Mr. Arrogant
Pairing: Sasuke dan Sakura
Gendre: romance,family
Warning: Ooc, datar, feel gak kerasa, dan lain-lain..
Disclaimner: Masashi Kishimoto
Summary: Hanya karena kecelakaan kecil yang terjadi, hidup Sakura berubah.
Kalian pernah nonton film drama malaysia yang judulnya "Love You Mr. Arrogant" kalau pernah, saya hanya ingin bilang kalau fic ini sebagian besar terinspirasi dari film tersebut.
Terima kasih sudah mau menyempatkan diri untuk membaca fic saya ini. Terima kasih...
Ps: Karena saya tidak tahu kurs uang di jepang, jadi anggap saja, satu rupiah=satu yen. :D
Mr. Arrogant
Dari kecil Sakura selalu bermimipi kalau saat dewasa nanti dia akan menikah dengan seorang pria berwajah tampan bak pangeran yang akan melamarnya dengan cara yang sangat romantis, seperti pangeran melamar putri raja.
.
.
.
Disebuah restoran berbintang lima yang berada di bangunan setinggi empat belas lantai. Sakura duduk di kursi yang berada sangat dekat dengan dinding kaca. Dari dinding tersebut dia bisa melihat bagaimana indahnya pemandangan kota Tokyo yang sepertinya tidak pernah mati. Gadis itu melihat kebawah, menyaksikan pemandangan lampu-lampu mobil yang berjejer rapi di jalan besar, bergerak dengan kelajuan yang berbeda antara mobil satu dengan mobil lainnya.
Restoran mewah itu berada tepat dijalan besar, karena itu Sakura bisa melihat banyaknya mobil di jalanan.
"Haruno Sakura..." Suara berat seorang pria menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Didepannya Sakura bisa melihat pria itu melihatnya sambil tersenyum miring.
"Bagaimana, apa kau senang aku mengajakmu kesini?" tanya pria itu lembut.
Wajah Sakura memerah, gadis itu tersenyum, menunduk dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih karena sudah mengajakku makan malam ditempat indah seperti ini, Sasuke-kun..." kata Sakura yang entah kenapa sekarang menjadi sangat pemalu.
"Kalau kau senang, ayo... makan makanannya, aku sudah memesankan semua makanan favoritemu. " Sakura semakin melebarkan senyumnya.
Gadis itu melihat didepannya terhidang begitu banyak makanan kegemarannya, ada ikan gurami bakar, sotong, sushi, ayam bakar, dan beraneka macam sayuran yang mengunggah selera. Sakura juga bisa melihat ada segelas ice cream buah kesukaannya yang disajikan sebagai untuk makanan penutup.
Glek..
Sakura meneguk ludahnya, tidak sabar ingin memakan semua yang terhidang dihadapannya.
"Sasuke-kun, terima kasih... aku tidak menyangka bahwa kau adalah pria yang sangat baik hati. " Sakura memandang Sasuke dengan mata berbinar, bahagia karena Sasuke memperlakukannya dengan sangat baik.
"Apapun akan kulakukan untuk membahagiakanmu, orang yang paling aku cintainya didunia ini." kata Sasuke yang kini tangannya sudah bersarang di wajah Sakura dan mengusap wajah cantik itu dengan pelan.
.
.
.
Suara merdu lagu yang mengalun indah, membuat Sakura semakin merasa bahagia. Dia dan Sasuke berdansa, menggerakan tubuh mereka dan kemudian menari bak seorang pangeran dan permaisurinya. Tangan Sasuke berada di pinggang Sakura sedangkan tangan Sakura sendiri berada di leher Sasuke.
"Sakura, aku sangat mencintaimu." Ucapan Sasuke berhasil membuat dada Sakura kembali menghangat dan wajahnya pun kembali memerah.
"Hmm..." Gadis itu tersenyum bahagia.
Begitu lagu yang mengiringi dansa mereka berhenti.
Bruk...
Sasuke menjatuhkan tubuhnya dan berlutut dihadapan Sakura dengan tangan kanannya terhulur keatas, memperlihatkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.
Kepala Sasuke mendongak, menatap langsung emerlad Sakura yang terbuka lebar. Masih kaget dengan apa yang sedang Sasuke lakukan didepannya.
"S-Sasuke..."
"Sakura, menikahlah denganku. Jadilah istri dan ibu dari anak-anakku..."
