Apartement Itachi.

Naruto memasuki apartement mewah itu dengan perasaan kosong. Ia berjalan mengikuti langkah Itachi tanpa ada suara. Sosoknya kini hanya raga tanpa jiwa. kini yang berdiri di belakang Itachi bukan lagi Naruto sang CEO muda, bukan juga Naruto yang ramah dan riang, tapi Naruto 17 tahun lalu. Naruto yang mati, bagai boneka.

"duduk lah!" ucap Itachi lembut sembari mendudukkan sosok orang yang sangat ia cintai itu di sofa marun ruang tamunya.

Naruto masih bungkam. Ia hanya menatap kosong pada dinginnya lantai tempatnya berpijak. Itachi yang melihat keterbungkaman Naruto, hanya mampu menghela nafas pedih. Hatinya bagai diremat kuat sesuatu, saat melihat sosok orang yang menjadi pujaanya hancur berkeping-keping.

Ini semua salah nya, salah Itachi yang menjadi pengecut, dan tak berani mengungkapkan perasaanya dan kenyataan tentang masa lalu mereka. Ini salah nya, yang tak mampu berbuat apa-apa untuk mencegah niat buruk adiknya. Ini adalah kelemahannya , karenan menjadi orang yang lemah dan tak mampu melindungi pemilik hatinya. Dan ini adalah kebodohannya yang tak mapu meyakinkan adiknya untuk mencintai Naruto.

Uchiha sulung itu beranjak meninggalkan sosok menyedihkan adik iparnya dan berlalu kedalam kamar, tak beberapa lama Itachi pun kembali keluar sembari membawa handuk dan beberapa helai pakain ganti untuk Naruto.

" ini keringkan dirimu dan bergantilah!" perintah si sulung Uchiha itu lembut.

Naruto masih tak bergeming, seolah tak mendengar apa yang Itachi ucapkan.

"Naruto?! apa kau mendengarku?!"

Pemuda bersurai pirang ke emasan itu mendongak lelah , dan menatap sang kakak ipar dengan tatapan kosong.

Sungguh jika ada yang bisa meruntuhkan dunia Itachi dalam seketika, maka itu adalah tatapan Naruto yang begitu hancur.

"apa semua sudah terlambat ?" Tanya sang kakak ipar lagi .

Dan lagi lagi tak ada jawaban untuk pertanyaan ambigu Si sulung Uchiha tersebut.

Itachi hanya menghela nafas dan mengambil duduk di samping sosok adik iparnya yang masih basah kuyup. Ia mengusap lembut surai pirang Naruto. Tak ada perlawanan, ataupun penolakan bahkan sekedar reaksi saja benar-benar tak ada. Naruto benar benar berubah menjadi boneka lilin yang akan hancur dengan mudah.

Kediaman Uzumaki.

"brengsek!"

" kau memang sungguh berengsek UCHIHA!"

Manik kelam Menma berkilat marah. Saat tangan pemuda itu kembali berhasil meraih kerah piyama Sasuke. Pukulan demi pukulan melayang pada wajah tampan berekspresi datar milik sibungsu Uchiha tersebut.

"MENMA , CUKUP!"

Pukulan yang hendak Menma layang kan lagi kini terhenti karena teriakan sang sepupu.

"percumah kau membunuhnya saat ini juga. Hanya mengotori tanganmu dengan darah menjijikkannya! Yang terpenting saat ini kita harus segera menemukan Naruto dan membawanya pulang." Tambah sang Sabaku lagi.

"DENGAR BRENGSEK ! JIKA SAMPAI ADA APA-APA DENGAN KAKAK KU, MAKA DI SAAT ITULAH SELURUH KLAN UCHIHA BUSUKMU ITU MUSNAH!"

Menma melepas cengkraman kerah piyama Sasuke, setelah mendesis penuh ancaman dan mendorong tubuh penuh luka kakak iparnya ketembok. Di tinggalkannya sosok mengenaskan Sasuke dan berjalan mendahului sang sepupu ke pintu keluar. Sementara menma dan gaara berlalu pergi , sang bungsu Uchiha itu hanya bisa merintih kesakitan karena bogem dan tendangan dari adik iparnya tersebut. Bukan Sasuke tak bisa melawan atau membalas balik pukulan Menma. Iya hanya kalah tenaga dan kurang cepat dibandingkan kembaran dari suaminya itu. Obsidian Sasuke menatap nyalang pada pintu kayu yang terbuka lebar tempat dimana Menma dan Gaara menghilang.

