Mr. Arrogant

Pairing: Sasuke dan Sakura

Gendre: romance, hurt comfrot, family

Warning: Ooc, datar, feel gak kerasa, dan lain-lain..

Disclaimner: Masashi Kishimoto

Summary: Hanya karena kecelakaan kecil yang terjadi, hidup Sakura berubah.

Kalian pernah nonton film drama malaysia yang judulnya "Love You Mr. Arrogant" kalau pernah, saya hanya ingin bilang kalau fic ini sebagian besar terinspirasi dari film tersebut.

Terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca fic saya ini. Terima kasih...

Ps: Karena saya tidak tahu kurs uang di jepang, jadi anggap saja, satu rupiah=satu yen. :D

Mr. Arrogant

Sakura terlambat masuk kantor, penyebabnya bukan hanya karena kecelakaan 'kecil'' yang baru saja dialaminya, tapi juga karena setelah kejadian itu dia menjadi malas dan tidak bersemangat untuk melakukan apapun. Pikirannya terus berputar, memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa mengumpulkan uang sebanyak tiga puluh juta yen hanya dalam waktu singkat. Ingin meminta bantuan orang tuanya rasanya tidak mungkin, orang tua Sakura hanyalah petani kecil yang tinggal dikampung yang jauh dari kota. Mereka tidak akan punya uang sebesar itu.

Sesampainya di kantor Sakura langsung mengisi absennya dan kemudian berjalan menuju dapur kantornya, berencana untuk membuat segelas kopi dan berharap agar segelas kopi itu nantinya bisa menghilangkan semua pikiran mengganggu yang kini ada di otaknya, meski hanya untuk sebenar.

Air matanya turun tanpa perintah saat dia akan menuangkan air panas kedalam cangkirnya. Sungguh, kenapa dia harus mendapatkan masalah seperti ini. Tidakkah Tuhan mengerti bagaimana kondisinya dan kondisi keluarganya? Tiga puluh juta yen, itu bukanlah jumlah yang sedikit.

Setelah kopi yang dibuatnya jadi, Sakura langsung duduk di sebuah kursi yang ada disana, dengan mata kosong dan pikiran yang masih sama kacaunya dengan tadi. Tidak ada niat untuk sekedar menghirup sedikit aroma kopi yang menguar dari dalam gelasnya.

"Hei... sudahlah kau masuk kerja telat, ternyata kau masih sempat melamun." Kehadiran seorang gadis cantik berambut pirang panjang, teman satu kantornya langsung mengagetkan Sakura. Gadis cantik itu melirik sebentar sahabat pirangnya tersebut dan kemudian langsung menghapus air mata yang mengalir dari mata emerladnya. Sakura menggigit kuku jarinya.

Yamanaka Ino, sahabat sekaligus teman kerja Sakura tersebut menatap gadis musim semi itu heran. Tidak biasanya gadis berambut merah muda tersebut menjadi pendiam seperti sekarang.

'Pasti ada masalah.' pikir Ino.

Saat melihat Sakura menangis, Ino menjadi sedikit panik.

"Hei Sakura ada apa, kau menangis?" tanya Ino khawatir.

Sakura hanya diam tapi masih terus menangis, dia masih belum mau untuk membuka mulutnya sedikitpun.

"Kau dimarah Bos?" tanya Ino menerka. Sakura langsung memasang wajah cemberutnya, berdiri dan langsung berjalan meninggalkan kopi yang sama sekali belum ia sentuh. Ino berjalan sedikit dibelakangnya, tetap setia untuk mendengar cerita dari Sakura.

"Ada orang yang menabrak mobilku," kata Sakura dengan wajah sedih, dia membetulkan sedikit letak tas selepangnya yang hampir terjatuh.

Mata Ino langsung terbelalak mendengar perkataan Sakura, Ino lebay.

"Ya Tuhan, apa kau tidak apa-apa?" tanya Ino yang lalu memutar tubuh Sakura agar menghadapnya, gadis itu kemudian menatap seluruh tubuh Sakura, melihat apakah ada bagian dari tubuh gadis cantik itu yang terluka.

"Aku tidak apa-apa, tapi mobil pria yang menabrakku itu yang sedikit rusak. Sedikit tergores." Saat mengatakan itu, Sakura terlihat seperti ingin kembali menangis dan Ino yang tadinya panik sendiri langsung sweatdrop.

"YA AMPUNNN!" Ino langsung memutar matanya dan kemudian mendorong pelan tubuh Sakura.

