Mr. Arrogant

Pairing: Sasuke dan Sakura

Gendre: romance, hurt comfrot, family

Warning: Ooc, datar, feel gak kerasa, dan lain-lain..

Disclaimner: Masashi Kishimoto

Summary: Hanya karena kecelakaan kecil yang terjadi, hidup Sakura berubah.

Kalian pernah nonton film drama malaysia yang judulnya "Love You Mr. Arrogant" kalau pernah, saya hanya ingin bilang kalau fic ini sebagian besar terinspirasi dari film tersebut.

Terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca fic saya ini. Terima kasih...

Ps: Karena saya tidak tahu kurs uang di jepang, jadi anggap saja, satu rupiah=satu yen. :D

Mr. Arrogant

Mobil berwarna orange muda milik Sakura berhenti tepat didepan bangunan megah yang menjulang tinggi. Setelah membuka pintu dan keluar dari mobilnya, Gadis itu melihat kartu nama yang ada di tangannya untuk memastikan apakah alamat yang ditujunya sudah benar atau tidak.

"Siap kau!" kata Sakura geram. Gadis itu langsung berjalan dengan langkah lebar, memasuki gedung dimana tempat pria yang paling dibencinya saat ini berada.

Saat bertemu dengan penjaga keamanan, Sakura langsung menyerahkan kartu nama yang dipegangnya dan langsung berbicara dengan amarah yang terpendam.

"Aku ingin bertemu dengan Uchiha Sasuke. CEO Perusahaan ini!" kata Sakura

Penjaga keamanan langsung mengambil kartu nama tersebut.

"Tuan Uchiha ada di tingkat delapan, tunggu sebentar ya?"

Sakura terlihat kesulitan menahan amarahnya yang sepertinya sudah sampai ke ubun-ubun kepala.

"Apa Anda sudah membuat janji dengan Tuan Uchiha?" tanya Penjaga keamanan tersebut.

"Belum." jawab Sakura singkat.

"Kalau begitu, Anda tidak boleh masuk Nona."

"Memangnya aku peduli?" kata Sakura yang langsung mengambil kembali kartu nama Sasuke dan kemudian berjalan dengan cepat menuju lantai delapan, tempat dimana orang yang dicarinya berada.

Penjaga keamanan tersebut berusaha untuk menghalangi Sakura, tapi tidak behasil untuk menahan gadis tersebut. Ternyata tenaga Sakura yang sedang marah, benar-benar tidak bisa diremehkan.

Sakura langsung bergegas masuk ke dalam lift, meninggalkan Ibu penjaga keamaan yang masih berusaha untuk menghalanginya.

Saat sudah sampai ke tingkat delapan, Sakura langsung berjalan cepat mencari ruangan Uchiha Sasuke. Langkahnya terhenti seketika seorang gadis cantik yang merupakan Sekeretaris Sasuke datang menghadangnya.

"Nona, sebentar... Nona ingin pergi kemana?" tanya gadis cantik berambut indigo panjang sambil menahan lengan kanan Sakura.

Sakura dengan wajah mengeras langsung melotot padanya, meminta gadis yang terlihat pemalu tersebut untuk melepaskan tangannya.

Tanpa sedikitpun berniat untuk menjawab pertanyaan Sang Sekretaris, Sakura melangkahkan kembali kakinya dengan langkah lebar. Gadis sekretaris sontak merasa kaget dan langsung mengikuti Sakura. Walau bagaimanapun sudah menjadi tugasnya untuk menghalangi orang yang ingin bertemu dengan bosnya tanpa membuat janji terlebih dahulu.

"Nona... tunggu, Nona ingin pergi kemana?" Sekretaris tersebut masih berusaha untuk menenangkan Sakura.

Sakura mulai merasa terganggu dengan suara Sekretaris tersebut.

"Hei, kau ingin menyuruhku menunggu apalagi ha? Pulang sana ke tempat kerjamu!" kata Sakura kasar.

