Mr. Arrogant

Pairing: Sasuke dan Sakura

Gendre: romance, hurt comfrot, family

Warning: Ooc, datar, feel gak kerasa, dan lain-lain..

Disclaimner: Masashi Kishimoto

Summary: Hanya karena kecelakaan kecil yang terjadi, hidup Sakura berubah.

Kalian pernah nonton film drama malaysia yang judulnya "Love You Mr. Arrogant" kalau pernah, saya hanya ingin bilang kalau fic ini sebagian besar terinspirasi dari film tersebut.

Terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca fic saya ini. Terima kasih...

Ps: Karena saya tidak tahu kurs uang di jepang, jadi anggap saja, satu rupiah=satu yen. :D

Mr. Arrogant

"Hei Tuan... Dengar, aku hanya berhutang tiga puluh juta kan?" tanya Sakura yang saat ini sedang terkurung didalam ruangan Sasuke.

"Yup," jawab Sasuke.

"Tuan, itu hanya tiga puluh juta bukan tiga milyar. Tidak mungkin hanya karena hutang, aku harus menikah dengan Tuan, itu tidak adil!" Sakura memasang wajah cemberutnya sambil sesekali mengusap hidungnya yang memerah karena terlalu lama menangis.

"Padahal aku pikir Tuan akan berbaik hati, kasihan atas apa yang terjadi padaku dan mau memberiku waktu untuk membayar hutangnya. Tapi ternyata aku salah," bentak Sakura yang kesal karena tadi Sasuke sudah memberinya harapan.

Bagaimana tidak? Saat pria itu mengatakan padanya bahwa dia tidak perlu membayar uangnya, Sakura benar-benar berfikir bahwa Mr. Arrogant itu sudah berubah menjadi Peri baik hati. Tapi ternyata itu sama sekali tidak terjadi, Mr. Arrogant akan selamanya menjadi Mr. Arrogant.

"Menikah atau tidak?" Sasuke yang sedari tadi hanya duduk santai di kursi kebesarannya tersebut sama sekali tidak peduli dengan perkataan Sakura barusan. Dengan tampang polos, dan sombongnya pria menyebalkan itu malah kembali memberikan Sakura pilihan.

"TIDAK!" teriak Sakura kesal. Sungguh, Sakura akui kalau pria didepannya ini benar-benar tampan tingkat dewa. Tapi demi Tuhan... setampan apapun pria itu, sama sekali tidak membuat Sakura berfikir untuk menikah dengannya. Menikah dengan Mr. Arrogant yang sudah memeras hidupnya? BIG NO!

"Kalau begitu, kambalikan uangku sekarang!" bentak Sasuke yang kesal karena Si gadis bodoh calon istrinya itu sudah berani mengatakan tidak padanya. Disaat semua wanita diluar sana mengantri untuk menunggu lamarannya, gadis bodoh didepannya ini malah menolaknya tanpa berfikir dua kali? Oh Tuhan tidak, Sasuke tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Walau bagaimanapun dia harus mendapatkan gadis itu secepatnya. Demi harta peninggalan orang tuanya dan demi harga dirinya yang setinggi langit itu dia harus mendapatkan si gadis bodoh ini.

"KEMBALIKAN!"

Sakura langsung tersentak kaget saat Sasuke balas membentaknya dengan suara yang jauh lebih keras.

'T-Tuan... A-aku tidak punya uang lagi." Sakura berbicara dengan nada putus asa. Air matanya sudah mulai menganak sungai kembali.

Srettt...

Tidak ada cara lain lagi...

Sakura berdiri dari kursi dan langsung berjalan mendekati Sasuke, memegang tangan pria itu dan kembali memohon.

"Tuan tolonglah, jangan nikahi aku. Masih banyak wanita lain yang lebih cantik dan lebih seksi dariku, tolong... aku tidak ingin menikah." Sakura memohon dengan sangat, segala macam ekspresi wajah menyedihkan sudah ia pasang demi untuk merayu Sasuke agar pria itu membatalkan niatnya untuk menikahinya.