Deg...
Deg...
Deg...
Jantung Sakura semakin bedetak tidak beraturan. Ini benar-benar seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Kini dihadapannya, Sasuke berlutut dan melamarnya dengan cara yang sangat romantis.
"Sasuke..."
.
.
.
Grep...
"Sasukeee! Aku mauuu..." Sakura berteriak kencang dan langsung memeluk pria yang panggilnya itu dengan kencang.
.
.
.
Deg...
Sasuke langsung membuka kedua matanya, kaget saat merasa ada sesuatu yang tiba-tiba saja memeluknya dengan sangat erat.
Padahal tadi dia sedang enak-enaknya tidur sambil bermimpi mendapatkan tender yang sangat besar. Tapi saat sebuah tangan memelukya erat pria itu langsung tertarik dengan paksa dari mimpinya dan kembali ke alam nyata.
'Sial...' Sasuke mengumpat dalam hati. Dengan sangat perlahan pria itu memalingkan kepalanya kesebelah kiri untuk melihat makhluk apakah yang sudah berani mengusik mimpi indahnya.
Singgg...
Kedua mata Sasuke langsung menyipit tajam saat melihat Haruno Sakura, gadis dua puluh tiga tahun yang kemarin sore sudah sah menjadi istrinya kini tidur dengan tampang polosnya dan tersenyum seperti orang gila meski kedua matanya masih tersenyum rapat.
Srek...
Gadis itu semakin mengeratkan pelukannya, bahkan sekarang dengan kurang ajarnya gadis itu mendekatkan wajahnya pada leher Sasuke dan kemudian menenggelamkan kepalanya disana.
"Sasukeee... aku mau, aku mau menerima lamaranmu, oh Sasukeee!" Sasuke tahu, saat ini istrinya sedang mengigau.
"Emmmm... kau wangi." Sakura mengerak-gerakkan wajahnya dileher Sasuke seperti seorang kucing yang sedang inging di elus oleh pemiliknya.
Sasuke yang pada awalnya ingin marah pada Sakura langsung tersenyum geli.
'Sepertinya kau ingin mengajakku bermain, Sakura.'
"Enghh... Sasuke." Entah apa yang sedang dimimpikan gadis itu sekarang Sasuke tidak peduli, yang dipedulikan gadis itu hanyalah tubuhnya yang sekarang sedang bereaksi karena ulah Sakura yang entah bagaiman caranya kini bisa menekan bagian terintim darinya dengan paha gadis itu.
'Sial...' Sasuke kewalahan karena juniornya dibawah sana mulai tegak berdiri.
"Engghhh..."
Pria itu langsung mengerakkan badannya, mengeser posisi mereka hingga kini Sakura yang masih saja memeluk leher dan perutnya berada dibawah dia... berada diatas dengan bagian bawahnya yang sengaja ia biarkan menekan kuat tubuh Sakura.
Sasuke hanya menahan tubuh bagian atasnya dengan Siku.
"Hesh..." Pria itu tersenyum geli saat menyadari perubahan wajah Sakura yang kini menjadi memerah.
"Istriku... "
.
.
.
Sasuke memeluk tubuh Sakura dengan erat, dan Sakura balas memeluk tubuh pria yang baru saja melamarnya itu dengan erat pula. Kepala Sakura menyandar dengan nyaman di perpotongan leher Sasuke.
"Istriku..." panggil Sasuke.
"Sasuke, aku belum menjadi istrimu." Sakura tersenyum geli saat mendengar Sasuke memanggilnya dengans sebutan istri meski mereka belum menikah.
"Sakura, buka wajahmu sebelum menghamilimu disini."
Grepp...
Sakura merasa ada yang aneh dengan perkataan Sasuke, dia juga merasa pria itu tidak lagi bersikap romantis. Pria itu... meremas pantatnya dan semakin menempelkan tubuh mereka. Gadis itu mulai merasa tidak nyaman.
"Sasuke... kenapa jadi mesum? Jangan meremasnya. Engghhh..." Sasuke mengakhiri perkataaannya dengan suara desahan saat Sasuke semakin menekan tubuhnya. Gadis itu bahkan merasakan dengan jelas bagaimana kerasnya Sasuke dibawah sana.
"Kalau begitu, bangun dari mimpi erotismu gadis bodoh!"