"Nona, tunggu dulu. Nona tidak boleh masuk ketempat ini tanpa ijin," kata Sekretaris tersebut.

Sakura mengabaikan gadis itu, matanya terus berputar untuk mencari dimana letak ruangan CEOnya, karena sepertinya tempat sekeretaris itu bekerja tidak berada tepat didepan ruangan Sasuke.

"Siapa Nona sebenarnya?" tanya Sekeretaris itu heran.

Pertanyaan Sekretaris itu semakin membuat amarah Sakura semakin memuncak.

"Aku ini siapa? Heh... aku ini Haruno Sakura!" bentak Sakura pada Sekretaris berambut panjang tersebut.

"Kau puas? Sekarang kau pergi dan buat janji untukku, pergi!" Suara Sakura semakin nyaring, gadis itu mendorong Sang Sekretaris itu kebelakang dan dia langsung berjalan mendekati sebuah ruangan yang bertuliskan CEO. Habis lah engkau, wahai mr. Arrogant.

Brakkkk...

Pintu terbuka dengan kasar, hingga membuat dua orang yang berada didalam ruangan tersebut kaget dan langsung melihat kearah pintu. Menatap heran pada Sakura yang sudah berhasil masuk.

"Tuan Uchiha Sasuke!" teriak Sakura.

"Saya m-minta m-maaf Tuan, Saya telah mencoba untuk m-menahannya t-tapi..." Sebelum ada respon dari Sasuke yang kini sudah menutup laporan yang tadi sedang dibacanya, Sang Sekretaris langsung memohon maaf atas ketidakmampuannya untuk menahan Sakura agar tidak mengganggu Uchiha Sasuke.

"It's okay Hinata, keluarlah. Aku bisa mengurus gadis itu." Sasuke berkata pada Sekeraris yang bernama Hinata tersebut. Gadis manis yang terlihat ketakutan itupun langsung pergi meninggalkan ruangan Bosnya.

"Kau juga boleh pergi Karin." Karyawan yang tadi berada diruangan Sasuke untuk meminta tandatangannya.

"Iya Tuan." Gadis berambut merah tersebut pun langsung pergi menyusul Hinata.

Setelah semuanya pergi dan hanya tinggal Sakura dan Sasuke yang berada diruangan tersebut, Sakura langsung berjalan mendekati meja Sasuke dan...

Brakkk...

Tangan Sakura langsung mengebrak meja. Sungguh, melihat lelaki itu terlihat santai saat melihat wajah amarahnya, benar-benar membuat Sakura semakin bertambah marah.

"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Sasuke tanpa sedikitpun memandang Sakura, pria itu bahkan tidak terganggu saat Sakura mengebrak meja kerja mahalnya.

"Kenapa kau melakukan hal ini padaku?" tanya Sakura kesal.

"Memangnya apa yang telah aku lakukan?" tanya Sasuke masih dengan posisi menyampingnya yang sama sekali tidak melihat Sakura.

"Kenapa kau sms ibuku dan mengatakau kalau aku sedang hamil ha!" bentak Sakura.

Mendengar itu, Sasuke hanya tersenyum sinis.

"Pandang aku, saat aku berbicara denganmu. Sialan!" kata Sakura yang langsung memutar meja Sasuke agar menghadapnya.

Mendengar ada yang berani memanggilnya sialan, Sasuke langsung berdiri dari duduknya dan langsung menatap tajam Sakura.

"Heh...Memangnya kenapa kalau aku sms seperti itu?" tanya Sasuke yang masih berusaha untuk tetap terlihat tenang.

"Kau memang benar-benar tidak berprikemanusiaan..." Sakura yang geram mengangkat tangan kanannya, berusaha untuk memberi tamparan diwajah tampan Sasuke. Tidak berhasi, pria itu bisa menahan tangan Sakura dengan mudah.

