Hari itu, hari mendung 17 tahun silam. Di sebuah pemakaman dua bocah kembar berusia 5 tahun , terlihat menatap pusara ayah dan ibunya dengan pandangan yang berbeda.

Si sulung yang berambut pirang ke emasan terduduk memeluk kedua lututnya sembari berurai air mata. Sedangkan si bocah berambut hitam yang tak lain adalah si bungsu berdiri tegap menatap tajam ke dua gundukan tanah basah di depanya.

Keduan bocah itu memiliki luka yang sama, derita yang sama , dan rasa sakit yang sama. Namun yang membedakan hanyalah cara mereka menanggapi dan menghadapi masalah di depanya. Saat si sulung merengek dan bersikap layaknya anak kecil, sang adik justru tidak. Bocah yang lahir 15 menit setelah saudaranya, itu berdiri kokoh menjulang dihadapan sosok kakaknya yang menyedihkan. Tubuh mungil itu seolah ingin melindungi sosok rapuh di belakang. Bahkan saat sang kepala pelayan menjemput dan membawa mereka pulang. Si bungsu memilih berjalan sembari menarik ujung kemeja pelayannya yang saat itu tengah mengendong sosok terisak sang kakak. pandangan sibungsu tanpak kosong. Tapi dari kekosongan itu terbersit seberkas tekad api yang sangat membara. Ia ber tekat apa pun yang terjadi ia akan melindungi saudara kembarnya. Apa pun yang terjadi nanti , ia bersumpah akan selalu disisi kakaknya. karena hanya Uzumaki Naruto, sang kakak lah yang ia miliki di dunia ini….

Badai - sakura

Hari berlalu dan musim telah berganti. Namun duka masih menyelimuti kediaman Uzumaki. Terutama hati dari si sulung Uzumaki. Naruto, meski berusaha untuk tegar dan merelakan kepergian orang tuanya yang begitu tiba – tiba, tapi ia bisa apa? Ia hanya anak kecil yang belum bahkan tidak siap untuk menjadi yatim piatu di usia belianya, ia hanya bisa terus menangis dan menyendiri di dalam kamarnya. Meski adiknya, Uzumaki Menma selalu menemaninya. Ia masih merasa sendirian.

Terkadang wajah dingin Menma bagai cermin untuk dirinya sendiri. Meski sang adik tak menangis. Tapi ia tahu bahwa Menma pun terluka. Itu terbukti dari hilangnya senyum ceria bocah itu. Sama halnya dengan Naruto. Naruto dan Menma yang ceria mungkin telah mati bersama kedua orang tua mereka. Kini yang tinggal di mension megah itu hanya lah patung es yang dingin dan boneka lilin yang rapuh. Keduanya sama sama kehilangan jiwa.

Siang musim semi yang cerah, Naruto berada di halaman mension menatap riak air kolam dengan pandangan kosong. Tiba tiba terkejut oleh kemunculan seorang bocah yang usianya 5tahun lebih tua darinya. Bocah itu memiliki mata yang tajam sama seperti Menma, hanya saja tak sekosong dan sedingin pandangan Menma adiknya.

"mengapa kau menangis?!" Tanya boca bermata hitam sekelam langit malam itu tanpa nada, hanya terdengar datar sedatar ekspresinya.

Sosoknya mendekat dan mengusap pipi tan Naruto berlahan. Naruto yang terperanjat, memundurkan langkah sembari mendekap shal peninggalan sang ibu didepan dadanya. Manik birunya membola saat bocah asing di hadapanyan menarik shal rajutan berwarna merah itu . sehingga membuat naruto berhenti berjalan mundur.

"mengapa kau ketakukan, aku tak akan menggit mu" tambahnya polos, meski masih sama datar dengan sebelumnya.

Naruto mulai tenang dan berdiri ditempat tanpa berniat melawan atau pun kembali melarikan diri. Mata osean blue naruto kemabali membelalak saat tangan bocah itu meraih surai pirang yang dan meletakkan setangkai bungan barbera dirambutnya. Bocah bermata tajam itu tersenyum atau tepatnya terkekeh melihat wajah naruto yang memerah.

"manis!" satu kata yang terucap dan ekspresi lain yang bocah itu tunjukan mebuat naruto baru sadar bahwa dia barusaja di katai manis oleh orang asing.

Sungguh tak sopan .pikirnya.

Ia seorang tuan muda yang jelas jelas berkelamin laki laki mengapa bocah di depannya ini malah mengatainya manis.

"aku bukan perempuan , jangan mengataiku manis, teme!" pekik naruto tak terima yang disambt gelak tawa bocah lelaki d depannya. Naruto yang merasa di permainkan hanya bisa mengembungkan pipi sembari membuang muka.

"lagi pula kau tak sopan sekali mengatai tuan muda tampan sepertiku ini manis. Aaku tidak manis, aku ini tampan tau!" sambungnya tambahnya lagi.

"perkenalkan , aku Uchiha_"

"Naruto-sama , Gaara sama sudah tiba!" potong pelayan Naruto sebelum sempat bocah itu menyelesaikan kata katanya. Naruto pun berbalik dan berlari meninggalkan bocah bernama Uchiha itu sendirian.