.
.
.
Plak...
Sasuke menampar pelan kedua pipi Sakura, mencoba menyadarkan gadis itu dari mimpinya.
"Oii... gadis bodoh. Cepat bangun dan berhenti bermimpi! Sadar sebelum aku melempar semua baju yang melekat ditubuhmu!"
Deg...
Sakura langsung membuka kedua matanya. Kedua matanya melebar saat melihat wajah Sasuke yang kini berada diatasnya dengan jarak yang sangat dekat.
"Sasuke," panggil Sakura.
"Hn..."
Srekkk...
Sakura menolehkan kepalanya ke kiri dan kekanan, masih mencoba untuk mengerti dengan apa yang sedang terjadi padanya.
Bukankah tadi dia sedang berada di restoran mahal, dia dilamar oleh Sasuke dan kemudian...
"Masih berfikir bahwa kau sedang berada di dunia mimpi dan beradegan panas denganku, he? Istriku..."
Deg...
.
.
.
"Maaf... aku ingin ke kamar mandi." Sakura memasang wajah datarnya dan kemudian mendorong tubuh Sasuke agar menyingkir dari tubuhnya.
Setelah tubuh pria itu tidak lagi berada diatas dan tidak lagi MENEKAN tubuh bagian bawahnya, Sakura langsung berjalan menuju kamar mandi dengan pelan tanpa berbicara sedikitpun.
Mr. Arrogant
"KYAAAA!" Entah untuk yang keberapa puluh kalinya, gadis itu hanya bisa berteriak di kamar mandi untuk menghilangkan rasa malunya.
"Apa yang kulakukan, apa yang kulakukan. KYAAAA! Benar-benar memalukannn!" Gadis itu tidak bisa mengontrol reaksinya.
Dia akhirnya sadar apa yang sedang terjadi, Dia sadar bahwa didalam hidupnya tidak ada Sasuke yang mengajaknya makan malam di restoran mahal, tidak ada Sasuke yang mengajaknya berdansa, dan tidak ada juga Sasuke yang melamarnya dengan cara yang sangat romantis. Itu semua TIDAK ADA, semua itu hanya MIMPI memalukan yang sudah mempermalukannya didepan Pria itu.
" Ya Tuhan... ini benar-benar memalukan." Sakura berjalan mondar-mandir didalam kamar mandi, berusaha untuk menenangkan dirinya.
"Itu hanya mimpi, aku sudah menikah, tapi aku tidak dilamar dengan cara romantis." kata Sakura pada dirinya sendiri.
"Kenapa harus dia yang muncul di mimpiku, Kenapa bukan yang lain saja?" kata Sakura yang hampir menangis karena malu.
"Huweeee!" Dan kini, gadis itu kembali berteriak sambil menangis.
"Hiks... dia menyentuhku. Tuan Arrogant itu menyentuhku. Hiks..." Sakura berkata sambil terus menangis.
"Tapi itu juga bukan karena salahnya, itu salahku... salah mimpiku. Huweeee..." Dan Sakura menangis seperti anak kecil.
"Aku bisa merasakan ada yang keras, hiks... Vaginaku ditekan, Hiks... aku akan hamil! Huweeeeee..." Dari sini bisa diketahui. Gadis merah muda berumur dua puluh tiga tahun itu masih sangat polos.
.
.
.
Sasuke langsung tersenyum geli saat mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Sakura sebelum lagi-lagi gadis itu menangis kencang seperti anak kecil. Pria itu bahkan sampai harus menutup mulut dan wajahnya agar tidak tertawa terbahak-bahak saat membayangkan bagaimana reaksi istrinya sekarang.
"Sial... dia benar-benar gadis bodoh." kata Sasuke setelah dirinya puas mentertawakan Sakura.
Saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Sakura sadar bahwa dia tidak boleh terus bermalas-malasan disini. Dua jam lagi dia ada rapat dan itu artinya dia sudah harus berada di kantor setidaknya setengah jam sebelum rapatnya dimulai.
Srek...
Pria itu berjalan mendekati kamar mandi.
"Oi..." Sasuke mengetuk pintu kamar mandi dan kemudian memanggil Sakura. Bisa pria itu dengar, kalau Sakura sedang mencoba untuk berhenti menangis.
