perjalanaan Naruto dan Gaara menuju kedai ichiraku ramen menjadi perjalanan yang sunyi bagi mereka. Hanya deru suara mobil yang mengisi keterdiaman keadaan saat ini. Naruto mau pun Gaara, diantara mereka tak ada satu pun yang mau membuka percakapan. Mungkin diam tak aneh untuk Sang Sabaku muda. Tapi berbeda halnya jika menyangkut Uzumaki Naruto. Pemuda bersurai orange itu sangat terkenal hiperaktive dan berisik. Tapi yang terjadi kini, apa? Dia hanya bungkam dengan tatapan kosong mengarah pada pemandangan diluar jendela mobil. Raut Naruto begitu tak terbaca bahkan oleh Gaara yang paling kenal denganya sekalipun.
'Naruto. . . sebenarnya apa yg terjadi?' Batin Sabaku Gaara merasa resah.
" Naruto . . !" Panggil Sabaku sang sepupu membangunkan lamunan orang di sampingnya.
"em . . " sahut Naruto malas tanpa menoleh.
" Apa kau masih enggan mengatakan pada ku tentang apa yang terjadi malam itu?!" Tanya Gaara lirih, bukan lebih tepatnya pernyataan untuk sang sepupu.
Naruto menoleh dan menatap orang yang duduk di kursi kemudi di sebelahnya.
Pandangan kosongnya menyendu menatap sang sepupu seolah memohon agar sang sepupu berhenti mengajukan pertanyaan yang sudah pasti akan mengacaukan emosinya nanti.
"Gaara . . . Aku . ."
. Ia hampir tak sanggup menahan air matanya saat sang sepupu menghentikan mobil dan membalas tatapanya penuh kekecewaan.
. . . . . . . GAARA POV. . . . . . .
Ku tepikan mobil ku dan berhenti. Ku balas menatap shafir indahnya. Manik ku mengerjap tak percaya.
Oh Kami-sama. Apa Naruto akan menangis.
Sebesar itukah rasa tak percayanya padaku.
Ku gapai kedua pundaknya.
Ingin sekali rasanya ku peluk tubuh di hadapan ku ini dan menciumnya. Tapi, Naruto menatap ku dengan tatapan yang membuat hatiku teriris.
"Naruto . . Aku mengkhawatirkan mu bodoh!" Ucapku yang ku yakini membuatnya sedikit terperanggah.
Ku tundukan wajah ku karna frustasi masih dengan memegang kedua bahunya. Ku tarik perlahan tubuh tegap di depan ku kedalam pelukan.
Sepertinya ia masih bingung Dengan situasinya yang sudah tersampir manis di pundaku.
" Kau sangat berharga untuk ku. Aku tak ingin melihat mu menderita, Naruto!"
Sebenarnya ini sangat memalukan. Seorang Sabaku Gaara, telah secara tak langsung menyatakan cinta dikondisi yang tak tepat. Tapi mau bagaimana lagi hati ku sudah dibuat kacau oleh raut menderitanya
kurasakan tubuh ku terdorong pelan. Ku lihat Naruto terkekeh pelan.
" Aku baik-baik saja, Gaara!" Senyumnya mengembang, memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.
Kau tak bisa menyembunyikan penderitaanmu dengan topeng mu itu, Naruto. Aku tahu, sesungguhnya kau ingin menangis saat ini. Jika saja kau lebih memilih menangis meraung, memaki, atau berteriak keras dan tidak tersenyum palsu seperti itu, hatiku tak akan sesakit ini, bodoh!
"apa ini karna UCHIHA BRENGSEK itu?"
Dan benar saja dugaan ku. Kekeh palsumu menghilang seketika kala kau mendengar tuduhanku pada suamimu.
Cih . . . Brengsek . . Brengsek. . Brengsek.
Menagapa kau bisa mencintai manusia rendah seperti itu sih, Naruto?!
kulepaskan peganganku pada bahunya. Ia masih tak bergeming. Ku alihkan perhatian ku pada kemudi. Ku cengkram dan ku remas kuat stir di depanku. Emosiku benar-benar tersulut. Kulajukan mobil ku dan cepat.
Brengsek . . . Brengsek . . . Brengsek . . .
Kau sungguh Brengsek, Uchiha.
