
Yoongi mendelik tidak suka. "Aku ini laki laki. Panggil aku hyung."
Jimin menatap was was pada Jungkook. "Singkirkan apapun yang ada di kepalamu Jeon Jungkook. Yoongi hyung akan pulang denganku."
Jungkook memandang sinis pada Jimin. "Aku tidak berbicara padamu hyung."
"Hentikan kalian berdua! Kau Jungkook, berhenti memanggil aku noona atau ku robek bibirmu dan kau Jimin, berhentilah bersikap kekanakan dan super protektif begitu." Yoongi mendengus sebal dan berjalan memdahului mereka.
Jimin segera berlari dan mendekap Yoongi dari belakang. "Hehehehe maafkan aku sayang. Ayo kita pulang."
Yoongi hanya menggumam tidak jelas. Tapi tentu saja mereka lupa tentang Jungkook dan segala rencana di kepalanya.
"Apa hyung tinggal dengan Jin hyung?" Jungkook tiba tiba sudah memeluk lengan Yoongi dengan manja yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jimin.
"Ya. Aku tinggal dengannya. Wae? Kau menyukainya dan ingin modus denganku agar bisa bertemu dengannya?" Yoongi melirik Jungkook.
Yang di lirik hanya menampilkan cengiran malu malu nya karena Yoongi dengan cepat membaca maksudnya.
"Kau bisa ikut denganku. Tapi Jimin hanya membawa satu motor dan aku tidak sudi kau di bonceng Jimin."
Jungkook berbinar. "Benar?! Aku boleh ikut? Yesssss!"
Jimin mencium pipi Yoongi dan berbisik, "kau tidak ingin Jungkook memeluk ku jika aku bonceng dia kan hyung? Ah kau juga protektif sekali."
Yoongi memukul kepala Jimin. "Percaya diri sekali kau Park Jimin." Ucapnya sinis tapi tidak bisa menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Hei kalian, menggosip saja seperti ibu ibu."
Taehyung tiba tiba sudah berdiri di belakang Jungkook. Membuat pemuda kelinci itu terlonjak kaget. "Hyung!"
Taehyung tertawa dan mengusap rambut Jungkook. "Kau tidak pulang?"
"Ya. Bawa dia pulang Tae." Jimin menarik Yoongi menuju motornya.
"Tae, antarkan bocah itu ke apartment ku dan seokjin hyung."
Taehyung mengernyit bingung dengan ucapan Yoongi. "Untuk apa?"
Yoongi sudah akan membuka mulutnya lagi jika Jimin tidak terlebih dulu menyela. "Biarkan mereka berangkat bersama kita saja hyung. Yoongi hyung ingin ice cream. Ikutlah kami dulu. Lalu kita ke apartment Yoongi hyung bersama."
Jungkook mengangguk semangat. Taehyung masih memandang mereka bingung. Tapi ia akhirnya menuruti saja karena Jungkook terlihat tidak ingin di bantah.
"Jimin, kenapa kau membawa mereka ikut dengan kita?" Yoongi berbisik pada Jimin saat mereka di jalan untuk membeli ice cream.
"Taehyung menyukai Jungkook." Jimin menjawab sambil mengusap tangan Yoongi yanh melingkar di perutnya. "Hyung pasti tau maksudku."
Yoongi terdiam sesaat. Lalu ia mengumpat menyesali kebodohannya. "Jadi jika Jungkook dan Taehyung sampai lebih dulu dan bertemu seokjin hyung, tae akan menahan sakit sendirian?"
Jimin tertawa. "Kekasihku memang pintar."
Yoongi merengut dan memukul punggung Jimin. "Aku memang pintar. Kau yang bodoh."
.
,,,
.
"Masuklah. Anggap saja rumah sendiri." Yoongi membuka pintu apartment nya dan mempersilahkan tamu tamunya masuk. Jimin yang masuk lebih dulu dan langsung duduk di sofa.
"Park, jangan terlalu di anggap rumah sendiri." Yoongi mendengus dan duduk di sebelah Jimin. Taehyung dan Jungkook mengikuti Jimin dan duduk di sofa.
"Hei Yoongi, ku pikir kau hanya akan membawa Jimin." Seokjin muncul dari kamarnya dan kaget melihat apartment nya menjadi ramai.
"Maaf hyung. Mereka ingin ikut."
Jungkook menyela. "Hyung, kenapa kau memanggil Seokjin hyung dengan sebutan 'hyung' ? Ku kira kalian seumuran."
