A/N: Hai hai Yuu balik lagi~ Makasih udah mau baca chap sebelumnya~ Makasih udah suka sama fic abal ini, makasih juga udah mau review fic ini. Review kalian sangat berarti bagi Yuu ^^ #peluk
Karena kantor libur, Yuu jadi update kilat! Yeyy! Semoga chap ini ngak mengecewakan kalian semua #bungkuk-bungkuk
Tolong reviewnya ya Minna ({})
Long Kiss Goodbye by Yuu Nightmarie Phantomhive
NARUTO by Masashi Kishimoto
(Naruto dan segala karakter didalamnya bukan milik saya)
Rated: T
Genre: Hurt/comfort/Romance
Warning: AU, OOC, typos, Newbie, EYD kacau balau, tata bahasa serampangan (?), abal, gaje, BL, BoyxBoy, SasuNaru. Bisa baca kan? =-="
DON'T LIKE, DON'T READ!
TOK TOK TOK
Terdengar suara ketukan pintu.
"Ng? Tamu? Tunggu ya Teme aku mau lihat dulu siapa yang datang."
"Hn."
Naruto bergegas menuju pintu, aku mengikutinya dari belakang.
CKLEK
"Ah! Ternyata Anda. Ada apa Sai-sama kemari?"
Kudengar Dobe berbicara entah dengan siapa. Kupercepat langkah kakiku dan mataku membelalak melihat siapa yang datang.
"Sudah ku bilang jangan memanggilku dengan panggilan seperti-"
Aku menatap tajam mata orang yang bernama Sai itu. Matanya membulat melihatku yang berdiri tepat dibelakang Naruto.
"K-Kau?!"
Chapter 2: Smile
Sai's POV
Aku meneguk ludah lamat-lamat dan merasakan pahit bagai empedu menjalar di indera pengecapku begitu melihat iris onyx yang kini menatapku tajam. Seakan ingin mengigitku, merobek tubuhku dan menelanku bulat-bulat. Kenapa dia bisa berada disini? Pikirku dengan wajah yang kian memucat. Keringat dingin pun mulai berjatuhan melewati pelipisku. Tanganku gemetar. Entah kenapa aku merasa takut saat mata itu menelisik diriku dari atas hingga bawah.
Pria raven itu mengeluarkan semacam aura hitam yang seolah-olah mengatakan dia siap membunuhku jika aku berani mengangkat suaraku.
"S-Sai? Ada apa?", tanya Naruto yang tampaknya khawatir terhadap keadaanku.
Aku hanya diam, menghela nafas untuk menenangkan diriku dan akhirnya aku mulai berbicara.
"Aku tidak apa-apa Naru-chan. Ha-ha.", jawabku diiringi dengan tawa garing yang justru membuat kening pemuda pirang itu berkerut.
"Masuk Dobe.", perintah sosok yang masih setia berdiri dibelakang Naruto.
"Eh?!", Naruto terpekik begitu mendengar perintah sepihak yang nampaknya dialamatkan kepadanya.
"Aku bilang masuk Dobe. Aku ingin berbicara dengan pria ini.", katanya seraya berjalan melewati pintu dan berdiri tepat didepan Naruto.
Naruto yang masih sibuk memikirkan apa yang sebenarnya terjadi hanya bisa diam ketika pria itu mendorongnya masuk kedalam rumah kemudian menutup pintu itu.
Aku meneguk ludah sekali lagi saat mataku bertemu dengan mata onyx yang mengirimkan sejuta tatapan benci kepadaku. Pria raven itu berjalan menuju sebuah pohon dan menyandarkan tubuhnya pada pohon itu. Aku membiarkan mataku mengikuti langkahnya. Pria itu mengulurkan tangannya dan menangkap beberapa butiran salju yang terjatuh. Aku hanya diam seribu bahasa. Menunggu ia yang memulai pembicaraan.
"Jangan katakan kepada siapapun kalau aku berada disini."
Perintah. Itu jelas sebuah perintah yang ditujukan pria berambut unik itu hanya kepadaku. Aku membuka dan menutup mulutku. Hendak berbicara namun tak satu kata pun yang dapat keluar.
"Mengerti?", tanya pria itu lagi sambil menatapku tepat pada mataku. Mata yang menginginkan jawaban yang dapat memuaskannya.
Aku mengangukkan kepalaku. Kulihat ia beranjak dari tempatnya dan berjalan memasuki rumah Naruto. Saat tangannya hendak memutar kenop pintu, ia membalikan tubuhnya.
"Kau akan tau akibatnya jika menghianatiku."
BLAM
Aku mematung ditempat. Kakiku lemas, aku terduduk diatas tumpukan salju yang berjatuhan. Pikiranku melayang jauh dan aku mulai memikirkan sesuatu yang buruk yang mungkin akan terjadi. Oh Tuhan. Ini adalah hari tersial dalam hidupku.