"Hm... " Sasuke tersenyum sinis, dibiarkannya tangan kirinya terus dipegang oleh Sakura dan kini tangan kanannya langsung menyentuh dagu gadis itu, menariknya sampai wajah cantik Sakura semakin dekat dengannya.

"Eee?"

Lima centimenter, jarak antara wajah Sasuke dan Sakura saat ini.

"T-Tuan.. a-apa yang kau l-lakukan?" Sakura mulai ketakutan, berbagai macam pikiran buruk mulai muncul dipikiran gadis itu.

"Tuan..." Sakura mulai menangis, gadis itu ingin segera melepaskan tangannya yang tadi memegang tangan Sasuke, tapi saat dirinya mencoba untuk melepasnya Sasuke malah berbalik memegang kedua tangannya menggunakan Satu tangan. Gawat... Sakura terperangkap.

Sakura yang tadinya berniat untuk menjauhkan jarak antara dirinya dan Sasuke sekarang sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan posesif Sasuke semakin erat memegang tangannya.

"Hei Nona, setelah kau dengan sengaja mendekatiku dan menyentuhku, sekarang kau malah berniat untuk menjauh dariku?" tanya Sasuke sambil tetap dengan senyuman sinisnya.

Perkataan Sasuke dan senyum sinis yang diperlihatkan oleh pria tampan berwajah rupawan tetapi sayang punya sifat yang sangat sombong tersebut langsung membuat tubuh Sakura bergetar.

Sasuke tidak pernah main-main dengan kalimat yang pernah diucapkannya,Saat dia sudah menginginginkan sesuatu, meski hal itu mustahil sekalipun dia akan berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Tamat lah riwayatmu wahai Sakura.

"Menikah, atau aku akan menelanjangimu disini. Menyentuh seluruh tubuhmu, menikmati setiap inchi bagian tubuhmu dan kemudian... menanamkan benih kedalam rahimmu, Nona Haruno." Sasuke berbisik pelan ditelinga Sakura, persis seperti apa yang Juugo lakukan pada Sakura beberapa jam yang lalu.

Mr. Arrogant

"Benarkah apa yang ibu dengar, Sakura?" Haruno Mebuki, menatap wajah anaknya tidak percaya. Baru beberapa hari yang lalu dia mendapat berita bahwa anaknya hamil, dan sekarang dia malah mendapat kabar bahwa anaknya akan menikah? Oh tidak, bukan akan menikah. Tapi SUDAH menikah.

"Mengapa bisa secepat ini, atau jangan-jangan..." Haruno Kizashi, ayah Sakura mulai mengeluarkan Suara.

"Pesan yang ibu terima itu benar?" tanya Sang ibu menyambung perkataan Sang ayah.

"Tidak, itu tidak benar!" Sakura langsung menyanggah pertanyaan ibunya.

"Aku tidak hamil Ibu, Ayah..." lanjut Sakura, gadis itu hanya bisa menunduk, memandangi selembar kertas yang ada diatas meja. Selembar kertas yang sudah berisi tanda tangannya.

Surat pernikahannya dengan Sasuke.

"Maafkan aku Paman, Bibi... sebenarnya aku yang waktu itu mengirim pesan kepada kalian." Sasuke, pria arrogant yang sedari tadi duduk disamping Sakura mulai mengeluarkan Sakura.

Kedua orang tua Sasuke langsung kaget, mereka memandang Sasuke dengan tatapan yang sangat sulit diartikan. Ada rasa marah, kesal dan kecewa pada pemuda yang baru mereka kenal itu.

