A/N: Hohoho~ #dilempar sendal

Yuu dateng lagi Minna~ Update kilat lagi ({}) Merry Christmas ^^

Yuu balas review dulu~

Fuzai : Hei juga Fuu~ Yuu juga author baru. Salam kenal^^ Hehe selama Yuu punya waktu Yuu pasti update kilat! Nih udah update. Semoga ngak mengecewakan :)

Zadita Uchiha : Makasih, nih udah lanjut^^

Yukiko Senju : Ini lanjutannya^^

Hanazawa Kai : Boleh, boleh. Yuu seneng ada yang mau baca fic abal Yuu. Nih udah dilanjut ^^

Ryuusuke583 : Makasih udah mau baca dan bilang fic ini keren. Yuu terharu. Makasih masukannya sangat berguna sekali. Ngak kokk~ Yuu juga gak niat buat fic ini jadi SS. Ini SasuNaru kok tenang aja hehe. Nih udah lanjut^^

Michhazz : Hehe soal Itachi dukung apa ngak masih rahasia ne~ #digebuk Michhazz. Nih udah lanjut^^

Aiko Michishige : Nih udah lanjut^^

Harpaairiry : Nih lanjutannya ^^ makasih dukungannya.

Mami Fate Kamikaze : Kyaaa! Iya Sasu-Teme terpesona sama Naru-chan~ Makasih dukungannya Mami-san. Ini lanjutannya ^^

Makasih buat semua yang udah mau meluangkan waktunya buat mampir baca fic ini juga udah dukung fic abal Yuu. ^^ Makasih juga buat yang udah mereview. #Peluk

Chap 3 Start! Semoga ngak mengecewakan. Review please! Arigato na^^

Long Kiss Goodbye by Yuu Nightmarie Phantomhive

NARUTO by Masashi Kishimoto

(Naruto dan segala karakter didalamnya bukan milik saya)

Rated: T

Genre: Hurt/comfort/Romance

Warning: AU, OOC, typos, Newbie, EYD kacau balau, tata bahasa serampangan (?), abal, gaje, BL, BoyxBoy, SasuNaru. Bisa baca kan? =-="

DON'T LIKE, DON'T READ!


Chapter 3: Forgotten Memories

Flashback

"Selamat pagi, Sasuke-sama. Ayo bangun saya sudah siapkan sarapan untuk Anda."

Terdengar suara seorang wanita yang mengalun lembut dikamarku. Suara siapa itu? Aku mengerjapkan mataku, mencoba membiasakan indera penglihatanku terhadap sinar yang mulai masuk. Kulihat sesosok wanita berambut panjang sedang membuka tirai jendela. Aku bangun dan mendudukan diriku. Mengosok pelan mataku agar dapat lebih jelas melihat wajahnya. Wanita itu tersenyum kepadaku. Rambutnya yang berwarna semerah darah begitu indah saat tertimpa sinar mentari.

"Kamu siapa?"

"Saya Kushina Tuan. Mulai hari ini saya akan menjadi pelayan Anda."

"Kushi..na?"

"Iya Sasuke-sama. Ku-shi-na.", katanya sembari mengeja kata-kata terakhir. Mungkin supaya aku yang masih berumur 5 tahun ini mengerti. Ia berjalan menuju kearahku membantuku untuk bangun.

"Ayo saya bantu Anda mandi, Sasuke-sama.", Ia tersenyum lagi. Senyum itu sungguh sangat berbeda dengan senyum orang-orang yang berada diistana ini. Begitu hangat, dan entah kenapa sangat menenangkan. Tanpa sadar aku membiarkan dia menuntunku kekamar mandi.

Ia melepas pakaianku dan mulai memandikanku. Menyabuni tubuhku dengan lembut. Saat ia menggosok punggungku, aku merasakan kehangatan yang tak pernah aku rasakan.

"Apa begini rasanya kalau aku punya ibu?", tanyaku sambil tetap memandang busa-busa yang masih menempel ditubuhku. Kurasakan tangannya berhenti menggosok punggungku. Ia sedikit tersentak dengan pertanyaanku. Ia tak menjawab kemudian kembali menekuni pekerjaannya.

"Ibuku meninggal saat ia melahirkan diriku. Apakah ibu meninggal karena aku? Nee Kushina-san, apa aku tak diperbolehkan untuk hidup?", tanyaku polos sambil membalikan tubuhku untuk menatap iris violet miliknya. Ia membelalakan matanya mendengar penuturanku. Ia mengangkat tangannya kemudian mengelus rambut ravenku dengan kasih sayang.