Seokjin tertawa. "Aku lebih tua beberapa bulan. Dan wajah Yoongi sangat manis dan muda. Jadi sejak kecil aku lebih suka jika ia memanggil ku 'hyung' "
"Itu karena wajahmu tua" Yoongi merengut. "Aku ini tampan. Bukannya manis."
Jimin mencubit pipi putih Yoongi. "Semanis gula gula."
"Baiklah aku akan membuatkan kalian minum. Tunggu disini." Seokjin terkekeh
"Apa aku boleh membantu? " Jungkook dengan refleks mengacungkan tangannya menawarkan bantuan.
Seokjin tertawa lagi. "Hahahaha baiklah jeon Jungkook. Kemari."
Jungkook memandang Taehyung dengan senyuman bahagianya. Seolah ingin mengatakan betapa senangnya ia saat ini. Sementara Taehyung hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum.
"Aku sedikit berharap kau ikut ke dapur Tae. Aku tidak kuat melihat wajah sedihmu itu. " jimin memandang Taehyung yang hanya bisa menunduk meratapi nasib itu.
"Kau bahkan sudah mendapat kan Yoongi hyung. Kalian terlihat bahagia. Lalu aku? Terjebak menjadi sahabatnya..." Taehyung tersenyum miris.
Yoongi yang biasanya bersikap kasar itu pun ikut merasakan sakit Taehyung. "Aku tau perasaanmu... maaf.. aku tidak tau harus mendukung siapa..."
Taehyung mengangguk. "Tak apa hyung..."
"Kalian sedang membicarakan apa?" Jungkook tiba tiba datang bersama nampan berisi minuman. Ia membagikannya pada Taehyung, Jimin dan Yoongi.
"Dimana Seokjin hyung?" Yoongi heran karena tidak melihat kakaknya.
"Oh dia sedang membuat makan siang katanya. Aku akan membantunya sebentar lagi~" Jungkook belum menghilangkan senyum bahagia dari wajahnya.
Taehyung diam menatap gelas di hadapannya. Kemudian ia berdiri. "Aku akan pulang saja. Ingin mengerjakan tugas. "
Jungkook memandang bingung. "Sekarang?"
"Ya. Hati hati tae. Aku akan mencontek pr mu besok." Jimin memandang Taehyung dengan senyum pengertian dan langsung mendapat sindiran dan gumaman kata 'malas' dari Yoongi.
Taehyung mengangguk dan tanpa menunggu respon Jungkook, ia berlalu dari sana.
"Ada apa dengan Tae-hyung?" Jungkook bertanya bingung.
Yoongi dan Jimin menggeleng. Jungkook ingin bertanya lebih jauh, tapi Jimin segera menarik pinggang ramping Yoongi ke atas pangkuannya dan memberi tatapan tajam pada Jungkook agar segera meninggalkan mereka.
.
,,,
.
Jungkook menghabiskan seharian di apartment Seokjin dan Yoongi. Seokjin bilang sangat menyenangkan Jungkook dapat mampir karena ia merasa seperti obat nyamuk jika Jimin dam Yoongi sedang bersama. Ia juga baru tau Seokjin pintar sekali memasak. Seokjin juga orang yang sangat ramah. Ia memuji masakan Jungkook dan mengatakan Jungkook bisa jadi istri yang hebat. Apa itu artinya Seokjin menyukainya? Jungkook benar benar ingin melayang!
Dan yang lebih hebat, Seokjin mengantarkan Jungkook pulang! Astaga. Mungkin inilah malam terbaik sepanjang tahun! Eh tapi mungkin terlalu cepat untuk memutuskan apakah ini malam terbaik saat Seokjin tiba tiba menghentikan motornya di tengah perjalanan.
"Kookie, maaf sekali, aku lupa malam ini ada teman ku yang akan datang! Yoongi pasti sudah tidur dan tidak akan mau di ganggu."
Jungkook mendesah kecewa. Ia segera turun dari boncengan Seokjin. "Tak apa hyung. Rumahku tidak jauh lagi."
"Baiklah. Maaf sudah menyusahkanmu." Seokjin menatap Jungkook dengan pandangan bersalah. Ia kemudian mengecup pipi Jungkook.
Wajah Jungkook memerah seketika.
"Bagaimana jika besok malam kita makan berdua? Aku akan mentraktirmu" Seokjin menawarkan.
Jungkook refleks mengangguk cepat. "Tentu!"
Seribu tertawa. "Baiklah. Kemarikan helm ku."
"T-terima kasih hyung sudah... mengantarkanku.. " Jungkook melepaskan helm Seokjin dan mengulurkannya.