"ukh, kuso! " umpat Sasuke karena nyeri di perut dan punggungnya, saat ia berusaha berdiri.

Dengan langkah tertatih dan bantuan tembok untuk bersandar, Ahkirnya pria malang itu bisa sampai ke kamarnya. Ia rebahkan tubuhnya yang sudah remuk redam dan berusaha mencari kenyamanan.

"ukh dobeh…. Ini semua salah mu!"

Nada apa yang kalian fikirkan saat sang bungsu Uchiha ini mengatakan kalimat tersebut tersebut. Bukan nada kemarahan dan rasa dendam yang ia lantunkan. Pria onik ini berkata penuh rasa kerinduan dan kelembutan. Benar benar tak ada rasa marah maupun benci yang tersirat dalam suaranya. Bahkan mungkin otaknya yang jenius itu kini tak sedang berfikir tentang cara membuat sang suami menderita.

Sesungguhnya jika ia menyadari ini lebih cepat maka ia tak akan menjadi pemeran antagonis disini. Rasa sakit saat melihat pria pirang itu berkata 'selamat tinggal padanya'. Rasa tak terima akan kehadiran pria lain disisinya. Dan entah sejak kapan rasa bencinya telah berubah menjadi sesuatu yang bahkan sangat tidak ia pahami kini…

"astaga!?"

Apa yang sudah aku lakukan? Aku?…. Naruto? kita?

"ini mustahil! Aku takmungkin melakukan itu dengannya!"

Mengapa aku baru bisa mengingatnya. Bodoh! Kau sungguh bodoh sasuke! apa semua akan menjadi buruk sekarang? Mengapa harus dia? Mengapa harus dobe itu yang ku tiduri?

Apartment Itachi

Naruto menatap kejauhan pemandangan dari balkon apartemen Itachi dengan pandangan kosong. Fikiran pria pirang itu melanglang buana entah dimana. Sampai-sampai ia tak menyadari ada sosok yang berdiri di belakangnya dan menatap pria pirang itu penuh kepiluan. Sosok pria bersurai hitam panjang sang ipar, berjalan mendekat kemudian menyampirkan sehelai selimut pada tubuh kurus di hadapanya. Dan perlakuan Itachi tersebut sukses membuat Naruto tersentak, yang reflek membuatnya berbalik menatap sang pelaku. Shafir langit Naruto menyendu. Menatap sosok yang hampir mirip dengan suaminya tersebut. Tatapan sendu bercampur rindunya ditujukan pada pria yang kini entah dimana. Tanpa sadar tangan kanan Naruto terulur menggapai pipi kiri pria dewasa dihadapannya. Naruto mengusap pipi pria itu lembut seolah ia sangat mencintai pria dihadapanya. Akan tetapi sorot mata itu bukan untuk Itachi , melainkan untuk orang lain.

Walau sang sulung Uchiha tersebut tahu, pada siapa tatapan penuh cinta itu ditujukan, tapi ia tetap ingin menutup mata. Setidaknya biarkan dia bermimpi, walau sejenak saja. Biarkan seolah sentuhan lembut dan tatapan penuh cinta itu di tujukan hanya untuknya.

Itachi pun menggenggam tangan Naruto dan mengecup nya lembut.

"teme…" lirih Naruto tanpa sadar.

Onix Itachi melebar kemudian sebuah senyuman terpampang jelas menyiratkan sebuah kebahagiaan tak lukis, namun hanya beberapa saat sebelum di detik berikutnya sirna karena ucapan Naruto.

Pria Uzumaki itu menutup mulut dan membolakan manik indahnya setelah ia sadar bahwa telah memanggil sang kakak ipar dengan tidak sopannya.

" I – Itachi…maaf …aku.." Naruto tak mampu mengutuhkan kalimat yang ia ucapkan.