"Berhentilah menangis. Kau sekarang sudah ada di rumahku, dan aku sudah memberitahukan pada orangtuaku tentang pernikahan kita. Jadi sekarang, cepat mandi. Aku akan menyimpan bajumu diatas meja. Setelah itu, temui aku dibawah. Kita sarapan bersama ayah dan ibu." Sasuke berkata panjang lebar tanpa membiarkan Sakura yang kini sedang duduk meringkuk dibelakang pintu untuk membalas kata-katanya. Setelah merasa bahwa perkataannya sudah cukup jelas, pria itu langsung pergi keluar dari kamarnya. Dia harap Hinata sudah datang membawakan baju untuk Sakura.
.
.
.
Saat tiba dibawah, Sasuke bisa melihat sekretarisnya itu duduk sambil memeluk sebuah kantong yang Sasuke tahu berisi pakaian yang dimintanya tadi malam.
"Hinata..." panggil Sasuke dengan nada datar seperti biasa.
Hinata yang merasa namanya dipanggil langsung mendongakkan kepala, dan begitu melihat Tuannya, gadis itu langsung berdiri dan kemudian menunduk hormat.
"O-Ohayo, Sasuke-sama..." sapa Hinata.
"Ohayo," balas Sasuke.
"A-aku sudah membawakan pakaian yang S-Sasuke-sama pesan tadi malam," kata Hinata takut-takut sambil menyodorkan barang belanjaannya.
Sasuke diam sebentar dan memutuskan untuk menyuruh Hinata mengurus Sakura.
"Hei... kau bisa masuk ke kamarku dan memberikan barang itu pada istriku disana. Oh ya, bantu dia untuk bersiap dan pastikan dia turun sarapan dengan tepat waktu. Aku tidak mau orang tuaku menunggu lama kedatangan menantunya."
"Hai.. Sasuke-sama." kata Hinata patuh.
Saat pria itu berjalan menjauhinya untuk pergi ke ruang makan, Hinata langsung bergegas menuju kamar tuannya. Hinata memang sudah sering kali pergi ke rumah Sasuke saat pria itu meminta dan beberapa kali dia harus masuk ke kamar pria itu untuk membantunya mencari laporan yang Sasuke simpan di kamar, atau membantu dalam hal lainnya yang pastinya hanya berkaitan dengan pekerjaan.
Mr. Arrogant
Sakura sudah menyelesaikan acara mandi paginya dengan wajah cemberut, gadis itu keluar dari kamar mandi sambil mengintip apakah suaminya masih ada didalam kamar atau tidak. Jika suami arrogantnya itu masih ada didalam kamar, Sakura bersumpah dia akan kembali mengurung diri didalam kamar.
Saat ini hanya kepalanya yang berada diluar kamar mandi, tubuhnya yang kini sedang mengenakan piyama mandi masih setia berada dibalik pintu.
"Selamat pagi Nona," Sakura terkejut saat mendengar suara lembut seorang gadis yang berdiri di dekat pintu kamar Sasuke. Gadis berambut indigo panjang tersebut tersenyum manis kepada Sakura.
"K-Kau... bukan kah kau yang..." Sakura ingat gadis itu, dia adalah gadis yang sama dengan gadis yang beberapa hari lalu dibentaknya saat dia hendak bertemu dengan Sasuke.
"Saya adalah sekeretaris yang waktu itu menahan Nona untuk bertemu dengan Uchiha-sama, M-maaf atas ketidaksopanan s-saya." Gadis Indigo itu langsung menundukkan kepalanya dalam.
Sakura keluar dari kamar mandi dan kemudian berjalan mendekat Hinata, seketaris suaminya yang pernah dibentaknya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sakura yang mengabaikan permintaan maaf Hinata.
"S-Sasuke-sama memintaku untuk membantu Nona bersiap," kata Hinata sambil memperlihatkan paper bag yang dibawanya.
"He?"
.
.
.
Semuanya terasa seperti mimpi bagi Sakura, semua yang terjadi padanya terasa sangat mendadak. Dalam satu bulan ini banyak kesialan yang dihadapinya secara tiba-tiba. Tiba-tiba dia menabrak semuah mobil mewah, tiba-tiba ibunya menelpon dan menanyakan apakan memang benar dia sedang hamil?, tiba-tiba dia di cegat oleh pria jahat yang meminta semua uangnya, tiba-tiba orang yang ditabraknya memintanya untuk menikah, dan sekarang... tiba-tiba dia harus keluar dari sebuah kamar mewah dan turun kelantai satu untuk pergi menemui suami dan mertua yang belum pernah ditemuinya.
