Ichigo selalu mampu memprediksi segala sesuatu dengan sangat akurat.
Ketika aku harus pergi ke Okinawa untuk menghadiri pesta pernikahan temanku, aku memutuskan untuk memesan tiket penerbangan jam tujuh pagi karena harganya yang lebih murah.
Ichigo sedang ada perjalanan bisnis kala itu, dan ketika ia mendengar tentang keputusanku, Ichigo bilang kalau dia tidak percaya pada kemampuanku untuk melakukan penerbangan tepat waktu.
"Penerbangan jam tujuh pagi, berarti kau harus berangkat dari rumah sekitar setengah enam pagi. Apa kau yakin bisa bangun sepagi itu?"
Aku sangat percaya diri waktu itu, "Jangan khawatir, tidak akan ada masalah!"
Pada akhirnya, saat malam sebelum penerbangan, aku harus kerja lembur sampai jam dua pagi. Esoknya, aku menerima telepon dari Ichigo.
"Sudah waktunya untuk bangun."
"Ini masih jam lima, Ichigo."
"Kau bekerja sampai malam?"
"Berhenti bicara, aku masih bisa tidur setidaknya 10 menit lagi."
Aku menutup teleponnya setengah sadar, dan ketika aku kembali membuka mata, jam sudah menunjuk pada angka tujuh lebih tigapuluh menit.
Aku menelepon Ichigo dengan nada putus asa. "Aku terlambat bangun."
"Aku tahu."
"Biar kucoba menunda penerbangannya."
"Aku sudah melakukannya. Pesawatmu akan lepas landas jam sepuluh pagi. Jika jalanan ke bandara tidak padat, kau akan sampai di sana dalam waktu tigapuluh menit. Sekarang cepat bangun, kau masih punya waktu untuk sarapan. Sheesh, aku tahu ini akan terjadi sejak awal."
"Ichigo, biarkan aku bersujud di hadapanmu!"