"Tidak Tuan. Itu bukan salah Anda. Mikoto-sama ingin Anda hidup walaupun Beliau harus mengorbankan nyawanya untuk Anda. Beliau pasti sangat menyayangi Anda. Anda harus percaya.", katanya sambil tersenyum lembut.

"Benarkah itu? Ibu- menyayangi aku?", tanyaku sembari memainkan busa sabun ditanganku.

"Hu-um.", Ia tersenyum lebar.

"Apa Kushina-san punya orang yang disayangi?", tanyaku penasaran, kembali menatap lurus matanya.

Ia terdiam sejenak, kulihat ia menghela nafas kemudian tersenyum lagi.

"Tentu saja ada Sasuke-sama."

"Siapa?", tanyaku lagi.

"Putera saya. Ia baru berumur satu tahun sekarang.", jawabnya dengan mata sendu.

Aku dapat melihat kesedihan dimata wanita itu saat ia membicarakan puteranya.

"Dimana dia sekarang?", aku terus-terusan bertanya. Entah kenapa rasa penasaranku begitu tinggi.

"Ia berada disuatu tempat Sasuke-sama.", jawabnya dengan nada sedih.

"Mungkin saya tak pantas disebut sebagai ibunya karena sudah meninggalkannya sendiri. Saya ibu yang buruk.", katanya lagi.

Kulihat setitik air mata menetes dari iris violet yang indah itu. Walaupun aku hanya seorang anak kecil, namun aku tidaklah bodoh untuk mengetahui bahwa ia meninggalkan anaknya untuk menjadi pelayan disini. Otak jeniusku mengatakan pasti wanita ini punya hutang budi yang begitu besar pada Uchiha.

"Apa yang Uchiha berikan padamu sehingga dirimu terperangkap disini?"

Ia tersentak mendengar pertanyaanku.

"Saya berhutang sangat banyak kepada Uchiha, Sasuke-sama. Suami saya sakit keras dan membutuhkan banyak biaya untuk pengobatannya. Walaupun pada akhirnya suami saya tak dapat diselamatkan.", ceritanya sambil menangis.

Aku membelalakan mataku mendengar akhir ceritanya. Betapa malangnya wanita ini.

"Aku turut berdukacita."

Pada akhirnya hanya itu yang dapat aku katakan padanya.

Ia mengusap matanya, membersihkan sisa air mata diwajahnya.

"Ya, terima kasih Sasuke-sama." Ia tersenyum lagi.

Aku tertegun melihat senyumnya. Ia tersenyum seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. Mungkin ia percaya suaminya sudah tenang disana dan anaknya pasti akan tumbuh menjadi seorang pemuda yang baik kelak. Ya itu harapan setiap ibu kepada anaknya.

Aku mengenggam tangannya erat kemudian menatapnya lurus. Ia terkejut melihat perbuatanku.

"Apa.. Apa aku boleh menganggapmu sebagai ibuku?", kataku pelan seperti bisikan yang nyaris tak terdengar.

Ia membelalakkan matanya mendengar pertanyaanku. Matanya menatap mata onyx milikku. Mencoba menyelami apa yang ada dipikiranku saat ini.

"Ya. Ya Sasuke-sama.", jawabnya sambil mengelus kepalaku lembut.

"Aku berjanji Kushina-san. Aku berjanji akan melindungi puteramu saat aku sudah besar nanti. Aku akan membawanya kemari sehingga kau bisa bersama dengannya lagi.", kataku sungguh-sungguh.

Usapan dikepalaku terhenti. Aku tersentak saat ia memelukku erat. Tangisnya pecah lagi. Aku mengulurkan tanganku dan mengusap rambut merahnya.

"Terima kasih Sasuke-sama. Hiks. Terima kasih."

.

.

.

End of Flashback

.

.


Sasuke's POV

"Terima kasih paman Teuchi!", seru si rambut pirang senang saat seorang pria paruh baya membeli semua kayu bakarnya.

Aku hanya diam berdiri dibelakang Naruto. Tak kupedulikan tatapan penasaran yang dilayangkan setiap orang yang berlalu lalang dikota ini. Mereka melihatku layaknya melihat sesosok alien yang langka. Apa ada kotoran diwajahku?