Sakura bahkan tidak sadar kenapa dia tiba-tiba terbangun dan sudah berada di rumah mewah suaminya itu.
"Nona..." Suara teguran pelan dari Hinata langsung membuat Sakura sadar bahwa kini dirinya sedang berdiri di ruang makan dan kini didepannya ada Sang suami yang sedang berjalan mendekatinya.
"Sayang... akhirnya kau muncul juga, kau tahu... ayah dan ibu sudah tidak sabar untuk bertemu. Ayo... sapa mereka." Setelah berada disamping Sakura, Sasuke langsung merangkul pinggang gadis itu dan kemudian mencium keningnya pelan. Membuat kedua mata emerlad Sakura langsung terbuka dengan lebar.
Tuan dan Nyonya Uchiha yang tadinya duduk membelakangi pintu masuk ruang makan, langsung menoleh kebelakang untuk melihat Sasuke dan menantu baru mereka.
"Sakura... ayo kita sarapan nak, kami sudah menunggumu. "
Sakura mengalihkan pandangannya dari Sasuke dan dengan gerakan perlahan matanya beralih untuk melihat Sang mertua.
Lagi-lagi kedua matanya melebar melihat siapa yang sekarang berada didepannya.
Nyonya Mikoto tersenyum lebar sedangkan Tuan Uchiha tersenyum tipis tapi tetap terlihat hangat. Sakura tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"PAMAN, BIBI?" teriak Sakura tidak percaya sambil mengarahkan telunjuknya pada ibu dan ayah mertuanya.
"Hmmm..." Mikoto tersenyum bahagia.
'Gadis ini lebay.' Sasuke menutup kedua matanya, tidak tahan melihat reaksi Sakura yang dianggapnya sangat berlebihan.
Mr. Arrogant
"Jadi Sakura, apa kedua orang tua kalian sudah setuju kalau acara pernikahannya akan dilaksanakan akhir bulan ini?" tanya Mikoto penuh harap saat acara sarapan bersama mereka telah selesai.
Sakura yang entah kenapa masih terlihat tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi padanya hanya mengangguk pelan. Membuat nyonya Mikoto langsung berjingkrak senang.
"Kalau begitu hari ini kita harus ke butik langganan ibu dan mencoba gaun dan jas kalian," kata Mikoto penuh semangat. Mendengar perkataan Sang ibu, Sasuke dan Sakura langsung tersentak kaget.
"Tapi aku harus bekerja ibu..." kata Sasuke dan Sakura bersamaan membuat Nyonya Mikoto terkejut.
"He?" Sasuke langsung menatap Sakura dengan tatapan tajamnya.
"Apa kau bilang?" tanya Sasuke?
"Aku harus bekerja," jawab Sakura.
"Apa aku lupa bilang kalau sebenarnya kau sudah tidak bekerja lagi di perusahaan itu?" kata Sasuke dengan wajah dinginnya.
"Heee? Apa maksudmu?" tanya Sakura, satu hal tidak terduga yang tidak bisa dipercaya kini kembali terjadi pada Sakura.
"Aku sudah mengirimkan surat pengunduruan dirimu pada atasanmu, Kakashi."
Secara tidak langsung Sasuke tidak mengijinkannya untuk bekerja.
"Apa maksudmu?" Tubuh Sakura lemas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya.
"Aku tidak mengijinkanmu untuk bekerja, Uchiha Sakura."
'Ya Tuhannn... aku bisa gila dengan semua yang terjadi padaku!'
Tanpa disadari oleh Sakura maupun Sasuke, Uchiha Fugaku yang sedari tadi hanya diam menyaksikan pembicaraan Istri, Anak, dan Menantunya itu terlihat tersenyum bahagia.
'Aku senang anak itu tidak mengijinkan istrinya bekerja, itu artinya dia benar-benar serius dengan pernikahannya.'
"Jadi... karena Sakura sudah tidak bekerja, tidak ada alasan lain kan untuk tidak pergi mencoba gaunnya, kan?" tanya Mikoto dengan wajah polosnya yang sedari tadi selalu tersenyum sambil menatap Sakura.
Tubuh Sakura semakin tidak berdaya.
