Mr. Arrogant

Pairing: Sasuke dan Sakura

Gendre: romance, hurt comfrot, family

Warning: Ooc, datar, feel gak kerasa, dan lain-lain..

Disclaimner: Masashi Kishimoto

Summary: Hanya karena kecelakaan kecil yang terjadi, hidup Sakura berubah.

Kalian pernah nonton film drama malaysia yang judulnya "Love You Mr. Arrogant" kalau pernah, saya hanya ingin bilang kalau fic ini sebagian besar terinspirasi dari film tersebut.

Terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca fic saya ini. Terima kasih...

Ps: Karena saya tidak tahu kurs uang di jepang, jadi anggap saja, satu rupiah=satu yen. :D

Mr. Arrogant

Uchiha Sasuke, adalah satu-satunya pewaris kekayaan harta seorang pengusaha kaya raya yang terkenal sampai keseluluruh penjuru dunia. Anak dari Pemilik perusahaan yang memiliki banyak cabang di hampir seluruh negara-negara maju, perusahaan yang berkecimpung dalam bidang konstruksi, pertambangan dan fashion.

Sedari kecil dia sudah dikenalkan dengan dunia kerja oleh orang tuanya, bahkan sejak kakak laki-lakinya meninggal sepuluh tahun yang lalu, ayahnya sudah menyuruh Sasuke untuk menjadi CEO disalah satu cabang perusahaan mereka.

Dia selalu hidup dengan bergelimang harta, selalu diberi fasilitas mewah yang tidak akan bisa didapat oleh orang-orang yang tidak sederajat dengannya. Karena itu, sangatlah wajar jika pria yang sekarang berumur 27 tahun tersebut tumbuh menjadi seorang pria angkuh, yang punya harga diri setinggi langit. Mr. Arrogant, adalah julukan yang sangat pantas untuknya.

Sasuke sudah berusaha dengan sangat keras untuk sampai pada tahap sekarang, menempati posisi CEO di perusahaan utama ayahnya, dan rasanya pria itu akan stres jika nanti Sang ayah akan menurunkannya dari posisinya sekarang, bahkan dia mungkin bisa menjadi Gila jika Sang ayah benar akan menghapus namanya dari daftar pewaris kekayaan ayahnya. Dia benar-benar bisa gila. Dari dulu, Sasuke sudah sangat terobsesi untuk mengikuti jejak ayahnya, mengembang lagi perusahaan mereka agar bisa menjadi perusahaan raksasa no satu didunia.

"Aku harus menikah dengannya!" Sasuke yang sekarang sedang duduk ditepi kolam renang rumahnya tersebut menatap tajam sebuah handphone yang sedari tadi dipegangnya dengan erat.

"Aku tidak peduli jika aku harus menikahimu, Gadis bodoh berambut pink yang sama sekali tidak cantik." gumam Sasuke.

Tadi sore saat dirinya pulang ke rumah, nyonya Mikoto langsung menyerbu Sasuke dengan ribuan pertanyaan yang intinya adalah menanyakan soal gadis pink bodoh yang telah menabrak mobil kesayangannya.

Dan dengan terpaksa Sasuke berbohon pada ibu dan ayahnya, mengatakan bahwa anggapan mereka itu benar, gadis berambut pink tersebut adalah pacarnya dan dia setuju untuk menikah dengan gadis itu.

Saat nyonya Mikoto bertanya kenapa gadis itu menangis? Sasuke mengatakan bahwa pagi tadi mereka bertengkar, Sasuke memarahi gadis itu karena dia tidak memberinya kabar dan kemudian gadis itu pergi sambil menangis.

Mikoto yang sepertinya sudah sangat menyayangi Sakura, walaupun kenyataannya mereka sama sekali belum dekat itupun langsung memarahi anaknya, mengatakan bahwa Sasuke tidak seharusnya marah pada Sakura. Nyonya Mikoto bahkan mengancam akan menjual mobil kesayangan Sasuke jika nanti dia kembali membuat pacarnya menangis.

Sasuke hanya mengangguk, entah kenapa dia merasa kalau posisinya sebagai anak kandung kedua orang tuanya menjadi sedikit tergeser karena kehadiran gadis bodoh berambug gulali tersebut. Menyebalkan, rasanya benar-benar sangat menyebalkan.