Seokjin mengangguk. "Mainlah sering sering. Ajak juga Taehyung."
Ketika nama Taehyung disebut, mendadak Jungkook teringat peristiwa di toko buku kemarin saat Taehyung menolongnya. Taehyung rela seluruh punggung dan sudut wajahnya lebam demi dirinya..
"Jungkook? Boleh aku pulang sekarang?" Seokjin menyadarkan Jungkook.
"E-eh, baiklah hyung.. hati hati di jalan."
Seokjin mengangguk dan melaju pergi. Setelah Seokjin pergi, Jungkook mendengus kesal. Rumahnya masih sangat jauh dari sini. Dan ini sudah malam. Gelap pula. Ia tidak akan mungkin berjalan sendirian kan?
Jungkook mengeluarkan handphone nya dan menekan emergency call nya nomor 1.
"Halo?"
.
,,,
.
Taehyung tersedak makanannya. "Apa? Semalam ini Seokjin hyung meninggalkanmu sendiri? Baik aku kesana sekarang."
Taehyung segera menegak minumannya dan meninggalkan ramyun yang baru ia makan setengah itu. Serta merta ia memakai jaketnya lalu melesat mengendarai motornya menjemput Jungkook.
.
,,,
.
"Jungkook?" Taehyung menepikan motornya lalu turun. Ia menatap Jungkook yang kedinginan karena semalam ini ia berkeliaran di tempat sepi tanpa menggunakan jaket. Hanya seragam nya yang tipis dan kusut.
"Hyung..." Jungkook langsung menghambur memeluk Taehyung dengan sangat erat. "Disini dingin..."
Taehyung segera melepas jaketnya dan memakaikan di badan Jungkook. Seketika ia merasakan udara dingin menusuk menembus bajunya. Tapi hatinya menghangat melihat Jungkook terlihat nyaman dengan jaketnya.
"T-terima.. ah-choo!" Jungkook bersin di wajah Taehyung.
"Hyung! Maaf..." Jungkook segera mengeluarkan tisu dan mengelap wajah Taehyung.
"Tidak apa apa. Ayo kita pulang." Taehyung mengusap sayang rambut Jungkook.
"Ya.. ayo pulang." Jungkook pun tersenyum dan mengikuti Taehyung naik ke motor.
.
,,,
.
Taehyung menutup pintu apartment nya. Seketika itu juga perutnya berbunyi keras tanda kelaparan. Pemuda tinggi itu berjalan ke ruang makannya untuk melihat ramyun yang tadi ia tinggalkan.
"Ah... sudah dingin.. bagaimana cara memanaskannya?" Taehyung menggumam.
"Sudahlah. Aku lapar." Tanpa banyak berfikir, ia memakan ramen nya yang sudah dingin itu dan membuang sisanya ke tempat sampah.
"Jeon Jungkook..." Taehyung merebahkan dirinya di sofa dan menggumam. Tidak habis pikir bagaimana bisa Seokjin meninggalkan Jungkook sendirian di tengah jalan. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Jungkook?
Pemuda manis dengan gigi kelinci itu sukses menyita seluruh perhatiannya. Tapi sayang, tidak sedikitpun dirinya dapat menyita perhatian Jungkook.
"Eomma... apa mencintai itu sesulit ini?" Taehyung mendesah pasrah. Dengan pemikirannya tentang senyum cerah Jungkook, Taehyung pun tertidur.
.
,,,
.
"Apa?! Seokjin hyung meninggalkan Jungkook di tengah jalan?!" Jimin membelalak kan matanya kaget.
Taehyung mengangguk frustasi. "Apapun alasannya, aku tetap kesal."
Yoongi yang duduk di sebelah Jimin mengangguk. "Untung saja dia menghubungimu tae. Kemarin memang ku dengar ada yang datang. Tapi aku tidak tau siapa."
"Lalu bagaimana keadaanmu? Apa kau masih demam? Maag mu bagaimana?" Jimin memberondong Taehyung dengan seribu pertanyaan.
"Aku rasa aku makan tidak teratur akhir akhir ini..." yang di tanya hanya mengedik kan bahu cuek.
"Untung Yoongi hyung masih mau memasak untuk ku." Jimin memeluk pinggang Yoongi yang di hadiahi tatapan membunuh dari kekasih gulanya itu. "Gara gara kau tidak masuk, sekolah tadi terasa sepi tae."
Taehyung mendengus. "Itu karena kau tidak bisa menyontek pr ku dan bolos di atap sekolah Jim."
