Part 2 : "Datanglah si kambing"


"Hei! Bangun!" Teriak seseorang.

Deidara mencoba membuka kelopak matanya,

"Ng…ibu? ayah?..." Tanyanya setengah tidur.

Orang itu menggeleng kepalanya,

"Dengar, namaku adalah Hidan, bukan ibu atau ayah kamu, lalu keluarlah dari sini secepatnya, karena rumah ini terbakar!" Jelas Hidan.

Deidara sontak kaget, dia juga bingung kenapa Hidan berada disini. Bukan, tapi kenapa tiba-tiba ada orang asing masuk ke kamarnya, hanya karena ingin menolongnya? Padahal orang-orang di daerah sini adalah orang-orang yang sombong atau egois, dan-

"Jangan melamun! Ayo cepat naik ke pundaku saja!" Teriaknya sambil mengangkat Deidara dengan memeluk karya seninya.

Mereka lari keluar dari rumah tersebut, melewati beberapa runtuhan-runtuhan bangunan. Setelah sampai di luar, Hidan berlari ke arah…rumahnya? Kemungkinan besar, iya, karena, Hidan sangat betul-betul menuju ke arah rumah itu.

Rumah itu, memiliki cat yang berwarna merah, sayangnya, telah dicorat-coret oleh tulisan yang ambuaragul, dengan didepannya terdapat pagar yang sudah berkarat dan pokoknya sudah parah. Pintu rumah tersebut, berbentuk bulat. Aneh sekali.

Setelah masuk ke dalam rumah tersebut, Hidan meletakan Deidara ke sofa dari pangkuannya, Deidara meletakan karya seninya di atas meja, lalu tersenyum kepada Hidan,

"Terima kasih telah menolongku, aku tak tahu apa yang harus aku balas buat kebaikanmu, oh iya, namaku adalah Deidara, dan kau-"

"Hidan, dan aku adalah anak korban pembully-an di daerah sini, semoga kau tidak menjauhiku setelah aku telah membantuku dan mengetahui aku ini payah." Potongnya, sambil menangis.

Deidara mengusap pipi Hidan yang dibasahi oleh air matanya. Dia membiarkan Hidan menangis sejadi-jadinya, karena dia tahu caranya untuk menenangkan orang yang sedang sedih, yaitu mengusap pipinya, memeluknya, dan membisikan "Kau baik-baik saja, aku disini.".

Deidara selalu memendam kesedihannya, dan jika mau menangis dia pergi ke kamar mandi dengan membawa handuk, sambil berbohong "Aku ingin mandi" hanya untuk menangis, ah…Deidara juga sampai bingung kenapa orang-orang harus memendam kesedihan mereka, berbohong demi memendam kesedihan mereka, beralasan demi memendam kebencian mereka, kenapa harus begitu? Kenapa tidak jujur saja sambil berteriak di depan orang-orang, bahwa kita tidak baik-baik saja? Mungkin jawabannya adalah, karena kita tidak mau dianggap lemah atau cengeng.

Tapi bukankah itu lebih baik? menunjukan jati diri kita—oh tunggu…mungkin jika kita menunjukannya, kelemahan kita akan diincar, hanya untuk pujian, hanya untuk kenikmatan diri sendiri, atau bisa disebut juga, keegoisan.

Oh, keegoisan dapat membuat orang-orang berperilaku buruk, bahkan Deidara pun juga egois, dia tidak mau menunjukan kesedihannya, hanya demi tidak membuat orang-orang di sekitarnya bertambah khawatir dan membebankan. Keegoisan seperti itu, adalah dia mau dibelas kasihani oleh semua orang, agar dianggap dialah yang paling tersakiti.

Deidara memeluk Hidan, sambil mengusap-ngusap kepala Hidan, berbisik,

"Kau baik-baik saja, selagi aku disini."

Dalam batinnya, Deidara mengatakan 'Aku juga merasakan kesedihanmu, ya, aku ingin sekali dipeluk oleh orang tuaku dengan penuh kasih sayang, tetapi, menurutku itu tidak mungkin.'