Naruto mengapa kau bisa mencintai manusia busuk seperti Uchiha Sasuke sih. Bukan kah kau sangat menderita karnanya.
Lalu mengapa kau . . . Arrrggghhh.
Rasanya aku ingin sekali menhajar wajah soknya dan membunuhnya saat ini juga.
Puk. . .
Ku toleh pemilik tangan yang menyadarkanku dari gemelut kekacauan di otakku.
" Gaara. . .kau tak beraencana membunuhku kan?" aku tersentak .Pertanyaan oh bukan pernyataanya sontak membuat ku sadar akan hal bodoh yang kulakukan.
Kuso kuso kuso. Mengapa aku jadi sebodoh ini?
Shit . . aku lupa kalo aku sudah membuat orang yang kucintai ketakutan.
Kuturunkan kecepatan laju mobil ku.
Aku mendengus geli ketika kudengar lelaan nafas lega dari pria manis di sampingku. Yah setidaknya wajahnya tak sekalut tadi.
" Ne Gaara . . sebenar kita mau kemana?!" Tanyanya yang membuat ku ingin menjitak kepatanya. "Ichiraku Ramen" Balas ku datar.
" Hountou?"
Kulirik sekilas wajah berserinya. Manik Shafirnya berbinar seolah mendapat berita gembira.
Cih mengapa aku bisa jatuh cinta pada sepupuku yang bodoh ini sih. Dan parah nya ia tak menyadari cintaku. Arghh . . . Sudah lah membuatku pusing saja.
Sebenarnya aku cukup heran dia lupa atau pura-pura tak tau. Sepertinya kemarin aku sudah mengatakan padanya akan mengajaknya makan ramen siang ini. Dan dia juga molor 3 jam dari perjanjian. Cih dasar gila kerja. Tapi itulah salah satu sisi Naruto yang kusuka. Tidak mencampur adukan urusan pribadi dan pekerjaan.
" Ramen . .Ramen . . Ramen. . Ramen . ."
Senandung nya membuat ku pusing.
" Urusai yo baka. Damare kudasai"
aku besungut kesal mendengar sendandung anehnya tentang ramen yang tak juga mau berhenti. Dia hanya nyengir dan menggaruk tekuknya. Aah sudahlah aku lupa ini juga salah satu sikap Anehnya yang ku suka, yah walau kadang membuatku kesal.
Kutepikan mobilku ketika hampir sampai pada tujuan kami. Ku parkirkan Mobilku tepat di depan kedai. Kulihat Naruto segera keluar dari mobil dan berlari kecil masuk ke dalam kedai.
Setelah mengunci mobil, aku segera menyusul Naruto ke dalam kedai.
. . . . . P O V And. . . .. .
"Hallo Teuchii ji-san" Sapa Naruto pada penjual ramen.
"Oh Naruto-kun, apa hari ini juga ramen jumbo dengan miso chasu seperti biasa?" Tanya pria paruh baya yang di panggil Teuchi oleh Naruto.
Naruto mengangguk antusias kemudian nyengir lima jari.
Sedangkan Gaara hanya geleng-geleng menanggapi tingkah ajaib sang sepupu. Walau ia sudah tahu Naruto penyuka ramen, tapi ia tetap shok juga saat melihat semangkuk besar penuh mie ramen.
"Kau tak makan, Gaara?" Tanya Saruto saat ia menoleh dan melihat sang sepupu belum memesan apa pun.
"Tidak, aku tak suka ramen!" Jawab Gaara datar.
Naruto mengedikan bahun kemudian kembali melanjutkan makannya.
Di tempat lain.
Sasuke yang di sibukan oleh berkas perusahaan tiba-tiba terperanjat kaku kala sepotong ingatan tentang malam dimana ia pulang dalam keadaan Mabuk berat kembali terlintas di otaknya. Bagi potongan potongan puzzle yang belum lengkap. Kali ini bayangan tentang ingatan malam itu membuatnya membeku, dan bergidik ngeri. Bagai mana tidak? Ia seorang homophobia, sedangkan dalam potongan ingatan yang baru saja ia ingat adalah mengenai sesosok pemuda yang ia tindih dalam keadaan polos tanpa sehelaipun busana. Pemuda itu terisak dan merintih di bawah dekapanya. tubuh Sasuke memanas seolah kembali teringat akan sensasi lubang ketat pemuda itu, walau dia belum ingat betul wajah orang yang bercinta denganya malam itu.