"Fine. Kita lihat saja nanti! Aku bisa bayar atau tidak" Sasuke kembali teringat dengan perkataan Sakura kemarin, sepertinya gadis itu sangat yakin bahwa dia bisa melunaskan hutangnya pada Sasuke.

"Sial, kalau benar dia bisa mengumpulkan uang itu aku tidak akan punya alasan untuk mengajaknya menikah." Pria yang sekarang sudah beralih tempat ke kamarnya tersebut terlihat sedikit mengerutkan dahinya. Tidak, dia tidak boleh mengijinkan gadis bodoh tersebut berhasil mengumpulkan uangnya, tidak boleh!

"Aku harus melakukan sesuatu," gumam Sasuke. Pria yang sudah berumur 27 tahun itupun langsung menyambar handphonnya, untuk menghubungi seseorang.

"Juugo, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."

Mr. Arrogant

Dua hari kemudian...

Sakura tersenyum lebar, pagi ini dia menghitung semua uangnya yang terkumpul dan ternyata uangnya sudah cukup untuk membayar semua hutangnya pada Sasuke.

Ingin tahu dari mana dia bisa mendapatkan uang yang sangat banyak dalam waktu yang sangat singkat tersebut? Jawabannya adalah... Mobil. Ya, Sakura terpaksa harus mengadaikan mobil kesayangannyan. Tidak ada cara lain lagi, hanya itu satu-satunya cara yang bisa ia pikirkan. Gadis itu berjanji, setelah nanti dia berhasil mengembalikan uang yang ia pinjam di pegadaian, dia akan segera menjemput mobil orange mungil kesayangannya... Sakura berjanji.

"Yosh.. sekarang kau lihat Mr. Arrogant kurang ajar, aku akan membuatmu menarik kembali semua perkataanmu yang mengatakan kalau aku tidak bisa membayar hutangku!" kata Sakura sambil memasukkan setumpuk uang yang sudah diikatnya jadi satu tersebut kedalam amplop cokelat dan kemudian memasukkannya kedalam tas.

"Sakura, apa kau sudah siap?" Suara Ino terdengar, Sakura langsung keluar dari kamarnya dan segera berlari menemui Ino di dapur.

Saat melihat Sakura masuk ke dapur dengan wajah cerah, Ino langsung ikut-ikutan tersenyum.

"Kau terlihat sangat bahagia sekarang, padahal kemarin sore kau menangis kencang karena harus berpisah dengan mobil kesayanganmu." Ino menuangkan susu cokelat kedalam gelas dan kemudian menyodorkannya kearah Sakura yang sekarang sudah duduk didepannya sambil memakan roti bakar.

"Hmm... terima kasih Ino." Sakura mengambil gelas yang disodorkan Ino dan kemudian meminum isinya.

"Wah... kopi susu buatanmu memang yang paling enak, Ino pig..." kata Sakura memuji teman kantor sekaligus teman satu rumahnya tersebut. Ino tersenyum...

"Aku senang melihatmu sudah kembali ceria," kata Ino tulus. Sakura semakin tersenyum lebar.

"Aku tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan Ino, seperti yang kau bilang kemarin. Yang penting sekarang aku harus bisa melunasi hutangku pada Mr. Arrogant. Soal mobil... suatu saat mobil itu akan kembali padaku. Aku hanya perlu mengumpulkan uang untuk menebusnya, kan?" kata Sakura.

"Hmm... kau benar Sakura, sekarang ayo... kita harus segera berangkat. Kau tidak ingin gajimu dipotong karena datang terlambat, kan?" Ino bangkit dari tempat duduknya, mengambil tas dan kunci mobilnya lalu segera melangkahkan kakinya keluar. Sakura menyusul dibelakangnya.

Ino sudah berjanji pada Sakura, bahwa selama Sakura tidak memiliki mobil gadis itu bisa pergi kerja bersamanya. Jika Sakura hendak pergi kemanapun dan membutuhkan mobil, Ino akan selalu siap untuk meminjamkan mobilnya pada Sakura. Sakura benar-benar beruntung bisa memilik teman sebaik Ino.

"Jadi, kapan kau akan datang menemui mr. Arrogant yang kau bilang sangat keren tapi menyebalkan itu, Sakura?" tanya Ino ketika mereka sudah duduk manis di dalam mobil Ino yang sedang melaju di jalanan.