"Hei.. jangan pernah berani menyentuhkan tangan kotormu pada wajahku. Brengsek!" kata Sasuke kasar. Pria itu langsung melepaskan tangan Sakura dengan kasar.

"Kau telah mengingkari janjinya."

"Sejak kapan aku mengingkari janji? Kau tau kan, janji itu masih ada dua hari lagi kan!" bentak Sakura tidak terima.

"Hanya tinggal dua hari! Apa kau pikir aku tidak bisa membayarnya?" Gawat, Sakura sudah hampir menangis saat itu.

"Heh..." Menyadari gadis didepannya itu terlihat sudah hampir menangis, Sasuke langsung mendengus bosan. Dia paling benci melihat wanita yang menangis, wanita itu pasti ingin meminta simpati padanya.

"Untuk gadis seperti kau..." kata Sasuke sambil melihat penampilan Sakura dari atas kebawah.

"Aku yakin seratus persen, ditambah seribu persen kau tidak akan bisa bayar ganti ruginya. Tiga puluh juta yen." Sasuke berkata dengan sombongnya. Membuat Sakura yang mendengar perkataannya merasa benar-benar terinjak harga dirinya.

"Fine. Kita lihat saja nanti! Aku bisa bayar atau tidak!" bentak Sakura yang kemudian langsung berbalik dan berniat pergi dari tempat tersebut sebelum dia tidak bisa lagi menahan tangisnya.

"Oi..." Suara Sasuke langsung membuat langkah Sakura terhenti.

"Kalau kau tidak bisa membayarnya tepat waktu, bersiaplah. Aku bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini!" ancam Sasuke.

"Sekarang pergi!" Mendengar suara bentakan Sasuke, Sakura langsung meninggalkan ruangan tersebut dengan cepat. Tidak ada lagi amarah, yang ada hanyalah rasa sedih yang teramat sangat.

Setelah melihat Sakura pergi, Sasuke memutar matanya bosan, merapikan jasnya dan kemudian langsung duduk ke kursi kebesarannya.

Mr. Arrogant

Sakura berjalan menunduk, mengabaikan beberapa orang karyawan yang berjalan melewatinya. Gadis itu menangis, kecewa dan sedih karena kejadian yang menimpanya.

Saat melewati belokan, tidak sengaja gadis itu menabrak seseorang hingga membuat mereka berdua terjatuh dan seseorang lagi yang berjalan disamping orang yang ditabraknya langsung berteriak kaget.

"Ya ampun..." terdengar suara kaget wanita berusia sekitar lima puluhan yang tadi berjalan bersama dengan pria berusia sama yang ditabrak Sakura.

"M-maaf, maaf kan aku Paman." Sakura langsung menunduk, memohon maaf untuk kesalahannya. Gadis itu langsung menggambil tas milik pria yang ditabraknya dan menyerahkannya pada pria itu.

"Apa Paman tidak apa-apa?" tanya Sakura khawatir. Jujur saja dia tidak ingin menambah lagi daftar masalah yang ada dalam hidupnya.

"Anata, kau tidak ada apa-apa kan?" wanita separuh baya yang tadi sempat berteriak juga bertanya pada pria itu.

"Aku tidak apa-apa." kata pria itu setelah dirinya berhasil berdiri tegak.

"Aku benar-benar tidak sengaja paman, aku benar-benar minta maaf." Sakura memohon maaf.

Setelah memastikan suaminya tidak apa-apa, wanita cantik yang tadi berteriak itu langsung memandang Sakura lembut.

"Jangan khawatir Nona, suami saya tidak apa-apa. kami juga salah, tadi kami asyik mengobrol sampai tidak sadar ada seorang gadis yang berjalan didepan kami." kata Wanita yang ternyata adalah istri dari paman yang tadi Sakura tabrak.

"Kau tidak apa-apa kan?" tanya pria yang tadi Sakura panggil paman.

Sakura tersenyum lega.