Deidara berbisik "Kau baik-baik saja, selagi aku disini." lagi dengan tersenyum sedih, sambil mengusap-ngusap kepala Hidan. Terus saja begitu sampai Hidan mengungkapkan alasan kesedihannya,

"Aku kira kau ini adalah sebagian dari orang-orang kaya yang sombong, tapi ternyata kau ini…baik sekali…aku…sudah lama ingin ada yang memeluku seperti ini, aku ingin juga ada orang yang peduli, maka dari itu, aku menolong banyak sekali orang-orang di daerah sini…ITU JUGA KARENA HANYA INGIN ADA YANG MENGETAHUI KEBERADAANKU! Aku…selalu sendirian! Mereka bilang kalau orang albino itu pembawa sial! Orang tua ku juga meninggalkanku hanya karena…agar tidak dipandang rendah oleh orang-orang di daerah sini…" Ungkap Hidan, menangis tersedu-sedu.

Lama-lama, Hidan tertidur, terdengar dari dengkurannya yang keras, Deidara tersenyum sedih,

"Pasti dia sangat sedih setiap harinya, dari sebuah fakta pernah menyatakan bahwa jika ada orang yang mendengkur dengan keras, maka orang itu mengalami kesedihan yang berat. Malang sekali anak ini, dia memendami kesedihannya terlalu lama." Ucapnya, lalu dia mengangkat Hidan dan meletakannya di kasur yang sudah kotor.

Hidan tertidur sangat pulas, dengkurannya sangat keras, sampai-sampai terdengar sampai luar rumahnya. Sambil menunggu Hidan bangun, Deidara membersihkan rumahnya. Di ruang tamu, dia menemukan sebuah buku diari yang usang, covernya adalah foto Hidan yang masih bayi dengan orang tuanya. Karena penasaran, Deidara membuka diari tersebut, anehnya, isi buku nya tidak kotor sama sekali, lalu dia membaca entri diari yang pertama,

'Dear Diary,

Ini diari pertamaku! Kata orang-orang, diari itu adalah buku yang menyenangkan jika kita sedang sedih, awalnya aku heran—karena aku tak punya buku diari, entahlah, aku juga bingung maksudnya apa.'

Deidara tertawa membaca sifat Hidan yang masih polos saat menulis diarinya, lalu dia membuka halaman berikutnya,

'Dear Diary,

Ternyata aku sudah paham maksud orang-orang tentang buku diari, kini, aku sedang sedih, orang tuaku meninggalkanku karena kata tetangga sebelah, aku ini albino. Lalu, apa masalahnya jika aku ini albino? Bukankah kita harus mensyukuri apa yang kita terima dari tuhan? Mungkin aku harus bersabar :'( '

Ternyata, Hidan memang benar ditinggalkan oleh orang tuanya. Deidara membuka halaman berikutnya,

'Dear Diary,

Aku dibully oleh teman-teman di daerah sini, sakit sekali rasanya :'(. Tapi aku pernah diselamatkan oleh seorang lelaki yang menggunakan masker, namanya kalau tidak salah adalah Kakuzu. Dia sekarang menjadi sahabat baikku, tapi aku lama-lama menjadi suka dengannya, namun aku tidak akan mengungkapkannya, karena aku tidak mau dia kecewa denganku.'

'Dear Diary,

12 November 19xx, pukul 19.23 P.M. Kakuzu tertabrak oleh truk besar saat dia menyelamatkanku dari tabrakan truk yang besar. Alhamdulillah, aku selamat, sedangkan Kakuzu…Innanilahi…Ya Allah, sakit sekali memang. Sampai kini aku belum membalas kebaikannya, belum mengungkapkan rasa suka-ku ini, belum membuat dia bahagia olehku, oh aku sangat menyesal. Aku menangis sekarang, aku…aku…aku merindukannya, menyayanginya, menyukainya, oh ini sangat pedih :'(.'

Deidara menjadi ikut sedih, bagaimana tidak? Orang yang disayangi, disukai Hidan, meninggal. Apalagi meninggalnya didepan mata Hidan secara langsung, kasihan sekali dia. Deidara membuka halaman selanjutnya,

'Sedih, pedih, kuingin pulang'

Saat pertama kali Deidara membaca tulisan tersebut., dia merasa bingung, tapi lama-lama dia mulai mengerti, bahwa Hidan sedang mengalami depresi yang berat dan dia ingin...mati...