"Nah Naruto, ini paman berikan ramen jumbo special untukmu! Satu untukmu dan satu untuk temanmu yang nyentrik itu.", kata sang paman sambil menyerahkan sekantong ramen pada Naruto. Naruto menerima bungkusan itu dengan semangat.

"Nyentrik?", tanya si blonde polos. Tak mengerti.

"Ya. Jika dilihat dari cara berpakaiannya, dia sepertinya orang kaya atau apalah. Lihat saja mantelnya yang mahal itu. Tidak ada seorangpun dikota ini yang mengenakan pakaian mahal seperti itu.", jawab Teuchi sambil meletakkan tangan didagunya. Berpura-pura berpikir.

Naruto membalikkan badannya dan menelisik tubuhku dari atas hingga bawah. Aku merasa tidak enak diperhatikan seperti itu.

"Hm.. menurutku dia biasa-biasa saja tuh paman. Kecuali rambut pantat ayamnya itu.", katanya sembari memasang wajah tidak berdosa.

TWICH

Empat sudut siku-siku sukses tercipta didahiku. Bagaimana bisa si Dobe menghina rambut unikku ini dan sampai dengan tega menjulukinya 'Pantat Ayam'?!

"Terima kasih ramennya paman. Kami pulang dulu ya.", seru Naruto sambil melambaikan tangannya.

"Sama-sama Naru-chan. Hati-hati ya dijalan."

"Iya.", jawabnya sambil tersenyum lima jari.

Aku mengikuti langkah Dobe. Namun ia tiba-tiba berhenti didepan sebuah toko. Ia memandang etalase toko itu tanpa berkedip. Aku ikut melihat apa yang menyita perhatiannya. Terlihat sebuah keluarga kecil yang sedang berbelanja didalam toko itu. Seorang anak laki-laki yang sedang digendong ibunya menangis saat digoda oleh ayahnya. Ibunya mencoba menenangkan anaknya dengan membelikannya sebatang es krim. Keluarga kecil yang bahagia.

"Apa yang kau lihat Dobe?", tanyaku lalu mengalihkan pandanganku kepadanya.

"Ti-Tidak ada Teme. Ayo kita pulang.", jawabnya lalu berjalan tergesa-gesa meninggalkanku.

Aku menatap kedalam toko itu sekali lagi lalu segera menyusulnya.

.

.

End of Sasuke's POV

.

.


TOK TOK

"Masuk."

Suara berat mengema diruangan yang cukup besar itu. Terlihat seorang pria berambut perak memasuki ruangan. Aroma cinnamon menyerbak diseluruh penjuru ruangan itu.

"Selamat siang Itachi-sama. Apakah Anda memanggil saya? Apa yang dapat saya perbuat untuk Anda?", tanya pria berambut perak itu sembari membetulkan letak maskernya.

"Duduk Kakashi." Perintah sosok bernama Itachi itu.

"Terima kasih Itachi-sama."

Pria berambut perak itu menuruti perintah atasannya. Ia duduk disalah satu sofa empuk berwarna merah marun.

"Apa kau tahu dimana adikku berada?" , tanya Itachi langsung. Sungguh sangat Uchiha sekali.

Sosok yang ditanya hanya diam seribu bahasa. Pria bermasker itu menatap lantai dibawahnya, tak berani menatap mata atasannya. Ia tau situasi hati Itachi sedang tidak bagus bila menyangkut masalah adiknya yang kabur dari istana. Sifat protektifnya kepada adiknya itulah yang membuatnya menjadi seperti ini. Ia butuh jawaban yang dapat memuaskan hatinya namun tak ada gunanya berbohong kepada seorang Itachi Uchiha. Ia mendongakan kepalanya. Berusaha sekuat mungkin menahan getaran yang kini dirasakan oleh tubuhnya. Ia takut.

"Maafkan saya Itachi-sama. Saya belum bisa menemukan Sasuke-sama. Maafkan kecerobohan saya."

Itachi diam mendengar jawaban Kakashi. Aura hitam menguar dari tubuhnya. Atmosfir diruangan itu semakin berat, hingga Kakashi menemukan dirinya sulit untuk bernafas. Berhadapan dengan seorang Itachi Uchiha disaat mood nya sedang buruk benar-benar bukanlah hal yang bagus.

"Cari dia lagi. Lakukan apa saja untuk membawa dia kembali. Tetapi jangan lukai dia.", perintah Itachi.

Kakashi meneguk ludah dengan susah payah saat mendengar perintah yang mutlak itu.

"Baik Itachi-sama."