Sasuke menggeleng mencoba merasional kan otaknya
"Tidak mungkin aku meniduri seorang laki-laki?"
"Terahkir kuingat sebelum aku mabuk berat aku sedang melakukan one-night stand dengan gadis pink yang ku ketahui bernama Sakura?"
"Lalu siapa lelaki di potongan kesadaranku itu" Gumamnya kebingungan.
"ARGHHH . .SIAL. . . . APA YANG SEBENARNYA TERJADI PADAKU" Erang Sasuke frustasi sembari menjambak surai ravennya.
tok tok tok
Sebuah ketukan Membuat sang bungsu Uchiha itu terperanjat. Ia segera merapikan kembali penampilanya dan mempersilaikan orang yang ada di luar ruangannya masuk.
"Permisi. Sasuke-sama saya ingin menyerahkan agenda rapat sore ini dan berkas-berkas untuk rapat nanti"
Ujar sekertaris cantik berpakaian mini dress itu.
"Hn" Respon sang pimpinan datar.
Sekertaris bernama Karin itu pun hendak pergi jika sang bos tidak memanggil.
"Karin.."
Yang dipanggil pun menoleh dan menghampiri sang direcktur muda.
"Duduklah"
Printah sasuke dengan nada menggoda. Tanganya menepuk pahanya sendiri meminta gadis berkacamata itu duduk di pangkuanya.
Dengan sedikit canggung, gadis bersurai merah itu duduk dipangkuan Sasuke. Kini wajah karin telah semerah rambutnya kala Sasuke mencumbu bibirnya liar. Tangan bos muda itu bergeliria di belahan dada dan pangkal paha sang sekertaris tanpa mengehentikan lumatanya pada bibir karin.
"Ummh...uhh . . "
"Sas. . suke. . khuunhh. . .ahh. .more"
Desah gadis itu saat lidah Sasuke menggoda ujung dadanya.
Desahan wanita itu membuat sasuke terhenyak dan menghentikan cumbuanya.
….Sasuke pov…
Aku tak mengira akan mengahkiri hal panas yang biasanya ku sukai ini di tengah jalan. Apalagi hanya karna mood ku yang tiba tiba hilang.
Haaaah aku benar benar pusing saat ini.
Aku meninggalkan ruangan ku tanpa memperdulikan wanita didalam yang memanggil ku. Ku langkahkan kakiku dengan cepat keluar kantor. Lalu Melajukan mobil ku membelah jalanan kota dengan kecepatan diatas rata-rata. Untungnya ini masih jam kerja jadi jalanan agak lenggan.
Aku tak perduli apa pun saat ini. Bahkan jika aku harus membatalkan rapat nantipun, akan ku lakukan. Pikiran ku benar benar kacau. Yang ku ingin kan hanya secepatnya pulang dan istirahat.
" ARRRGHHH. . . ADA APA DENGAN MU SEBENARNYA UCHIHA SASUKE?"
Cih konyol meraung pun tak ada gunanya.
Mobil ku memasuki halaman sebuah bangunan mewah yang dari beberapa waktu lalu menjadi rumah ku karna . . .Sudah lah aku malas mengingatnya. Kuparkirkan dengan manis lamborghini hitam ku di garasi. kemudian aku melesat masuk ke mension tanpa memperdulikan salam dari para pelayan. Menurut ku membalas salam mereka hanyalah buang-buang waktu dan tak berguna. kulangkahkan kakiku menujulantai dua dimana kamarku berada. kubuka pintu kayu mahoni coklat berukir indah di depanku.
kubanting pintu dangan cukup keras sampai menimbulkan bunyi debam yang cukup keras.
masa bodoh, yang jelas mood ku hari ini benar benar kacau hanya karna ingatan tak jelas malam itu. Cih , apa aku jadi gila hanya karna mencari sentuhan seseorang. kuremas surai dark blue ku.
cih bahkan kasur king size ini pun terasa menyebalkan.
eh apa itu?
. . . . SASUKE POV AND.. . . . . .