"Mungkin Nanti sore pulang kerja, apa kau mau menemaniku?" tanya Sakura. Ino menatap Sakura tidak enak.

"Maaf, hari ini aku disuruh lembur oleh bos besar. Kau tau, itu adalah bayaran karena minggu lalu aku membolos. Maaf ya Sakura, tapi kau boleh menggunakan mobilku. Nanti aku bisa pulang naik bus." Ino menatap Sakura dengan wajah bersalah.

"Tidak apa-apa Ino, dan tidak perlu meminjamkan mobilmu. Aku bisa naik bus," kata Sakura menolak halus tawaran yang Ino berikan.

"Tapi apa tidak bahaya, kau membawa uang dalam jumlah yang banyak. Sesuatu bisa saja terjadi,"kata Ino khawatir.

"Kau terlalu berlebihan Ino, jangan khawatir."

Mr. Arrogant

Drrrtt...

Drrrtt...

Sasuke segera mengangkat telephonenya yang bergetar sedari tadi.

"Ada apa?" tanya Sasuke pada si penelpon.

"Bos, sepertinya gadis itu berhasil mengumpulkan uangnya."

"Sial!" Sasuke mengumpat pelan.

"Apa yang harus saya lakukan sekarang, Bos?" tanya si penelpon.

"Kau harus merampas uangnya dengan cara apapun. Tapi jangan pernah sedikitpun kau mencoba untuk menyakitinya."

Sasuke langsung mematikan sambungan telepon. Senyum sinisnya langsung terukir saat dia membayangkan si gadis berambut pink jelek yang sangat tidak disukainya itu datang kepadanya dengan wajah sedih dan mengatakan bahwa dia tidak bisa menggumpulkan uangnya. Seringaian Sasuke menjadi semakin bertambah lebar.

"Kita akan segera menikah, Sakura."

To: Si bodoh

From: Sasuke

Message: Aku ingin kau datang ke kantorku nanti sore pukul lima. Segera bayar hutangmu gadis jelek. Jika tidak bersiaplah, kau akan menyesal karena telah berani mempermainkanku.

Sasuke mengirim pesan pada Sakura, dia harus memastikan kalau gadis itu akan datang ke kantornya hari ini.

To: Sasuke

From: Si bodoh

Message: sepertinya kau benar-benar sedang memerlukan uang sampai kau repot-repot mengirimiku pesan Tuan sombong. Kau tenang saja, akan kupastikan kau menarik kembali apa yang telah kau katakan kemarin. Aku akan datang kekantormu tepat pukul lima dan menyerahkan uang yang sepertinya sangat kau butuhkan itu.

Rahang Sasuke mengeras saat dirinya membaca balasan yang dikirim Sakura. Sialan gadis itu, berani sekali dia berkata tidak sopan pada Sasuke.

"Kau benar-benar sialaan, Nona bodoh!" umpat Sasuke kesal.

Sakura tersenyum puas saat dia berhasil mengirimkan pesan balasan untuk tuan sombong perusak moodnya hari ini. Sungguh, gadis itu benar-benar tidak sabar melihat bagaimana reaksi Sasuke saat melihat keberhasilannya mengumpulkan uang untuk membayar hutangnya.

Ahhh... Sakura benar-benar tidak sabar menunggu jam kerjanya habis.

Mr. Arrogant

Tepat pukul empat, Sakura langsung mengemaskan semua barang-barangnya dan bersiap untuk pulang. Karena dia harus naik bus, Sakura harus cepat berangkat ke kantornya Sasuke. Jarak antara kantornya dan kantor Sasuke tidak lah dekat, dia membutuhkan waktu hampir satu jam untuk sampai kesana jika menggunakan bus.

"Hmm..." Sakura tersenyum

Gadis itu sudah turun dari bus yang dia naiki, sekarang dia harus berjalan kaki selama lima belas menit untuk sampai ke kantor Sasuke. Harus melewati sebuah jalan yang jarang sekali dilewati oleh orang-orang. Sakura pernah mendengar gosip tentang jalan itu, katanya dijalan tersebut sering terjadi tindakan kriminal seperti pembunuhan, pencopetan, dan pemerkosaan. Karena itu tidak banyak orang yang berani untuk melewati jalan itu. Sakura tidak punya pilihan lain, untuk sampai ke kantor Sasuke tepat waktu dia harus melewati jalan tersebut.