"Aku tidak apa-apa paman..." kata Sakura sambil memandang paman tersebut dan kemudian mengalihkan pandangannya pada istri paman tersebut.

Istri paman itu juga memandang Sakura dan tidak sengaja matanya melihat kartu nama yang dipengan erat oleh gadis itu. wanita seperuh baya itu terlihat mengerutkan alisnya dan kemudian memandang Sakura heran. Gadis manis didepannya keluar dari kamar anaknya dan terlihat sangat sedih.

"Kau kenapa menangis, nak?" tanya wanita itu heran.

Sakura berusaha untuk terus tersenyum, dia langsung menghapus air matanya yang entah kenapa langsung berhenti mengalir saat tadi dia terjatuh.

"Apa ada yang bisa paman bantu?" tanya pria paruh baya yang terlihat khawatir saat melihat Sakura menangis.

"Tidak..." Sakura mengeleng-gelengkan kepalanya.

"Aku tidak apa-apa, Paman... Bibi..." kata Sakura.

"A-aku minta diri dulu. Paman, Bibi... sekali lagi, aku minta maaf." Sakura menundukkan lagi tubuhnya dan kemudian langsung pergi.

"I-iya silakan," kata Sang bibi yang melihat kepergian Sakura sambil tersenyum.

"Anata... gadis itu keluar dari ruangan Sasuke, apa kau mengenalnya."

"Mungkin, dia pacarnya Sasuke. Mereka mungkin bertengkar Mikoto," jawab pria itu, matanya masih menatap lekat Sakura yang semakin menjauhi mereka.

Mikoto, wanita separuh baya yang masih terlihat cantik tersebut langsung melebarkan kedua matanya dan langsung tersenyum bahagia.

"Anata... kalau benar gadis itu pacarnya Sasuke, aku ingin mereka cepat menikah! Wah... sebentar lagi aku akan menjadi nenek." kata Mikoto yang kini mulai membayangkan hal yang aneh-aneh. Wanita separuh baya tersebut langsung tersenyum lebar, pikirannya terus membayangkan bagaimana nantinya jika Sasuke menikah dan punya anak.

"Aku ingin cepat-cepat menimang cucu, Anata..."

Suaminya hanya tersenyum lembut, diam-diam setuju dengan apa yang dipikirkan oleh istri kesayangannya itu.

"Anata, sekarang kau pergi temui Sasuke dan paksa dia untuk segera menikah. Aku percaya padamu! Aku akan pergi menyiapkan pesta pernikahannya." kata Mikoto antusias.

Uchiha Fugaku, Sang suami dari Uchiha Mikoto tersebut langsung menatap istrinya heran.

"Apa tidak terlalu mendadak jika kau menyiapkan pernikahannya sekarang?" tanya Fugaku.

"Kau serahkan saja padaku Anata, yang penting sekarang. Aku percayakan padamu untuk menyuruh Sasuke cepat menikah. Kalau dia tidak mau, kau harus memaksanya. Aku tahu, kau punya senjata handalan, kan? " kata Mikoto dengan mata bersinar bahagia. Wanita itu langsung mencium kedua pipi suaminya sebelum berjalan pergi keluar.

"Anata, aku pergi." Katanya.

Fugaku hanya bisa menghela nafas, jika istrinya sudah berkehendak, tidak ada yang bisa menentangnya.

Mr. Arrogant

Sakura sudah kembali ke mobilnya, gadis itu tidak langsung pergi menginggalkan bangunan megah yang tadi dengan paksa ia masuki. Dia hanya duduk di mobilnya, semakin menangis saat teringat kembali bagaimana reaksi kedua orang tuanya saat membaca sms yang dikirim oleh Sasuke.

Setelah membaca sms tersebut, ibunya langsung menelpon Sakura dan meminta anak semata wayangnya tersebut langsung pulang ke rumah mereka.