Jelas ia tak akan sanggup. Ia merasa tak enak hati karena telah memaki sang kakak ipar, tapi disisi lain, kata makian itu adalah kata kata penuh kenangan yang hanya ia tujukan pada sang suami. Naruto segera menarik tangannya dan meminta maaf semabari menunduk. Ia tak melihat ekspresi dari si sulung

Uchiha itu saat ini. Wajah terluka dan kecewa Itachi begitu ketara. Hati Itachi bagai di remat tak bersisa. Ia yang mencintai pemuda itu. Tapi Ia tak akan pernah bisa memilikinya.

Itachi berbalik dan melangkah pergi, namun terhenti.

"apa jika kau tahu siapa 'teme'mu, kau akan tetap seperti ini?" ucap Itachi yang kemudian berlalu meninggalkan sosok Naruto sendiri

Naruto mengangkat wajahnya dan menatap punggung itachi yang kian menjauh. sorot ketidak pahaman jelas terpancar dari manik sebiru langit musim panas tersebut.

Si sulung Uchiha itu berjalan menjauh. setidaknya cukup jauh dari jangkauan shafir yang memana sekaligus menghancurkan sosok dingin nya. Setidak nya , saat ini saja ia ingin menghindari langit biru yang ia puja. Hatinya sungguh tak sanggup lagi menahan limpahan luka dari sang langit biru. Memang bukan ia yang teluka. Tapi Itachi tak bisa tak merasakan luka dari orang yang ia cinta. Bukankah akan lebih baik jika ia mati tapi naruto bahagia.

"kuso!"

"sampai kapan aku harus melihatmu terpuruk? Apa yang harus kulakukan agar kau kembali tersenyum langitku?!"

Drerrrrrrrrt derttttttt derttttttttt

Alis Itachi bertaut saat ponsel nya bergetar dan nama Naruto lah yang terpampang dilayar ponselnya.

'Naruto?!' batinya heran

"hn …hall - "

Itachi mencoba mengatur nafasnya , kemudian menjawab panggilan dari seberang sana.

"itachi , ini aku Menma! Naruto menghilang. Bisa kau Bantu aku untuk mencarinya!"

"cih , setidaknya bisakah kau mengucapkan salam dulu. Baka!"

"brensek, kalau aku tak menghormatimu. Sudah aku hajar kau seperti adik busukmu itu. "

"hah?"

'hah? Adik busuk?! mungkinkah sasuke-?!'

"tak usah ber basa basi busuk. Naruto lebih penting saat ini"

'aaah , apa yang harus aku katakan. '

"tenang lah! Naruto bersama ku saat ini!"

"ehhhh? Kau tidak bercandakan?

"hn, aku tidak sedang dalam mood bercanda saat ini!"

Kuharap kalimat ku barusan bisa mempertegas suasana hatiku juga.

"ano , itachi! Bisa kah aku meminta sedikit bantuanmu?"

"tentang?"

"Naruto! bisakah kau menjaganya sebentar?"

Tentu saja aku akan selalu menjaganya!

"baikla-"

"dan rahasiakan ini dari adik busukmu!"

Apa ? merahasiakan? Maksudnya naruto? jadi aku harus merahasiakan naru dari sasuke?

"aku tak mengerti rencana gilamu. Tapi baiklah , akan kulakukan!"

"baiklah kalau begitu , aku serahkan naruto pada mu! sampai jumpa!"

Menma punmemutus sambungan setelah berkata demikian. Dan itachipun mnasih terpaku menatap tak percaya layer ponselnya yang sudah mati.

'sungguh ipar yang tak punya sopan!'batin itachi sebal. Setelahnya ia pun mematikan ponselnya dan beranjak menuju dapur.

Takdisangka ia sudah melihat naruto berdiri di depan kitchen set dan meracik bahan makanan yang tadi nya ada di kulkas itachi.

Jika ia bisa ,maka ia ingin memeluk tubuh mungil dihadapanya saat ini. Subuah mimpi yang pujaan hatinya berdiri dengan apron dan memasak sesuatu untuk itachi. Andai semua ini bukan ima jinasi maka biarkan ia menikmati sang mimpi walu sesaat.