"Dei? Kau sedang membaca...diariku?!" Teriak seseorang.

Deidara menjadi kaget, "Ah...awalnya aku hanya penasa-"

Hidan langsung mengambil diarinya dari genggaman Deidara. Dia berlari ke arah kamarnya untuk menyembunyikan diarinya. Deidara menjadi merasa bersalah, dia harus segera minta maaf sebelum Hidan mengusir Deidara dari rumahnya. Menyadari itu, dia berlari ke arah kamar Hidan,

Pintunya terkunci, namun Deidara memohon-mohon minta maaf, "H-Hiidan, aku minta maaf! Aku benar-benar minta maaf! Sungguh!" Teriaknya.

Pintu terbuka, "Deidara? A-aku juga minta maaf, karena, kukira kau juga akan membenciku karena aku ini sensitif." Ucap Hidan sambil membuka pintu.

Deidara memeluk Hidan yang menangis, "Kau baik-baik saja, tenang, aku ada disini," Deidara berusaha untuk menenangkannya, "Mari kita bicarakan masalahmu itu." Ajak Deidara sambil tersenyum lembut, dan Hidan mengangguk setuju.

*Flashback Start*

Saat Hidan sekolah di "Konoha", dia merasa dialah orang yang akan beruntung di sekolah ini, dia bercita-cita untuk menjadi sukses dan memiliki teman-teman yang banyak, dan yang terpenting dia mau pergi ke sekolah ini adalah untuk mencari arti cinta yang sebenarnya., tak peduli laki atau perempuan, yang ia mau adalah mencari arti cinta.

Tapi mimpinya tidak tersampai, hingga kini dia tidak tau arti makna cinta itu. Dia malah mendapatkan sebuah kebencian, di-bully, dibuang, ditinggalkan, dan lain-lain. Kini dia di-bully, oleh sekumpulan grup anak Konoha, ditendang,

"Berikan uang makan siangmu! Aku pukul kau jika tidak!" Perintah salah satu anggota.

Hidan menangis, "Tidak! Tidak akan!" Tolak Hidan sambil menangis.

Tendangan dari grup anak Konoha berhenti, senyuman kejahatan tampak di wajah-wajah para anggota anak Konoha. Ketua anak Konoha berbisik ke salah satu anggotanya, dan anggota tersebut mengangguk lalu pergi. Ketua anak Konoha membuka mulutnya,

"Anak albino sepertimu, sebenarnya harus musnah, benarkan?" Ajuk si ketua.

"Iya, dia benar, albino adalah tanda kesialan, hahahaha!" Seru para anggotanya.

Hidan mencoba berteriak, "T-To-"

Bugh!

Ayunan bilah kayu memukuli kepala Hidan, lalu diayunkannya lagi, sampai kepala Hidan berdarah, dipukuli. Tiba-tiba dari kejauhan, terdengarlah sebuah suara yang seram,

"Sudah cukup, aku sudah memanggil guru BK kemari" Ucap suara tersebut dengan tegas dan menyeramkan.

Anak-anak grup Konoha berhenti memukuli Hidan, terlihat ketakutan saat melihat wajah seorang lelaki yang menggunakan masker. Satu per satu, mereka kabur, dan salah satunya ada yang berteriak,

"Si monster datang! Lari sebelum dia marah, hahahaha!" Teriaknya sambil mengejek, menghampiri si laki bermasker dengan wajah yang menantang,

"Kau ini hanya bisa menakuti orang-orang dengan wajah jelekmu, lalu memanggil guru BK? Bodoh sekali, bwuahahaha…" Sambungnya sambil tertawa,

Saking kesalnya, si laki bermasker membuang sebuah jarum kecil namun tajam kedalam mulut anak tersebut—saat anak tersebut sedang membuka mulutnya dengan lebar, karena tertawa terbahak-bahak—hingga timbullah aura sadis dari si laki bermasker,

'Tertawalah…Tertawalah…Tertawalah hingga tenggorokanmu sakit!' Batin si laki bermasker dengan sadis.

"Akh! T-tenggo—" Isak anak tersebut, terjatuh hingga berbaring kesakitan tak wajar, sambil berteriak tidak jelas.