Onyx sasuke melirik curiga pada sesuatu yang teronggok di sudut ruangan . entah mengapa baru ia sadari hari ini jika benda itu bukan miliknya. semula ia acuh akan benda berwarna orange seperti kain tersebut. ia mengira hanya kain lap atau apalah yang menurutnya tak penting.
sasuke beranjak dari tidurnya dan berjalan mendekati benda itu. diambilnya benda yang membuatnya penasaran. seketika onyx sasuke membelalalak
"i-ini . . .?!"
…
badai –sakura
…
Gaara memarkirkan mobilnya ketika ia dan Naruto telah sampai dirumah. Mereka meliha di garasi sudah ada mobil Sasuke yang terparkir dengan manisnya di sana. Seketika raut ceria Naruto menghilang dan di gantikan dengan raut pucat gelisah.
' Aastaga dia sudah pulang?. . Tak biasanya ia pulang awal?' Batin Naruto miris.
Gaara yang menyadari perubahan wajah Naruto langsung menggandeng erat tangan Naruto tanpa berucap sepatah katapun. Wajah flatnya menyembunyikan emosih yang siap meledak kapan pun.
Naruto dan Gaara memasuki mention dengan keterdiaman mereka. Bahkan Naruto pun enggan berbicara, walau sekedar menanyakan sikap Gaara yang tiba-tiba menggenggam erat tanganya posesif.
Mereka berjalan melewati para pelayan yang memberi salam sambil menunduk. Naruto hanya mengangguk membalas sapaan mereka. Sedangkan Gaara acuh dan terus berjalan sembari menarik tangan Naruto.
Kini mereka sudah ada didalam kamar bernuasa orange milik Naruto.
Mereka masih terdiam sampai tiba-tiba Gaara menyentak tangan sang sepupuSampai tubuh ramping pemuda pirang itu menubruk tubuhnya yang juga ramping. Gaara melingkarkan tanganya pada pinggang ramping sang Naruto erat.
"naruto apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untuk mu." bisik gaara lembut.
BRAAAKKK . .
Suasana tenang seketika menjadi menegangkan, saat dengan Sasuke tiba-tiba menggebrak pintu dan membuat dua orang yang sedang berpelukan itu terlonjak kaget sambil membelalakan matanya.
"apa apaan kau Uchiha?" geram Gaara yang sudah kehilangan kesabaran.
tangan Sasuke mengepal siap meninju Gaara tapi ia urungkan.
" Aku tak punya urusan dengan mu. bocah" Ketus sang Uchiha sembari berlalu meninggalkan Gaara dan menghampiri suaminya.
" Sudah kukatakan padamu. Jangan pernah masuk kemarku DOBE" Ujar Sasuke dingin menekan setiap katanya untuk menujukan seberapa marah ia saat ini.
Naruto menunduk tubuhnya bergetar gemetar mendengar suara berat Sasuke. Takut ia tentu takut. Tapi bukan karna amarah sang suami, melainkan karna ia kembali teringat kejadian memuakan malam itu.
"Mengapa hanya diam? Kau tak bisa menjawab, huh?" Tuduhnya sebari tersenyum mengejek.
Sasuke melempar kain orange yang ia temukan dikamarnya tadi tetap kemuka Naruto.
"jangan pernah lagi masuk kekamarku dan meninggalkan barangmu yang mejijikan itu."
"Atau kau akan menyesal manusia homo!" imbuh Sasuke dengan dingin nan menusuk.
Ia berbalik dan hendak pergi sebelum tangan Gaara telah meninju wajah tampanya.
Gaara sudah tak lagi bisa menahan emosinya. Terlebih melihat Naruto hanya diam saja mematung saat mulut busuk Sasuke menginjak injak harga dirinyaSasuke tersungkur dan meludah darah. Ia mengusap pelan sudut bibirnya yang robek dan berdarah karna pukulan pemuda bar-bar didepanya.
"Brengsek. . " Umpat Sasuke murka.