Sakura berjalan takut-takut, entah kenapa sejak memasuki jalan tersebut Sakura merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Beberapa kali gadis itu menoleh kebelakang untuk memastikan apakah firasatnya benar, tapi saat dirinya menoleh Sakura tidak melihat sesiapapun dibelakangnya. Sakura ketakutan, gadis itu langsung memeluk tasnya yang berisi uang tiga puluh juta tersebut, ia takut seseorang melakukan tindakan jahat padanya.

"Ya Tuhan.. kenapa tidak ada seseorangpun yang melewati jalan ini..." gumam Sakura.

Sudah hampir pukul lima, sinar matahari senjapun secara perlahan mulai merendup. Sungguh Sakura merasa benar-benar ketakutan.

Grep...

Seseorang mencengkram lengannya dari belakang dan membuat langkah Sakura langsung terhenti seketika. Wajahnya memucat, gadis itu langsung menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang menahannya.

Dia bisa melihat seorang pria bertubuh kekar dan berwajah sanggar sedang menatapnya tajam, cengkraman di lengannya semakin kuat.

"Hei... apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" bentak Sakura saat melihat lelaki itu. Dia ketakutan,, tapi dia harus melawan lelaki itu agar bisa menyelamatkan dirinya. Sakura memberontak, mencoba sekuat tenaga untuk melepaskan tangan lelaki sangar tersebut dilengannya.

"Hei... kau dengar aku. LEPAS!" teriak Sakura.

"HEI DIAM!" Akhirnya lelaki bertubuh kekar tersebut bersuara, pria itu langsung menarik Sakura dan mendorongnya ke dinding yang ada ditepi jalan, dinding itu merupakan dinding bagian depan sebuah toko yang entah kenapa hari ini ditutup oleh pemiliknya.

"Kau akan selamat jika kau memilih untuk menutup mulutmu!" ancam pria itu sambil menutup mulut Sakura menggunakan tangannya.

"Hmmmpppphhh..." Sakura masih mencoba untuk memberontak, gadis itu memeluk erat tasnya,berharap pria itu tidak menyadari bahwa saat ini dia sedang membawa uang dalam jumlah yang tidak sedikit.

"Diam.. atau aku akan memperkosa lalu membunuhmu cantik," bisik pria itu tepat ditelinga Sakura.

Deg...

Mendengar kata memperkosa dan membunuh, tubuh Sakura langsung bergetar hebat. Mata gadis itu terbuka lebar dan langsung mengeluarkan cairan bening Sakura tidak mampu bersuara apalagi berteriak. Gadis itu terlalu takut, demi Tuhan dia tidak mau kesuciannya ternoda sebelum menikah. Gadis itu ingin memberikan yang pertama untuk suaminya kelak. Demi yang Maha Kuasa, Sakura masih ingin hidup.

'Sesiapapun, tolong selamatkan aku.'

"Aku tahu, kau punya banyak uang." Pria itu melirik tas yang sedari tadi dipeluk oleh pemiliknya.

"Aku hanya butuh tasmu, dan jika kau memberikannya, aku akan membebaskanmu."

"Tanpa harus menjamah tubuhmu," bisiknya pelan.

Air mata Sakura semakin mengalir deras, dirinya terlalu takut hanya untuk sekedar mengerakkan satu jari kelingkingnya.

Srekkk...

Dengan cepat pria itu menarik tas Sakura. Pria itu tersenyum dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Sakura sambil tersenyum sinis. Ternyata sangat mudah untuk menakuti wanita itu, tersangat amat mudah.

Menyadari pria menakutkan itu sudah pergi meninggalkannya, tubuh Sakura langsung merosot kebawah.

"Ya Tuhan uangku..." ucapnya sambil menutup mulutnya, air matanya semakin turun dengan deras. Sekarang apa yang bisa ia lakukan?

Drrrttt...

Suara getar handphonenya menandakan ada panggilan yang masuk. Dengan cepat Sakura langsung mengambil handphone yang ada disaku bajunya dan melihat siapa yang menelponnya.