"Aku pikir, aku pikir kau ada masalah yang sangat besar. Hahhh..." Gadis pirang itu mendengus bosan. Sia-sia dia tadi mengkhawatirkan Sakura.

"Masalahnya sangat besar Ino!" bentak Sakura marah, gadis itu kesal karena sahabat pirangnya itu menganggap remeh kejadian yang baru saja dialaminya dan masalah yang diakibatkan oleh kejadian itu.

"Lelaki itu meminta uang ganti rugi sebesar tiga puluh juta."

Ino langsung melongo tidak percaya.

"HAA!"

"Tiga puluh juta?"

Wajah Sakura semakin cemberut. Dia langsung menganggukkan kepalanya pada Ino.

"Hei Sakura, itu jumlah yang besar. Apa kau tidak coba untuk berbicara dengannya?" tanya Ino yang langsung merasa iba dengan masalah yang menimpa Sakura. Perjalanan menuju meja kerja mereka terhenti seketika.

"Sudah aku coba, dan itulah hasilnya."

"Tapi tidak mungkin sampai tiga puluh juta, jangan bercanda. minta kurang!" Perintah Ino, tiga puluh juta yen hanya untuk membayar ganti rugi kerusakan mobil yang hanya lecet sedikit, itu benar-benar tidak bisa dipercaya.

"Heshh... Entahlah." Sakura menghentakan kakinya sedikit keras dan kemudian langsung berjalan cepat menuju meja kerjanya. Ino yang ditinggal langsung mengikuti Sakura dengan cepat. Beruntung meja kerjanya berada tepat disamping meja kerja Sakura.

Mr. Arrogant

"Ini." Ino menyerahkan sebuah handphone pada Sakura, handphone itu adalah handphone lama miliknya yang sudah tidak pernah lagi terpakai. Modelnya memang sudah sangat ketinggalan jaman, tapi masih bisa digunakan.

"Tidak usah Ino." Sakura menolak dengan halus, dia tidak ingin menyusahkan sahabat terbaiknya itu.

"Ambil, Sakura!" Ino semakin menyodorkan handphone tersebut kepada Sakura.

Sakura berpikir sebentar, handphonenya sudah dia berikan pada lelaki yang menabraknya tadi, dan sekarang dia sudah tidak punya handphone lagi. Dan dia tahu, dia benar-benar akan butuh handphone nantinya.

Dengan ragu, Sakura langsung mengambil handphone yang diberikan oleh Ino padanya. Itu tersenyum senang.

"Terima kasih," ucap Sakura.

"Besok-besok, jangan berikan lagi handphonemu pada orang yang tidak dikenal. Sekarang kau rileks. Okay?" kata Ino yang sedang mencoba untuk menenangkan Sakura.

Sakura tersenyum.

"Maaf, aku tidak bisa bantu apa-apa. Hanya ini yang bisa aku bantu, maaf ya, handphone nya bukan handphone yang bagus."

"Tidak apa-apa, kau sudah sangat membantu Ino." Sakura kembali tersenyum.

Saat Ino pergi ke lantai tiga kantor mereka untuk menyerahkan beberapa dokumen, Sakura langsung menelpon orang tuanya di kampung, mengatakan kepada orang tuanya bahwa handphone lamanya telah hilang, dan meminta mereka untuk menyimpan no handphonenya yang baru. Sakura sengaja tidak bercerita soal kejadian yang menimpanya. Gadis itu tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.

"Sakura!" Suara panggilan dari seorang pria dibelakangnya mengagetkan Sakura yang baru saja selesai menelpon kedua orang tuanya. Gadis yang tadinya ingin pergi ke ruang rapat tersebut langsung menoleh kebelakang. Menatap seorang pria berambut seperti tempurung kelapa yang sedang menatapnya dengan senyuman dan secangkir kopi ditangannya.

"Sepertinya kau sedang ada masalah," kata pria tersebut.

Sakura berusaha untuk tersenyum, karena jujur dia tidak begitu menyukai pria yang sejak dulu menyimpan perasaan padanya itu.

"Tidak ada, aku baik-baik saja." Sakura menjawab pertanyaan pria tersebut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Jika kau ada masalah, kau bisa memberitahuku. Aku tidak suka melihat wajahmu yang murung seperti itu." Pria itu berkata pada Sakura, dengan mata yang entah kenapa terlihat begitu aneh. Sakura tidak menyukai keadaan dimana dia harus berada dengan pria itu, tubuhnya akan langsung merinding dan rasanya menakutkan.