"Aku adalah pacarnya anak kalian. Kami baru saja berpacaran dan waktu itu kami bertengkar karena anak kalian tidak mau menerima lamaranku. Padahal aku sudah sangat ingin menikah dengannya. Karena itu, aku mengirim pesan pada kalian bahwa dia sedang hamil. Semua itu aku lakukan karena aku ingin segera menikahi anak kalian, aku sangat mencintai anak kalian. Maafkan aku!" Sasuke, dengan segala keahlian aktingnya langsung menundukkan kepala untuk mencari simpati kedua orang tua gadis bodoh yang sekarang sudah sah menjadi istrinya tersebut.

Enggg...

Hening... tidak ada yang bisa mengeluarkan suaranya. Kedua orang Sakura masih kaget, dan Sakuranya sendiri semakin menundukkan wajahnya.

'Mr. Arrogant sialannnn! Dia benar-benar pandai berakting!'

"J-jadi... kalian berpacaran?" tanya Mebuki yang akhirnya bisa menemukan suaranya.

"Iya!" jawab Sasuke mantap.

"Dan kau sangat mencintai putriku?" tanya wanita empat puluh lima tahun tersebut.

"Iya!"

"Hm..." Mebuki dan Kizashi saling berpandangan dan kemudian tersenyum.

"Kau benar-benar pria sejati, kau berani menikahi putriku disaat kalian baru saja berpacaran. Aku merestuimu nak... aku merestuimu." Ayah Sakura berkata dengan penuh wibawanya.

Sasuke langsung mengangkat kepalanya dan tersenyum bahagia.

"Terima kasih..." ucapnya sambil tersenyum.

"Jaga Putrimu dengan baik, sayangi dia dan buat dia bahagia Dia anak kami satu-satunya." Kali ini nyonya Mebuki yang berbicara.

Sasuke mengangguk mantap.

"Aku berjanji, aku akan membuat dia bahagia, menjaga, menyayangi dan membuatnya selalu tersenyum. Dia segalanya untukku." Sakura mengangkat wajah dan langsung menatap Sasuke dalam, dia tahu kalau pria itu hanya berpura-pura mencintainya agar kedua orang tuanya menyetujui pernikahan mereka, tapi entah kenapa saat kalimat romantis itu keluar dari bibir Sasuke, meski kalimat itu bohong tapi... kalimat itu bisa menggetarkan hati Sakura. Tanpa sadar bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman tipis. Mulai dari sekarang pria disampingnya ini adalah suami sahnya, pria yang akan menjadi pendampingnya seumur hidup. Sakura tidak mengerti mengapa pria itu secara tiba-tiba memintanya untuk menikah, dia sama sekali tidak merasa bahwa pria itu sudah jatuh cinta padanya.

Sakura tidak mengerti dengan apa yang saat ini sedang terjadi padanya, yang dia tahu hanyalah saat ini dia sudah menikah dan sebagai seorang istri dia harus patuh pada suaminya dan menyerahkan seluruh hidupnya pada pria yang telah sah menjadi suaminya saat ini.

"Jadi eemm... Ayah dan Ibu, bolehkah aku memanggil kalian dengan panggilan itu?" ucapan Sasuke sejenak langsung membuyarkan lamunan Sakura.

Kedua orang orang tua Sakura langsung mengangguk, setuju saat Sasuke meminta ijin untuk memanggil mereka dengan panggilan Ayah dan Ibu.

'Benar-benar anak yang sopan,' pikir Tuan dan Nyonya Haruno.

"Ayah... Ibu, kami berencana akan mengadakan pesta pernikahannya akhir bulan ini. Apa kalian keberatan?" tanya Sasuke.

Kedua orang tua Sasuke langsung mengerutkan dahinya, akhir bulan ini berarti satu minggu dari sekarang.

"Nak... apa itu tidak terlalu mendadak? Bukannya tidak setuju, tapi kami sama sekali belum melakukan persiapan. Lagipula..."

"Ibu dan Ayah tenang saja, kedua orang tuaku sudah menyiapkan semuanya. Mereka langsung menyiapkan pestanya saat tahu kalau aku sudah punya pacar. Mereka sangat menyayangi Sakura dan ingin segera menjadikan Sakura menantu mereka." Sasuke memotong perkataan Nyonya Mebuki.