.
.
End of Sai's POV
.
.
Sasuke's POV
Aku menutup pintu dan mataku menangkap Dobe yang sedang duduk didepan perapian. Ia menatap perapian itu dengan tatapan yang kosong. Aku pun berjalan menghampirinya.
"Dobe."
Ia mengangkat kepalanya dan menatapku.
"Dimana Sai?"
"Dia bilang dia harus segera pergi untuk mengerjakan sesuatu. Entah apa itu.", jawabku bohong sambil mengaruk kepalaku yang sesungguhnya tidak gatal.
"Oh, begitu. Dia memang orang yang sangat sibuk.", jawabnya sembari berdiri.
"Yosh! Ayo kita masak sup tomat Teme!", serunya dengan senyuman lima jari yang mengembang diwajahnya.
"Hn."
Aku mengikutinya hingga kami sampai disebuah dapur kecil. Kulihat sipirang tengah sibuk memakai celemek berwarna oranye dengan gambar rubah kecil kemudian mengambil sebuah panci. Ia mengisi panci itu dengan air kemudian meletakannya diatas sebuah kompor tua. Ia membuka kantung belanjaannya dan mengeluarkan benda bulat merah kesukaanku. Ia mencuci benda itu kemudian memotongnya. Aku mendengus melihat gambar yang ada pada celemeknya. Apa tak ada gambar lain seperti rusa, jerapah, atau babi kecil misalnya? Aku tersenyum geli dengan pikiranku sendiri.
"Hei. Kenapa hanya berdiri disitu Teme? Ayo bantu aku.", katanya sambil cemberut.
Aku melangkahkan kakiku memasuki dapur itu semakin dalam. Aku mengambil sebuah tomat kemudian mencucinya hingga bersih. Tak ada yang bicara. Hanya terdengar suara air yang tengah dimasak. Entah kenapa aku benar-benar tak menyukai situasi ini. Sungguh aneh untuk diriku yang terbiasa dengan suasana yang hening.
"Hei.", kataku berusaha memulai pembicaraan.
"Hm?", tanggap sipirang seadanya sedangkan tangannya dengan cekatan mempersiapkan bumbu yang akan digunakan untuk memasak sup.
"Apa kau tak bertanya-tanya apa yang tadi aku bicarakan dengan pria tadi?"
Ia menghentikan kegiatannya mendengar perkataanku.
"Sesungguhnya iya. Ya aku penasaran apa yang kalian bicarakan diluar sana."
"Kau penasaran?", tanyaku lagi sembari menatap iris biru langitnya dalam.
Ia mengangukan kepalanya.
"Tak ada yang penting. Sungguh."
"Apa? Tak ada yang penting dan kau membuatku penasaran?! Dasar TEME!", serunya sambil mencak-mencak sendiri.
Aku tersenyum tipis melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan.
"Tapi- Apa kau tak lebih penasaran mengenai siapa diriku?", tanyaku lagi dengan nada yang serius. Membuat si blonde menghentikan acara mencak-mencaknya.
"Tidak.", jawabnya sambil menatap tepat ke iris kelamku.
"Aku tidak akan bertanya tentang siapa dirimu. Kalau kau belum mau mengatakannya, tidak apa-apa. Jika sudah siap baru katakan.", jawabnya sambil tersenyum. Aku hanya terdiam mendengar perkataannya.
Ia kembali menekuni pekerjaannya. Ia kembali memasak dan membuat sekeliling dapur ini mengeluarkan aroma yang dapat membuat setiap orang yang menghirupnya menjadi lapar.
Aku menatap tomat ditanganku. Otak jeniusku berpikir keras. Apa aku tega membohongi pemuda yang baik ini?
.
.
.
"Terima kasih atas makanannya!", seru Naruto sembari menangkupkan kedua tangannya.
"Bagaimana? Enak tidak Teme?", tanyanya sambil tersenyum.
Aku mengelap sisa makanan dimulutku dengan serbet.
"Hn."
Senyumnya menghilang dan berganti dengan wajah cemberut. Entah sudah berapa kali hari ini dia cemberut mendengar perkataan tidak jelasku.
"Hah~ Bahasa planet mana yang kau pakai itu Teme?"
"Hn."
Kulihat wajahnya semakin tertekuk mendengar jawabanku yang lagi-lagi hanya dua huruf itu.
SREK
Ia berdiri dari kursinya, mengambil piring yang kugunakan tadi kemudian berjalan menuju bak cuci piring. Ia mencuci piring itu tanpa berkata-kata. Setelah selesai, ia meletak piring itu dan berjalan menuju pintu keluar. Aku mengikutinya.
"Mau kemana?", tanyaku penasaran.
"Kehutan."
Ia mengenakan mantelnya yang berhiaskan bulu-bulu sintetis. Aku hanya menatapnya.
"Mau ikut?"