Ia bangkit kemudian melancarkan serangan balasan. Gaara berkelit dan menangkis pukulan Sasuke kemudian menendang perut bungsu Uchiha itu. tubuh Sasuke menabrak dinding kamar Naruto. Ia Terbatuk Darah, Nafas Terenggah. Saat Gaara ingin kembali menghajar suami brengsek dari sepupunya ini, ia urungkan begitu melihat Naruto sudah meluruh ketanah sembari terisak. Tubuhnya menggigil seolah ketakutan. Wajah basahnya tertunduk menatap shok pada kain orange yang dilempar sasuke tadi.
iya, benar, tak salah lagi. benda yang kini teronggok di pangkuanya adalah yukata tidurnya. Yukata yang ia kenakan malam itu. Yukata yang menjadi saksi bisu tentang apa yang Sasuke lakukan padanya tanpa berperasaan saat itu. Dan juga yukata yang sama, yang terlupakan dan tanpa ia sadari tertinggal dikamar suram sang suami.
Ingatan mengerikan kala Sasuke Menidurinya Pakasa kembali berputar putar benaknya. Kini kepala bermahkotakan surai pirang itu terasa berat dan sakit. Sampai ahkirnya ia terjatuh tak sadarkan diri.
Gaara segera merengkuh tubuh orang tercintanya, sebelum tubuh tan itu menyetuh dinginya lantai. Gaara segera menggendong tubuh Naruto ala bridal. dan membaringkanya pelan di tempat tidur.
Sasuke yang melihat hal itu hanya bisa terdiam cengo sebelum kemudian ia keluar dari kamar Naruto dengan perasaan aneh.
Panas, ia merasa sesuatu di dalam dirinya panas, saat melihat sosok rapuh itu tergolek lemas di gendongan pria barbar yang baru saja menghajarnya.
"Hari ini kau aneh Sasuke, sangat aneh" Rancunya di dalam kamar.
Mata Sasuke kembali terpejam. Ia mecoba menetralisir amarah dan rasa anehnya. Tapi tiba-tiba . . . .
wajah menangis Naruto terbayang di pikiranya.
Segera Sasuke membuka matanya tak percaya.
"argh . . .mengapa wajah dobe itu menghantuiku?" geramnya merasa bingung.
'Wajah menangisnya...' Batin Sasuke mencoba menerawang sesuatu "rasanya Aku Pernah Melihat Wajah terlukanya, tapi . . . . kapan?"
" Arghh . . . Sialan mengapa aku jadi memikirka si homo itu sih"
Sasuke mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
"mungkin aku harus menyegarkan diri. agar wajah menjijikanya. segera hilang dari fikiranku" batin sasuke jenah sembari melesat ke ofuro.
sesampainya Sasuke di ofuro tradisional yang ada di mension itu. tanpa pikir panjang ia lasung merendam dirinya di osen buatan yang ada didalam ofuro.
sedikit meringis, saat memar di perut, punggung dan bibirnya terbasuh oleh hangatnya air osen. tapi tak berlangsung lama, karna beberapa saat kemudia sasuke telah memejamkan mata menikmati nyamanya osen yang ia tempati saat ini.
di tempat lain
seseorang dengan setelan jas mahal dan sepatu fantofel berkilatnya tengah memimpin rapat uzumaki corp. mata kelamnya menatap tajam setiap orang yang hadir di ruang rapat itu.
"ano menma-sama," panggil seseorang yang membuat ia mendapat tatapan dingin menusuk dari sang pemilik nama.
"ada apa?" tanya sosok pria bersurai hitam yang duduk di bangku pemimpin menggantikan Naruto saat ini.
"ba-bagai mana dengan rencana ulang tahun perusahan besok lusa?" tanya pria tadi tergagap gugup menerima pandangan tak bersahabat dari Menma yang tidak lain adalah atasanya juga.
"hm"
Menma mengguman sejenak, menimbang keputusan apa yang akan ia ambil.
'cih harusnya Naruto yang memutuskan, tapi bodohnya ia malah mangkir lagi' batin nya frustasi
Uzumaki Menma atau kini Namikaze menma adalah kembaran dari Uzumaki Naruto. Surai jabrik hitam dan mata hitamya adalah karna di cat dan mengenakan softlens. tapi mau seperti apapun perubahan menma tak bisa di pungkiri bahwa ia adik kembar sang ceo muda uzumaki naruto. mereka akan langsung tau bahwa mereka kembar karna wajah mereka yang identik.
tapi bagai cahaya dan bayangan
sifat mereka pun bertolak belakang. mata tajam dan kata kata tegas dari Menma berbanding terbalik dengan Naruto yang ramah dan murah senyum.
itulah sebabnya ia menjadi bayangan Naruto meskipun di perusahaan. Dan di sinilah dia berada saat ini. menggantikan tugas CEO muda memimpin rapat karna kakaknya mangkir dari pekerjaan.
biasanya Menma hanya bergerak dibalik layar karna ia hanya wakil CEO. tapi beberapa waktu ini ia harus menggantikan tugas sang kakak karna ia sering sekali membolos.