"Naruto, hm" gumam bocah uciha itu masih memandangi sosok Naruto yang berlahan menjauh. tanpa ia sangka senyum simpul terukir manis di bibirnya.

"tak akan kulupakan…."

Setelah berkata demikian, ia pun berablik dan pergi.

Badai - sakura

Naruto terbangun dari lelapnya, duduk bersandar mahkota ranjang sembari memijat pelan pangkal hidungnya.

" mimpi itu lagi….."

Ia melirik sekilas ke tepian ranjang dimana sosok Gaara tertidur dalam keadaan duduk, merebahkan kepala di kasurnya. Dengan pelan ia menggeser kakinya dan turun dari ranjang. Ia menyelusuri ruangan demiruangan hingga ahkirnya sampai di depan pintu mahoni kamar suaminya yang tak lain adalah Sasuke. Sejenak ia termenung menatap pintu itu.

Jika kau tak mencintaiku… mengapa…

Naruto kembali melangkah menuju dapur dan mengambil sebotol air mineral dari lemari pendingin.

Jika kau mebenciku, lalu mengapa kau kembalikan senyumku yang dulu menghilang , Sasuke?!

"arrrrrrgh…. Mengapa sesakit ini…! Mengapa …." Naruto meremat surai pirangnya erat dan meraung tertahaan. Bulir air Matanya kembali menetes kelantai keramik dan meng genang.

"mengapa mencintai mu sangat menyakitkan UCHIHA SASUKE!" Naruto meraung lagi.

Kini emosinya serasa bercampur aduk. Antara sedih marah, kecewa, terluka dan entah apa lagi.

Pria berrambut belonde itu kini meremat bajunya yang tepat di depan jantung. Ia merasa sesak. Dan sulit bernafas. Dadanya bagai di himpit beban berratus ratus ton. Sangat sakit dan menyesakkan.

"Naruto ada apa? Apa kau baik baik saja?! ?!"

Gaara yang tergagap karena pekikan Naruto segera berlari menghampiri Naruto dengan cemas.

"ukh…. Sakit…. Gaara sakit…. Arghhhhh". Rintih Naruto dengan nafas yang memberat dan terenggah.

Gaara semakin panic, ia pun hanya bisa merengkuh tubuh naruto kedalam pelukanya.

"tenang lah! Di mana yang sakit!?" Tanya sang Sabaku penuh kecemasan

"hiks Gaara …. Aku…. Ukh ….. dada ku ….. arrrgahhh "

Naruto kemabali meraung kini dengan memukul-mukul dada kirinya dengan brutal. Focus pandangan Naruto pun mengabur. Hingga kini kesadaranya kemabli terrenggut oleh kegelapan. Dan tubuh rapunya tergolek lemah di pangkuan sang sepupu.

" Naruto….. Naruto….. oe NARUUUUTOOOO!!"

Naruto yang lemas di dekapan Gaara, hanya membuat pemuda bersurai merah bata itu semakin kelimpungan.

"PELAYANNNNNNNNNNNN … PELAYANNNNNNNNNN…..!" Teriak gaara panic memanggil para sang pelayan yang ada.

Segera ia raih ponselnya dan menghubungi seseorang di seberang sana Beberapa saat terhubung hanya nada sambung yang ter dengar. Hal itu membuat Gaara geram setengah mati

"ukh sial… cepat angkat bodoh"

"brengsek ….. Mengapa tak di jawab juga. Tenang tenang tenang . kau harus tenang gaara. Coba ku hubungi lagi"

"hall-"

"DIAMANA KAU SIALAN …. CEPAT KERUMAH UTAMA NARUTO DROP! DIA….."

"…."

TUTTTT…. TUT…. TUTTT… TUTTT…

"BRENGSEK… aku belum selesai bicara, sudah dia putus…. Haah dasar tak tau sopan santun"

"Naruto … sadar lah…. Naruto"

"Gaara – sama, ada apa dengan Naruto – sama?! "

"Tak usah banyak Tanya cepat angkat dia, dan bawa kekamar!"

Para pelayan itu pun segera dengan sigap , mengangkat tubuh tak sadarkan diri Naruto.

Badai - sakura

MENMA'S SIDE

Di tempat lain.

"sial…. Ada apa ini sebenarnya?!"

Naruto, bukan kah kau sudah bahagia ?! lalu mengapa kau kembali drop? Ukh .. brengsek …. Brengsek … brengsek… apa yang tak aku tahu selama ini? Apa?...Naruto…. apa kau benar benar bahagia dengan suamimu. Bukan kah dia orang yang kau cinta? Lalu apa lagi yang membuatmu menderita.

Aku,.. kita … sedari kecil selalu berbagi apa pun denganmu. Lalu apa kau kini tak mau membagi duka dan luka mu pada ku.

Bukan kah kita ini saudara. Bahkan kita sudah lama bahkan terlalu lama kita bersama. Aku dank au tak hanya tumbuh bersama di dunia. Kita sama sama tumbuh di rahim okaa-san. Apa kau lupa? Lalu mengapa kini saat kau menderita aku menjadi buta? Atau aku memang buta?

Badai - sakura