Saat Sakura sudah sampai ke rumah, kedua orang tuanya yang sudah menunggunya di ruang tamu langsung menyidang Sakura, meminta penjelasan tentang sms yang diterima oleh ibunya.

Masih jelas diingatan Sakura, wajah sedih ibunya yang penuh dengan air mata. kedua mata ibu Sakura terlihat membengkak karena sudah terlalu lama menangis.

Sakura juga masih ingat bagaimana wajah tegang dan kecewa Sang ayah, pria yang sangat disayanginya tersebut hanya dia dan sama sekali tidak memandangnya.

Sakura berusaha menjelaskan bahwa bukan dia yang mengirim pesan, dia berusaha meyakinkan bahwa dia tidak hamil, dia bahkan belum pernah disentuh oleh sesiapapun sebelumnya.

Sakura berlutut didepan kaki kedua orang tuanya, sambil berderai airmata. Pada awalnya kedua orang tua Sakura sama sekali tidak percaya. Mereka sangat kecewa karena anak semata wajang mereka yang mereka jaga dengan baik dan penuh kasih sayang, telah mencontengkan arang ke wajah mereka.

Kedua orang tua Sakura, sempat merasa sangat kecewa. Tapi pada akhirnya, Sakura berhasil membuat kedua orang tuanya agar percaya dengan perkataannya.

Setelah kembali ke tokyo, Sakura langsung pergi menemui Sasuke dan berakhir seperti sekarang ini. Sungguh... saat ini, Sakura hanya ingin menangis.

Mr. Arrogant

Setelah Sakura pergi dari ruangannya, Sasuke langsung tersenyum lebar, senyum jahat menakutkan yang bisa membuat sesiapapun yang melihatnya lari ketakutan. Lebay memang, tapi itulah kenyataannya. Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan kebelakang tempat duduknya tersebut, melihat keindahan kota Tokyo di siang hari melalui dinding kaca kantornya.

"Melihatnya seperti ingin menangis seperti itu, benar-benar membuat hatiku puas. Itu adalah balasan karena kau telah berani merusak mobil kesayanganku, Nona bodoh." Sasuke benar-benar merasa bahagia karena telah berhasil membuat Sakura menangis.

"Ehm... Sasuke." Mendengar ada yang memanggil namanya, Sasuke langsung menoleh kebelakang. Pria itu sempat kaget saat melihat Sang ayah sudah berdiri didepannya.

"Ayah? Kenapa ayah datang kesini?" tanya Sasuke. Fugaku tersenyum tipis, pria yang masih terlihat sangat tampan dan mempersona tersebut langsung berjalan dan duduk di kursi yang ada didepan Sasuke.

Fugaku menatap Sasuke lama, memperhatikan anaknya dari atas sampai bawah hingga membuat Sasuke menjadi sedikit salah tingkah.

"Kenapa melihatku seperti itu, apa ada yang salah?" tanya Sasuke heran. Fugaku masih tetap tersenyum tipis.

"Duduk dulu Sasuke, ada yang ingin Ayah bicarakan padamu." Fugaku berkata dengan santainya. Sasuke langsung menuruti perintah Sang ayah yang sangat dihormatinya itu.

"Sasuke, kau adalah satu-satunya penerus perusahaanku," kata Fugaku.

"Iya, terus?" tanya Sasuke yang semakin heran dengan sikap ayahnya.

"Tadi, Ayah melihat ada seorang gadis cantik yang keluar dari ruanganmu, dan sepertinya dia menangis. Apa dia pacarmu?" tanya Fugaku.

Sasuke langsung berfikir tentang gadis bodoh yang barusan di makinya.

'Sial' umpat Sasuke dalam hati.

"A-Ayah... dengar, s-sebenarnya dia itu adalah..."

"Jangan mencoba untuk menghindar, Ayah tahu apa yang ada dalam hatimu."

"Ayah... sebenarnya Ayah salah..."