Jimin terkekeh pelan dan Yoongi dengan senang hati menghadiahi satu jitakan keras untuknya.
Jimin baru akan protes akan tindakan kekasihnya saat bel apartment Taehyung berbunyi. Dengan perlahan, pemuda itu bangun dari tidurnya dan menghampiri pintu.
"Jungkook?"
Jungkook tersenyum. "Hai hyung! Aku sengaja mampir. Ku dengar kau sakit?"
Taehyung mempersilahkan tamunya itu masuk. "Hanya maag dan demam kurasa."
"Apa kau makan teratur? Aku membawakan buah buahan untukmu." Jungkook mengulurkan buah segar di tangannya.
"Terima kasih. Masuklah ke kamarku. Jimin dan Yoongi hyung disana."
Jungkook sempat bingung namun ia menurut saja. Saat ia sampai di kamar Taehyung, benar saja. Pasangan Jimin dan Yoongi sedang tidur di atas sofa kamar Taehyung dengan posisi Jimin di atas Yoongi.
"Uhm... permisi..." Jungkook sangat canggung sebenarnya melihat adegan seperti itu. Dia merasa masih sangat polos.
Yoongi sontak mendorong dada Jimin kuat kuat. Sementara Jimin hanya menggeleng kesal. "Aku hanya meminjam kamarnya sebentar dan alien itu merusak kebahagiaanku." Dengusnya.
"Lakukan di tempat lain Park. Jangan kamarku. Apartment mu ada di sebelah ku astaga..." Taehyung melempar jeruk pada Jimin yang sukses di tangkapnya.
"Maaf Tae..." Yoongi menundukkan mukanya menahan malu. Sial sekali kekasih mesum nya ini.
"Apa... apa aku mengganggu?" Jungkook berkata takut takut.
Taehyung menggeleng. "Tidak kookie. Duduklah di kasurku. Jangan dekat dekat Jimin."
Jungkook mengangguk dan duduk di pinggir kasur Taehyung. "Sebenarnya... aku ingin bertanya sesuatu..."
Yoongi menoleh padanya. "Apa?"
"Seokjin hyung mengajak ku makan malam setelah ini.. apa aku sudah terlihat pantas?" Jungkook menunduk malu malu.
Hati Taehyung teriris. "Kalian kencan?"
Jungkook menggeleng kuat. "Tidak! Hanya makan malam. Tapi jika Tae-hyung tidak suka, aku tidak..."
"Apa masalahnya aku suka atau tidak? Pergilah. Kau terlihat mengagumkan seperti biasa." Taehyung memotong kalimat Jungkook dengan senyum kotak nya. Jimin dan Yoongi hingga merasa hati mereka ikut teremas sakit melihat senyum Taehyung.
Jungkook menggigit bibir bawahnya takut takut. "Apa.. hyung marah?"
Taehyung tertawa keras. Lebih ke menertawai bodohnya dia tetap mencintai meski satu satunya yang ia rasakan adalah sakit. "Hahahahaha tidak tidak. Pergilah."
Jungkook mengangguk kecil. "Ba-baiklah... aku... aku akan pergi..."
Taehyung mengangguk. Jungkook lalu berpamitan pada Jimin dan Yoongi disana lalu pergi begitu saja.
Taehyung kembali ke kamarnya dengan raut wajah yang sulit di artikan. Jimin membuka mulutnya akan menghibur, tapi Taehyung menyela.
"Pergilah. Aku ingin sendiri..."
"Tapi..."
"Jimin, sebaiknya... kita beri dia waktu untuk sendiri..." Yoongi menarik lengan kekar Jimin agar keluar dari Apartment itu.
Jimin menepuk bahu Taehyung untuk memberi semangat sebelum ia dan Yoongi pergi dari sana.
Setelah apartment nya sepi, Taehyung berdiri di depan kaca di kamarnya dan membuka kaus hitam yang di pakainya. Ia tersenyum miris menatap bekas lebam di punggungnya karena menerima hantaman kamus kamus dan rak buku demi Jungkook. Gara gara semalam mengantarkan Jungkook pulang tanpa memakai jaket dan hanya mengenakan kaus tipis, ia terkena demam sekarang. Tapi jika melihat bagaimana bahagianya Jungkook bersama Seokjin, apa yang dapat ia lakukan?
.
,,,
.
TBC
.
Sudah apdet kilat kan ini~ lebih panjang ngga? Bosen ngga liat kuki ga peka? Mungkin dua atau tiga chapter lagi bakal end~ wkwkwkwk. Aku ngga banyak cuap cuap deh~
Last but not least, review please^^