Si laki bermasker membantu Hidan berdiri, "Aduh…kakiku ternyata masih sakit…" Keluhnya, tapi dia tetap berusaha untuk berdiri, "Uh…terima kasih…um…"

"Kakuzu" Tebak Kakuzu.

Hidan hanya bisa mengangguk, tiba-tiba dia melihat sebuah dua bayangan dari Kakuzu, dan penglihatan Hidan menjadi gelap. Tangan yang hangat memeluknya, sebuah suara yang lumayan keras dan berat muncul,

"Hei! Bertahanlah!" Suara itu seperti api, walaupun suaranya berat, menyeramkan, keras, tapi menghangatkan. Sampai-sampai Hidan menemukan rasa peduli dibalik kata-kata suara tersebut.

Tiba-tiba, muncullah banyak warna putih, berarti suci kan? Lalu jika albino itu kebanyakannya berubah menjadi putih, bukankah itu artinya suci juga? Apa bedanya jika hitam dan putih sedang bermain? Ah mari kita lupakan masalah itu, mari kita kembali lagi ke Hidan,

"Di-dimana…A-aku?" Tanyanya dengan suara yang lemah,

Dijawablah dengan suara berelemen api tersebut, "Kau sedang berada di rumah sakit, jika kita membawamu ke UKS, kau akan…ah lupakan saja, kau sudah cukup sehat kan? Ayo kita pulang sebelum uang perawatanmu bertambah naik."

"Loh kok?...Hihi, kau bercanda kan? Kamu ini sangat lucu loh, hihi,"Hidan tertawa kecil,

Pipi berubah menjadi merah muncul di wajah seseorang, "K-kau ini, dasar." Dia menjadi tersipu malu.

"Ngomong-ngomong, kau ini siapa ya?" Tanya Hidan.

"Uh…Kakuzu, dan ingatlah bahwa akulah yang menolongmu saat kau dibully" Jawab Kakuzu.

Mereka mengobrol dari hal-hal kecil, seperti hobi, warna, dan lain-lain, hingga Hidan bertanya,

"Kenapa kau memakai masker?"

Senyuman Kakuzu menghilang, "Bukan apa-a—"

"Bohong, bukalah!" Pinta Hidan, sambil mencibir/cemberut.

Kakuzu menghela nafasnya, "Baiklah, tapi kau janji takkan meninggalkanku, ya?" Tanya Kakuzu, dan Hidan mengangguk.

Dibukalah masker Kakuzu yang ia kenakan, tampaklah banyak jahitan dibalik maskernya,

"Sungguh malang aku ini, aku dibuang oleh kedua orang tuaku karena mereka ingin berofoya-foya, sehingga aku kini diurus oleh ayah tiri dan ibu tiriku, mereka berdua sangat egois, aku akan tidak diberi makan jika aku ini tidak mematuhi perintah-perintahnya, seperti membersihkan rumah 4 kali atau lebih, oh pokoknya aku ini dianggap seperti seorang pembantu. Hingga, aku kabur dan bekerja menjadi pelayan orang kaya, dengan banyak pelayan, dan aku juga belajar di sekolah sepertimu." Cerita Kakuzu dengan nada yang sedih.

Hidan ikut menjadi sedih, dia menitikan air matanya, "Kakuzu, memang sungguh menyedihkan sekali cerita hidupmu. Tapi, apakah kau tahu apa yang dimaksud cinta?"

Kakuzu dengan tenang menjawabnya lagi,, 'Kurasa, kaulah yang memiliki kehidupan yang sangat menyedihkan—oh tunggu dulu, kita semua pasti memiliki cerita kehidupan yang menyedihkan, dan untuk menjawab pertanyaanmu, aku…belum pernah merasakannya, jadi aku tidak tahu apa yang dimaksud cinta itu."

Sejak kejadian itu, Kakuzu dan Hidan menjadi akrab, hingga mereka menjadi sahabat walaupun Hidan punya perasaan aneh, tapi datanglah sebuah cobaan yang sangat menyakitkan. Hidan jatuh cinta dengan Kakuzu, dan dia menjadi takut jika ia tidak hati-hati, maka Kakuzu mungkin akan membenci Hidan jika dia tahu bahwa Hidan menyukai mencintai Kakuzu.