"Aku suka melihat senyummu, kau terlihat sangat cantik." Sakura langsung memaksakan dirinya untuk tersenyum, saat pria tersebut mulai mengombal padanya.

Sakura ingat, dulu pria itu selalu memberi dia bunga setiap harinya. Menaruh bunga tersebut diatas meja kerjanya dan menulis kata-kata romantis untuknya. Dia melakukan hal itu setiap hari, tidak jera meski Sakura sama sekali tidak menjawab perasaannya, meski dengan terang-terangan gadis itu menolaknya. Tapi sepertinya hal itu tidak mempan, pria itu masih tergila-gila padanya dan tidak berhenti mengiriminya surat cinta dan bunga mawar merah.

"Aku pergi dulu." Tidak ingin mengingat lagi kejadian lalu dimana pria itu selalu berusaha untuk menarik perhatiannya. Sakura langsung meninggalkan pria itu dan pergi ke ruang rapat.

"Kau benar-benar cantik, Sakura." Pria itu tersenyum sambil meminum air di gelas berisi kopi yang tadinya adalah milik Sakura, gelas tadi gadis itu tinggalkan di dapur. Tidak beberapa lama kemudian pria itu menjilat bibirnya sendiri, sambil terus menatap tubuh Sakura yang semakin jauh dari pandangannya.

'Tubuhmu benar-benar membuatku bergairah.'

Mr. Arrogant

"Mengapa dari sekian banyak mobil yang ada di Jepang, dia harus menabrak mobilku." Sakura, gadis cantik yang tadi pagi baru saja mengalami kejadian menyebalkan tersebut terus mengomel saat dia pulang kerja dan sudah berbaring di sofa apartmentnya bersama Ino. Tidak ada lagi air mata, yang ada hanya rasa kesalnya. Sakura tahu kalau menangis itu tidak akan membantunya untuk menyelasaikan masalah yang sedang dihadapinya saat ini.

"HESSHHH... Sekarang dimana aku harus mencari uangnya!" teriak Sakura kesal.

Berkali-kali dia menghela nafas, berkali-kali pula dia duduk dan kemudian berbaring lagi diatas sofanya. Tapi, dia sama sekali belum bisa menemukan jalan keluarnya.

Lelah berpikir, Sakura langsung membuka tasnya dan mengambil kartu nama yang tadi diberikan oleh pria yang menabraknya.

Uchiha Sasuke itulah tulisan yang ada di kartu nama tersebut. Sakura tersenyum saat melihat kartu nama tersebut, teringat kembali bagaimana penampilan pria tersebut. tubuhnya tinggi, terlihat kekar, wajahnya juga terlihat keren meski tertutupi oleh kaca mata hitam yang berhasil menyembunyikan sedikit wajah tampannya.

"Hesh..." Saat sadar bahwa dirinya sempat menatap kagum pria sombong tersebut, Sakura langsung mendengus kesal.

"Wajahnya saja yang terlihat keren, tapi sifatnya. Hessshh... menyakitkan hati." Sakura langsung menatap kesal kartu nama yang masih dipegangnya erat tersebut.

"tidak apa, tuan UCHIHA SASUKE... Kita tunggu dan lihat. Awas saja kalau kau sampai mengusik handphoneku." kata Sakura marah.

"Hiiiii..." gadis itu langsung memukul-mukul kartu nama tersebut menggunakan jari-jari mungilnya dan kemudian mengigit kesal kartu nama tidak berdosa tersebut untuk melampiaskan rasa kesalnya pada pria yang benar-benar telah mendatangkan masalah besar padanya.

Tiga minggu berlalu... dan Sakura belum bisa mengumpulkan uangnya. Uang yang terkumpul baru setengah dari yang diminta oleh pria yang menabrak mobilnya. Ino sudah meminjamkan lima juta padanya, tapi itu masih juga belum cukup. Ino bahkan berjanji untuk menanggung biaya makan Sakura untuk satu bulan kedepan, agar gadis tersebut bisa mengumpulkan uangnya. Tapi tetap saja uangnya tidak cukup.

Sakura sudah benar-benar pusing. Ino menyarankan agar Sakura meminjam uang pada Lee, teman satu kantor mereka yang selama ini menyimpan perasaan padanya. Tapi Sakura langsung menolak mentah-mentah saran tersebut, Sakura tidak ingin berhutang budi pada pria yang sangat dihindarinya itu.

Ino juga menyarankan agar Sakura meminjam uang pada bos mereka, tapi lagi-lagi Sakura menolak. Bulan lalu Sakura sudah meminjam uang dan sampai sekarang belum bisa dibayar.