Uciha sasuke...

"Hiks..." Isakan kecil Sakura mulai terdengar.

"Moshi-moshi... hiks,"

"Hei Nona, sudah lewat sepuluh menit, apa yang kau lakukan sekarang. Cepat kembalikan uangku!"

"Hiks... Tuan bantu aku, Hiks... " entah kenapa saat mendengar suara Sasuke, Sakura merasa lega. Sirinya benar-benar takut dan saat mendengar Suara Sasuke ditelpon Sakura merasa akan ada yang menyelamatkannya.

"Hei... kau menangis, Apa yang terjadi padamu?"

"Hiks... Tuan, bantu aku. Hiks..."

"Kau dimana sekarang?" Suara Sasuke terdengar begitu khawatir.

"J-Jalan akatsuki. Huwaaaaaa!" setelah itu, entah kenapa Sakura langsung menangis sekencang-kencangnya.

'Sial... apa yang pria itu lakukan pada si Nona bodoh? Aku menyuruhnya untuk merampas uangnya, bukan membuatnya menangis. Bodoh!' Sasuke langsung bergegas pergi keluar dari ruangannya. Dia harus segera pergi menyelamatkan calon istrinya sebelum terjadi apa-apa pada gadis itu.

'Aku akan membunuhmu jika kau menyentuh istriku, Juugo.'

.

.

.

"Hei... Nona."

Sakura mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang baru saja memanggil namanya. Pada awalnya Sakura tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria yang berdiri didepannya Saat ini, air mata yang masih saja mengalir dengan deras membuat gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas.

"Kau terlihat benar-benar berantakang." Pria itu berjongkok didepan Sakura dan kemudian mengapus air mata mata gadis itu. Akhirnya Sakura bisa melihat wajah pria itu dengan jelas.

"Sebenarnya apa yang kau lakukan disini, kenapa kau menangis?" Uchiha Sasuke, pria yang baru saja menelponnya kini sudah ada didepan matanya.

"Tuan..." panggil Sakura sambil menahan tangisnya.

"Hn..."

"Aku uangku hilang. Huwaaaaaa..." Sakura kembali menangis kencang, bahkan kali ini lebih kencang dari sebelumnya.

"Bagaimana aku bisa membayar hutangku padamu? Huwaaa... aku tidak punya uang lagi.. huwaa!" Tanpa sadar Sakura langsung memeluk Sasuke dan kemudian menangis dipelukan pria itu. Pada awalnya pria itu hanya diam, tapi lima detik setelahnya pria itu langsung membalas pelukan Sakura dan mencoba untuk menenangkan gadis yang sudah di klaimnya sebagai istrinya tersebut.

"Jangan menangis, menangis tidak akan bisa membuat masalahmu selesai gadis bodoh." Pria itu tersenyum sinis.

"Kau tidak perlu membayar hutangmu."

"Eee?"

Sakura langsung melepaskan pelukannya dan kemudia menatap Sasuke, apa dia salah dengar? Sasuke tidak meminta dirinya untuk mengembalikan semua uangnya? Ya Tuhan... apakah ini mimpi?

Tbc...

Hai... bertemu lagi dengan saya. Maaf kalau ceritanya masih belum menarik, sungguh saya sangat senang melihat review yang datang. :D terima kasih semuanya, terima kasih karena telah sudi meninggalkan review untuk fic yang tidak seberapa ini. :D

Tentang kata hujung bulan yang ada dichapter sebelumnya, saya minta maaffff... karena fic ini terinspirasi dari film malaysia, saya secara tidak sengaja memasukkan bahasa malaysia dalam fic saya. Minta maaf ya? Maaf kalau dichapter ini juga masih ada terselip bahasa malaysianya.

Mulai chapter ini, jalan ceritanya udah jauh berbeda kan? di film aslinya si karakter utama emank gak berhasil ngumpulin uangnya tapi bukan karena campur tangan dari karakter utama cowoknya.

Maaf, seharusnya dichapter ini mereka nikah, tapi takut kepanjangan.. jadi di chapter depan aja ya? Maaf kalau sayanya gak konsisten.

Review dari teman-teman sangat saya nantikan untuk memperbaiki fic ini agar menjadi lebih baik lagi, saran kalian saya tunggu.. bye bye.. :D