Di mata orang lain, Ichigo adalah sosok yang keras, dingin dan selalu terlihat keren. Dia bahkan diberi julukan Ice Man oleh rekan-rekannya. Sebaliknya, aku adalah orang yang selalu ceria dan bersemangat, aku memiliki gairah dalam berakting, dan Ichigo selalu mengasihaniku jika mengingat aku gagal menjadi seorang aktris.
Suatu ketika, saat kami sedang makan di luar, aku tiba-tiba berhenti bermain dengan ponselku dan berkata padanya dengan muka serius, "Kakak ipar, aku merasa bersalah pada kakakku setelah apa yang kita lakukan."
Awalnya, dia bersama dengan si pelayan akan menatapku dengan ekspresi seperti habis disambar petir. Tapi, karena dia sudah terbiasa menghadapiku yang seperti ini, hanya butuh waktu beberapa detik baginya untuk kemudian bisa mengikuti permainanku.
"Aku yakin kakakmu akan memberi kita restunya dari surga."
Ada satu waktu ketika aku tiba-tiba mendapat sebuah inspirasi, aku mengatakan pada Ichigo kalau aku ingin berperan sebagai orang ketiga dalam hubungan seseorang.
Tak lama, aku berhasil menciptakan sebuah skenario dalam kepalaku dengan cepat, kemudian membentak Ichigo di depan mukanya. "Aku orang yang paling mencintai Rukia! Aku tidak akan pernah membiarkanmu memilikinya!"
Saat itu Ichigo sedang bersandar pada rak buku rumah kami, fokus membaca, karena merasa terganggu dia hanya membalas dengan setengah hati. "Kalau begitu bawa saja dia."
Aku tertegun. Menurut naskah cerita, seharusnya dia tidak langsung setuju. Lalu aku berkata lagi, "Aku akan membawanya pergi malam ini, dan dia akan meninggalkanmu sendirian selamanya!"
Ichigo menutup bukunya kasar, lalu berucap, "Coba saja bawa dia pergi. Jika dia berani meninggalkanku dengan orang lain, aku akan mematahkan kakinya."
Hei! Siapa yang mengizinkanmu mengubah naskahnya! Eh, Ichigo ... apa benar dia akan mematahkan kakiku jika aku melakukannya?!