'Ya Tuhan... biarkan aku bernafas karena hal yang semuanya terasa sangat mendadak ini Tuhan.'
"Ibu maaf, sebentar lagi aku ada rapat di kantor. Jadi sepertinya aku tidak bisa mencoba jasnya hari ini. Tapi ibu boleh bawa Sakura, " kata Sasuke yang sekarang sudah berdiri dari kursinya dan kemudian berjalan mendekati Sang ibu dan mencium pipinya kiri dan kanan.
"Aku harus siap-siap ke kantor." Sasuke menatap Sakura yang masih terlihat tidak bersemangat.
"Sakura, apa kau tidak ingin membantuku bersiap-siap, Sayang?" tanya Sasuke dengan nada yang lembut tapi memerintah.
"Ee?" Sakura yang masih terlihat linglung, langsung berdiri dan berjalan mendekati Sasuke.
"Permisi, Ayah.. Ibu," kata Sasuke yang kemudian menarik tangan Sakura dan membawa istrinya itu pergi ke kamar.
Nyonya Mikoto langsung menatap Suami yang balas menatapnya dan kemudian mereka saling tersenyum.
"Terima kasih Anata, kau berhasil membuat anak kita menikah dan memberikan kita seorang menantu," kata Mikoto bahagia.
Hinata yang sedari tadi berdiri seperti patung dibelakang pintu terlihat ikut mengukir senyum manisnya.
Mr. Arrogant
Setelah sampai di kamar, Sasuke langsung menutup pintu kamarnya, mendorong tubuh kurus Sakura ke dinding dan kemudian mengurung tubuh gadis itu dengan kedua lengannya yang berada di sisi kanan dan kiri tubuh Sakura. Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura.
"Hei... aku tidak mengerti denganmu, kenapa tadi kau bertingkah benar-benar seperti orang bodoh didepan ibu dan ayahku?" tanya Sasuke sambil menatap tajam Sakura.
Sakura yang masih setengah linglung itupun langsung mengerutkan dahinya dan memasang wajah cemberut.
"Aku merasa semuanya terlalu mendadak," kata Sakura.
Sasuke memutar matanya bosan, dia benci gadis lelet seperti Sakura.
"Apanya yang terlalu mendadak? Tidak bisakah kau cepat beradaptasi dengan keadaan kita sekarang? Ingat... sekarang kita adalah suami istri." kata Sasuke mencoba untuk bersikap tenang.
Sakura semakin cemberut.
"Kenapa kau tidak membangunkanku tadi malam? Kenapa tidak mengatakan kalau kita akan langsung ke rumahmu? Aku pikir kau akan mengantarku ke rumah. " Sakura memandang Sasuke kesal, yup... dia benar-benar kesal dengan tingkah Sasuke yang dirasanya sangat egois.
"Oi perempuan, kau tahu tidurmu itu seperti apa? kau itu tidur seperti orang yang sudah mati. Aku bangunkan berapa kalipun kau tidak akan bisa bangun. Dibangunkan bukannya bangun, kau malah memelukku dan ingin mengambil keperjakaanku."
"ARGGGHHH..." Sasuke langsung menjerit kesakitan saat Sakura mencubit perutnya dengan kencang.
"Sakit, kenapa kau mencubitku!" bentak Sasuke, beruntunglah Sasuke karena kedua orang tuanya tidak akan mendengar teriakannya. Kamar mereka kedap Suara.
"Habisnya, kau bicara tidak sopan!" Sakura balas membentak.
"Heh!" Sasuke mendesah keras dan kemudian memalingkan wajahnya, tapi tidak melepaskan Sakura yang masih terkurung diantara dua lenganya.
"Terserah kau masih butuh berapa lama lagi untuk menerima kenyataan tentang apa yang sudah terjadi padamu, istriku sayang..." kata Sasuke dengan nada yang entah kenapa mampu membuat seorang Sakura tiba-tiba punya niat untuk membunuh, mencincang-cincang tubuh seseorang dan kemudian menjadikan tubuh orang itu sebagai santapan untuk buaya yang kelaparan.
Karena tidak mampu membunuh, Sakura hanya bisa memalingkan wajahnya.
"Aku tidak ingin kau bertingkah seperti orang bego lagi didepan ibu atau ayahku. Jadilah Istri manis dan ikuti semua yang ibu katakan padamu, mengerti?" tanya Sasuke.