Sakura hanya bisa diam tanpa bisa berbicara apa-apa. sungguh, gadis dua puluh tiga tahun itu terlalu syok dengan apa yang Sasuke katakan.

'Pria ini benar-benar sialan. '

Mr. Arrogant

Saat ini Sakura dan Sasuke sedang dalam perjalanan pulang untuk kembali ke Tokyo, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tadinya kedua orang tua Sakura meminta mereka untuk menginap, tapi dengan sopan Sasuke menolak. Dia beralasan bahwa dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya, karena minggu depan dia dan Sakura akan mengadakan pesta pernikahan maka semua kerjaannya harus ia selesaikan sebelum hari itu tiba.

Pada awalnya kedua orang tua Sakura sedikit kecewa, tapi pada akhirnya mereka pasrah dan mengijinkan anak dan menantunya untuk pulang malam itu juga. Lagi pula jarak antara Konoha dan Tokyo tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar dua jam untuk pulang jika menggunkan mobil pribadi.

"Aktingku bagus, kan?" tanya Sasuke sambil terus menatap kedepan. Sakura yang duduk disampingnya hanya memutar matanya, bosan melihat tingkah Sasuke.

"Kau benar-benar sialan," kata Sakura. Sasuke langsung tersenyum sinis saat mendengar celaan Sakura padanya.

"Jaga mulutmu nyonya Uchiha, aku tidak suka istriku berbicara kasar pada suaminya."

Sakura semakin memutar kepalanya bosan.

"Memangnya aku ingin menjadi istrimu? kau yang memaksaku." Gadis itu menyandarkan tubuhnya ke kaca mobil, menolak untuk menatap pria yang sekarang sudah menjadi suaminya. Sepanjang perjalanan gadis itu hanya melihat keluar kaca, mengingat kembali bagaimana Sasuke memaksanya hingga dia bisa mendapatkan tanda tangan Sakura di surat pernikahan yang tadi mereka tunjukkan kepada orangtuanya.

Flashback on...

"Menikah, atau aku akan menelanjangimu disini. Menyentuh seluruh tubuhmu, menikmati setiap inchi bagian tubuhmu dan kemudian... menanamkan benih kedalam rahimmu, Nona Haruno." Sasuke berbisik pelan ditelinga Sakura, persis seperti apa yang Juugo lakukan pada Sakura beberapa jam yang lalu.

"K-kau tidak akan m-melakukannya T-Tuan..." Sakura masih masih mencoba untuk melawan.

"Benarkah? Jangan menantangku Nona."
"Emmmmggghhhh..." Sakura tidak bisa menghindar saat bibir tipis Sasuke dengan cepat mencium bibirnya, mengigit pelan bibir bawahnya dan saat bibir Sakura sedikit terbuka sesaat setelah bibirnya tergigit, lidah gesit Sasuke langsung menerobos masuk. Mendorong kasar lidah Sakura dan kemudian mengajaknya bermain. Pria itu menarik kasar leher bagian belakang Sakura dan membuat tubuh gadi itu jatuh terduduk kepangkuan Sasuke. Belum sempat Sakura menunjukkan respon atas perlakuan Sasuke terhadapnya, pria itu sudah mulai membuka kancing baju kerja Sakura secara perlahahan.

'Klik...' kancing baju paling atas sudah terbuka.

"Emmhh.." Sakura mulai memberontak, mencoba untuk lepas dari ciuman panas Sasuke dan menjauh dari pria itu. lidah Sasuke semakin gesit mengobrak abrik seluruh mulutnya, mulai dari menyapu bersih langit-langitnya sampai dengan mengabsen gigi-gigi putinya, pria itu bahkan menghisap kuat lidah Sakura, membuat gadis itu benar-benar kewalahan. Yang benar saja, Pria itu benar-benar tidak main-main dengan ucapannya. Sakura benar-benar ingin menangis, itu adalah ciuman pertamanya, tidak pernah ada satu orangpun yang pernah menyentuh tubuhnya seintim ini.