"kita akan mengundang Shimura Danzo. Dari Danzo inc. Oleh karna itu kita tak boleh melakukan sedikit pun kesalahan. Semua harus sempurna" jelas Menma dan berwibawa.
"Danzo inc?!" batin mereka bersamaan. Rasa shok menyelimuti hati mereka. Danzo inc adalah perusahaan terkuat saat ini. perusahaan yang menjalankan bisnisnya dengan jalan kotor. lalu mengapa wakil CEOny kini malah akan mengundang perusahaan itu?
pikiran mereka berkecambuk , tapi tak ada satu pun dari mereka yang berani angkat suara di hadapan sang wakil ceo yang terkenal kejam.
'naruto kuharap kau tak keberatan dangan keputusanku'
ucap menma dalam hati di iringi senyum tipis yang tak bisa dilihat oleh siapapun.
kembali pada Naruto.
Gaara masih setia disamping Naruto. Ia terus menggenggam erat tangan sepupunya berharap kelopak tan itu segera terbuka.
"Naruto, maaf. aku tak bisa melindungimu." lirih pemudah ber surai merah bata itu dengan tertunduk lesu.
"mengapa kau memilih, bajingan itu?" Gaara kembali meremat lembut tangan sepupunya. menyalurkan rasa bersalah dan marah secara bersamaan. Tanpa ia sadari air mata Naruto meleleh bahkan di dalam kondisi pingsanya. Bahkan di bawah alam sadarnya ia pun memderita karna Sasuke sampai sampai ia tak sanggup menahan emosinya di alam mimpi.
Gaara merebahkan kepalanya disamping Naruto dan ikut terlelap mencari sang tercinta di dunia mimpi.
... Sasuke pov ...
sialan sudah berapa lama aku tertidur
derrtt ..dreet . . ddeerrrtt . .
ponsel ku berdering. pasti ada panggilan masuk. tapi . . ukh mengapa celana panjangku jauh sekali sih. terpaksa aku harus bngun dari osennyaman ini.
eh aniki?! ada apa lagi dia menelfonku.
"hn"
'otou tou ahkirnya kau jawab juga'
"ada apa"
'aku kangen'
"aku matikan"
'eh tunggu tunggu tunggu'
"cepat bicara atau . . ."
'baiklah baiklah. besok lusa ulang tahun uzumaki corp, ingat?'
"hn, trus"
'datanglah, gantikan aku.'
"tidak!"
'ayolah sasuke, aku harus keluar kota. dan ini juga demi perusahaan kita'
"ha,aaah, baiklah aku mengerti"
'arigatou otouto'
"hn, ada lagi?!"
'ie, ja '
tut . .tut . .tut
ha, aaah tugas ku betambah lagi. kalau bukan karna uchiha corp, malas aku kepesta tak jelas itu.
sudahlah mood mandiku jd hilang karna aniki. mungkin lebih baik aku kebali kekamar dan tidur.
ish bibirku masih perih,
sialan. dari mana dia belajar beladiri?
lihat saja aku akan balas ia berlipat lipat nanti.
ish . . .dobe itu juga . . eh dobe? mengapa aku kembali mengingatnya.
apa hubungan bocah barbar itu? jika mereka sepasang kekasih, mengapa dobe memintaku menikahinya. ahh . . . rasanya otaku kusut lagi.
dobe . . . ?!
argh sasuke . . . . . apayang terjadi dengan mu?
lupakan lupakan lupakan. kau harus melupaka wajah manusia dobe itu sasuke! harus!
sekarang pejam kan mata dan tidur. . .
lupakan dobe . .
. . pov and . .
sasuke terlelap .
dan memimpikan hal gila yang mungkin tak kan sanggup ia bayangkan di dunianyata.
mungkin bahwa pribahasa mimpi adalah cermin dari keingan memang benar. ya semoga saja.