Ino sudah buntu ide untuk membantu Sakura. Sekarang hanya ada satu cara yang dilakukan oleh Sakura. Meminta waktu yang lebih lama kepada Uchiha Sasuke.

Mr. Arrogant

Uchiha Sasuke, pewaris tunggal perusahaan terbesar di jepang tersebut berjalan masuk ke rumah besarnya.

"Sasuke, kau sudah pulang?" Sang ibu yang selalu menyambut kedatangan pria tersebut langsung berjalan mendekatinya dan kemudian memeluk pria itu. Sasuke melepas kaca mata hitamnya dan kemudian balas memeluk wanita paling berharga dalam hidupnya tersebut.

"Apa anak Ibu sudah lapar? Ibu sudah siapkan makan malam. Ayo kita makan bersama." Wanita berusia empat puluh tujuh tahun tersebut langsung menarik tangan anak lelaki semata wayangnya dan membawanya menuju meja makan.

Tapi langkahnya terhenti saat Sasuke berhenti berjalan dan secara perlahan melepaskan pegangan ibunya.

"Ibu, aku lelah. Ibu dan ayah makan saja dulu. Aku ingin istirahat di kamar." Setelah mengatakan itu, Sasuke langsung berjalan menaiki tangga dan masuk ke kamarnya. Nyonya Mikoto, ibu Sasuke tersebut hanya bisa menatap anaknya. Dia tahu, anaknya itu bekerja terlalu keras. Sejak Ayahnya memintanya untuk menjadi pemimpin di perusahaan mereka, dan semenjak kakak laki-lakinya meninggal dunia.

Setelah masuk ke kamarnya, Sasuke langsung membuka seluruh bajunya. Badannya sudah terasa sangat lelah dan dia benar-benar kepanasan sekarang. Dia butuh mandi agar tubuhnya kembali menjadi segar.

'Sudah tiga minggu'

Setelah setengah jam menghabiskan waktunya dengan membenamkan diri di air hangat, Sasuke keluar dari kamar mandinya dengan memakai jubah mandi berwarna putih . Sebenarnya pria itu sudah sangat lelah, dia ingin langsung naik keatas kasur king sizenye, masuk kedalam selimut tebalnya dan kemudian tidur dengan nyenyak.

Tapi saat melihat sebuah handphone berwarna putih dengan gantungan boneka kecil berbulu yang berwarna pink, niatnya untuk tidur langsung sirna. Pria tampan tersebut langsung duduk diatas kursi kerjanya, mengambil handphone yang telah menyita perhatiannya dan memainkan gantungannya sambil tersenyum sinis.

"Pink, heh... Sama seperti warna rambutnya," kata Sasuke sambil tersenyum meremehkan.

"Kau pikir kau cantik? Heh... sudah tiga minggu dan kau sama sekali belum membayar biaya ganti rugi. Kau bahkan menelponku dan meminta aku memberi waktu lebih lama." Sasuke berbicara sendiri pada handphone yang kini sudah dibuka kuncinya, pria itu melihat seluruh isi handphone tersebut, mulai dari pesan, galeri foto, dan koleksi lagu-lagunya.

'Sama sekali tidak ada yang menarik,' pikir pria itu.

"Baiklah, ayo kita lihat apa yang bisa aku lakukan padamu. Jangan pernah mencoba untuk mempermainkanku. Gadis bodoh..." kata Sasuke yang kemudian memeriksa nama kontak yang ada di handphone Sakura. Saat melihat nama 'Ibu' yang tertera di daftar kontak, Sasuke semakin menyeringai kejam.

Jari-jari tangannya dengan lihai langsung mengetik pesan dan kemudian mengirimkannya pada Ibu Sakura.

To: Ibu.

Message: Ibu... Aku hamil!

Tbc...

Hai... bertemu lagi dengan saya di chapter dua mr. Arrogant. Saya ucapkan banyak-banyak terima kasih bagi para pembaca yang telah sudi meninggalkan review untuk saya. Terima kasih semuanya...

Saya minta maaf jika fic ini feelnya tidak terasa, minta maaf jika fic ini akan sangat mengecewakan kalian semua. Saya masih belum membuat fic yang bagus seperti yang dibuat oleh senior-senior yang ada disini. Tapi saya akan terus berusaha untuk membuat dan menjadikan fic saya lebih bagus lagi. Terima kasih...

Jangan lupa review lagi ya, :D