"apa yang sedang kau lakukan?" Tanya itachi saat ia berdiri di samping tubuh ramping naruto. naruto hanya menoleh dan tersenyum simpul.

"membuat ramen" itachi membuka lemari es yangberada tepat di samping naruto, dan mengambil sebuah peer.

"mau?!" tawar itachi setelah memotongnya kecil. Naruto menerima peer itu dengan mulutnya, atau dengan kata lain itachi menyuapi naruto dan naruto menerimanya.

Jantung sulung uchiha itu berdentum keras, dan lupa bagai mana cara untuk bersikap normal. Ia palingkan wajah tampannya kearah lain danmencoba menetralisir wajah bersemunya.

"mengapa aku baru sadar saat ini, bahwa ' teme'ku yang dulu memiliki tanda lair di kedua pipinya!?" gumam naruto spontan yang membuat itachi menoleh seketika

"apa kau mengiingat siapa 'teme'mu dulu?!" Tanya itachi penuh harap

Naruto menunduk. Air mata nya kembali menetes dari snag safir jernih

"maaf itachi….andai aku – " pelukan spontan dari sang sulung uchiha memotong ucapan dari naruto.

"jangan katakan 'andai'… karena 'andai' tak akan merubah apapun"itachi semakin mengeratkan pelukanaya pada tubuh naruto.

Naruto hanya terisak didalampelukan hangat sang kakakipar. Temenya yang dulu bukan lah suaminya. temenya yang dulu ternyata adalah kakak iparnya. Jadi ia telah salah menjatuhkan hati? Jadi dia salah menikahi? Jadi narutosudah menyakiti banyak hati? Apa ini balasan karena ia telah melupakan cinta pertamanya. Apa ini hukuman karena ia telah salah cinta? Apa ia masih boleh bahagia?

"naruto kumohon jangan biarkan langit indahku menangis lagi! Karena sudah cukup aku melihat shafirku terluka tanpa aku bisa berbuat apa apa."

Bagikan mantra sihir. Ucapan itachi membuat isakan narutomereda. Tangan kecil derectur muda itu mendorong ringan dada bidang itachi

"baaaaka!" ucapnaruto sembari menyeka sisa airmatanya. Ia berbalik dan kembali pada racikan makanan yang tadi ia tinggalkan.

"boleh aku membantu"tawar itachi.

"tidak, kau duduk saja" naruto berusaha menyembunyikan blusingnya sekuat tenaga. Emosi yang tadi meluapa dan bercampur kini tak lagi menjadi beban yang meyesakan dadanya. Sungguh itchi bagaimemiliki sishir yang mampun membuat narutokembali tersenyum walau belum sepenuhnya.

Drrrrr…. Derrrrrrrdrrrrrrrrrt….

Uchiha itachi segera menyingkir dari naruto ketika handphonenya kembali bergetar dan nama sang adiklah yang tertera disana.

"hn" jawab itachi dingin

"aniki, aniki . aku butuh bantuanmu saat ini!" ujar sasuke tersenggaldari seberang sana.

Sebenarnya itachi merasa kasihan pada adiknya akan tetapi adiknya memang sudah keterlaluan.

"ada apa?"sasuke menghela nafas berat yang di iringin suara rintihan kecil.

"dobe menghilang,ukh….. aniki bisakah kau mengabariku jika kau menemukanya?"pinta sasuke dengan nada memelas. Alis itachi berkerut.

"bukan kah itu berita bagus? Jika naruto menghilang bukan kah itu keinginanmu?"itachi mengepalkan tangannya . ada secerca perasaan aneh saat ia mengucapkan kalimat barusan.

"itachi…. Ramen siap!"teriak naruto dari dapuryang mengagetkan sang sulung uchiha.

"aniki bukankah itu suara naruto? apa naruto besamamu sekarang? Bisa aku bicara denganya sebentar?!" pinta sasuke beruntut.

"kau salah orang!" putusnya sembari mematikan sambungan sepihak. Hati itachi bergemuruh akan sesuatu yang tak jelas. Ada perasaan marah dan kecewa , adaperasaan takut dan pedih. Namun semua itu entah karena apa.