"Cepatlah menikah, Ibumu sudah benar-benar ingin melihatmu berkeluarga dan dia juga sudah sangat ingin menimang cucunya, Sasuke." Belum sempat Sasuke menjelaskan, Sang ayah sudah terlebih dahulu memotong omongannya. Sasuke benar-benar tidak diberi kesempatan untuk berbicara.

"Hujung bulan ini,Ayah ingin kau menikah dengan gadis itu."

"HAAA?" Sasuke langsung berteriak kaget.

"Ayah, aku tidak mau. Sungguh, ya ampun... ayah, aku tidak akan menikah dengan gadis bodoh itu!" teriak Sasuke tidak terima. Hancur sudah wajah dingin dan datar yang selama ini selalu diperlihatkan oleh Sasuke.

Fugaku hanya tersenyum, pria itu benar-benar berfikir bahwa Sasuke dan Sakura adalah sepasang kekasih yang saat ini mungkin sedang bertengkar.

"Ayah dan Ibu tidak mau tahu, yang ayah tahu adalah... hujung bulan ini kalian menikah. Jika tidak..." Fugaku sengaja tidak melanjutkan pembicarannya.

"A-Ayah..."

"Ayah tidak akan mewariskan sedikitpun harta yang ayah miliki padamu, Sasuke." Fugaku tersenyum menyeringai. Senyum jahat yang bahkan lebih menakutkan dari senyum Sasuke.

Wajah Sasuke memucat.

"IT'S NOT FAIR, AYAH!" Teriak Sasuke kencang.

TBC...

Hola... ketemu lagi dengan saya, Qie qie chie.

Saya benar-benar minta maaf karena telat mempuplish chapter ini, hountoni gomenasai...

Saya sudah baca semua review yang masuk, dan saya benar-benar minta maaf karena tidak bisa membalas semuanya satu-satu, yang jelas saya benar-benar berterima kasih dengan teman-teman yang sudah sudi meluangkan waktunya untuk membaca fic jelek saya ini, benar-benar berterima kasih juga untuk teman-teman yang bahkan meninggalkan review dan memberikan saya semangat utuk melanjutkan fic ini.

I love you...

Gimana, dichapter ini udah tau kan? gimana reaksi ibunya Sakura? Hehehehehe

Di chapter selanjutnya mereka akan menikah, dan setelah itu dimulailah kisah mereka yang sebenarnya. Semoga teman-teman masih mau membaca fic ini sampai selesai. :D

Oh ya, untuk seseorang yang sudah mengatakan kalau fic ini benar-benar sama persis dengan cerita aslinya. Yang mengatakan bahwa hanya karakternya saja yang ganti. Saya hanya ingin bilang, kalau bisa, baca lagi cerita saya dari awal dan tonton lagi film love you mister arrogant, maka dari itu anda akan tahu perbedaannya. Saya tidak akan mengatakan dimana letak perbedaannya...

Saya juga udah bilang SEBAGIAN BESAR fic ini terinspirasi dari sana, sengaja saya bilang sebagian besar, karena awal kisah mereka emank sangat mirip. Dan seperti yang anda bilang, ini baru awal kan? awalnya aja udah ada yang beda (meski baru diperlihatkan sekilas) apalagi ditengah dan hujungnya, kan?

Untuk seorang lagi yang sudah berkomentar tidak sopan. Hinata sudah muncul kok di fic ini. Sepertinya anda benar-benar sangat mencintai pairing sasusaku hingga tidak ingin author dari fandom lain untuk menulis difandom pairing kesukaan anda ini.

Hei teman... dengar, saya akui saya emank menulis sasuhina dan sasusaku. Terus kenapa? Itu hak saya sebagai author kan ingin menulis pairing apa saja.

Saya rasa, sebagai seorang Sasuke centric, wajar jika saya menulis fic dan memasangkannya dengan dengan siapapun.

Please lah, gak usah jadi bertingkah seperti ANAK KECIL. :D

Sekian dan terima kasih...