Merasa tidak punya kata-kata lagi untuk menjawab perkataan Sasuke, Sakura hanya menganggukkan kepalanya.
"Jawab aku! Mengerti atau tidak? Aku tidak butuh gerakan kepala bodohmu itu, aku butuh gerakan mulutmu," Sasuke berkata dengan cara bicara arrogantnya seperti biasa.
"Iyaaa... Tuan." Sakura menjawab asal.
"Satu hal lagi, seperti yang aku bilang tadi. Kau tidak boleh bekerja, duduk di rumah dan urus suamimu." Setelah mengatakan hal itu, Sasuke langsung berjalan meninggalkan Sakura. Dia menggambil handuknya dan kemudian bersiap untuk masuk ke kamar mandi.
"Tuan..." Sakura mendekat Sasuke dengan terburu-buru, dia menarik tangan Sasuke untuk menghentikan langkah pria itu.
"Apa lagi?" tanya Sasuke malas.
"Tuan... aku ingin bekerja," kata Sakura.
"Tidak boleh," jawab Sasuke.
"Tapi Tuan.."
"Jangan panggil aku Tuan, aku bukan tuanmu. Aku suamimu!"
"T-tapi S-Sasuke-kun... aku ingin bekerja, tolong ijinkan aku bekerjaa ya? Pleaseee..." Sakura memasang wajah imutnya, agar Sasuke menuruti kemauannya.
"I SAID, NO!" Sasuke langsung mendorong tubuh Sakura pelan dan kemudian dirinya langsung masuk ke kamar mandi dan menguncinya.
"Hiiii!" Sakura mencak-mencak tidak jelas, saat mendengar jawaban Sasuke dan tingkah Sasuke yang langsung mendorongnya tadi.
"Susah punya suami Arrogant. Ya Tuhan.. bagaimana nasibku nanti," kata Sakura yang mulai meratapi nasibnya.
"Siapakan pakaian kerjaku!"
Sakura langsung memutar kedua bola matanya dengan malas, baru kemarin mereka menikah dan hari ini Sasuke sudah memaksanya untuk bertingkah seperti seorang istri yang baik. Mereka bahkan menikah tanpa cinta, demi Tuhan... Sakura sama sekali tidak mencintai Sasuke.
'Terus, jika kami tidak saling mencintai, kenapa dia mengajakku untuk menikah?' Pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di kepala Sakura.
TBC..
Haiii... masih adakah yang ingat dengan fic ini? :D
Maaf banget karena sudah hampir satu bulan saya gak nge update fic ini. Saya punya beberapa alasan.
Pertama: Saya adalah salah satu mahasiswa tingkat akhir Teknik yang kemarin sibuk laporan kerja prakter dan seminarnya.
Kedua: Saya tiba-tiba tertarik sama yang namanya fic screen plays yang karakternya kyuhyun. Jadi yah... waktu saya banyak tersita untuk kebaca banyak fic yang berkaitan dengannya. :D
Ketiga: Saya juga bikin fic baru di screen plays yang semoga aja bisa admin di flying Nc mau mengepostnya. Fic SasuDreamHell saya hapus dan saya ganti jadi KyuDreamHell. Jadi kemarin waktu saya tersita juga untuk nulis fic itu dari chapter 1-3
Jadi maaf ya kalau nanti saya update fic ini agak lama.
Sebagai permintaan maaf, saya udah nambahin jumlah wordnya lho... untuk ceritanya aja udah 3000 kata. Hihihihi gak banyak sih nambahnya, tapi lumayan lah kan? :D
Terima kasih udah membaca dan direview ya? Biar saya tahu kekurangan tentang fic ini dan setelah itu saya bisa memperbaikinya. :D
Thanks to: syahidah973, zehakazama, Sasara Keiko, 1, hanazono yuri, Chichak Deth, Amaya Katsumi, Jamurlumutan462, respitasari, Kiki Kim, Kurochi haru, echaNM, Aishamath Shinobu, unnihikari, Uchiha Pioo, Luca Marvell, SantiDwiMw, Yukihiro Yumi, Dango-chan, ssl, SinB, yencherry, Qren, Guest, Euri-chan, Rama, Guest, t-chan, hana, gita zahra, akashibasuke, williewillydoo, zarachan, ss, Arashasha.