"Ya."
Ia tersenyum lebar mendapat jawaban dariku. Entah senang karena ajakannya kupenuhi atau senang karena tak mendapat jawaban 'Hn' lagi dariku.
Ia mengambil mantel hitamku kemudian memberikanya kepadaku. Aku mengambilnya dan memakainya.
Aku mengikutinya berjalan keluar pintu. Salju masih turun walau tidak terlalu lebat. Aku mempercepat jalanku dan menyamakan langkahku dengannya. Kami terus berjalan dalam keheningan. Tak ada yang mau membuka pembicaraan. Lagi-lagi situasi ini. Aku melihat dia berhenti berjalan dan malah mengedarkan pandangan disekelilingnya. Aku binggung. Apa yang dia cari? Ia berjalan lurus kemudian membungkukkan badannya. Kulihat ia memungut sesuatu. Kayu? Apa yang ingin dia lakukan dengan benda itu?
"Kau hanya diam disana atau mau membantuku memungut kayu-kayu ini?", tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya kearahku.
Aku berjongkok dan memungut salah satu kayu. Aku menatap kayu itu lekat.
"Untuk apa kau mengumpulkan kayu-kayu itu? Bukankah dirumahmu masih ada cukup banyak kayu untuk perapianmu?", tanyaku heran.
Kulihat si pirang sibuk mengumpulkan kayu-kayu itu kemudian mengikatnya dengan sebuah tali.
"Untuk dijual.", jawabnya sambil mengendong kayu-kayu itu.
Ternyata itu yang dilakukan pemuda ini dikota. Dia menjual kayu-kayu ini.
Aku bergerak menuju kesalah satu pohon yang ada disitu dan memegang batang pohon itu.
"Kau ingin aku menebang ini untukmu?", tanyaku sambil mengosok batang pohon itu.
"Hei, jangan lakukan itu Teme. Apa kau gila? Ini saja sudah cukup.", jawabnya sembari menghampiriku.
"Kau yakin?", tanyaku lagi. Tak percaya bahwa beberapa batang kayu itu sanggup untuk menghidupi dirinya.
"Ya." Ia tersenyum lagi. Senyum hangat yang mampu membuat aku terpaku. Sungguh senyum yang indah. Tanpa sadar aku merona.
Aku kembali berjongkok dan memungut batang-batang kayu yang berserakan. Aku menunduk menutupi wajahku yang mulai merasakan panas. Perasaan ini lagi. Perasaan aneh namun hangat yang menghampiriku saat sedang bersama si pirang ini. Kenapa dadaku berdesir saat melihat senyumnya?
Setelah mengumpulkan kayu-kayu itu, aku pun mengikatnya dan memikul kayu-kayu itu.
"Kau ingin menjualnya sekarang?"
"Hu-um", sahutnya bersemangat.
.
.
.
End of Sasuke's POV
.
.
.
KRIET
Terdengar suara sebuah pintu yang terbuka. Menampilkan sesosok pria berambut hitam panjang dengan sepasang luka gores diwajahnya.
"Itachi-sama"
Seorang gadis dengan gaun berwarna pink berenda-renda yang senada dengan rambutnya memasuki ruangan itu.
"Itachi-sama, maafkan saya yang begitu lancang langsung menemui anda tanpa membuat janji apapun.", kata gadis itu sambil menundukan kepalanya dalam.
Orang yang dipanggil Itachi itu masih tetap bergeming. Masih betah melihat pemandangan kota Konoha yang disuguhkan dihadapannya.
"Apa maumu?", Itachi akhirnya angkat bicara.
"Sa-Saya hanya ingin mengetahui dimana Sasuke-sama berada.", jawab si gadis sambil memainkan renda digaunnya. Ia gugup bila harus berhadapan dengan orang yang memimpin kerajaan ini. Tapi mau bagaimana pun orang dihadapannya ini akan menjadi kakak iparnya kelak. Ia harus bisa terbiasa. Ia pernah mendengar ayahnya bercerita bahwa Itachi Uchiha adalah orang yang sangat dingin. Ternyata itu benar dan ia sudah membuktikannya sekarang.
"Ia tidak berada disini sekarang.", jawab Itachi tanpa menoleh kearah sang gadis. Ia memandangi salju yang terus berjatuhan diseluruh penjuru kota Konoha.
"Sa-Saya tahu Itachi-sama. Saya dengar dari pelayan anda bahwa Sasuke-sama tidak berada diistana.", jawabnya terbata-bata. Ia takut Itachi akan marah.
".."
Itachi hanya diam. Si pinky yang merasakan atmosfir yang berat dari ruangan itu hanya dapat meneguk ludahnya. Ia mati-matian berusaha menghentikan gemetar yang ia rasakan. Ia mulai berkeringat dingin.
"Panggil Kakashi kemari. Aku punya tugas untuknya."
~To Be Continued~
