Ketika suatu hari aku kembali dari perjalanan bisnis, aku menerima telepon dari seorang teman baikku saat aku tiba di bandara. Dia baru saja mengalami putus cinta dengan pacar tujuh tahunnya dan terus saja menangis sesenggukan di sepanjang telepon.

Menyeret koperku, aku bertemu dengan Tatsuki untuk minum di sebuah kedai. Aku mendengarkan semua curhatannya sampai aku lupa entah berapa jam kami berada di kedai itu.

Saat kembali ke rumah, aku merasa sangat melankolis, dan memeluk Ichigo erat saat dia membukakan pintu. "Selama ini, hal yang buruk seringkali menimpaku, satu-satunya hal yang membuatku merasa beruntung hidup di dunia ini adalah bertemu denganmu, aku sangat berterima kasih, Ichigo. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan di sisa umurku adalah mencintaimu."

Dia menjawab, "Oke, aku tersentuh kau berpikiran seperti itu." Dia berhenti sejenak, sebelum melanjutkan, "Tapi, jangan berpikir hanya karena kau mengatakan hal itu aku akan memaafkanmu karena pulang sampai jam tiga pagi."

Dia melotot galak padaku. Yah, meski dia terlihat kesal, pada akhirnya dia tidak tega melihatku seperti itu dan pergi ke dapur untuk menyeduh secangkir madu untuk menetralisir minuman beralkohol.