'Mungkin surat ini dapat membuatmu sadar bahwa aku mencintaimu, oh tunggu…inikah yang namanya cinta?' Batin Hidan, warna merah muncul di pipinya.

'Detak jantung yang berdetak agak cepat—saat kita memikirkan orang yang kita cintai? Lalu kita akan menjadi malu dengannya dan kita sangat menyayanginya? Oh aku mengerti apa yang namanya cinta'

Setiap Hidan bersama Kakuzu, Hidan tidak seperti biasanya—tertawa keras bersamanya, menjahilinya, dan lain-lain berdasarkan tingkah laku persahabatan—kini, dia menjadi seperti anak perempuan yang jatuh cinta, itu juga jika bersama Kakuzu.

Suatu hari saat Hidan mau menyampaikan surat cintanya secara langsung, dengan pergi ke rumah Kakuzu sekarang (BIAR GREGET! - Maddog), Hidan terus memikirkan apa reaksi Kakuzu saat dia memberi surat cintanya dengan menyatakan cintanya, mungkinkah dia membenci Hidan? Menerima Hidan walau dia tidak straight? Atau yang paling indahnya jika Kakuzu mencintai Hidan juga.

"Ah! Aku lupa melintasi jalan!" Ucap Hidan, sambil berlari melintasi jalan,

Suara truk yang dikendarai oleh seorang penjahat, menerobos lalu lintas yang sangat sepi, hingga hampir mentabrak Hidan. Tiba-tiba, pahlawan tanpa jubah mendorong Hidan dari tabrakan maut, "Minggirlah!" Ucap pahlawan tersebut.

Tabrakan pun terjadi, sehingga menyebabkan satu korban yang meninggal.

Pahlawan tanpa jubah tersebut, mengeluarkan suara api yang mau padam, namun sangat menghangatkan. Lebih menghangatkan daripada api yang sangat besar, berkata,

"Ai…shi…te…r…"

"Kakuzu?!"

*Flashback End*

"Begitulah ceritanya Dei…" Ucap Hidan.

Deidara hanya bisa mengangguk, "Aku mengerti, hm, uh…oh lihat, sekarang sudah malam, mari kita makan malam bersama, dengan aku yang akan menyiapkan makanannya, hm." Ajak Deidara, menarik tangan Hidan menuju ke dapur.

"Baiklah! Apa makanan favoritmu, hm?" Tanya Deidara.

Hidan duduk di kursi meja makan, "Entahlah, apapun asal makanan yang halal untuk dimakan." Jawab Hidan dengan enteng.

"Uh…kalau Bakudan mau tidak, hm? Itulo—"

"BOLEH!" Hidan telah setuju dengan bulat sekali.

Deidara terkekeh, lalu dia membuka lemari es, ternyata ada sebagian bahan-bahan makanan, tapi…semuanya daging. Kalau sayuran paling juga wortel, dan telur-telurnya…sudah…ih… serem…hah…Deidara terpaksa harus memasak makanan yang meliputi dengan daging,

"Hah…daging semua, ayam goreng aja—"

"Ya, iya, iya." Hidan setengah setuju, setengah tidak setuju.

Deidara mulai memasak, dan setelah dia memasak, hasilnya dapat membuat Hidan tambah terus. Ketawa Deidara sangat keras melihat Hidan memakan makanannya dengan lahap sekali, hingga persediaan bahan makanan daging ayam, habis. Deidara mencoba menghentikan ketawanya, "Haduh…Hahahaha…H-Hidan…Hihi…K-kamu s-seperti bagaimana L memakan se-ton kue…bwabwabwabwa bwahahahaha!"

Hidan dengan polosnya tidak mengerti, lanjut saja dia memakan makanannya.

Setelah makan malam, Hidan tidur diatas sofa dengan alasan, "Dulu, Kakuzu pernah sering tidur disini" dan sedangkan Deidara tidur diatas kasur Hidan yang anehnya masih rapi, seperti yang baru beli. Deidara melepaskan ikatannya, menarik selimbutnya, dan berbisik,

"Mimpi indah, hm."


A/N : To be continue, terima kasih untuk para pembaca, tunggulah chapter selanjutnya, yaitu "Bermain dengan sang kambing"