"Lephh... Phasssssss!" Sakura mengigit bibir bawah Sasuke, membuat pria itu sedikit kaget dan saat Sasuke lengah, gadis itu langsung beranjak menjauhi Sasuke. Dengan wajah memerah gadis itu menatap garang Sasuke sambil menutup bibirnya yang mungkin sekarang sedikit berdarah akibat gigitan Sasuke diawal tadi.

"Kau brengsek! Dimana Surat yang harus aku tandatangani. KITA MENIKAHHHHH!" Teriak Sakura.

Sasuke duduk menyandar dikursi kebesarannya sambil tersenyum miring. Dia berhasil!

Flashback off.

Sasuke tersenyum saat mengingat kembali kejadian tadi sore, saat dia memaksa Sakura untuk menikah dengannya. Pria itu menoleh kekanan, melihat gadis bodoh yang rupanya sudah tertidur pulas. Wajar saja saat ini Sakura sudah tertidur, bagaimana tidak? Dia menangis selama satu jam lebih saat Juugo merampas uangnya, dia kembali menangis saat Sasuke memaksanya untuk menikah, mengerahkan seluruh kekuatannya saat dia mencoba bebas dari ciumannya dan setelah itu mereka harus menempuh waktu dua jam untuk pergi kerumah orang tua Sakura, setelah satu jam berada disana mereka kembali lagi menempuh waktu dua jam untuk pulang ke Tokyo, jadi wajar kalau gadis itu sangat kelelahan kan?

Sakura tidur sambil memeluk tangannya sendiri, gadis itu mungkin sedang kedinginan. Menyadari itu Sasuke langsung menepikan mobilnya dan kemudian berhenti. Pria itu langsung membuka jasnya dan kemudian menggunakakan jas itu untuk menyelimuti Sakura.

"Tidur yang nyenyak, Istriku." Sasuke berbicara pelan pada Sakura dan kemudian mencium singkat bibir gadisnya. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya. Dia harus segera pulang ke rumah, ibu dan ayahnya pasti khawatir karena dia sama sekali tidak memberi kabar.

'Dasar Mr. Arrogant.' Sakura yang sebenarnya belum sepenuhnya tertidur tersebut tersenyum tipis saat merasakan Sasuke menyelimuti tubuhnya dengan jas dan saat pria itu mengecup singkat bibir mungilnya.

Mr. Arrogant

Sasuke langsung keluar dari mobil saat mereka sudah sampai di rumah Sasuke, pria itu kemudian membuka pintu sebelah kanannya untuk mengangkat Sakura. Gadis itu benar-benar tidur dengan sangat nyenyak.

Setelah Sakura berada nyaman di gendongannya Sasuke pun langsung membawa gadis itu masuk kedalam rumah, dia tahu... kedua orang tuanya pasti sudah menunggu kepulangannya.

"Ciyo-baasan buka pintunya." Sasuke sedikit berteriak saat dia memanggil nenek Ciyo, wanita tua yang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja untuk keluarganya.

Nenek Ciyo yang memang ikut menunggu kepulangan Sasuke bersama dengan Tuan dan Nyonya besar Uchiha tersebut langsung beranjak pergi ke pintu utama untuk membukakan Sasuke pintu.

"Baasan, tolong bawa tas dan jasku." Sasuke langsung meminta nenek Ciyo untuk untuk mengambil jas yang ada dibahunya dan tas yang ada ditangan kirinya. Tanpa banyak bicara nenek Ciyo langsung menuruti perintah Tuan mudanya itu.