.

.

.

.


Naruto's POV

"Hah~ Akhirnya kita sampai dirumah juga Teme. Aku lelah.", kataku sembari membaringkan tubuhku diranjang berseprai oranye. Aku melihat Sasuke hanya berjalan dalam diam menuju kesebuah kursi kayu yang ada disudut ruangan ini

"Hn."

TWICH

Lagi-lagi jawaban yang seperti itu. Apa yang ada dikepala ayamnya itu hingga ia terus-terusan menjawabku dengan dua huruf itu?

"Ne Teme~ Mandi sana! Tubuhmu pasti penuh keringat kan? Mantelmu begitu tebal hingga aku sendiri gerah melihatnya.", kataku sambil memejamkan mataku, kembali menyamankan diri diranjangku. Kujadikan kedua tanganku sebagai alas untuk kepalaku.

"Ini musim dingin Dobe. Wajar saja pakai mantel begini.", kata pria berambut raven itu cuek.

"Ya. Ya. Tapi aku gerah melihatnya. Mandi sana! Akan kusiapkan pakaian ganti untukmu.", kataku sambil beranjak dari ranjangku menuju kelemari pakaian. Aku mengambil piyamaku yang memang kebesaran untuk kupakai. Piyama biru tua bermotif garis-garis. Apa dia cocok mengenakan piyama ini?

"Ne~ Teme. Kau pakai ini sa-"

Tak sempat menyelesaikan perkataanku, aku membelalakan mataku melihat pemandangan yang tersaji didepan mataku. Kulihat Sasuke menanggalkan kemeja putihnya dan menyisakan tubuh putih mulus tanpa cela yang sanggup membuat mataku tak berkedip. Mata biru langitku menelusuri bentuk tubuhnya yang indah. Otot-ototnya yang kekar mampu membuat mulutku terbuka lebar. Aku meneguk ludahku dengan susah payah dan tanpa sadar wajahku memerah.

"Ada apa Dobe? Kau ini berisik sekali.", katanya sembari membuka ikatan tali pinggangnya.

Aku mematung ditempat. Saat ia bersiap untuk membuka resleting celana hitamnya, aku melemparinya dengan sebuah bantal dan telak mengenai wajahnya.

"Hei! Apa maksudmu Dobe?!"

"Kau itu Teme! Apa maksudmu membuka pakaian disini?!"

"Memangnya kenapa Dobe?! Kalau tidak suka jangan lihat!"

"Bagaimana aku tidak melihatmu?! Cepat masuk kekamar mandi sana!"

"Hn."

Ia akhirnya mengalah dan memilih masuk kekamar mandi daripada harus menerima lemparanku selanjutnya.

"Hah~"

Aku menarik nafas berat kemudian menghembuskannya kuat-kuat. Ada apa dengan diriku? Kenapa aku harus terganggu ketika Sasuke membuka pakaiannya disini? Bukankah kita sama-sama lelaki? Aku meremas surai pirangku dan mengacak-acaknya. Ada yang salah dengan diriku.

.

.

.

End of Naruto's POV

.

.


"Nah selesai. Karyaku yang satu ini memang benar-benar menakjubkan.", kata seorang pria berambut gelap yang sedang memegang sebuah kuas lukis.

Pria berambut hitam itu tersenyum melihat hasil karyanya. Ia menjatuhkan kuas lukisnya kemudian menelusuri lukisan itu dengan tangan kanannya.

Lukisan itu menggambarkan seorang pemuda berambut pirang dengan mata biru langit yang memikat. Pemuda pirang itu memegang setangkai bunga lily putih.

"Kau sungguh indah Naru-chan."

KRIET

Terdengar derit pintu pertanda seseorang masuk. Pria berambut hitam yang sedang tenggelam dalam dunianya sendiri itu memasang wajah tidak suka kepada sesosok pria yang masuk. Ia tidak suka kegiatannya diusik.

"Kau sedang menikmati harimu eh, Sai?", tanya pria itu sambil tersenyum.

"Ya, hariku sangat indah sampai kau datang kemari Kakashi.", jawabnya sarkatis.

"Aku anggap itu sebuah pujian untukku."

"Apa maumu?", tanya Sai tanpa basa-basi.

Senyum Kakashi menghilang. Ia menatap Sai dengan serius.

"Aku ingin kau memberitahuku satu hal."

Sai mengerutkan keningnya.

"Tentang keberadaan Sasuke-sama."

~To Be Continued~