"Sasukeeee! Kenapa baru pulang sekarang? Ya Tuhan, itu Sakura?" Nyonya Mikoto yang tadi menyusul Nenek Ciyo langsung kaget saat melihat Sasuke pulang dengan seorang wanita digendonganya.

"Sssttt... Ibu pelankan suaranya, aku tidak mau dia terbangun." Sasuke langsung menyuruh ibunya untuk dia, dia tidak mau suara nyaring sang ibu akan membangunkan Sakura yang sedang tidur dengan nyenyak. Nyonya Mikoto langsung menganggukkan kepala tanda mengerti.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" bisik Ibu Sasuke pelan.

"Ibu aku akan ceritakan semuanya besok pagi, untuk sekarang aku ingin tidur. Aku benar-benar lelah, sampaikan maafku pada Ayah karena tidak memberi kalian kabar." Sasuke langsung berjalan menaiki tangga untuk naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.

Sang ibu hanya bisa terbengong, tidak biasanya Sang anak membawa pulang seorang wanita ke rumah mereka. Bahkan ini pertama kalinya dia melihat Sang anak begitu menjaga kenyamanan seorang gadis lain. Mikoto langsung tersenyum bahagia.

"Anata... lihat anakmu, dia sudah mulai dewasa." Nyonya Mikoto langsung berteriak senang sambil berlari memeluk suami kesayangannya.

Sesampainya di kamar, Sasuke langsung meletakkan Sakura keatas tempat tidurnya dan kemudian menyelimuti gadis itu. Setelah itu dia langsung membuka pakaiannya dan bergegas masuk ke kamar mandi. Sial... gara-gara kejadian tadi sore, dia harus segera mandi air dingin.

Setelah menghabiskan waktu setengah jam didalam kamar mandi, Sasuke langsung memakai piyama tidurnya dan kemudian merebahkan diri disamping Sakura yang masih tertidur pulas.

Setelah mengetik sebuah pesan, pria itu pun langsung tertidur. Sungguh dia benar-benar lelah.

Dear: Uchiha Sasuke

To: Secretary

Message: Hinata, besok pagi-pagi pergi ke butik Sasori dan belikan satu set pakaian wanita ukuran sedang, dan antarkan ke rumahku.

Sasuke memang pria kaya, arrogant yang hidupnya bebas. Seorang pria yang akan mendapatkan apapun yang dia inginkan, tapi sebebas-bebasnya hidup Sasuke... Tidak pernah sekalipun pria itu menjalin hubungan kasih dengan wanita lain, pria itu bahkan ragu dirinya pernah merasakan jatuh cinta. Seumur hidup, yang dipikirkan Sasuke hanya kerja, kerja dan kerja... dirinya terlalu terobsesi untuk mengembangkan lagi perusahaan ayahnya sampai dirinya lupa bahwa dia juga butuh cinta.

Sesungguhnya hari ini, bukan hanya Sakura yang kehilangan ciuman pertamanya, tapi juga Sasuke. Pria itu benar-benar gila, dia bahkan rela kehilangan ciuman pertamanya hanya untuk mendapatkan Sakura.

Are you crazy?

Yes, of course you are.

Tbc...

Haiii... saya kembali dengan membawakanchapter lima untuk teman-teman semua, maaf kalau chapter ini juga kurang panjang. Saya emank tidak bisa membuat fic yang panjang.

Gimana pendapat kalian tentang chapter ini? Apa memuaskan atau cukup mengecewakan? Saya tunggu review dari kalian ya? Selamat menikmati. :D

Terima kasih kepada: zehakazama, Misshire, Mustika447, ,Mantika mochi, respitasari, luca Marvell, fiaaAtiasrizqi embun. Adja1, Jamurlumutan462,Chichak Deth,hanazono yuri, Aishamath Shinobu, Re UchiHaru Chan, sinB,t-chan, chiu, hana, sarada, Lukeluke, sasusakusara, vani,zarachan, euri-chan dan SantiSwiMw.

Terima kasih sudah mereview, review lagi yah? :D